Actions

Work Header

Stacy's Brother

Summary:

Tetapi, Kim Ryul punya sesuatu rahasia yang harus ia utarakan.
Itu bukan soal senyum Stacy ataupun cara berpakaiannya yang cantik. Intinya Stacy bukan alasan Ryul dalam memikirkan hal berbau 'jatuh cinta'
Memang setiap pergi Bersama Stacy, Ryul kehilangan wibawanya ketika berada di sekitar Stacy.
Ryul tersenyum untuk Stacy sebab alasan yang lain.
Setiap saat bersama Stacy, Ryul hanya memikirkan hal lain...
Bagaimana caranya untuk mengungkapkan kalimat kepada Stacy jikalau Ryul itu ...
— Mencintai Kakaknya Stacy.

Kwon Ohyul

Notes:

Part 1 dari 2. bahasa campur dan tidak baku.
AU kampus yg dilebai lebaikan... just au yach guys berkebalikan di dunia perkampusan yang menyebalkan itu.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kim Ryul adalah kapten tim futsal resmi Universitas Morvints sekaligus salah satu atlet muda yang tengah diproyeksikan masuk liga profesional. Wajah tampan, prestasi akademik yang baik, dan karier olahraga yang menjanjikan membuat namanya dikenal hampir seluruh mahasiswa. Julukan ‘pangeran kampus’ melekat begitu saja padanya.

Banyak yang menyukainya.
Banyak yang mengejarnya.

Namun tidak ada satu pun yang berhasil membuat Ryul benar-benar tertarik, kenyataan pahit tapi memang Ryul hanya suka bermain-main dengan para gadis yang mendekatinya. Bawa perasaan? tidak pernah. Anggaplah Ryul kejam. Ia tidak pernah menjanjikan hubungan, tidak pernah memberi harapan. Jika seseorang salah mengartikan sikap ramahnya, itu bukan urusannya. Menurut Ryul, memaksakan rasa suka jauh lebih kejam daripada menipu seseorang dengan perasaan palsu.

Semuanya berubah ketika seorang mahasiswi dari program pertukaran studi Bernama Kwon Stacy datang ke kampus mereka.
Stacy hanya membutuhkan beberapa hari untuk menjadi pusat perhatian. Selain cantik dan ramah, ia juga memiliki prestasi akademik yang mengesankan. Tidak butuh waktu lama hingga namanya mulai terdengar di berbagai sudut kampus.

Yang membuat keadaan semakin ramai adalah Kim Ryul sendiri.
Alih-alih menjaga jarak seperti biasanya, Ryul justru terlihat beberapa kali mendekati Stacy lebih dulu. Keduanya kerap terlihat berbincang di koridor kampus, kantin, bahkan tribun latihan futsal.
Rumor pun menyebar dengan secepat badai.
Keadaan semakin heboh ketika Stacy bergabung dengan tim cheerleader kampus. Ketenarannya meroket, dan nama mereka berdua nyaris selalu disebut bersamaan.

 

-----

 

"Kak Ryul hari ini tanding, ya?" Stacy memainkan ujung jarinya sambil menatap laki-laki di depannya.

Ryul mengusap rambut hitam gadis itu dengan santai. "Iya." Balasnya dengan senyum manis yang membuat siapa saja bakal berlutut dan memujanya.
Interaksi sederhana itu langsung menarik perhatian mahasiswa yang kebetulan melewati koridor.

"Cieee... ada yang kasmaran!" Seorang mahasiswi bersiul menggoda.
Stacy langsung menunduk malu. Jari-jarinya mencengkeram ujung rok lipitnya. Pipinya memanas.

Ryul justru tertawa kecil melihat reaksinya. Saat itulah seseorang berhenti di samping loker Stacy. Seorang pemuda dengan tinggi yang hampir sama berdiri sambil memasukkan buku ke dalam loker.
Wajahnya lembut.

Tatapannya hangat.

Kwon Ohyul, kakak laki-laki Stacy.

"Kalau salting jangan kelihatan banget dong." Bisikannya terdengar pelan tepat di telinga Stacy. Lalu ia tertawa kecil sebelum berjalan pergi.
"Ihh, Kakak!" Stacy merengek malu.

Nyatanya bukan hanya Stacy yang murid pindahan. Kakak laki-lakinya juga dengan jalur yang sama. Kwon Ohyul, nama yang tidak setenar Stacy tentunya. Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan semester empat yang bekerja sebagai student manager sekaligus analis pertandingan tim futsal universitas. Ohyul bukan tipe orang yang mudah menarik perhatian. Ia tidak aktif organisasi selain pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak suka keramaian. Tidak suka menjadi pusat perhatian.

Ohyul hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.

Ryul ikut memperhatikan sosok itu menjauh. Tatapannya mengikuti rambut gelap yang perlahan menghilang di tikungan koridor.
Entah kenapa… Ia memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya.

"Kakakmu barusan tertawa."
Stacy mendengus. "Aku juga tahu."
Ryul terkekeh. " Okey... Kutunggu sorakan semangat cheer team kalian nanti." Ucapnya dilanjutkan depngan kepergian. Ia berlari kecil meninggalkan Stacy.
Arah yang ia tuju kebetulan sama dengan arah menghilangnya Ohyul beberapa menit lalu.

 

----

 

"Hey."
Sebuah tepukan ringan mendarat di bahu Ohyul, pemuda itu berhenti berjalan dan menoleh.

"Iya?"

Ryul berdiri tepat di belakangnya. "Hari ini pertandingan mulai jam berapa?"

Ohyul berpikir sejenak. "Habis kelas kak Ryul selesai, mungkin... Langsung pertandingan."

"Ah." Ryul mengangguk. "Makasih."

Ohyul tersenyum kecil. Senyum yang selalu terlihat ringan. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat.
"Mm.” Setelah itu ia kembali berjalan.

Begitu saja.

Tidak ada basa-basi tambahan, tidak ada usaha memperpanjang percakapan.

Dan itu yang paling membuat Ryul kesal.

Padahal Ohyul adalah manajer tim futsal mereka. Mereka sering bertemu, sering bekerja sama. Namun Ohyul tidak pernah sekalipun menunjukkan ketertarikan untuk mengenalnya lebih jauh. Selalu seperlunya. Selalu professional, seolah Kim Ryul hanyalah ketua UKM biasa. Bukan sosok yang selama ini selalu berhasil menarik perhatian siapa pun.
Ryul berdiri diam.

Menatap punggung Ohyul yang menjauh. Lalu tersenyum tipis. Tatapan birunya sulit diartikan.

 

---

 

Pukul dua siang pertandingan dimulai. Stadion kampus dipenuhi mahasiswa. Sorakan bergema dari segala arah. Di antara kerumunan itu, tim cheerleader menjadi salah satu pusat perhatian. Terutama Stacy. Seragam hitam-merah yang dikenakannya sangat cocok dengan postur tubuhnya. Begitu ia muncul, banyak mata langsung tertuju padanya.

"Kak Ryul! Semangat!" Stacy melambaikan tangan.

Ryul membalas dengan ciuman jarak jauh.

Sorakan langsung meledak. Mahasiswa di sekitar mereka hampir histeris.
Namun tak banyak yang memperhatikan seseorang yang berdiri beberapa langkah di belakang Stacy.

Kwon Ohyul. Dengan kardus perlengkapan tim di kedua tangannya, ia berjalan mendekati Stacy dalam beberapa Langkah. "Oh, semangat menyemangatinya." Godanya sambil berjalan melewati sang adik.
Stacy langsung menutup wajahnya. "Ihh, Kakak!"

Ryul memperhatikan semuanya, termasuk tawa kecil Ohyul yang terdengar begitu lepas.

Sampai akhirnya Woonhak menghampiri pemuda itu. "Sini, biar aku bantu." Woonhak mengambil kardus dari tangan Ohyul.
"Oh? Terima kasih." Senyum Ohyul muncul lagi.

Dan Ryul merasa sesuatu mengganjal di dadanya."Ck." Decakan pelan lolos dari bibirnya.
Entah kenapa, melihat Ohyul tersenyum pada orang lain terasa sangat amat mengganggu.

 

---

 

Pertandingan berjalan lancar. Gol demi gol tercipta.
Skor sementara 3–1 untuk tim Ryul. Setiap kali mencetak gol, Ryul selalu mencari satu sosok di tribun. Awalnya Stacy. Namun setelah itu matanya tanpa sadar berpindah mencari seseorang yang berdiri di belakang kerumunan. Anehnya, Ryul selalu bisa menemukan keberadaan pemuda itu di tengah kerumunan. Seseorang yang lebih sibuk memperhatikan jalannya pertandingan daripada berteriak memberi dukungan.

Kwon Ohyul. Dan sosok itu mulai mengganggunya.
Setiap kali pandangan mereka hampir bertemu, Ohyul selalu lebih dulu mengalihkan mata, seolah tidak sadar, atau mungkin memang sengaja.

---

Waktu istirahat tiba.

Woonhak langsung menghampiri Ohyul.
"Yo— eh, Nyul. Lihat golku tadi?"

"Tentu."
Mata Ohyul langsung berbinar. "Itu keren banget, Unakkk."

Tawanya terdengar ringan, jujur dan tulus.

Woonhak tersenyum puas. Namun sebelum percakapan mereka berlanjut—

"Bisakah bantu aku?" Suara Ryul memotong, terdengar dingin dan tegas, pertama kalinya Ia begitu.

Ohyul menoleh, dapat ia lihat Ryul memegang pergelangan tangannya, bibir ohyul membulat "Oh."

Ia langsung mengambil kotak P3K, tak lama kemudian ia berjongkok di depan Ryul. Posisi yang membuat banyak pemain diam-diam melirik. Jari-jari Ohyul menyentuh tangan Ryul.
Hangat dan lembut dapat Ryul rasakan saat kulit mereka bersentuhan, hanya untuk memeriksa cedera. Namun tubuh Ryul terasa menegang.

