Actions

Work Header

Eskapisme (Extended)

Summary:

Hanya Erwin dan Ramu bercinta.

Notes:

Anton as Erwin
James as Ramu
Lanjutan dari narasi chapter 3 Hari dari 21 Hari universe on X @aliorook

Work Text:


Erwin memutuskan untuk mengubah posisi mereka, kini Erwin duduk di tepi kasur dan Ramu di bawahnya sebab katanya pria kecil itu masih ingin belajar. Erwin tentu menyukai anak baik yang inisiatif, dimatanya saat ini Ramu lebih seperti anak kecil penuh rasa penasaran.

 

Sebenernya Ramu bukan tidak tahu caranya. Hanya saja kontol Erwin terlalu besar, Ia butuh pria dewasa itu bantu menuntunnya seperti yang selalu Ramu suka. Inginnya Erwin yang mengatur atas semua kendali dirinya, Ramu ingin diatur, dituntun, diberi arahan, dikendalikan secara sembarang. Begitu sudah pada posisinya, berjongkok sementara Erwin duduk melebarkan kedua kaki, Ramu kembali genggam batang kontol Erwin. Mendekatkan wajahnya, kembali menciumi sembari menjulurkan lidah, menjilat dengan mata sayu yang melirik ke atas, selalu ingin melihat reaksi Erwin, memang tujuannya adalah memberi servis pada pria awal 30-an itu. Memastikan Erwin menyukainya.

 

Sementara yang diberi servis melenguh, dengan dada kembang kempis membiarkan tangannya masuk ke celah rambut pendek Ramu, beberapa kali mengarahkan kepala Ramu ke kanan dan kiri berharap setiap jengkal kontolnya bisa rasakan hangat juluran lidah anak itu.

 

Erwin cukup frustrasi sejujurnya karena Ramu ternyata tidak cukup berani mengulum kontolnya yang sudah berkedut ingin dilingkup sesuatu yang lebih hangat, Ramu tidak berani sebab terlalu besar katanya.

 

“Buka mulutnya, Sayang” perintah Erwin, tangannya melingkar di rahang Ramu bantu membuka mulut yang kecil lebar-lebar. Sementara tangannya yang lain mengarahkan kepala kontolnya ke mulut Ramu, “kulum”

 

Menurut walaupun sedikit was-was, Ramu mengulum kepala kontol Erwin yang langsung direspons dengan lenguhan panjang, libido Erwin kian bertambah bukan hanya karena Ramu menjadi anak baik yang penurut namun lihat pemandangannya saat ini.

 

Ramu cantik, pipi merah, bibir bengkak, mata sayu tidak luput dari pandangnya, di tambah kontolnya sudah masuk ke bibir cantik itu. Sesekali mendesis ketika dengan sengaja Ramu menghisap kontolnya dan dengan berani memaju mundurkan kepala.

 

“Pinter Adek sayang, iya begitu, Cantik.. hh.. isep terus kontol Masnya sayang.. ahh”

 

Bagai menguap rasa gugup Ramu, mendengar suara lenguhan Erwin yang dibarengi pujian buat Ramu kian berani. Mematik adrenalinnya sebab kini Ramu mencoba memasukkan lagi kontol Erwin lebih dalam ke tenggorokannya walau tetap hanya dapat masuk setengah. Namun sukses buat Erwin mendesis berat dan frustrasi karena gerakan Ramu yang berani namun kurang lihai. Maklum pertama kali.

 

Erwin kembali melesakkan jemarinya di helai rambut Ramu, “enak mulut Adek sayang, Mas cepetin ya” setelahnya Ramu hanya bisa pasrah saat kepalanya digerakan maju mundur dengan cepat sampai liurnya tidak dapat lagi tertampung, menggantung di antara dagu dan batang kontol Mas Erwin. Ramu meremat paha pria itu kuat-kuat, terbatuk karena beberapa kali Erwin merojok kontolnya terlalu dalam.

 

Matanya merah berair namun berusaha tetap terbuka, buat dirinya terlihat lebih menggairahkan bagi Erwin, semakin mematik nafsunya, tidak berniat berhenti sebelum Erwin merasa Ramu menepuk-nepuk pahanya meminta berhenti.

 

Si Cantiknya butuh bernapas.

 

Dengan terengah-engah, Ramu mengambil udara sebanyak mungkin, terkadang masih terbatuk namun lagi-lagi mendekatkan wajahnya pada batang kontol Erwin yang sudah basah air liurnya sendiri, mengecup, memainkannya dengan pipi, Ramu tidak terlihat seperti seseorang baru belajar memberi servis.

 

Sebab Erwin cukup terhibur.

 

Ramu juga terlihat senang dengan mainan besar barunya.

 

“Adek suka hm?” Tanya Erwin setengah berbisik, mengusap rambut Ramu yang sang empunya kini mengangguk dan masih sibuk mencium, menjilati kontol Erwin.

 

“Ada yang bakal lebih Adek suka” Erwin mengangkat Ramu untuk bangkit dari jongkok, meremas pinggang kecil Ramu dan menariknya agar lebih dekat, menengadah, terkekeh mendapati air wajah si pria kecil yang sudah seperti orang mabuk.

 

Memang habis mabuk kok Ramu, mabuk kontol Mas Erwin.

 

“Boleh Mas buka celananya, Sayangku?” Tanya Erwin. Ramu menyampirkan kedua lengannya pada kedua bahu Erwin, dalam kondisi dan situasi dimana Ramu hampir hilang akal, Erwin tetap meminta persetujuannya buat Ramu lagi-lagi salah tingkah menggigit bibirnya sendiri.

 

Ramu suka, sebagai first timer, doing it with man who values consent akan menjadi experience terbaik baginya. Dibuat nyaman tapi gila secara bersamaan.

 

“Boleh” jawab Ramu pelan hampir seperti bisikan, Erwin tersenyum mendengarnya mengambil kesempatan untuk mengecup rahang yang cantik berkali-kali sambil lengannya menurunkan celana Ramu sepenuhnya.

 

Telanjang bulat sudah Ramu dibuat. Udara ruang kamar yang luas dan dingin menyapa kulit polosnya buat Ramu mengangkat kedua bahu semakin mendekatkan diri pada pria di depan, membiarkan tubuhnya kecil agar Erwin dapat mendekapnya.

 

Kecupan Erwin jatuh hingga tulang selangka Ramu, tangannya menggerayang dengan acak dari pinggang hingga ke bawah, menyapa tekstur kenyal bongkahan pantat sintal milik yang lebih muda. Meremas, menggenggam dengan erat, tak ayal dengan jahil Erwin buat bongkahan itu bergetar dengan tangannya.

 

Napas Ramu kian berat, kontol miliknya juga sudah berdiri sempurna. Dengan kurang ajar makin mendekatkan kontolnya pada perut Erwin dalam posisinya  sekarang. Menggeseknya pelan tanpa tahu malu sedangkan Erwin membiarkannya, fokus mencumbu leher Ramu dan lengan yang sibuk menggerayang pantat sintal si Adek kecil.

 

Lama-lama Ramu juga di buat frustrasi.

“Mas.. Adek mau mainin juga” rengekan Ramu sukses buat Erwin berhenti dari kegiatan membuat tanda di leher si Cantik, terkekeh. Tangannya mulai meraba dan menggenggam dengan gemas kontol Ramu. Menunduk, memposisikan miliknya di sebelah Ramu dan terkekeh mengamati perbedaan besar keduannya.

 

Ramu cemberut, yang tidak Ramu lihat adalah bagaimana Erwin menahan senyumnya sebab kembali memberi perhatian pada air wajah Ramu. Tampak desperate. Tangannya naik, mengarahkan jari pada mulut Ramu.

 

“Jilat, Sayang. Nanti Mas kocokin kontol Adek sampe lemes” Ramu bergetar tubuhnya, tidak sangka ucapan kotor seperti itu juga bisa membangkitkan libido.

 

Erwin paham ini pertama kali bagi Ramu, pertama kali maka Erwin tidak bisa terburu-buru untuk cicipi menu utama yang Erwin asumsikan akan buat dirinya mabuk hilang kendali. Pun Erwin masih belum tahu apakah Ramu akan mengizinkannya, bayangan kontolnya masuk ke lubang sempit tidak pernah disentuh itu buat nafsunya semakin berapi dan kini kontolnya berkedut kurang ajar.

 

Ramu seperti anak baik menjilat 3 jari Erwin sekaligus, sengaja buat liurnya mengalir diantara urat jemari itu, menatap Erwin sayu, memberikan apa yang Erwin suka saat ini adalah adiksi Ramu tersendiri.

 

Ramu ingin dipuji lebih banyak.

 

Merasa jarinya cukup basah, Erwin menariknya kembali. Mengarahkan ke bawah untuk memompa milik pria kecilnya. Dengan basah dari liur Ramu, Erwin mengocok kontol Ramu dengan konstan, sesekali jahil memainkan ujungnya tepat di lubang kencing Ramu yang buat pria itu melenguh panjang, tubuh bergetar. Sementara tangan sibuk mengocok kontol Ramu, Erwin mengambil kesempatan untuk menikmati ekspresi mengundang nafsu milik Ramu.

 

Entah disengaja atau tidak, Ramu mendesah, dadanya naik turun, mulut terbuka, menatap lurus pada Erwin, terkadang mengigit bibirnya sendiri menahan suara kotornya terlalu nyaring.

 

Melihat Ramu seperti itu tentu Erwin semakin menambah kecepatan pompoaannya. Mendekatkan wajah pada sisi wajah Ramu, menjilat cuping telinganya hingga basah.

“Enak, Sayang? Enak Mas kocokin kontolnya ya? Mau dibikin sampe bucat?” Bisiknya penuh kata kotor. Tubuh Ramu makin bergetar, rasanya kakinya sudah sulit berdiri tegak. Kecepatan tangan Erwin juga kian ganas, Ramu sampai dibuat meremat rambut pria itu kencang.

 

“Ahh.. Mashhh.. nghh gak kuat ahh.. Mas Adek mau keluar shh”

 

Tepat setelah terdengar rengekkan itu Erwin dengan sengaja menghentikan kegiatannya, Ramu yang sudah hampir keluar putih menggerung frustrasi hampir melanjutkan aktivitas Erwin tadi dengan tangannya sendiri sebelum Erwin menahannya.

 

Pria itu berbisik tepat di telinga, “Adek bisa keluar pakai cara lebih enak, Mau Mas ajarin yang lain?” Tanyanya.

 

Ramu yang masih setengah sadar dan mengatur napas pasrah saja begitu Erwin kembali mendudukkan Ramu di pangkuannya. Si Cantik mengalungkan lengan di leher Erwin, mengantisipasi apa yang akan Erwin lakukan pada tubuhnya lagi.

 

Telapak tangan Erwin dengan lembut mengusap punggung Ramu, perlahan turun ke bawah dengan kontak mata yang tidak lepas, Ramu sendiri merasakan tangan besar itu semakin nakal, meremas dan dengan sengaja memijat ke kanan kiri membuka belahan pantat si yang lebih muda, Erwin yakin pemandangan dibawah sana cantik luar biasa. Erwin menampar kecil bongkahan itu buat Ramu melenguh pelan.

Aneh rasanya, Ramu merasakan lubang analnya berkedut saat Erwin kembali mencumbu pipinya, mencium bibir dengan rakus, menghisap penuh nafsu, terkadang Ramu mendesah disela-sela ciuman mereka yang juga semakin mematik nafsu pria dewasa di depannya.

 

“Mas boleh pegang Adek di bawah?” Tanya Erwin memastikan. Ramu tahu maksudnya. Tangannya turun memegang pergelangan lengan Erwin di bawah sana, sambil mengigit bibirnya sendiri Ramu mengarahkan tangan berurat itu pada analnya yang semakin berkedut nakal menyambut Erwin.

 

Terdengar kekehan kecil dari Erwin yang masih mencumbu tubuh polos itu. Begitu dapat persetujuan si yang lebih muda, jari Erwin dengan menggoda bermain di pintu lubang analnya. Tidak masuk, hanya sengaja menekan, mengusap dengan dua jarinya, sesekali Ramu merasa kuku jari itu menggaruk lubangnya yang terasa gatal, buat Ramu makin berkedut dan menggeram, tidak sadar ikut menggerakkan pinggulnya.

 

Seumur hidupnya Ramu tidak pernah mengira jika rangsangan seperti ini pada lubangnya bisa bekerja dengan sangat baik mengingat Ramu bahkan baru kali ini memiliki hubungan seksual dengan seorang pria.

 

Rasanya aneh dan jorok tapi buat Ramu mabuk hilang akal.

 

Erwin sibuk menonton secara gratis ekspresi dari wajah Ramu yang sudah terangsang luar biasa, menyumpahi diri sendiri sebab Ramunya yang dalam keadaan biasa saja sudah menggoda secara seksual, apalagi saat ini, mulut terbuka, liur hampir jatuh, terlihat cantik dan murahan secara bersamaan, sukses buat kontol Erwin berkedut penuh nafsu. Sementara jari masih bermain nakal di bawah sana.

 

“Mas.. nhgg.. masukin ya? Mas mau masukin Adek kan? Masukin jari Mas yang gede itu tapi satu aja ya Mas.. shh ngghh.. lubang Adek masih sempit, gatel Mas mau dimasukin..”

 

Kontradiksi antara keinginan dan rasa takut sangatlah menggambarkan Ramu.

 

Ramunya hanyalah anak muda penuh rasa takut dan penasaran. Dihadiahi rengekan manja itu buat Erwin menggeram pelan, ujung jarinya tak sengaja masuk begitu Ramu dengan sengaja mengedutkan lubangnya. Nakal, Ramu nakal.

 

“Please.. Mas sayang nhh.. masukin Adek ya? Mau ya Mas?”

 

Terus, Ra. Beg just for my one finger to fill you up. You look heavenly pretty, Sayangku. Cantik sekali.

 

Ramu memohon, terus, kedua lengannya menangkup wajah Erwin, mencium, menjilat wajah menggoda Erwin hanya untuk jari itu masuk menyatu dalam dirinya.

 

Tepat saat Ramu mencium bibir Erwin, satu jari masuk ke dalam lubangnya dengan pelan. Buat Ramu melenguh tertahan di hadapan bibir Erwin yang barusan habis Ia makan. Begitupun Erwin yang menggeram sebab jarinya dijepit habis oleh si Cantik, hanya satu jari namun sempitnya luar biasa.

 

“Feel it, Baby?” Bisik Erwin dengan suara beratnya. Ramu mengangguk frustrasi. Geli, jari itu bermain di dalam sana bergerak menggaruk dinding analnya seperti mencari sesuatu. Ramu tidak tahu Erwin tengah melakukan apa pada tubuhnya tapi demi apapun, nikmat luar biasa hingga Ramu rasanya ingin menangis.

 

“AHHK—“

 

Gotcha.

 

Titik manis yang tidak akan pernah Erwin lupakan tempatnya, jari itu sukses menekan spot surga Ramu berkali-kali buat Ramu melempar kepalanya ke belakang, merengek, mendesah, memanggil nama Mas Erwin berkali-kali dibarengi kata “enak” dan berbagai pujian soal bagaimana lincah jari besar itu di dalam sana.

 

Dan Erwin menyukainya, sebagai hadiah karena Ramu telah menjadi anak baik yang tahu caranya menyenangkan hati, Erwin menambahkan lagi jarinya.

 

“Nghh Mas.. hhh Adek enak Mas shhh.. ahh gede jarinya Adek suka.. terus, lagi, Mas yang dalem, lubang Adek enak ahh..”

 

Cantiknya, Ramu. Tanpa malu bergumam acak tidak beraturan saking kepalanya terlalu dipenuhi rasa nikmat dari lubang analnya yang tengah dilebarkan kedua jemari Erwin. Bergerak dengan pola menggunting guna pria kecilnya terbiasa dengan ukuran yang akan lebih besar nantinya.

 

Satu tangan Erwin yang lain membawa lengan Ramu untuk kembali memegang kebanggaannya, kontol Erwin masih menegang sempurna, butuh perhatian Ramu yang cantik yang sedikit lagi hilang otaknya.

 

“Di pake tangannya yang bener, coba pegang lagi kontolnya Mas ini kangen dimainin Adek, bisa masuk gak ke lubang sempit Adek nanti hm?” Bisik Erwin di samping wajah Ramu.

 

Ramu bergetar mendengarnya, stimulasi di bawah sana dibarengi kata-kata jorok buat kepala Ramu pusing. Sebagai anak penurut, Ramu mulai memompa lagi kontol Erwin, membayangkan benda sebesar ini masuk dan menyatu dengan dirinya buat lubang Ramu berkedut lagi. Erwin tersenyum mengejek menyadari betapa pria kecilnya mudah sekali terpancing.

 

Jujur saja, Ramu tidak bisa membayangkan.

 

Kondisi Ramu juga sudah tidak begitu baik, kontolnya basah di ujung, cairan pre-cum membasahi kaos Erwin. Entah bagaimana kondisinya nanti jika pria besar itu menginginkan dirinya masuk.

 

“Mas mau?” Tanya Ramu lirih. Menatap sayu Erwin dengan dada kembang-kempis, “mau masukin kontolnya ke lubang Adek? Tapi Adek sempit nanti sakit..” lanjutnya pelan, niat hati mengadu, namun dimata Erwin lain lagi. Ramu malah seperti tengah menggodanya. Sialan.

Erwin menelan ludahnya susah payah, “Mas mau kalau Adek sayang mau” kecupan jatuh pada pipi merah Ramu. “Udah ngga sempit lagi ini, udah bisa nelen dua jari Mas, pinter Adek cantik ini”

 

Makin terbanglah Ramu. Walaupun rasanya dua jari itu cukup besar untuk lubang perawannya, tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan milik Erwin yang besarnya bukan main. Takut tapi Ramu juga ingin menyenangkan Erwinnya.

 

Mungkin ini yang orang-orang maksud bercinta. Rasa ingin menyenangkan dan mengerti keinginanan satu sama lain.

 

“Adek mau buat Mas Er, tapi pelan-pelan aja ya..” final Ramu buat Erwin tersenyum, kembali mencium bibir bengkak itu, menggendong Ramu dan membawanya berbaring lagi di kasur. Erwin bersumpah pengalaman pertama Ramu akan menjadi yang terbaik dihidupnya.

 

Kembali pada posisi ini, Erwin menindih Ramu dibawahnya namun kali ini dengan kaki Ramu dibuka lebar-lebar. Pahanya dibuat terangkat sedikit, Ramu yang merasa bagian bawah mereka bersentuhan memalingkan wajah malu. Namun tetap merespons dengan lenguhan begitu jari Erwin kembali menginvasi lubangnya. Memastikan basah di sana, menyiapkan ujung kontolnya di pintu masuk kenikmatan milik Ramu.

“Hey, liat Mas sini” perintah Erwin begitu tahu Ramu memalingkan wajah. Erwin ingin melihat langsung ekspresi pria kecil itu saat miliknya masuk nanti. “I promise I’ll do it slowly” bisik Erwin.

 

Dengan sedikit dorongan karena pipinya habis dikecupi, Ramu memberanikan diri menatap Erwin. Menelan ludahnya susah payah. Tiba-tiba gugup lagi setelah beberapa menit lalu ucapan kotor keluar dari mulut tanpa malu. Ramu bisa merasakan ujung kontol Erwin sudah menyapa lubangnya, tubuhnya dibuat merinding.

 

Ramu mengangguk sambil membasahi bibirnya sendiri. Mengambil sinyal itu sebagai tanda maju serta libido yang sudah ditekan habis kesabaran, menggunakan tangan Erwin menuntun kepala kontolnya untuk masuk perlahan.

 

“Ahhh.. Mas shh..”

 

“Shtt ini pelan, Sayang”

Memang pelan, pelan dan hati-hati. Padahal Ramu yakin Erwin sudah frustrasi tapi masih begitu sabar dengan dirinya yang kadang menahan pinggul Erwin untuk berhenti sebentar.

 

Terlalu besar. Erwin menggeram sebab rasa dijepit yang gila, baru kepala kontolnya yang masuk Erwin sudah pening. Ramunya luar biasa nikmat.

 

“Ahhk—“ Ramu mengerutkan keningnya begitu Erwin sukses memasukan setengah penyatuan mereka. Keduanya sibuk mengatur napas, Erwin bergerak pelan namun lugas maju mundur.

 

Demi apapun, Ramu ingin menangis. Rasa seperti dirobek namun tiitk nikmatnya kembali Erwin temukan buat Ramu mendesah tertahan. Kenapa Erwinnya mudah sekali buat dia terlena sih.

 

“Masih sempit lubang Adek sayang shh.. sempit banget Mas ewein perawan” jorok, jorok tapi Ramu suka. Erwin memeluknya, menguburkan diri di antara leher Ramu suaranya jadi bergema di telinga buat Ramu bergidik.

 

Pinggul Erwin bergerak, Ramu mulai terbiasa dengan benda besar yang maju mundur semakin lama semakin dalam merojok lubangnya itu. Meremas punggung polos Erwin, terkadang menahan jeritannya dengan mengigit bahu si pria lebih tua.

 

Erwin memang berniat memasukkan sepenuhnya, Ramu tahu. Membiarkan Erwin terus melebarkan lubang anal yang lama-lama Ramu kedapatan juga nikmatnya. Kadang mengejan saat Erwin masuk terlalu dalam, sakit, ngilu, tapi enak. Jari kakinya menutup rapat, tubuh bergetar hingga kaki saat ujung kontol Erwin berhasil lagi menabrak titik nikamatnya.

 

Ramu ingin menangis.

 

“Ahh nghh.. ahhk.. Mas iya disitu hiks.. lagi, enak Mas, Adek mau lagi ahh.. ewein lagi Adeknya nghh..”

 

“Fuckk— jangan disempitin Sayang, Mas udah kejepit kontolnya nghh.. Adek hh sayanghh..”

 

Berisik.

 

Tiba-tiba desahan memenuhi ruangan bergantian. Semakin cepat tempo genjotan Erwin, semakin kencang desahan Ramu yang buat Erwin makin terpacu adrenalinnya. Seperti efek domino, maka ketika mereka saling menyahuti desahan dan kata-kata jorok, pun jadi pemicu Erwin yang semakin kencang hentakannya dan Ramu yang memekik sudah tanpa tahu malu lagi.

Bunyi tabrakan antar kulit pun tak ayal mengisi ruang kamar, setiap genjotan Erwin sukses buat kaki Ramu bergetar hebat, terlalu dalam, terlalu besar, terlalu gila. Erwin kalap, Ramu pun sama kalapnya. Hanya bisa menerima, mendesah, merengek, meminta berhenti namun juga meminta agar Erwin terus menyetubuhinya.

 

Gila. Ramu tidak tahu bisa sedahsyat ini rasanya.

 

Erwin mencium bibirnya lagi yang tak habis-habis mendesah, memakan bibirnya nafsu, Ramu ikut membalas, lidah mereka melilit, bermain, saling menghisap. Ramu dengan sengaja menjulurkan lidahnya, Erwin menyambut dengan jilatan dan hisapan yang bukan hanya menarik air liurnya, tapi kewarasannya juga ikut Erwin hisap habis.

 

Sudah tidak ada lagi percakapan waras seperti beberapa saat lalu, keduanya sudah sama-sama terbang. Ramu benar-benar dibuat lupa dunia.

 

Rojokan bukan main dari kontol besar Erwin juga buat miliknya keluar cairan berkali-kali, basah, lengket, tapi yang satu ini buat perutnya diaduk. Seperti ada yang akan keluar menyembur dari kontol Ramu.

 

Geraman Erwinpun terdengar, genjotannya semakin dalam semakin intens, semakin membesar di sana hingga Ramu bisa merasakannya sendiri.

 

“Hhh… Mas mau keluar sayang..” desah Erwin.

 

Rupannya Ramu juga sama, namun si kecil tidak punya energi untuk membalas. Satu hingga tiga kali hentakan kuat buat kaki Ramu bergetar bersamaan dengan cairan sperma yang membasahi perut Erwin. Di susul si pria lebih tua yang semakin menggeram buat Ramu merinding lalu mencabut miliknya dari lubang dan menyemburkan cairan yang sama seperti Ramu beberapa detik lalu.

 

“Ngrrrhh.. fuckk.. hhh”

 

Mereka keluar bersamaan.

 

Jatuh kaki Ramu kekasur, lemas, sesekali tubuhnya masih bergetar, rasa kosong sebab lepasnya penyatuan mereka buat lubang Ramu berkedut belum terbiasa. Mengatur napas susah payah, hanya bisa menunggu Erwin selesai dengan pelepasannya sendiri.

 

Ramu yang menutup mata hampir tertidur kembali terbuka saat pipinya dikecup sayang oleh Erwin yang berbaring lebih ke atas di sampingnya, Ramu menoleh mendapat Erwin tersenyum manis. Tangan pria besar itu menarik selimut dan menutup tubuh polos Ramu dan melingkarkan tangannya di perut tertutup itu.

 

“Cantik, Adek cantik. Everything about you is just so pretty, Sayang. My dear, Ramu” bisiknya tepat di telinga Ramu. Mengecup rahang, pipinya berkali-kali, hidung, dagu, dahi, hingga matanya tidak lepas dari kecupan manis Erwin. Ramu yang sudah lelah hanya bisa terkekeh geli, menangkup pipi Erwin dan memberinya kecupan manis juga di ujung bibirnya.

 

“Adek bobo ya? Ngantuk banget..” ujar Ramu pelan. Erwin tersenyum, mengangguk.

 

“Istirahat, Sayang. Nanti agak malam Mas bangunin lagi ya. Adek belum makan malem” balas Erwin, Ramu yang sudah diujung kesadarannya hanya bergumam pelan dan jatuh tertidur dengan mudahnya.

 

Erwin mengusap rambut pria kecilnya lembut, dahinya kembali Ia kecup, kali ini penuh jeda. Tidak mau membangunkan Ramu dari tidurnya, Erwin bangkit dari kasur, berniat membersihkan diri dan mengelap sedikit tubuh Ramu yang lengket agar tidurnya tidak terganggu.

 

Dilanjut dengan Erwin yang kemudian sibuk di dapur menyiapkan makan malamnya dengan Ramu. Oh, hampir lupa juga besok Ia harus keluar kota, mungkin sembari menyiapkan kebutuhan kepergiannya besok.