Actions

Work Header

A Little Problem

Summary:

Mash punya sedikit 'masalah' malam itu dan satu-satunya orang yang bisa ia mintai bantuan hanya rekan sekamarnya.

Notes:

Sorry for baku-non baku language.

Guess it's my first vanilla stuff. Thanks to Cherry for wrote this, I'm 100% innocent, I just do editing stuff and other (and get stepped or choked idc, I love it)

I made the prequel actually, I'll share it later.

Work Text:

 

Finn Ames baru saja terayun dalam mimpi yang hangat ketika ayunan itu berubah menjadi guncangan yang sangat nyata. Remaja itu membuka matanya yang berat kemudian menatap teman sekamarnya. Baru saja Finn akan bertanya ketika Mash lebih dulu membuka mulutnya.

 

"Finn. Finn. Finn, aku barusan mimpi aneh. Aku mimpi kamu makan penisku terus pas selesai kamu minta penisku buat masuk ke anal kamu. Terus pas bangun penisku keras banget."

 

Kedua bola mata Finn mengikuti arah jari telunjuk Mash, dan melihat gundukan yang tertutup pakaian tidur di selangkangan temannya. Seluruh wajah Finn merah padam, matanya terbelalak karena kaget.

 

"Aku juga gak tau kenapa bisa begitu. Tapi ini keras banget. Aku gak bisa tidur. Aku harus gimana? Apa aku bakal mati karena penisku jadi batu?" Omongan Mash semakin melantur. Dia kini malah naik ke ranjang teman sekamarnya itu dan sibuk mencari posisi duduk yang tepat sebab 'adik kecil'nya yang mengeras membuatnya bingung harus bagaimana. 

 

"Finn, aku belum mau mati. Aku masih mau makan kue sus banyak-banyak. Aku belum bisa nolongin kakek. Aku harus gimana?" Dia kini mengguncang kedua bahu Finn yang sudah merona sempurna.

 

"Se-sebentar! Sebentar Mash! Yang seperti ini harusnya ngga diomongin ke orang lain! Ap-apalagi orang yang kamu mimpikan! Eh, kamu- kamu yakin yang di dalam mimpimu itu?"

 

Finn berusaha melepaskan tangan Mash dari bahunya tapi gagal. Sulit bagi Finn untuk fokus pada wajah ketakutan temannya karena terganggu oleh keadaan di tubuh bagian bawahnya itu.

 

"La-lagian kamu ngga bakal mati karena ini!" Setengah berteriak, Finn berusaha untuk menenangkan Mash yang bingung.

 

"Serius aku gak bakal mati kan?" Mash bernafas lega, kalau Finn yang berkata dia percaya 1000%. "Hmm aku yakin banget itu Finn. Soalnya suaranya sama, wajahnya juga, mulut kamu hangat, pas kamu megang aku juga sama kayak gini. Rasanya nyata banget." Mash berucap yakin sambil menatap serius teman sekamarnya itu. 

 

"Terus- kamu tau gak caranya biar ini gak keras lagi? Rasanya sesak- terus, kayaknya ini makin keras sejak aku deketin kamu barusan-”

 

"S-stop! Stop!" 

 

Finn dengan cepat menutup mulut Mash dengan kedua tangan, menundukkan kepala dengan mata tertutup, berharap remaja berkepala jamur itu berhenti bicara. Gawat. Apa yang dibicarakan Mash kini menimbulkan efek pada selangkangan Finn. Wajahnya semakin memanas saat menyadari itu. 

 

"-supaya ngga keras lagi, uhhh."

 

Remaja itu membuka matanya, melihat bagaimana gundukan itu lebih besar dari sebelumnya dan meneguk liur. Kedua kaki Finn saling menggesek, berusaha menyembunyikan keadaannya sendiri, berusaha tidak membayangkan betapa besar benda itu dan bagaimana rasanya bila masuk ke dalam tubuhnya.

 

‘TIDAK!! Apa-apaan sih?’ Batin Finn sambil menggeleng, menepis pemikiran kotornya barusan. 

 

"Uh...Mash...apa...baru pertama kali seperti ini...?"

 

Finn melepaskan mulut Mash, menunjuk kepada gundukan itu.

 

"Uhh iya. Makanya aku bingung- dan kayaknya kamu lebih ngerti dari aku- e-ehh? Finn? Kamu juga-?" Mata keemasannya kini tertuju pada selangkangan Finn yang berusaha ditutupi namun tetap tampak sekilas. Mash menahan kedua paha kawannya, membuat gundukan disana tampak lebih jelas. "Finn?" Mash memastikan lagi, menatap wajah yang tampak seperti ingin menangis itu.

 

"Ah! Tu-tunggu- jangan lihat!!"

 

Finn rasanya ingin menangis karena malu. Kedua tangan Mash yang kekar menahan pahanya agar terbuka, panas dari tubuh remaja itu terasa dan tersampaikan langsung ke seluruh bagian tubuhnya yang sensitif.

 

"A-aku bakal selesaikan ini sendiri. Mash juga- hmm, se-selesaikan sendiri."

 

Remaja itu berusaha melepaskan tangan Mash dari pahanya, setidaknya agar semakin menjauh dari selangkangannya. 

 

"Aku- gak tau caranya. Makanya aku tanya kamu, Finn." Melihat gelagat temannya, Mash malah semakin mendekat. Wajahnya sudah berhadapan dengan wajah Finn yang kini menutupi wajahnya dengan tangan. "Finn, tolong aku- Aku janji bakal nolongin kamu juga." Lengan kekarnya beranjak mengambil dua lengan kurus yang menghalangi wajah merona Finn. 

 

"Aku harus apa?" Tanyanya lembut tepat dihadapan Finn.

 

Finn rasanya mau kabur saja. Tapi jadi tidak tega saat melihat Mash betul-betul kebingungan, jadi dia itu menurunkan lengannya dan menggenggam tangan Mash.

 

"Itu- dengan tanganmu. Pe-pegang punyamu sendiri- uhm, lalu gerakkan naik turun- uuuhhh, memalukan sekali. P-pokoknya pegang saja pe-penismu sesukamu, sampai kamu merasa enak.”

 

"Cuma dipegang aja? Serius? Gimana cara pegangnya?" Mash memiringkan kepala, masih kebingungan menatap Finn yang memerah sambil membuang muka. "Bisa tolong beri contoh dulu?" Pintanya sambil membawa tangan Finn untuk menyentuh gundukan penisnya yang masih terbalut celana piyama.

 

"Gyaaa!! Ke-kenapa! Ma-Mash, lepaskan tanganku-"

 

Finn berniat melepaskan tangannya dari genggaman Mash, namun gagal dan malah semakin menyentuh penis teman sekamarnya. Membuat benda itu berdenyut dalam sentuhannya dan Mash mengernyitkan dahi.

 

"Ma-maaf! Sakit?”

 

"A-ahh hmmm enggak sakit. Tapi aneh-" Nafas lelaki Burnedead itu terasa sedikit sulit. Tangannya menekan lagi tangan Finn untuk menggesek penis dibalik celana, mengabaikan protes kawannya itu. "Aneh- tapi aku suka. A-apa maksudmu begini, Finn? “

 

"E-ehh- i-iya, apa rasanya enak kusentuh begini?"

 

Finn menyerah dari usahanya melepaskan diri, dia tidak akan menang melawan kekuatan Mash. Lagipula, Finn memang sudah cukup lama penasaran dengan kawan sekamarnya ini. Finn kembali menyatukan pahanya, mencari gesekan samar untuk keperluan biologisnya.

 

"Sentuh seperti ini, gerakkan naik turun- begini, lalu nanti akan keluar hmm cairan-"

 

Finn perlahan menggerakkan tangannya dari atas kain, meneguk ludah ketika benda dibalik kain itu semakin berdenyut.

 

"Mau kubantu? Rasanya mungkin lebih baik kalau dipegang langsung-”

 

"H-huh? Dipegang langsung? Kalau begitu tolong-" Tanpa basa basi, Mash menurunkan celananya. Membuat kejantanan tegangnya mencuat tepat didepan Finn yang menatapnya antara kaget dan- takjub.

 

"Hyaaa!!” Finn memekik kaget ketika penis Mash mencuat keluar seolah memiliki keinginan sendiri. Dengan ragu-ragu, Finn kembali menyentuh organ yang mengeras itu. “Uhh, k-kalau begitu permisi." Ia kemudian melingkarkan jari di batangnya, lalu bergerak naik turun perlahan. Finn belum pernah melihat penis milik orang lain sejelas ini, apalagi menyentuhnya. Kenyataan bahwa mereka betul-betul melakukan hal ini membuat tubuh Finn memanas, lelaki Ames itu mengubah posisi duduk, merapatkan paha demi menekan hasratnya.

 

Tangan rampingnya yang gemetar meremas pelan dan bergerak kaku, meski lembab karena keringat, telapak tangannya terlalu kering. Finn melirik ke atas ke arah Mash dengan pandangan bertanya.

 

"Uhm, kalau ada lotion bisa lebih mudah gerak- tapi sepertinya kita tidak punya. A-apa kamu keberatan kalau aku pakai ludahku?”

