Actions

Work Header

warmer than June’s breezy afternoons

Summary:

Jeno terkekeh pelan di telinga Haechan, “But you love us so much, don’t you?”

Haechan mengangguk pelan masih enggan melepaskan Jeno.

Notes:

happiest bday to my baby, haechan. i love u so much my girl <3

this is my attempt at filth for haech’s bday, met makan

xx

Work Text:

Dari kelima lelaki sangean—maksud Haechan, jajaran lelaki yang sayang banget sama dia dan menjabat jadi pacar-pacarnya itu, Renjun adalah satu-satunya yang paling pengertian dan juga bisa berpikir logis atas hal-hal yang ingin mereka lakukan.

Contohnya seperti hari ini, tepat H-1 menuju ulang tahun their trophy girlfriend—at least begitulah panggilan unik yang diberikan Jaemin, Jeno, Renjun, Chenle dan Jisung untuk Haechan; Renjun bersikeras mengeluarkan larangan pada empat lelaki beringas lainnya untuk melakukan hal apapun pada Haechan malam ini as in segala hal yang bersangkutan dengan seks, karena keesokan harinya mereka semua harus kembali dari Thailand dalam keadaan super fit.

Banyaknya jadwal yang mengantri setelah mereka tiba di Korea menjadi concern utama bagi Renjun, untuk itu dia memberi ultimatum bahwa perayaan khusus untuk ulang tahun Haechan harus mereka tunda sementara.

Tentu saja, tidak terpungkiri berbagai bentuk protes pun masuk ke telinga Renjun. Layaknya anak kecil yang dilarang untuk bersenang-senang demi kebaikan bersama, para lelaki Haechan ini merengek tidak ikhlas.

Jisung bilang ia sudah tidak tahan ingin menikmati Haechan lagi, merindukan bagaimana bibir mungil yang cantik itu melingkari kontol tebal miliknya sambil melihat kepala Haechan bergetar saat berusaha menyepong keseluruhan batangnya. Chenle pun tidak sabar ingin nenen lagi pada dada pulen Haechan, pentil yang seringkali nyeplak pada baju yang Haechan gunakan membuat otak Chenle terus membayangkan bagaimana ekspresi meringis keenakan di wajah si montok saat dadanya dikenyot. 

Jaemin yang tidak tanggung-tanggung langsung berujar “Kontol gua bakal tegang terus selama belum ngentotin memeknya si Haechie, Jun.” saat Renjun mendeklarasikan ultimatum pada mereka semua secara bersamaan. Siapa sangka hal seperti ini pun terselip dalam topik agenda briefing mereka berenam.

Sementara itu, berbeda dengan yang lainnya. Jeno, out of everyone in the group, justru menjadi satu-satunya yang berhasil menuruti perintah Renjun, begitu dengar-dengaran dengan satu peraturan spontan dari lelaki berdarah chinese itu. Just like the good boy that he is, Jeno hanya mengangguk setuju tanpa banyak ikut berkomentar, fokus otak Jeno selalu terletak pada; apapun itu akan ia lakukan demi kemaslahatan hidup si cantik pulen mereka, Haechan. Berkat respon kalemnya itu juga, ia mendapat hadiah dari Haechan, yakni sebuah ciuman spontan yang begitu dalam di bibirnya dan tentu saja tidak didapatkan oleh tiga lelaki tidak sabaran lainnya. 

Ketika tengah malam hampir tiba, mereka segrup sengaja berkumpul di kamar hotel Renjun. Sesuai kesepakatan bersama, malam ini Renjun yang akan tidur bersama Haechan di kamar miliknya sendiri untuk mengawasi tidak adanya satupun diantara mereka yang melanggar perjanjian dan berusaha memanipulasi Haechan untuk melakukan birthday sex brutal sebelum hari kepulangan mereka ke Korea. Bahkan Jeno yang bisa menerima satu rules dadakan tadi ikut manyun sekarang karena iri dengan tugas Renjun.

Mereka semua paham bahwa Renjun memang tipikal seseorang yang bisa sangat disiplin juga konsisten if he put his heart into it, dan inilah hasilnya. Seruan keirian atas akses penuh terhadap Haechan yang hanya dimiliki Renjun sukses membuat Haechan cekikan diatas tempat tidur. 

“Yaudah lah, gua ikut tidur disini juga kalo gitu.” Ujar Jaemin.

“Tau anjrit! Licik lo, Ko. Kalo entar malah lo yang macem-macemin si Haechie gimana? Gue tidur di sofa ah kalo gitu mau mantau lo.” Ucap Chenle.

“Eh sembarangan ya lo kalo ngomong, inget ya yang kelakuannya kayak binatang disini cuma lo berempat,” Tukas Renjun,

“Nggak ada lo tidur-tidur di kasur gue ya Jaem, badan lo segede gitu mau nyelip dimana lagi.” Tambah Renjun.

“Halah gampang, Haechan tidur diatas gua aja, kelar masalah.” Usul Jaemin.

“Gak ada ya anjing, gak bakal bener. Pokoknya lo semua tidur di kamar masing-masing abis Haechan tiup lilin.” Tukas Renjun konsisten dengan aturan.

“Kalo menurut gue Jaemin Renjun aja yang tidur disini, si montok tidur di kamar gue aja. Everyone is happy.” Ujar Jisung.

“Si brengsek anjrit nguntungin diri sendiri doang.” ujar Chenle cekikikan.

“Yaudahlah guys.. ini cuma buat satu malem doang, besok-besok kita udah bebas lagi buat apa-apain Haechie—eh, nggak, maksudnya tuh, ini kan cuma sekedar aturan dadakan yang sebenernya kita perluin demi kepentingan bersama nantinya. Dengerin apa kata Renjun aja buat kali ini.” Jelas Jeno singkat.

 

Sebenarnya jika bicara jujur, Jeno bisa mengerti dengan kemauan mereka semua, kurang lebih semua yang terlibat di dalam ruangan ini punya tujuan sama; ngenakin Haechan dengan make lelaki pulen dan mungil itu sampe puas (pagi). Kelima lelaki selain Haechan udah siap banget ngasih perayaan spesial buat pacar mereka itu.

“Minggir dikit, gue mau ke toilet.” Gumam Jeno pada Jaemin.

“Jangan kali ini doang, tapi sampe seterusnya emang lo semua mesti dengerin omongan gue, karena yang bisa mikir jernih pake otak cuma gue, lo semua kan apa-apa yang gerak malah kontolnya duluan.” Tukas Renjun sambil memutar mata.

Ia dekati Haechan yang sedang tiduran di tengah ranjang queen size Renjun menyimak obrolan dengan setengah tubuh dibalut selimut tebal. Tangannya membawakan segelas susu yang tadi dipesannya lewat room service, akhir-akhir ini Haechan lagi seneng banget minum susu sebelum tidur, katanya sih lumayan bantu buat bikin dirinya lebih mudah terlelap.

“Makasih ya, Koko sayang.” Ujar Haechan mengubah posisi menjadi duduk lalu menyambut gelas dari genggaman Renjun.

“Hmm.”

Jaemin yang tadi masih bersandar di dekat tembok kamar mandi mulai melangkah mendekati Haechan juga Renjun. Ia duduk di tepian tempat tidur tepat di samping Haechan, menunggu lelaki pulen mereka itu selesai meneguk susu putihnya. Saat isi gelasnya sudah tandas, Jaemin meraih gelas itu dari Haechan untuk ia letakkan pada bedside table di sebelah.

“Peluk dulu ah, entar kamu kangen aku lagi. Eh? aku deh yang kangen maksudnya, Chie.” Ujar Jaemin cengengesan ketika mendekat. “Wangi banget, baby.” Sambung Jaemin ketika mengendus-endus leher Haechan.

Dengan satu misi yaitu ikut menyelip ke bawah permukaan selimut yang digunakan Haechan, masih dalam posisi duduk, Jaemin merangkul erat pinggang Haechan dari samping hingga Haechan agak sedikit susah bergerak.

“Apaan si- Jaem! Kekencengan peluknya. IH!” Ujar Haechan memukul pelan otot bisepnya. Jaemin tetap diam sambil senyum-senyum mendengar Haechan ngomel.

Jisung yang gak mau kalah melihat kedekatan keduanya, ikut mendekat lalu menimpa Haechan dari arah depan. Ia langsung tidur tengkurap begitu saja diatas paha Haechan yang tertutup selimut.

“Noh kan, kenapa kalo gua mesra-mesraan ada aja sih yang ganggu.” Ujar Jaemin.

“Jaemin.” Gumam Renjun melerai sebelum gurauan mereka semakin panjang.

“Ya gimana ya, kan Haechan pacar gue juga.” Jawab Jisung enggan mengalah.

“Ngeyel ya lo anak kec—” Sanggahan Jaemin terpotong saat Haechan turun tangan untuk melerai keduanya.

“Kalian berdua diem, atau pindah sekarang juga ke sofa. Stop sentuh-sentuh aku.”

“Maaf...” Ujar Jaemin dan Jisung berbarengan.

“Buset kompak banget kayak paduan suara.” Celetuk Chenle asbun sambil cekikikan.

“Lagi pada bahas apaan?” Ujar Jeno clueless saat keluar dari kamar mandi, tangannya bergerak sibuk menekan-nekan handuk kecil pada permukaan wajahnya yang basah sehabis membasuh wajah.

“Ouuuu.. our wet puppy is hereeee.”

“Freak.” Tukas Jeno melempar handuk lembabnya ke arah Jaemin.

“Kamu nggak ganti baju tidur, Chie?” Tanya Jeno, mengingat setelah mandi tadi Haechan hanya menggunakan celana pendek setengah paha juga kaos tipis kebesaran yang ia yakini pernah dilihatnya digunakan oleh Jisung.

“Hmm..? Oh.. nggak deh, mmm.. gini aja, nanti malem kalo dingin bisa selimutan sambil peluk Koko.” Jawab Haechan seperti sudah hampir setengah sadar.

 

Somehow, their super active baby bear girlfriend has turned into a sleepy one lately. Haechan bilang, hal itu terjadi karena faktor usia, yang disanggah Renjun dengan “Lo masih 26, kita semua disini hampir seumuran. gak usah ngarang asbun sana sini, Chie.” Dan ditanggapi Haechan dengan bibir manyun.

Tapi jujur aja, memang benar adanya, sekarang Haechan dielus-elus sebentar saja matanya bisa nutup sampai ketiduran. Kayak yang lagi disaksikan Renjun, Jeno, Jisung dan Chenle saat ini. Jaemin emang udah sejak tadi nyenderin kepala Haechan ke atas dadanya sambil mengelus kepala si pulen perlahan.

“Tuh, denger kan, Ko? Emang benefit aturan lo malem ini tuh semuanya jadi ketumpuk di lo. Padahal kalo sekedar cuddle sampe pagi juga gue bisa kali.” Gerutu Chenle.

“Bisa ngaceng maksud lo?” Ujar Renjun dengan tatapan malas.

“Hehe.”

“Le, keluarin cakenya buru. 3 menit lagi midnight, abis Haechan tiup lilin gue ga mau tau, lo semua balik ke kamar masing-masing.” Ujar Renjun.

Baru saja Jaemin mangap untuk membuka suara, Renjun sudah lebih dulu mendahuluinya, “Gak ada alesan, Jaem!”

Dan benar saja, malam itu setelah Haechan melakukan ritual make a wish lalu tiup lilin. Jeno, Jaemin, Jisung dan Chenle berhasil Renjun paksa untuk kembali ke habitat asal mereka masing-masing. Tentunya dengan kompensasi ciuman di bibir dari Haechan yang cukup lama untuk mereka masing-masing. Intermezzo untuk perayaan besarnya, kata Jisung penuh akal-akalan.

