Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-05
Words:
1,825
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
80
Bookmarks:
6
Hits:
4,161

BERANTEM UJUNGNYA NGEWE

Summary:

"Sekarang lo mau ke mana?"

"Pulang."

"Pulang ke mana?"

"Rumah orang tua gua." Jawaban singkat itu membuat Arvel tertawa sinis. Tawa yang sama sekali tidak mengandung humor.

"Lo bisa gak sih, kalau lagi berantem gak usah kabur terus?"

Hiraya tetap melipat bajunya.

Diam.

Seolah Arvel tidak ada di ruangan itu. Dan itu justru membuat emosi Arvel semakin naik.

Work Text:

 

Adrenaline di dalam kamar apartemen itu terasa menyesakkan. Suara napas yang memburu bercampur dengan emosi yang sama-sama berada di ambang ledakan.

 

Tak ada musik. Tak ada suara televisi. Hanya suara dua orang yang sedang saling melukai dengan kata-kata.

 

 

"Kalau lo udah bosen, bilang aja. Gak usah kayak gini."

 

Rahang Arvel langsung mengeras. "Gua gak bosen. Siapa yang bilang begitu?"

 

"Gak ada yang bilang!" bentak Hiraya. "Tapi sikap lo nunjukin semuanya ke gua, Arvel!"

 

Satu langkah.

 

Dua langkah.

 

Arvel mendekat hingga nyaris tak ada jarak di antara mereka.

 

"Cukup." Sebelum Hiraya sempat menjauh, Arvel lebih dulu menarik lengannya.

 

"Arv—"

 

Bruk.

 

Tubuh Hiraya sedikit terdorong ke belakang akibat tarikan itu. "Overthinking lo tuh parah banget, tau gak?" desis Arvel dengan napas memburu. Jemarinya mencengkeram lengan Hiraya semakin erat. "Gua kerja. Gua sibuk. Kenapa susah banget buat ngerti?"

 

Rasa sakit langsung menjalar. Hiraya meringis.

 

"Brengsek..." lirihnya menahan sakit. "Lepas, Arvel."

 

Namun Arvel tidak langsung melepaskan. Matanya merah. Dadanya naik turun menahan amarah yang sudah sejak tadi dipendam.

 

"Lepas!" Sentakan keras akhirnya membuat Arvel sadar. Ia melepaskan cengkeramannya.

 

Hiraya langsung memegangi lengannya sendiri.

Bekas merah mulai terlihat. Dan itu membuat dada Arvel ikut terasa sesak.

 

Sial.

 

Ia tidak bermaksud sampai seperti itu.

 

"Lo tau sendiri kan?" suara Arvel kini lebih rendah, namun justru terdengar lebih berbahaya. "Gua kerja buat biaya nikah kita."

 

Hiraya tertawa pendek. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada makian.

 

"Biaya nikah?"

 

"Iya."

 

"Terus gua dapet apa selain ditinggal sendirian tiap hari?"

 

Kalimat itu sukses membuat Arvel terdiam sepersekian detik. Hanya sepersekian detik, karena setelahnya emosinya kembali meledak.

 

"Gua ngelakuin semua ini buat kita!"

 

"Enggak!" bentak Hiraya lebih keras. "Lo ngelakuinnya karena lo mau! Jangan bawa-bawa gua buat jadi pembenaran!"

 

Sunyi.

 

Sesaat.

 

Tapi justru sunyi itulah yang terasa mengerikan.

Arvel maju lagi. Tangannya mencengkeram kedua bahu Hiraya. "Kita mau nikah beberapa bulan lagi, Hiraya!"

 

"Terus kenapa?"

 

"Karena gua berjuang buat masa depan kita!"

 

"Dan gua berjuang sendirian buat hubungan ini!"

 

Deg.

 

Kalimat itu menghantam tepat di dada Arvel. Ia menarik dagu Hiraya pelan namun tegas.

 

Paksa pria itu menatapnya.

 

"Lo liat mata gua."

 

Hiraya menghindar.

 

"Lo liat gua."

 

Tidak, Hiraya tetap menolak. Ia benar-benar enggan sekali menatap wajah Arvel yang di penuhi dengan api amarah itu.

 

"HIRAYA."

 

"Tolong jangan sentuh gua."

 

Kalimat itu keluar pelan—sangat pelan. Tapi sukses membuat tangan Arvel membeku. Untuk pertama kalinya malam itu. Hiraya benar-benar terlihat lelah.

 

Bukan marah.

 

Bukan kesal.

 

Tapi lelah.

 

Lelah mempertanyakan dirinya sendiri setiap malam, lelah menunggu, lelah merasa tidak lagi menjadi prioritas. Dan itu jauh lebih menakutkan daripada teriakan.

 

Hiraya berbalik menuju lemari. Membuka koper, melempar satu per satu pakaiannya ke dalam sana tanpa peduli berantakan. Arvel mengacak rambutnya kasar, dadanya terasa semakin sesak melihat koper itu.

 

Sial. Ia benci benda itu.

 

Karena setiap kali Hiraya mengeluarkannya, artinya keadaan sudah jauh lebih buruk dari yang ia kira.

 

"Sekarang lo mau ke mana?"

 

"Pulang."

 

"Pulang ke mana?"

 

"Rumah orang tua gua." Jawaban singkat itu membuat Arvel tertawa sinis. Tawa yang sama sekali tidak mengandung humor.

 

"Lo bisa gak sih, kalau lagi berantem gak usah kabur terus?"

 

Hiraya tetap melipat bajunya.

 

Diam.

 

Seolah Arvel tidak ada di ruangan itu. Dan itu justru membuat emosi Arvel semakin naik.

 

"Gua lagi ngomong sama lo."

 

Masih diam.

 

Lalu Hiraya akhirnya menjawab.

 

Santai.

 

Dingin.

 

Lebih dingin daripada apa pun malam itu. "Kalau lo ngerasa gua kekanakan..." sungutnya datar. Ia menutup koper dengan kasar.

 

Brak.

 

"...batalin aja pernikahan kita."

 

Jantung Arvel seakan berhenti berdetak. Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih sunyi—jauh lebih dingin. Dan jauh lebih berbahaya, karena untuk pertama kalinya sejak mereka bersama... Hiraya tidak terdengar sedang mengancam.

 

Ia terdengar serius. Arvel menatap punggung pria itu selama beberapa detik. Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

 

Lalu rahangnya mengeras.

 

"Hiraya."

 

Tak ada jawaban.

 

"Hiraya Dinata."

 

Kali ini suara Arvel rendah. Pelan.

 

Namun cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun meremang. Karena semua orang tahu—saat Arvel sudah memanggil nama lengkapnya... artinya kesabarannya benar-benar berada di ujung tanduk.

 

Ia mencengkal tangan Hiraya yang kembali hendak mengambil baju di lemari. Di tutup Arvel kasar pintu lemari itu, lalu dengan cekatan cepat di dorongnya tubuh si manis ke lemari tersebut.

 

Tanpa bicara apapun, Arvel langsung meraup habis bibir Hiraya. Ia melumat kasar bibir sang empu. Namun Hiraya tak bereaksi apapun, ia hanya diam tak membalas. Justru ia malah menangis sekarang.

 

Arvel tidak peduli, ia semakin menyudutkan tubuh Hiraya ke dinding lemari. Tangannya bergerak naik, menarik baju Hiraya hingga sobek, dibawanya kedua tangan untuk meremas kedua dada besar Hiraya, membuat si cantik malah melenguh.

 

"Mnhhh..."

 

Tak puas, Arvel melepaskan lumatannya. Bibirnya turun perlahan menyusuri dagu hingga ke leher jenjang Hiraya. Ia mengerangi leher itu, di sesapnya kuat di banyak tempat, membuat banyak bercak biru kemerahan tercetak dimana-mana. Tangannya juga masih meremas-remas dada besar Hiraya dengan kuat.

 

"Aahhh, Vel! Sakit..." 

 

Lenguh Hiraya, beserta dengan lirihan kesakitan, karna Arvel sudah seperti kesetanan. Namun Arvel sepertinya benar-benar menulikan telinga nya.

 

"Velhhh... Nghhhhh~ stophhh..."

 

Hiraya mendorong pelan bahu Arvel, membuatnya menjauh dari atensi di lehernya. Dengan mata basah ia menatap kearah Arvel, yang tampaknya benar-benar emosi.

 

"Kenapa nangis?! Lo yang sedari awal bentak-bentak gua gak jelas, sekarang kenapa lo yang nangis?" desis Arvel membuat Hiraya menggeleng.

 

"Lo bentak gua..." lirih Hiraya, ia meremat kuat baju Arvel karna takut.

 

"Gua gak bakal bentak lo, kalo dari awal tadi lo ngertiin gua, Hiraya." sahut Arvel, rahangnya benar-benar mengeras, nafasnya memburu.

 

"Gua c-cuman butuh lo. G-gua kangen, tapi lo sibuk terus Arvel!" bela Hiraya dengan bergetar. Arvel sudah paham betul, ujungnya pasti akan begini.

