Actions

Work Header

Garis Merah

Summary:

Satu garis. Satu gerakan. Satu tarikan napas. Ramadhan, dengan bantuan pacarnya dan peralatan sederhana, melahirkan buah cintanya di tempat tinggal mereka: sebuah kontrakan sederhana. Penantian sedari malam akhirnya dapat terbayar lunas, dimulai dari gelombang kontraksi yang kembali menghantam saat subuh.

Work Text:

Angga terbangun dari tidur yang lelap. Padahal, semalam ia khawatir sekali mengingat pacarnya sudah mengalami kontraksi. Matanya yang setengah terbuka melirik perut Ramadhan, sang kekasih. Ia pun langsung memeluk Ramadhan dari samping dan menciumi pipinya. “Morning, Sayang.” Tangan Angga mengelus perut Ramadhan. “Perutnya udah mules lagi belum, Mas?”

Masih dalam keadaan setengah sadar, Ramadhan merasakan pelukan di badan dan ciuman di pipinya. Bibir melengkung membentuk senyum, mata menatap wajah manis Angga. Ramadhan kemudian mengusap punggung tangan Angga yang berada di perutnya. “Tadi subuh sempat mules lagi, Dek. Dedek udah nendang terus, sakit perut Mas.”

“Nendang terus?” Angga berusaha tidak panik.

Ramadhan hanya menjawab dengan anggukan pelan.

“Kontraksi lagi kayaknya, Mas.” Di tengah momen yang dirasa tak lama lagi akan menjadi genting itu, Angga mencium bibir Ramadhan lembut sambil terus mengusapi perutnya. “Tapi, HPL Mas bukannya masih tiga hari lagi, ya?”

“Mas gak tau juga, deh, Dek.” Ramadhan menghela napas, matanya masih lekat menatap wajah Angga yang rautnya tampak sedikit berubah. “Bisa aja lebih cepet, kan?” Tepat setelah pertanyaan itu tuntas disebut, perut Ramadhan mengencang, membuatnya merintih pelan. “SHHH — Tuh, kan, dedek bayinya nendang lagi.” Ramadhan mendongak, mengusap bawah perut sebisanya berharap nyeri di bagian tersebut mereda.

Mendengar rintihan kekasihnya, Angga tak ingin panik sendiri. “Atur napasnya, Sayang. Adek habis ini bantu pancing dedek bayinya, ya?”

Pasrah, Ramadhan mengangguk lagi dan membiarkan Angga melakukan apa pun yang sekiranya diperlukan. Ia percaya pada Angga yang memang punya pengetahuan lebih dari cukup karena bapak dari pemuda itu adalah seorang dokter kandungan. Saat ini, ia hanya dapat mengatur napas dan mengharapkan kelancaran atas segala yang akan ia hadapi nanti.

Selagi Ramadhan berusaha mengatur napas, Angga mengambil perlak untuk menjadi alas dan sarung untuk Ramadhan kenakan. Ia langsung menempatkan perlak itu di tempat pacarnya duduk. Kemudian, ia melepas celana Ramadhan dan menggantinya dengan sarung yang tidak diikat, sebatas dilingkarkan di sekitar pinggul lelaki itu. Gorden kamar yang masih tertutup pun dibiarkan begitu saja agar privasi Ramadhan terjaga. Sudah pagi hari, tentunya akan banyak orang yang lalu-lalang di sekitar kontrakan tempat mereka tinggal.

“AAHHH! Sakit, Dek, perut Mas!”

Dengan kondisi Ramadhan sudah memakai sarung yang tersingkap, Angga dapat leluasa membantu kekasihnya itu. Angga duduk di samping Ramadhan, lalu membuka kakinya untuk memegang dan meremas batang penis Ramadhan.

Ramadhan membiarkan Angga bermain dengan kejantanannya di bawah sana. Di tengah kontraksi yang menghantam, setidaknya ia dapat sedikit merasakan kenikmatan. “NNGHHH, enak diremesin gitu batang kontol Mas.”

“Enak Adek giniin?” Angga terus meremas dan mengurut batang kejantanan milik Ramadhan, sesekali mengocoknya pelan.

“Enak, Adek, MMHHH,” desah Ramadhan keenakan. “Terus gituin kontol Mas, Dek.”

