Actions

Work Header

远的 Blind

Summary:

Cuma Park Jongseong yang dibikin rusak sebagai laki-laki oleh Yang Mulianya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Seharusnya sedari awal tak perlu kenal, begitu pikir Park Jongseong.

 

Seharusnya ia tak perlu mengenal Yang Mulianya yang kadang Park Jongseong lupa kedudukannya karena ia tak lagi bertahtakan emas dan batu mulia. Yang Mulianya yang sejak mereka mulai mandi bersama, berhasil membuat Park Jongseong menatap lebih lama dari yang seharusnya.

 

Yang Mulianya yang kini namanya ia desahkan begitu putus asa seraya bersimpuh di ranjangnya sendiri. Dengan satu tangannya genggam ereksinya sendiri, mengurutnya tak sabaran dengan pinggul yang berusaha kejar friksi.

 

Park Jongseong gila. Dibuat sinting oleh Yang Mulianya, Nishimura Rikinya yang sentuhan-sentuhan fananya menggerayangi sekujur badannya. Bersama dengan deru napas berat dan bisikan puja puji kotor yang berdengung di telinganya.

 

Seharusnya Park Jongseong bermain dengan puan cantik yang sore tadi ditemuinya sedang menjenguk kakak lelakinya di barak. Seharusnya Park Jongseong habiskan waktunya di rumah bordil yang biasa ia kunjungi. Buang-buang uangnya demi arak dan lacur cantik yang tentu saja dapat memuaskan hasrat lelakinya.

 

Tapi, di sinilah ia. Mengocok penisnya sendiri dengan desah murahan—yang bisa saja membangunkan seisi paviliun, tetapi Park Jongseong tak peduli—memanggil-manggil nama Nishimura Riki.

 

“Siapa sangka Jenderal Park yang hobi main perempuan dan tangguh di medan perang ini lebih suka digagahi laki-laki lain?”

 

Bisikan itu lagi. Memori tiga minggu lalu di kali pertamanya ia biarkan Nishimura Riki menyentuhnya. Memori yang kini tanpa ampun memenuhi kepalanya. Tentang bagaimana Nishimura Riki menggenggamnya, meremukkannya.

 

Kala itu, Park Jongseong dibuat berdeguk putus-putus dengan air mata di sudut matanya. Kewarasannya direnggut paksa kala Yang Mulianya mendorong ereksinya masuk, memenuhi Park Jongseong hingga ia rasa dirinya bisa hancur kapan saja.

 

“Yang Mulia, tolong… Ampun.”

 

Kala itu Park Jongseong dibuat mengemis penuh nikmat tiap kali Nishimura Riki menggigiti kulitnya. Park Jongseong dibuat memohon ampun kala lagi-lagi Nishimura Riki membawanya ke langit ketujuh. Derit ranjang dan desahan putus-putusnya, mengemis pada Yang Mulianya, memenuhi pendengarannya.

 

“Jongseong, sayang,” Nishimura Riki berbisik tepat di telinganya dan bulu kuduknya meremang sepenuhnya. “Bukan begitu caranya. Ayo, panggil aku dengan benar.”

 

Tapi, bagaimana? Park Jongseong tak tahu bagaimana ia harus memanggil rajanya dengan benar. Rengekan pendek-pendek dengan gelengan pelan membuat Yang Mulianya tersenyum kecil. Mana mungkin Park Jongseong tahu namanya? Park Jongseong tak boleh tahu namanya.

 

Ditambah sang raja yang terus menggempur masuk, memenuhinya sampai perut. Yang Mulianya terus-terusan menggodanya, meminta Park Jongseong untuk menyebut asmanya sampai benar.

 

Namun, bagaimana ia bisa tahu? Bagaimana ia bisa berpikir saat isi kepalanya dibuat berantakan oleh Yang Mulianya. Penuh, penuh, penuh. Nishimura Riki tak berikan waktu untuk dia bernapas, alih-alih berpikir.

 

“Jahat sekali, Park Jongseong.” Nishimura Riki dulu menggodanya, “Bagaimana bisa kau tidak tahu nama laki-laki yang menyetubuhimu?”

 

“Yang Mulia… Maaf, maaf, aku tidak tahu.”

 

Dan bagaimana Park Jongseong bisa tahu, jika saat itu Yang Mulianya memaksa masuk, dalam. Bahkan si jenderal yakin ia dapat merasakan bagaimana sang raja mengukir dirinya di dalam, memaksanya agar muat.

 

Penuh. Enak. Mau terus.

 

Si jenderal ingat betul, kala itu Yang Mulianya merunduk sebelum mengecup cuping telinganya hanya untuk berbisik, “Riki. Nishimura Riki.”

 

“Riki… Nishimura Riki… Yang Mulia Riki,” menjadi erangannya malam itu. Berisik, cabul. Bahkan ia ingat Nishimura Riki mengatai desahannya terdengar lebih murah dibanding lacur yang biasa Park Jongseong pakai.