"shh.." Desis kecil lolos saat semprotan pereda nyeri mengenai kulitnya.

Ohyul menepuk-nepuk perlahan bagian yang cedera. Fokus sepenuhnya pada pekerjaannya. Tidak menyadari bahwa Ryul sejak tadi memperhatikannya.
Terlalu dekat.

Terlalu lama, hingga Ryul berhenti memperhatikan wajah itu, ia memicing dan mulai merasakan pusat sentuhan Ohyul, bagaimana kulit itu lembut menyapu kulit Ryul, dan bagaimana hembusan nafas Ohyul terasa hangat saat di kulit Ryul.

Sampai akhirnya sentuhan itu menghilang.

Saat Ryul membuka mata, Ohyul sudah berjalan menjauh. Membawa roti dan susu untuk Stacy.
Lagi-lagi.
Selalu Stacy.
Selalu adiknya.
Tatapan Ryul mengikuti sosok itu tanpa sadar.

 

---

 

Pertandingan berakhir dengan kemenangan tim mereka. Stacy langsung memeluk kakaknya dengan gembira, Ohyul tertawa membalas pelukan itu.
Momennya sederhana, namun entah kenapa Ryul tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Setelah suasana sedikit sepi, Ohyul mulai membereskan perlengkapan tim.
Sebuah botol minum menggelinding menjauh.

"ish—" Ia berlari kecil mengejarnya.

Hingga botolnya berhenti karena menabrak dinding. "Akhirnya" gumamnya lega membungkuk mengambil botol itu. Saat bengkit dan hendak berbalik Ohyul dikejutkan dengan kehadiran seseorang tepat dihadapannya. Hampir saja dada bidang itu ia tabrak..

Kim Ryul.

Pria itu berdiri tepat di depannya.

Terlalu dekat.

Sangat dekat.

Ohyul berkedip. "kakak perlu sesuatu?"

Ryul tidak langsung menjawab.

Ia menundukkan tubuh, menyamakan tinggi pandangan mereka. Tatapan kelamnya menahan Ohyul di tempat. Untuk beberapa detik, tak satu pun bergerak. Jantung Ohyul berdebar aneh, ia bahkan tidak tahu kenapa. Ohyul menjauhkan wajahnya saat Ryul memperdalam tatapannya pada manik Ohyul. Kedua kalinya mereka saling tatap. Ryul mengalihkan pandangan kebawah tepat kedalam kardus penuh barang. "Aku mencari ini" ucap Ryul mengambil sebuah gelang dari dalam sana. Ohyul hanya mengangguk saat ia lihat Ryul mulai memakai gelang hitam itu.

Lalu hening.

Tetapi Ryul tidak menjauh, justru tetap berdiri di sana, membuat punggung Ohyul perlahan menyentuh dinding.
"Apa Stacy nanti malam ada di rumah?"

"Tentu."

"Boleh aku datang jam delapan?"

Ohyul mengangguk antusias "Bisa. Stacy pasti senang." Jawabnya, Siapa yang tidak tahu jika Ryul selalu datang menjemput Stacy untuk kencan, Ohyul tentulah yang paling tau karena Stacy benar-benar menceritakan semuanya secara menyeluruh.

Ryul memperhatikan Ohyul untuk beberapa saat.

Diam.

Lama.

Seolah sedang mencari sesuatu di wajah pemuda itu.

Namun Ohyul hanya membalas dengan ekspresi biasa. Tanpa kecurigaan, Tidak memahami tatapan yang sedang diberikan padanya. Dan itu membuat Ryul nyaris tertawa. Karena sejak awal, bukan Stacy yang ingin ia temui dan bukan Stacy pula yang membuatnya terus mencari alasan untuk datang, melainkan kakaknya.

Kwon Ohyul.

Tidak banyak yang tahu bahwa Ryul mengenal seseorang jauh sebelum mengenal Stacy.

Kwon Ohyul.

Kakak laki-laki Stacy.

Kwon Ohyul.

 

------

 

Seluruh kampus mengira Kim Ryul dan Kwon Stacy adalah sepasang kekasih. Hampir setiap minggu mereka Hang Out. Entah sekadar berjalan-jalan, makan malam, atau menghabiskan waktu di luar kampus. Keduanya juga terlihat begitu akrab hingga tidak sedikit orang yang menyebut mereka pasangan paling serasi. Jika ada yang bertanya, sebagian besar mahasiswa pasti akan mengira hubungan mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk diresmikan..

Tapi ada sesuatu yang menjadi rahasia terlarang seorang Kim Ryul, tidak ada yang mengetahuinya.

Pemuda bermata bak kucing, tajam namun penuh binar dengan senyum rupawan, manis nan lembut selaras dengan wajahnya dan kepribadiannya.

Tujuan Ryul saat ini adalah rumah Stacy untuk berkunjung ke rumah gadis belia itu. Dengan stelan melanial ia akan menemui stacy menggunakan sepeda motor kebanggaannya.
Sementara itu di kediaman Kwon sendiri.

"Kak Ohyul, kau tidak masak?" Stacy bertanya pada Ohyul yang tengah bersiap-siap memakai kemejanya. Ia terlihat akan pergi dinner atau hang out bersama seseorang.

Ah... Ohyul lupa menyampaikan sesuatu pada stacy "Sehabis pertandingan tadi, gebetan mu mengatakan akan datang pukul delapan. Kau harus bersiap stacy, pasti kalian sudah janjian untuk ngedate kan?" Jelas Ohyul diakhiri nada menggoda.

Stacy terpekik histeris. "Kak! Kenapa baru bilang sekarang?" Ujarnya dramatis melirik jam dinding. 5 menit lagi pukul delapan. Dengan cepatnya Stacy menuju kamar dan pastinya untuk bersiap.
Ohyul kembali meneruskan kegiatan mengancing kemeja baby bluenya. Menyisir rapi rambut Fluffynya. Ohyl tampil manis dengan stelan casual itu.

Selesai dengan kegiatannya, terdengar suara bel berbunyi. Ohyul otomatis melirik jam, sudah jam delapan rupanya. Ia menuju pintu untuk membuka, dia pikir jika itu adalah teman yang akan menjemput. Nyatanya tidak kala pintu sudah dibukakan.

Ryul berdiri dengan tangan kiri yang dikantongi. Saat pintu dibuka mereka langsung hadap-hadapan dan saling memandang. Lagi, Ryul menatap Ohyul dengan sorot yang tak dapat diartikan. Datar tetapi sendu dan penuh harap?.

"Oh... kak Ryul. Stacy nya belum siap kak. Ini juga masih bersiap. Maaf kakak jadi lama menunggu" jelas Ohyul meyakinkan. Ryul mengkerutkan kening untuk sesaat.

"Menunggu?" Ulang Ryul.

Ohyul mengangguk "kalian akan pergi jalan-jalan 'kan?" Tanya Ohyul memastikan. Memang setiap minggu Ryul kan selalu menjemput stacy untuk hang out. Tapi baru kali ini Ohyul yang membukakan pintu. Biasanya ia tak pernah bertemu Ryul saat menjemput sang adik dikarenakan Ohyul selalu sibuk mengurus project base learning dari setiap matkulnya.

Ryul menempatkan telapak tangannya pada sisi pintu di dekat wajah Ohyul lalu menunduk dan berbisik di telinganya "kubilang mengunjungi, bukan menjemput" utasnya pelan kamudian kembali menjauh sesuai jarak awalnya.

Waktu singkat itu sempat membuat Ohyul menahan nafas. Dia baru menyadari jika ini kedua kalinya mereka berdekatan dan lumayan banyak percakapan.

"Ahh... Maaf aku salah memberi info pada Stacy." Ohyul sedikit membungkuk kebiasaan meminta maaf masih terbawa. Wajahnya terlihat merasa bersalah.

Penampilan Ohyul menarik perhatian Ryul. Baru kali ini ia melihat Ohyul memakai stelan pakaian rapi. Dipindainya dari ujung rambut sampai ujung kaki keseluruhan inchi tubuh Ohyul tanpa sepengetahuan si empu yang tengah melihat ke dalam rumahnya mencari keberadaan Stacy yang tak kunjung datang.

"Kau mau pergi?" Tanya Ryul membuat Ohyul kembali menoleh.

"Iya kak" jawabnya mengangguk.

"Bersama?"

"Woonhak" balas Ohyul pelan.
Ryul menaikkan sebelah alisnya. Mata itu menajam pada Ohyul, tapi tak disadari hanya saja Ohyul kurang nyaman.

"Jika kau pergi dan meninggalkan kami disini, kupikir itu tidak baik. Pasti muncul fitnah atau kita tidak tahu apa yang terjadi jika kami hanya berdua di rumah" kalimat Ryul berhasil membuat Ohyul terdiam. 'Iya juga' pikirnya.

Tapi tidak baik jika ia membatalkan ajakan Woonhak. Ohyul merasa sangat bersalah.
Ohyul menunduk murung. Lagi pula ini salahnya memberikan info yang salah kepada Stacy, dan tentunya dengan alasan itu ia tidak memasak karena berpikir mereka berdua akan dinner diluar pastinya. Yaaa, Ohyul akui ini salahnya.

Jadi maaf yang sebesarnya pada Woonhak. Ohyul dengan senyumannya menatap Ryul yang tidak ia sadari sedaritadi menatap lekat dirinya. "Silahkan masuk kak" ucapnya bergeser sedikit untuk memberi akses masuk pada Ryul.

Dengan sopan Ryul masuk kedalam, saat melewati Ohyul ia berhenti sesaat dan sedikit berbisik dari jarak yang tidak sedekat bisikan pertama. "Aromamu manis"
Setelah itu ia hanya berlalu mulai menuju sofa di ruang tamu.

Ohyul terdiam untuk beberapa waktu. Saat sadar ia menggeleng pelan dan mulai meraih ponselnya di saku celana. Ia masih di depan pintu dengan tubuh samping bersender di sisi pintu. Tangannya mencari nomor Woonhak dan menelpon.

"Halo Nyul"
"Unak, hari ini kami kedatangan tamu dan tidak mungkin meninggalkan Stacy sendiri. Jadi hari ini tidak bisa yaa...."

 

Kim Ryul
Semua orang memang berpikir Ryul dan Stacy berkencan dan memang sudah menjalin hubungan yang serius, jika dilihat dari interaksi romance keduanya.
Ingat jika Stacy adalah mahasiswi yang dijadikan seperti ratu dikelasnya. Gadis itu punya aura positif yang disukai orang banyak. Dan saat issue kedekatannya dengan Ryul tersebar, banyak orang langsung percaya.

Ryul sendiri memang sudah sangat tenar karena berbagai aspek, tampan, kaya, pintar, perwakilan negara dan berpenampilan brengsek. Cewe mana yang ga suka cowo brengsek?.
Tetapi, Kim Ryul punya sesuatu rahasia yang harus ia utarakan.

Itu bukan soal senyum Stacy ataupun cara berpakaiannya yang cantik. Intinya Stacy bukan alasan Ryul dalam memikirkan hal berbau 'jatuh cinta'
Memang setiap pergi Bersama Stacy, Ryul kehilangan kecoolannya ketika berada di sekitar Stacy.
Ryul tersenyum untuk Stacy sebab alasan yang lain.

Setiap saat bersama Stacy, Ryul hanya memikirkan hal lain...

Bagaimana caranya untuk mengungkapkan kata kepada Stacy jikalau Ryul itu ...
— Mencintai Kakaknya Stacy.

---

 

"Kak–" Stacy terkejut ketika matanya menatap Ryul sudah duduk di sofa.

"Ehh kakak sudah datang?" tanyanya mulai mendekat.

Ryul mengangguk dan mulai menjelaskan soal dirinya yang ingin berkunjung ke rumah Stacy. Untung Stacy langsung mengerti. Itu sebabnya saat ini Stacy dapat melihat sang kakak yang memasak di dapur.

Stacy menatap kakaknya yang tidak jadi pergi karena peduli padanya. Ryul sudah dari tadi menyaksikan setiap gerakan Ohyul yang indah saat memasak. Apakah wajahnya memang sedamai itu?. Heck!

"Kakak mu sudah punya kekasih?" Ryul bertanya pada Stacy yang duduk di sampingnya. Satcy dengan pakaian mini dress hitamnya menoleh lembut ke arah Ryul.

"Kakak terlalu polos untuk itu. Jadi kakak belum pernah pacaran"
Stacy sedikit cemberut mengingat banyak yang mendekati kakaknya, namun Ohyul itu sendiri tidak peka sehingga penyukanya lama kelamaan lenyap menyerah.

"Good boy" gumam Ryul sangat pelan hingga tak kedengaran oleh Stacy.

 

----

 

"Maaf kalian jadi lama menunggu" Ohyul datang dan mempersiapkan makan malam di meja makan yang sudah diduduki Stacy dan Ryul .

Sayur Tumis dan Udang saus tiram dihidangkan. Ohyul dengan apron yang masih terikat di pinggang rampingnya berjalan kesana-kemari sibuk sendiri mempersiapkan dinner mendadak itu.

"Maaf jika masakan yang bisa kubuat cuma ini" ucap Ohyul saat tubuhnya sedang berada diantara Ryul dan Stacy yang duduk berdekatan untuk meletakkan piring.

"By the way, udangnya tadi sore baru dibeli dan dimasukkan kulkas. Jadi dijamin masih segar" lanjut Ohyul tapi tidak melirik ke sisi lain, fokusnya hanya pada apa yang Tengah ia kerjakan. Disana Ryul tengah menatap lekat wajahnya.

Stacy ingin menangis rasanya. Karenanya Ohyul tak jadi pergi. Padahal ini kali pertamanya Ohyul menerima ajakan seseorang. "Kak" lirih Stacy menarik siku baju Ohyul yang akan berbalik badan. Ohyul menoleh.

"Sorry" ucapnya

"Hei, kenapa minta maaf? Tidak ada yang salah disini" balas Ohyul tersenyum lembut mengusak rambut kepang si adik.

"Ya sudah… mendingan kalian makan saja. Kakak ada urusan" lanjut Ohyul meninggalkan ruang makan.

Agak berat melihat sosok itu menjauhi meja makan. Ryul merasa kecewa mendapati aroma manis khas Ohyul mulai hilang saat sang empunya berlalu.

 

...

 

Semuanya terjadi seperti biasa. Antara Ryul dengan Stacy semuanya lancar dan diiringi canda tawa kebersamaan. Ohyul melewati ruang tamu saat melihat keduanya tengah menonton series horor di ruangan yang redup itu.

Ryul menyadari kehadiran Ohyul saat pemuda itu sedang membungkuk mencari sesuatu di kulkas. Pakaian Ohyul sudah berganti dengan piyama tidur dan celana pendek sebatas lutut lagi-lagi berwarna baby blue dengan corak aneh. Ryul jadi tahu jika pemuda itu menyukai warna biru.

Dapur dan Ruang tamu saling berhadapan dengan batas tembok sedada, jadi tak mengherankan jika sekarang Ryul dapat leluasa melihat apa yang dilakukan Ohyul di dapur. Ohyul sedang membuat sandwich malam-malam begini.

Hampir saja Ryul kehilangan akalnya karena melihat makhluk manis itu menggunakan baju rumahan dengan berpenampilan lumayan terbuka. Semakin sederhana Ohyul semakin cantik aura yang dikeluarkan. Hell, Ryul bisa out of character jika melihat wajah polos Ohyul-nya.

Sandwich tengah malamnya telah selesai, Ohyul melirik ruang tamu bertepatan dengan Ryul yang mencuri pandang padanya. Ryul lebih dahulu membuang muka. Ohyul tak peduli dan memilih menatap Stacy yang sudah menutup wajah dengan bantal, adiknya itu sangat ketakutan hingga merapat ke pelukan Ryul yang terlihat enggan untuk memeluk. Mungkin segan Karena ada Ohyul menyaksikan mereka, begitulah batin Ohyul sehingga ia menggeleng pelan merasa lucu akan tingkah dua insan kasmaran itu.

Ohyul telah selesai dengan kegiatannya dan beranjak keluar dari dapur tanpa niat menegur kedua orang yang ada disana.
Tapi ia terhenti kala Stacy mengangkat telpon dari seseorang dan terlihat panik.

"...case methodemu bermasalah, dan prof.Jay memintamu datang"

Begitulah kalimat yang terdengar dari seberang ponsel, dari sana wajah Stacy sudah Kalang kabut. Baru kali ini ia membuat cash methode, dirinya takut jika nanti tidak akan lulus di mata kuliahnya.
Ohyul yang berdiri disana menoleh pada saat Stacy memanggil sambil mendekatinya.

"Kak... Aku harus pergi ke rumah prof. Ini belum terlalu larut kok. Boleh yaa?!" ucapnya memegang kedua bahu Ohyul. Ohyul mengizinkan dan tersenyum.
Pandangannya beralih pada Ryul yang bangkit dan menuju belakang Stacy.

"Bagaimana jika kau diantarkan kak Ryul? Agar kau lebih aman" Usul Ohyul saat melirik sekilas pria bersurai pirang itu.
Mau tak mau Ryul harus mengantarkan Stacy jika Ohyul yang meminta. Tapi yang terjadi malah...

"Tidak kak" Stacy menggeleng. "Aku dengan temanku dan kak Ryul lebih baik menunggu disini untuk menemani kakak."
Mendengar hal barusan membuat Ryul sedikit tersenyum tipis. Kembali datar saat Ohyul menolak.

"Kenapa kakak harus ditemani? Kakak bisa jaga diri sendiri"

"Kakak tidak tahu disini berbeda dengan Korea?. Kita tidak tahu kejahatan apa yang menunggu kakak. Kita perantau kak" jelas Stacy.

Hellooooo, apa kabar dengan Stacy yang statusnya seorang wanita? Ohyul tak habis pikir melihat tingkah sang adik.

"Lalu kau? Kau seorang wanita Stacy"

"Tapi aku pergi bersama teman untuk menemui dosenku. Lah kakak?"

Okey, Ohyul terdiam dan terpaksa melirik Ryul yang sedari tadi diam saat namanya dibawa-bawa.

"Okey, kakak kalah. Tapi jika Kak Ryul mau baru usulanmu diterima"

Stacy berbalik menatap Ryul dan mulai menjelaskan. Ryul dengan datar hanya menerima dengan anggukan dan sedikit kata. Dalam hatinya sangat amat berterima kasih pada Stacy.

.
.
.

 

Stacy pergi bersama seorang teman wanitanya dan satu teman Prianya. Mereka pergi dengan mobil, seharusnya itu aman kan?.
Pintu rumah kembali ditutup kala mobil sudah berlalu. Ohyul berjalan menuju meja makan untuk mengambil sandwichnya yang tadi sempat terangguri. Ingin masuk kamar tapi ada Ryul, Ohyul merasa tak sopan jika pergi begitu saja.

Diliriknya Ryul yang duduk masih menonton televisi di sofa. Kemudian Ohyul mendekat perlahan, hanya beberapa langkah saja.

"Kak Ryul" panggilnya membuat Ryul langsung menoleh.

Padahal Ohyul akui suaranya sangat pelan, kenapa Ryul bisa dengar?

Lupakan, "kakak mau dibuatin sandwich? " tanya Ohyul menawarkan.

Canggung saat Ryul diam untuk beberapa detik, pria itu hanya menatap wajah Ohyul yang ikut menatapnya kaku. Ryul tersenyum dan barulah menjawab "boleh"

Ohyul balik tersenyum dan kembali menuju dapur untuk membuatkan sandwich. Padahal niat awalnya hanya basa basi saja, tapi kalau sudah begini harus deh dibuatkan. Sementara Ryul dengan senang menerima tawaran barusan, kapan lagi coba dimasakin ayang.

Tak berapa lama...

"Ini kak" tangan Ohyul menyodorkan sepirin sandwich di meja Ryul. Lalu mendudukkan diri di samping Ryul. Niat awal Ohyul murni karena ingin menemani tamunya menonton film horor. Ohyul itu penuh dengan sopan santun.

"Thanks" ucap Ryul mengambil sepotong sandwich dan mulai memakannya. Diperhatikannya wajah manis Ohyul dari samping yang tengah memakan sandwich juga, pipi itu menggembung lucu karena mengunyah.

Ohyul sendiri pura-pura berani menonton film yang tersuguhi, padahal dia tidak berani menonton film horor. Tapi, malulah kalau cowo takut horor. Jauh yang orang lain tidak ketahui, Ohyul ini orang yang gengsian menunjukkan kelemahan.

Pergerakan disamping membuat Ohyul menoleh pada Ryul. Pria itu bangkit.
"Mau kemana kak?"

"Ngambil minum" balas Ryul kembali melanjutkan perjalanan ke dapur.
.
.
.

 

Sudah lama berlalu. Film horor sudah bertukar menjadi film action. Ohyul saja sampai tertidur-tidur. Ryul di samping Ohyul hanya bisa menahan tawa sebab wajah manis itu sebentar bangun dan tidur dalam waktu berdekatan.

"kalau ngantuk kau bisa tidur ke kamar saja" ujar Ryul.

"Hu-huh? Aku tidak kok!" Rancu Ohyul membuka matanya menatap siaran televisi. "Maaf karena merepotkan malam-malam begini" lanjutnya menekukkan kaki dan melipatkan tangannya diatas lutut, Ohyul sempat menunduk sebelum menyembunyikan wajahnya kedalam lipatan tangan itu.

Ryul hanya mendesah pelan saat melihat lekuk tubuh ramping Ohyul dari samping.
Hanya berdua dengan suasana sepi, dinginnya malam dan gelapnya ruangan membuat setan dikiri Ryul seolah tengah menggoda keimanannya, jujur mengerikan.
Lama sudah mereka dalam posisi masing-masing, dengkuran halus terdengar dari Ohyul yang sepertinya sudah terlelap dalam posisi yang masih sama. Sedari tadi Ryul bahkan tak memperhatikan tontonan dan malah menatap Ohyul, pemuda cantik itu lebih menarik daripada apapun di dunia ini sekarang.

Karena yakin Ohyul sudah terlelap Ryul mencoba mengungkapkan uneg-unegnya, entah keberanian darimana datang menghampirinhya.
"Kau tau jika selama ini aku seperti orang gila karenamu" Ryul ikut meniru posisi menekuk Ohyul bedanya ia memiringkan wajah untuk melihat seksama kepala Ohyul.

"Bagaimanapun aku mencintaimu dan mencari peluang untuk kedekatan kita, tidak ada yang berhasil, semua cara serasa hambar."
Ryul terkekeh sesaat sambil menggeleng.

"Bahkan kau tak peduli padaku saat akrab dengan Stacy. "

"Dan apa-apaan soal dekat dengan Woonhak? Kalian bahkan akan pergi berdua saja tadi. Untungnya tidak jadi"

"Aku tahu kau memang tidak peduli padaku" lanjut Ryul. Wajahnya terkadang murung saat menyebutkan apa yang tidak ia sukai.
Tapi ada yang Ryul tidak sadari.

Ohyul sekarang tengah terdiam dengan detak jantung berdebar karena sedari tadi mendengar pengakuan Ryul. Dan sekarang Ohyul tidak tahu mau berbuat apa setelah mendengar hal itu.
Sentuhan di bahu membuat Ohyul tidak kuasa menahannya dan menepis tangan itu, Ryul terkejut saat tangannya ditepis kasar. Syok sedikit seolah ketangkap basah saat sosok Ohyul ternyata bangun. Dan Ryul tahu jelas jika si manis mendengar semua ucapannya.

Lega, senang— itulah perasaan Ryul. Dengan begitu dia bisa mendapatkan secuil perhatian Ohyul, entah itu penolakan atau penerimaan. Entah kenapa Ryul malah tersenyum miring membuat Ohyul tampak menegang disana.

"Kau mendengarnya?"

Tidak ada jawaban, Ohyul memundurkan diri sehingga menyandar pada lengan sofa dengan kaki yang masih menekuk.

"Kenapa ekspresimu seolah melihat hantu?"

Ohyul diam beberapa detik. Ia bergumam namun terdengar "Stacy menyukaimu"

Ryul memasang wajah datarnya "dan aku mencintaimu" tekannya menatap mata bulat Ohyul.

Karena semua yang terjadi, wajah Ohyul menjadi gusar dengan raut kecewa, ini aneh karena orang yang selama ini dia anggap cuek padanya malah memendam rasa. Ohyul tidak bodoh, dapat ia tarik kesimpulan jikalau Ryul mendekati Stacy hanya karena Ohyul. Sejauh mana pria blasteran ini mencintai Ohyul?

"Semuanya omong kosong, kan?" Ohyul memaksa untuk menatap Ryul dengan sorot tajam, "katakan jika kau juga mencintai Stacy!" Teriak Ohyul

Ryul memiringkan kepala heran, keningnya berkerut bingung. "But, i only love Stacy's Brother" ucapnya diakhir senyum. Perlahan Ryul mulai mendekati Ohyul.

Dengan cepat Ohyul bangkit, moodnya sedang buruk dan tidak ingin melihat Ryul, ia bukan benci karena Ryul mencintainya. Tapi benci karena disini adiknya dijadikan alat. Sumpah Ohyul jadi keinget Ayanokoji.

"Lebih baik kau pergi dari sini, kupikir Stacy akan pulang sebentar lagi" ucap Ohyul berjalan menuju pintu. Ryul tersenyum melihat punggung Ohyul menjauhinya.
Tipe Ryul adalah, Ohyul yg terlihat keras kepala. Sosok yang tidak jatuh kedalam pesona Kim Ryul.

Ryul bangkit dan menyusul, senyum masih merekah tampan di wajahnya.

Sementara Ohyul sudah berhasil memegang kunci pintu dan membukanya, hanya setengah saja hingga pintu itu ditolak kembali hingga tertutup lagi.

Ohyul tersentak saat menyadari Ryul dibelakangnya. Diliriknya pelan saat pria itu juga ternyata mendekati wajahnya. Semua terjadi begitu cepat kala Ryul menarik dagu Ohyul ke dalam ciuman.
Ini kali pertamanya Ohyul berciuman.

Manik itu membola penuh keterkejutan, bibirnya masih menutup menolak bibir dingin Ryul.
Ryul sedikit menyinggungkan senyum saat menyadari penolakan itu. Dijilatnya permukaan bibir atas dan bawah Ohyul dengan sensual.
"Eumh!" Ohyul kepalang dan menolak dada bidang itu menjauh, tapi yang ada dirinya malah semakin ditekan ke pintu. Tangan Ryul yang tadinya menumpu pada pintu kini meraih kedua tangan Ohyul, memaksa agar tangan itu terangkat dan tertahan di atas kepala sang empu.

Ciuman di lepas, Ryul berbisik di telinga Ohyul yang masih syok. "Salahmu karena mendengar semuanya, Ohyul~"
Ryul menatap lamat wajah Ohyul yang marah dan sedih dalam satu waktu. Kaki Ryul dengan nakal menyelip pada selah selangkangan pemuda manis itu.

"Lepaskan... Ba- bajingan!" Lirih Ohyul diakhiri makian.

Wow, ini kata makian pertama Ohyul yang pernah Ryul dengar. Walau terdengar Ragu tapi jujur sangat manis.

"Honestly, you make me feeling the best crazy love" tawa Ryul menggema disaat pipinya bersemu. Ohyul sampai tidak tahu mau berekspresi apa.
Bibirnya kelu, Ryul sejauh ini sangat tidak sesuai dengan Ryul yang dikenal orang-orang.
The real ‘aslinya gue mah dua orang’

"...Ryu-"
Ryul kembali menyumpal bibir Ohyul dengan bibirnya saat merasa ada kesempatan karena bibir itu terbuka ingin berbicara.
Lidahnya berhasil masuk dan mulai menikmati dalam Ohyul yang selama ini ia idam-idamkan. Rasanya manis, Ryul tidak bisa berhenti mengecapnya. Menghiraukan gigitan yang Ohyul lakukan sebagi perlawanan, tangan Ohyul meronta dan kakinya mencoba awas pada kaki Ryul. Tapi itu percuma.

"Hmpn eungnh" Ohyul melenguh saat bibirnya digigit Ryul hingga terasa anyir darah disana. Nafasnya tercekat Kala Ryul memaksa terus masuk memperdalam cumbuannya. Tangan Ryul saja sudah berpindah satu untuk mencengkram rahang itu agar semakin menurut.

Air mata merembes keluar, Ohyul merasa sangat lemah dan bodoh dalam satu waktu. Ditambah ada penyesalan dilubuk hatinya.
Bagaimana dengan Stacy? Itulah yang membuatnya menangis.

Setelah lama, Ryul yang merasa ketersiksaan Ohyul saat bernafas pun berhenti dan menatap wajah kacau itu, wajah manisnya merona hebat dengan mata sayu dan basah.

"Ahhh manisnya~" gumam Ryul menutup mulutnya dengan tangan yang tadinya mencengkram wajah Ohyul.

"Kupikir kau orang baik, tapi..... Kau itu bajingan dari segala bajingan" lirih Ohyul parau.

"Biarlah, untuk Ohyul aku rela jadi bajingan bahkan jadi..." Ryul mendekat pada telinga Ohyul dan berbisik "...pembunuh"

Mata Ohyul seketika menampilkan keterkejutan, apa Ryul seberani itu? "Kau—"

Notes:

untuk part 2 full adegan dewasa. desclaimer. tbc