“Kontol Mas bengkak banget,” komentarnya nakal memancing Ramadhan supaya terangsang dan makin sering kontraksi. Kekehan pun mengiringi. “Pasti susah masuk bool Adek kalo sebesar ini.”

Perkataan Angga membuat Ramadhan melepas tawa ringan. “Nanti, kan, kalo udah melahirkan, balik lagi ke ukuran semula. Abis itu, Mas siap ngehamilin Adek.”

“Ih, Mas mesum banget, ah! Belum apa-apa udah mau hamilin Adek aja.”

“Hahaha! Kan gantian, Adek sayang.” Tiba-tiba saja perut Ramadhan terasa makin mulas dan nyeri. “Aduh, aduh! Kok, makin sakit, ya? HUH HAHH,” Ramadhan mengaduh sembari mengelus perut sendiri.

Angga mencium pipi Ramadhan lagi, memperhatikan pacarnya yang sedang merasakan sakitnya kontraksi. “Kontraksi lagi. Berarti emang dedek bayi udah nggak sabar buat ketemu ayah sama papanya.” Senyum terulas di wajah Angga. Laki-laki itu berhenti mengocok penis Ramadhan untuk melepas pakaiannya sendiri hingga ia bertelanjang bulat dengan penis yang tegang sempurna.

Meski perlu usaha lebih dari Angga, Ramadhan turut tersenyum ke arah lelaki yang lebih muda itu. “Kayanya Mas udah mau melahirkan. Makin mules gini perut Mas, Dek. MMMHH—” Ia memejamkan mata sebentar karena kontraksi di perutnya.

Mendengar ucapan Ramadhan, Angga mengangguk sambil menggenggam tangan Ramadhan dan mengocok penisnya kembali dengan tangan yang lain. “Iya, Sayang, tinggal nunggu ketuban pecah.” Wajahnya mendekat, bibirnya kemudian lekat menempel pada bibir milik Ramadhan, melumatnya nafsu. Sementara itu, tangan yang semula menggenggam tangan Ramadhan pun beralih untuk memainkan puting susu pacarnya yang mengeras itu.

Ramadhan hanya mengangguk isyarat paham akan penjelasan Angga. Kakinya dibuka makin lebar agar tangan Angga leluasa dalam mengocok batang penisnya selagi mereka berdua menyatu dalam ciuman yang hangat dan mesra. Ramadhan membalas lumatan bibir Angga, lalu mengisap dan menggigit pelan bilah atas bibir sang kekasih. Pentilnya terasa basah akibat sentuhan Angga yang membuat air susunya bocor keluar. “MMHHH,” lenguhnya di antara penyatuan bibir mereka.

Lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut Ramadhan hanya menjadikan penis Angga makin keras dan berkedut. “Desah sambil panggil nama Adek, Mas.” Tangan Angga meremas dada Ramadhan sampai air susu memuncrat dari pentil pria itu dengan sebagian mengalir ke perut buncitnya. Di waktu yang bersamaan, tangan yang mengocok penis Ramadhan pun bergerak makin cepat.

“AAAHH HMMNHH, Dek— Dek Angga, SHH!” Ramadhan mulai kewalahan oleh kenikmatan luar biasa yang menderanya di antara nyeri dari gelombang kontraksi. Kedua kakinya menggelinjang, sedang tangannya berpegangan pada lengan Angga.

“Enak, Sayang?”

Ramadhan mengangguk dan matanya merem-melek. “Enak, AHH— Suka dimainin gini kontol Mas, Sayang. Lebih cepet.”

Angga tersenyum. “Gitu, dong. Minta aja kalo sama pacar sendiri.”

“I-iya, Adek sayang.”

Napas berembus di antara wajah keduanya. Angga mengisap bibir Ramadhan mesra selagi tangannya bergerak mengocok penis Ramadhan yang sudah makin bengkak. “AAH, desah terus, Mas. Mules banget, ya, perutnya?” Matanya menatap Ramadhan sayu. “Mau ke kamar mandi dulu, nggak, Sayang?”

“MMHH … mules banget, makin mules—” Ramadhan tak kuasa menahan mulas di perut. Ia menggelengkan kepala sesaat, kemudian mendesah lepas sembari meremas lengan Angga, “AHH, Mas gak tau. Ini rasanya ada yang mau keluar dari lubang Mas. Udah neken rasanya.”

