Work Text:
"Lo bukan Karina."
Bahkan kalimat terakhir yang Karina dengar dari bibir manis Kenes masih diingat jelas. Hingga bagaimana air mata menetes di pipi perempuan itu, dan bagaimana Karina ingin berlari mendekatinya dan hapus goresan jejak air yang turun hingga ke dagu.
Tapi Kenes sudah lebih dulu lari keluar ruangan. Entah kemana.
Pergerakan Karina dibalut kain jarik ketat sebagai rok juga membatasinya. Belum lagi kebaya ketat warna putih yang melingkupi badannya. Ia tak lupa beberapa jam yang lalu harus tahan napas agar kain brokat itu bisa membungkus badannya dengan sempurna.
Ia juga tak lupa pembicaraan mereka untuk pindah dari Wanirejo beberapa tahun yang lalu. Mungkin mengadu nasib di ibukota sesaat mereka lulus dan tinggal bersama. Tanpa campur tangan orang tua mereka, tanpa tatapan aneh dari warga sekitar yang melihat mereka bergandeng tangan.
Ia tak bisa menemukan Kenes hingga acara pernikahan itu selesai. Hingga keesokan harinya, beberapa minggu setelahnya, berbulan-bulan. Hingga setahun lebih 2 bulan Karina baru bisa melihat Kenes yang menggendong seorang balita laki-laki di halaman rumah suami Karina—ayah kandung Kenes.
Kenes bahkan tak sudi melihat Karina yang menahan air matanya, hanya bisa tersenyum lebar melihat sahabatnya yang akhirnya mau mendatangi kediamannya lagi.
Mungkin Karina yang harusnya sadar diri. Dari awal ini adalah kediaman Kenes, dan ia yang mengusik Kenes.
"Siapa namanya, Nes?" Karina mencoba tak tersentak melihat Kenes menjauhkan balita di gendongannya dari tangan Karina. Ia hanya ingin menyentuh ujung tangannya yang menggapai-gapai udara hampa. Tapi Ibunya seolah melarang sentuhan Karina di sana.
"Raihan, Bu," malah Mbok Sum yang menjawabnya. Karina tersenyum, berterima kasih atas jawaban untuknya.
Kenes masih diam, sibuk dengan Raihan di gendongannya. Dan Karina juga tak banyak bicara.
"Maaf, ya, gue nggak tau lo punya Raihan," bisik Karina. Matanya terpaku pada tangan kecil yang masih menggapai udara hampa. Mata berbinarnya menatap wajah Kenes yang keras.
"Lo orang pertama yang tau gue punya Raihan," kata Kenes dingin. Karina menatap balita yang tertawa kecil di gendongan Kenes.
Jelas ia masih ingat bagaimana tangisan Kenes meneleponnya tengah malam. Membuatnya membangunkan supirnya untuk mengantarkan mereka berdua ke rumah sakit terdekat.
Jelas ia masih ingat bagaimana genggaman tangan erat Kenes di mobil. Kenes yang meremas perut bagian bawahnya dengan harapan bisa mematikan calon bayi itu, dan Karina yang tak mengerti harus apa selain berusaha menenangkan Kenes. Pelukan erat, genggaman tangan, ciuman-ciuman kecil bahkan tak menolong air mata Kenes yang terus mengucur.
"Gue ancur, Kar. Mati gue besok," berulang kalimat penuh kata menyerah keluar dari bibir Kenes. Karina geleng-gelengkan kepalanya. Kenes tidak boleh mati meninggalkannya.
"Ada gue, Nes. Ada gue. Ada gue, oke? Sama gue," berulang kali juga balasan menenangkan Kenes keluar dari bibir Karina. Ibu jarinya yang mengusap pipi Kenes untuk menghapus air matanya sama sekali tak berguna. Perempuan itu masih menangis keras, hancurkan hati Karina yang sudah lelah.
"Ayo, kabur, Kar. Gabisa gue begini. Bawa gue ke manapun, please. Gue ngga mau…"
"Rudi mau tanggung jawab," Karina ingat Kenes menangis lagi hari itu. Pelukan erat dan tangisan membasahi bahu masing-masing, dan sebuah calon bayi yang belum mempunyai nyawa sudah jadi tanggung jawab Kenes.
Hanya karena Rudi dan Ayahnya yang tak memperboleh rencana Kenes berjalan baik—hilangkan jejak janin tak diharapkan itu. Ia harus melakukan semuanya. Pernikahan dengan Rudi, kehamilan yang dengan cepat bertumbuh, dan tiba-tiba kabar ayahnya menikahi sahabatnya sendiri.
Kenes sudah lama mati jiwanya. Bersamaan dengan jasad Ibunya yang dikubur dalam-dalam. Karina seharusnya tahu itu.
Mungkin karena Karina tahu itu dengan sadar. Ia ingin menguji Kenes sekali lagi. Dan sekarang Kenes tak peduli. Ia masih acuh tak mau menatap sahabatnya yang duduk di sampingnya.
Ayahnya yang menyuruh mereka 'berbincang' sebagai Ibu tiri dan anak tiri, meskipun Kenes jelas tak ingin menyebut nama Karina lagi lewat bibirnya.
Tanpa sadar bulu mata Karina memberat. Setetes air mata jatuh dari ujung matanya, dengan cepat diseka dengan punggung tangan.
"Maaf gue nggak bisa temenin lo jadi ibu," suara Karina bergetar. Kenes masih diam, masih tak mau menoleh pada Karina yang gemetar.
"Gue bisa sendiri."
Tapi sayangnya Karina tidak.
Tangannya terhenti di udara, dekat punggung tangan Kenes yang menepuk-nepuk lembut punggung anaknya. Karina ingin genggam tangan Kenes, 3 detik pun tidak apa-apa.
Ia ingin cerita tentang 2 garis di alat tes kehamilannya pagi tadi. Bahkan ia belum memberitahu Sadimin, rumah keburu heboh karena kedatangan Karina yang tiba-tiba. Rudi punya tenggat waktu untuk presentasikan proyeknya di depan Sadimin.
"Nes," panggilan Karina seolah panggilan semu di telinga Kenes. Sama sekali tak menoleh atau mebalas panggilannya. Kenes masih acuh.
"Lo nyesel sama gue?"
Pertanyaan retorik. Seharusnya Karina sudah tahu jawabannya. Kenes pasti berharap mereka tak pernah saling mengenal, tak pernah saling bersinggungan. Hingga garis hidup mereka tak perlu bertabrakan seperti hingga saat ini.
Tapi yang didapatkan Karina hanya Kenes yang menatapnya. Kenes diam beberapa saat, Karina bahkan tak punya cukup energi untuk terjemahkan arti tatapan Kenes.
"Nggak baik nyalahin takdir."
Bahu Karina bergetar. Air matanya membasahi pipinya sekarang. Tapi Karina masih menatapnya tanpa ekspresi. Seolah menunggu perempuan itu selesai dengan tangisannya.
"Lo nyesel?"
Kenes terkesiap melihat Karina anggukkan kepalanya pelan. Menunggunya meredakan sesenggukan untuk beritahu alasannya.
"Gue nyesel nggak bawa lo pergi malem itu."
Peduli setan menyalahkan takdir. Karina hanya ingin salahkan diri sendiri yang kembali bawa Kenes pulang setelah dari rumah sakit. Malah bisa mendampingi Kenes untuk bicara pada ayahnya, tampil sok kuat jadi pahlawan tengah malam dan jadi penghancur rumah untuk Kenes beberapa bulan setelahnya.