 

Mau Nishimura Riki. Mau, mau, mau.

 

Sejak saat itu, Nishimura Riki menjungkir balikkan dunianya. Bikin Park Jongseong rusak, karena kini ia tak bisa keluar jika tak digarap.

 

Kocokan tangannya sendiri di penisnya tak lagi cukup. Ia butuh tangan satunya, jemari tebal dan kapalannya untuk stimulasi analnya sendiri. Buat masuk, lalu ia cari prostatnya sendiri untuk ia garuk.

 

Tapi seberapa berusahanya ia, si jenderal tak bisa sampai. Jari-jarinya tak sepanjang milik Yang Mulianya. Tubuhnya tak sefleksibel itu untuk raih lubangnya dengan mudah.

 

Dalam kepalanya, Nishimura Riki menggodanya tanpa ampun. Menuntunnya, mengejeknya.

 

Dari, “Ayo, masukkan lebih dalam, sayang.” Sampai, “Katanya mau keluar? Tidak bisa kalau bukan aku yang sentuh?”

 

Park Jongseong ingin mengamininya. Sekalipun ia telah meludahi tangannya sendiri, buat penisnya makin mudah untuk diurut, makin basah. Sekalipun hanbok-nya kini sudah longgar, jatuh dari pundaknya dan ekspos tubuhnya yang selalu diciumi Yang Mulianya.

 

Rambutnya juga sudah terurai berantakan, kusut. Nishimura Riki suka menjambaknya. Kalau sudah kusut, jauh lebih gampang ditarik, katanya.

 

Oh, betapa inginnya Park Jongseong untuk merasakan tangan Nishimura Riki di rambutnya kini. Ingin dijambak sampai si jenderal pusing. Sampai bisa lihat surga di balik kelopak mata.

 

Sekalipun begitu, ia masih ingin, masih mendamba sentuhan sang raja di kulitnya. Di lehernya, di pundaknya. Di ereksinya (oh, betapa ia berharap Nishimura Riki lah yang melingkarkan jemari panjangnya di penisnya), dan di dalam lubangnya.

 

“Riki, Riki, Riki.”

 

Racaunya berantakan. Penuh nafsu karena kini birahinya sudah di ubun-ubun. Tapi sentuhannya tak cukup. Kurang. Park Jongseong ingin lebih. Ingin Nishimura Riki di dalamnya, di atasnya, di mana-mana.

 

“Apa, sayang? Mau apa?”

 

“Mau diisi,” rengeknya. “Mau sampai penuh. Sampai kembung.”

 

“Terus? Mau apa lagi?”

 

“Mau Riki. Mau Yang Mulia berantaki aku sampai tolol.”

 

Tepat setelah racauannya, jarinya ia paksa masuk lebih dalam. Park Jongseong tak peduli jika esok hari, telunjuk, jari tengah, bahkan jari manisnya linu. Ia tak peduli jika tubuhnya melengkung layaknya jalang yang ingin pelepasan. Ia tak peduli desahnya bisa bangunkan penjaga di luar saat akhirnya ia bisa sentuh prostatnya sendiri.

 

Tapi, kurang. Masih kurang. Tuhan, ia ingin Nishimura Riki.

 

Gerak tangannya makin cepat, makin kasar. Oh, Park Jongseong yakin penisnya akan terasa ngilu nanti karena gesekannya. Toh, kini ereksinya sudah merah. Sudah merah, sampai-sampai tangannya sendiri mulai terasa asing di sana.

 

“Riki… Mau Riki,” rengeknya, lagi dan lagi.

 

Bahkan sampai ia berada di puncaknya, terhempas begitu tinggi dengan desahan yang nyaris melengking mendamba Yang Mulianya. Park Jongseong keluar mengotori tangannya. Mengotori hanbok dan sprei putih yang sudah basah karena keringat.

 

Ejakulasinya tak sekacau saat Nishimura Riki yang menyentuhnya, tetapi cukup untuk membuatnya pening sampai tak sanggup untuk angkat kepalanya sendiri.

 

Si jenderal duduk di sana, memandangi kekacauan yang dibuatnya sendiri. Jemarinya yang lengket, penisnya yang sudah melemas, sampai spermanya yang menggenang dan perlahan meresap ke kasurnya.

 

“Kenapa cuma dilihat? Bersihkan, sayang.”

 

Dan sekalipun itu hanya suara dalam angannya, Park Jongseong menurut. Tanpa pikir panjang, ia bawa jemari kotornya ke mulutnya sendiri. Ia jilati spermanya sendiri yang sanggup buat ia mengernyit tak suka. Rasa Yang Mulianya jauh lebih enak dibanding ini.

 

Dengan isak menyedihkan, ia kembali mendamba. Tuhan, ia ingin Nishimura Rikinya.

Notes:

Dunia ini isinya ngewe semua.

Series this work belongs to: