Actions

Work Header

牺牲 Sacrifice

Summary:

Lee Heeseung persembahkan hidupnya, korek jantungnya keluar demi ia berikan ke tangan Kim Sunoo tanpa tedeng aling-aling. Sekalipun ia tahu lelaki itu memilih untuk meremukkan jantungnya, melemparnya ke tanah seolah itu tak berarti sama sekali baginya.

Sebagai balasnya, Kim Sunoo berikan setangkai mawar penuh duri. Cantik nan menyakitkan. Demi rasakan secuil afeksi dari sang jenderal, Lee Heeseung sanggup jalani kerikil berduri. Masih bersedia berjalan di atasnya layaknya manusia tolol.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Bagi Lee Heeseung, Kim Sunoo adalah mentari paginya. Kehadirannya di kehidupan Lee Heeseung terasa begitu benar dan sempurna. Hangat, pun juga memberinya alasan untuk menjalani hari.

 

Maka saat dayangnya mengumumkan, “Jenderal Pangeran Kim Sunoo—” dari luar kamarnya, Lee Heeseung tak membiarkan wanita itu menyelesaikan ucapannya sebelum menyahut, “Biarkan dia masuk.”

 

Namun Lee Heeseung tak beranjak dari posisinya, sibuk menulis laporannya di permukaan perkamen dengan kuasnya. Tak juga menurunkan kakinya yang sudah terlampau nyaman di sisi tubuhnya. Bantal duduknya pun terasa begitu lembut, membuatnya semakin enggan untuk bergeming.

 

Kala pintu kamarnya terbuka, Lee Heeseung tetap tak mengangkat kepalanya sampai kalimat yang ditulisnya selesai. Tepat setelah ia membubuhkan titik di akhir kalimatnya, Lee Heeseung menyadari seseorang telah berdiri di seberang mejanya. Ia pun tersenyum tipis seraya mengangkat kepalanya.

 

Kim Sunoo tampak sempurna layaknya hari-hari kemarin. Berpendar sehangat mentari pagi sekalipun waktu telah melewati tengah malam. Tetap secerah kilauan bintang sekalipun sekujur tubuhnya dilapisi fabrik gelap dengan rambut yang dikucir separuh berhiaskan mahkota keemasan.

 

Oh, Kim Sunoo, batinnya merana. Lelaki itu tak kekurangan satu hal pun dan benak Lee Heeseung berteriak penuh keinginan.

 

“Tidak biasanya kau mengunjungiku selarut ini,” ujar Lee Heeseung seraya mengisyaratkan Kim Sunoo untuk duduk dengan matanya. Namun Kim Sunoo bergeming, tetap berdiri di tempatnya dengan kedua tangan bersandar santai di punggungnya.

 

Netra laki-laki itu secerah amber, berkilat lembut di bawah lentera malam. Begitu kontras dengan tatapan tajamnya yang memindai Lee Heeseung begitu cermat, sempat menaikkan sebelah alisnya kala ia menyadari jubah malam laki-laki itu terangkat nyaris seluruhnya karena satu kaki yang terangkat, tetapi Kim Sunoo memilih untuk abai.

 

Ia pun mengendikkan bahunya ringan, “Aku hanya ingin menemuimu. Tidak ada salahnya, bukan?”

 

Lee Heeseung mengukir senyum tipis sebelum ia memutuskan untuk beranjak dari duduknya, berjalan perlahan menghampiri Kim Sunoo yang juga tersenyum ke arahnya. “Merindukanku?” tanyanya jahil, yang kemudian hanya dibalas dengan tawa renyah dan gelengan ringan.

 

Tentu saja, Lee Heeseung sudah tahu benar jawabannya, tetapi ia masih berpegang pada secercah harapan agar sekali saja Kim Sunoo melihatnya, menginginkannya, bahkan mendambanya seputus asa Lee Heeseung.

 

“Bolehkah aku bermalam di sini?”

 

“Maaf, apa?”

 

Pertanyaan itu membuatnya lengah sesaat. Lee Heeseung berkedip penuh pertanyaan, tetapi Kim Sunoo mengerutkan bibirnya tipis. “Paviliunku terlalu jauh, kakiku rasanya sudah ingin menyerah.”

 

Kemudian Lee Heeseung terkekeh ringan. Ya, tidak mungkin. Namun ia tetap menyentuh bahu Kim Sunoo sepintas, menepuknya ringan sebelum Kim Sunoo merilekskan lengannya, dan membiarkan Lee Heeseung membantunya melepaskan jubah yang sudah terasa berat di bahunya.

 

Lee Heeseung melipatnya ringan tanpa mengatakan apa pun, begitu telaten saat ia menyampirkan jubah tersebut ke meja yang berada di sisinya. Lalu tak butuh waktu lama baginya untuk mengulurkan tangannya ke belakang kepala Kim Sunoo, membuat Kim Sunoo menunduk sekilas, membiarkan Lee Heeseung melepaskan hiasan kepala yang seharian penuh mengikat kencang rambutnya.

 

Bahkan saat wajah mereka tepat berada di hadapan satu sama lain, keduanya tak mengatakan sepatah kata pun, terlalu nyaman menikmati kesunyian di antara mereka.

 

Ia membiarkan Lee Heeseung meletakkan mahkotanya di meja, tepat di sisi jubahnya. Tak memedulikan tetek bengek berupa kesopanan dan bagaimana seharusnya mereka memerlakukan mahkota mereka. Toh, Kim Sunoo tak peduli, dan Lee Heeseung paham benar soal laki-laki itu tanpa Kim Sunoo perlu menjabarkan apa pun.

 

Namun saat Lee Heeseung perlahan melingkarkan lengannya di sekitar pinggang Kim Sunoo, ia semakin terpaku. Wajah Lee Heeseung kini hanya berjarak kurang dari dua ruas jari, membuatnya dapat merasakan terpaan napas hangat laki-laki itu.

 

Dengan luar biasa lambat, Lee Heeseung mulai melepaskan ikatan pinggangnya. Jemarinya menari-nari di punggung Kim Sunoo, memberikan sensasi geli yang anehnya terasa familiar. Sensasi yang tak membuat Kim Sunoo ingin menyingkirkan tangan Lee Heeseung.

 

Kim Sunoo selalu mengakui jika lelaki di hadapannya ini luar biasa indah. Wajah cantik dengan kulit sehangat madu, bulu mata panjang yang terkadang Kim Sunoo akan habiskan waktunya untuk menghitungnya satu per satu kala ia menyaksikan Lee Heeseung terlelap, hidung bangir yang selalu membuatnya gemas, dan bibir merah ranum yang selalu mengukirkan senyum tiap kali ia bertatapan dengnan Kim Sunoo.

 

Ia selalu tahu bahwa Lee Heeseung merupakan laki-laki tercantik yang pernah ditemuinya. Laki-laki yang memiliki suara paling halus kala ia berbicara, bahkan saat menyenandungkan lagu-lagu asal tiap ia memperbolehkan Kim Sunoo untuk berbaring di pahanya. Jemarinya yang kecil akan menyisir rambut hitam Kim Sunoo perlahan, mengantarnya tidur.

 

Semua perlakuan Lee Heeseung terhadap dirinya seharusnya membuat Kim Sunoo jatuh hati. Bagaiman Lee Heeseung akan selalu menunggunya pulang, menyambutnya dengan senyum cantik yang selalu merekah selelah apa pun dirinya, selarut apa pun Kim Sunoo pulang. Dengan sesabar apa Lee Heeseung mengajarinya segala hal sejak mereka kecil, selembut apa tutur bicaranya kala ia menyapa Kim Sunoo.

 

Seharusnya Kim Sunoo jatuh hati. Namun entah mengapa, Kim Sunoo tak pernah dapat memandang Lee Heeseung lebih dari sekedar teman masa kecilnya. Kawan terdekatnya yang selalu menemani hari-hari Kim Sunoo.

 

Seharusnya Kim Sunoo sudah dapat memberanikan diri untuk meminang Lee Heeseung. Jalannya telah dimudahkan, dijodohkan bahkan sejak mereka belum dapat melihat dunia, tetapi Kim Sunoo tak lebih dari seorang bajingan.

 

Dengan sengaja mengabaikan maksud lain dari segala perlakuan baik Lee Heeseung, berkali-kali mengingatkan Lee Heeseung bahwa mereka hanya sepasang kawan lama—sekalipun ia dapat melihat luka di dalam iris segelap malam itu—layaknya lelaki tak tahu diri.

 

Seberapa ingin dirinya untuk meminta Lee Heeseung berhenti. Meminta kedua pihak kerajaan mereka untuk membatalkan omong kosong ini, karena Kim Sunoo sudah muak. Namun ia tak dapat melakukan apa pun, Lee Heeseunglah yang harus memutuskan pertunangan mereka, mengingat kedudukannya yang lebih tinggi.

 

Tetapi, bagaimana ia tega? Saat tawa dan senyum Lee Heeseung terlihat paling bahagia saat ia bersamanya. Saat segala skenario masa depan Lee Heeseung memiliki Kim Sunoo di dalamnya. Jangankan meminta, mengemis pun Kim Sunoo tak akan mampu.

 

Maka saat Lee Heeseung mengangkat matanya, dengan bulu-bulu mata yang mengerling perlahan, Kim Sunoo nyaris kehilangan napasnya. Cantik, namun sayangnya Kim Sunoo enggan menggenggamnya.

 

Saat perlahan jemari itu menarik ikat pinggangnya hinggar longgar, kemudian menarik diri dengan ujung-ujung jari yang masih menggesek halus pakaiannya, Lee Heeseung berbisik tepat di depan bibirnya, “Sudah. Kau bisa melepas pakaianmu sekarang.”

 

Tepat sebelum sentuhan Lee Heeseung terlepas sepenuhnya dari tubuh Kim Sunoo, ia memutuskan untuk melingkarkan satu tangannya di pinggangnya lelaki itu, menahannya di tempatnya. Sementara Lee Heeseung mengerjap bingung, terpaku kala merasakan lengan Kim Sunoo di sana, mendekapnya.

 

“Tetap seperti ini sebentar,” gumamnya. Sebelum Kim Sunoo semakin mendekat, menyandarkan dagunya di bahu laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya itu. “Kumohon,” tambahnya. Berbisik tepat di sebelah telinga Lee Heeseung dan membuatnya nyaris berjengit.

 

Lee Heeseung tak tahu harus melakukan apa. Kehangatan tubuh Kim Sunoo di dekapannya dan terpaan napas halus laki-laki itu di lehernya membuat otaknya macet, seolah enggan memproses apa pun yang tengah terjadi saat ini.

 

Kim Sunoo tak pernah sekalipun menginisiasi kontak fisik di antara keduanya, Lee Heeseunglah yang selalu memulai tiap kali ia mendapat izin dari Kim Sunoo. Namun tak butuh waktu lama baginya untuk mulai mengusap bahu Kim Sunoo, kemudian menepuk-nepuk punggungnya lembut.

 

“Hari ini melelahkan?” tanyanya, dan Kim Sunoo pun mengangguk.

 

Dengan usapan ringan di rambut Kim Sunoo, Lee Heeseung kembali bertanya dengan nada selembut sebelumnya, “Ingin aku memainkan guqin sampai kau tidur?”

 

Kali ini Kim Sunoo menggeleng. Perlahan laki-laki itu mengangkat wajahnya, menyejajarkannya dengan Lee Heeseung lagi. Kini tangannya yang lain pun mulai menempatkan dirinya di pinggang itu, seolah di sanalah tempat mereka yang seharunya, melingkari pinggang Lee Heeseung posesif.

 

“Lalu?” Lee Heeseung kembali bertanya seraya menyingkirkan poni yang sedikit menghalangi mata Kim Sunoo, menyampirkannya ke belakang telinga pangeran muda itu.

 

Ia dapat melihat Kim Sunoo menarik napas ringan sebelum berbisik, “Kau. Aku menginginkanmu.”

 

Napas Lee Heeseung tercekat, “A-apa?”

 

Dari sekian banyak jawaban Kim Sunoo yang tak pernah dapat ditebaknya, Lee Heeseung tak akan pernah menyangka laki-laki itu akan menjawabnya seperti itu. Tak ada nada menggoda di dalamnya, pun dengan senyuman jahil yang biasa menghiasi wajah Kim Sunoo. Tak ada kilat jenaka di iris ambernya, melainkan sorot keyakinan yang didapatnya.

 

“Aku menginginkanmu, Lee Heeseung.”

 

Tuhan, Lee Heeseung bukanlah prajurit terkuat-Mu. Ia lemah jika Kim Sunoo harus menyebut namanya sedemikian rupa. Bahkan kakinya melemas, nyaris merosot jika tak ada lengan kuat Kim Sunoo yang menahannya.

 

Ia seratus persen yakin jika Kim Sunoo sama sekali tak mabuk. Lee Heeseung tak dapat mencium aroma alkohol sedikit pun dari tubuh Kim Sunoo, juga bau obat-obatan yang kemungkinan dapat membuatnya sedikit kehilangan akal. Lalu, mengapa? Apa yang terjadi pada Kim Sunoo? Kenapa tiba-tiba?

 

Bahkan saat Kim Sunoo semakin mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan, bergesek pelan dan membuat Lee Heeseung mengembuskan napas berat, ia hanya bisa meremat fabrik di bahu Kim Sunoo.

 

Di detik yang menyesakkan selanjutnya, Kim Sunoo telah menempelkan bibirnya ke belah bibir Lee Heeseung. Sentuhannya lembut, bahkan nyaris tanpa tekanan. Perlahan ia memejamkan matanya, membiarkan Kim Sunoo mulai memagut bibirnya dalam ciuman yang sesungguhnya.

 

Untuk pertama kalinya Lee Heeseung mendapatkan apa yang ia inginkan dari Kim Sunoo. Satu ciuman ringan nan lembut, dengan bibir Kim Sunoo yang terasa begitu manis dan nyaris tak nyata. Untuk pertama kalinya ia merasakan Kim Sunoo menariknya alih-alih melepaskannya, dengan jemari panjang yang meremat jubah malamnya, menahannya untuk tak beranjak.

 

Untuk pertama kalinya, Lee Heeseung merasa diinginkan.

 

Lee Heeseung bahkan tak tahu harus merasakan apa dan bereaksi bagaimana. Segala macam perasaan tercampur aduk di dalam perutnya; lega, bahagia, sedih, bingung, ia bahkan menyerah untuk menyebutkannya satu per satu.

 

Hingga tanpa sadar, air mata mengaliri pipinya. Jatuh perlahan menelusuri bibirnya saat ia memiringkan kepala untuk membalas ciuman Kim Sunoo. Kini ciuman mereka semakin basah dengan rasa asin yang membuat Lee Heeseung ingin menarik diri dan meminta maaf.

 

Namun Kim Sunoo tetap menahannya. Bahkan ia tak tahu sejak kapan tangan itu sudah berada di sisi wajahnya. Ibu jari Kim Sunoo mengusap pipinya lembut, menyingkirkan air matanya perlahan, dan Lee Heeseung semakin meleleh dibuatnya. Ia tak pernah menyangka ciuman Kim Sunoo dapat terasa semenyenangkan ini, semenyesakkan ini.

 

Bibir Kim Sunoo lembut, menekan bibirnya dengan begitu sempurna seolah mereka tercipta hanya untuk satu sama lain. Gigi-gigi itu menyentuh bibirnya hati-hati, bahkan lidah itu menyisip pelan ke dalam mulutnya yang terkuak pasrah.

 

Dadanya terasa penuh, sesak dengan segala perasaan yang membuncah tiba-tiba, pun dengan ketidak mampuannya untuk bernapas dengan benar. Kim Sunoo membuatnya terengah, mengacak-acak isi kepalanya hanya dengan gerakan lidahnya yang begitu lihai. Bahkan saat Lee Heeseung mendesah tertahan, Kim Sunoo semakin merapatkan tubuh mereka, tak memberikan sedikit pun kesempatan bagi Lee Heeseung untuk melepaskan diri.

 

“Sunoo…”

 

Baru saat Lee Heeseung mulai menepuk bahunya, mendesahkan namanya nyaris kehabisan napas, Kim Sunoo menarik diri perlahan seraya meninggalkan kecupan-kecupan ringan di bibir Lee Heeseung. Wajahnya memerah, terlihat begitu cantik dengan liur di sudut bibirnya, dan Kim Sunoo hampir mengutuk karenanya.

 

Lee Heeseung terlalu cantik untuk ia abaikan, namun itulah yang selalu dilakukannya selama beberapa tahun terakhir. Kim Sunoo seharusnya berhenti, menarik diri, dan memohon maaf karena telah menyentuh Lee Heeseung tanpa hormat seperti itu.

 

Namun tangannya justru menarik laki-laki itu lebih dekat, membuahkan tarikan napas tajam dari Lee Heeseung, sebelum ia menempatkan wajahnya ke ceruk leher itu. Bibirnya tak dapat berhenti mencium, menjilat, bahkan menggigiti kulit yang sewarna madu. Pekikan kecil dan desahan lembut dari Lee Heeseung justru membuatnya semakin bergairah, semakin putus asa ingin menandai lelaki itu.

 

Tetapi Kim Sunoo menahan diri. Ia tak boleh menandai Lee Heeseung. Sang pangeran mahkota bukan miliknya, dan Kim Sunoo pun tak pernah berniat untuk menjadikan Lee Heeseung sebagai miliknya. 

 

Saat Kim Sunoo mulai menuntunnya untuk berjalan, Lee Heeseung menurut. Ia menyeret kakinya layaknya orang buta yang bahkan tak ingat tata letak kamar miliknya; hampir tersandung ujung karpet dan belakang lututnya menabrak pinggir kasurnya sendiri.

 

Kesempatan itu digunakan oleh Kim Sunoo untuk mendorongnya ke ranjang, membuatnya berbaring dengan rambut dan jubah malam yang sudah tak berada di tempat semestinya. Ikat pinggangnya melonggar karena Kim Sunoo terus menerus meremat pinggangnya, sementara kerahnya telah jatuh ke pundaknya, mengekspos dada halusnya untuk dinikmati oleh Kim Sunoo seorang.

 

Lee Heeseung membiarkan dirinya jatuh di hadapan Kim Sunoo, mempercayai sepenuhnya bahwa suatu hari ia akan meraihnya, menangkapnya. Ia mengulurkan tangannya, memohon Kim Sunoo untuk mendekapnya lagi, mengemis perhatiannya dengan iris berkaca-kaca, dan Kim Sunoo pun menangkapnya.

 

Pangeran muda itu menggenggam pergelangan tangannya, mengecupi jemarinya seraya perlahan menekuk satu kakinya di pinggir ranjang. Dengan mudahnya Kim Sunoo menyelipkan kakinya di antara lutut Lee Heeseung, tak memutus kontak mata sama sekali, dan membuatnya menggeliat tak nyaman.

 

“Jangan menatapku seperti itu.”

 

Alih-alih menuruti ucapan laki-laki di bawahnya, Kim Sunoo tersenyum seraya mengecup telapak tangan Lee Heeseung sedikit lebih lama, bahkan menjulurkan lidahnya untuk menjilatinya pelan. Oh, betapa inginnya Lee Heeseung untuk menarik tangannya, tetapi genggaman Kim Sunoo terasa begitu kuat menahannya.

 

Perlahan Kim Sunoo menurunkan tubuhnya hingga kini ia saling bertatap muka lagi dengan Lee Heeseung. “Cantik,” bisiknya, tepat di bibir ranum yang semakin merekah itu.

 

Dan Lee Heeseung harus menahan erangannya sebelum ia terdengar menyedihkan karena menyadari sebesar apa efek yang diberikan Kim Sunoo padanya. Tuhan, bahkan Kim Sunoo belum melakukan apa pun, dan di sinilah ia, sudah dibuat berantakan hanya dengan ciuman dan sentuhan ringan.

 

Lee Heeseung memalukan.

 

Saat Kim Sunoo mulai mengecupi lehernya lagi, Lee Heeseung telah mendongakkan kepalanya, membiarkan Kim Sunoo leluasa menyentuhnya. Dengan satu tangan yang masih ditahan oleh lelaki itu, sementara tangan lainnya meremat pakaian Kim Sunoo dengan menyedihkan, seolah itulah satu-satunya pegangan bagi Lee Heeseung sebelum ia terjatuh lebih dalam.

 

Lee Heeseung membiarkan Kim Sunoo melakukan apa pun sesukanya. Membiarkan laki-laki itu menjamahnya, membuka satu per satu pertahanan dirinya, mengeksposnya hingga Lee Heeseung hanya dapat berbaring pasrah dan patuh di bawah kendali Kim Sunoo.

 

Ia mati-matian menahan desahannya kala Kim Sunoo menyeret ciumannya turun hingga ke dadanya, meninggalkan jejak-jejak liur dan tanda kepemilikan tipis di kulitnya. Jika Kim Sunoo ingin, ia dapat meninggalkan segala bekas di sekujur tubuhnya. Karena Lee Heeseung tidak peduli, ia ingin Kim Sunoo memilikinya, dan ingin semua orang tahu bahwa ia hanya milik Kim Sunoo seorang. Selamanya akan seperti itu.

 

Bahkan kala Kim Sunoo semakin turun dan turun, Lee Heeseung tak kuasa menahan pekikannya. Ia harus menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan dirinya dari mengeluarkan suara-suara aneh yang mungkin akan mengganggu Kim Sunoo.

 

Namun Kim Sunoo berhenti, tepat sebelum ia menjilat ujung penis Lee Heeseung yang menegang dengan begitu memalukan. Sangat merah dengan cairan pra-ejakulasinya yang mengalir dari lubangnya.

 

Seharusnya Lee Heeseung merasa malu alih-alih luar biasa terangsang saat Kim Sunoo menatapnya dari bawah sana. Dengan bulu mata yang mengerjap pelan, sebelum pangeran itu menatapnya tajam.

 

“Jangan ditahan. Aku ingin mendengar suaramu.”

 

Dan Lee Heeseung dibuat mabuk kepayang saat tanpa aba-aba Kim Sunoo menjilati kepala penisnya, kemudian turun ke batangnya tanpa ampun. Pinggulnya yang hendak menghentak demi mengejar stimulasi itu ditahannya dengan kuat, menempatkan Lee Heeseung pada tempatnya; di bawah Kim Sunoo, tanpa kontrol apa pun, dan hanya bisa menerima apa pun yang diberikan oleh Kim Sunoo.

 

Kim Sunoo selalu dapat membuatnya sinting. Membuatnya berpikir bahwa memang itulah yang seharusnya diterima oleh Lee Heeseung. Segala perlakuan Kim Sunoo terhadapnya, mulai dari perhatian kecil yang tak berarti, senyum tipis yang selalu menghiasi wajah Kim Sunoo, pun dengan sikap abainya terhadap Lee Heeseung.

 

Lee Heeseung menerima segalanya dengan senang hati seolah memang hanya itu yang pantas didapatnya. Begitu mudah untuk disenangkan, begitu patuh untuk dikendalikan, dan begitu pasrah untuk diberantaki.

 

“Sunoo… Kim Sunoo—”

 

Desahannya tercekat kala Kim Sunoo memasukkan keseluruhan penisnya dengan begitu mudah ke dalam mulut laki-laki itu. Lee Heeseung hanya dapat mengerang, bahkan merintih amat menyedihkan saat Kim Sunoo tetap menahannya. Tak membiarkannya mendapat keleluasaan untuk bergerak di mulut pangerannya.

 

“Kumohon, Sunoo,” pintanya. Nyaris berada di puncak saat Kim Sunoo menghentikan stimulasinya di sana. Lee Heeseung sudah berada di ujung tangisnya kala Kim Sunoo tetap bersikukuh memegangi pinggulnya, meninggalkan bekas kemerahan dari cengkeramannya yang semakin kuat, tak mengizinkannya untuk mengejar kenikmatannya sendiri.

 

Seraya meninggalkan kecupan-kecupan ringan—bahkan gigitan yang meninggalkan bekas cukup dalam—di paha Lee Heeseung, Kim Sunoo kembali menatapnya, dan ia pun meleleh dibuatnya. Tatapan Kim Sunoo selalu dapat membuatnya merasakan sesuatu. Entah bahagia karena secuil perhatian itu, takut karena netra rubah tajamnya, atau tunduk akan ketegasannya.

 

Bahkan saat Lee Heeseung mengerang dan hendak menggerakkan pinggulnya lagi, Kim Sunoo menempatkan satu kecupan menenangkan di sana.

 

“Tahan, Tuan Putri. Aku bahkan belum melakukan apa-apa.”

 

Dan Lee Heeseung dibuat merengek karenanya. Ia benci harus mengakui, tetapi Kim Sunoo memegang penuh kontrol akan dirinya. Menyetirnya sesuka hati, memutar balikkan dunianya semudah jentikan jari, membawanya ke langit ketujuh hanya dengan ujung jemari dan lidahnya.

 

Kim Sunoo belum melakukan apa-apa, dan Lee Heeseung telah siap memberikan segalanya.

 

Sebelum Lee Heeseung dapat menenangkan dirinya, menahan agar ia tak keluar sebelum Kim Sunoo mengizinkannya karena ia ingin menjadi anak baik demi laki-laki itu, Kim Sunoo telah menggeret lidahnya malas. Dari paha dalam Lee Heeseung hingga menyentuh lubangnya yang langsung merapat tanpa apa-apa.

 

“Oh! Kim Sunoo!”

 

Bahkan tanpa sadar ia telah meremas rambut Kim Sunoo, kedua kakinya mengalung di sekitar leher pangeran itu tanpa malu. Punggungnya membusur kala Kim Sunoo meludah tepat di lubangnya, sebelum kembali memberikan jilatan-jilatan ringan yang membuat Lee Heeseung nyaris terisak.