 

Ia menarik Hiraya ke dalam pelukannya. Menenangkan si cantik yang menangis, sambil ia juga meredakan sedikit emosinya.

 

"Gua gak suka di tuduh, sementara gua sendiri ngerasa kalo nggak kek yang lo pikirin." seru Arvel, Hiraya menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya.

 

"M-maaf... I'm too lonely, Arvel."

 

"Lo bisa datang ke kantor kalo emang ngerasa kesepian, bukan berantem apalagi pake acara ngomong mau batalin pernikahan."

 

"Maaf... my bad again..."

 

Arvel diam dan tak menjawab sama sekali, Hiraya kesal. Ia menjauh dari pelukan kekasihnya itu, menampilkan raut wajah cemberutnya.

 

"Arvel, gua minta maaf. Lo gak mau maafin gua?" tanya Hiraya, ia merengek kecil sambil menarik-narik ujung kaos Arvel, namun sang empu tak kunjung menjawab.

 

Hiraya pun semakin kesal, alhasil ia pun mengeluarkan jurus andalannya yang terakhir. Ia memeluk pinggang Arvel erat, merapatkan tubuhnya membuat dada besarnya tertekan di tubuh Arvel.

 

"My bad... i'm really say sorry daddy..." ujar Hiraya dengan suara rendahnya sambil memanyunkan bibirnya. Namun tidak dengan tubuhnya, ia sengaja menggesekkan pelan dada besarnya itu pada tubuh Arvel membuat sang empu menahan diri.

 

Hiraya tak gencar, ia juga terus mengecupi bibir Arvel sambil perlahan ia berjalan mendorong, agar Arvel tertuduk di tepian kasur. Baru saja tubuh si dominan terjatuh ke kasur, dengan cepat Hiraya naik ke pangkuannya.

 

Ia dengan cepat menempelkan bibirnya pada bibir Arvel, melumatnya bahkan lebih liar dari lumatan Arvel padanya tadi. Tangannya melingkar di leher sang empu, meliukkan kepalanya ke kanan-kiri melumat habis bibir merah kekasihnya itu.

 

Sementara Arvel membiarkan Hiraya melakukan apapun. Ia hanya melingkarkan tangannya ke pinggang si cantik, menahan agar tubuhnya tak limbung ke belakang. 

 

Karna merasa tak ada balasan dari Arvel, dengan kurang ajarnya Hiraya menggigit bibir Arvel, membuat sang empu merintih pelan.

 

"Balas Arvel." kesal Hiraya, namun kali ini Arvel benar-benar menurutinya. Lumatannya di balas, bahkan Arvel menekan tengkuknya untuk memperdalam lumatan mereka.

 

Hiraya bergerak gelisah di pangkuan Arvel. Sementara mereka sibuk saling melumat, ia berusaha membuka semua pakaian yang masih melekat di tubuh mereka, hingga mereka benar-benar telanjang.

 

Kontol besar Arvel sudah mengacung tegak, dan memek Hiraya pun sudah becek hanya karena permainan bibir. Hiraya pun menduduki gundukan besar Arvel itu tepat di belahan memek nya yang basah. Ia bergerak maju mundur, membuat kontol Arvel terjepit di antara belahan labia tembam itu.

 

"Mnnhhhhh... Aaahhh... Kontol lo kok makin gedehhh..." 

 

Hiraya melepaskan lumatannya, ia mendesah sambil terus menggesekkan memeknya pada kontol Arvel.

 

"Kontol gua dari dulu udah gede" desis Arvel, ia menampar pantat Hiraya, kemudian meremasnya kuat. Di pegangnya kedua pantat sintal itu dan ia pun membantu Hiraya bergerak menggesek kontol nya itu.

 

"Aaahhhh! Aaakhhhh... Velhhhhh..." 

 

Hiraya mulai merasakan tubuhnya membutuhkan sesuatu. Ia mengangkat bokongnya, memegang kontol Arvel yang sudah menegang, diarahkannya benda pusaka itu ke memeknya yang sudah becek.

 

Arvel hanya memperhatikan setiap pergerakan kekasihnya itu. Ia meletakkan tangannya di bawah sisi paha nya. Setelah dirasa kontol besarnya sudah bersarang di dalam si cantik, ia dengan cepat mengangkat tubuh itu.

 

"Arvelhh... Aaaaahhh~ mnhhhhh..." Hiraya sudah mendesah nyaring, ketika Arvel menghentakkan pinggulnya dengan sangat kuat. Pentilnya yang mencuat juga sudah di isap kuat oleh Arvel.

 

"Aaakkhhhh Velhh... Pentilkuhhhh jangan di gigithhh, nghhhhh~ aaaahhhhhh!" Hiraya memekik, kontol besar Arvel menusuk lubangnya sangat dalam, susunya di isap bergantian, tubuhnya juga di hentakkan berlawanan dengan setiap hentakan dari Arvel.

 

Tubuh Hiraya terombang-ambing di gendong Arvel, cairannya sudah keluar dan membasahi lantai kamar mereka. 

 

"Aaaaahhhh~ aaahhhhhh! Ahhhhhh~ Enaakh bangethhh di sodokhhhh -Akhhhhh!" bak jalang, Hiraya seperti benar-benar melupakan kejadian yang baru saja mereka lewati, Arvel pun sudah membawa tubuh itu berjalan mendekati meja riasnya.

 

Di turunkannya Hiraya agar duduk diatas meja itu. Arvel membuka laci di bawahnya, mengeluarkan dildo yang berukuran cukup besar, ia mengeluarkan kontolnya menggantinya dengan dildo itu.

 

"Memek lo harus di hukum. Biar lo jera, nggak minta kabur-kaburan lagi, terus nyari kontol lain di luar sana," hina Arvel, ia memukul memek becek itu, membuat Hiraya mendongak sakit.

 

"AAAHHHHHH! ARVELHHHHHH.... AKHHHHHH~ MHHHHHH..." Memeknya sudah di kocok kasar menggunakan dildo, Arvel menunduk, mulutnya langsung memakan habis dinding memek pink yang sudah memerah dan becek.

 

Hiraya menggila, tubuhnya bergetar hebat akibat perlakuan Arvel. Tangannya meremas rambut Arvel, menenggelamkan kepala kekasihnya itu di selangkangannya, tangannya sendiri sudah meremas dada besar miliknya. 

 

Matanya menjuling, air liur sudah mengalir keluar hingga dagunya. Ia suka ketika Arvel sudah memperlakukannya layaknya jalang seperti ini.

 

"Ahhh... Arvelhhh.... Kontol! Akuhhh mauhh kontolhhh gedeeh kamuhhh! Unghh... Mhhhh dildonya! Ahhh Velhhhh! Ahhhh..."

 

Arvel tak menghiraukan, ia mengeluar masukkan dildo di memek Hiraya semakin cepat. Ia menjauhkan wajahnya, kemudian naik mengisap susu besar Hiraya, ia memainkan pentilnya di dalam mulut. Menggigit, menjilat, bahkan mengisapnya kuat.

 

"Mhhhhh... Arvelhhhh... memekhhh gua bocorhhhh~ ahhhhhh... Enakhhh! Enakhhhh! Mauhh dirusakinhhh terushhh memeknyahhh~"

 

Arvel terkekeh dari balik susuan nya pada dada Hiraya, ia menegakkan tubuhnya lagi. Tanpa mengeluarkan dildo yang masih bersarang di memek Hiraya, ia menyodokkan kontol besar agar memenuhi lubang becek kekasihnya itu.

 

"AKKHHGHHH! FUCKHHHH DADDYHHHH, PENUHHHH!!!" Hiraya merasakan memek nya seperti robek, ia berpeganganbpada pinggiran meja riasnya, tubuhnya lemas namun juga merasakan nikmat.

 

"Aahhh.... Velhhh! Daddyhhh! Aanghhh! Keluarinhh di dalemhhhh... Aaahhhh~"

 

"Ahhh sialan. Muluthhh lo berisiki!" Arvel menampar pipi Hiraya, namun bukannya meringis sakit, ia justru menampilkan wajah menggodanya, menjulurkan lidahnya, sambil meremas dada besarnya.

 

"Di entot malah kek orang bego. Aaahhh fuckhhh! Memek lo jangan di ketatin lacur!" ujar Arvel menampar kuat susu besar Hiraya yang membuatnya semakin tersentak.

 

"Aaahhhh... lagihhhh! Mauuuhhh di tamparhhh lagi! Aaahhh~ mnhhhhhhh... Ngghhhh~" 

 

Hiraya gila? Iya, ia bahkan membiarkan dirinya di pakai habis-habisan oleh Arvel. Keduanya terus ngewe malam itu, bahkan berpindah ke berbagai sudut kamar. Sehingga Arvel juga tidak masuk bekerja besok harinya.

 

Hiraya, berantem adalah gaya, taktik biar di ewe semalam.