 

"Hmm aku tidak masalah. Lagipula aku tidak mengerti sama sekali, jadi aku akan menuruti Finn." Mash meluruskan kakinya, kini memenjarakan tubuh Finn diantaranya. Sementara kedua tangannya menyangga tubuh sambil menikmati sentuhan Finn pada penisnya. Tidak pernah ada orang selain dirinya sendiri yang menyentuh area intimnya. Agak mengejutkan ketika dia merasa nyaman karena sentuhan Finn yang ragu-ragu. 

 

"Finn juga- kalau butuh sesuatu tolong katakan padaku.”

 

Finn hanya mengangguk asal, nyatanya yang dia butuhkan saat ini adalah sentuhan yang sama namun dia tidak mungkin berkata semudah itu. Pikirannya sekarang hanya menyelesaikan ini dan segera melupakannya. Bungsu Ames itu mencari posisi nyaman untuk duduk, tidak memikirkan bagaimana kedua kaki Mash mengapitnya.

 

Finn memasukkan jari yang baru saja menyentuh penis Mash ke dalam mulutnya sendiri, memainkan lidahnya dengan dua jari, memutar dan memijat organ basah itu, berusaha merangsang lebih banyak saliva untuk diproduksi dengan mengitari jarinya dalam rongga mulut.

 

Finn menunduk di atas selangkangan Mash, bertumpu pada satu tangan di kasur, kemudian mengeluarkan jarinya dari mulut. Saliva yang terkumpul dalam mulut kecil itu menetes keluar, membentuk aliran panjang dari mulutnya, menetes ke penis Mash yang masih tegang dan panas.

 

"Ngh- sepertinya sudah cukup basah."

 

Tangan mungil itu kembali melingkarkan jarinya pada penis Mash, kini bergerak lebih cepat dan pasti dengan bantuan pelumas dadakan dari mulutnya. Pergelangan tangannya bergerak dari atas ke bawah bergantian, memijat benda itu pelan. 

 

"Apa ini enak?"

 

Tanya Finn, mengabaikan napas yang memberat, mendongak untuk menatap kedua mata Mash yang terfokus pada dirinya.

 

Biasanya, Mash tidak akan menatap Finn seteliti ini. Bagaimana wajah manis itu merona dan berkeringat, liur yang mengalir dari sudut bibir, tangan lentik yang berada pada penisnya yang membengkak. Mash menelan ludah, merasakan panas menjalar disekitar wajahnya. Apalagi wajah polos yang menatapnya tanpa dosa itu bertanya dengan serius, "-enak. Tolong teruskan." Mash mencicit, membiarkan penisnya dipijat lagi. Melepaskan desahannya tanpa malu, membiarkan Finn melakukan apapun. 

 

"Bagaimana dengan Finn? Punyamu- tadi kulihat sama sepertiku. Lebih baik kita lakukan bersama kan? Aku bisa melakukan ini juga padamu." Mash ditengah kenikmatan masih bisa memikirkan keadaan kawannya. Tubuh Finn terdorong pelan, membuat si empunya menahan tubuh dengan satu tangan di belakang juga tanpa sengaja membuka kaki dan tonjolan diantara selangkangannya jadi sangat ketara. 

 

"Aku mau membantu Finn juga." Mash menyentuh tonjolan itu, berusaha selembut mungkin hingga desahan kecil lolos dari bibir Finn. 

 

“A-ahh, tunggu-” Finn berusaha menghentikan tangan Mash, namun berhenti mencoba ketika keseimbangannya hampir hilang. Remaja itu memilih untuk menggigit bibir menahan desah. Kedua matanya mengikuti tangan Mash yang menurunkan celana dan mengeluarkan penisnya dengan hati-hati, seolah memegang benda pecah belah.

 

"Nghh~ t-tunggu-" Dengan satu tangan, Finn menurunkan celana tidurnya lebih jauh, membebaskan satu kaki dan membiarkan celananya tergantung di kaki lainnya. Remaja itu menekuk lutut dan melebarkan kaki, membiarkan Mash menyentuh bagian sensitif yang belum pernah dijamah orang lain. Cairan bening mulai muncul di ujung penis Finn yang membengkak.

 

"M-Mash- uhh~ coba tiru apa yang kulakukan." Finn menggerakkan jarinya perlahan, melepaskan genggamannya, menjalankan jarinya ke seluruh permukaan batang penis Mash hingga pangkal, kemudian kembali menggenggam batang itu, bergerak dari bawah ke atas, kemudian mengusap kepala penisnya dengan ujung jari telunjuk, mengitari lubang yang berdenyut di puncak.

 

"Ka-kalau begini- ahh~ a-apa ini enak?”

 

Nafas Mash semakin berat, kepalanya jadi pusing karena sentuhan demi sentuhan Finn pada organ intimnya. Pun dirinya malah menurut, melakukan gerak serupa pada penis Finn dalam genggamannya. Sementara bungsu Ames itu masih bersikeras menahan desahan, ia malah teramat jujur mengatakan segalanya. 

 

"Finn, ini enak- mhhh~ tangan kamu enak banget- ahh. Kamu- ngerasa enak juga gak? Kalau ada yang gak enak tolong bilang ya aku harus gimana." Finn hanya menggeleng. Ia tahu Mash bukan tipe pelajar yang cepat tanggap. Namun untuk hal ini, dia sungguh heran kenapa Mash justru lebih lihai walau belum 15 menit berlalu sejak dia mengajarkan hal ini pada Mash. Terbukti dari tekukan jari-jari kakinya yang makin dalam, juga beberapa kali desah yang berhasil lolos dari bibirnya.

 

Finn membuka mata yang entah sejak kapan tertutup dan mendekati Mash. Ia meneguk ludah, mempertimbangkan untuk beberapa saat kemudian bergeser maju, mempersempit jarak di antara mereka hingga penis mereka saling menyentuh. Suara napas yang berat dan cepat seolah menyerang telinga Finn, membuatnya turut melepas desah. 

 

"F-Finn? Ini-?" Suaranya tertahan saat penisnya dan milik Finn bersentuhan. Lelaki Ames itu tidak menjawab, kini dalam genggamannya menggesekkan miliknya dengan milik sang kawan. Meloloskan desahan tertahan yang membuat tubuh keduanya semakin panas dan gemetar. Mash tapi nampak khawatir, Finn tidak merespon pada apapun yang ia ucapkan. Takut-takut jika sebenarnya Finn sama sekali tidak menyukai ini. 

 

"F-Finn? Apa kita berhenti aja? Please bilang kalau kamu gak nyaman- mmhh?!?!" Ucapannya terhenti saat bibirnya dibungkam oleh bibir lain, tentu saja itu Finn. Ia berkedip, menatap wajah yang memejamkan mata dihadapannya. Yang mulai melumat lembut bibirnya sementara Mash dengan bodoh hanya diam tak membalas. Kebingungan.

 

Finn mempertahankan sentuhan bibir mereka cukup lama, hingga akhirnya memisahkan diri dengan wajah yang lebih merah dari sebelumnya.

 

“Ahh, ma-maaf.” Apa yang baru saja dia lakukan? Finn bahkan tidak yakin Mash menyukainya, tapi reaksi tubuh Mash- tidak, bisa jadi ini karena faktor biologis saja tanpa hal romantis. Finn kembali meneguk ludah. Tangannya mencari tangan Mash untuk dia tangkupkan di atas penis mereka bersama, kemudian dia arahkan untuk bergerak bersama. 

 

“R-rasanya lebih enak kalau sambil u-uhhh menempelkan bibir seperti tadi- ka-kalau Mash tidak keberatan, tentunya.” Remaja kurus itu berusaha mencari alasan, mendekatkan wajah mereka, berharap Mash mau menerima ajakannya. Pinggulnya tidak berhenti bergerak untuk menggesekkan penis dalam genggaman tangan mereka.

 

"Itu tadi 'ciuman' kan? Apa Finn baik-baik saja- menciumku?" Mash balik bertanya. Jujur tadi sedikit kecewa saat tautan bibir mereka terlepas. Dia- senang? Merasakan bibir lembut Finn menyentuh miliknya dan menghisapnya lembut seperti tadi. Mash ingin lagi-

 

"Aku tidak keberatan sama sekali. Finn bisa melakukan apapun padaku- kalau dengan Finn aku-" Ada jeda diantara ucapannya yang ragu-ragu juga konsentrasi yang sedikit kacau karena kegiatan yang mereka lakukan. Lengan Mash kini memegangi pinggul Finn yang sibuk bergerak karena menggesek penis mereka, "-aku suka.”

 

Ah. Ternyata meski tidak tahu soal masturbasi, Mash mengerti tentang ciuman. Finn sempat takut Mash akan membencinya karena sembarangan menciumnya, namun kalimat berikutnya lebih dari yang Finn harapkan. Mash kembali menempelkan bibir mereka, membuat Finn reflek melumatnya dengan lembut dan hati-hati. Namun tak lama, Mash kembali melepaskan ciuman mereka. Mengundang tatapan penuh tanya dari sosok dalam rengkuhannya. 

 

"Ini enak, Finn- tapi aneh- maaf tapi ahh- sepertinya aku harus ke toilet." Mash bergerak cemas diantara pijatan dan gesekan yang makin liar antara penisnya dan milik Finn. Namun Finn malah semakin gencar memijat dan menggerakkan pinggulnya dalam cengkeraman Mash. Nafas Mash memberat, ia ingin menahan sesuatu yang hendak keluar dari penis kerasnya namun Finn seolah tak mengijinkannya pergi. 