 

Saat Kim Sunoo bergerak untuk mengungkungnya lagi, mendaratkan ciuman di bibir Lee Heeseung, dan kali ini ciuman yang mereka bagi dengan cepat memanas. Dengan pagutan putus asa di tengah isakan tangis Lee Heeseung, liur keduanya yang saling bercampur dan mengalir ke dagu masing-masing, bahkan gigi-gigi yang saling bertabrakan karena ketidak sabaran keduanya.

 

Kedua lengan Lee Heeseung mengalung sepenuhnya di leher Kim Sunoo, mendekapnya erat seolah ia tak ingin membiarkan kekasihnya pergi. Ia menginginkan segalanya dari Kim Sunoo, ingin sesekali menjadi egois dan tak mempertimbangkan entah Kim Sunoo mendambanya dengan sama atau tidak.

 

Lee Heeseung terengah, mengerang menyedihkan, bahkan nyaris memekik kala jemari Kim Sunoo mulai menyentuh lubangnya. Menelisik perlahan demi membuat ruang yang cukup untuk dirinya nanti. Satu jari perlahan menjadi dua, dan Lee Heeseung sudah merasa dirinya penuh. Hingga jari ketiga dan Lee Heeseung meremat pakaian Kim Sunoo dengan rengekan manja.

 

“Sunoo… Kumohon—oh! Kim Sunoo, Kim Sunoo,” rengeknya tak sabaran.

 

Lee Heeseung siap dengan apa pun yang akan diberikan Kim Sunoo. Lubangnya menyempit di sekitar jemari laki-laki itu, menuntut lebih sekalipun ia hampir tersedak liurnya sendiri kala Kim Sunoo menemukan prostatnya. Bahkan saat Kim Sunoo menyadarinya, ia tak henti-hentinya menumbuk titik yang sama hingga Lee Heeseung semakin pening dibuatnya.

 

Ia menginginkan lebih. Menginginkan segalanya yang Kim Sunoo miliki. Mengizinkan pangeran itu untuk menandainya, menjadikan Lee Heeseung sebagai miliknya seutuhnya.

 

Oh, bahkan Lee Heeseung dengan tak tahu malunya menarik kerah pakaian Kim Sunoo yang sudah terlihat kusut karena sedari tadi ia tak berhenti meremasnya. Memaksakan ciuman lainnya ke belah bibir Kim Sunoo, sebelum ia kembali merengek.

 

“Sunoo-ya, m-masukkan saja. Kumohon…”

 

Dan siapa dirinya berani menolak permohonan dari seorang Lee Heeseung? Saat Lee Heeseung memohon, hampir berbisik karena luar biasa malu, dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang bergetar tipis. Bahkan Kim Sunoo mengerang di antara ciuman mereka, nyaris hilang akal saat Lee Heeseung terus menerus menjilati bibirnya dan menggerakan pinggulnya demi mendapatkan secuil friksi dari Kim Sunoo.

 

Lee Heeseung pun dengan tak sabarannya membantu dirinya untuk melepas satu per satu pakaiannya, meninggalkan lapisan dalam jubahnya yang menggangtung malas di bahu kokohnya. Dari mata Lee Heeseung yang berbinar dan jemarinya yang langsung menyentuh bahu hingga dadanya, Kim Sunoo tahu benar jika Lee Heeseung menyukainya.

 

Ia menyukai bagaimana otot-otot halus Kim Sunoo bergerak di bawah jemarinya, menyukai selembut apa kulit Kim Sunoo dalam sentuhannya. Lee Heeseung selalu menyukai bagaimana Kim Sunoo menolak untuk melakukan latihan berat, memilih untuk lebih menggunakan otak dibanding fisiknya.

 

Postur Kim Sunoo sudah sempurna bahkan tanpa ia perlu repot-repot melakukan latihan apa pun, dan Lee Heeseung sedikit banyak iri padanya. Ia selalu ingat tiap kali mereka mendapat kesempatan untuk mandi bersama, Lee Heeseung harus bersusah payah untuk mengalihkan pandangannya.

 

Laki-laki itu selalu menahan diri untuk tak menatap, menjaga kehormatan satu sama lain dan mengesampingkan hasratnya sendiri. Sekalipun Lee Heeseung akan tetap mengintip—dan Lee Heeseung bersumpah ia hanya melihat sedikit—ia berusaha tetap bersikap abai.

 

Namun kali ini segalanya berubah. Ia dapat memandang, menyentuh, bahkan dengan beraninya berbisik dalam benaknya, bahwa Kim Sunoo adalah miliknya. Tubuh itu kini dapat ia sentuh. Lee Heeseung dapat menari-narikan jemarinya di permukaan kulit Kim Sunoo, meremasnya, meninggalkan bekas kemerahan dari cengkeramannya yang sedikit terlalu kuat.

 

Lee Heeseung dapat menggigitnya, menanamkan gigi-giginya ke ceruk leher Kim Sunoo dan tenggelam dalam aroma laki-laki yang selalu didambanya itu. Oh, betapa ia selalu menyukai aroma Kim Sunoo. Pangeran cantik yang tahu cara bersolek, memiliki aroma bebungaan segar yang selalu menggelitik hidung Lee Heeseung, ditambah dengan aroma tubuh naturalnya.

 

Lee Heeseung bisa gila dibuatnya.

 

Saat Lee Heeseung kembali mengerang dan berusaha menarik Kim Sunoo mendekat, laki-laki itu menahan kedua pergelangan tangannya. Tanpa aba-aba, Kim Sunoo memaku kedua tangan Lee Heeseung di atas kepalanya, menahan pergerakannya sepenuhnya.

 

Tepat sebelum Lee Heeseung dapat membuka mulutnya untuk melempar protes, Kim Sunoo telah menyeret ciumannya di lengan dalam Lee Heeseung, membuatnya langsung mengerang dan hendak menarik diri karena sensasi gelinya.

 

“Jangan bergerak. Aku tidak ingin kau menyentuh apa pun.”

 

Lee Heeseung kembali merengek, namun kali ini bercampur dengan desahan karena Kim Sunoo menggigit otot lengan dalamnya, membuatnya berjengit kaget. “Tahan sebentar, mm?”

 

Tanpa berpikir dua kali, Lee Heeseung mengangguk. Jika Kim Sunoo menginginkannya untuk menjadi anak baik, maka Lee Heeseung akan patuh. Ia mempercayakan segalanya di tangan Kim Sunoo, sekalipun dirinya tak tahu lelaki itu akan melakukan apa padanya.

 

Kepercayaannya pada Kim Sunoo nyaris buta, tanpa cela, dan tak memandang apa pun. Jika Kim Sunoo memintanya untuk melakukan segalanya, maka Lee Heeseung akan mengamini dan memberikan apa pun itu yang Kim Sunoo inginkan.

 

Hingga Kim Sunoo mulai mengecupi tubuhnya, meninggalkan tanda tipis yang Lee Heeseung begitu sayangkan—karena ia paham benar mereka akan hilang dalam sehari—dan mulai menggesekkan kepala penisnya ke lubang Lee Heeseung, ia hanya bisa menggeliat pelan. Berusaha tetap menjaga lengannya di tempat, sekalipun ia ingin menarik Kim Sunoo kembali padanya.

 

Kala Kim Sunoo mendorong dirinya untuk masuk, Lee Heeseung merasa seolah dirinya tengah dibelah menjadi dua. Bagian bawahnya terasa begitu nyeri, namun panas dan basah di saat bersamaan. Sekalipun Kim Sunoo menciumi bibirnya, leher, hingga ke dadanya, hal itu tak cukup untuk mendistraksinya dari rasa sakit yang mendera lubangnya.

 

Kim Sunoo memenuhinya, menekannya semakin dalam, dan Lee Heeseung nyaris remuk dibuatnya. Tangan itu menggerayangi tubuhnya, berusaha membuat erangan kesakitan Lee Heeseung berubah menjadi rintihan kenikmatan.

 

Lee Heeseung melempar kepalanya ke bantal, memutar bola matanya ke belakang saat dirasanya Kim Sunoo menusuknya terlalu dalam. Kala Kim Sunoo memilih untuk menarik pinggulnya, kemudian mendorong masuk dalam sekali gerakan cepat, dunia Lee Heeseung berantakan karenanya.

 

Segala nyeri yang dirasakan sebelumnya melebur menjadi kepuasan yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Kim Sunoo dengan mudah mengacak-acak kewarasannya, memenuhi hasrat yang selalu dipendam Lee Heeseung, dan memutar balikkan realita dengan semudah itu.

 

Ia selalu berpikir bagaimana rasanya jika Kim Sunoo menjadikan Lee Heeseung sebagai miliknya, menyetubuhinya dengan gairah yang sama dengan yang selalu Lee Heeseung pendam. Malam-malam yang digunakannya untuk mendamba kenikmatan dari lelaki itu kini diobrak-abrik oleh Kim Sunoo sendiri.

 

Karena, sialnya, Lee Heeseung dihadapkan dengan realita bahwa Kim Sunoo dapat menyentuhnya dengan begitu baik. Begitu benar hingga Lee Heeseung seakan meleleh di ranjangnya. Gerakan pinggul Kim Sunoo terasa begitu lihai, menemukan titik nikmat Lee Heeseung sebegitu mudahnya, membuatnya memekik layaknya jalang murahan.

 

“Kim Sunoo! D-di sana—ah! Kumohon, lebih…”

 

Lee Heeseung ingin mendekapnya, merasakan tubuh panas itu tepat di atas tubuhnya. Namun saat ia ingin meraih Kim Sunoo, laki-laki itu menahan kedua pergelangan tangannya. Lengan kuat itu menekannya bersamaan dengan penis yang semakin melesak masuk, dan pandangan Lee Heeseung nyaris memburam.

 

Kim Sunoo berada tepat di atasnya, menggeram tertahan saat Lee Heeseung semakin menjepitnya lapar. Poni dan anak-anak rambutnya menggantung berantakan dan lembab karena keringat. Sementara bibir ranum itu terkuak dengan napas tak beraturan, mengerang penuh nikmat tiap kali Lee Heeseung mengapitnya.

 

Lelaki itu tampak luar biasa atraktif di atasnya, dan Lee Heeseung tak bisa menahan diri untuk tak jatuh semakin dalam.

 

Kim Sunoo berada di dalamnya, di atasnya, mengungkung tubuhnya dan berada di mana-mana. Isi kepalanya dipenuhi oleh Kim Sunoo, Kim Sunoo, dan Kim Sunoo. Bagaimana laki-laki itu menyetubuhinya, menggenggamnya, dan menyengkeramnya dengan begitu kuat. Bahkan Lee Heeseung tak kuasa untuk menggerakkan pinggulnya, menginginkan lebih dan lebih seperti binatang liar. Namun ia hanya dapat bergetar tak berdaya di bawah kuasa Kim Sunoo.

 

Ia membiarkan laki-laki itu memilikinya, menaruh segala kepercayaannya di tangan Kim Sunoo, dan membiarkan kekasihnya memporak porandakan kewarasannya. Kim Sunoo merasakan hatinya berdenyut nyeri di dalam rongga dadanya tiap kali ia menatap wajah itu.

 

Wajah cantik yang menatap Kim Sunoo penuh cinta, dengan sepasang iris sekelam malam yang berkilat penuh gairah. Wajah yang kini terlihat begitu berantakan dan kehilangan kehormataannya karena Kim Sunoo merenggutnya dengan begitu mudah. Wajah yang memerah, terengah-engah seraya menjeritkan nama Kim Sunoo hingga ia tersedak oleh isakannya sendiri.

 

Oh, betapa cantiknya Lee Heeseung kini.

 

Dan ia mengingat bagaimana Lee Heeseung hanya mempercayainya seorang, membiarkan Kim Sunoo yang dapat melihatnya seperti ini. Melonggarkan seluruh pertahannya, membiarkan Kim Sunoo masuk dan mengacau. Segalanya membuat Kim Sunoo nyeri, entah karena sakit maupun bangga. Kim Sunoo bahkan tak mengerti.

 

Lee Heeseung yang biasanya terlihat anggun nan gagah di saat bersamaan, kini dibuat kacau dan tak lebih dari seorang jalang. Lee Heeseung dan kalimat cerdasnya yang tak pernah kehilangan kata, kini hanya dapat meracau dan menangisi nama Kim Sunoo karena ia terus menerus membawanya ke titik ternikmat yang pernah Lee Heeseung rasakan.

 

Tiap reaksi yang dipaksanya keluar dari Lee Heeseung, Kim Sunoo menikmati setiap detik yang ia lewati melihatnya.

 

Lee Heeseung cantik dan begitu patuh, membuat Kim Sunoo ingin mengobrak-abriknya lebih jauh. Mendorongnya hingga batasnya, kemudian melihat Lee Heeseung jatuh dengan kepercayaan tanpa celanya kepada Kim Sunoo.

 

Semuanya membuat Kim Sunoo pening. Bahkan saat Lee Heeseung semakin kehilangan kewarasannya, tak sempat meracau dengan benar, sebelum ia tiba-tiba keluar begitu saja. Lee Heeseung keluar di perutnya sendiri, membuat cairan putih itu mengotori tubuhnya bahkan tanpa seorang pun menyentuh penisnya.

 

“Sunoo… Maaf, aku tidak—”

 

Sebelum Lee Heeseung dapat menyelesaikan kalimatnya, Kim Sunoo membungkamnya dengan ciuman yang begitu dalam. Gerakan pinggulnya semakin tak beraturan, menekan begitu dalam seolah ia tengah mengejar kenikmatannya sendiri. Segalanya terasa semakin berlebihan saat Lee Heeseung kembali mengapitnya, kewalahan karena ia terlampau sensitif.

 

“Kim Sunoo—oh, ya Tuhan…”

 

Kim Sunoo kembali mengecup bibirnya, kini lama dan terasa begitu basah. “Aku ingin keluar,” gumamnya.

 

Dan Lee Heeseung merengek semakin menjadi-jadi, “Di dalam. Keluarkan di dalam, Kim Sunoo. Aku milikmu.”

 

Kim Sunoo nyaris kehilangan kewarasannya kala Lee Heeseung terdengar seolah ia sedang memohon. Meminta Kim Sunoo untuk memenuhinya, menghangatkan perutnya dengan benih milik Kim Sunoo. Dan lagi, siapa dirinya berani menolak permohonan Lee Heeseung?

 

Dengan geraman yang nyaris terdengar liar, Lee Heeseung dapat mendengarnya bergumam, “Milikku,” dan seluruh tubuhnya merinding penuh gairah.

 

Maka setelah beberapa kali hentakan dalam, Kim Sunoo mengeluarkan semuanya di dalam Lee Heeseung. Membuat lubangnya terasa semakin penuh, begitu basah, tetapi juga hangat, dan Lee Heeseung menyukainya. Ia bahkan tak lagi mempedulikan perintah Kim Sunoo untuk menahan posisi tangannya. Yang ia tahu, ia ingin mendekap pangerannya.

 

Kim Sunoo membiarkannya sementara keduanya terengah-engah, berusaha mengatur napas masing-masing sebelum Lee Heeseung kembali merengek. Ia tak pernah merasa senyaman ini bersama Kim Sunoo. Dengan Kim Sunoo berada di atas tubuhnya, mendekapnya dengan tubuh keduanya yang masih terhubung di bawah sana.

 

Namun Lee Heeseung juga lelaki tamak. Ia terus menerus menginginkan Kim Sunoo, dan tentu saja ia akan membiarkan jenderal itu tahu.

 

Maka saat Lee Heeseung kembali memagut bibir Kim Sunoo seraya menggerakkan pinggulnya, ia tahu jika Kim Sunoo menangkap maksudnya. Senyuman jahil tak pudar dari bibirnya kala Kim Sunoo mengerang dengan penis yang mulai kembali menegang di dalam lubangnya. Lee Heeseung menginginkan lebih.

 

Lee Heeseung merasakan dunianya kembali diporak porandakan saat Kim Sunoo menarik diri sepenuhnya, berlutut di antara kaki Lee Heeseung. Ia hendak mengerang, mengemis Kim Sunoo untuk kembali kepadanya, karena kini ia membenci seberapa kosong dirinya. Kim Sunoo tak lagi di dalamnya, pun juga kehangatan tubuh Kim Sunoo yang tak lagi menyelimutinya.

 

Namun kepalanya lagi-lagi dibuat pusing tujuh keliling saat Kim Sunoo membalik tubuhnya dengan begitu mudah, menariknya untuk mendekat, dan memaksa Lee Heeseung untuk menungging. Di posisi seperti itu, ia merasa begitu terekspos. Dengan lubang yang masih membuka dan memerah setelah Kim Sunoo memakainya, ditambah sperma yang mengalir hingga ke pahanya.

 

Lee Heeseung sempat mendapati Kim Sunoo terdiam dengan netra yang terfokus pada bagian belakangnya. Oh, seberapa inginnya ia agar Kim Sunoo terus memandangnya seperti itu. Seolah Kim Sunoo selalu menginginkannya, mendambanya dengan seluruh tarikan napasnya. Dengan hasrat yang menggebu-gebu di dalam dirinya, dan dengan pemujaan yang begitu ketara di dalam bola matanya.

 

Lee Heeseung menginginkan itu semua.

 

Kala Kim Sunoo kembali menyentuhnya, Lee Heeseung membiarkan laki-laki itu melakukan segalanya. Jika Kim Sunoo ingin kembali mengklaimnya sebagai hak milik Kim Sunoo, maka biarlah. Lee Heeseung telah menaruh seluruh hidupnya di genggaman Kim Sunoo, dan ia tak lagi peduli akan hal lain.

 

Ia membiarkan Kim Sunoo melakukan segalanya. Bahkan saat Kim Sunoo kembali memilikinya, menggaulinya seraya menarik rambut panjang Lee Heeseung dengan kasar sekalipun ia telah memohon ampun. Lee Heeseung membiarkan Kim Sunoo melecehkannya, membuatnya kacau balau hanya dengan sentuhannya.

 

Karena pada titik itu, Lee Heeseung yakin ia tengah menjalani malam terbaik selama hidupnya. Dirinya penuh dengan gairah dan ekstasi tiap kali Kim Sunoo menyentuhnya, membisikkan pujian di samping telinganya, menggenggam tangannya seraya menekannya ke ranjang. Lee Heeseung tak pernah merasa sebahagia ini.

 

Sekalipun jauh di dalam benaknya, ia meragukan dirinya sendiri. Ada perasaan takut yang menyelimuti hatinya. Takut akan kebahagiaan sesaat yang bisa menghilang tanpa jejak kapan saja. Takut akan Kim Sunoo yang tiba-tiba membalas perasaannya dengan hasrat yang sama. Takut akan segalanya.

 

Namun saat Kim Sunoo mengaitkan jemari mereka, melesakkan diri jauh lebih dalam dengan bibir yang mengecupi bahunya basah, Lee Heeseung kembali merasa utuh.

 

Saat Kim Sunoo kembali membawanya ke langit ketujuh, menahannya, dan tak melepaskannya sama sekali, Lee Heeseung merasa dunianya telah sempurna. Ciuman lembut yang diberikannya, bisikan penenang yang diembuskan Kim Sunoo ke telinganya. Segalanya terasa sempurna.

 

Dari Kim Sunoo yang membersihkan tubuhnya, mengusap segala macam cairan yang menempel di kulitnya dengan begitu hati-hati seolah ia tak lagi ingin menyakiti Lee Heeseung, hingga memberikan kecupan lembut di tiap memar dan bekas lain yang ditinggalkan Kim Sunoo di tubuhnya. Segalanya sempurna, tanpa cela.

