Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of The World of Gaby
Stats:
Published:
2026-07-12
Words:
2,242
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
41
Bookmarks:
1
Hits:
575

Untuk Kamu yang Syukurnya Selalu Besar

Summary:

Haechan diam, masih mencoba menelisik lebih jauh ke mata yang terlihat basah.

”Kamu nangis?”

Jeno menggeleng.

”Kamu nangis karena capek jagain By?”

Gelengan kepala Jeno lebih cepat, “Enggak loh,” tak terima dituduh capek jaga anak.

Notes:

Hi! Nohyuck fic pertama aku di tahun 2026, yeay update😆

Sejujurnya aku sedikit kaget karena tiba-tiba notif kudos ku ramai di satu waktu yang sama dan aku gak tau dari mana😀

Tapi siapapun kamu yang sudah merekomendasikan dan kamu yang sudah membaca cerita yang aku tulis, terima kasih ya. Karena kamu, aku jadi tergerak untuk update.

Ini aku lanjutin cerita keseharian Papa, Papi & Gaby. Semoga keluarga kecil ini bisa menambah kebahagiaan kalian disela-sela hari☺️

Aku nulis ini sambil on loop dengerin Perunggu - Berhasil, mungkin bisa sambil dengerin juga selama baca.

Selamat membaca yaa🩷

Work Text:

“Mas, lagi sibuk gak?” tanya Haechan yang tiba-tiba turun dari lantai dua sambil menggendong Gaby dengan muka yang panik. 

Jeno yang sedang menguras akuarium di lantai bawah langsung menoleh ketika mendapat interupsi. Jeno bahkan belum sempat menjawab ketika Haechan langsung memberi perintah, “Kamu cuci tangan, please, Jagain Gaby dulu. Client minta kirim hasil revisi jam 5 sore ini tapi aku belum sempet ngerjain revisinya… sedikitpun...”

Tanpa menunggu perintah ulang, Jeno bergegas lari ke arah kamar mandi dan membersihkan tubuh sebisanya. Ia mengeringkan tangannya dengan handuk seadanya dan kemudian menghampiri Gaby yang saat ini mencengkram erat kaos Haechan.

Dalam hitungan 1… 2… 3…

Huhuaaaa

Menangis dan berontak anak itu dalam gendongan Jeno.

Iya, Gaby sudah “bau tangan” dan maunya hanya sama Papi-nya aja, yang namanya Haechan itu.

Haechan sering kali kelimpungan karena Gaby gak bisa ditinggal-tinggal dan maunya hanya digendong Haechan. Hal ini yang membuat Jeno jadi lebih banyak membantu dalam urusan domestik di rumah, dibandingkan mengurus anak. Karena Gaby jarang mau sama Jeno, mood-moodan—persis Papi-nya.

Biasalah, bayi sudah mulai sok tahu, sukanya pilih-pilih. Padahal giginya baru dua.

“Udah kamu kerja di atas aja, ini Gaby nanti juga diem.”

Tanpa banyak berpikir Haechan langsung berlari kembali ke lantai atas untuk segera menyelesaikan pekerjaannya yang gak kenal sabtu minggu itu. Yah, namanya juga freelancer, harap maklum.

Dan sekarang Jeno berjuang sendirian menenangkan Gaby.

“By udah dong. Papi-nya kan lagi kerja,” bujuk Jeno sambil mengayunkan pelan tubuh mungil dipelukannya. “Nanti capek loh nangis terus. Malem pasti tidurnya rewel.”

Tangisan Gaby bukannya mereda, malah semakin nyaring.

”Waduh…” Jeno menghela napas. “By lihat nih By, Papa lagi nguras rumah ikan. Airnya udah kotor.”

Gaby melirik sekilas ke arah akuarium, tapi sepertinya ikan pun kalah pamor dengan Papi-nya bagi Gaby.

Jeno bawa Gaby yang berderai air mata untuk mengitari seisi rumah lantai dasar. Satu-satu furnitur di absen, siapa tau bisa menarik perhatian si kecil. Bahkan cicak yang gak sengaja lewat pun kena absen.

Tapi Gaby tetep gak tertarik. Masa bodo, dia cuma ingin Papi-nya saat ini.

Jeno belum menyerah. Harga dirinya sebagai seorang ayah dipertaruhkan di siang itu.

Langkah Jeno melambat ketika memasuki ruang tamu. Pandangannya kembali menyapu setiap sudut ruangan, berharap menemukan sesuatu yang bisa membuat Gaby lupa pada Papi barang lima menit saja.

Sampai akhirnya matanya berhenti pada sebuah meja kecil di sudut ruangan.

Sejujurnya Jeno jarang memperhatikan area ini. Yang ia tau, meja itu berisi cenderamata dari setiap kota yang dirinya dan Haechan pernah kunjungi. Tapi ada satu hal yang beda yang baru Jeno sadari setelah memberi perhatian lebih ke sudut itu.

Di meja itu terdapat 1 bingkai foto ukuran 4R. Jeno yang penasaran kemudian mencoba mendekat untuk melihat foto yang terpajang di bingkai itu.

Dalam bingkai itu terdapat satu foto, “non-professional”, dengan pencahayaan dan latar tempat yang menurutnya sangat se-ada-nya.

“Hah?” Ia ambil bingkai itu dari meja dengan raut wajah yang bertanya-tanya.

“Hah? Kok bisa ada ini?” ucapnya sambil terkekeh kecil. “Kok Haechan gak ngomong ada foto ini?” senyum tipis dengan bumbu keheranan mulai tersimpul.

Gaby yang masih ada digendongannya secara tiba-tiba ikut tertarik dengan barang yang ada di tangan Jeno.

“Aaaapii!!!” dengan kemampuan bicaranya yang belum maksimal, Gaby bisa menunjukan rasa antusias untuk ikut memegang barang itu.

Jeno mendudukkan dirinya dan Gaby di sofa, masih dengan pertanyaan yang sama sambil memandang foto itu.

“Apiii…” kata Gaby lagi.

“Iya, itu Papi,” ucap Jeno sambil menunjuk Haechan di foto itu. “Ini ada Papa juga, loh. By gak ngenalin Papa?”

“Api!”

Jeno terkekeh kecil. “Iya, Papi-nya By, ya? Gaby pinter ih langsung bisa ngenalin.”

Tak ada jawaban dari lawan bicara Jeno, kemudian ia kembali menatap foto itu sebentar.

“Ini dulu Papi sama Papa pas masih bujangan, loh…”

Gaby yang sudah berhenti menangis sekarang ikut memegang bingkai foto itu, jari kecilnya menunjuk-nunjuk sosok yang menjadi favoritnya.

“Ini foto pertama Papi sama Papa By… waktu kita wisuda.” cerita Jeno kepada si kecil yang belum paham maksud dari kalimatnya.

Foto itu menangkap gambar keduanya dengan baju toga, sambil memeluk map ijazah yang diberikan saat acara wisuda. Sudut pengambilannya sedikit miring, pencahayaannya pun seadanya karena hanya mengandalkan matahari siang. Di belakang mereka masih terlihat kerumunan wisudawan yang lalu-lalang memenuhi area graha. Fotonya diambil secara tidak serius, dan Jeno ingat foto ini diambil dengan kamera iPhone 6 Plus milik Haechan, dan terusulnya atas dasar kenang-kenangan.

Gaby masih sibuk mengusap-usap permukaan bingkai dengan telapak tangan mungilnya.

Jeno menatap foto itu sekali lagi.

Lalu matanya beralih pada Gaby.

Kemudian kembali lagi pada foto itu.

Bibirnya membentuk senyum kecil yang sulit dijelaskan.

“Ih…”

Sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi ia masih ingat betul bagaimana foto tersebut bisa terjadi.

Seketika ingatan Jeno berputar pada momen wisudanya. Siang yang cukup terik dan membuat kebas jas serta baju toga yang ia kenakan. Namun atmosfer hari itu terlalu baik hingga ia merasa segan untuk mengeluh.

Acara wisudanya selesai tepat di jam 12 siang, dan ia berencana untuk menuju ke arah stan jurusannya. Di sana ia akan bertemu teman-teman seperjuangan di jurusan selama 4,5 tahun di kampus, dan mungkin akan jadi pertemuan terakhir mereka sebelum kembali ke kota masing-masing dengan tujuan hidup yang sudah berbeda.

Jeno ingat jelas ia berjalan membelah lautan manusia yang memadati graha tempat wisudanya berlangsung. Ditengah langkah yang terburu-buru, tidak sengaja bahunya bertubrukan dengan orang lain yang datang dari arah berlawanan.

”Sorry..”

Jeno spontan menoleh.

Butuh beberapa detik sampai wajah dihadapannya terasa familiar.

”Eh… Jen?”

Di hari itu, Jeno hanya menganggapnya sebagai satu dari sekian banyak orang yang kebetulan ia temui di acara wisuda.

Di hadapannya berdiri seorang laki-laki dengan toga yang dikenakan sedikit asal. Terik matahari membuat wajahnya terlihat semakin hangat, dengan rambut coklatnya yang sengaja ditata bergelombang, dan memberikan Jeno senyum lebar yang membuat siapapun rasanya mudah merasa akrab.

”Haechan!”

Jeno sama sekali tidak tahu kalau nama itu akan menjadi nama yang paling sering ia panggil setiap harinya saat ini.

“Hai, lo ambil wisuda Desember juga?” Tanya Jeno melanjutkan.

Tapi sejujurnya, selama 4,5 tahun berkuliah, Jeno nyaris tidak pernah mengenal laki-laki itu. Namanya baru ia ketahui ketika mereka sama-sama dipusingkan oleh urusan Akademik Pusat menjelang ujian akhir. Mereka sempat mengobrol seperlunya sampai masalah itu selesai, lalu kembali menjalani kehidupan masing-masing. Yang Jeno tahu, Haechan adalah mahasiswa dari jurusan yang sama dengan Renjun, mantannya.

”Haha iya, kemarin pas mau daftar wisuda September surat Bebas Perpustakaan gue tiba-tiba hilang. Salah juga sih gue daftarnya mepet, akhirnya ikhlasin deh wisuda Desember. Ini lo mau kemana, Jen?”

”Mau ke bagian sana,” Ucap Jeno sambil menunjuk arah yang di maksud, “Ke jurusan gue. Lo balik langsung?”

Haechan menggelengkan kepalanya, “Sama mau ke anak anak jurusan gue juga, tapi pada ambil tempatnya di belakang graha.”

Jeno mendengarkan Haechan sambil melirik singkat ke arah jam tangannya. Karena waktunya sudah mepet, ia hendak berpamitan. Tapi sebelum itu Haechan lebih dulu berseru, “Foto bareng yuk, kenang-kenangan,” Katanya sambil nyengir.

Satu anggukan dari Jeno membuat Haechan segera memberhentikan salah satu wisudawan lain yang kebetulan lewat samping mereka dan meminta bantu untuk memotret.

“Mas, boleh minta tolong fotoin bentar?”

Yang kemudian dibalas anggukan ramah. Langsung saja Haechan menyerahkan ponselnya dan buru-buru berdiri bersebelahan dengan Jeno. Tidak ada pose yang dipikirkan matang-matang. Mereka hanya menghadap kamera sambil memeluk map ijazah masing-masing.

Seingat Jeno, hanya dua hasil potrait foto mereka pada saat itu. Entah hasilnya bagus atau tidak, Haechan langsung berterima kasih kepada sang fotografer dadakan dan memasukan ponselnya ke saku.

”Ok Jen, gue mau lanjut ke belakang. Selamat buat gelarnya ya, semoga ilmunya bermanfaat untuk diri lu sendiri dan bangsa ini!” Ucap Haechan semangat sambil memajukan tangannya ke arah Jeno untuk berjabatan.

Yang kemudian disambut oleh Jeno, “Hahaha, iya lo juga. Sukses ya!”

Setelah itu mereka berjalan ke arah yang berbeda.

Jeno mengira perpisahan singkat di siang itu akan menjadi pertemuan terakhir mereka.

Toh, wisuda seringkali memang menjadi titik ketika setiap orang mulai berjalan menuju kehidupannya masing-masing.

Tapi ternyata, semesta belum benar-benar selesai mempertemukan mereka.

Kadang Jeno ingin merutuki dirinya sendiri. Kenapa di hari itu ia hanya menganggap Haechan sebagai seseorang yang kebetulan ditemuinya di tengah lautan wisudawan? Padahal andai saja saat itu ia sedikit lebih sadar untuk memperpanjang percakapan mereka, mungkin ia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Haechan. Mungkin ia bisa mengenalnya lebih cepat. Mungkin mereka punya lebih banyak kenangan yang bisa diceritakan kepada Gaby nanti.

Pikiran-pikiran seperti itu sesekali datang, mengundang penyesalan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar perlu. Karena pada akhirnya, waktu tidak pernah bisa diajak bernegosiasi. Ada hal-hal yang memang baru dipertemukan ketika keduanya sama-sama siap.

Tidak terasa air mata sudah berkumpul di pelupuk mata Jeno.

Hidupnya ternyata sudah berjalan sejauh ini.

Jeno tidak pernah bosan mensyukuri kehidupan yang ia miliki hari ini. Memiliki Haechan sebagai tempatnya pulang dan Gaby sebagai alasan mereka tertawa hampir setiap hari.

”Kamu kenapa?”

Suara Haechan secara tiba-tiba datang memecah lamunan Jeno.

”Gak apa-apa,” Ucap jeno sambil berusaha membersihkan tenggorokannya yang terasa kering. “Ini fotonya masih kamu simpen ternyata, ya?”

”Oh, iya. Ternyata kesimpen di iCloud lamaku, baru inget passwordnya minggu lalu. Aku cetak deh, kenang-kenangan.”

Haechan berjalan lebih dekat ke arah Jeno, ia angkat wajah Jeno dan mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih jelas wajah pria-nya itu.

”Kerjaan kamu udah selesai? Kenapa turun?”

”Belum, aku mau ambil minum tadi. Trus liat kamu sama By kok anteng. Aku penasaran jadi aku cek aja.”

”Yaudah kerjain dulu aja, By udah gak nangis kok.”

Haechan diam, masih mencoba menelisik lebih jauh ke mata yang terlihat basah.

”Kamu nangis?”

Jeno menggeleng.

”Kamu nangis karena capek jagain By?”

Gelengan kepala Jeno lebih cepat, “Enggak loh,” tak terima dituduh capek jaga anak.

Haechan tertawa tipis, “Trus apa?” Haechan bawa masuk raga Jeno kepelukannya, dengan Gaby yang masih ada di pangkuan Jeno.

”By bosen ga main sama Papa?” Ucap Haechan ke anak nya yang masih bermain dengan bingkai foto dirinya dengan Jeno.

“Apiii” Gumam Gaby dengan kosakata yang belum terunduh sempurna. Gaby merentangkan tangannya ke Haechan dan meminta untuk gendong.

“Eh lagi pegang foto Papa sama Papi ya By,” Ucap Haechan sambil gantian menggendong Gaby dan ikut memandang foto itu. “Papi masih muda banget ini di sini, yaampun masih ting-ting By.”

Terheran-heran Jeno mendengar perbendaharaan kata suaminya.

”Kamu kangen gak sih jaman kita masih muda? Jaman kuliah? Kaya enak banget ya dulu yang kita pikirin cuma tugas, masuk kelas, organisasi. Sekarang tanggungannya gak cuma diri sendiri, tapi ada si kecil yang sotoy ini.”

Jeno menggeleng.

”Kamu gak kangen muda?”

”Kangen, tapi dulu aku belum kenal sama kamu. Gak suka kalo gak sama kamu.”

Haechan berdecak, “Ck, apaan kok jadi bucin?”

Jeno raih satu tangan Haechan dan memegangnya erat, “Kamu bahagia gak sejauh ini hidup sama aku?” Tanya Jeno.

Haechan mengerutkan alis, raut wajahnya meminta penjelasan lebih lanjut ke yang bertanya.

“Kayaknya gak perlu aku jawab kamu udah tau jawabannya deh? Kenapa nanya gitu?”

