Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-06
Updated:
2026-06-06
Words:
1,030
Chapters:
1/?
Comments:
2
Kudos:
29
Bookmarks:
1
Hits:
206

Teman Senggama

Summary:

Sayang? Apa-apaan. Mereka hanya teman untuk bersenggama saja. Harusnya tak ada benih cinta di antara keduanya. Tak ada kata sayang di antara mereka. Hanya senggama. 

or

Sadewa melontarkan kata 'sayang' kepada Bima. Sengaja atau tidak? Bima tak paham.

Notes:

I apologize if the characters are a bit/more out of their characteristics or traits. Enjoy!

Chapter Text

Bima mengerang letih saat melihat secercah cahaya yang berasal dari jendela kamarnya—bukan, ruangan ini milik pria berkulit tan dengan rambut yang diberi highlight kuning. Tangan Bima hendak melepaskan tangan si pria lain dari pinggangnya, tetapi justru dieratkan kembali oleh pria berkulit tan itu. “Masih pagi, lho,” ucap pria itu dengan volume kecil dan terpendam di punggung Bima. 

“Gue ada kuliah, Mas,” ujar Bima seraya hendak melepaskan tangan pria itu. Tentunya, langsung dicegah oleh pria itu. “Kenapa pakai lo-gue seperti itu, sih?” balas si pria itu sembari menggigit usil pundak Bima yang tidak ditutupi sehelai kain apapun. Terkejut, Bima langsung menyenggol si pria dengan sikutnya. “Mas Dew! Apa sih?”

“Lagian, kamu seperti itu. Di sini saja, dulu. Saya juga ada kelas,” balas pria bernama Sadewa Sagara—mahasiswa jurusan matematika, tingkat tiga. Ya, Bima—mahasiswa jurusan DKV—merupakan adik tingkatnya. Mereka hanya selisih satu tingkat. Bertemu di sebuah bar kecil dekat pusat kota. Pada saat itu, Sadewa merupakan bartender baru dan Bima merupakan mahasiswa yang pikirannya dipenuhi oleh tugas. Itulah cara mereka bertemu, berbincang, dan menjadi dekat tanpa status seperti sekarang. “Ini masih pagi. Masih jam tujuh,” lanjut Sadewa. 

“Kelasku jam sembilan, Mas. Harus siap-siap dulu, lho.”

“Ya, siap-siap paling cuman berapa menit. Nanti saja,” ucap Sadewa sambil mengecup kecil pundak Bima. Kecupan kecil itu membuat Bima terdiam beberapa detik. Pasalnya, hubungan mereka hanyalah sebatas teman yang kerap kali berhubungan badan. Kecupan seperti ini, menurut Bima, menandakan bentuk kasih sayang dari seseorang kepada pasangannya, bukan kepada teman seperti Bima. Sebenarnya, kecupan ini baru akhir-akhir ini diberikan oleh Sadewa. Tentunya, Bima merasakan sikap Sadewa yang sedikit berubah. Bima pikir, Sadewa hanya melakukannya sekali secara tidak sengaja. Namun, setelah ia pikir, Sadewa telah mengecup pundaknya setiap pagi setelah mereka bersenggama semalam suntuk. 

Panik dan takut apabila Sadewa menyadari bahwa pipi Bima merona, Bima langsung bangkit dengan gesit. Ia mulai memunguti bajunya serta celana dalamnya yang entah bagaimana bisa landas di atas meja kerja Sadewa. “Buru-buru sekali, Bim,” ujar Sadewa dengan suaranya yang masih serak akibat belum minum. Sadewa hanya bisa memandangi Bima yang sibuk mengenakan bajunya dengan tergesa-gesa. Netra Sadewa memeriksa lekuk tubuh Bima dengan hati-hati, dari kepala yang berambut ungu hingga ujung kakinya yang cukup besar. “So, you did work on your glutes,” ujar Sadewa. 

Bima terdiam, tertangkap basah. “Engga, kata siapa. Jangan sok tahu,”

“Tadi malam, waktu saya pegang, lumayan kencang. Bulat juga,” ujar Sadewa tanpa salah sembari mengedikkan bahunya. 

“Mulut itu dijaga. Sembarangan banget kalau ngomong,” ucap Bima sembari mengambil tasnya dengan tergesa-gesa guna menyembunyikan pipinya yang sudah merona sekali. “Duluan ya, Mas.”

“Gak mau sarapan dulu? Saya mau masak habis ini.” Lagi-lagi, Bima dibuat diam dan heran. Sadewa Sagara hendak memasak sarapan untuk mereka berdua? Ini mimpi demam atau apa?