“Aku beneran dapet cium dua kali hari ini?” Tanya Jeno polos, saat gilirannya tiba.

Terkadang, ketulusan hati dan tutur kata Jeno sering dijadikan bahan teasing untuk yang lain. Laki-laki yang kalo ngomong suka pedes di mulut itu, aslinya adalah pribadi paling lembut diantara mereka berenam. 

“Duh. Stop bragging lah, Jen.” Celetuk Jaemin iseng.

“Tau nih, iya deh si paling sering ngokopin bibir Haechan.” Tambah Chenle sambil senyum-senyum.

Jisung dan Renjun saling melempar pandangan sambil menahan tawa, karena saat ini mereka semua tahu Jeno sudah mulai terpancing untuk balik mengomel.

“Lo pada bacot bangs-”

“Jen,” Sela Haechan pelan.

“Biarin aja, cowok-cowok nakal kayak mereka mana mungkin boleh cium-cium aku berkali-kali, cuma kamu doang yang pantes. Iya, nggak?” Tutur Haechan lagi dengan pelan, tersenyum begitu manis menatap kedua bola mata Jeno dengan kedua telapak tangan kecilnya yang menempel di dua sisi pipi Jeno. Sementara yang wajahnya dibelai itu, sudah mengaitkan kedua lengan besarnya di pinggang Haechan dengan erat. Udah siap banget buat sekalian make out aja di depan keempat orang penonton di kamar Renjun ini for the sake of pissing them off, terutama Jaemin dan Chenle yang menurut Jeno agak rese.

Tanpa menjawab ujaran Haechan lagi, Jeno langsung mendekatkan wajah lalu menempelkan bibirnya pada milik Haechan yang mungil dan sudah sedikit bervolume akibat hisapan dari teman-temannya yang lain. Menolak untuk berpikir lebih panjang, Jeno fokus memperdalam ciumannya, melumat bibir atas dan bawah milik Haechan secara bergantian. Tempo yang digunakan pun tidak terburu-buru, kesannya justru begitu menikmati waktu yang dimiliki keduanya. Benefit yang lagi-lagi menjadi milik Jeno setelah memilih untuk bersabar dan mengalah dengan antrian terakhir. Tidak hanya lumatan lembut, ciuman Jeno dan Haechan berubah menjadi lebih aktif, dengan adegan gigitan kecil yang bergantian. Haechan lah yang mengawali pergerakan itu, ia tahu Jeno sangat suka saat Haechan menggigit bibirnya dengan gemas. Yang tentu saja Jeno sambut dengan girang melalui balasannya menggigit bibir kecil Haechan tidak kalah napsu. Keduanya hanya sibuk dengan dunia berdua cukup lama, disibukkan dengan melahap satu sama lain, persetan dengan kemungkinan bahwa mereka berdua mungkin memancing libido yang lainnya. Haechan bahkan terbawa suasana dan terlihat mulai meremas rambut dibelakang kepala Jeno yang digenggamnya.

“Ngghh..” Desah Haechan pelan.

“Woiii, Jen. Stop kaliiiii. Udah keenakan tuh si Haechie.” Ujar Jaemin.

“Nyebut lo Jen, jangan maruk.” Tukas Jisung menambahi dengan cekikikan.

Chenle tertawa lepas saat mendengar desahan Haechan yang begitu jelas menerobos telinga mereka semua. “Ko Jun, menurut gue sih coba nanti lo cek memeknya, kayaknya udah becek tuh. Hahahahaha.” 

Renjun merespon keasbunan Chenle dengan tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.

“Nyebelin banget sih mereka, emang aku semurah itu apa.” rengek Haechan. Ia peluk erat Jeno saat bibir keduanya terpisah dan menenggelamkan wajahnya pada leher Jeno.

“Lah kan emang?” Celetuk Jaemin.

 

Jeno terkekeh pelan di telinga Haechan, “But you love us so much, don’t you?” 

Haechan mengangguk pelan masih enggan melepaskan Jeno.

“Selamat ulang tahun ya, Cantik. We love you so.. much.” bisik Jeno.