”Gak apa-apa, aku mikir kita udah hidup bareng sejauh ini, tapi ngerasa masih banyak kurangnya untuk kamu.”

Haechan kembali merapatkan tubuhnya ke tubuh Jeno, sambil tetap menggendong Gaby dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap punggung yang selalu ia anggap kuat itu. “Jangan pernah mikir begitu ah, aku gak mau kamu punya pikiran itu,”

“Kamu itu, cukup. Mau gimana kamu merasa, kamu kurang A, kamu kurang B. Tapi kamu itu cukup untuk aku,”

“Aku ngeliat kamu dari semua hal yang udah kamu lakuin buat aku sama By. Dan setiap hari, aku selalu merasa cukup karena adanya kamu.” Haechan masih mengusap pelan punggung Jeno, lalu melanjutkan, “Yang kurang cuma satu.”

Jeno mengangkat sebelah alisnya, “Apa?”

“Yang kurang cuma masih sering lupa tutup rice cooker kalo habis ambil nasi.” Ucap Haechan diakhiri dengan jitakan pelan ke jidat Jeno.

Jeno tertawa, “Maaf kalo soal itu,”

”Enggak mau, berapa kali kamu bikin nasi aku jadi kering, coba?”

”Kan habis itu aku jadiin nasi goreng, tetep kamu makan, kan?”

”Ya dimakanlah, kan sayang.”

”Sayang nasinya?”

”Sayang suaminya.” Habis ngomong gitu, Haechan kecup pelipis Jeno dengan cepat. “Makasih ya udah jadi suami aku.”

Jeno hanya bisa geleng-geleng kepala sambil terkekeh. Tangannya refleks mengusap pelan perut Haechan yang masih berdiri di depannya.

“Ini perutnya laper gak?”

Haechan manyun, ia menerka-nerka dengan perasaan yang ada di dalam isi perutnya. “Sekarang belum, tapi gak tau dua jam kedepan. Takut revisinya gak kelar-kelar aku keburu makan meja.”

“Gragas,” kata Jeno sambil menepuk-nepuk pelan perut Haechan. “Mau delivery order aja, gak? Kamu lagi mau apa?”

“Hmm apa ya By? Papi bingung?” Yang ditanya malah melempar pertanyaan ke anaknya yang masih MPASI itu. “Boleh ga kamu aja yang pilihin? Aku ngikut kamu.” Pinta Haechan ke Jeno.

”Oke, yaudah sini Gaby-nya. Kamu masih belum selesai, kan?”

”Iya…” Haechan melirik sekilas ke arah tangga dengan raut wajah yang masih dipenuhi rasa bersalah. “Aduh… nangis gak ya ini kalau aku balikin ke kamu?”

Jeno mendengus pelan. “Coba aja dulu.”

“By…” Haechan mengusap pelan pipi Gaby yang langsung menatapnya penuh harap. “Papi kerja bentar ya. Nanti habis ini kita main lagi.”

Seolah mengerti apa yang akan terjadi, jemari kecil Gaby justru semakin erat mencengkeram kaus Haechan.

“Nah loh…” Haechan terkekeh pasrah. “Dia udah tau.”

Dengan hati-hati Haechan melepaskan satu per satu jari mungil Gaby yang menggenggam bajunya, lalu memindahkan si kecil ke pangkuan Jeno.

Selama dua detik pertama semuanya masih aman.

Gaby hanya berkedip sambil bergantian menatap wajah Papa dan Papi.

Lalu bibir mungilnya mulai mengerucut.

“Eh… jangan…”

Hu…

“By, jangan dulu…”

HUAAAAAA!

Tangisnya pecah memenuhi ruang tamu.

Haechan langsung meringis. “Ya ampun, maaf ya By. Papi kerja dulu bentar. Nanti Papi turun lagi.”

Bukannya tenang, Gaby malah mengulurkan kedua tangannya, tubuh kecilnya berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan Papa-nya. Tapi apa daya, Papi-nya sudah berlalu ke lantai atas rumah untuk kembali menyelesaikan kerjaannya.

“Sabar ya, By. Papa juga ditinggal sama Papi.”

Series this work belongs to: