Actions

Work Header

MURGU (GURU BK)

Summary:

Mark tertegun, ia menatap Haechan dengan tatapan gelapnya, "Panggil saya Mark, jangan Pak" ujar Mark, memukul vagina tembam itu.

Mark ikut berbaring di samping Haechan, namun tubuhnya menyamping. Wajahnya tepat di depan buah dada Haechan yang juga cukup berisi.

"Saya boleh nyusu di nen kamu, gak?" tanyanya.

Haechan mengangguk. Mark sangat senang, mulutnya memainkan nipple pria manis itu. Sedangkan jari tangannya sedang memainkan lubang memek Haechan yang sangat lembut.

Mark menjulurkan lidahnya untuk merangsang Haechan. Memutar lidahnya pada bagian nipple, lalu meraup nipple itu untuk dihisap.

Work Text:

 

Mark 29th as Guru BK

Haechan 17th as Siswa Kelas XII

 

 

 

 

 

 

 

Haechan merupakan sosok murid yang nakal dan juga sering membuat masalah. la bahkan sering kali dalam seminggu bisa memasuki ruangan BK berkali-kali.

 

Sehingga Mark Jung-selaku guru BK yang selalu menangani masalah Haechan pun juga ikut lelah. Haechan benar-benar susah sekali di atur, bahkan ia berani melawan para guru jika ia merasa bahwa dirinya, tak salah.

 

Bahkan Mark pun sering kali memperingati dengan kalimat ancaman seperti...

 

"Sekali lagi kamu berbuat salah dalam minggu ini, saya akan berikan kamu hukuman yang sebelumnya belum pernah di dapatkan para murid disini!"

 

Ancaman itu mungkin tampak menyeramkan-bagi para murid lainnya. Tapi tidak bagi Haechan, ia malah senang mendengar itu dan malah berkata..

 

"Oh really? I will wait for the punishment, sir.."

 

Begitulah kira-kira jawaban Haechan kemarin, dengan gelagatnya yang super centil juga suka sekali menggoda, baik lawan jenis atau sejenis dengannya.

 

Namun ada satu hari, dimana hari itu berbeda dari biasanya. Hari itu, ruang BK masih tampak sunyi, sampai pada akhirnya suara pintu dibanting keras terdengar.

 

Haechan masuk dengan wajah merah, mata berkaca-kaca, nafasnya berat seakan menahan sesuatu yang hampir meledak. Mark yang tak biasa melihat itu pun langsung berdiri dari kursinya. Raut wajahnya yang biasanya terlihat datar, galak dan dingin ketika Haechan datang -kali ini berbeda.

 

Tidak ada sama sekali ia menampilkan wajahnya yang seperti itu, yang ada hanyalah raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran, ia segera menghampiri Haechan dan merengkuh bahu pria manis itu.

 

"Haechan, hei? Ada apa, kenapa kamu?" Tanya Mark benar-benar panik.

 

"P-pak... Saya-saya gak salah pak!" sahut Haechan sedikit bergetar berbeda dari biasanya, membuat Mark semakin kebingungan.

 

"Apa yang gak salah? Jelaskan dulu kepada saya aapa sebenarnya yang terjadi" suruh Mark, selaku guru BK ia harus mengetahui lebih dahulu titik permasalahannya.

 

"S-saya... Di tuduh mencuri, Pak! Saya tau kalau di sekolah ini, saya siswa yang paling nakal tapi untuk melakukan hal itu saya mana mungkin berani!"

 

Haechan menjeda ucapannya, berusaha menarik napas perlahan karna menahan gemuruh emosinya, dadanya benar-benar naik turun, tangannya pun sudah mengepal.

 

"Mereka semua seenaknya nuduh saya yang nyuri uang di kantin, seakan-akan mereka juga kaya menginjak saya sebagai orang yang tak mampu!" desis Haechan, air mata yang tadinya hanya tertahan di pelupuk mata, akhirnya luruh mengalir perlahan membasahi pipinya.

 

Yang lebih tua tak tega melihat anak muridnya seperti itu, ia pun membawa Haechan agar duduk sebentar dan ia segera mengambilkan segelas air.

 

"Minum dulu, tenangkan diri kamu" ucap Mark sambil mengulurkan segelas air pada Haechan dan langsung di terima sang empu dengan tangan yang bergetar.

 

Mark terus memperhatikan setiap pergerakan muridnya itu, ia menunggu Haechan menandaskan semua isi air di gelas dan kemudian berusaha menenangkan muridnya itu dengan lembut dan pelan.

 

"Oke now... Rileks Haechan, keep calm." ucap Mark pelan, ia menuntun Haechan agar menarik napas perlahan dan menghembuskannya dengan pelan.

 

"Are you okay?" Tanya Mark, siswanya itu hanya mengangguk dan sedikit sesenggukan.

 

"Pak... Saya tau, i'm a bad students for this school.. tapi emang pantas saya di fitnah begini?" lirih Haechan menundukkan kepalanya.

 

"Liat saya kalo emang kamu merasa gak salah Haechan" suruh Mark, tapi Haechan malah menunduk semakin dalam, bahunya gemetar menahan tangis.

 

Melihat itu, Mark buru-buru bangkit dan menutup pintu. la bahkan menguncinya tanpa sadar-hanya karena pikirannya dipenuhi keinginan untuk membuat Haechan merasa aman dahulu.

 

Begitu kembali mendekat, Mark mengulurkan tangan, ragu sepersekian detik... tapi saat Haechan kembali terisak, nalurinya mengambil alih. la menarik Haechan sedikit, membimbingnya untuk duduk di pangkuannya.

 

Haechan tersentak kecil, tidak menyangka, tapi tidak menolak. la langsung menyandarkan diri di dada Mark, tangannya mencengkeram kerah kemeja Mark seolah itu satu-satunya pegangan yang tersisa.

 

"Tenang... saya di sini." Mark mendekapnya dengan satu tangan di punggung, satu lagi mengusap pelan tengkuknya. "Jelasin ke saya... semuanya. Saya dengerin." ucapan itu membuat Haechan menangis semakin kencang, suaranya pecah tepat di bahu Mark.

 

"Mereka nuduh aku... bilang aku yang nyuri uang kantin... padahal aku nggak ngapa-ngapain, Pak... aku cuma lewat dan kebetulan aku juga baru banget masuk ke kantin. Aku gak tau harus kemana lagi makanya aku lari ke ruangan ini buat nenangin diri" jelas Haechan masih tersedu-sedu kecil di dekapan Mark.

 

Mark mengehela napas panjang, dadanya terasa sesak mendengar penjelasan itu. la menunduk sedikit, bibirnya hampir menyentuh pelipis Haechan tanpa sengaja.

 

"Shh... sudah. Kamu nggak sendirian. Aku percaya kamu." la merengkuh Haechan lebih erat, seolah ingin membentengi anak itu dari seluruh dunia. Sampai ia melupakan siapa ia dan siapa Haechan.

 

Haechan hanya menangis, tapi genggamannya di baju Mark makin kuat-seolah untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa aman.

 

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman. Mark masih duduk tegak dengan Haechan terlelap di pangkuannya, jemarinya sesekali mengusap punggung dan rambut pria itu tanpa sadar.

 

Namun perlahan, Haechan mulai bergerak kecil. Napasnya yang tadinya teratur kini berubah ragu-ragu, seperti orang yang perlahan kembali sadar. Kelopak matanya berkedip pelan, lalu membuka sedikit.

 

Haechan mengerjap sekali, dua kali... sebelum matanya membulat kecil saat ia sadar di mana ia berada.

 

Di pangkuan Mark.

 

Dengan posisi tertidur sambil memeluk pinggang pria itu.

 

Dengan bibir masih mengerucut lucu karena kebiasaan tidur yang tidak pernah ia sadari.

 

"E-eh... Pak..." suara Haechan kecil, serak, dan jelas penuh malu. la refleks ingin bangun, tapi tubuhnya masih terlalu lemah, dan wajahnya langsung merona hebat.

 

Mark yang sejak tadi memperhatikan perubahan kecil itu hanya sempat mengangkat alis-sebelum refleks yang sudah ia tahan sedari tadi akhirnya lepas.

 

Dengan cepat, tanpa pikir panjang, Mark menangkup kedua pipi Haechan dengan kedua tangannya. Lembut, tapi terlalu spontan untuk disembunyikan.

 

"Akhirnya bangun juga..." Mark berbisik sambil menahan tawa gemas. "Kamu tahu nggak, kamu tidur dengan wajah paling lucu yang pernah saya lihat." gurau Mark dengan nada mengejek.

 

Haechan langsung membeku. Pipinya yang ditangkup Mark terasa panas seketika.

 

Sangat panas.

 

"P-pak... jang-jangan gitu..." la menunduk, tapi tangannya malah secara impuls memegang pergelangan tangan Mark, entah ingin menjauhkan atau justru mencari pegangan.

 

Mark mendekat sedikit, jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Senyumnya lembut, tapi sorot matanya jelas memancarkan rasa gemas yang sudah ia tekan sejak lama.

 

"Kamu merah banget," ujar Mark pelan, jemari ibu jarinya mengusap pipi Haechan dengan penuh perhatian. "Jangan malu. Saya cuma... nggak bisa nahan." bisik Mark pelan.

 

Haechan hampir tidak bisa menatap balik. Jantungnya berdetak terlalu keras, kakinya masih di pangkuan Mark, kedua pipinya masih berada di dalam genggaman hangat itu.

 

"A-aku... maaf ketiduran..." Nada suaranya kecil, padahal dada Mark tepat di depan wajahnya sehingga membuat Mark tertawa kecil.

 

"Bukan masalah. Kalau tiap kali kamu capek bakal kayak gini... saya rasa ini gak bikin saya keberatan." sahut Mark, dan itu mampu membuat wajah Haechan semakin memerah, sampai ke telinga.

 

Ruangan terasa lebih kecil, lebih panas, dan lebih sunyi dari sebelumnya-kecuali suara napas mereka yang saling menyentuh.

 

Mark menatap Haechan dalam, benar-benar dalam, seolah ia baru sadar betapa rapuhnya pria itu saat ini... dan betapa kuatnya dorongan yang ia rasakan.

 

"Kenapa kamu... makin gemeteran?" bisik Mark, suaranya rendah namun terdengar jelas. Ibu jarinya masih mengusap lembut pipi Haechan, membuat pria itu sulit bernapas normal.

 

"A-aku... bukan apa-apa..." Haechan berusaha menoleh, tapi Mark menahan wajahnya tetap menghadap ke arahnya.

 

"Jangan buang muka gitu," ujar Mark pelan, hampir seperti perintah lembut. "Lihat saya." ucapan itu membuat Haechan terpaksa kembali menatap. Dan itu hanya membuat jantungnya semakin tidak karuan.

 

Jarak mereka tinggal sejengkal. Bahkan rambut Haechan sempat menyentuh dagu guru BK nya itu. Mark menghela napas pelan, tapi napas itu justru menyapu hidung dan bibir Haechan, sehingga si manis tersentak kecil, tubuhnya kaku, sementara jemarinya mencengkeram baju bagian dada Mark tanpa sadar.

 

"Kalau kamu terus begini..." suara Mark semakin rendah, hampir bergetar, "...saya yang bakal susah nahan diri." desis Mark dengan suara rendah.

 

"P-pak... jangan ngomong gitu dong..." suaranya sangat kecil, hampir memohon. Tapi suara itu-lemah, manja, gemetar-justru membuat tawa kecil keluar dari bibir Mark.

 

la menurunkan salah satu tangannya ke pinggang Haechan, menariknya sedikit lebih dekat ke tubuhnya. Kedekatan itu membuat paha mereka saling bersentuhan, membuat Haechan menahan napas.

 

"Kenapa? Kamu takut saya beneran nggak nahan?" Mark menunduk sedikit lagi, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari bibir Haechan, membuat nya menutup mata refleks, dan wajahnya memerah semakin parah.

 

"Nggak... aku cuma... nervous..."

 

Mark tersenyum tipis melihat reaksi itu, ia mencondongkan tubuh, begitu dekat sampai kening mereka hampir bersentuhan.

 

"Aku juga," bisiknya jujur.

 

"Tapi aku nggak akan sentuh kamu... kalau kamu nggak mau." bisik Mark lagi pelan, Haechan membuka mata perlahan-mata yang berair tipis, memerah karena tangis, tapi sekarang penuh rasa gugup bercampur sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.

 

Pandangannya bertemu dengan mata Mark.

 

Dan momen itu membuat udara di ruangan seperti berhenti mengalir.

 

Haechan menelan ludah, lalu mengangguk... samar, sangat kecil... tapi terlihat jelas oleh Mark, ia terdiam-tatapannya berubah, napasnya ikut berubah. Membuat suasana tegang itu meletup lebih kuat lagi.

 

Ketegangan itu membuat dada Haechan naik turun cepat. Dan sebelum ia sadar, tangannya-yang sedari tadi menggenggam baju Mark refleks bergerak lebih kuat, mencengkeram kerah kemeja Mark dan menariknya sedikit mendekat.

 

Keduanya terkejut.

 

Mark membeku, matanya membesar sedikit karena tarikan itu. Sementara Haechan menahan napas, pipinya makin merah karena sadar apa yang baru saja ia lakukan.

 

"Haechan..." suara Mark patah, rendah, nyaris terdengar seperti erangan tertahan. Mark mengangkat wajah Haechan sedikit dengan satu tangannya yang masih menangkup pipi, ibu jarinya menyapu bawah mata pria itu yang masih basah.

 

Jarak itu semakin tipis... tipis... sampai kening mereka betul-betul bersentuhan.

 

"Saya nggak bakal nyentuh kamu duluan..." bisik Mark, suaranya berat. "...tapi kamu yang narik aku duluan." ujarnya melanjutkan ucapan sambil terkekeh kecil.

 

Haechan tersentak, tangannya di kerah Mark ingin melepas-tapi Mark langsung menahan pergelangan tangannya, membuat gerakan itu terhenti.

 

"Jangan lepas," ujar Mark pelan, napasnya mengusap bibir Haechan.

 

"Aku suka kamu pegang aku kayak gitu." Haechan menggigit bibir bawahnya, tubuhnya gemetar kecil karena tegang.

 

Tarikan kecil di kerah itu perlahan membuat jarak mereka semakin dekat, mata Haechan yang perlahan tertutup, semuanya seperti mengunci Mark di momen yang tidak bisa ia hindari lagi.

 

Mark menahan napas sejenak.

 

Dan akhirnya, tanpa ragu lagi ia mencondongkan wajahnya. Bibir Mark menyentuh bibir Haechan dengan lembut... sangat lembut. Namun terasa seperti sesuatu yang sudah lama ia tahan.

 

Haechan terkejut kecil, tubuhnya menegang sepersekian detik -sebelum perlahan meluruh di pelukan Mark. Tangannya yang mencengkeram kerah Mark tidak dilepas, malah semakin kuat seolah takut kehilangan keseimbangan.

 

Mark menangkup pipi Haechan lebih erat, jempolnya mengusap lembut di bawah mata pria itu yang masih basah. Ciumannya tidak terburu-buru, tidak agresif-justru penuh rasa, hangat, dan membawa perasaan yang lebih dalam dari yang ia sadari.

 

"Hmmhhh~"

 

Haechan mengeluarkan suara kecil, seperti napas yang patah dan itu membuat jantung Mark hampir runtuh. la menarik Haechan sedikit lebih dekat, bibirnya menekan lebih mantap, tapi tetap hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh dan berharga.

 

Ketika mereka akhirnya berpisah beberapa milimeter, Mark menempelkan keningnya ke kening Haechan, napas mereka bertaut.

 

"...kamu manis banget," bisik Mark, suaranya terdengar sedikit bergetar. Haechan membuka mata perlahan, pipinya merah, bibirnya masih sedikit terbuka karena terkejut dan malu.

 

"A-aku... Mark..." Haechan tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Mark tersenyum kecil-senyum yang campur aduk antara lega, puas, dan gemas.

 

la mengusap tengkuk Haechan perlahan.

 

"Jangan ngomong dulu," ucap Mark lembut. "Saya cuma... nggak tahan lihat kamu kayak tadi." bisik pelan Mark membuat Haechan menunduk dengan wajah panas, tapi karena Mark masih menahan pipinya, gerakannya justru membuat bibir mereka kembali nyaris bersentuhan.

 

Haechan tersentak kecil, tangannya mencengkeram kerah Mark semakin erat. Bibirnya sempat kaku karena gugup, tapi saat Mark menangkup pipinya lebih dalam dan mengusap belakang kepala dengan ibu jarinya... Haechan luluh.

 

Ciuman itu berlanjut-dari lembut menjadi lebih tegas.

 

Mark memiringkan sedikit wajahnya, memperdalam ciuman dengan pergerakan halus yang membuat Haechan bergidik sepanjang tulang belakangnya.

 

"Nghhh... Mnhhhh..."

 

Haechan mengeluarkan suara kecil lagi samar namun lebih agresif, seperti bisikan tanpa sengaja. Suara itu membuat Mark berhenti bernapas sepersekian detik... lalu menarik pinggang Haechan agar lebih dekat.

 

Seolah itu tanda yang ia butuhkan, Haechan tiba-tiba... menarik Mark balik, dan mulai melingkarkan tangannya ke leher Mark.

 

Dengan kedua tangan yang sudah memeluk leher Mark lebih kuat, hampir menariknya sampai dada mereka bertemu. Tubuhnya bergerak maju, membalas ciuman itu dengan intensitas yang Mark sama sekali tidak sangka dari pria yang tadi menangis di pelukannya.

 

Mark terkejut-sangat, tapi hanya sepersekian detik.

 

Setelah itu ia membalas tarikan itu dengan suara napasnya yang terdengar patah.

 

"Haechan..." gumam Mark di sela ciuman, suaranya terdengar seolah ia sedang melawan diri sendiri.

 

Tapi Haechan tidak memberi celah untuk jeda. Ia menarik Mark kembali, bibir mereka kembali bertaut, kali ini lebih dalam, lebih panas, lebih putus asa seakan Haechan tidak ingin Mark menjauh walau satu sentimeter.

 

Tangan Mark bergerak otomatis, menahan pinggang Haechan dengan satu tangan dan punggungnya dengan yang lain. Gerakannya penuh dorongan yang ia tahan-tahan sejak tadi.

 

Haechan mencium Mark seakan semua emosi yang ia tahan sejak tadi tumpah begitu saja-frustrasi, lelah, rasa aman, dan sesuatu yang ia baru sadari siang itu. Mark tersenyum kecil di tengah ciuman mereka, napasnya bergetar.

 

Mereka melepaskan tautan bibir itu, menghirup oksigen masing-masing. Namun dengan tangan Mark yang mulai bergerak nakal mejamah tubuh pulen dan indah siswanya itu, persetan dengan fakta bahwa mereka adalah seorang guru dan murid, intinya Mark sudah tak bisa menahan.

 

"Haechan... Ingin melakukan hal yang lebih?" tanya Mark hati-hati takut siswanya itu menolak, namun ia tak menyangka kalau Haechan akan mengangguk.

 

"M-mau pak..." jawab Haechan, bergerak gelisah di pangkuan Mark.

 

Mark menyeringai menggendong Haechan menuju sudut ruangan BK itu. Mark menekan tombol yang ada disana, dan perlahan rak buku yang tersusun rapi itu bergeser perlahan membuka ke sebuah ruangan yang selama ini Haechan tak mengetahui akan hal itu.

 

Dibawanya tubuh kecil siswanya itu menuju kasur king size yang ada di ruangan itu, tempat Mark beristirahat biasanya. la merebahkan perlahan tubuh yang lebih muda kemudian ia juga ikut naik, membuka satu persatu pakaian yang mereka kenakan dan berujung keduanya sudah sama-sama naked.

 

Mark terkejut karna mengetahui fakta bahwa Haechan berbeda dari laki-laki biasanya, karena ia mempunyai memek yang benar-benar terlihat sangat cantik dan legit, Mark yang sudah tersulut nafsu pun menyentuh memek itu.

 

"Emhhhhh... P-pak..."

 

Mark tertegun, ia menatap Haechan dengan tatapan gelapnya, "Panggil saya Mark, jangan Pak" ujar Mark, memukul vagina tembam itu.

 

Mark ikut berbaring di samping Haechan, namun tubuhnya menyamping. Wajahnya tepat di depan buah dada Haechan yang juga cukup berisi.

 

"Saya boleh nyusu di nen kamu, gak?" tanyanya.

 

Haechan mengangguk. Mark sangat senang, mulutnya memainkan nipple pria manis itu. Sedangkan jari tangannya sedang memainkan lubang memek Haechan yang sangat lembut.

 

Mark menjulurkan lidahnya untuk merangsang Haechan. Memutar lidahnya pada bagian nipple, lalu meraup nipple itu untuk dihisap.

 

"Aahh Markhhh..." desah Haechan.

 

Kobelan jari pada memek nya semakin cepat. Bahkan sekarang rasanya sangat sesak. Sepertinya Mark menambahkan beberapa jari untuk masuk ke dalam memek nya, yang awalnya hanya satu jari.

 

"Aahh~ anghh... aahh Markhhh..." Haechan maremas rambut Mark. memek nya terasa ngilu karena gerakan jari Mark semakin cepat. Tubuhnya tersentak-sentak karena merasakan nikmat yang luar biasa.

 

"Mark..., Akuhhh mau pipisss aahhh.."

 

"Tahan sayang"

 

Mark kembali ke posisi awal. la kini mendekatkan wajahnya pada belahan memek Haechan yang sudah becek karena ulahnya. Cairan lendir alami itu muncrat ke wajahnya.

 

"Aahh Markhhh~ aku pipisssshhh..."

 

Mark membuka lebar mulutnya untuk menerima cairan yang keluar dari memek Haechan. la telan cairan murid cantiknya itu sampai membuat wajah dan dada bidangnya basah.

 

"Aahhhh~ ahh... aahhhh~"

 

Haechan menyentak-nyentakkan pinggulnya. Pelepasan pertama nya kali ini sangat nikmat luar biasa. Tubuhnya sangat lemas. Kasur Mark pun mulai basah karena cairan squirtingnya.

 

"Fuck, ini baru murid yang pinter banget" puji Mark.

 

la kembali menindih Haechan dari samping, mencium bibir Haechan dengan rakus. Tangan Mark kembali meraba memek Haechan.

 

Ide gila tiba-tiba muncul di kepala Mark, ia memasukkan dua jari tangan kanannya di dalam memek Haechan, kemudian juga memasukkan secara paksa lagi dua jarinya di lubang anal-masih dengan tangan yang sama, membuat si manis menjerit kesakitan.

 

"Akhhhhh! Mark! S-sakit! Keluarin.."

 

Mark seakan tuli, bukannya mengeluarkan ia malah menggerakkan jarinya itu bersama, membuat Haechan menengadahkan kepalanya.

 

Clock... Clock... Clokhh..

 

Suara becek memek juga anal yang di kocok cepat oleh jari Mark terdengar jelas. Mark puas dengan permainannya, ia pun mengobeli memek itu dan menyusu di dada Haechan seperti bayi kelaparan.

 

"Damnhh godhhh... Enakkk! AKHHHH~"

 

"MARKHHH! AHHHH~ LAGIHHH... CEPETIN JARINYA AAHHH"

 

"ΗΝΗΗΗΗ... HIKSHH.. NIKMAT BANGETHHH... MEMEK SAMA ANALNYA PENUH..."

 

Haechan mendesah nyaring, tak sanggup dengan kenikmatan yang Mark berikan. Sementara Mark puas mendengar itu, membuat kontol nya semakin menegang.

 

Merasa cukup, Mark memberhentikan semuanya. la menarik jarinya, dan menjilati semua jari yang becek itu di hadapan Haechan dengan tatapan menggoda.

 

Kemudian ia bangkit, Mark semakin melebarkan kedua kaki Haechan. Menggesekkan kepala kontol nya pada belahan memek Haechan yang masih becek.

 

"Hnghhhh..." Haechan meringis kesakitan.

 

Giginya sudah menggigit bibir bawahnya, ia dapat merasakan sesak pada lubang memek nya.

 

Kedua mata Haechan sudah meneteskan air mata. Kakinya bergetar. Tubuhnya tersentak-sentak. Dorongan dari penis Mark membuat dinding memek Haechan tegang.

 

"Aahh Haechanhh, jangan jepit kontol saya, fuck!"

 

"Sakit Markhh... pelan" rintih Haechan.

 

"AKKHH" teriak Haechan. Lubang memek nya terasa kebas dan menganga lebar. Ketika kontol Mark sudah sepenuhnya tertanam di dalam memek sempitnya.

 

"Aaahhhh Haechan..."

 

"Memek kamu anget banget, sayang. Kontol saya suka"

 

"Sakit Markhhh.. gak kuat" rengek Haechan membuat Mark tertawa kecil.

 

"Awalnya emang sakit, tapi nanti pasti enak. Percaya sama saya"

 

Haechan mengangguk lemah. Mark mulai memompa kontol nya dengan tempo pelan. Namun lama-lama Mark mempercepat tempo hujamannya pada lubang memek Haechan. Rasanya sangat amat nikmat.

 

"Mark akhhhhh! Aahhh~Markkhhhh..."

 

"Enak Pakhhh! Ahhhh~ mhhhh... enak! terus genjotin kontol Pak Mark di memek aku, a-aku suka.."

 

"Sial, dikasih kontol jadi kayak pelacur"

 

"Hgghh aah iyahhh... lacur Pak Markhhh~ fasterhh Pakhh..."

 

Sial. Gairah Mark semakin memuncak saat Haechan memanggil namanya seperti itu. Gerakan pinggulnya semakin cepat dan membuat memek Haechan semakin merah. kontol berurat Mark semakin membesar, sudah siap untuk menyemburkan pejunya.

 

"Aaahh Markhhh~ mau pipiss ahh Markhh pleasehhh~"

 

"Aahh Haechannn"

 

Mark mengeluarkan kontol nya dari dalam memek Haechan. la kobel lagi memek Haechan untuk membantunya mengeluarkan cairan orgasme Haechan agar keluar dengan lancar. Haechan squirting—lagi.

 

"Akhhhh! Akhhh! Stophhh Markhh!"

 

"Sensitifhhh... Memekhh nya Markhh! No! Pleasehhh.."

 

Haechan mendesah panik ketika Mark tak berhenti mengobeli memek nya, bahkan bukannya berhenti Mark meraup lagi memek itu dengan mulutnya sambil mengocok kontol nya yang mengeras.

 

la mengusak memek becek itu dengan mulutnya, kepalanya meliuk bergerak ke kanan kiri dengan liar, membuat Haechan benar-benar bergetar hebat. Dan tangannya memainkan nipple nya sendiri.

 

"Godhhh... I'm crazyhhh.. mauu di entothhh terushh Markhh~"

 

"Cpkkkhh.. mnhhh.. nghhhh..."

 

Suara kecapan Mark di memek nya juga terdengar jelas, Mark mempercepat kocokan pada kontol nya, setelah ia merasa pelepasan sudah di ujung, ia dengan cepat bangkit, dan mengarahkan kontol nya itu ke memek Haechan.

 

"Fuckhh.. ahhhh.. telen habis peju saya, Chan.. akhhh!"

 

Erang Mark, ia menekan kontol nya menghentakkan kasar ke dalam memek Haechan hingga tertanam masuk seluruhnya, dan kala itu juga ia menyemburkan cairan pertamanya di dalam Haechan.

 

"ΑΚΗΗΗΗΗ MARKHHH! ANGETHHHH!"

 

Mark menggerakkan pinggulnya pelan agar cum nya keluar semua, kemudian ia ambruk diatas tubuh Haechan. la memeluk tubuh yang juga sudah terkulai lemas itu, tanpa mengeluarkan kontolnya yang masih bersarang di bawah sana.