Angga mengerti maksud Ramadhan. Ia terus mengocok penis pacarnya yang sudah makin membengkak itu dan memainkan pentilnya lagi. “Kalo ada yang neken, biarin keluar aja, Mas. Tapi jangan dipaksa ngeden, ya. Takutnya bibir rahim Mas malah bengkak nanti,” jelasnya mendetail.

“Sakit banget perut Mas— AHHH! Sakit, tapi, Dek. Mas udah gak tahan sama mulesnya.”

Keluhan itu membuat Angga berhenti dengan permainan jarinya di puting susu Ramadhan. Salah satu tangan pemuda itu kemudian turun, membuka kaki Ramadhan mengangkang lebih lebar dan mengusap bagian sekitar bibir lubang analnya. “Becek gini, Sayang. Sange gara-gara Adek kocokin, ya?”

Ramadhan memejamkan kedua matanya, merasakan kontraksi yang makin kuat di perut. Begitu tangan Angga berhenti memainkan pentilnya, ada sensasi nikmat yang tiba-tiba menghilang. Namun, itu tentu tidak seharusnya menjadi kekhawatiran Ramadhan yang utama untuk sekarang. Perutnya kian mulas, seakan-akan tengah diaduk di bagian dalam. Kelahiran anak pertama memang tidak pernah dapat terduga. Itu yang ia ingat dari ucapan orang-orang di sekitarnya selama ini.

“Mas ikutin feeling aja. Reflek aja, tapi jangan dipaksain ngeden. Biarin badan Mas yang ngatur semuanya.” Angga tersenyum sembari mengelus bibir lubang anus Ramadhan yang becek dan berkedut, persis seperti saat Angga hendak menyetubuhi pacarnya itu. Sama pula halnya dengan saat membuat Ramadhan hamil yang pasti.

“Iya, Adek sayang. Nanti Mas bilang Adek lagi, ya, kalo mules lagi.”

Bibir Angga membentuk senyum, lalu mendarat sopan di bibir Ramadhan untuk menciumnya lembut. “HMMMHH … seksi banget kamu, Mas,” puji Angga tertawa pelan seraya tangannya mengocok kejantanan sang kekasih dan meremas batang gemuk itu sesekali. “Sering-sering hamil, ya?”

“Adek suka, ya, liat Mas hamil dengan perut Mas yang besar dan buncit gini?”

“Suka banget. Kontol Mas juga tambah gemuk, jadi gemes.” Angga mengangguk mantap sebelum kemudian mencium, tepatnya melumat, bibir Ramadhan lagi.

Ramadhan menyempatkan diri untuk membalas ciuman Angga sebelum menanggapi pacarnya itu, “Harus gemuk, dong, Sayang. Kalo gak, nanti dedek bayi susah keluarnya, hahaha.”

Penis Angga sontak berkedut saat Angga mendengar perkataan Ramadhan. “AAH … sange banget Adek ngebayangin kontol gemuk Mas ngeluarin dedek bayi hasil bikinan Adek.” Ia terkekeh pelan, lantas menggigit dan mengisap bibir bawah Ramadhan selagi tangannya bergerak makin cepat mengocok penis Ramadhan, membuat suaminya menggelinjang keenakan.

“Hahaha! Mas tau, kok, Adek udah sange dari tadi. Orang kontol Adek udah ngaceng kaya gitu liatin Mas telanjang kaya gini.” Tubuh Ramadhan menggelinjang, kepalanya mendongak merasakan gerakan tangan Angga yang makin cepat di batang penisnya. “MMHH AHHH! Adek, perut Mas makin sakit. Gak kuat Mas rasanya, mau ngeden.”

Merasa malu, wajah Angga sedikit memerah. “Ketuban Mas belum pecah, loh. Coba ngeden, tapi jangan dipaksa, ya.” Ia kemudian mencolok-colok lubang anal Ramadhan dengan satu jari tanpa berhenti mengocok batang penis pacarnya yang sudah membengkak, keras, dan merah itu. “Keluarin aja, Sayang. Siapa tau ketuban Mas bakal sekalian pecah. Nanti biar Adek yang bersihin.” Kecupan sekilas diberinya di bibir Ramadhan.