 

Gumaman, “Terima kasih,” dibubuhkan Kim Sunoo saat ia mengecup kening Lee Heeseung. Laki-laki itu dengan lembutnya menyisiri rambut hitam panjangnya, menyelipkan poninya ke belakang telinga Lee Heeseung dengan hati-hati. Bahkan kala Lee Heeseung menatapnya, Kim Sunoo juga menatapnya dengan mata rubah itu. Ambernya tampak begitu lembut di bawah pendar lentera malam.

 

Lee Heeseung tak pernah merasa selega ini, bahkan setenang ini dalam hidupnya. Mengetahui Kim Sunoo berada di sisinya, menggenggam dan mendekapnya dengan begitu erat. Ia bahkan tak dapat menyembunyikan senyuman bahagia yang terukir cantik di wajahnya.

 

Ia milik Kim Sunoo, dan tak ada apa pun yang dapat mengubah itu.

 

 

Namun di hari berikutnya saat ia membuka mata, seluruh kehangatan yang baru ia rasakan menghilang sepenuhnya. Meninggalkannya di ranjang kosong dengan selimut yang tersampir malas di bahunya dan sprei kusut di bawah tubuhnya. Kim Sunoo menghilang dari sisinya tanpa sisa. Bahkan pakaian dan hiasan kepalanya tak dapat dilihatnya.

 

Lee Heeseung terduduk dengan kepala luar biasa pening dan bagian tubuh bawahnya serasa akan rontok. Ia mengamati kamarnya yang terlihat masih sama seperti semalam, tak ada perubahan apa pun kecuali Kim Sunoo yang tak lagi berada di sisinya, dan kertas yang baru ditulisi tinta segar di mejanya.

 

Ia pun mengernyit, berusaha meninggalkan ketakutan yang perlahan-lahan menggerogoti hatinya hati. Ketakutan yang sama dengan yang dirasakannya malam tadi. Kim Sunoo tidak akan meninggalkannya, bukan? Ia mungkin sedang mengurusi kepentingan kerjaan seperti biasa, atau keperluan perang. Lee Heeseung tak perlu khawatir.

 

Tetapi ia tetap bergegas mengenakan jubah tidurnya, menyeret tubuhnya dengan enggan ke pinggir ranjang hanya untuk merasakan pinggul dan bokongnya yang begitu nyeri. Lee Heeseung tak pernah tahu jika rasanya akan semenyakitkan ini setelah aktivitasnya semalam.

 

Lee Heeseung pun tertatih perlahan ke mejanya, mengamati kertas dengan tulisan tangan yang jelas bukan miliknya. Tepat ketika ia menyadari tulisan milik siapa di kertas itu, Lee Heeseung segera menariknya dari meja dan menjatuhkan diri ke bantal duduknya.

 

Maafkan aku, Tuan Putri.”

 

Bibirnya bergetar kala membaca kata-kata yang tertulis di sana, masih segar dengan tinta yang baru saja mengering. Tulisan Kim Sunoo selalu dapat dikenalinya, dengan aksara sambung yang terlihat anggun tetapi dapat mudah dibacanya.

 

Lee Heeseung membacanya hati-hati, meresapi tiap permintaan maaf Kim Sunoo, dan menekuri ucapan perpisahan yang sialnya hanya tertulis di atas kertas. Perpisahan yang tak sanggup disampaikan Kim Sunoo saat mereka bertatap muka karena dirinya tak tega.

 

Kim Sunoo bukan lelaki yang suka bertele-tele. Maka saat Kim Sunoo mengatakan ia akan pergi, maka ia akan pergi sejauh mungkin. Ke tempat yang mungkin tak dapat Lee Heeseung jangkau, bersembunyi dari segalanya tanpa ingin ditemukan.

 

Ia sempat ingin meragu, berharap Kim Sunoo tak sungguh-sungguh pergi darinya. Namun beritanya soal Kim Sunoo yang sudah menulis surat lain untuk memutuskan pertunangan mereka menikam hatinya tak tahu diri.

 

Kim Sunoo telah meninggalkannya hanya dengan secarik surat perpisahan. Terdengar begitu jahat bagi siapa pun yang ditinggalkannya, tetapi begitulah Kim Sunoo. Lelaki yang tak pernah memikirkan perasaan orang di sekitarnya, yang selalu melakukan apa pun yang diinginkannya.

 

Kim Sunoo pergi darinya, mengejar sesuatu yang tak pernah didapatkannya dalam kehidupannya kini.

 

Sejak dulu Lee Heeseung tahu, jika Kim Sunoo selalu ingin bebas. Satu hal yang tak akan pernah mereka dapatkan, karena mereka terlahir dan besar dalam sangkar emas yang mereka sebut istana. Segalanya telah ditetapkan bahkan sejak mereka belum melihat dunia. Segalanya telah tertulis, menjadi hukum mutlak yang tak dapat mereka bantah.

 

Kim Sunoo selalu mendambakan kebebasan, dan Lee Heeseung tak pernah berada di dalamnya.

 

Lee Heeseung jauh dari kata bebas. Lelaki penurut yang begitu mudah disetir mengikuti aturan dan hukum sepertinya tak akan pernah cocok bersanding dengan Kim Sunoo yang memiliki jiwa sebebas burung.

 

Namun di sinilah ia, tetap berani mempersembahkan hidupnya, mengorek jantungnya keluar dan memberikannya ke tangan Kim Sunoo tanpa tedeng aling-aling. Membiarkan pangeran itu memiliki kontrol penuh akan dirinya, berharap suatu saat Kim Sunoo akan menjaganya selayaknya jantungnya sendiri. Tetapi kini Kim Sunoo memilih untuk meremukkan jantungnya, melemparnya ke tanah seolah itu tak berarti sama sekali baginya.

 

Sebagai balasannya, Kim Sunoo memberinya setangkai mawar merah penuh duri. Cantik, seperti kebahagiaan sesaat yang dirasakan oleh Lee Heeseung karena secuil afeksi yang diberikan lelaki itu semalam. Sementara hari-hari sebelum dan sesudahnya, yang Lee Heeseung rasakan tak lebih dari jalanan berduri. Menyakitinya dari segala arah, menghujamnya sadis, tetapi Lee Heeseung masih bersedia berjalan di atasnya layaknya manusia tolol.

 

Aku menginginkanmu, katanya. Persetan.

 

Seharusnya Lee Heeseung membencinya. Seharusnya ia mengutuk laki-laki itu, melemparkan sumpah serapah yang tak pantas diucapkannya kepada Kim Sunoo seorang. Namun dengan tawa bercampur tangis menyedihkan, Lee Heeseung meremas surat itu dan melemparnya sembarang.

 

Kim Sunoo bajingan.”

Notes:

I refuse to elaborate the whole plot.

Series this work belongs to: