Work Text:
“Waah, gantengnya, first pitcherku!” Jaemin berujar sambil memandang Jeno yang tengah mencoba jersey baseball bernomor punggung 23 itu. Ya, Jeno mendapat kesempatan emas untuk menjadi first pitcher untuk Samsung Lion Korea.
Jaemin sendiri sedang membuat pancake di dapur bersih penthouse mereka, sedangkan Jeno sedang mencoba baju di ruang TV di seberangnya.
“Aku nervous banget, sayang...” kata Jeno gugup, berjalan mendekat ke arah Jaemin, memeluknya dari belakang dan mendusal manja di ceruk leher Jaemin yang tengah membolak-balik pancake di atas wajan.
Ctek.
Jaemin mematikan kompor tersebut, memutar badannya untuk berhadapan dengan Jeno dan menangkup wajah Jeno dengan kedua tangannya.
“Baby, cmon. You are THE Lee Jeno! You are good in everything! I mean look at you… you are so talented, sayang. Tenang aja, okay?”
Jeno memanyunkan bibirnya, merasa masih belum tenang bahkan dengan kalimat penyemangat dari sang kekasih.
“Ih, kok manyun gitu sih? Hahaha.” Kata Jaemin sambil menjawil manja hidung mancung Jeno.
“Cium. Mau cium.” Kata Jeno tiba-tiba,
“Aduh gemesnyaa, sayangku stress banget yaa?”
Jaemin kemudian maju untuk memeluk Jeno, pelukan hangat, sambil mengelus-elus punggung dan kepala Jeno.
Bak anak kecil, Jeno balik memeluk Jaemin dengan erat, mencium-ciumi leher dan pipi Jaemin, kemudian menarik dagu Jaemin dan membawanya dalam ciuman bibir yang dalam. Lumatan-lumatan halus itu berhasil menenangkan Jeno. Jantungnya yang sebelumnya berdegup tak teratur, kini menjadi lebih rileks dan santai.
Selepas sesi berciuman mereka, Jaemin mendorong sedikit bahu Jeno untuk menarik nafas.
“Makan dulu yuk sayang, habis ini kan kamu masih harus ke agency, baru ke arena.” Jaemin kemudian menyiapkan pancake mereka, menarik lembut tangan Jeno untuk duduk di ruang makan di dekat dapur yang lebih terlihat seperti mini bar.
“Kamu hari ini gak ada agenda apapun ya?” kata Jeno sambil menyendok pancake dan meminum susu yang sudah disiapkan oleh Jaemin.
“Me? Nope. Absolutely not. Aku mau duduk di rumah sambil nge-wine dan memantau pacar gantengku jadi first pitch. Awas ya kamu genit-genit di sana nanti!”
“Hahaha, aku mau genit sama siapa coba? Orang udah ada yang nunggu di rumah. Mana cantik banget, kulitnya mulus, matanya indah, badannya sexy lagi! Minus-nya cuma tukang cemburu sama kalau marah bawel ajasih…”
“JENO! AWAS YA!” Kata Jaemin sambil mengangkat garpu, berpura-pura mau mencolok mata Jeno sambil memelototkan matanya.
.
.
.
Jeno harap-harap cemas ketika dirinya sampai di agency untuk bersiap-siap. Ramalan cuaca berkata, 90% pada sore ke malam hari ini akan hujan. Di luar, langit sudah mendung kelabu. Dan ketika dirinya sudah diperjalanan menuju venue di mana dia akan melakukan first pitch, guyuran hujan mulai turun dengan lebat.
This damned rain.
Jeno menghembuskan nafasnya kasar. Membenci situasi ini karena sumpah, dirinya bahkan sudah berminggu-minggu berlatih! Belum lagi ada ribuan fans yang menunggunya, mengharapkan dapat melihat moment itu dan merayakannya bersama-sama dengan Jeno.
My Nana is calling.
Jeno tersenyum getir sambil mengangkat telfon.
“Sayang….” Kata Jaemin saat telfon itu tersambung.
“I am very upset, Na. Very, very upset.” Kata Jeno jujur.
“I know, sayang… I am so sorry…”
“Hm, tunggu aku pulang, ya? Aku tetap akan pulang malam karena kayaknya ada perubahan rencana. Aku tetep harus bikin konten video throwing the balls di dalam ruangan latihan mereka.”
“Yes, baby. I’ll prepare dinner and after that we can cuddles and drink some glasses of wine, sounds good to you?”