Pasrah saja Ramadhan menerima kecupan lagi dari Angga. Memang sang kekasih sangat suka mencium. Menggemaskan, bagi Ramadhan. “Ini udah sakit banget perutnya Mas, Dek. Mules perut Mas, MHHH— Boleh, kan, Mas ngeden pelan aja?” Ramadhan berusaha mengatur napas perlahan. Lubang analnya jelas merasakan jari Angga bergerak keluar-masuk di dalam. “Sakit, Sayang,” keluhnya lagi seraya mengatur napas dan mencoba mengejan perlahan karena mulas di perut yang tidak tertahan. “NNGGHHH, HUFT HUFFT— NGGHHHH MHHH! Ada yang keluar gak, Dek?”

Angga berhenti mengocok penis Ramadhan, hanya mengusapinya begitu pacarnya itu mulai mengejan. Ia menegakkan badan untuk duduk dan memperhatikan selangkangan Ramadhan.

Ramadhan dapat merasakan sesuatu keluar dari lubang analnya yang berkedut.

“Pinter, Sayang. Jangan ditahan dan jangan dipaksain aja, ya.”

“Iya, Sayang— AHH! Adek, Mas ngeden lagi, ya.” Ramadhan menatap Angga dan kali ini, tatapannya tampak sayu. Ia belum terbiasa untuk menghadapi sakit yang dirasakan, juga untuk mengingat bahwa ia hendak melahirkan anak pertamanya dengan Angga. “NGGHHHHH! AWW, sakit banget perut Mas, Dek.” Di tengah upayanya mengejan, Ramadhan merasakan sesuatu menyembur keluar dari lubang kencingnya.

“Sayang, ketubannya pecah!” seru Angga ketika ia melihat cairan keruh keluar dari penis Ramadhan.

“AHH! Akhirnya Mas udah bisa melahirkan, Sayang.”

“Iya, Sayang, anak kita mau lahir.” Angga tersenyum, terharu sekaligus terangsang melihat pacarnya sendiri hendak melahirkan. Ia kemudian sedikit menutup paha Ramadhan dengan sarung, memperhatikan lubang anal kekasihnya yang berkedut dan mengeluarkan kotoran selagi pria itu mengejan.

“Mas udah gak sabar melahirkan anak kita, Dek.” Meskipun ada kebenaran dalam ungkapan Ramadhan itu, tentu alasan lain ia merasa “tidak sabar” adalah karena ia ingin semuanya cepat berlalu.

“Adek juga nggak sabar, dan Adek bakal selalu nemenin Mas selama prosesnya.”

“Makasih, ya, Adek sayang, udah mau nemenin Mas melahirkan.” Ramadhan tersenyum tipis.

“Yang kuat, Sayang.”

“Iya, Adek. Mas pasti kuat, kok.”

Angga menunduk sejenak untuk mencium perut Ramadhan, memijat pelan bagian tengah bawah perut besar dan bulat itu.

Tindakan Angga membuat Ramadhan kian merasa mulas dan kesakitan. Ramadhan mengangguk lemas. “AAHHH, dipijet kaya gitu rasanya makin mules perut Mas, Dek- NGHHH, sakit banget! AHH AAAHHH!”

Melihat Ramadhan kesakitan, Angga berhenti memijat perut besar laki-laki yang dicintainya itu. “Ayo, dorong, Mas. Coba ngeden lagi. Sekarang gapapa, nggak usah ditahan-tahan lagi. Mas ngeden aja, biar dedek bayinya cepet keluar.” Angga kemudian menggenggam satu tangan Ramadhan, berharap dapat memberinya sedikit kekuatan meski hanya secara mental. “Mas mau melahirkan anak kita, kan? Ayo, Sayang, buktiin sama Adek, ya.”

Ramadhan menarik napas panjang lagi ketika ia merasakan otot perutnya kontraksi, yang membuat Ramadhan kewalahan dengan sensasi mulas. “NNGHHHHH, AHH AAHHH! Sakit banget perut Mas, Dek. Perut buncitnya Mas, HUFF HAAHH—” Tangan Ramadhan membalas genggaman Angga erat, meremas tangga Angga dengan kuat.

“Pinter, Sayang, bagus ngedennya,” puji Angga yang sedang fokus memperhatikan kemaluan Ramadhan. Matanya jeli menangkap tiap detail yang terlihat: penis Ramadhan yang membengkak dan berkedut, juga lubang anal lelaki itu beserta perlak yang kotor.

“Mas mau ngeden lagi, Dek,” Ramadhan kewalahan menghadapi rasa mulas di perutnya.

“Napas, Sayang. Atur napasnya. Ini dedek bayinya mau keluar, hm?” Angga tersenyum melihat batang penis Ramadhan mulai membesar di bagian pangkalnya karena kepala bayi yang sudah mulai bergerak turun dari jalur lahir.

“UNGHHHH, sakit, mules banget.” Sesekali, di antara derita yang tengah ia rasakan, Ramadhan masih dapat tersenyum ketika matanya menatap Angga. “MMMMHHHHHH AAHHHH!” Ramadhan mengejan sekuat tenaga, terus meremas tangan Angga sepanjang prosesnya. Ia sudah tidak mau terlalu peduli akan apa pun yang terjadi di bawah sana. “Sakit kontol Mas, Dek— AAAAH! HUFFT HAAHH—”

Angga menunduk untuk mencium punggung tangan Ramadhan yang sedang meremas tangannya. Senyum kembali menghiasi wajah Angga yang manis. “Iya, Sayang, Adek tau pasti sakit banget kontol Mas. Makasih udah berjuang buat anak kita, ya.”

“Kontol Mas rasanya terkoyak gini, AHHH— sakit, Sayang.” Ramadhan merasakan penisnya makin bengkak dan melar seiring dengan upayanya untuk mengeluarkan si jabang bayi dari dalam kandungan.

“Kuat, ya, Mas. Adek sayang sama Mas. Nanti Adek bakal kasih apa pun yang Mas mau.”

“Oke, Adek. Mas bakalan berusaha. Mas ngeden lagi, ya.” Kepala Ramadhan mengangguk pelan, seakan-akan menguatkan dan memberi keyakinan pada dirinya sendiri sebelum menarik napas panjang sebelum mengejan kembali. “Bismillah,” ujar Ramadhan, nyaris berbisik. “NNGGHHHH! AHHH AAAHHH, sakit perut dan kontol Mas rasanya.” Meski demikian, Ramadhan tidak ingin berhenti berusaha, bahkan mengejan lagi dan lebih kuat dari sebelumnya, “EEENNGGHH, mules, Dek!”

Tak dapat berbohong pada dirinya sendiri, Angga merasa khawatir melihat sang kekasih kesakitan karena melahirkan anak pertama mereka. Tangannya pun terulur untuk mengusap-usap lembut perut buncit Ramadhan. “Nak, keluarnya pelan-pelan, ya. Jangan bikin ayahnya sakit. Ayah lagi berusaha bantu Dedek biar bisa ketemu Ayah dan Papa.” Sementara itu, tangan Angga yang lain menggenggam tangan pacarnya itu. “Kuat, Sayang. Jangan lupa berdoa dalam hati, minta kelancaran.” Ia melihat penis Ramadhan makin membengkak, membuat dirinya sendiri sedikit ngeri sekaligus terangsang. Kemudian, tangan Angga yang di perut Ramadhan turun untuk mengusap kepala penis pria itu pelan.

“Dikit lagi, ya, anak kita lahir.” Ramadhan membalas genggaman tangan Angga, merasakan penisnya membengkak dan meregang karena kepala dan badan bayi yang mulai masuk ke batang kemaluannya tersebut. Kulit area kemaluan Ramadhan yang sensitif terasa agak perih, tetapi juga hangat berkat usapan Angga di bagian ujungnya. “Mas ngeden lagi, ya, Sayang.”

Kepala Angga mengangguk sementara matanya menatap wajah dan selangkangan Ramadhan bergantian.

“Ayo, Dedek keluar— AAAAAHHHH NGGHHHHHH! Kontol Mas perih rasanya, kaya mau robek.” Kontraksi di perut Ramadhan tidak kunjung mereda, membuat lelaki itu pasrah mengikuti kemauan tubuhnya sendiri. “MMHH AHH AAAH! Gimana, Dek?”

Angga sedikit memperhatikan lubang kencing Ramadhan yang berdarah. “Mas … Dedek kayaknya agak susah keluar.” Ia pun melepas genggaman tangannya pada tangan Ramadhan untuk mengambil sebuah gunting steril dari dalam nakas.

“Kayanya Dedek besar banget, ya,” komentar Ramadhan saat melihat Angga mengambil gunting dari dalam nakas. Ramadhan tahu kemungkinan tindakan yang akan Angga ambil setelah ini.

“Mas percaya sama Adek, ngga?” tanya Angga pelan sembari membersihkan gunting yang ada di tangannya. Matanya menatap Ramadhan cemas, sudut bibirnya tertekuk ke bawah karena ia pun tidak ingin, tidak tega melakukan pengguntingan atau episiotomi pada pacarnya tersebut. Namun, ia juga tentu tidak mau Ramadhan mengalami robekan pada bagian yang akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih jika hanya dipaksa mengejan.

Memahami maksud Angga, Ramadhan menatap balik wajah kekasihnya dan mengangguk. “Iya, Adek. Mas percaya sama Adek.” Tangannya meraih lengan Angga, mengusapnya pelan. “Anunya Mas mau digunting, ya?” Dalam hati, ia ikhlas melalui apa pun selama anaknya dapat dilahirkan. Ia juga tahu bahwa Angga tidak mungkin berniat menyakitinya secara sengaja.

“Iya, Mas. Kalo nggak digunting, takut robek sendiri dan susah dijahitnya nanti,” jelas Angga yang tak tega dan khawatir. Bagaimanapun, kepercayaan Ramadhan padanya harus dijaga. Angga pun membersihkan bagian lubang kencing Ramadhan dan sekitarnya.

“Ya udah. Gapapa, Dek, gunting aja kontol Mas-nya.” Ramadhan ikhlas, juga pasrah.

“Tenang, ya, Mas. Adek minta maaf. Teriak atau marahin Adek aja kalo sakit.”

“Iya, gapapa. Pelan-pelan, ya, Sayang.”

Angga berkonsentrasi. Tangan kirinya menahan bagian batang penis Ramadhan yang sudah membesar terisi oleh kepala dan sebagian badan bayi yang sedang dilahirkan. Sementara itu, tangan kanannya memegang gunting yang akan digunakan untuk prosedur episiotomi. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Kemudian, dengan hati-hati, ia membuat dua guntingan dari lubang kencing Ramadhan: dari ujung bawah dan atasnya.

“SSSHH, ngilu banget kontol Mas, Dek!” Ramadhan memejamkan mata. Kedua tangan meremas seprai untuk menyalurkan perih yang dirasa di kemaluannya.

Tangan Angga dengan cepat melanjutkan prosedur agar jaringan kulit yang sensitif di kepala penis Ramadhan tidak terlalu lama terekspos pada gunting yang ia gunakan. Ia menarik napas dalam untuk menenangkan diri, tidak tega melihat darah yang mengalir dari luka hasil guntingannya pada lubang kencing Ramadhan. “Maafin Adek, Mas …” ujarnya dengan rasa bersalah.

“Iya, gapapa, Adek. Mas berusaha tahan demi bisa keluarin dedek bayi, ya?”

Selesai dengan prosedur episiotomi, Angga langsung menahan lubang penis Ramadhan menggunakan selembar kain bersih. Pada saat bersamaan, ia meraih tangan Ramadhan, menggenggamnya erat. “Coba dorong lagi, ya, Sayang. Tahan perihnya. Adek yakin Mas bisa.”

Tatap sayu Ramadhan saling bertukar dengan tatapan Angga. Ia sudah benar-benar pasrah. Dengan lemah, ia membalas genggaman tangan Angga. Kata-kata Angga sedikit memberi kekuatan untuknya agar tidak menyerah. Ia mengangguk, mengamini keyakinan Angga dalam hati. “Mas mau ngeden lagi, Dek,” kata Ramadhan sebelum menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan.

“Ngeden aja, Mas. Ngeden demi Adek, ya. Demi anak kita, Mas,” Angga menyemangati Ramadhan.

“Iya, Sayang. Demi anak kita, Mas rela sakit, kok.” Perlahan, Ramadhan mengejan lagi supaya bayinya dapat segera terlahir, keluar dari batang penisnya. “NNGHHH, AHH AAHHHH! Sakit, Dek!” Guntingan di ujung batang kejantanannya memang mempermudah calon anaknya untuk keluar. Namun, Ramadhan juga kian merasa tersiksa seiring dengan upayanya untuk mengejan. Mata Ramadhan berair karena perih, juga sakit secara keseluruhan yang luar biasa yang dialami oleh Ramadhan. “HUFFF HUFFT, lagi— NGGHHHH EUMMHHH, ayo keluar!”

Mata Angga berkaca-kaca melihat pacarnya yang sampai menitikkan air mata karena kesakitan.

Lubang kencing Ramadhan, yang sekarang berfungsi sebagai lubang lahir itu, terbuka makin lebar oleh kepala bayi yang mau keluar.

Angga masih memegangi ujung penis Ramadhan dengan kain tadi, yang semua bersih dan sekarang penuh noda berwarna merah. Jantungnya berdegup makin kencang. Angga hanya ingin Ramadhan dan bayi mereka baik-baik saja.

Di tengah rasa sakit yang dialaminya, lagi-lagi Ramadhan masih dapat tersenyum tipis pada Angga. Namun, seketika raut wajahnya berubah saat perutnya mulas, membuatnya secara refleks mengejan dan berujung pada lubang penisnya yang kian melebar. “SSHHH, bismillah …” bisik Ramadhan sebelum ia mengambil napas dan mengejan lagi. “NGGHHHHHH AAHHHHH! Sakit banget kontol dan perut Mas! MMMHH MHHH, AAHH—”

Kepala bayi keluar dari penis Ramadhan, bersamaan dengan menyemburnya darah bercampur air ketuban.

Angga tersenyum lega dan langsung membersihkan wajah bayinya yang baru keluar itu. “Sayang, alhamdulillah …” ucapnya penuh syukur. “Sedikit lagi, ya? Masih kuat, Mas? Tinggal badan dedeknya yang harus keluar.” Angga mengusap perut Ramadhan yang sudah mengempis dibandingkan dengan ukuran sebelumnya. Ia kemudian meraih satu tangan Ramadhan dan menggenggamnya lagi.

Begitu kepala bayinya keluar, ada rasa sakit yang luar biasa untuk sesaat dan langsung disambut oleh perasaan lega. Ramadhan turut tersenyum pada Angga sembari mengangguk. “Iya, Adek. Dikit lagi kita ketemu dedek bayi.” Genggaman tangan Angga pun dibalasnya. Ia memejamkan mata sejenak sembari mengatur napas.

Angga membuka kedua kaki Ramadhan, membuatnya mengangkang makin lebar. Angga juga menyingkap sarung yang dari tadi menutup area privat pacarnya tersebut. Mata Angga melihat secara jelas penis Ramadhan yang bengkak, juga pundak bayi yang perlahan keluar, memaksa lubang kencing Ramadhan melebar. “Ayo, Sayang. sedikit lagi.”

“Perih, Dek, AAHH—” Ramadhan mengejan lagi untuk mengeluarkan tubuh si jabang bayi dari batang kejantanannya. Laki-laki itu dapat merasakan lubang penisnya perih bukan main karena dibuka melebar oleh pundak bayi yang akan keluar.

Secara hati-hati, Angga menarik kepala bayi tersebut keluar dari batang penis Ramadhan.

“NNNGHHH AAHHHHHH! Please, keluar— EUNNHHHH AHHH!”

Badan bayi pun akhirnya dapat meluncur keluar dari penis Ramadhan, menyisakan tali pusar yang masih terhubung dengan sang ayah. Sisa air ketuban yang turut menyembur juga banyaknya bukan main, menjawab rasa penasaran keduanya mengingat perut Ramadhan begitu besar sementara ukuran bayi yang dikandungnya tergolong normal.

“Sayang, anak kita!” seru Angga yang langsung menangkap dan menggendong makhluk kecil itu.

“AHHH! Akhirnya anak kita lahir, Dek.”

Angga memberikan bayi itu pada Ramadhan untuk mendapat sentuhan fisik dari sang ayah yang melahirkannya secara langsung. Ia kemudian membalut penis Ramadhan setelah memotong tali pusar bayi untuk mencegah terjadinya infeksi. Untuk saat ini, ia juga belum bisa menjahit luka pacarnya tersebut sehingga ia langsung menghubungi bapaknya yang jelas merupakan seorang ahli.

Sementara itu, Ramadhan menikmati dan mensyukuri momen dengan anak yang baru saja dilahirkannya melalui perjuangan berat.

“Iya, Pak, Mas Ramadhan udah beres melahirkan.” Angga mengangguk dan sesekali menggigit bibirnya gugup, juga mengangguk pelan. “Oke, Pak. Angga tunggu. Ayah bakal ikut buat jenguk Mas Ramadhan sama dedek bayi juga, nggak?”