“Makasih, Mas. Tapi aku mau ke kost sekarang. Mungkin lain waktu,” ujar Bima. Sadewa beranjak dari kasurnya dengan keadaan telanjang dan berjalan ke arah Bima yang masih sibuk merapikan tas hitamnya yang penuh gantungan kunci tersebut. “Yakin?” Tangan Sadewa sudah  merengkuh pinggang ramping Bima dan menariknya ke dalam dekapannya. Kepalanya ia taruh pada pundak Bima sembari memberikan kecupan manis itu—lagi—pada leher Bima. “Lu kenapa sih, Mas? Clingy kali.”

“Kenapa? Gak boleh?”

“Maksudnya, tumben banget clingy. Biasanya kalo aku mau pergi, boro-boro Mas bangun, cuman dibales ‘hm’ doang pamitku.” Bima berbalik badan, netra miliknya menemui dan memeriksa tubuh tan Sadewa yang terbebas dari sehelai kain. “Pake bajunya, Mas. Kebiasaan,” ujar Bima dengan netranya yang tidak sengaja—itu alibi Bima—menangkap kepemilikan Sadewa yang ternyata masih berdiri tegak. “Udah, ah! Aku cabut dulu, ya?” Bima memalingkan wajahnya yang sudah merona lagi untuk ketiga kalinya. 

“Bukannya kamu suka kalau saya telanjang seperti ini?” Sadewa menangkap wajah Bima dengan tangan kanannya agar ia dapat memandang wajah merah merona milik Bima. “You were begging at me last night. Begging for my naked body.” 

“Tsk, ya ‘kan itu kemarin malam. Sekarang ‘kan udah pagi. Udah hampir setengah delapan juga,” elak Bima yang mengundang kekehan kecil dari pria telanjang itu. “Selalu mengelak, ya? How cute.” Netra Sadewa menangkap fitur tajam dari rupa Bima selama beberapa detik. Bibirnya berjalan dengan sendirinya ke arah bibir Bima. Ia awali dengan kecupan manis beberapa kali. Sadewa menghela napas sembari mengulum buah manis Bima dan melesakkan lidahnya agar dapat bertemu dengan milik Bima. Deru napasnya mendalam. 

“Mas—” Sial, kepemilikannya pun sekarang ikut mengeras. Tidak sadar, tubuh Bima mencari sensasi hangat  dari tubuh Sadewa. Tangan yang berada tepat di pinggang Bima semakin menarik tubuhnya agar ia buru mendekatkan kedua gagah milik mereka. Bibir Sadewa masih sibuk merecoki mulut Bima sembari tangan kirinya meraih buntalan lemak milik Bima. Remasan itu mengundang lenguhan dari si empunya. 

Bima hendak menyudahi kegiatan saling kulum dengan berkata, “Aku harus balik. Beneran ini. Udah jam segini, soalnya.” Ia memberi sedikit jarak antara mereka berdua. “Yakin?” Sadewa menelengkan kepalanya sembari menaikkan kedua alisnya. Tangannya yang masih di pinggang Bima menelusuri belt loops-nya dan mengaitkan jarinya guna menarik Bima kepadanya. 

“Ya, yakin, lah!” Ucapan Bima mengundang kekehan kecil dari Sadewa. 

Liar.” Bibir Sadewa mengulum bibir manis Bima kembali. Kuluman itu membuat kepala Bima pening tak karuan, pinggangnya bergerak dan menggesek sendiri pada penis telanjang Sadewa. Lenguhan Bima mulai tak tertahan. “Mas—” 

Tangan Sadewa sudah berpindah dan menjelajahi rambut ungu Bima. Ia meremas dan menarik halus rambut ungu itu seraya mengulum dan mengecup leher jenjang milik Bima. “Dry humping, hm? That’s new,” goda Sadewa yang menikmati gesekan tak menentu pada penisnya itu. “Oh, shut up. You’re the one who started it,” ungkap Bima yang tenggelam dalam nikmat kecupan dan friksi yang tergolong putus asa itu. 

Sadewa kembali mengulum bibir manis Bima, melesakkan lidahnya kembali seakan tak ada hari esok untuk melakukan hal ini. Lenguhan dan lenguhan tanpa henti. “Ah, Bima, sayang…” 

Bima tertegun. Ah, Bima, sayang. Sayang. 

Ia menyudahi dan memberi jarak yang cukup bagi mereka berdua. “Gue cabut ya, Mas. Uh, takut telat. Duluan.” Dengan tergesa-gesa, ia meraih tas serta sepatunya. Persetan dengan penisnya yang masih terlihat keras itu. Bisa ia urus nanti. Hal yang penting adalah keluar dari kost Sadewa Sagara sialan ini dan membereskan degupan tak tentu pada jantungnya. 

Sayang? Apa-apaan. Mereka hanya teman untuk bersenggama saja. Harusnya tak ada benih cinta di antara keduanya. Tak ada kata sayang di antara mereka. Hanya senggama. 

 

Bersambung.