Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-08-04
Words:
1,635
Chapters:
1/1
Kudos:
23
Hits:
1,116

Warm

Summary:

Seungwoo hanya ingin istirahat setelah dinas panjangnya, tapi sepertinya Byungchan ingin memberinya sedikit hiburan.

Work Text:

Seungwoo itu termasuk orang yang engga suka privasinya diganggu. Apalagi kalau kamarnya dimasukki sama orang lain, Seungwoo pasti langsung bete dan pasang wajah tidak suka.

Tapi beda halnya kalau orang ini yang seenaknya masuk ke kamarnya. Iya, Byungchan.

Teman satu apartementnya itu suka sekali berada di kasur Seungwoo. Entah hanya untuk sekedar rebahan, main game, ataupun cuma temenin Seungwoo ngobrol. Pokoknya kalau Seungwoo baru pulang dari kantornya, tidak lama setelahnya Byungchan akan masuk ke kamarnya tiba-tiba dan menyapa Seungwoo. Dan anehnya, Seungwoo tidak pernah terganggu akan eksistensi Byungchan di kamarnya.

Namun, berbeda dengan malam ini. Seungwoo baru saja pulang dari dinas luar kotanya, sudah seminggu Seungwoo tidak pulang ke apartementnya dan saat ia pulang dirinya harus disuguhi pemandangan seperti ini.

Byungchan sedang tidur pulas sambil bertelanjang dada di atas kasurnya.

Seungwoo menahan napasnya sesaat, walaupun tidak terekspos sepenuhnya, tapi bahu mulus yang mengintip di balik selimutnya itu sudah cukup membuat darahnya berdesir.

Bayangkan saja, ini tengah malam dan Seungwoo baru pulang dari perjalanan jauh. Capek, tapi liat yang kayak gini matanya langsung melek serta kepalanya mendadak pusing.

Dengan perlahan Seungwoo keluar lagi dari kamarnya, nutup pintunya pelan dan nyender disitu lalu ngehela napas. 

Ada aja cobaan orang mau istirahat. Batinnya.

Seungwoo menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menghapus pikiran kotornya lalu berjalan menuju kamar mandi, mungkin dirinya harus mandi dan mendinginkan kepalanya agar tidak berpikir macam-macam.

Seusai mandi, Seungwoo dikejutkan oleh Byungchan yang sudah duduk di pantry dapur sambil meminum air putih. Hanya menggunakan kaos tipis kebesaran yang hampir menutupi celana pendeknya. Seungwoo tanpa sadar menelan air liurnya kasar, mendadak bayangan Byungchan yang tertidur di atas kasurnya tadi melintas begitu saja.

"Eh? Udah pulang?"

Seungwoo cuma tersenyum tipis sembari mendekat ke arah Byungchan, dirinya ikut mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih lalu meminumnya dengan rakus, berharap itu bisa membantu menenangkan degup jantungnya.

"Kok kebangun?" ucap Seungwoo.

"Haus. Terus kedinginan."

"Lagian gak pake baju."

Byungchan hanya terkekeh menjawabnya, setelahnya hanya hening, Byungchan hanya diam sembari menatap Seungwoo yang entah kenapa masih sibuk menatap gelasnya yang sudah kosong.

"Gak mau tidur lagi?" ucap Seungwoo.

"Mau."

"Pake celana panjang, biar gak kedinginan."

Byungchan tidak menjawab, dirinya turun dari kursinya dan berjalan menuju kamar Seungwoo.

"Aku tidur di kamar kakak aja biar gak kedinginan." ucap Byungchan sembari menunjukkan senyum jahilnya.

Seungwoo tidak paham, apakah lelaki itu memang sengaja menggodanya atau tidak. Tapi kalau dipikir-pikir ini bukan pertama kalinya mereka tidur bersama, mungkin karena pikiran Seungwoo sedang kacau saja makanya ia menangkap ucapan Byungchan barusan itu terkesan *menggoda*.

Seungwoo bisa menghela napas lega saat ia memasukki kamarnya Byungchan masih memakai atasannya, sudah bergelung di balik selimutnya. Maka Seungwoo pun ikut masuk ke dalam selimutnya, dan detik itu juga Byungchan langsung berhambur memeluk dirinya.

Lagi-lagi ini hal biasa, tapi entah kenapa malam ini Seungwoo serasa seperti disengat listrik.

"Kenapa kak?"

"Hah?"

"Kamu tegang banget."

"O-oh.. enggak." 

Seungwoo berusaha menutup matanya, tanpa ia sadari Byungchan menunjukkan senyum kemenangannya.

"Kamu ngantuk?"

"Hm."

"Tapi jantung kamu berisik."

Byungchan cekikikan sendiri, sedangkan Seungwoo terdiam, matanya sudah tidak bisa merem lagi.

"Byungchan."

"Ya?"

Seungwoo menunduk untuk menatap manik polos yang ditunjukkan Byungchan, dengan jarak yang sedekat ini Seungwoo bisa merasakan hembusan napas Byungchan menerpa wajahnya, serta bibir ranum yang sedikit terbuka itu seakan mengundang untuk dicicip.

"Kamu sengaja ya?"

Byungchan langsung tersenyum lebar, "Aku cuma kangen doang makanya isengin kamu."

"Kangen?"

"Iyalah, seminggu gak ada kamu tuh berasa banget sepinya."

Seungwoo terdiam, mereka berdua memang dekat, tapi ini pertama kalinya Byungchan mengungkapkan dengan jujur kalau dirinya merindukan Seungwoo dan itu membuat hatinya kembali berdesir.

"Kak Seungwoo."

"Hm?"

"Kalau mau cium aku, ya cium aja." 

Seungwoo tersentak mendengarnya, apakah gelagatnya sangat terbaca?

"Kamu daritadi ngelirik ke bibir aku terus, kamu yang mau cium duluan atau aku yang—"
Ucapannya tidak pernah tuntas karena Seungwoo saat ini sudah membungkamnya dengan ciuman dalam. Tangannya menangkup kedua pipi Byungchan, awalnya Seungwoo tidak menggerakkan bibirnya sama sekali, namun setelahnya ciumannya berubah menjadi lumatan-lumatan kecil.

Tautannya terlepas, tapi jarak diantara mereka masih terlampau dekat, keduanya mengunci tatapan masing-masing, menikmati paras indah yang ada di depan kedua mata mereka lalu tersenyum setelahnya.

Byungchan yang kembali menautkan bibir keduanya, gerakan kali ini lebih intens karena Byungchan memberi akses lebih ke Seungwoo untuk menjelajah lebih *dalam*.

Posisinya saat ini sudah berubah menjadi Byungchan yang berada di bawah kukungan Seungwoo, lenguhannya sesekali terdengar saat Seungwoo mengobrak-abrik material di dalam mulutnya serta tangannya yang sudah menjelajah di balik kaos tipisnya. Byungchan memberikan rematan pelan di rambut belakang Seungwoo saat dirinya mulai kehabisan oksigen, dan saat itu juga Seungwoo menurunkan ciumannya ke leher jenjang Byungchan. Awalnya hanya kecupan biasa, lalu Seungwoo mulai memberi isapan untuk meninggalkan jejak di sana.

Byungchan sempat terkesiap saat kaosnya lolos dari kepalanya dalam satu hentakan, hawa dingin yang sejak tadi ia rasakan semakin menusuk, namun itu tidak berlangsung lama karena Seungwoo kembali merengkuhnya dalam ciuman dan pelukan hangat.

Byungchan mendesah keras saat Seungwoo bermain di kedua noktah coklatnya, Seungwoo menghisap dalam-dalam puting Byungchan, sedangkan tangan satunya sibuk memilinnya dengan gerakan memutar.

"K-kak ah—"

Kepala Byungchan terlempar keatas, tangannya refleks menekan kepala Seungwoo di dadanya, dirinya memang terlampau sensitif di area tersebut.

Mendengar desahan Byungchan membuat Seungwoo semakin bersemangat bermain di area itu, dirinya dengan rakus melahap dada Byungchan bergantian sembari tangannya turun berusaha untuk membuka celana pendek yang dikenakan Byungchan.

Entah sejak kapan keduanya sudah tidak mengenakan pakaian apapun, Seungwoo mendekati wajah Byungchan kembali dan itu membuat penis keduanya yang sudah menegang dengan tidak sengaja bergesekan dan Seungwoo tanpa sadar menggeram rendah karena Byungchan ikut menggerakan pinggangnya.

"Is it okay?" ucap Seungwoo dengan suara rendahnya, matanya menatap Byungchan dengan jarak yang amat dekat. Byungchan hanya mengangguk menjawabnya, tangannya ia kalungkan di leher Seungwoo dan memberikan kecupan di bibir Seungwoo.

"I don't have a lube." ucap Seungwoo lagi, karena jujur ia tidak pernah membayangkan akan ada di posisi seperti ini, dirinya memang menyukai Byungchan sejak lama tapi Seungwoo tidak pernah berani berpikir untuk menyentuh Byungchan sejauh ini.

"Just do it, Kak."

"Aku gak mau nyakitin kamu."

Byungchan tidak menjawab, dirinya lebih memilih kembali menarik Seungwoo ke dalam ciuman yang panas, pinggulnya ia gerakkan lagi untuk memberi ransangan yang membuat kepalanya pening.

Seungwoo menggenggam kedua penis mereka dan mengurutnya perlahan dan membuat Byungchan melepaskan ciumannya untuk mengeluarkan desahan, namun itu tidak berlangsung lama karena Seungwoo kembali membungkam mulutnya.

Byungchan tidak tahu kalau rasa nikmat itu bisa membuatnya sepusing ini, apalagi Seungwoo saat ini kembali bermain di lehernya sedangkan tangannya tidak berhenti memainkan penis mereka, saat ini Byungchan merasa dirinya akan sampai puncaknya.

Byungchan tersentak saat Seungwoo menghentikan gerakannya saat ia hampir saja sampai pada putihnya, tadinya ia ingin protes, tapi ia justru dibuat terkejut saat Seungwoo merapatkan kedua kakinya dan menaruhnya di bahunya.

"I'll use your thigh."

Paha Byungchan sudah cukup basah karena cairan precum nya memang sudah keluar sejak tadi, perlahan Seungwoo memasukkan penisnya di sela-sela paha Byungchan.

Erangan Seungwoo kembali terdengar, ia tidak menyangka kalau rasanya akan senikmat ini padahal ia hanya menggunakan paha Byungchan, ditambah miliknya juga bergesekkan dengan milik Byungchan.

Seungwoo mulai menggerakkan pinggulnya, kepalanya terlempar kebelakang saat merasakan nikmat, suara desahan Byungchan membuat gairahnya semakin memuncak. Gerakan yang tadinya perlahan, lama-lama semakin cepat sehingga ruangan itu hanya dipenuhi suara desahan dan kulit bertubrukan.

Semakin cepat gerakannya, semakin erat juga Byungchan merasakan Seungwoo menekan bagian luar pahanya, penisnya ikut diberi sentuhan oleh Seungwoo yang kini mengurutnya pelan. Sesekali kepalanya terlempar kesamping karena tidak sanggup menerima rasa nikmat sebanyak ini, sprei nya bahkan sudah tidak terbentuk karena menjadi sasaran melampiaskan nikmat Byungchan.

"Emh.. Byungchan—"

"Ah.. Kak.. mau—keluar." ucap Byungchan di sela-sela desahannya.

"Sebentar lagi."

Byungchan sampai pada putihnya duluan, cairannya mengotori perutnya dan pahanya. Namun Seungwoo belum berhenti, gerakannya justru semakin cepat karena dirinya hampir sampai dan benar saja setelah beberapa tumbukan dirinya sampai pasa putihnya.

Bagian bawah Byungchan terasa basah dan lengket karena cairannya dan Seungwoo, tapi Byungchan tidak keberatan sama sekali, saat ini Byungchan justru tersenyum lega.

"Sebentar, aku bersihin dulu." ucap Seungwoo, lelaki itu mengambil tisu yang ada di nakas tempat tidurnya dan mulai membersihkan tubuh Byungchan yang dipenuhi cairannya.

Setelah bersih, Byungchan langsung menariknya kedalam pelukan, keduanya menyamankan posisi di dalam selimut walaupun belum memakai pakaian masing-masing.

"Byungchan."

"Hm?"

"Kamu gak marah?"

Byungchan mengangkat wajahnya, menatap Seungwoo yang saat ini sudah terpejam.

"Kenapa marah?"

Seungwoo hanya mengendikkan bahu, masih merasa tidak percaya kalau mereka melakukan kegiatan intim seperti barusan.

"Aku suka." ucap Byungchan enteng, pelukannya ia eratkan dan wajahnya ia tenggelamkan ke dada polos Seungwoo.

"Udah lama aku ngebayangin hal ini."

Seungwoo memundurkan tubuhnya dan menangkup wajah Byungchan, ia menatap wajah Byungchan lama sedangkan Byungchan hanya memberikan senyum hangatnya.

"Byungchan.. aku sayang banget sama kamu." ucap Seungwoo. Byungchan tertawa mendengarnya, melihat Seungwoo mengucapkan hal itu dengan wajah yang serius entah kenapa terlihat lucu dimatanya.

"Aku tau kak, kalau engga ngapain kita ngelakuin hal tadi?"

"Aku gak mau kamu mikir itu cuma nafsu aja, aku beneran sayang sama kamu, udah dari lama banget."

Byungchan mengulum senyumnya, tangannya bergerak mengelus rahang Seungwoo perlahan.

"You won't hurt me, aku percaya kok." 

Seungwoo kembali tersenyum lega, lalu menarik Byungchan lagi ke dalam pelukannya sambil menggumamkan kata sayang.

"Tapi kak.."

"Hm?"

"Lain kali, aku mau diisi sama kamu."

"Hah?"

"Iya, jangan pake paha doang."

Byungchan bisa merasakan bahu Seungwoo menegang, dirinya mati-matian menahan tawa saat ini, "Jadi nanti aku mau sedia lubricant sama—"

"Byungchan, tidur."

Pelukannya dieratkan agar yang lebih muda berhenti berbicara, sedangkan Seungwoo berusaha menutup matanya rapat-rapat.

"Padahal tadi aku gak keberatan kalau kamu gak pake lube loh kak—"

"Byungchan please…"

Byungchan tertawa keras, tangannya mengalung lebih erat ke pinggang Seungwoo dan sesekali menepuk punggung Seungwoo pelan.

"Oke oke kita tidur." ucap Byungchan akhirnya, dirinya bisa mendengar helaan napas lega dari Seungwoo dan itu membuatnya kembali cekikikan.

"Aku lupa bilang."

"Apa lagi?"

"Aku juga sayang sama Kak Seungwoo."

Seungwoo terdiam, namun setelahnya tersenyum lebar, dirinya mengecup puncak kepala Byungchan dan mengelus belakang kepalanya lembut. Hatinya tidak pernah terasa sehangat ini sebelumnya.

 

 

—fin.