 

"F-Finn, aku harus ke toilet- aku mau pipis- a-ahhh hhhh~" Mash masih berusaha menahan walau sedikit cairan sudah keluar dari lubang penisnya- dia tidak mau mengencingi teman kesayangannya ini.

 

Finn hanya menggeleng, menolak permintaan Mash sebab merasa sebentar lagi akan klimaks. Terlalu nikmat untuk dihentikan sekarang.

 

“J-jangan sekarang- ahhh~ kamu- bisa pipis disini saja” Finn mempercepat gerakannya pinggulnya, merasakan penis Mash berdenyut mengeluarkan cairan. Finn mengerjapkan mata dan menjilat bibir, kemudian melepaskan spermanya mengotori pakaian tidur mereka berdua.

 

Terengah menarik napas, Finn melepaskan penis mereka dari genggamannya kemudian mengubah posisi. Remaja itu menundukkan kepalanya, menempelkan penis Mash yang panas di pipinya yang lembut, kemudian mendongak menatap teman sekamarnya.

 

"Maaf, sepertinya terlambat untuk ke toilet- keluarkan di mulutku saja ya?"

 

Finn merasa bersalah membiarkan teman tersayangnya menahan kencing terlalu lama demi memuaskan dirinya sendiri. Segera setelah memberikan permintaan maaf, Finn memasukkan penis Mash ke dalam mulutnya.

 

Gila. Mash membelalakkan matanya saat penis besarnya melesak masuk ke mulut hangat Finn. Dia tak bisa menahan lagi, menumpahkan seluruh hal yang ditahannya sejak tadi di mulut Finn. Merasa bersalah saat melihat kawannya itu meneguk seluruh cairan yang ia keluarkan. Terlalu banyak sampai lolos dari bibir mungil yang masih mengulum penisnya. 

 

"F-Finn- maafkan aku. Cukuphh- jangan ditelan- itu kotor kan?” Mash malah reflek menarik- menjambak surai hitam dengan separuh poni piran itu. Membuat suara erangan terdengar dan Mash merinding lagi mendengarnya. 

 

Finn mengeluarkan penis Mash dari mulutnya. Terdengar bunyi basah erotis dan tautan liur yang bercampur dengan cairan aneh -menurut Mash-, pikirnya itu kencing tapi teksturnya berbeda. Jadi sebenarnya apa yang dia keluarkan tadi? 

 

Mash meneguk liur saat memperhatikan lagi penampilan Finn saat ini. Berantakan, berkeringat, bibir basah mengkilap karena saliva dan cairan lengket dari penisnya, menatapnya balik dengan wajah sayu yang merona. 

 

Finn meneguk cairan yang keluar dengan susah payah karena jumlahnya yang banyak, terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan penis Mash dari mulutnya. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Lidahnya menjilati sisa cairan yang menempel di penis dalam genggamannya.

 

1. Mash entah mengapa memimpikan dirinya.

2. Mimpi itu membuat penis Mash menegang.

3. Mash tidak mengerti bagaimana caranya masturbasi.

4. Finn memutuskan untuk membantu.

5. Terlalu memalukan untuk diingat kembali.

6. Terlalu memalukan untuk diingat kembali.

7. Mash mengatakan ingin pipis.

8. Terlalu memalukan untuk diingat kembali.

9. Finn memutuskan menampung kencing Mash di lokasi terdekat karena khawatir mengotori kasur.

10. Saat ini 

 

Oh. OH!! 

 

Finn memandangi penis di tangannya, menjilat sisa cairan di bibirnya, kemudian mendongak menatap Mash yang sama terkejutnya. 

 

"Mash, ini bukan pipis-"

 

"Finn- boleh cium?" Otaknya tidak memikirkan kata-kata itu. Itu murni keinginan tubuhnya yang berbicara. Finn tidak menjawab namun rona diwajahnya seolah menandakan persetujuan. Lengan kekarnya menangkup sebelah pipi Finn, mengelusnya sebentar sebelum membawanya mendekat dan menempelkan bibir mereka berdua. Dia belajar dari apa yang Finn lakukan tadi. Hisap dengan lembut, lumat dengan lembut juga. Hasilnya adalah desahan dari Finn juga cengkeram erat pada bagian dada piyama Mash. 

 

Lidah Finn terasa mendorong belahan bibirnya, kali ini dia kebingungan lagi. Namun bibir yang terbuka membuat lidah Finn menerobos masuk, membelai semua bagian dalam mulut Mash. Menyapu langit-langit dan seluruh deretan giginya dan berakhir membelit lidah Mash. 

 

Reflek tangan Mash beralih pada punggung Finn, mengusapnya lembut sambil menikmati perilaku kawannya itu. Dengan canggung, Finn memperdalam ciuman mereka, menggerakkan lidahnya yang gemetar di dalam mulut Mash sebisanya. Kedua tangannya bergerak untuk mengalungkan tangan pada leher Mash lalu menariknya untuk merapatkan tubuh mereka.

 

Desahan keluar dari keduanya ketika penis mereka kembali bergesekan. Finn melepaskan ciuman mereka dengan enggan. Dirinya masih menginginkan kontak ini berlanjut, tapi sebagai teman, Finn tetap perlu menjelaskan.

 

"Ma-Mash."

 

Finn mendorong dada Mash ketika remaja di depannya berniat memperbarui ciuman mereka. Finn menggeliat, kemudian menunjuk pada kotoran di pakaian mereka.

 

"-yang keluar barusan bukan pipis. Ini sperma- hmmm, kalau keluar ini- berarti kamu bisa jadi ayah dan punya anak." Bahkan setelah apa yang mereka lakukan, entah kenapa menjelaskan hal ini kepada teman yang berusia sama masih terasa memalukan. 

 

"Jadi- kalau belum siap berhati-hatilah." entah kenapa rasanya agak menyedihkan, membayangkan Mash melakukan hal seperti ini dengan orang lain-

 

Diatas kepala Mash seolah ada tanda tanya besar. 'Jadi anak manusia muncul dari cairan ini?' Pikirnya. 

 

"Hati-hati ya? Eh- eh? Finn- apa kamu akan punya anak dariku karena kita melakukan ini? Jadi kamu akan hamil?" Tanyanya serius. Wajahnya kini menatap wajah Finn bergantian pada perut temannya yang masih terlihat karena piyama yang tersingkap. 

 

"Aku- akan tetap mati setelah ini. Pasti Rayne akan membunuhku kalau tau aku yang membuatmu hamil. Lalu anak kita jadi tidak punya ayah- ah, tidak. Aku akan melawan Rayne. Aku tidak mau kalau anakku tidak punya ayah.”

 

"E-eeh kenapa nama kakak muncul? Nggak, kamu nggak bakal mati! Jangan lawan kakakku! Aku nggak mau kakak atau kamu mati!" Tanpa dapat ditahan, Finn meninggikan suara karena terkejut, takut bila Mash betul-betul menjalankan rencananya. 

 

"A-aku nggak akan hamil- Laki-laki nggak bisa hamil. Lagi pula spermamu nggak masuk- e-ehh- uhhhh, lupakan!” Finn rasanya ingin menampar diri sendiri karena ucapan dan pemikirannya barusan. 

 

"Po-pokoknya, caranya begitu! Dan, yang bisa hamil cuma perempuan, seperti Lemon atau Nona Meliadol, ja-jadi hati-hati. Pokoknya harus hati-hati.”

 

"Tapi aku nggak mau sama Lemon-chan apalagi Nona Meliadoul. Mereka menyeramkan." Tangan Mash beranjak, kini menyentuh perut Finn dan mengusapnya lembut. "Kalau Finn tidak bisa hamil- berarti tidak apa-apa kalau spermaku masuk ke tubuh Finn?" Mash bertanya polos, sebenarnya sedikit penasaran dengan penjelasan Finn tadi.

 

"Ngh! A-ah itu-"

 

Masuk? Mash mau spermanya masuk ke tubuh Finn? Bolehkah? Bolehkah Finn melakukan hal ini pada Mash yang tidak mengerti apa-apa? Finn tidak polos, meski belum pernah disentuh dan menyentuh siapa pun sebelum ini, Finn mengerti bagaiman sex diantara dua pria, bahkan diam-diam ia sering memainkan lubang analnya untuk memuaskan diri. Remaja itu menarik napas, kemudian menyentuh tangan Mash yang berada di perutnya.

 

"A-apa Mash yakin, mau masuk k-ke dalamku?”

 

"Aku penasaran- memangnya bisa aku masuk? Masuk lewat mana?" Tangan Mash masih mengelus perutnya. Kini ibu jarinya memutari pusarnya, sedikit menekannya hingga Finn melenguh. "Kalau memang tidak bisa jangan memaksakan diri. Aku cuma penasaran saja-”

 

"Bi-bisa- kamu bisa masuk ummm- lewat analku-" Finn kembali melebarkan pahanya, melepas pegangannya dari tangan Mash, kemudian menarik dua belah pantatnya ke arah berlainan. Lubang sempit itu berdenyut, terlihat jelas di antara jari-jari Finn yang melebarkannya.

 

“K-Ke sini-” Mash meneguk liur, memperhatikan lubang berkerut yang kemerahan dan sedikit basah. Lubang serapat itu? Mash melirik ke arah penisnya sendiri kemudian, "M-memangnya muat?" Tanyanya ragu-ragu. Bisa-bisa dia membunuh Finn karena memasukkan penisnya secara paksa kesana. Dia tidak mau teman baiknya mati konyol- KARENA PENIS BESARNYA. 

 

"A-Apa jalan masuknya memang hanya dari sini?" Tanyanya lagi sambil menyentuh bibir anal Finn dengan telunjuknya dan menelusuri cincinnya selembut mungkin.

 

"Nghhh~ Ma-Mash-" tangan gemetar Finn turun meraba keberadaan jari panjang Mash, menuntunnya untuk masuk ke lubang di pusat cincin otot. "M-muat- aku uhhh- aku biasa masukkan 4 jari ke dalam-"

 

Tangan Finn mendorong ujung jari telunjuk Mash untuk masuk hingga tekukan kedua, dinding analnya menghisap mengajak jari itu untuk masuk lebih dalam. Melihat keraguan di wajah Mash, Finn menggerakkan tangan kanannya, memasukkan dua jari sekaligus bersama dengan jari telunjuk Mash. Remaja itu melebarkan dua jari di analnya, memperlihatkan liang yang basah dengan sisa pelumas yang berkilat di bawah cahaya. Genggaman tangan kirinya pada pergelangan tangan Mash masih belum dia lepaskan, memandu jari temannya keluar masuk.

 

"Tadi- sebelum tidur pun aku melakukan ini- ahh~ rasanya enak waktu dipenuhi begini- a-aku selalu membayangkan mmmh~ diisi sesuatu yang lebih besar dari jari." Mata berairnya menatap penis Mash yang mulai membesar, kemudian menatap ke wajah Mash yang kaku. 

 

"Aku mau- haaa~ mau penis Mash masuk-”

 

"A-Apa Finn sering begini?" Kalau diingat-ingat, kadang sekilas dia melihat tubuh Finn bergerak gelisah didalam selimut. Suara memekik tertahan dan nafas tersenggal juga sering Mash dengar dibalik gundukan selimut yang menutupi tubuh Finn. Dia pikir Finn mungkin bermimpi buruk, sesekali dia akan memanggil nama Finn bila itu terjadi- pikirnya kawannya pasti perlu dibangunkan untuk menghentikan mimpi buruknya. Dia hanya tidak tahu jika sebenarnya Finn melakukan hal lain yang belum dia mengerti. 

 

Kini jarinya mengikuti arahan Finn. Bergerak keluar masuk seirama dengan dua jari Finn didalam analnya. Jika 4 jari Finn muat disana, bagaimana kalau dia menambahkan satu lagi? Ketika dia lakukan, desahan Finn semakin menjadi- apalagi jarinya malah semakin terpacu untuk bergerak lebih cepat. Seolah desahan itu adalah penyemangat. 

 

"Kalau penisku benar muat didalam sini, bagaimana kalau kumasukkan sekarang?" Ia minta ijin yang disetujui oleh anggukan lemah kawan sekamarnya.

 

Rasanya seperti sedang mengotori sesuatu yang bersih, seperti mengajarkan hal tidak baik pada anak kecil. Finn mengangguk, mengeluarkan dua jarinya, mendesah ketika melewati prostatnya. Ia menggapai penis besar Mash yang bengkak, mengarahkan organ itu pada lubang anal Finn yang berdenyut, terburu ingin diisi dan tanpa ragu mulai menghisap ketika kepala penis Mash menempel pada bukaan analnya. 

 

"-masukkan, kumohon- mmmh b-bantu aku.” Kepala penis yang sudah masuk membuatnya menahan nafas. Desahan dan rengekan Finn membuat Mash terpicu untuk melesakkan penisnya lebih dalam. Maka dalam satu hentakan dia masukkan seluruhnya hingga menyentuh ujung anal Finn. Membuat si empunya lubang memekik keras sambil mencengkeram lengan Mash hingga menancapkan kukunya, melukai lengan berotot itu walau Mash tak merasakan apapun dari luka kecil itu. 'Apakah sesakit itu?' Pikirnya penuh sesal. 

 

"Maafkan aku, Finn- ahh~ ini- lubang Finn mencekik penisku. Maafkan aku- kamu jadi kesakitan. Akan kukeluarkan-" Mash yang berusaha bergerak malah membuat Finn makin keras melenguh, cengkeramannya juga semakin erat. Membuat Mash makin ketakutan jika ia menyakiti Finn.

 

"Nghhh~ aahhh ja-jangan! Jangan keluar- uuhhh~ lagi- Mash, bergerak saja- ngghh~” Mendengar ucapan Mash, Finn segera mengalungi leher si kepala jamur dengan kedua tangan lalu menariknya mendekat. Finn bisa merasakan penis di dalamnya memenuhi seluruh liangnya, bergerak mendesak melebihi tempat yang bisa diraih oleh jarinya. Dinding rektumnya bergerak memijat dan meremas, seolah meminta lebih hingga membuat Finn merasa malu atas keadaannya sendiri.

 

Sepasang kaki ramping bergerak dan saling bertaut di belakang punggung Mash, menolak untuk lepas. Penisnya menggesek kain yang menutupi perut Mash, menodai pakaian sang kawan dengan precum di ujung kejantanannya. 

 

“A-ahh iyahhh begitu- Mashhh- sangat enak~ ngghhh~” Finn berusaha meredam desahan yang memalukan dengan menciumi leher Mash, membisikkan pujian dan menyatakan betapa nikmatnya apa yang dia lakukan di sela napas yang tersengal. Bibir mungil Finn menjelajah naik, menciumi dagu kemudian menemukan bibir Mash dan melumatnya dengan lembut.

 

Desahan yang teredam bibir membuat Mash menyimpulkan jika Finn baik-baik saja. Jika Finn ingin lebih- tunggu, dia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bergerak? Mungkin gesekan seperti sebelumnya bisa membantu. Atau hentakan seperti di awal tadi? 

 

Mash memutuskan pilihan kedua, ditariknya sedikit penis yang terpijat erat dari dalam anal Finn. Kemudian memasukkannya lagi sekali hentakan, begitu terus sampai Finn terpaksa melepaskan ciuman. Di tiap hentakan matanya akan memutar hingga putih seluruhnya atau terpejam rapat- meringis. Namun bibirnya yang mendesah masih berbisik "-lagii- enakhh~" Dan Mash tentu menuruti kemauan itu. Dia juga menikmati penis yang dipijat oleh lubang rapat sahabatnya. 

 

"Finn- benar, i-ini enak. Ahh- maaf, sepertinya aku mau keluar lagi-" Disela nafas yang sama tersenggalnya, Mash seperti berusaha menahan lagi keinginannya untuk mengeluarkan sesuatu.

 

Finn sudah tidak dapat berpikir lagi, saat ini tubuhnya bergerak hanya mengikuti naluri, kata-katanya pun keluar tanpa dipikir.

 

"M-Mash- hahh~ lagi- begitu terus nghh~”

 

Pinggulnya bergerak mengejar nikmat, merasakan penis di dalamnya berdenyut, merasakan penisnya sendiri terus menggesek tubuh Mash yang kekar. 

 

"Di dalam- keluarkan di dalam- nghh~ enaaakk~ kumohon isi- ahh~ isi aku sampai penuhh aah! Aaah! Mash!" 

 

Ingin lebih lama seperti ini, tapi juga ingin segera mencapai puncak kenikmatan. Finn sudah tidak dapat mengendalikan diri, dipacunya tubuhnya, penisnya sendiri sudah mengeluarkan cairan, berdenyut kencang. Finn dengan tergesa mengembalikan mulutnya untuk bertemu dengan Mash, melepaskan hasratnya di antara tubuh mereka yang berdempetan dan meredam teriakannya di rongga mulut mereka yang terhubung.

 

"Aku ahh- keluar, Finn- mhh" Bibirnya yang dibungkam lagi oleh Finn membuat klimaksnya tiba. Sesuai permintaan Finn, Mash keluarkan seluruh spermanya dalam anal Finn. Lebih banyak dari sebelumnya sampai sekilas dia lihat perut Finn tampak membuncit. Mash jadi terpikir soal pembicaraan mereka sebelumnya. Bagaimana jika Finn ternyata bisa hamil? Mash malah merona membayangkan itu. 

 

Entah apa yang merasukinya, tangannya kini menggenggam penis Finn. Merasakan benda itu berdenyut, mungkin saja sesuatu akan keluar juga dari penis mungil itu. Mash memijatnya lembut, mengocoknya sedikit dan desahan Finn dalam ciuman mereka semakin keras.

 

"Aaah? Ja-jangan dipegang~ nggh- ah, se-sekarang aku jadi sensitif~ ahhh~" Finn menggerakkan tubuhnya semakin cepat, merasakan sperma Mash memenuhi lubangnya, merasakan panas yang tidak dapat diredakan dari dalam tubuhnya. Finn kembali menempelkan bibir mereka, memohon pada Mash untuk meredam suaranya. Cairan putih encer kembali menyembur dari penisnya yang gemetar, mengotori tangan Mash.

 

Bungsu Ames itu menghentikan ciuman, membiarkan air liurnya menetes ketika dia bernapas dengan mulut. Sepasang bola matanya melirik ke bawah, melihat bagaimana dia telah mengotori tangan kawan sekamarnya. Tetapi anehnya, meski merasa bersalah, Finn justru puas, seolah dengan itu dia sudah menandai Mash sebagai miliknya. 

 

Perutnya yang menyembul dan organ panas yang berdenyut dalam lubangnya mengingatkan Finn bahwa Mash masih berada di dalam tubuhnya. Finn mengintip wajah Mash dengan mata setengah tertutup, mengamati bagaimana peluh mulai muncul di wajah tampan itu.

 

‘Padahal biasanya dia tidak berkeringat meski lari sejauh apa pun.’

 

Entah mengapa, Finn merasa bangga. Dijulurkan lidahnya untuk menjilat sisi wajah Mash yang basah sembari mengencangkan pelukannya.

 

"Hhhh- F-Finn- sudah-?" Nafasnya memburu- sama dengan rekannya yang kini sibuk menjilati aliran keringat diwajahnya. Sedikit kebingungan dengan tingkah Finn yang tidak biasa tapi sesungguhnya dia menyukai Finn yang seperti ini. 

 

Telapak tangannya terasa lengket, karena tubuh Finn yang mendekat namun terasa lemah- Mash jadi membawa lengket itu untuk memegangi pinggul kawannya agar tidak tumbang. 

 

"Finn, geli-" Ucapnya lagi saat lidah Finn kini menjelajahi lehernya. Sementara tangan Finn sibuk membuka satu demi satu kancing piyama Mash dan berakhir memperlihatkan tubuh atletisnya. Tangan yang lebih kecil meraba seluruh kulit kencang berotot milik Mash- hal yang sudah lama membuatnya penasaran. Finn jujur saja sejak dulu ingin tahu bagaimana rasanya bersentuhan dengan otot-otot yang selalu terbalut dalam bodysuit itu.

 

Finn menempelkan tangannya pada tubuh Mash yang telanjang, membelai kulit dan merasakan gerakan otot di bawahnya.

 

"Mash- rasanya panas kan? Lagian nanti baju kita tambah kotor- lepas saja ya?" Tangan ramping itu memegangi ujung pakaian Mash, membantu remaja berambut hitam itu untuk menanggalkan pakaian. Finn bisa melihat leher Mash bergerak menelan ludah, dan menahan senyum. Kedua tangan Finn kini sibuk membuka kancin piyamanya sendiri, perlahan menurunkan kerah piyama, turun melewati bahu dan tangannya. Sepasang mata emas yang menatapnya membuat Finn bergidik, namun juga senang.

 

"-aku, masih mau lagi." Remaja manis itu berkata, meletakkan kedua tangannya di bahu Mash, membelai lembut tubuh yang terbuka. Pinggulnya bergerak pelan, membuat penis Mash yang tertancap di dalam ikut bergerak. Finn bisa merasakan organ itu kembali menegang di dalamnya.

 

"Boleh?"

 

Lagi? Tanpa diminta sebenarnya Mash berniat menanyakan hal yang sama. Kepalanya mengangguk kaku- sejujurnya masih bertanya-tanya memangnya boleh mereka berbuat begini? Masa bodoh juga, kalaupun tidak boleh dia terlanjur menikmati apa yang ia perbuat. 

 

"Kalau begitu- apa aku boleh menyentuhmu juga? Begini-?" Ganti tangan kekarnya yang menjelajahi tubuh telanjang Finn. Dari pinggang, ia meraba naik, perlahan menuju punggung- membelainya sebentar hingga terasa tubuh dalam dekapannya gemetar. Kemudian ke depan- berakhir menyentuh dua puting yang menegang. Memainkannya dengan ujung jempol kemudian mencubitnya lembut dengan gemas hingga desahan lolos dari bibir merona Finn. "Apa aku sudah menyentuhmu dengan benar? Tolong katakan kalau Finn tidak menyukainya- aku akan berhenti”

 

"Ngh! B-benar begitu ahh~ a-aku suka.” Finn sebetulnya malu bertingkah dan berkata seperti ini, rasanya ingin pingsan saja, tapi tiap sentuhan Mash seperti menyalakan api pada tubuhnya, panas, namun rasa panas ini terlalu nikmat untuk dihentikan. Finn menyandarkan kepalanya di bahu Mash, melihat bagaimana tangan kekar itu mempermainkan tonjolan di dadanya. Kulit yang keras pada ujung jari Mash menggesek putingnya dengan sangat hati-hati, namun dengan tekanan yang cukup untuk membuat Finn terus mendesah. Kedua tangan Finn menggerayangi tubuh kekar itu, membelai deretan otot yang terlatih di lengan atas Mash, menekan dan memijat di area punggung dan pinggang. 

 

"Ah!!" Finn memekik kaget ketika organ di dalamnya membesar dan mengeras, membuat remaja mungil itu menggerakkan tubuh bawahnya, mencari posisi. Mulutnya ditempelkan pada leher teman sekamarnya, berusaha meredam suara dengan cara menggigit dan menjilat bagian tubuh di hadapannya.

 

"-keras lagi? A-ahh- Finn, lubangnya jadi sempit lagi-" Merasakan pijatan yang merapat pada penisnya yang tegang lagi membuat Mash sedikit takut jika sentuhannya membuat Finn tidak nyaman. Namun desahan yang teredam oleh gigitan pada bahunya membuat pikirannya teralihkan. Mungkin dia harus bergerak- seperti sebelumnya. Maka tanpa melepas permainan dari puting Finn, tubuh bagian bawahnya bergerak lagi. 

 

"Finn- apa aku harus bergerak lagi? A-aku harus apa- ahh~ ini makin sempithh-" Mash tidak bohong, anal Finn menjepit penisnya semakin erat. Memintanya hingga mereka sama-sama mendesahkan nama satu sama lain. Gesekan penis Finn yang panas di perut telanjangnya seolah menghantarkan panas serupa.

 

"A-ah~ maaf, aku- uhh~ baru pertama kali seperti ini- aahh~" Finn menciumi leher dan sekitar tulang selangka Mash, berusaha mengalihkan perhatiannya dan menenangkan diri. Tidak cukup. Finn menginginkan lebih. Finn mendongak, melihat ekspresi di wajah Mash yang belum pernah dilihat sebelumnya. Ah, Mash terlihat tersiksa, Finn harus segera melonggarkan cengkeramannya. Finn mulai menciumi pipi dan berbisik di bibir Mash.

 

"Maaf, aku berusaha uhhh lebih longgar ghh-” Finn menurunkan tangannya, membelai penisnya sendiri, berusaha agar tidak meremas penis Mash terlalu kencang, dan mulai menjilat bibir remaja di depannya.

 

Mash sedikit lega ketika lubang yang mencekik penisnya melonggar. Dengan begitu dia menjadi lebih bebas bergerak tanpa perlu menyakiti Finn dengan bergerak paksa. Pinggulnya bergerak lagi menghujam anal Finn, pelan hingga mulai tak sabaran sebab bibir Finn yang menjelajahi bibirnya sekolahnya menambah rangsangan. 

 

Reflek ia mendorong tubuh yang lebih kecil, membuat tubuh Finn jatuh terlentang di bawah kungkungannya. Kaki Finn yang melilit pinggangnya tadi kini menyingkir, bergerak sendiri atau entah siapa yang lebih dulu memposisikan diri sebab kini kedua kaki kurus itu bersarang di bahu Mash. Sementara Mash makin merapatkan tubuh dan kembali menghentakkan penisnya lebih dalam ke tubuh Finn hingga lelaki Ames itu menjeritkan namanya berulang kali.

 

Finn merasakan gerakan Mash semakin cepat dan dalam setelah perubahan posisi mereka. Mulutnya tidak berhenti memanggil nama kawan sekamarnya dengan nada memohon. Tangannya mencari pegangan pada lengan kekar yang mengurungnya di kasur.

 

"Ma-Mashh! Ahhh~ dalam sekali- ahh~” Satu tangan Finn terjulur, berusaha menarik kepala Mash mendekat. "Ci-cium aku-”

 

Mungkin kejam membuat Mash terus memberikan ciumannya yang berharga sementara terbawa suasana. Tapi mereka sudah berbuat sejauh ini, dan Finn ingin merasakan menjadi pasangan yang Mash cintai saat ini.

 

Permintaan Finn tidak dapat dia tolak. Mash menautkan bibir mereka berdua entah untuk keberapa kalinya sejak mereka saling bersentuhan. Mulai memahami bagaimana bibir dan lidahnya harus bergerak untuk mendapatkan lenguhan penuh nikmat dari teman sekamarnya. Lidahnya melesak masuk disela hisapan terburu untuk beradu dengan lidah Finn. Saling melilit dan bertukar liur. Sementara penisnya tak berhenti menumbuk prostat Finn. Membuat tubuh kurus dibawahnya melengkung naik tiap hentakan keras dilakukan oleh Mash. 

 

"F-Finn- ahh-" Nafas tersenggal diantara keduanya saling bersahutan saat ciuman terlepas. "Penismu- basah lagi- apa begini? Akan kubantu seperti tadi." Tangan kekar Mash kini menggenggam penis Finn di tangan, mengocoknya senada dengan hujaman di anal. Membuat Finn menggeliat tak karuan sambil terus menyebut nama Mash. "Aku tidak bisa berhenti-”

 

"Ja-ngan- jangan berhenti nggh~ aku suka.” Dinding rektum Finn terus meremas, menikmati panas dan gesekan yang diberikan oleh penis Mash. Finn kembali mendekatkan kepala mereka, memberikan puluhan ciuman setiap kali dia selesai mengambil napas. Lidah mereka terus bertemu, bahkan meski bibir mereka terpisah dengan napas terengah.

 

Finn menggesekkan tubuh bagian atas mereka bersama dengan ciuman yang terus berlanjut, tangannya menjelajahi punggung Mash, berusaha menjamah permukaan kulit sebanyak yang dia bisa. Tangan Mash yang besar dan hangat terus bergerak di penisnya dan Finn sungguh bersyukur Mash ingat untuk mengendalikan kekuatan tangannya.

 

"Mash- Aku hahhh~ Aku keluar lagi- ngghh~” Finn menjerit di sela ciuman, namun sempat mempertemukan kembali mulut mereka sebelum suaranya bergema makin kencang di tengah malam. Bersamaan dengan itu, cairan putih menerobos keluar dari penis Finn, membasahi tangan Mash.

 

Tak lama, giliran Mash memenuhi tubuh Finn dengan spermanya. Membuat Finn merasakan kehangatan tiba-tiba dalam tubuhnya, sama seperti sebelumnya. Ciuman mereka masih berlangsung, masih saling melumat dan menghisap bibir masing-masing. Terlepas karena kebutuhan oksigen yang mendesak. Tubuh Mash menjauh, dia perhatikan lengannya yang kini basah karena sperma Finn. Membuatnya ingat jika sebelumnya Finn menelan mentah-mentah spermanya. 'Bagaimana rasanya?' Otaknya berbisik, seolah menyuruhnya mencoba kemudian lidahnya terjulur untuk mencicipi sperma yang berceceran di tangannya. Mengundang tatapan lemah kawannya yang memperhatikan, seolah melarang namun tak punya cukup tenaga untuk bicara. Hanya menggeleng sambil menatap Mash yang sibuk menjilati tangannya dengan erotis.

 

Wajah Finn rasanya seperti terbakar. Menyaksikan Mash menjilati spermanya membuat Finn merasa ingin menyembunyikan wajahnya dan menghilang saat itu juga. Jika Finn memegang tongkatnya, pasti dia akan berpindah tempat dengan segera.

 

Tapi yang dia pegang adalah tubuh Mash, dengan penis di dalam lubang analnya. Finn hanya bisa menatap dengan malu, merasakan dorongan baru dalam tubuhnya dan tanpa sengaja kembali membuat rektumnya berkontraksi.

 

Mulut yang biasanya sibuk menguyah kue sus itu kini tanpa ragu menjilat dan menelan spermanya, membuat Finn merasa diinginkan. Finn akhirnya menemukan kembali tenaga untuk membuka mulut setelah berkali meneguk ludah.

 

"Jangan- itu, kotor-”

 

"Hmm? Tapi tadi Finn juga menelan punyaku- rasanya tidak buruk." Mash masih menjilati tangannya. Kemudian kini menyodorkan tangannya pada Finn, "Finn mau juga?" Tanyanya polos, seperti menawarkan permen. 

 

"Dan- hmmm? Apa kita sudah selesai? Apa aku harus menarik penisku keluar sekarang?”

 

“T-tunggu, aku masih- uhhh.” Finn berusaha mengabaikan bagaimana penis di dalamnya bergerak saat dia berubah posisi dan mengangkat tubuh bagian atasnya dari kasur. Satu tangannya menggapai tangan Mash yang masih terjulur, kemudian tanpa mengatakan apapun, Finn membuka mulut dan mulai menghisap sisa cairan di jari Mash. Lidah merah yang hangat menyusuri tiap senti jari, sesekali menghisap dan tidak melewatkan bahkan tetesan cairan di sela jari. Finn mengulum tiap jari, merasakan gesekan kulit yang kasar di lidahnya, kemudian melepaskan jari terakhir dengan jilatan lambat yang panjang.

 

"Mmm~ sudah bersih." Gumam Finn, memberikan kecupan di ujung jari Mash. Tubuh mungilnya bergerak, menjauh untuk melepaskan penis Mash dari kurungan lubang analnya. Finn mendesah ketika bagian kepala penis yang besar tersangkut dan menekan prostatnya. Dengan tarikan napas panjang sembari menggenggam tangan Mash, Finn akhirnya mengeluarkan seluruh penis Mash, bersama dengan sperma yang mengalir keluar mengikuti.

 

Finn dengan cepat menutup bagian luar lubangnya dengan satu tangan, khawatir akan mengotori kasur lebih banyak, dan mencegah rasa kosong di analnya yang masih berdenyut. Remaja itu menekan bukaan analnya dengan ujung jari, berharap cairan itu bertahan di dalam setidaknya sampai besok pagi. 

 

"-sudah, se-sebaiknya kamu kembali ke kasurmu dan tidur. Aku juga akan tidur lagi-”

 

"Kamu tidak apa apa? Butuh bantuanku? Butuh sesuatu?" Mash memperhatikan Finn yang tampak lemas dan payah. "Maaf karena membuatmu repot malam malam begini. Tolong katakan kalau kamu butuh sesuatu." Mash menyentuh pundak Finn, menyadari jika tubuh kecil itu masih gemetar dan terasa panas. 

 

"Finn- sungguh, maafkan aku." Mash memeluk tubuh Finn yang membelakanginya. Benar-benar merasa bersalah atas kondisi Finn saat ini.

 

"-bukan- a-aku baik-baik saja sungguh.” Finn memasrahkan tubuhnya untuk bersandar di dada Mash, merasakan hangat yang menyebar dari punggungnya ke seluruh tubuh. Biasanya Finn akan cukup puas dengan sekali klimaks, namun malam ini berbeda. Karena pertama kali berhubungan seksual sungguhan? Atau karena Mash adalah pasangannya? Finn tidak bisa memastikan. Yang dia tahu, saat ini tubuhnya sedang sangat sensitif.

 

Berusaha mengalihkan fokusnya, Finn memiringkan kepala, menatap wajah tampan Mash dari jarak dekat. Alis yang mengkerut dan bibir yang setengah terbuka tampak begitu mempesona dalam kebingungan malam itu. ‘Aku mau- menciumnya lagi.’ Finn berusaha menahan keinginannya.

 

“-cium.”

 

"Finn-" Mash ingin bertanya, agak ragu sebenarnya. Ciuman- dia pikir hal ini cuma dilakukan orang yang berpasangan. Tidak menyangka jika dia melakukannya dengan Finn- apa dengan begini mereka berdua sudah jadi pasangan? Memangnya Finn punya perasaan seperti itu padanya? Jelas-jelas niat awalnya hanya membantu Mash menuntaskan hasrat seksualnya. 

 

Sementara Finn menunggunya melanjutkan ucapan, Mash akhirnya hanya menggeleng. Sejujurnya takut jika menanyakan hal itu akan membuat hubungan mereka berubah. Entahlah. Dia lebih memilih tetap seperti ini daripada harus saling menjauh karena perubahan yang terjadi setelah satu ucapan. 

 

"Aku suka- bibir Finn." Malah itu yang dia ucapkan sebelum membawa wajah Finn mendekat dan mulai menyesapi bibir yang sudah bengkak.

 

Napas Finn rasanya berhenti ketika melihat keraguan di wajah Mash. Tentu saja. Mash sejak tadi hanya terbawa suasana, bisa jadi sebetulnya Mash terpaksa melakukan semua ini untuk menyelesaikan "masalah"nya. Finn merasa sangat membenci dirinya sendiri, apakah saat ini dia sedang menyalahgunakan kepercayaan Mash?

 

Finn merasakan tangan Mash menyentuh wajahnya dan menghilangkan jarak antara mereka. Bibir itu menyentuh miliknya, menempel dengan lembut, sesekali menghisap, membawa rasa nyaman sekaligus rasa nyeri yang samar dan segera melebur dalam kenikmatan. 

 

Tadi- apa Mash bilang suka? 

 

Finn berpikir di sela kecupan berulang yang semakin bertambah waktu dan intensitasnya. 

 

"Finn-" Tautan mereka terlepas, menyisakan benang saliva yang masih menyambung diantara keduanya. Mash mengusap bibir Finn dengan ibu jarinya, tersenyum sekilas sambil menatap pada wajah merona kawan baiknya itu. 

 

"Terimakasih. Kamu pasti lelah- apa kamu butuh sesuatu sebelum tidur lagi?”

 

"Sesuatu- ah, bisa tolong ambilkan tisu? Ehmm- ini, yang di dalam harus dikeluarkan. Tapi ke toilet dalam keadaan begini- dan, uhh, kalau dikeluarkan disini-"

 

Membayangkan ditanyai karena menjemur seprai besok pagi rasanya terlalu memalukan. Mengeluarkan di lantai pun rasanya membuat Finn ingin menghilang. 

 

"Po-pokoknya, tolong ambilkan tisu-”

 

Finn melanjutkan segera, menyatukan paha sembari menekan lubangnya yang penuh, berusaha untuk tidak menumpahkan setetes pun.

 

Mash menurut, melepaskan dekapannya pada Finn dan bergerak ke arah meja. Menemuka tisu dengan mudah di atas meja belajar Finn. 

 

"Mau aku bantu bersihkan?" Dia menawarkan lagi sambil duduk didepan Finn. Dengan satu gerakan membuka lebar paha Finn- membuat si empunya tubuh memekik terkejut dan Mash lihat lagi pemandangan yang dia lihat tadi saat mereka berhubungan. Membuat wajahnya memanas tanpa sebab karena melihat bagaimana penis Finn yang sudah tertidur dan cairan yang mengalir keluar dari lubang yang coba ditutupin Finn.

 

"Ma-Mash! Nanti kamu kotor-"

 

Kedua kaki Finn yang telanjang berusaha untuk kembali menutup, satu tangannya yang bebas berusaha menghalau tangan Mash dari menyentuh dirinya. Pandangan yang difokuskan pada bagian intimnya membuat tubuh Finn kembali memanas. Remaja itu menundukkan pandangan berusaha menghindari sepasang iris emas di hadapannya namun tanpa sengaja melihat bagian lain dari tubuh teman tersayangnya.

 

Ah- penis itu, tadi masuk-

 

Tanpa dikomando, Finn kembali mengingat apa yang telah terjadi, kembali menekan lubangnya yang mulai berdenyut.

 

"Ma-Mash, tolong berikan tisunya padaku- mmmmh-" Tangan kecil itu berusaha menggenggam tangan Mash, mendongak dan menatap lemah pada pria yang lebih besar.

 

"Hmmm-" Tangannya mengambil satu lembar tisu sebelum memberikan yang lain pada Finn. Kemudian tangannya ikut campur membersihkan anal yang masih mengucurkan cairan, ia usap dengan lembut setelah menyingkirkan tangan Finn yang menghalangi. Membuat lelaki Ames itu memekik tertahan dan melenguh saat usapan terasa di bibir analnya.

 

Astaga, Mash tidak menyangka dia keluar sebanyak itu. Dua kali. Tidak heran jika spermanya banjir keluar dari dalam anal yang tadi mengapit penisnya. Mengingat itu membuat Mash merasakan gelitik menyenangkan di dadanya. 

 

"Maaf, ini sangat banyak. Apa aku harus keluarkan yang didalam juga? Apa Fin baik-baik saja setelah semua yang kulakukan?”

 

Finn menggeleng kuat, bermaksud membersihkan sendiri, tapi tangan Mash lebih cepat meraih dan mengusap permukaan analnya. Panas dari jari jemari itu menembus tisu yang tipis dan membuat dinding rektum Finn berdenyut semakin cepat. Finn bisa merasakan cairan keluar dari lubangnya yang terus berdenyut.

 

"Ti-dak perlu minta nghh~ maaf. Y-yang didalam aku bisa keluarkan ahh!!”

 

"Kalau begitu- hmmm- permisi" Seolah tidak mendengar ucapan Finn, telunjuk panjangnya masuk menerobos lubang anal yang mengkerut, tertutup rapat. Semakin jarinya masuk, semakin keras Finn mendesah. Sampai hampir seluruh jarinya masuk, telunjuk yang sudah berada didalam bergerak. Jarinya ditekuk didalam, kemudian bergerak keluar. Membuat cairan keluar lagi dari lubang anal Finn sementara si pemilik kini menggelinjang. Mencengkeram erat bahu Mash untuk mengalihkan perasaan yang sedang dia rasakan. 

 

Merasa tidak efektif, jarinya ia keluarkan. Mash ganti memasukkan langsung 3 jarinya untuk mengorek keluar spermanya yang bersarang di dalam anal Finn.

 

"Mashh~!!"

 

Finn rasanya ingin berteriak ketika lubangnya dimasuki lagi. Kedua kakinya gemetar tanpa bisa ditahan sebab berkali-kali dipaksa merasakan nikmat oleh jari Mash. Finn menyerah berusaha membersihkan analnya, membiarkan Mash sementara ia sendiri memeluk leher dan terus mendesah di sisi kepala pria berambut hitam itu.

 

Berkali-kali jari Mash menyentuh prostatnya, membuat Finn menjepit organ itu lebih rapat. Suara gerakan antara kulit dan cairan yang keluar membuatnya kebingungan. Finn memberanikan diri menunduk dan melihat penisnya kembali tegak. 

 

"Ma-Mash- cukup- ngh~ n-nanti aku keluar lagi-”

 

"Tunggu- ini banyak sekali. Aku hanya berusaha mengeluarkannya." Mash masih merogoh bagian dalam anal Finn. Jarinya keluar masuk dan setiap kali keluar akan membawa cairan encer mengalir dari lubang yang berkedut. 

 

Mash menelan ludah, merasakan hal yang sama pada miliknya. 

 

"A-aku juga-" Ucapnya teramat pelan sambil mengalihkan pandangan. Finn mengikuti arah pandangnya, bertemu lagi dengan penis besar berurat yang kembali berdiri tegak. "Finn- apa ini normal? Bagaimana kalau setiap melihat atau menyentuhmu penisku jadi sekeras batu?”

 

Tidak hanya perkara kekuatan dan stamina, urusan jumlah sperma pun, Mash ada di atas rata-rata manusia lain, pantas saja Finn merasa sangat penuh.

 

“Kalau begitu- aku akan membantumu lagi.” Finn melepaskan pelukannya pada leher Mash, memberanikan diri mencium pipi dan sudut bibir pria itu. Satu tangannya terulur, mengambil tambahan tisu untuk menampung sperma yang keluar, kemudian memasukkan jari telunjuknya untuk bergabung bersama Mash di dalam. Jarinya yang ramping ikut mendesak sperma untuk keluar lebih cepat.

 

"Tapi- sekarang ini harus keluar dulu. Setelah ini, mungkin pakai mulut saja ya?” Lagi-lagi Finn berikan penawaran yang menggoda. Ini buruk- Mash mulai memikirkan banyak kemungkinan akan terjadi jika dia menyetujuinya. Sedikit takut jika tidak bisa mengendalikan diri tapi tentu saja hati kecilnya bersorak saat sadar jika Finn merasa nyaman dengan sentuhannya. 

 

"Finn- kamu, jangan katakan hal seperti itu pada orang lain. Hanya aku- hanya aku yang boleh melakukan ini padamu-" Ucapnya tanpa menghentikan gerakan jari pada lubang anal Finn. Sementara si empunya lubang masih melenguh tak karuan dan ikut bergabung dengan melesakkan jarinya ke dalam lubang. Mash bisa merasakan jarinya terpijat dinding rektum bersama dengan jari yang lebih kecil. Membuatnya mengingat lagi bahwa berasa didalam sana memang senikmat itu. 

 

"Aku- sudah selesai. Tapi punyaku keras lagi. Kali ini biar aku yang menyelesaikannya." Mash mengeluarkan jarinya, sekali lagi membuat aliran deras keluar dari lubang anal yang kembali menutup. 

 

Tubuhnya merendah, dibawa menjilati ujung penis yang berdiri tegak tepat didepan wajahnya. Mengabaikan erangan keras si pemilik benda, Mash sibuk menjilati lubang uretra dan seluruh permukaan batang. Belajar dari apa yang Finn lakukan sebelumnya, jilatan itu kemudian beralih menjadi seluruh bagian penis yang masuk ke mulut hangat Mash seluruhnya. 

 

"Hmhh~" 'Ini muat seluruhnya, beda dengan saat Finn masukkan punyaku ke mulutnya.' batin Mash sambil sibuk mengulum dan memainkan batang penis dalam mulutnya dengan lidah.

 

Seluruh tubuh Finn terasa hangat, termasuk bagian dalam tubuhnya. Kesadaran bahwa Mash tidak rela Finn melakukan semua ini dengan orang lain membuatnya merasa bahagia. Finn melihat Mash merunduk di atas penisnya, merasakan panik ketika sesuatu menyentuh organnya yang sensitif. Kedua tangannya berusaha mendorong kepala Mash menjauh.

 

"M-Mash- tunggu, berbaring saja- j-jadi kita bisa melakukannya bersama.” Mash menghentikan kegiatannya saat Finn tampak menolak dengan dorongan. Suara 'plop' lucu terdengar saat ia melepaskan penis Finn dari mulutnya. Mash menatap bingung, tidak paham sepenuhnya atas permintaan sang kawan. 

 

"Bagaimana caranya saling memasukkan penis ke mulut di waktu yang sama?" Tanyanya polos, benar-benar tidak punya bayangan atas apa yang dikatakan oleh Finn yang kini merona sepenuhnya.

 

Ada rasa bersalah yang muncul dalam diri Finn melihat kebingungan di wajah Mash, membuatnya merasa seperti sedang menipu anak kecil yang polos. Tapi Finn tidak menemukan rasa tidak suka dari Mash, jadi tidak masalah kan? Remaja itu meneguk ludah dan mengatur napas kemudian mengatur posisi dan merebahkan tubuhnya.

 

"B-begini, Mash merangkak di atasku dengan posisi berlawanan. J-jadi- pe-penismu di atasku, sementara wajahmu- dipenisku." Suara itu semakin lama semakin mengecil karena malu, namun Finn memberanikan diri meraih pergelangan kaki Mash yang telanjang, mengajaknya mendekat sembari menggesekkan kedua pahanya. Berada dalam posisi berbaring seperti ini membuat Finn merasa terlalu terekspos tanpa perlindungan.

 

"Tapi- aku jadi tidak bisa melihat wajah Finn." Meski berkata begitu, Mash tetap menuruti tuntunan dari Finn. Dia di atas tubuh Finn, merangkak ke arah penis Finn sementara penisnya yang kembali tegang berada tepat di hadapan wajah Finn. 

 

"Lalu bagaimana? Aku melakukannya seperti tadi? Begini-?" Tangannya menggenggam lembut barang penis Finn sebelum mulai menjilati penis hangat itu. Detik berikutnya ia ikut menggeram saat merasakan penisnya yang diperlakukan serupa oleh Finn.

 

Geraman yang muncul dari Mash memberikan semangat bagi Finn untuk melanjutkan kegiatannya. Lidahnya menjilat batang penis yang besar sementara mulutnya sibuk memijat, memastikan setiap senti organ itu basah oleh liurnya. Finn merasakan bagaimana Mash menjilati penisnya, membuat remaja itu menggerakkan pinggulnya meminta lebih.

 

Kedua tangan Finn merangkul pinggang Mash, meraba otot yang terbentuk sempurna dan menarik tubuh itu lebih dekat, menginginkan penis itu masuk lebih dalam ke mulutnya seperti orang yang kelaparan.

 

Panas, besar dan keras, Finn menyukai semua itu. Rongga mulutnya dia paksa untuk mengisap dan memijat organ itu, menikmati rasa yang tidak akan bisa dia dapatkan di tempat lain. 

 

"Nggh~"

 

Desahan keluar dari sudut mulutnya ketika Mash ikut mengisap penisnya, membuat Finn menggerakkan tubuh bagian bawahnya, memeluk tubuh Mash dengan kedua kaki kurusnya.

 

Pelukan membuat tubuh Mash semakin mendekat. Apa yang Finn lakukan ia lakukan kembali pada sang kawan. Lidahnya yang berkeliaran di seluruh batang penis Finn menuntun mulutnya sendiri untuk memasukkan seluruh penis Finn ke dalam mulutnya dan memintanya lembut dengan dinding mulut dan lidah. Hisapan dan keluhan dilakukan, kemudian memainkan penis Finn dengan menggerakkannya keluar masuk dari mulutnya sendiri. 

 

Precum mulai keluar sedikit demi sedikit, dijilat habis setiap keluar kemudian Mash akan menghisapnya lagi. Tangannya mengangkat bokong Finn, membuat Finn menggeliat karena penis yang masuk semakin dalam dan diselimuti kehangatan. 

 

Merasakan penis yang lebih kecil berdenyut dalam mulutnya, Mash mengeluarkannya dari dalam mulut. "Haahh- Finn, keluarkan saja semuanya- aku akan menelannya." Kemudian ia melahap lagi batang panas yang berdenyut itu.

 

Finn merasakan tubuh bagian bawahnya diangkat sebelum akhirnya bibir Mash menempel pada selangkangannya, membuat Finn mengeluarkan pekikan teredam. Lidah panas itu dengan mudah mengelilingi batang penisnya, dan mulai menghisap dengan kuat. Sementara itu Finn berusaha untuk tidak tersedak liurnya sendiri di tengah usahanya mengulum penis Mash yang besar.

 

Sebagai pria, rasanya agak menyebalkan mengetahui Mash dengan mudah memasukkan seluruh penisnya sementara Finn kesulitan. Tapi semua ini terasa begitu nikmat. Finn kembali menghisap, memasukkan penis Mash sebanyak yang dia bisa, menjilat pertemuan antara kepala dan batang penis, merasakan pembuluh darah yang berdenyut dan precum yang menetes di lidahnya.

 

Pinggul Finn yang terangkat kini bergerak tanpa bisa dicegah, keluar masuk mencari pelepasan. Kakinya gemetar dan tubuhnya lelah, terbawa gelombang kenikmatan yang bertubi. Finn mengeluarkan erangan sembari melepaskan cairannya di dalam rongga mulut Mash yang hangat.

 

'Ah, keluar.' pikir Mash saat benda dalam mulutnya mulai membanjiri isi mulutnya. Dengan sigap ia menelan semuanya tanpa menyisakan setetespun. Mash mengeluarkan penis Finn dari mulutnya, berusaha bernafas walau sedikit terengah. Finn sudah selesai tapi dia merasa belum mencapai puncak. 

 

'Finn, maafkan aku-' batinnya sebelum memutuskan bersikap egois. Bagian tubuh bawahnya ia gerakkan mendadak, menghujam mulut mungil yang tadinya mengulum penisnya perlahan. Bisa Mash dengar suara tersedak dari Finn namun gerakan barusan nyatanya terasa menyenangkan. Mash mendesis saat gigi Finn berkerit sebab hujaman paksa yang dia ulangi lagi. Walau tidak serapat analnya, mulut hangat Finn bisa membuatnya merasa puas juga rupanya. 

 

Tangannya mengcengkram erat pinggul Finn sebelum menghujam sekali lagi, terdengar nafas tersedak lagi, kemudian disusul spermanya yang melesak keluar lebih banyak dari yang sudah sudah.

 

Mulut Finn penuh, terlalu penuh hingga sulit untuk bernapas, penis yang memaksa masuk tidak mengizinkan Finn untuk memikirkan hal lain kecuali menghisap dan menjilat. Finn baru saja berhasil mengatur napas ketika mulutnya kini dialiri cairan lengket yang hangat. Usahanya untuk membuka mulut lebih lebar gagal dan menyebabkan dirinya tersedak, kemudian memutuskan untuk menelan semuanya.

 

‘Banyak sekali, padahal kita sudah melakukannya dua kali.’ Cairan itu dia teguk sampai habis, menyisakan penis besar yang hangat di mulutnya. Finn mengeluarkan penis itu, memberi jilatan dan kecupan sebelum akhirnya berbaring tidak bergerak, terlalu lelah untuk berganti posisi. Kedua kaki Finn terjatuh di kasur, tidak lagi memiliki tenaga untuk bergelayut di tubuh Mash. Tangannya yang lemah menepuk paha Mash tanpa tenaga.

 

"Mash- kurasa, sudah cukup. K-kita harus segera tidur.” Mash segera berbalik, menatap Finn yang semakin berantakan dan lemah. Lagi-lagi dia merasa bersalah atas kondisi kawannya itu. Tubuhnya bergerak memeluk Finn, mendekapnya dan memposisikan Finn bersandar di dadanya. 

 

"Maaf- boleh peluk sebentar?" Ada anggukan terasa dalam dekapan dan Mash makin mengeratkan pelukannya. "Maaf Finn. Aku mengganggumu tengah malam- sekarang malah kamu jadi kelelahan begini. Apa besok kamu bolos saja?" Tanyanya khawatir sebab merasakan nafas Finn yang masih tak beraturan dalam pelukannya.

 

Finn mengangguk malu dan membiarkan Mash membawa tubuhnya dalam dekapan remaja itu. Hangat dan menyenangkan. Finn ingin selalu seperti ini.

 

"Eh? Nggak! Nggak perlu bolos! Kalau kakak denger aku bolos-"

 

Finn tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi bila dia tidak masuk sekolah, setelah sebelumnya sang kakak mengawasi Finn seharian ketika tidak mengikuti pelajaran karena demam. Bagaimana kalau kakak tahu dia kebablasan melakukan hal seperti ini sampai bolos. Finn berhenti berpikir dan menggeleng kencang.

 

"Y-yang penting sekarang kita tidur! Ah, ayo pakai baju lagi, jangan sampai sakit.”

 

"Nanti aku ijin sama kakakmu. Nanti aku bilang kalau Finn kelelahan karena habis nolong aku malam malam." Jawab Mash polos sambil melepaskan pelukannya, membiarkan Finn membenahi lagi piyamanya sementara dirinya sendiri masih betah membiarkan piyama atasannya terbuka tanpa bawahan sebab celananya yang lupa dia buang kemana.

 

"Ti-tidak usah! Sungguh! Kita tidur saja!"

 

Finn nyaris menjerit bila tidak ingat bahwa malam sudah larut. Remaja itu melihat berkeliling, menemukan celana piyama yang tergeletak di atas tumpukan buku. 

 

"Mash, celanamu di sana. Sudahlah, aku yakin besok masih bisa ikut kelas. Apa yang kita lakukan tadi, j-jangan beritahu ke siapa pun ya?”

 

"Hm." Mash mengangguk. Dia lihat Finn memungut celananya dan menyodorkannya. Ia terima dan segera memakainya. "Boleh aku tidur dengan Finn?" Tanyanya saat kawannya naik lagi ke ranjangnya dan membenahi selimut.

 

Wajah Finn malam ini tampaknya terus memerah. Tidur bersama Mash, teman yang dia sayangi, setelah melakukan semua hal tadi? Finn tidak yakin bisa tidur dengan nyenyak. Tapi tawaran itu sangat menggoda sehingga Finn mengangguk tanpa berpikir lama. Remaja itu menggeser tubuhnya, menyisakan ruang dan menepuk kasur di sebelahnya.

 

"Boleh. Sini, Mash.”

 

"Yeay." Meski bersorak tentu saja wajahnya datar seperti biasa. Dia menerjang tubuh Finn hingga keduanya jatuh berbalut selimut. Kemudian memeluknya dan mulai memejamkan mata. 

 

"Selamat tidur, Finn”

 

Finn mengabaikan keinginannya untuk protes karena sudah diterjang, matanya mulai berkedip pelan, terlalu lelah, terlalu mengantuk, dan suhu tubuh Mash terlalu nyaman. Finn memutuskan untuk berhenti berpikir.

 

"Mmm~selamat tidur, Mash.”