“Hot chocolate. Aku mau hot chocolate buatan kamu. I think I need that more than wine right now. Hot chocolate kamu bisa bikin aku lebih tenang.”
“Iya sayang. Come back safely, okay? Nanti marahnya di rumah aja, sama aku. For now just do your best for the fans, ya, baby?”
“I’ll try my best. Aku sudah mau sampai. See you at home, Na. I love you.”
“I love you too. Fighting for today, love.”
.
.
.
Sebetulnya, Jeno berharap hujan bisa secara tiba-tiba berhenti dan langit menjadi cerah ceria. Tetapi harapannya sirna karena sepertinya semesta sedang membencinya hari ini. So he supresses all the emotion he feels now, melakukan semua yang dia bisa untuk tetap ceria di depan para penggemar yang datang, mengambil beberapa konten video dengan menggunakan jersey baseball yang menunjukkan bakat dan hasil latihannya berminggu-minggu, menyapa para fans secara langsung, membuat kalimat-kalimat penenang untuk para penggemar di weverse, mengirim selca ke bubble…. Apalagi, ya? Sepertinya Jeno sudah mengerahkan segala upayanya untuk membuat para penggemar tidak terlalu kecewa.
Well after all, Jeno-lah yang benar-benar paling merasa kecewa. Setelah semuanya benar-benar selesai, dirinya hanya ingin pulang ke pelukan sang tercinta. Menumpahkan segala rasa sedih dan marahnya yang tidak bisa ia ungkapkan ke orang lain karena menjunjung tinggi profesionalisme.
Jam menunjukkan pukul 7.30 malam saat Jeno masuk ke dalam apartemen mereka. Di luar, hujan masih mengguyur bak keran air yang belum mau berhenti. Jaemin sedang berada di dapur, mengaduk-aduk cokelat panas buatannya yang baru saja selesai dibuat. Dirinya sudah siap dengan jubah tidur terusan berbahan satin berwarna merah maroon.
“Baby, I’m home,” kata Jeno sambil mencuri kecup di pipi kiri Jaemin.
“Aku mandi dulu ya.” Lanjutnya.
“Mau makan dulu gak sayang?” Tawar Jaemin.
“Nanti aja, babe. Belum mood.” Jawab Jeno.
“Yasudah, nanti kita nonton sambil ngemil di kamar aja. Nanti aku prepare dan bawa masuk ke kamar yaa.” Kata Jaemin ketika Jeno mulai memasuki kamar mereka.
.
.
.
Jeno sudah merebah di kasurnya menggunakan jubah tidur satin yang sama dengan milik Jaemin, tetapi miliknya berwarna hitam. Sebelumnya, dirinya sudah menyalakan tv besar di kamar mereka, membuka aplikasi neflix dan menyetel serial tv kesukaan mereka. Moodnya sudah jauh membaik, merasa nyaman karena kini dirinya sudah berada di rumah bersama dengan sang tercinta. Jaemin kemudian masuk ke kamar mereka dengan 2 kantong snacks dan 2 gelas cokelat hangat buatannya. Cokelat hangat yang dibuat dengan cinta, kesukaan Jeno.
Gelas tersebut ditaruh Jaemin di nakas sebelah tempat tidur mereka, kemudian membawa dirinya untuk merebah di sebelah Jeno.
“Sini, sayang” kata Jeno sambil menarik tangan Jaemin lembut, hingga kini tubuh Jaemin setengahnya menindih tubuh Jeno. Jeno merengkuh Jaemin di dalam pelukannya, kepala Jaemin tepat berada di atas dada Jeno, dapat mendengar suara detak jantung Jeno yang melantun tenang.
“Feeling any better, baby?” Jaemin akhirnya membuka suara setelah 5 menit hening yang hanya diisi oleh helaan nafas Jeno sambil mengelus-elus rambut Jaemin, sambil sesekali mencium pucuk kepala kekasihnya itu.
“Hm, feels better now that I’m with you.”
“I am so sorry, sayang. Kamu pasti upset banget karena hujan.”
“Tadinya iya. Tapi sampai sekarang masih hujan, jadi aku mulai merasa memang aku sedang tidak beruntung aja. Mungkin lain kali akan ada kesempatan.”
Jaemin mendongak, memandangi wajah Jeno yang ternyata juga tengah menunduk memandang Jaemin. Jaemin tersenyum manis sekali, berusaha menenangkan Jeno.
“Diminum itu hot chocolatenya, tadi kamu minta kan. Aku buatin special pake cinta, tau!”
“Hahaha, iyaa, iyaa. Ini aku minum. Sumpah deh Na, cokelat buatan kamu ini enak banget. Gak terlalu manis, terus kental gak kebanyakan air. Hebat banget sihh?” Kata Jeno sambil mengambil gelas di sebelahnya, menyeruput cokelat hangat buatan Jaemin.
“Hehe, itu aku bikin resep sendiri, mau juga dong tolong ambilin punyaku, sayang.” Kata Jaemin sambil mencoba untuk menegakkan dirinya untuk duduk di sebelah Jeno dan meraih segelas cokelat lain di meja tersebut.
Tiba-tiba, Jeno menepis tangan Jaemin dan menarik dagu Jaemin untuk mencium bibirnya. Cokelat yang sedang diminumnya, dialirkan mulut ke mulut. Jaemin terkejut, tetapi setelah rasa pahit-manis cokelat itu mulai masuk ke dalam tenggorokannya, juga lumatan bibir Jeno diatas bibirnya semakin menjadi-jadi, Jaemin menjadi terbawa suasana.
Ciuman mereka menjadi semakin dalam dan intens, kepala mereka sudah bergerak ke kiri dan kanan, seakan hanyut dalam cumbuan. Jeno mulai merebahkan dirinya, membawa Jaemin mendominasi ciuman mereka dan menindih tubuh Jeno dari atas.
“Iseng banget sih kamu!” tawa Jaemin mengudara sambil mencium-cium sisi wajah Jeno. Jubah yang mereka pakai sudah mulai tidak berada pada posisi sebenarnya. Milik Jeno sudah mulai terbuka atasnya, menunjukkan dada bidang dan perut six-packnya seakan mengintip dari bawah sana.
“Tapi bukan kamu doang yang bisa iseng, aku juga.” Seringai Jaemin mulai muncul menghiasi wajahnya.
Sepersekian detik setelahnya, Jaemin melepas tali yang melilit jubah Jeno, membuat selurunya terbuka. Di dalamnya, Jeno hanya mengenakan celana dalam yang sudah mulai menggembung akibat ciuman mereka sebelumnya.
Jeno ikut menyeringai dibuatnya, menyukai dinamika hubungan mereka yang lagi-lagi sama gilanya.
Jaemin masih berada di atas Jeno, mengukungnya dan menahan berat badannya dengan satu tangannya. Tangan Jeno sudah melingkar di pinggul Jaemin, sesekali meremasnya ketika jari jemari Jaemin mulai menyusuri lekuk tubuh Jeno. Bermain-main di leher Jeno, berhenti di kedua putingnya, melakukan gerakan memutar sesekali, kemudian turun menyusuri perut six-pack pasangannya itu.
“Papi…” kata Jaemin tiba-tiba, memajukan bibirnya tepat ke telinga Jeno.
“Yes, kitten?” suara Jeno mulai merendah, tanda dirinya sudah mulai terangsang dengan perlakuan Jaemin kepadanya.
“May I lick you good?”
“I am yours, kitten.”
Dengan jawaban itu, Jaemin mulai menjilat-jilati telinga Jeno. Turun ke lehernya, wajahnya, ke telinga yang sebelahnya, kembali turun ke lehernya, mengulum jakun Jeno sambil tangannya mulai menggerayangi tubuh indah Jeno.
Tiba-tiba, ide gila itu muncul di kepala Jaemin. Detik berikutnya, dirinya menegakkan tubuhnya, mengambil cangkir berisi cokelat itu dan menumpahkannya pada tubuh Jeno. Dituangnya membasahi dada, perut, dan celana dalam Jeno. Seketika, Jaemin menjilati tubuh Jeno dari atas hingga bawah. Menjilati cokelat yang menutupi tubuh Jeno hingga bersih, membuat sisi kanan dan kiri wajah Jaemin penuh dengan cokelat.
“Oh my God… Na… ngh..” Jeno mendesah dibuatnya. Jujur, yang dilakukan Jaemin membuat libido Jeno naik sepenuhnya. Di bawah sana, penisnya sudah tegak sempurna.
Gerakan Jaemin semakin turun, menjilat-jilat celana dalam Jeno dari luar hingga basah. Kemudian dirinya membuka celana dalam Jeno, mencolek sisa-sisa cokelat di perut jeno dan membawanya ke penis jeno, lalu penis diemutnya bagai permen lollipop. Dihisapnya lembut, kemudian turun menjilati testis Jeno.
“Fuck, Na, aku mau keluar di mulut kamu.” kata Jeno sambil menjambak rambut Jaemin, menariknya paksa dan menahan kepalanya di sana. Kemudian, Jeno menghentak kasar pinggulnya dari bawah, membuat Jaemin hampir tersedak. Jeno terus menghentak-hentakan pinggulnya hingga menyentuh pangkal tenggorokan Jaemin. 5 hentakan, sperma Jeno menyembur deras. Jeno menahan kepala Jaemin dengan kedua tangannya, memaksa Jaemin untuk menelan habis seluruh cairan cintanya. Barulah saat Jaemin mulai terbatuk karena kehilangan oksigen, Jeno melepaskan jambakan tangannya.
Jaemin mengangkat kepalanya, dengan sisa-sisa sperma Jeno di sudut bibirnya bercampur dengan bekas cokelat yang sudah mulai mengering. He looks so sexy. So alluring to Jeno.
“Now, it’s my turn, my bad, naughty kitty.” Kata Jeno menyeringai, sambil tiba-tiba duduk dan menarik Jaemin duduk di ujung tempat tidur mereka, di antara kedua paha Jeno, menghadap ke cermin besar di sisi sebelah kamar mereka. Posisi Jeno kini ada di belakang Jaemin, penisnya tegak mengacung menempel di punggung bawah Jaemin, dekat belahan pantatnya.
Benar. Kamar tidur utama mereka memiliki cermin besar di samping kanan ranjang mereka. Ukurannya benar-benar besar, bahkan menutupi 2/3 dinding kamar mereka. Ide untuk menutupi dinding kamar mereka dengan cermin adalah ide dari Jaemin yang gemar melakukan padu-padan pakaian dan mengambil foto OOTD. Siapa sangka cermin itu bisa membangkitkan fantasi di kepala kekasih hatinya?
Jeno membuka paksa seluruh jubah Jaemin dan melemparnya ke lantai, hanya untuk mendapati Jaemin tidak menggunakan sehelai benangpun pada tubuhnya. Penisnya sudah tegang sempurna, lubang analnya sudah berkedut-kedut minta di isi. Kini, keduanya sudah telanjang sempurna. Sama-sama menatap lurus ke depan cermin yang memantulkan bayangan mereka yang sangat cabul.
“Oooh. Look who comes prepared?” bisik Jeno di telinga Jaemin.
Jeno membuka kaki Jaemin dengan kakinya, membuatnya mengangkang lebar, dan mencekal pergelangan kaki Jaemin dengan kakinya. Tangan Jeno mulai mengelus seluruh permukaan badan Jaemin. Mengelus dadanya, turun ke perutnya, meremas sisi-sisi perut Jaemin. Membelai-belai paha dalam Jaemin, membuat Jaemin menutup matanya karena nikmat.
Melihat Jaemin menutup matanya, Jeno membawa satu tangannya untuk meremas rahang Jaemin dan mengarahkannya lurus ke depan.
“Open your eyes, I want you to look at yourself while I make you feel good. Understand me?”
Jaemin otomatis membuka matanya, mengangguk-anggukan kepalanya sambil berkata
“Yes, yes, papi.”
“Pinter, sayangku.”
Kemudian secara tiba-tiba, Jeno meraih gelas cokelat yang masih penuh, menumpahkannya pada padan Jaemin dari atas. Lelehan cokelat itu menetes turun memenuhi dada, perut, dan penis Jaemin. Merembes ke bawah, turun melewati sela-sela selangkangannya. Ke analnya, mengalir turun ke lantai kamar mereka.
Cokelat itu sudah mulai dingin dan kian mengental, membuat sensasi lengket dan basah di tubuh Jaemin.
“Ahh.. papi..” Jaemin mulai mendesah.
Jeno mulai memutari jarinya pada kedua puting Jaemin, memelintir kecil, menariknya, sesekali menggaruknya. Mulutnya tidak tinggal diam, dirinya menciumi seluruh leher Jaemin, meniup-niup telinganya, membuat desahan Jaemin semakin menjadi-jadi.
Tangan kiri Jeno masih bermain-main di dada Jaemin, sementara tangan yang satu sudah mulai turun, mencolek lelehan cokelat di tubuh Jaemin dan menjadikannya sebagai lube untuk memasukkan dua jarinya ke anal Jaemin.
“AHH! Pelan-pelan, papi…” Jaemin sedikit berteriak, terkejut akan dua jari yang tiba-tiba menerobos masuk lubangnya.
Jeno tentu saja tidak mengindahkan permintaan Jaemin. Dua jarinya semakin gencar keluar-masuk, bahkan kini, tangan satunya sudah dibawanya turun, mulai meremas penis Jaemin.
“Ahh, nghh.. hahh.” Desahan Jaemin semakin kencang, tidak sanggup menahan stimulasi yang diberikan oleh Jeno.
“Play with your boobs, baby. Kamu tau kan aku suka banget sama dada kamu?” kata Jeno sambil menggigit kecil bahu Jaemin.
Jaemin menurutinya, mulai memainkan putingnya sendiri, meremas-remas dadanya sambil menyalurkan nikmat tiada tara yang dirinya rasakan. Di bawah sana, Jeno masih mengocok penis Jaemin sambil menambah satu jari lagi, menjadikan 3 jarinya mengaduk-aduk lubang anal Jaemin.
Desahan Jaemin sudah berubah menjadi teriakan, sungguh, Jeno selalu membawanya ke langit ketujuh dengan segala yang Jeno berikan kepada dirinya.
“Cum.. cum… ahhh papi, aku mau keluar, please!!”
Jeno melepaskan kocokan tangannya pada penis Jaemin, tetapi tidak pada analnya. Satu tangan itu dibawanya naik untuk mencekik sisi leher Jaemin, membuat Jaemin rebah ke dada Jeno sepenuhnya.
“Show me your tongue.” Titah Jeno mutlak.
Jaemin mulai menjulurkan lidahnya bak anjing yang menurut kepada tuannya. Kocokan jari Jeno belum berhenti di analnya. Keluar-masuk dengan cepat dan dihentak dalam. Cekikan di lehernya diperketat, matanya sudah mulai mengeluarkan air mata saking nikmatnya.
“You look so messy. I love it. Come now.”
Gerakan jari Jeno semakin brutal, membuat Jaemin mencoba menutup kakinya secara refleks yang tentu saja ditahan oleh kaki Jeno. Badan Jaemin merinding dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dengan leher tercekik, lidah terjulur ke depan, dan liur yang sudah menetes dari sisi-sisi bibirnya, Jaemin menjemput putihnya.
Spermanya tumpah banyak sekali membasahi tangan Jeno dan lantai kamar, bahkan tanpa disentuh. Jeno mencolek sperma tersebut dan sisa-sisa cokelat di tubuh Jaemin, mengarahkan ke mulut Jaemin.
“Taste yourself, love.”
Jaemin yang masih lemas akan pelepasan pertamanya, hanya bisa membuka mulutnya dan mengulum dua jari Jeno. Jeno menarik keluar jarinya, mengulang gerakan yang sama, mencolek sperma Jaemin dan sisa-sisa cokelat di tubuh Jaemin, tetapi kali ini mengarahkannya ke mulutnya sendiri.
Jeno mengulum jari yang berisi sperm aitu sambil menatap lurus ke cermin, membuat matanya dan mata Jaemin bertemu di sana.
“Sweet. You taste so sweet, Na Jaemin.”
Pipi Jaemin bersemu merah, Jeno and his smart mouth. He can never get enough of it.
“But baby, You know that I am not done yet, right?”
Seketika, Jeno memeluk perut Jaemin dan membawa mereka berdua untuk berdiri. Kaki Jaemin masih lemas, beruntung, Jeno dengan sigap menahan tubuhnya. Kemudian, dirinya mendorong Jaemin tepat ke depan cermin. Kedua tangan Jaemin dijadikan tumpuan, pipinya menempel ke cermin, dan bokongnya ditarik ke belakang oleh Jeno.
“I’m going in.”
Dengan sekali hentak, Jeno memasukkan penisnya yang sudah kembali tegang sempurna ke anal Jaemin. Menumbuknya dengan keras seperti tak ada hari esok.
“Nghh, I’ve been thinking about fucking your hole all day. Fuck it felt so good.” Kata Jeno sambil terus memaju-mundurkan penisnya dengan cepat.
“Ahh, nghh, hhahhh, please, papi.” Jaemin hanya bisa mendesah dan melenguh.
Jeno menghantam telak prostat Jaemin, kini menjambak paksa rambut Jaemin dari belakang, membuatnya sedikit mendongak. Kedua tangan Jaemin melekat erat pada cermin, menyangga tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.
“Look at yourself, baby. Do I make you feel that good?”
Jaemin sudah menangis karena nikmat, kepalanya mulai sakit karena cengkraman tangan Jeno yang begitu kuat. Tetapi entah kenapa, hal itu membuat nafsunya semakin tinggi.
“Yes, yes, papi. Ahhh, hhhh enak, enak banget…” Jaemin mulai meracau tak karuan sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Now stay still and let me use you. I want to come inside you.”
Gerakan Jeno semakin brutal, 1 tangannya dibawanya untuk memeluk perut bawah Jaemin dari belakang, menekannya kuat, jambakan di rambutnya belum dilepaskan oleh Jeno.
“ahh, fuck, Na, you always feels so good. So tight for me.”
Jaemin sudah tidak dapat membalas perkataan Jeno, dirinya hanya bisa mendesah dan menangis, ini terlalu nikmat untuknya.
“Papi, mau pipis.. mau pipis.. AHH!!”
Tanpa aba-aba, Jaemin mengeluarkan putihnya dan disusul dengan air kencing yang tidak dapat ditahannya. Cairan itu muncrat mengenai cermin di hadapannya dan turun membasahi lantai kamar mereka. Jeno tetap menggerakkan pinggulnya, 3 hentakan kasar, Jeno memeluk tubuh gemetaran Jaemin dan menembakkan spermanya di dalam anal Jaemin. Saking derasnya, sperma Jeno meluber hingga ke paha dalam Jaemin, turun bercampur dengan sperma dan air kencing Jaemin di bawah lantai.
Pelepasan keduanya begitu intens, hingga tubuh Jeno dan Jaemin serasa terbakar dan terasa sangat lemas. Jeno melepas penyatuan mereka, kemudian menggendong Jaemin seperti koala dan duduk di sofa di dalam kamar mereka. Jaemin duduk di pangkuan Jeno, menghadap arahnya dengan kaki melingkari pinggul jeno. Jaemin sudah tidak bersuara, kepalanya terkulai lemas di bahu Jeno.
Jeno pun sama lemasnya, mencoba menetralkan detak jantungnya dan nafasnya yang masih memburu, sambil mengelus-elus punggung telanjang Jaemin untuk memberikan kenyamanan bagi sang kekasih.
3 menit yang hening, Jaemin buka suara di bahu Jeno.
“We made a mess, don’t we?”
Jeno tertawa kecil, melihat di depan matanya, kamar mereka seperti kapal pecah. Lelehan sperma dan air kencing di lantai kamar mereka. Cokelat yang sudah mengering di atas sprei mereka. Benar-benar tidak layak disebut ‘kamar’.
“Hahaha, we did, baby. Malam ini bobo di kamar tamu dulu, ya? Besok pagi kan ada ART yang beresin.”
Jaemin seketika mengangkat kepalanya, menengok ke belakang untuk mengecek kondisi ‘kamar’ mereka, lalu menepuk jidatnya pelan.
“YAAMPUN!! Aku lupa! Ih malu!! Malu dilihat si ibuk!!! Gak mau, Jeno, ih, minta tolong orang yang waktu itu aja… jangan ibuk..” Kata Jaemin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Shh, yaudah, sayang, nanti aku suruh orang yang waktu itu bersihin balkon kita itu kan maksudnya? Hahaha.”
Jaemin memukul lengan Jeno sedikit keras, “IH MALES AH!”
“Hahaha, sekarang aja males, waktu itu minta nambah.”
“DIEM GAKKK JENO!” Teriak Jaemin sambil berupaya untuk keluar dari pelukan Jeno karena dirinya malu.
“Hahaha ampun sayang, yaudah ayuk kita harus mandi lagi ini baru tidur. Nanti aku urus untuk yang bersih-bersih.” Kata Jeno sambil menenangkan Jaemin dan berusaha berdiri sambil tetap menggendong Jaemin ala koala.
“Tapi janji, mandi aja ya, jangan yang lain. Aku udah capek soalnya.”
“Utuuu, sayangku, iyaa mandi aja kok, janji. Aku mandiin, ya?”
“Hehe, okay sayangg. Mandiin yaa!”
See? Jeno dan Jaemin. Memang sama gilanya. Tetapi pun, sama juga cintanya.
Selesai.
Ditulis dengan banyak cinta oleh dearberleeana.
