Actions

Work Header

Interstice

Summary:

Nando sama Sam yang udah tiga tahun pacaran tapi ciuman selalu mentok di menit ketiga.

Work Text:

Ngomongin soal gerak zaman yang rasanya makin lari kesetanan, perubahannya tuh sebenarnya gak melulu soal apa yang bisa ditangkap mata. Orang-orang gampang banget mikir kalau kemajuan era itu cuma perkara TV tabung kotak di ruang keluarga yang sekarang berevolusi jadi layar LCD datar yang nempel pongah di tembok. Atau, tentang gimana wujud laptop yang zaman dulu tebelnya ngalah-ngalahin novel Anna Karenina karangan Leo Tolstoy—yang kalau dilempar ke kepala maling pasti bikin gegar otak—sekarang bisa menyusut drastis sampai setipis dompet mahasiswa rantau pas lagi tanggal tua. 

Padahal, esensinya sama sekali bukan di situ. Ada banyak lanskap kehidupan yang ikut jungkir balik gara-gara pergeseran waktu dan efeknya jauh lebih personal dari sekadar urusan upgrade perabot elektronik.

Mau contoh yang paling nyata? Coba kita omongin sesuatu yang paling mendasar, tapi sering banget dikerangkeng diam-diam oleh norma.

Kebebasan seksual. Seks. Senggama. Ngentot. Ngewe.

Buat Nando sendiri, dia kadang sampai lupa kapan tepatnya obrolan soal kebebasan selangkangan ini memudar pesonanya, dan malah masuk ke dalam rak debu kebosanannya sehari-hari. Agak ironis memang. Apalagi kalau mengingat lima belas tahun lalu isi kepalanya masih seputih kanvas kosong. Di masa-masa itu, Nando hanyalah perwujudan bocah kelewat polos yang percaya mati-matian kalau sekadar sentuhan hangat dari pegangan tangan sama anak cewek sepulang sekolah aja udah cukup buat menanam janin di rahim anak orang.

Tapi ya begitulah, dari semua plot twist kehidupan yang diracik semesta, gejolak jungkir balik justru datang dari jalan hidupnya sendiri.

Coba bayangin, seandainya ada mesin waktu yang bisa bawa Nando versi lima belas tahun lalu buat ngintip masa depannya, tuh bocah pasti udah kejang-kejang saking kagetnya. Pemicunya bukan karena dia akhirnya melek realita kalau keringat di telapak tangan gak bakal pernah bisa bikin cewek mana pun berbadan dua.

Alasan utamanya adalah bahwa pas udah gede, dia justru tumbuh jadi manusia yang sama sekali gak punya ketertarikan sekecil apa pun sama makhluk bernama perempuan.

Nando gak suka cewek. Dia sukanya cowok. Dan dari sekian juta manusia yang berlalu-lalang mencari rumah di muka bumi ini, seluruh hatinya cuma mau berlabuh pada satu nama yang sama, Sam, pacarnya.

Hubungan Nando dan Sam sekarang udah bersandar di titik yang nyaman. Sebuah fase stabil tanpa riak-riak drama murahan, tanpa bumbu emosional berlebihan, apalagi tetek bengek gak penting yang biasanya gampang banget menguras stok sabar. Tapi ya, jangan buru-buru mikir kalau tiga tahun kebersamaan mereka ini mulus bak jalan tol yang bersih dari jejak melankolis. Tentu aja enggak. Sebelum sampai di titik senyaman ini, mereka berdua udah lebih dulu berdarah-darah, khatam melewati badai air mata dan fase penuh drama yang cukup sering mengoyak kewarasan.

Cuma anehnya, dengan segala asam garam yang udah mereka telan mentah-mentah—termasuk rentetan perseteruan alot sampai caci maki yang pernah meluncur bebas dari bibir Nando—ada satu teritori yang sama sekali belum pernah mereka jamah. 

Seks. Senggama. Ngewe

Entah bagaimana ceritanya, sampai detik ini, Nando belum pernah sekalipun melihat gurat wajah Sam ketika laki-laki itu sedang dikerubungi kabut berahi.

Fakta absurd inilah yang selalu sukses bikin raut wajah Nando otomatis berubah sedatar papan kayu tiap kali Pascal, teman kampretnya itu, mulai berulah. Manusia satu itu emang seolah gak punya kompas soal tempat dan waktu. Pascal bisa dengan santainya muncul tiba-tiba di depan muka Nando, nyengir tanpa dosa, cuma buat memamerkan satu-dua bercak merah keunguan—jejak kepemilikan bernada pamer yang tercetak bangga di lehernya. Pemandangan nista yang pada akhirnya cuma bisa bikin Nando menghela napas panjang sambil misuh-misuh dalam hati.

“Semalem Pandu mainnya brutal banget gila. Gue udah nyetok lima kondom, buat tiga hari taunya abis buat sehari. Akhirnya kita do it raw..”

Nando cuma bisa memutar bola matanya malas. Rentetan kalimat yang meluncur dari bibir Pascal memang sering kali sukses mengkhianati adab. Ditatapnya sejenak leher bernoda itu dengan sebelah alis terangkat, sebelum akhirnya Nando kembali sibuk mengoyak daging ayam goreng di piringnya. Buatnya, meresapi gurihnya bumbu ayam ini jelas jauh lebih krusial dan layak mendapat apresiasi ketimbang harus melototi pameran karya seni amoral milik temannya.

Di seberang meja, Pascal rupanya menangkap kilat redup yang mendadak merayap turun menyelimuti persona Nando. Namun, bukannya buru-buru mengerem mulut, manusia satu itu malah nekat menambahi bahan bakar. Ia kembali bersuara, dengan nada santai yang seolah-olah dirancang sebagai mantra untuk menetralkan emosi Nando yang udah bersiap meledak di sekon berikutnya.

“Lo harus coba ngewe sama Sam, Ndo. Apa gak bosen tiga tahun gitu-gitu aja gaya pacaran lu? Ciuman sebulan sekali, pelukan dua kali sebulan, ngewe belum pernah. Udah kalah lo sama bocah tetangga gua.”

Goblok memang. Pascal ini kadang sukses menjelma jadi manusia paling tolol sedunia, dan urat sabar Nando yang kian menipis nyaris aja membuat kepalannya melabuhkan satu bogem mentah tepat di pipi temannya itu.

Tolong singkirkan jauh-jauh asumsi klise kalau Nando ini tipe manusia agamis yang mati-matian menjaga kesucian dan menolak zina demi mengamankan kaveling di surga. Ingat, Nando itu laki-laki yang mencintai laki-laki. Sejak ia berdamai dengan orientasinya, tatanan moral soal dosa—mau itu dosa hari ini, dosa besok lusa, dosa yang menggunung atau cuma remah-remah—udah lama ia tendang ke luar jendela. Persetan dengan itu semua.

Akar masalahnya sama sekali bukan di urusan suci atau hina. Realitas paling bangsat dari segala nestapanya adalah, Nando ingin melakukannya. Ia sangat ingin. Tapi Sam... laki-laki itu bahkan gak pernah memancarkan setitik pun sinyal ketertarikan seksual kepadanya.

"Anjing lu, Kal," umpat Nando sengit, mematahkan total asumsi keliru yang bersarang di kepala temannya itu.

"Gue tuh mau. Masalahnya, Samnya yang kayaknya gak mau. Emang anjing ini dunia."

Sampai detik ini, Nando sebetulnya buta sama sekali soal bagaimana cara Sam menyikapi dan menerjemahkan dorongan berahi di dalam kepalanya. Satu-satunya fakta mutlak yang Nando telan bulat-bulat hanyalah selama tiga tahun napas mereka bersinggungan, Sam itu selalu lempeng. Lurus dan kaku bak penggaris besi. Boro-boro lempar kode untuk merangsek ke balik selimut, membahas urusan sepele semacam kapan mereka bisa berciuman aja gak pernah sudi mampir di bibir laki-laki itu.

Kalaupun Nando nekat meruntuhkan ego, mencuri start, dan memagut bibirnya lebih dulu, Sam pasti akan secara otomatis mengurai tautan itu tepat ketika durasinya menyentuh menit ketiga. Selalu begitu. Seolah ada jam yang gak kasatmata yang berdetak patuh di dalam kepalanya. Mereka gak pernah, dan belum pernah, melangkah lebih jauh dari batas mutlak tiga menit itu.

Padahal selama ini, Nando merasa dirinya udah cukup khatam memetakan isi kepala Sam. Ia pikir, ia udah paham betul bagaimana cara laki-laki itu memproses segala bentuk sinyal afeksi yang Nando berikan. Meski jujur aja, kelurusan sikap Sam yang kelewat batas itu sering kali memancing kecurigaan tersendiri, membuat Nando menduga jangan-jangan pacarnya itu memang memelihara sebongkah kebebalan di dalam hatinya.

Ketidakjelasan ini akhirnya melahirkan cabang-cabang prediksi liar di otak Nando. Semacam teori konspirasi picisan. Kalau mau diurutkan, contohnya begini.

Jangan-jangan, Sam itu aslinya straight tapi cuma lagi cosplay jadi homo?

Atau kemungkinan kedua yang lebih menyakitkan
Jangan-jangan Sam memang dari awal gak pernah beneran tertarik sama Nando?

Atau, skenario ketiga yang paling parah... Jangan-jangan Sam itu impoten?

Tentu aja, semua skenario horor barusan murni sekadar hasil racikan otak overthinking jam dua pagi yang sama sekali gak punya landasan bukti empiris.

Sebagai orang yang memonopoli waktu Sam selama tiga tahun terakhir, Nando tahu persis kok kalau laki-laki itu luar biasa mencintainya. Ia juga berani potong jari untuk menjamin kalau pacarnya itu seratus persen gay tanpa perlu diragukan lagi.

Hanya aja... kalau disuruh memvalidasi poin yang paling terakhir tadi, Nando jujur cuma bisa nyengir getir. Soalnya kalau perkara fungsi yang satu itu, dia beneran angkat tangan. gak tahu pasti jawabannya.

 


 

"Ndo, tolong ambilin handuk gue yang di jemur dong. nanti taro aja handuknya deket keset, jangan berdiri depan pintu kamar mandi."

Suara Sam menggema lantang, menembus celah-celah pintu bilik yang tertutup rapat. Di atas kasur, Nando yang lagi khusyuk rebahan sambil menggulir linimasa TikTok cuma bisa mendengus panjang. Mau gak mau, ia akhirnya menyeret tubuhnya yang seberat jangkar kapal untuk bangkit dari zona nyaman demi menuruti titah sang pacar.

Jangan berdiri di depan pintu kamar mandi.

Hembusan napas kasar yang lolos dari hidung Nando menjadi bukti valid kalau kalimat pamungkas tadi terasa sedikit ofensif buat egonya. Seolah-olah dia ini sejenis predator kurang belaian yang bakal lepas kendali begitu melihat celah. 

Nando bukan manusia biadab. Dia paham betul kok soal konsep batasan. Dia tahu persis tata krama dalam merawat komitmen dan betapa krusialnya mengagungkan yang namanya consent. Garis tak kasatmata itu udah ditarik rapi sejak lama, dan sebagai pasangan yang tahu diri, Nando jelas gak bakal sudi menginjaknya. Dia gak bakal nekat mendobrak masuk kalau Sam belum memberikan lampu hijau untuk merangsek ke dalam.

Ya... walaupun kalau mau jujur-jujuran, jauh di sudut paling nista dalam kepalanya, hasrat untuk menerobos bilik basah itu rasanya udah nyaris tumpah ruah.

"Udah gue taruh depan keset." seru Nando dari balik tembok, memilih memutar tumit dan mengalah pada dinding pembatas yang lagi-lagi mengebiri kesempatannya.

Nando kembali melempar punggungnya ke atas kasur Sam yang sialnya selalu terasa kelewat nyaman. Sisa-sisa tenaga sehabis menjadi kurir handuk dadakan tadi ia pakai untuk mengusir paksa semua benang kusut di kepalanya. Pikiran-pikiran berat dan asumsi liar soal urusan ranjang itu ia sapu bersih ke sudut otak, karena saat ini jelas bukan waktu yang tepat untuk memelihara overthinking. Dan benar aja, tanpa perlu menunggu lama, gelombang kantuk datang menghantamnya telak. Nando menyerah tanpa perlawanan, membiarkan kelopak matanya terpejam seiring kesadarannya yang perlahan amblas ditelan mimpi.

Entah berapa lama ia terlelap, sampai akhirnya suara derik kaca jendela yang terus-terusan ditusuk angin sukses memaksanya bangun layaknya alarm murahan. Nando mengerjap lambat, berusaha mengumpulkan kepingan nyawa sambil menahan sisa kantuk yang masih menggelayut berat di pelupuk mata. Ada hawa kosong yang tiba-tiba merayap di sekitarnya. Begitu pandangannya diedarkan ke penjuru kamar, presensi Sam udah menguap entah ke mana.

Dengan gerakan lamban yang kelewat malas, Nando menggulingkan tubuhnya menjadi tengkurap. Tangan kanannya meraba-raba seprai, mencari keberadaan ponsel yang layarnya kini berkedip-kedip minta diperhatikan.

Begitu kuncinya dibuka, rentetan notifikasi sampah dari iklan promo marketplace langsung berdesakan memenuhi layar. Namun, di antara tumpukan diskon panci dan baju murah yang sama sekali gak penting itu, ada satu pesan singkat dari Sam yang nyelip, menuntut atensinya secara mutlak.

"Gue ke gym dulu ya, Ndo."

Sam lagi di gym.

Hanya dengan membaca sebaris informasi singkat itu, gerombolan skenario kotor langsung merangsek masuk, menjajah isi kepala Nando tanpa permisi. Jujur, Nando memang punya kelemahan fatal kalau udah bersinggungan dengan proporsi fisik pacarnya. Di matanya, pahatan anatomi Sam itu levelnya udah beda dimensi—jauh lebih god tier ketimbang abs Mingyu Seventeen yang selalu dipuja-puja umat di linimasa.

Sialnya, obsesi visual itu pelan-pelan merembes dan menciptakan efek samping yang agak nista. Belakangan ini, ada pergeseran hobi dalam rutinitas malam Nando, ia jadi lebih sering menuntaskan berahinya sendirian, murni dengan mengandalkan bayangan tubuh Sam sebagai bahan bakar di balik kelopak matanya yang terpejam. 

Di kepala Nando, kalau semesta ini menggelar ajang penghargaan untuk hal-hal paling seksi, bulir keringat Sam di gym jelas bakal bawa pulang piala aktor utama terbaik. Sementara itu, urat-urat kasar yang menonjol di lengannya udah pasti menyabet gelar aktor pendukung. Tapi kalau mau diringkas, intinya cuma satu, Nando memuja setiap sentimeter anatomi laki-laki itu tanpa sisa.

Lalu, seolah semesta sedang iseng mengamini isi kepalanya, sosok Sam tiba-tiba muncul menembus ambang pintu. Laki-laki itu datang persis di sepersekian detik ketika Nando baru aja menarik torsonya, bangkit, dan duduk lemas di tepian kiri kasur. Pikiran Nando yang sejak tadi udah terlanjur liar, kini mendadak putus rem dan meliar makin brutal.

Netranya kontan terkunci telak pada sosok di depannya. Sam berdiri di sana dengan sisa napas yang masih sedikit memburu, hanya dibalut kaus oblong tanpa lengan yang kainnya menempel pasrah membingkai bahunya. Dan tepat seperti skrip lamunan Nando beberapa menit yang lalu, bulir-bulir keringat itu masih setia bertengger di kulit Sam—menjalankan tugasnya sebagai aktor utama yang membuat pesona laki-laki itu memancar gila-gilaan.

"Masih di sini? Mau nginep?" Suara Sam mengudara santai, memecah hening kamar yang mendadak terasa gerah.

Alih-alih merespons dengan suara, Nando cuma bisa menggeleng pelan. Tenggorokannya mendadak terlalu kering untuk merangkai kata.

"Engga. Maunya cium," cetus Nando. Tiba-tiba aja mode manjanya mendadak tumpah ruah tanpa aba-aba.

Jelas ada satu tanda tanya segede gaban yang langsung nongkrong di benak Sam begitu mendengarnya, tapi laki-laki itu memilih melipatnya rapat-rapat dalam diam. Alih-alih memprotes atau menghindar, Sam malah membiarkan tubuhnya yang masih basah bersimbah peluh itu merangsek maju, merengkuh Nando dalam satu dekapan yang kelewat erat. Ada sensasi lengket di kulitnya, tapi Nando jelas gak bakal peduli soal itu.

Tak lama, pelukan hangat itu datang pelan. Sam sedikit menarik mundur tubuhnya, hanya sekadar untuk membiarkan wajahnya merunduk, memangkas sisa jarak hingga poros pandangannya bertubrukan langsung dengan sepasang netra Nando. Lalu, perlahan gravitasi hasrat mengambil alih semuanya.

Ketika kedua belah bibir itu akhirnya bertemu dan melebur dalam satu pertautan basah, akal sehat Nando langsung mengibarkan bendera putih. Ia menyambut ciuman itu dengan ritme yang terlampau bersemangat, melahap habis kewarasannya sendiri sampai lupa kalau ada letupan berahi yang seharusnya ia rantai erat-erat di dasar perut. 

Di sisi lain, Sam membalas pangutan itu dengan tempo yang kelewat lembut. Laki-laki itu selalu memuja bibir Nando, memperlakukannya seolah itu adalah mahakarya rapuh favoritnya.

Seiring detik yang merangkak naik, ciuman itu perlahan berubah menjadi makin menuntut. Nando yang udah kepalang tanggung dibakar gairah sempat besar kepala, ia mengira kalau kali ini, di sore ini, usahanya bakal berhasil menembus benteng pertahanan Sam. Ia yakin betul bakal keluar sebagai pemenang dalam perlombaan menyulut sumbu berahi pacarnya itu.

Tapi sialan.

Plot twist memang selalu datang di saat yang paling membagongkan. Tepat ketika durasi pagutan mereka menginjak angka sakti tiga menit... Sam menarik wajahnya. Mundur teratur dengan tenang. Menyudahi pertautan basah itu dengan presisi waktu yang sukses bikin emosi mendidih sampai ke ubun-ubun. Mereka benar-benar berhenti berciuman mutlak setelah tiga menit berlalu.

Anjing.

 


 

Sebuah kesadaran baru tiba-tiba menyusup kurang ajar ke dalam kepala Nando, menghantamnya telak bak tamparan basah di siang bolong. Laki-laki itu kini berdiri mematung di hadapan cermin toilet kampusnya yang bersandar pasrah di dinding depan toilet, membiarkan bidang kaca itu menelanjangi utuh-utuh presensinya, dari ujung kepala sampai ke dasar telapak kaki.

Pantulan di depannya menampilkan sebuah komposisi visual yang—jangankan untuk mengundang berahi—dilihat sekilas aja rasanya udah menguras rasa iba. Nando memandangi sosoknya yang tenggelam merana di balik kemeja flanel kotak-kotak kebesaran milik Sam. Alih-alih membuatnya terlihat bergaya oversized nan aesthetic, potongan kain itu malah jatuh membungkus tubuhnya bak karung goni, membuat bahunya kelihatan ringkih. Kepalanya tertutup topi bisbol hijau pudar yang udah melengkung lelah, sementara sepasang kakinya terbungkus paksa oleh celana jins belel andalan yang dari serat kainnya aja udah memancarkan aura penderitaan panjang, entah kapan terakhir kali benda itu mencicipi busa deterjen.

Sebuah tawa sinis mendadak berdenging di sudut otaknya. “Ya pantesan aja Sam kagak pernah sange lihat lo, Ndo. Muka lo dekil, gaya lo lecek, persis gembel belum mandi sebulan. Boro-boro mau bikin anak orang ngaceng, diliat aja bikin sepet.”

Nando membatin pahit. Ia meludahi pantulannya sendiri di dalam kepala, meratapi betapa hancur dan menguapnya sisa-sisa sex appeal yang ia miliki. Bersamaan dengan helaan napas yang memberatkan rongga dada, benih-benih insekuritas itu mulai merayap naik menggerogoti kewarasan dan sisa egonya tanpa ampun. 

Perasaan nista yang sedari tadi menempel liat di dadanya ini... kemarin ukurannya mungkin cuma sepele. Gak lebih dari sebiji jagung yang gampang disentil jatuh dan diabaikan. Tapi sialnya, hari ini, di detik ini, biji keparat itu mendadak bengkak sebesar buah kelapa.

Nando tahu persis tabiat penyakit mental yang satu ini. Kalau terus-terusan dibiarkan mengendap, lalu disuapi makan oleh rentetan pikiran negatif dan visual acak-acakannya di cermin, cepat atau lambat monster insekuritas ini bakal mengikat pergelangan kakinya. Menarik dan menenggelamkannya hidup-hidup ke dasar jurang krisis percaya diri yang paling gelap, tempat di mana harga dirinya gak akan lagi bisa bernapas.

Sialnya, dari semua hal menyebalkan yang pernah terjadi dalam hidupnya, Nando benci setengah mati saat menyadari kalau ia nyaris gak punya daya untuk melawan ketakutannya sendiri.

Gak mau berlarut-larut dalam pedihnya, Nando menarik tubuhnya keluar dari toilet, ingin menghampiri temannya yang hilang arah itu, Pascal.

Pascal, teman kampretnya yang kadar mesumnya udah jauh melampaui ambang batas kewajaran manusia, pernah mengemukakan sebuah teori mutlak, bahwa urusan ranjang dan gesekan selangkangan adalah fondasi paling krusial dalam menjaga kewarasan dinamika sebuah komitmen. 

Awalnya, Nando mentah-mentah menolak dogma murahan itu. Tapi repotnya, Pascal selalu punya cara untuk menyodorkan bukti empiris yang gak bisa dibantah yakni lewat interaksi liarnya dengan Pandu, yang sukses membuat mereka berdua selalu kelihatan seperti pasangan pengantin baru yang lagi bulan madu tiada henti setiap harinya.

Dan sialnya, barang bukti bernyawa itu sekarang sedang dipamerkan secara telanjang dan tanpa adab, tepat di hadapan biji mata Nando. Gara-gara kelakuan dua manusia yang lagi dimabuk dopamine di seberang meja itu, Nando sampai mati-matian menolak mengangkat wajah. Ia merasa seolah-olah kabut afeksi lengket mereka sedang mengurungnya dari segala penjuru, diam-diam melontarkan tatapan menghakimi yang menertawakan nasib Nando karena belakangan ini ia selalu wara-wiri sendirian. 

“Sam ke mana, Ndo? Perasaan udah jarang banget gue lihat kalian berdua nempel,” celetuk Pandu tiba-tiba.

Sebuah pelatuk ditarik, dan pertanyaan sederhana itu sukses memancing embusan napas kasar lolos dari hidung Nando. Laki-laki itu gak langsung merespons. Ia sengaja membiarkan jeda menggantung sejenak di udara, memusatkan seluruh sisa atensinya pada kudapan di dalam mulut yang tengah ia kunyah lumat-lumat seolah itu adalah benda paling menarik di tata surya, sebelum akhirnya membalas dengan nada yang kelewat datar.

“Lagi banyak praktikum dia ndu.”

Yaelah, emangnya kalau pacaran tuh ke mana-mana harus nempel berdua kayak prangko sama amplop? 

Jawaban diplomatis yang barusan Nando lemparkan ke muka Pandu sebenarnya bukan seratus persen cerminan realita. Pada dasarnya, Nando memang bukan spesies manusia clingy yang hobi merusuhi jadwal pasangannya, apalagi tipe pacar posesif yang harus membedah setiap inci dari kegiatan Sam hari itu.

Tapi, seandainya Nando sedang bermurah hati ingin menjawab tuntas rasa kepo Pandu soal keberadaan pacarnya, ia tahu persis di mana laki-laki itu bersarang. Di mana lagi kalau bukan mendekam di kamar indekosnya sendiri?

Dan tepat ke sanalah langkah Nando akan bermuara setelah ini. Kalau mau dihitung pakai statistik kasar, frekuensi Nando melipir ke pintu kosan Sam rasanya jauh lebih tinggi ketimbang rekam jejak kepulangannya ke rumahnya sendiri.

Bukan tanpa alasan. Indekos Sam menawarkan semacam suaka yang hangat dan intim, sangat kontras jika disandingkan dengan kondisi rumah Nando—bangunan yang auranya selalu awur-awuran, berisik, dan diisi oleh kerumunan manusia problematik dengan beban masalah yang seakan gak sudi minggat. Jika udah masuk ke dalam orbit Sam, segala niat Nando untuk bergegas pulang selalu sukses hangus terbakar.

Hanya terpaut selisih waktu satu jam dari meja tongkrongan tadi, presensi Nando kini udah melebur seutuhnya di dalam bilik indekos Sam. Ruangan itu skalanya serba nanggung, dibilang sempit ya engga, dibilang luas pun rasanya kelewatan. Namun dimensinya terasa presisi, seolah memang sengaja dikalibrasi oleh semesta hanya untuk menampung napas mereka berdua aja. 

Atmosfernya terlampau tenang. Sangat masuk akal jika Nando bisa sebegitu gila dan betahnya membusuk di sana, meski pada akhirnya ia sadar penuh, magnet paling kuat yang menariknya datang gak lain dan gak bukan hanyalah demi Sam.

"Gue males deh, pulang ke rumah," racau Nando tiba-tiba, memecah hening sembari membiarkan punggungnya melesak pasrah ke atas kasur.

Keluhan bernada lesu itu kontan merampas atensi Sam. Laki-laki itu menghentikan sejenak kegiatannya, menghadiahkan sebuah tatapan lekat pada sosok Nando yang bergelung malas, sembari memiringkan kepalanya sedikit.

Sam mengikis jarak, perlahan membawa tubuhnya merangsek lebih dekat. Sialnya, manuver sesederhana itu selalu sukses bikin napas Nando nyaris tercekat. Ia sendiri gak pernah benar-benar paham ilmu gaib macam apa yang bersembunyi di balik presensi pacarnya itu, tapi setiap kali Sam mendadak memangkas jarak sedekat ini, selalu ada desir aneh yang bergemuruh kurang ajar di dalam dadanya.

“Rumah lagi berantakan banget, ya?” Suara Sam mengalun lirih memecah hening. Nadanya begitu lembut, selembut porsi tamago di Sushi Tei yang mereka kunyah bareng minggu lalu.

Sebagai balasan, Nando cuma bisa menghadiahkan satu anggukan mantap. Gak perlu ada rentetan kalimat aduan, karena detik itu juga Sam langsung mengerti. Jika udah menyangkut laki-laki ini, Nando perlahan belajar memeluk satu fakta bahwa untuk mencapai sebuah validasi dan pemahaman, ia sama sekali gak perlu berteriak sampai pita suaramu kering kerontang.

“Tapi nanti gue ada rapat BEM sebentar, terus lanjut ngegym sampai malem, ndo. Tunggu sebentar gapapa kan?”

Lagi-lagi, anggukan lemas dari Nando menjadi satu-satunya respons yang mengudara di ruangan itu. 

Tepat setelah itu, punggung Sam resmi menghilang dari balik pintu. Sepi mendadak berhamburan keluar dari sudut-sudut kamar, merayap liar dan menginvasi seluruh ruang udara. Ditinggal sendirian membuat Nando didera kebosanan stadium akhir. Ia udah membuang waktu dengan berguling-guling gak jelas di atas kasur Sam sebanyak tiga putaran penuh, menguras kuota dengan menggulir linimasa TikTok selama dua jam berturut-turut, hingga berakhir masuk ke fase bengong—meratapi langit-langit kamar yang cat putihnya mulai sedikit mengelupas—entah untuk berapa lama.

Siklus membosankan itu terus berputar stagnan, sampai tiba-tiba sebuah notifikasi Instagram berkedip genit di layar ponselnya, menuntut untuk dibuka. Sam baru aja mengunggah sebuah story baru.

Dengan sisa kemalasan yang ada, jemari Nando bergerak refleks menekan notifikasi tersebut. Namun, sepersekian detik setelah visual di layar pipih itu terputar penuh, sisa-sisa kantuk dan akal sehat Nando langsung rontok gak bersisa. Ia membeku di atas kasur, menatap horor ke arah layar dengan rahang yang jatuh dan mulut menganga sempurna.

Anjing. Sam emang beneran gila.

Sistem motorik Nando mendadak mogok kerja. Tubuhnya membeku kaku persis arca, sementara prosesor di otaknya masih berusaha keras mencerna visual biadab yang baru aja menghantam retinanya. 

Bukan, jangan salah sangka dulu. Ini bukan jenis story skandal murahan di mana Sam kepergok sedang memagut bibir cowok lain, atau melakukan aksi konyol di luar batas nalar. Jauh dari itu. Tapi dampaknya buat Nando jelas sejuta kali lipat lebih mematikan.

Isi story itu sebenarnya sederhana, Sam sedang berada di tempat gym. Masalahnya, laki-laki itu melakukannya tanpa repot-repot memakai baju, hanya berbekal celana pendek olahraga yang ujung kainnya menggantung rawan sepuluh sentimeter di atas lutut. Pahatan ototnya mengkilat angkuh dibalut peluh. Helaian rambutnya lepek dan berantakan, menempel acak di dahi, sementara raut wajahnya berkerut meringis.

Sekarang, giliran Nando yang resmi kehilangan akal sehat.

“Sam bangsat,” erangnya tertahan.

Sebuah bantal kapuk yang gak tahu apa-apa seketika berakhir menjadi korban pelampiasan. Nando menenggelamkan wajahnya dalam-dalam ke sana, membiarkan kain sarung bantal itu meredam teriakan frustrasinya. Sumbu kewarasannya mendadak putus, isi kepalanya terasa mendidih, terpanggang habis oleh durasi lima belas detik dari postingan durjana milik pacarnya sendiri.

Dan ketika gerombolan khayalan kotor dan skenario mesum mulai datang berbondong-bondong menyergap sisa kewarasannya, Nando gak lagi punya daya untuk membangun benteng pertahanan. Ia menyerah pasrah. Mengibarkan bendera putih. Biarlah. Biar aja malaikat di sebelah kiri lembur mencatat tumpukan dosanya sore ini.

Terlebih lagi, seolah semesta memang sengaja berkonspirasi untuk meruntuhkan imannya, mata Nando gak sengaja menangkap seonggok kemeja Sam yang tengah bertengger lemas di sandaran kursi kayu. Kemeja yang baru aja laki-laki itu tanggalkan sepulang dari kampus. 

Benda itu mungkin cuma selembar kain biasa bagi orang lain, tapi bagi Nando, kemeja itu adalah candu. Aroma khas Sam masih tertinggal pekat dan mengendap di sela-sela serat kainnya. Sebuah perpaduan sinting antara wangi maskulin dan sisa keringat yang sialnya, selalu sukses membuat Nando berakhir gila.

Nando menenggelamkan hidungnya pada serat kain itu dalam-dalam, membiarkan aroma Sam merangsek masuk dan menjajah paru-parunya. Ia menginginkan laki-laki itu, sekarang juga. Ia mendambakan presensinya, pelukannya, rengkuhan lengannya yang kelewat kokoh.

Tapi persetan dengan realita, saat ini semua itu cuma fatamorgana yang ia ciptakan sendiri. Di atas kasur itu, Nando hanya duduk menyandar melas di kepala ranjang, kakinya terjulur santai dengan celah sedikit terbuka. Kemeja bekas pakai itu masih setia menempel di wajahnya. Silakan panggil dia gila atau sinting, karena pada kenyataannya, Nando memang udah gak peduli lagi.

Napasnya mulai berat dan berantakan. Tangan kirinya perlahan merayap turun, menyusup ke balik kain celananya sendiri, mencari pelampiasan atas gairah yang udah terlanjur mendidih di ubun-ubun. Seiring dengan tarikan napasnya yang makin rakus menyesap aroma Sam, ritme tangannya di bawah sana mulai bergerak konstan.

“Anjing... Sam bangsat!”

Rutukan itu lolos begitu aja dari sela bibirnya, sebuah perpaduan kacau antara rasa frustrasi yang menumpuk dan gairah yang menuntut haknya. Nando benar-benar kesal. Dipikir-pikir lagi, rasanya absurd setengah mati.

Pasangan mana di muka bumi ini yang frekuensi nginepnya ngalah-ngalahin jam kerja karyawan kantoran, tapi urusan sentuhan fisik malah lebih langka dari badak bercula satu? Kayaknya cuma mereka berdua yang punya rekam jejak sengenes ini.

Kelopak matanya terpejam erat. Pikirannya udah meliar tanpa rem, membuang jauh-jauh realita dan hanya berpusat pada satu nama. Dalam khayalannya yang paling nista, Nando membiarkan otaknya menipu diri, membayangkan bahwa jemari kokoh Sam-lah yang kini tengah menyentuh dan memanjakannya. Kemeja di tangannya ia usapkan dengan kasar ke wajah, menuntut lebih banyak ilusi, lebih dalam lagi. Imajinasinya udah menari-nari di ujung tebing puncak kepuasan.

Namun, sialan. Tepat ketika kewarasannya nyaris meledak dan lenyap sepenuhnya, sebuah suara bariton yang teramat familier tiba-tiba mengudara, memecah hening kamar tanpa permisi.

Entah datang dari sudut mana, suara itu sukses menghantam kesadaran Nando dalam sekejap mata. Gerakan tangannya membeku seketika. Darahnya yang semula mendidih mendadak berdesir dingin, dan di detik itu juga, rasanya ia benar-benar ingin menggali ubin lantai kamar kosan ini dan terjun bebas ke dasar Palung Mariana.

"Ndo...."

Satu kata. Tiga huruf. Tapi efeknya sukses membuat rotasi bumi Nando berhenti berputar dalam hitungan milisekon. Jantungnya merosot bebas nyangkut di usus buntu, sementara seluruh darah di tubuhnya serasa surut ke telapak kaki.

Belum sempat Nando merangkai kewarasan untuk sekadar menutupi bagian bawahnya atau melempar kemeja laknat itu jauh-jauh, suara bariton di ambang pintu itu kembali mengudara. Kali ini dengan nada canggung yang kelewat absurd.

"EH... Lanjutin aja, Ndo. Gue keluar dulu deh."

Diikuti oleh suara engsel yang berderit pelan, pintu kayu itu kembali tertutup rapat. Bunyi klik dari kenopnya terdengar laksana ketukan palu hakim yang baru aja menjatuhkan vonis hukuman mati bagi harga diri Nando.

Bangsat memang.

Nando membeku di atas kasur dengan napas tertahan dan sisa gairah yang mendadak terjun bebas gak bersisa. Ia menatap kosong ke arah pintu. Matanya nanar. Dari seratus macam reaksi logis yang bisa ditunjukkan oleh seorang laki-laki ketika memergoki pacarnya sedang tersiksa berahi, Sam justru memilih reaksi paling brengsek di muka bumi.

Bukannya menghampiri, merengkuh, atau minimal mengambil alih permainan, manusia kelewat lempeng itu malah memilih kabur. Meninggalkannya begitu aja dalam kondisi setengah telanjang, menanggung malu sendirian, dan yang paling parah menyuruhnya lanjut sendirian.

 


 

Kalau ada satu hal yang patut mendapat penghargaan tertinggi dari rentetan kejadian memalukan ini, itu adalah tingkat keapatisan seorang Sam. Laki-laki itu sungguh punya urat saraf yang terbuat dari baja. Bagaimana bisa dia bersikap sebegitu datarnya? Gak ada satu silabel pun yang keluar dari mulutnya untuk membahas insiden keparat tempo hari, insiden membagongkan saat ia memergoki Nando sedang asyik memanjakan selangkangannya sendiri.

Meski di satu sisi Nando merasa egonya gak digubris, tapi jujur aja, jauh di sudut hatinya yang paling rasional ia bersyukur setengah mati atas kebisuan Sam. Tragedi nista di atas kasur itu sukses menciptakan trauma mental yang membuat Nando mogok bicara. 

Jangankan bertatap muka, mendengar nama Sam aja udah cukup bikin perutnya melilit. Alhasil, selama dua hari penuh, Nando terpaksa menelan ludahnya sendiri dan menyeret kakinya kembali ke rumah—tempat bising dan berantakan yang selama ini mati-matian ia hindari—hanya demi kabur dari kecanggungan yang siap mencekiknya.

Nando sadar, kalau bukan Sam yang sudi menurunkan ego dan mengambil inisiatif untuk menarik tali layangan mereka, komitmen tiga tahun ini mungkin udah karam dihantam gengsi. Selepas kejadian nahas yang merenggut sisa harga dirinya itu, lidah Nando benar-benar lumpuh. Boro-boro merangkai kalimat pembelaan, mengetik sepotong huruf sapaan di ruang obrolan pun rasanya ia gak punya nyali.

Hingga akhirnya, masa pengasingan itu runtuh pada hari ketiga.

Sam tiba-tiba muncul di layar ponselnya, mengirimkan sebuah pesan singkat. Isinya jauh dari kata romantis, malah terkesan sangat receh, sebuah ajakan makan baso aci di seberang kampus dengan dalih sedang ada promo potongan harga besar-besaran. Nando yang udah kepalang rindu—dan jujur aja, juga lapar—tentu aja gak punya alasan untuk menolak.

Namun lucunya, saat mereka berdua menginjakkan kaki di warung yang dimaksud dan Sam beranjak menuju kasir, promo yang diagung-agungkan di chat tadi ternyata fiktif belaka. Warung itu beroperasi dengan harga normal, tanpa ada embel-embel coretan spidol merah atau spanduk diskon sekecil apa pun. Aneh? Sama sekali enggak.

Sambil mengaduk pelan kuah pedas di mangkuknya, Nando tanpa sadar mengulum senyum tipis. Ia tahu pasti, omong kosong soal diskon itu hanyalah akal-akalan Sam semata sekadar untuk mencairkan suasana dan membawanya kembali ke dalam rotasi dunianya.

Yah, bagaimanapun juga, terima kasih kepada taktik diskon fiktif itu. Berkat akal-akalan murahan tersebut, dinamika mereka akhirnya kembali ke setelan pabrik. Bergerak seluwes biasanya, sepakat dalam diam untuk mengubur dalam-dalam insiden 'Nando kepergok coli' ke dasar palung paling gelap, mencoretnya secara mutlak dari fragmen memori mereka berdua.

 


 

"Sam..." panggil Nando pelan.

Mereka berdua kini tengah bersandar di pagar balkon indekos. Angin malam berembus malas, menemani Sam yang sedang khusyuk menyesap rokok Marlboro Ice Burst di sela jarinya. Langit sedang bersih malam itu, membuat asap kelabu yang mengepul dari belah bibir Sam terlihat begitu kontras, merayap naik dan memudar di udara sejelas konstelasi bintang yang kini menggantung di atas kepala mereka.

"Hm?" sahut Sam tenang.

"Gue... minta maaf."

Pengakuan yang meluncur ragu dari bibir Nando itu kontan membuat pergerakan Sam terhenti. Laki-laki itu menarik satu isapan panjang terakhir dari batang rokoknya, lalu perlahan memutar tubuh, melabuhkan pandangannya lekat-lekat ke arah Nando.

Asap tipis beraroma mint dan tembakau yang baru aja ia embuskan tanpa sengaja terbawa angin, menampar pelan wajah Nando. Seiring dengan kabut asap yang menipis, Sam melangkah mendekat, memangkas jarak yang memisahkan mereka.

"Emang kemarin lo bayangin siapa?"

Skakmat.

Itu adalah jenis pertanyaan absurd yang gak akan pernah ada di dalam skenario terburuk Nando sekalipun. Meluncur begitu aja dari mulut pacarnya dengan nada yang kelewat santai, tapi daya ledaknya sukses membuat organ dalam Nando serasa diaduk. Laki-laki itu mematung seketika. Kelopak matanya mengerjap cepat, sistem otaknya mendadak eror total, masih menolak percaya dengan rentetan kalimat barusan.

Melihat Nando yang mendadak gagu dan kehilangan pasokan kata-kata, ujung bibir Sam sedikit berkedut. Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, mengunci sepasang netra Nando dengan tatapannya, lalu menambahkan satu pukulan telak.

"Gue?"

Nando kehilangan pasokan kata-kata. Ada celah yang refleks terbuka di antara belah bibirnya saking terkejutnya, dan celah itu tanpa permisi langsung dimanfaatkan oleh Sam. Laki-laki itu mencabut batang rokok dari mulutnya sendiri, lalu menyelipkannya santai tepat di bibir Nando yang masih sedikit menganga.

Detik berikutnya, Sam melangkah maju. Ia berdiri menjulang, menancapkan presensinya secara mutlak tepat di hadapan Nando. Kedua lengannya terangkat untuk mengurung tubuh Nando di tengah-tengah, jemarinya mencengkeram kuat terali besi yang udah membeku ditiup angin malam. 

Merasa terintimidasi oleh dominasi yang mendadak menguar liar, tubuh Nando refleks mundur teratur, hingga punggungnya berbenturan pasrah dengan pagar balkon.

Anjing. Kok arahnya jadi begini? batin Nando menjerit panik.

"Kok engga dijawab?" cecar Sam. Nadanya pelan, tapi bobot suaranya terasa berat mengintimidasi. Laki-laki itu memandangi Nando lekat-lekat, menelanjanginya dengan sorot mata nyalang yang belum pernah ia pamerkan selama tiga tahun mereka bersama. Ada kilat bahaya yang asing di sana, dan jujur aja, itu sukses membuat nyali Nando menciut sampai ke mata kaki.

Dengan pergerakan kaku, Nando buru-buru menyingkirkan rokok yang masih bertengger menyebalkan di sudut bibirnya untuk sesaat, mengapitnya dengan kedua jari. "Duh, apa, ya... Anu, gue tiba-tiba lupa deh," racaunya terbata-bata.

Sebuah kebohongan kelas teri. Nando merutuki dirinya sendiri. Bahkan balita pun tahu kalau ia sedang mengarang bebas, apalagi manusia sepeka Sam. Tentu aja kedoknya tembus pandang.

Bukannya puas atau melepaskan kungkungannya, Sam malah kian meruntuhkan sisa jarak. Tangan kirinya masih setia menjadi pilar pada besi balkon yang dingin, sementara tangan kanannya kini turun merayap ke bawah, melabuhkan diri dan mencengkeram posesif pinggang ramping Nando.

"Mau dibantu biar inget?"

Suara Sam mengalun rendah, siap menyeret sisa kewarasan Nando turun ke dasar neraka.

Sam bener-bener udah gila.

Nando menjerit panik di dalam kepala. Seluruh kabel saraf di otaknya mendadak korslet, menolak untuk memproses perubahan drastis dari sosok pacarnya ini.

Gimana gak gila? Manusia yang selama tiga tahun terakhir punya rekam jejak kepolosan dan kelempengan mengalahkan tiang listrik ini, tiba-tiba aja menjelma jadi sosok predator yang meneteskan aura dominasi tajam.

Dengan pergerakan yang kelewat santai—seolah ia gak sadar baru aja melempar bom atom ke tengah-tengah pertahanan ego Nando—Sam mengambil alih kembali batang rokok yang sedari tadi dijepit kaku oleh jemari Nando. Laki-laki itu menempelkan rokoknya ke bibir, menyesapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke udara. Sam gak repot-repot mendesak. Ia hanya diam mengurung Nando di sana, menunggu dengan sabar sementara detik jam terus merangkak maju, membiarkan keheningan selama dua menit itu mengunyah habis sisa-sisa keraguan di kepala pasangannya.

Dua menit yang bagi Nando terasa setara dengan dua abad.

Dan pada akhirnya, benteng pertahanan itu resmi rontok gak bersisa. Nando sadar, ia udah kepalang tanggung berada di ujung tebing gairah, dan mundur sekarang jelas bukan pilihan yang waras. Ia menelan ludah dengan susah payah, memantapkan hati untuk membalas tatapan nyalang Sam yang sedari tadi menguncinya.

Alih-alih mengangguk atau menjawab dengan untaian kalimat panjang, Nando memilih mengiyakan tawaran biadab itu lewat dua patah kata sederhana yang meluncur pasrah dari belah bibirnya.

"Ada lube?"

 


 

Mereka kini udah terdampar di atas hamparan kasur, berdua.

Dan Nando rasanya panas dingin kayak mau mampus.

Lidahnya kelu dan tubuhnya kaku layaknya kanebo kering, sibuk berperang melawan benang kusut di dalam kepalanya sendiri. Di sebelahnya, Sam masih setia menatap. Sialnya, Nando sama sekali gak punya nyali untuk membalas tatapan nyalang itu.

Tunggu sebentar... bukannya dari awal emang niatnya mau saling telanjang ya? batin Nando merutuki ketololannya sendiri.

"Buka bajunya..."

Satu perintah lirih yang lolos dari bibir Nando itu langsung menjelma jadi maklumat mutlak bagi Sam. Tanpa banyak drama, laki-laki itu mengangkat ujung kausnya, menanggalkannya dengan satu tarikan mulus, lalu melemparkannya begitu aja ke lantai. Ia membiarkan lekuk tubuh kokohnya dibelai liar oleh sisa angin malam yang masih menerobos masuk dari celah pintu balkon yang menganga. Pahatan otot dan hamparan kulitnya yang terpapar cahaya remang-remang kamar sukses membakar habis sisa-sisa kewarasan Nando. Otaknya mendadak korslet, gak lagi bisa fokus pada hal-hal rasional.

"Aduh, anjing, gimana, ya..." Nando merutuk salah tingkah. Tangan kanannya refleks menggaruk tengkuk yang sebenarnya sama sekali gak gatal, mencoba mati-matian menetralisir kecanggungan yang pekat menyelimuti udara. "Sumpah deh, kemarin tuh gue cuma ngebayangin lo handjob doang... tapi posisinya lo lagi gak pake baju begini."

Sam gak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan mengambil alih sejenak, mengulum satu senyum miring yang luar biasa memancing emosi, sebelum akhirnya melempar sebuah fakta telak yang sukses menendang angan-angan mesum Nando jatuh kembali ke bumi.

"Tapi sayangnya, engga ada lube, Ndo. Buat hari ini, gue bantuin ngocok aja, gimana?"

Buat hari ini.

"Oh... oke..."

Nando menelan ludah, baru menyadari kalau dipikir-pikir ulang, pertanyaannya barusan memang murni sebuah ketololan yang hakiki. Ya kali Sam menyimpan pelumas di laci kamar kosnya? Memangnya laki-laki kelewat datar ini mau main sama siapa?

Belum selesai Nando merutuki kebodohannya sendiri di dalam hati, Sam tiba-tiba memangkas sisa jarak di antara mereka. Manuver itu dilakukan nyaris tanpa aba-aba, membuat Nando hampir aja memuntahkan seluruh isi kebun binatang dari mulutnya. Terlebih ketika telapak tangan Sam yang lebar mendarat pelan di atas pahanya. Ada usapan lembut di sana, menciptakan sensasi kejut yang mengalir kayak sengatan listrik, merambat liar dari ujung kulit hingga meledak di ubun-ubun Nando.

"Jadi... lanjut?"

Tangan itu ternyata gak mau sekadar berdiam diri. Jemari Sam perlahan merambat lebih jauh, merayap naik menembus batas teritori aman, dan berhenti tepat di pangkal paha Nando. Dari jarak yang udah menghapus batas personal ini, Sam bisa menangkap dengan jelas bagaimana jakun pacarnya itu bergerak naik-turun menelan ludah—sebuah reaksi fisik dari kepanikan dan gairah yang sedang bertarung hebat. Sepasang mata Nando bergerak gelisah ke segala arah, mati-matian menolak untuk menjangkarkan pandangannya pada sorot mata Sam yang kian menelanjangi.

"Nando... mau lanjut?"

Pertanyaan kedua yang mengudara dengan nada bariton rendah itu akhirnya membunuh sisa-sisa ego Nando. Pertahanan terakhirnya rontok, memaksanya menukarkan kewarasan yang tersisa dengan satu jawaban yang mengalun pasrah, "Iya."

Dan pada rentetan menit berikutnya, akal sehat resmi dibuang ke tempat sampah. Mereka benar-benar melakukannya. Terjun bebas ke dalam pusaran gairah yang selama ini hanya berani mereka mainkan di dalam kepala.

Nando menenggelamkan wajahnya dalam-dalam pada ceruk leher Sam, menghirup rakus aroma maskulin dan sisa keringat yang menguar dari kulit hangat pacarnya, wangi yang sialnya selalu sukses membuat akal Nando tumpul.

Di bawah sana, dominasi Sam mengambil alih seutuhnya. Seiring dengan rengkuhan tangan laki-laki itu yang memandu ritme permainan dengan erat dan konstan, Nando mati-matian menggigit bibir bawahnya sendiri hingga rasanya kebas.

Ia menelan paksa setiap rintihan dan lenguhan yang meronta minta dilepaskan, setengah mati berusaha membungkam suaranya agar tak bocor menembus dinding. Karena kalau sampai pertahanan suaranya jebol, bukan gak mungkin malam ini bakal ditutup dengan skenario paling memalukan sejagat raya, pintu indekos ini didobrak paksa oleh kerumunan massa yang hobi memburu dosa.

"Emmh... Duh, Sam..."

Mata Nando udah bergulir ke atas karena stimulasi jemari Sam pada ereksinya sedangkan kepalanya bersandar lemah di atas bahu kokoh itu, gak lagi punya tenaga untuk sekadar menegakkan leher. Nando menggigit punggung tangannya sendiri kuat-kuat, mati-matian berusaha membungkam suara apa pun yang meronta ingin lolos dari tenggorokannya.

"Sam, jangan digituin..." erangnya tertahan, nyaris terdengar seperti rengekan putus asa.

Tangan Sam kayak udah terlatih buat benda tegak milik Nando makin meronta-ronta minta disentuh. Ibu jari Sam ia bawa untuk usap-usap terus di bagian atas kepunyaan Nando. Sensasi sengatan itu ngalir deras gak terbendung, buat kedua tungkai kaki Nando menegang dan napasnya berantakan gak karuan.

"Enak?"

Pertanyaan bernada rendah itu rasanya ingin Nando balas dengan teriakan frustrasi tepat di depan gendang telinga pacarnya. Nando udah kehilangan akal, meleleh tanpa sisa dengan akal sehat yang udah terbakar habis, dan manusia berwajah datar ini masih sempat-sempatnya melempar pertanyaan retoris semacam itu?

"Heem... Kayaknya gue mau kelu—ahh." Nando gak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Suaranya tercekat, habis direnggut oleh gelombang puncak gairah yang perlahan mengambil alih seluruh kesadarannya. Ia hanya bisa mengeratkan cengkeramannya pada bahu telanjang Sam, mencari pegangan di tengah badai yang diciptakan pria dalam rengkuhnya.

Ia memejamkan mata erat-erat saat pelepasan itu akhirnya datang. Tubuhnya menegang sejenak sebelum akhirnya luruh, lemas tak bertulang dalam dekapan Sam. Napas Nando tersengal hebat, dadanya naik-turun memburu pasokan oksigen, sementara ritme jantungnya masih berdebar gila-gilaan.

Ketika ia perlahan membuka kelopak matanya yang memberat dan kesadarannya mulai kembali menapak bumi, keheningan canggung perlahan merayap turun. Hal pertama yang Nando sadari adalah kekacauan yang baru aja ia buat.

Pelepasannya tadi sukses menciptakan jejak berantakan. Nando bucat kemana-mana. Ia menelan ludah dengan susah payah, menatap horor ke arah kulit tangan hangat Sam, di mana sisa-sisa bukti dari gairahnya kini menodai perut, paha, dan tentu aja, jemari laki-laki itu.

“Lo bantuin gue juga.”

Oalah, ternyata pria di depannya juga sama ngacengnya.

 


 

Raut wajah semringah itu betah bertengger di wajah Nando selama kurang lebih seminggu penuh. Auranya mendadak cerah berseri-seri, kayak baru menang lotre miliaran atau kayak abis dapetin shopee flash sale. Perubahan drastis ini jelas mengundang tanda tanya raksasa di kepala Pascal. Temannya itu sampai keheranan memandangi Nando yang belakangan ini level keriangannya udah gak masuk akal sehat.

"Abis ngewe lo, ya?"

Tembakan pertanyaan Pascal meluncur mulus tanpa filter, membelah udara dan menghantam titik sasaran dengan sempurna. Mendengar itu, Nando gak langsung menyanggah. Ia malah menampilkan senyum mesem-mesem penuh arti, persis seperti orang bodoh yang sedang dimabuk kepayang.

"Ya... enggak bisa dibilang ngewe seutuhnya juga, sih. Tapi, ya ada perkembangan, lah," jawab Nando dengan nada bangga yang berusaha keras ia tekan, meski ujung-ujung bibirnya berkhianat dengan terus berkedut menahan senyum.

Mendengar kata 'perkembangan' keluar dari mulut Nando—apalagi jika konteksnya menyangkut urusan ranjang dirinya dengan Sam—Pascal refleks menghentikan kunyahannya. Potongan ayam kremes di mulutnya mendadak kehilangan daya tarik. Matanya melotot lebar, memancarkan binar rasa ingin tahu yang kelewat brutal.

"Apaan?! Ngapain?! Blow job? Foreplay? Nenen?" cecar Pascal bertubi-tubi. Sialnya, volume suara manusia satu ini sama sekali gak dikontrol, seolah mereka sedang berada di tengah hutan, bukan di tempat makan yang dipenuhi umat manusia.

Di detik-detik seperti inilah, Nando selalu menemukan alasan paling valid untuk membenci eksistensi temannya itu. Pascal entah kenapa punya semacam obsesi gak sehat kalau udah menyangkut detail kegiatan seksual orang lain. Hasratnya untuk mengorek-ngorek informasi dapur selangkangan temannya sendiri benar-benar udah di luar nalar.

Kepo banget, monyet, rutuk Nando kencang di dalam hati.

Jari-jarinya seketika gatal, setengah mati menahan diri agar gak menyumpal mulut Pascal yang menganga itu dengan sisa tulang ayam di piringnya.

Alih-alih meladeni mulut tak beradab Pascal, Nando memilih bungkam. Ia membuang muka dan memusatkan seluruh sisa atensinya pada layar benda pipih di genggamannya.

Berdasarkan pesan terakhir yang masuk, Sam mengabarkan kalau ia sedang dalam perjalanan ke tempat yang sekarang ia duduki. Laki-laki itu mendadak menagih janji untuk mencicipi ayam sambal matah legendaris di kantin FISIP, menu yang kebetulan memang udah jadi bahan omongan mereka berdua sejak dua hari lalu.

Gak butuh waktu lama untuk menunggu, sosok Sam akhirnya menampakkan diri di sela-sela keramaian mahasiswa yang memadati kantin.

Namun, sepersekian detik setelah presensi pacarnya itu tertangkap radar retinanya, sepasang mata Nando mendadak melebar horor. Sistem pernapasannya nyaris putus saat ia menyadari secara presisi pakaian apa yang sedang melekat membalut tubuh Sam siang ini.

Itu... kemeja yang sama. Kemeja flanel yang tempo hari menemaninya terjun ke dalam masa-masa nista, yang ia endus dalam-dalam aromanya, dan berakhir menjadi saksi bisu insiden memuaskan diri sendiri yang paling memalukan sejagat raya. Dan sekarang, kain laknat itu dipakai dengan begitu santai dan tanpa dosa oleh sang pemilik asli.

Nando buru-buru berdeham pelan, membuang muka sembari berusaha keras menelan ludah yang mendadak terasa menyumbat tenggorokan. Semburat merah terang kontan menjalar kurang ajar, membakar kedua belah pipinya hingga merambat ke ujung telinga.

Dalam hati, ia komat-kamit merapalkan doa, berharap setengah mati semoga Sam gak menyadari perubahan suhu dan warna wajahnya yang udah mirip kepiting kurang matang ini.

“Tumben amat lo ke sini, Sam,” celetuk Pascal, melempar sapaan basa-basi tak penting yang untungnya lumayan menyelamatkan Nando dari kecanggungan fatal.

Ditanya begitu, Sam gak repot-repot membuang tenaga untuk menjawab. Laki-laki beraura tenang itu hanya merespons dengan tarikan senyum tipis seadanya, lalu mendaratkan bokongnya di kursi kosong tepat di sebelah Nando.

Sisa siang itu bergulir tanpa banyak percakapan dua arah yang gak terlalu berarti. Lebih tepatnya, meja mereka sepenuhnya dibajak oleh siaran radio tunggal dari mulut Pascal. Laki-laki itu terus-terusan mengobral rentetan kalimat pemujaan berlebih untuk pacarnya. Pandu begini, Pandu begitu, Pandu kalau senyum manis banget, Pandu terus pokoknya sampai dunia kiamat.

Sementara itu, di sebelah Nando, Sam tampak sama sekali gak terganggu oleh polusi suara tersebut. Laki-laki itu merespons celotehan Pascal seadanya, hanya mengangguk-angguk ritmis dengan wajah lempeng, sambil terus mengunyah dan menikmati tiap suapan ayam sambal matah khas kantin FISIP dengan begitu menikmati. Seolah-olah ocehan Pascal di depannya gak lebih dari sekadar backsound peningkat nafsu makan belaka.

Setelah kurang lebih tiga puluh menit menghabiskan waktu membusuk di kantin, mereka bertiga akhirnya sepakat membubarkan diri. Begitu melangkah keluar dari area fakultas, langit rupanya udah berganti rupa. Semburat jingga pekat tampak mulai merembes malu-malu dari balik gumpalan awan, menandakan sore yang nyaris menguap habis.

Pascal pamit lebih dulu dari rombongan. Laki-laki itu mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi, melambai heboh bak politisi kampanye sambil berteriak membelah sisa keramaian kampus, "Besok nongkrong lagi ya.”

Kini, formasi kembali menyusut. Hanya tersisa Sam dan Nando berdua.

Warna langit senja yang kelewat jingga sore itu seakan sengaja menyuntikkan atmosfer melankolis di udara yang mengelilingi mereka. Keduanya berjalan beriringan dalam hening yang gak diisi percakapan, hanya ditemani segelas es kopi yang sedari tadi digenggam oleh Nando.

Ritme langkah kaki mereka bergerak seirama, menyusuri trotoar dengan rute yang udah sangat bisa ditebak, mengarah lurus menuju indekos Sam. Kalau udah begini polanya, agaknya malam ini Nando bakal kembali mencoret opsi untuk pulang ke rumah.

Ketika matahari benar-benar udah tergelincir turun dan digantikan oleh tirai malam yang gelap, presensi mereka berdua udah sepenuhnya berpindah ke dalam kamar.

Nando yang baru aja selesai merebahkan diri sejenak di atas kasur, bangkit melangkah menghampiri Sam yang ternyata udah menyelinap dan lagi asyik menyebat di area balkon. Angin malam langsung menyapa wajah Nando begitu ia berdiri di sebelah pacarnya itu.

"Mau," todong Nando tiba-tiba, memecah hening sembari mengedikkan dagu ke arah lintingan tembakau di tangan Sam.

Permintaan singkat dari bibir Nando itu langsung ditanggapi Sam tanpa banyak bertanya, laki-laki itu mengeluarkan sebatang rokok baru dari bungkus kertas di sakunya, lalu menyodorkannya ke hadapan Nando.

"Tumben," komentar Sam pendek.

Satu kata itu meluncur seiring dengan sebelah alisnya yang terangkat pelan, menyorot Nando dengan tatapan heran, seolah-olah pacarnya itu adalah entitas langka yang jarang sekali kepergok menyentuh batang nikotin.

Nando menyesap batang rokok yang terselip apik di antara telunjuk dan jari tengahnya, lalu mengembuskan kepulan asapnya kuat-kuat ke udara bebas. "Lagi pengen aja," balasnya santai.

Alih-alih menjaga jarak, Nando melangkah lebih dekat. Laki-laki itu membiarkan tubuhnya merapat, lalu menambatkan dagunya dengan nyaman di atas bahu Sam yang lebar. Dan pada menit-menit berikutnya, presensi mereka sepenuhnya dibalut oleh keheningan mutlak.

Mereka selalu menyukai saat-saat seperti ini. Gak ada percakapan basa-basi, gak ada tuntutan untuk saling merangkai kata demi mengisi kekosongan. Hanya ada diam yang menenangkan, murni ditemani oleh deru angin malam yang berembus merdu.

Suasananya persis seperti melodi magis dari lagu Bruno Major yang judulnya Nothing. Selama bertahun-tahun membangun dan menjalin komitmen, rasanya mereka udah mencoba hampir segala bentuk aktivitas kencan demi menjaga percikan romantisme (yah... di luar urusan seks yang paripurna, tentu aja).

Namun pada akhirnya, mereka selalu kembali pada satu konklusi yang sama, momen-momen stagnan di mana mereka hanya berdiam diri, berdampingan, dan tidak melakukan apa pun, justru selalu keluar sebagai kencan paling romantis versi mereka berdua.

But there's nothing
Like doing nothing
With you.

Tiga puluh menit berlalu dengan keheningan yang memeluk mereka. Matahari udah benar-benar bersembunyi entah ke mana, memberikan panggung sepenuhnya bagi sang rembulan untuk memamerkan eksistensinya di langit malam. Batang-batang nikotin mereka udah lama tumpas menjadi abu, menyisakan embusan angin sepoi-sepoi yang menabrak pelan balkon lantai tiga itu sebagai satu-satunya hiburan.

"Sam, pernah kepikiran enggak sih having sex sama gue?"

Pertanyaan gila yan gentah setan dari mana yang ikut menebeng pada embusan angin pergantian hari ini, sampai-sampai Nando mendadak punya nyali sebesar itu. Kata keramat yang selama tiga tahun terakhir mati-matian ia kunci rapat-rapat di dasar sanubari, kini lolos begitu aja menembus udara tanpa permisi.

Sam gak langsung merespons. Laki-laki itu masih diam di posisinya, membiarkan dagu Nando bertumpu nyaman di bahunya, sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar yang kelewat tenang.

"Sering."

Nando nyaris tersedak ludahnya sendiri. Namun, belum sempat ia memproses satu kata itu, Sam kembali membuka suara.

"Tapi, takut kalau lo enggak suka."

Tolong, siapa pun, tolong minta pada semesta untuk mengirimkan rudal balistik sekarang juga buat ledakin isi kepala Sam.

Nando benar-benar gak habis pikir, seakan akal sehatnya baru aja dibanting ke aspal. Jadi, selama ini pemikiran seabsurd itu yang bersarang dan mengerak awet di dalam benak pacarnya? Ketakutan macam apa itu? Padahal, demi Tuhan, saking datar dan minimnya inisiatif Sam selama bertahun-tahun mereka pacaran, Nando bahkan udah berada di tahap pasrah dan ikhlas lahir batin seandainya laki-laki itu tiba-tiba membuat pengakuan bahwa dirinya impoten betulan.

"Kan lo baru pertama kali pacaran, Ndo. Gue enggak enak mintanya, jadi mending nunggu lo dulu yang inisiatif minta duluan. Kalau seandainya lo emang enggak minta pun, ya enggak apa-apa juga, sih. It's not necessary, at least for me."

Penjelasan logis yang meluncur tenang dari bibir Sam kali ini akhirnya sukses mengetuk nalar Nando. Ia perlahan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan di atas bahu laki-laki itu, memberi isyarat bahwa ia sangat memahami jalan pikiran pacarnya yang kelewat gentleman atau lebih tepatnya, kelewat pasrah itu.

Mendapat lampu hijau yang benderang, sisa-sisa keberanian Nando mendadak terkumpul penuh. "Kalau sekarang gimana? Mau gak? Gue ajak duluan, nih."

Pergerakan kepala Sam yang menoleh patah-patah menjadi respons fisik pertama atas ajakan senggama super kasual barusan. Otak laki-laki yang biasanya lancar itu kini terlihat jelas sedang malfungsi akibat terus-terusan dijejali rentetan pertanyaan bin ajaib dari Nando dari tadi.

Setengah gak percaya, Sam menatap mata Nando lekat-lekat. Ia menelisik raut wajah pacarnya, takut-takut kalau ucapan keramat barusan cuma sekadar candaan usil atau jebakan betmen gak berdasar.

"Bercanda enggak lo?" tanya Sam pelan, suaranya turun satu oktaf dengan tatapan yang kembali memancarkan kilat nyalang. "I hope this is not a joke, sih."

I hope, katanya.

Mendengar pengakuan jujur—yang entah kenapa terdengar begitu putus asa—keluar dari bibir Sam, perut Nando rasanya seperti baru aja diaduk paksa oleh ribuan kupu-kupu yang mengamuk. Sialan memang. Kalau udah begini ceritanya, rasanya Nando benar-benar ingin lompat terjun bebas dari pagar balkon lantai tiga ini sekarang juga.

"Beneran..." Satu kata konfirmasi itu meluncur lirih dari bibir Nando, nyaris terdengar seperti cicitan pasrah.

Entahlah. Silakan aja salahkan embusan angin malam yang mendadak terasa kelewat dingin hingga memaksanya mencari sumber kehangatan terdekat. Atau, kalau Nando mau sedikit lebih jujur dan melepaskan sisa-sisa urat malunya... ya akui aja kalau saat ini nalarnya memang udah kepalang tumpul lantaran dibajak habis-habisan oleh nafsu yang sedari tadi ditahannya.

Mendengar jawaban final tersebut, sisa-sisa rantai pengekang kewarasan Sam resmi terputus total.

Sorot mata laki-laki itu mendadak menggelap pekat, menajam dengan kilat gairah. Tanpa perlu membuang lebih banyak waktu di bawah udara dingin atau merangkai kalimat persetujuan yang bertele-tele, Sam mengambil alih kendali sepenuhnya. Tangan besarnya meraih pinggang Nando, merengkuh tubuh pasangannya itu hingga menempel erat tanpa menyisakan jarak seinci pun.

"Oke."

Hanya satu kata bernada rendah itu yang keluar dari belah bibir Sam, menjadi penutup resmi perbincangan sarat keraguan mereka di balkon.

Detik berikutnya, tak ada lagi keraguan yang tersisa. Sam membawa—atau lebih tepatnya, setengah menyeret dengan terburu-buru—Nando untuk masuk kembali ke dalam kamar. Suara pintu kaca balkon yang digeser kasar lalu ditutup rapat. Mengunci dunia luar, memblokir angin malam, dan hanya menyisakan mereka berdua dalam kungkungan ruangan remang yang kini mendadak terasa terbakar oleh suhu yang kelewat panas.

Ketika sisa-sisa kain yang menjadi pembatas terakhir mereka akhirnya luruh menyentuh lantai, membiarkan tubuh keduanya terekspos di bawah cahaya remang, gairah yang sedari tadi ditahan kini mengambil alih panggung sepenuhnya. Akal sehat perlahan mencair, melebur tanpa sisa di tengah pergulatan panas dari pagutan bibir yang gak lagi menyisakan jarak.

Malam ini, nalar dan kewarasan resmi dicoret dari daftar prioritas mereka.

Satu lenguhan tertahan lolos begitu aja, dan Nando adalah tersangkanya. Penyatuan bibir mereka terasa intens, menuntut, dan basah. Nando dan Sam benar-benar gak pernah berciuman dengan ritme sebuas ini, selama tiga tahun ke belakang, mereka selalu terjebak dalam batas aman yang kelewat sopan.

Namun malam ini, begitu Nando mencecap sensasi adrenalin gila dari pagutan yang memabukkan tersebut, ia tahu persis bahwa mulai detik ini dan seterusnya, ia akan selalu menuntut lebih banyak hal yang sama dari bibir Sam.

Suhu ruangan seakan melonjak drastis. Embusan dingin dari AC ruangan di sudut kamar rasanya gak lagi punya harga diri untuk meredam sengatan panas di antara kulit mereka yang kini meremang.

Lewat tatapan matanya yang perlahan mulai sayu, Nando mengunci pandangannya lurus ke arah pacarnya. Melihat langsung gimana berantakannya rupa Sam sekarang—setengah basah karena keringat, ditambah sorot mata gelap yang seratus persen cuma fokus menguliti eksistensinya, pemandangan itu sukses menyulut ke percikan gairah di dalam diri Nando.

"Lo ganteng banget kalau lagi keringetan gini..." Gumaman memuja yang selama ini hanya berani ia teriakkan di dalam kepala, akhirnya meluncur tanpa sadar dari belah bibir Nando.

"Oh, jadi suka ngeliar gue keringetan?" tanya Sam, suaranya teredam di sela-sela kecupan yang ia bubuhkan tanpa henti di sepanjang garis leher Nando. Tangan laki-laki itu lalu terulur mencari remote di atas nakas, menekan satu tombol hingga dengung halus dan embusan sejuk dari pendingin ruangan itu mati seketika. "Gue matiin, ya. Biar kita keringetan bareng."

Anjing. Nando benar-benar gak pernah tahu kalau seorang Sam ternyata bisa sebinal ini.

Dan mereka kembali melebur. Kali ini jauh lebih dalam, lebih menuntut, dan menyapu habis sisa-sisa kewarasan. Nando menyerah sepasrah-pasrahnya di bawah dominasi Sam. Ia meruntuhkan seluruh sisa benteng pertahanannya, memberikan akses tak terbatas, dan membiarkan laki-laki itu mengambil kendali atas dirinya seutuhnya.

Malam ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah pertemanan Nando dan Pascal, Nando harus berbesar hati membenarkan celotehan tak beradab Pascal. Bahwa keintiman fisik, penyatuan emosi dan raga semacam ini, memang punya efek tersendiri untuk menyuntikkan euforia unik yang meledakkan dinamika hubungannya.

Nando sama sekali gak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia merasa seolah sedang diangkat paksa terbang ke puncak euforia yang paling manis, terbuai oleh letupan-letupan endorfin dan gelombang gairah yang memabukkan. Padahal, Sam sama sekali belum membawa permainan panas mereka berdua melangkah ke tahap penyatuan.

"Ada kondom di dompet gue. Lubenya di laci, kemarin gue beli."

"Lo orangnya well-prepared juga, ya," bisik Sam. Ucapannya mengalun rendah, terdengar seperti sarkasme tipis—sebuah sentilan halus yang seolah sukses nelanjangi fakta kalau Nando aslinya udah nyimpen antisipasi buat momen ini entah dari kapan tahu.

Rentetan pemanasan panjang yang sukses melumpuhkan akal sehat itu kini hampir mencapai puncak. Segala letupan euforia, afeksi yang tumpah ruah, serta gejolak gairah yang menggebu-gebu udah melebur sempurna dalam satu tarikan napas yang berat. Kini, garis batas itu benar-benar ada di depan mata dan gak ada lagi jalan untuk berputar balik. Mereka bersiap untuk meruntuhkan dinding pertahanan yang paling akhir, melangkah nekat menembus batas demi menyatukan eksistensi keduanya seutuhnya.

Malam ini, Sam mengambil alih seluruh kendali. Laki-laki tersebut tahu persis bagaimana cara menenangkan pasangannya. Ia menuntun bilah bibirnya untuk mendaratkan kecupan-kecupan hangat di sepanjang dada Nando, sebuah taktik manis nan memabukkan untuk memecah fokus Nando dari intensitas dan rasa sakit di awal proses penyatuan mereka.

Sam mulai mendorong pinggulnya perlahan, sementara lidahnya tetap dibiarkan bergerilya menyesap dan menggoda permukaan kulit putih Nando.

"Rileks sedikit, sayang. Sempit banget ini," bisik Sam dengan suara seraknya yang mengalun berat.

Benteng pertahanan Nando runtuh seketika. Sebuah erangan tertahan yang sejak tadi ia simpan pada akhirnya lolos begitu aja dari belahan bibirnya. Ada sensasi asing yang terasa begitu penuh, berpadu hebat dengan sengatan ngilu luar biasa yang mendadak menyergap seluruh intinya.

"Ahh, Sam... pelan-pelan..." lirih Nando dengan napas yang mulai putus-putus. Namun, di tengah kondisi akalnya yang masih kalut diombang-ambing badai sensasi, ia malah sempat-sempatnya mencicit dengan nada setengah polos, "...bukannya kalau sempit malah lebih enak, ya?"

Bersamaan dengan lontaran polos itu, kesepuluh jarinya yang gemetar tanpa sadar udah meraup dan mencengkeram kain seprai di bawahnya dengan teramat erat. Ia menyalurkan segala gelombang rasa yang campur aduk di tubuhnya ke sana, mencengkeram begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat

"Enak ini," bisik Sam dengan napas yang memburu, mengamini ucapan kekasihnya dengan suara parau. "Kalau tau gini kita ngewe dari dulu.”

"Kan dari dulu lo yang gak ma—"

Ucapan Nando terputus di udara, tergantikan oleh pekikan tertahan saat pinggul Sam tiba-tiba menghentak maju tanpa peringatan. Sentakan itu begitu dalam, menghantam titik sensitifnya hingga nyaris merenggut seluruh kesadaran Nando.

"Ahh—Gila ya lo anjing!” umpat Nando di sela napasnya yang terengah. “Perih banget Sam, tadi kayaknya udah pake lube yang banyakan deh.”

Secara refleks, kedua telapak tangannya menahan dada kokoh Sam, mendorong tubuh dominan itu sedikit menjauh untuk memberinya ruang. Dadanya naik-turun dengan ritme berantakan, berusaha keras meraup oksigen di tengah gelombang nyeri yang masih berdenyut gila-gilaan hingga ke ubun-ubun.

"Bentar, bentar... kasih gue waktu napas dulu, oke?" lirih Nando putus-putus. Matanya terpejam sejenak menahan ngilu. "Sumpah, ini sakit banget, Sam... tapi gila, gue juga udah beneran ngaceng banget ini."

Seutas seringai tipis namun mematikan tercetak di bibir Sam. Laki-laki itu menatap lekat-lekat wajah Nando yang memerah dengan tatapan memuja.

"Kalau gue geraknya begini... masih sakit juga?"

Pertanyaan retoris itu bahkan belum sepenuhnya diproses oleh akal Nando yang udah kepalang tumpul. Sam telah lebih dulu mengambil tindakan. Kali ini bukan dengan sentakan kasar, melainkan sebuah gerakan pinggul yang meliuk lambat, berpadu sempurna dengan sapuan jemari Sam yang turun merengkuh pusat gairah Nando. Jemari Sam membelai ereksi keras Nando yang sempurna, menguasai titik lemah Nando tanpa ampun.

"Sam... yang ini juga, dong. Sekalian dimainin," pinta Nando dengan suara serak. Jari-jarinya bergerak pelan, sengaja memilin titik sensitif di dadanya sendiri sejenak.

Sam nyaris gak bisa berkata-kata. Laki-laki itu sempat melongo sepersekian detik, dibuat takjub oleh permintaan Nando yang menurutnya nakal bukan main. Tapi mau gimana lagi? Akal sehat Nando kayaknya udah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kabut gairah yang terlampau pekat. Kalau udah di tahap mabuk kepayang begini, urat malu rasanya memang udah putus gak tersisa.

Tanpa basa-basi, Sam langsung meladeni cara main kesayangannya. Ia menundukkan kepala, meraup puncak dada Nando dengan sapuan bibirnya yang basah dan hangat, memberikan isapan rakus. Sensasi sapuan lidah itu sontak membuat Nando kepalang nikmat. Lantunan desahannya mengudara makin tak terkendali.

"Eungh... udah mulai enak nih... ahh, Sam... enak banget," racau Nando di sela napasnya yang makin berantakan. Sedangkan Sam sekarang cuman fokus sama puting dada punya Nando.

Kelopak mata Nando terpejam erat, sesekali terbuka hanya untuk menampakkan sorot sayu yang sepenuhnya takluk oleh badai kenikmatan. Bulir-bulir peluh kini membanjiri pelipis dan tubuh keduanya, mengalir turun dan menciptakan kilau eksotis di atas kulit mereka.

"Sam... mau lihat muka lo..."

Mendengar permintaan yang lebih mirip seperti rintihan itu, Sam perlahan mengangkat torsonya. Ia menjauhkan bibirnya dengan enggan dari titik yang sejak tadi ia nikmati tanpa ampun. Dengan napas yang sama-sama memburu, Sam menumpukan tubuhnya, mengunci tatapannya lekat-lekat pada wajah Nando yang memerah sempurna dan dibanjiri rona gairah.

"Udah mau keluar hmm?" bisiknya.

Tak ada lagi sisa tenaga untuk merangkai kata. Terlalu sibuk menahan gelombang kenikmatan yang siap meledak kapan aja, Nando hanya mampu memberikan satu anggukan kecil, menyerahkan sisa kesadarannya malam itu sepenuhnya ke tangan Sam.

Ketika gelombang klimaks akhirnya datang menyergap dan menghempaskan akal sehat mereka berdua ke titik puncak, keduanya refleks berpelukan teramat erat. Peluh Sam menetes tiada henti, luruh dan jatuh menimpa kulit Nando. Tubuh mereka benar-benar dibanjiri keringat, basah sepenuhnya oleh sisa-sisa euforia gila yang baru aja menyapu habis kewarasan mereka.

"Gimana?" Suara berat Sam mengalun pelan, memecah hening kamar yang masih menyisakan gema napas mereka yang berantakan.

Pelan tapi pasti, Sam mengurai pelukan posesifnya yang dari tadi ngunci tubuh Nando. Cowok berbahu lebar yang badannya udah basah oleh peluh itu akhirnya merosot ke samping, mendarat di atas seprai yang bentukannya udah gak karuan, persis di sebelah Nando yang masih terkapar lemas tak bertulang.

Di sebelahnya, dada Nando masih naik-turun meraup pasokan udara. Rambut hitamnya nempel lepek di dahi, sisa-sisa dari badai klimaks yang baru aja ngobrak-ngabrik akal sehat mereka berdua. Dengan sisa tenaga yang entah tinggal berapa persen, Nando maksain diri buat miringin badan. Dia merapatkan jarak, nyari posisi paling pewe cuma biar bisa natap langsung ke sepasang mata gelap milik pacarnya itu.

"Emmmm... pengen lagi," cicit Nando tanpa aba-aba. Blak-blakan banget sampai rasanya urat malunya udah putus. Tapi sedetik kemudian, raut wajahnya mendadak berubah agak ragu. Matanya mengerjap pelan, "...tapi, lo tadi beneran mau kan, Sam? Engga terpaksa?"

Denger pertanyaan barusan, Sam refleks numpuin siku buat setengah bangun dari rebahnya. Padahal, dia baru aja mengistirahatkan badannya gak lebih dari dua tarikan napas. Keningnya mengkerut dalam, menatap Nando dengan raut kebingungan

"Kok lo tiba-tiba mikir gitu, sih?" protes Sam, nadanya kedengeran campur aduk antara heran dan agak gak terima.

Nando sedikit memajukan bibir bawahnya, mendadak salah tingkah sendiri dipelototin setajam itu. "Ya... bisa aja, kan? Siapa tahu menurut lo gue kurang seksi, atau pas tadi main gue kurang—"

"Ndo," potong Sam cepat. Suara baritonnya turun satu oktaf, bawa penekanan mutlak yang pantang dibantah. "Menurut lo, gue udah sengaceng ini gak keliatan ya?"

Duh.

Nando ngerasa kayak baru aja ditampar sama realita paling telak. Bener juga. Terpancing oleh rasa penasarannya sendiri, sepasang mata Nando otomatis bergulir turun ke bawah. Pandangannya mendarat mulus tepat di titik pusat laki-laki di hadapannya.

Dan yah... di sanalah bukti valid itu terpampang nyata. Milik Sam ternyata masih tegak berdiri, mengeras dengan luar biasa sempurna seolah-olah pelepasan gila barusan sama sekali belum menyentuhnya. Pemandangan itu sukses menertawakan segala insekuritas gak berdasar Nando barusan.

"Kondomnya masih ada?"

Tiga kata itu meluncur mulus tanpa dosa dari bibir Sam. Nando cuma bisa ngebatin heran, sejak kapan obrolan seintim dan setabu ini mendadak kerasa senatural ngebahas mau makan siang pakai lauk apa? Vibesnya udah persis kayak pasangan yang tiap malam rutinan, padahal demi Tuhan, ini adalah malam pecah telur buat mereka berdua.

"Ada, sih. Emang sengaja beli dua," balas Nando santai. Tangannya merogoh pelan lipatan dompetnya, lalu menyodorkan satu bungkus foil berbentuk kotak kecil itu ke arah Sam.

Sam menerimanya dengan gerakan yang kelewat tenang. Namun, alih-alih merobek bungkus itu dengan kedua tangan seperti manusia normal pada umumnya, laki-laki itu malah mengoyaknya menggunakan perpaduan jari dan mulutnya. Iya, digigit pelan di bagian ujungnya sampai terbuka.

Menyaksikan manuver sepele yang entah kenapa malam ini kelihatan luar biasa seksi dan bikin panas dingin itu, rahang Nando nyaris anjlok. Matanya sedikit melebar, terpesona sekaligus menaruh curiga tingkat tinggi di saat yang bersamaan.

"Sam, lo jujur deh... aslinya lo udah sering, ya, kayak gini?"

Gak tahu deh dari mana datangnya nyali, sampai-sampai pertanyaan polos yang jatuhnya malah kayak nuduh itu bisa-bisanya meluncur gitu aja dari mulut Nando pas Sam lagi sibuk bersiap. Bukannya jawab atau ngeles, Sam malah cuma ngerespons pakai senyuman miring—tipe senyum misterius yang sukses bikin otak Nando makin korslet karena saking gak bisa ditebaknya.

Dan gak butuh waktu lama buat bikin dinamika mereka berdua berubah total. Giliran Nando yang sekarang ngambil alih kendali permainan. Ia duduk di atas ereksi keras Sam. Dan rentetan menit setelahnya berjalan jauh lebih gila pemanasan dan ronde pertama tadi mendadak terasa kayak uji coba aja kalau dibandingin sama yang satu ini.

Heningnya kamar kos itu sekarang udah dibantai habis-habisan sama suara pergesekan kulit yang saling beradu ritme dan deru napas yang memburu. Di sela-sela itu, Nando cuma bisa komat-kamit dalam hati, berdoa kencang semoga tetangga sebelahnya gak ada yang punya hobi nempelin kuping ke tembok. Walaupun kayaknya mustahil buat gak kedengeran, soalnya dari tadi Nando terus-terusan kebobolan merintih kelewat kencang.

"Jago juga goyangnya... kayaknya udah sering, nih."

Satu godaan bernada rendah dan kelewat nakal itu meluncur santai dari bibir Sam. Sialnya, alih-alih bikin Nando malu, kalimat itu malah sukses menyulut gairahnya makin gila-gilaan. Tangan besar Sam bergerak naik, berlabuh dan mencengkeram nyaman di kedua sisi pinggang Nando, sengaja membantu memandu ritme pacarnya itu. Sepasang mata gelap Sam gak sedetik pun beralih, ia mengunci pandangannya pada sosok Nando yang terus bergerak mencari titik-titik peleburan paling memabukkan di antara mereka.

"Iy—ahh... dulu seringnya di atas guling doang, sih," celetuk Nando dengan kejujuran yang kelewat batas.

"Oh... jadi hitungannya udah sering latihan, ya?" goda Sam lagi, suaranya terdengar makin serak.

“Mmhh—kan pake guling, gak pake kontol asli..”

“Enakan pake guling atau pake kontol asli?”

Kepala Nando refleks mendongak ke atas, ekspresi kepalang nikmat tergambar jelas dari setiap reaksi tubuhnya yang menegang. Rentetan pertanyaan Sam barusan rasanya nyaris gak bisa diproses lagi oleh benaknya yang udah telanjur berkabut.

"Kalau di atas gini... enak... jadi lebih dalem, terus jadi makin kegesek... ahh." Mata Nando makin merem-melek, menyerah sepasrah-pasrahnya pada gelombang kenikmatan yang menguasai kendali tubuhnya.

Mendengar itu, bibir Sam sampai sedikit menganga. Barusan aja, sebuah review pengalaman paling jujur dan blak-blakan sukses mendarat mulus di kedua telinganya.

“Gue juga suka ngeliatnya dari bawah gini.”

Kedua belah telapak tangan Nando perlahan merambat turun, menjamah dada bidang Sam demi menopang sisa-sisa bobot tubuhnya yang nyaris luruh ke dalam dekapan cowoknya. Racauan dan napas yang memburu kini sepenuhnya mendominasi udara malam di antara mereka.

"Sam... hah... main gue... enak, gak?" Nando meracau di sela napasnya yang terputus-putus, matanya menatap sayu. "Kok... kayaknya cuma gue doang yang dari tadi keenakan?"

Seolah kehabisan kesabaran mendengar insecurity Nando yang malah kambuh di momen genting begini, Sam memutuskan untuk kembali mengambil alih kendali mutlak. Dengan satu gerakan cepat, laki-laki itu membalikkan keadaan.

Kini, Nando kembali terkurung pasrah di bawah bayang-bayang dominasi tubuh besar Sam. Napas keduanya sama-sama terengah hebat, bersahutan bagai melodi yang berantakan. Kedua lengan kokoh Sam bertumpu mengurung sisi-sisi tubuh Nando, sementara ritme pergerakannya mendadak berubah jauh lebih intens dan serampangan.

"Ndo, please, jangan nanya hal konyol kayak gitu lagi. Lo gak lihat muka gue dari tadi udah sesange ap—"

Kalimat bernada protes itu mendadak tertahan di udara. Rahang Sam mengeras kaku, urat-urat di sekitar lehernya tercetak jelas saat ia merasakan rengkuhan tubuh Nando di bawah sana tiba-tiba menegang, mengungkung eksistensi ereksinya dengan begitu rapat hingga membuat akal sehat Sam nyaris terbang seketika.

"Fuck...ahh" Sam mengumpat tertahan dengan suara yang kelewat serak, matanya terpejam sejenak menahan guncangan nikmat yang menyiksa. "Ndo, jangan tiba-tiba dirapetin gitu. Dari tadi gue juga keenakan..Asli sempit banget, anget, I don’t know how to explain it more. Enak, ndo, Besok kita ngentot lagi mau gak?"

Nando jadi gila dengerinnya, gak biasanya laki-laki yang lagi mengungkungnya ini ngomong belepotan dengan susunan kalimat yang seberantakan itu.

Sekarang, giliran Sam yang akhirnya meruntuhkan semua sisa pertahanannya. Laki-laki yang biasanya selalu irit suara itu kini melepas habis semua kunci di mulutnya. Ia membiarkan erangan berat dan serak lolos begitu aja mengudara, seiring dengan ritme penyatuan mereka yang kian memuncak.

Mendengar suara kepalang jujur yang keluar dari bibir pacarnya itu, Nando tak kuasa menahan lengkungan senyum puas yang menghiasi wajahnya. Senyum itu mengembang sempurna, tepat sebelum badai gairah yang sesungguhnya datang menerjang tanpa ampun, menyapu bersih sisa-sisa kewarasan dan membawa mereka berdua terbang menuju titik pelepasan yang paling memabukkan.

Kehabisan seluruh sisa tenaga untuk sekadar menahan bobot tubuhnya sendiri, Sam akhirnya menyerah. Ia pasrah membiarkan torsonya luruh, menjatuhkan diri sepenuhnya dan memeluk erat tubuh Nando yang sama-sama udah terkapar lemas gak berdaya. Dada mereka naik-turun bersahutan, berebut oksigen di tengah udara kamar yang mendadak terasa begitu padat.

Pelan-pelan, hawa hangat yang luar biasa menenangkan mulai menjalar, menyelimuti permukaan kulit mereka yang basah oleh peluh dan masih saling bersentuhan erat. Sam memejamkan matanya, mencari tempat berlindung paling nyaman dengan menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di ceruk leher Nando.

 


 

Sorot mata penuh binar yang saling beradu antara Nando dan Sam kemarin seolah menjadi proklamasi bisu, garis batas itu udah resmi terlewati. Segala macam omong kosong—yang dulunya sering mereka kira sekadar bualan dari mulut Pascal tentang magisnya fase pasca-bercinta—ternyata seratus persen nyata. Ada semacam euforia yang kini pekat mengudara di sekitar mereka, membungkus keduanya dalam gelembung aura hangat yang meluap-luap, persis layaknya sepasang pengantin baru yang sedang mabuk kepayang di tengah bulan madu.

Orang-orang menyebut fenomena itu sebagai after-sex glow. Bagi Sam, ia menyaksikan sendiri magisnya tepat di depan mata. Semburat kemerahan alami yang menghiasi tulang pipi Nando, napas yang masih memburu pelan sukses membuat cowok itu tampak berkali-kali lipat lebih menawan dari biasanya.

Di matanya, Nando malam itu begitu memikat, begitu indah hingga rasanya berkedip pun jadi satu kerugian besar karena harus melewatkan pemandangan di depannya.

Transisi itu gak hanya merombak hal-hal yang sifatnya fisik, tapi juga melunturkan sisa-sisa batasan yang mungkin masih terselip di antara mereka. Sejak malam yang panjang itu, ada semacam magnet gravitasi baru yang menarik keduanya. Mereka mendadak jadi kelewat lengket. Kulit seolah punya insting untuk selalu bersentuhan, menempel rapat ke mana pun mereka pergi, menjelma jadi dua eksistensi yang jauh lebih intim dan gak terpisahkan dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Bukti paling valid dari fase bucin ugal-ugalan ini terpampang nyata hari ini. Sore itu, agenda mereka adalah sebuah double date santai di cafe langganan bersama Pascal dan Pandu. Namun, baru aja Nando dan Sam menampakkan batang hidungnya dan mendaratkan tubuh di kursi, Sam seolah lupa di mana ia berada. Tanpa aba-aba sedikit pun, cowok itu mencondongkan tubuh, memiringkan wajahnya, dan mendaratkan satu kecupan dalam yang begitu manis di pipi Nando. Santai. Natural. Seolah dunia dan segala isinya cuma milik mereka berdua.

Aksi spontanitas itu sukses memicu drama instan di meja mereka. Pascal, yang kebetulan baru aja menyesap minumannya dengan tenang, langsung tersedak dan menyemburkan jus jeruk yang belum sempat tertelan dari mulutnya. Di sebelahnya, Pandu mematung dengan rahang yang seolah lepas dari engselnya—mulutnya terbuka lebar, menatap horor sekaligus tak percaya pada dua sejoli di seberang meja yang urat malunya seakan udah putus permanen.

Seakan kekacauan visual itu belum cukup membuat teman-temannya jantungan, Sam kembali berulah. Dengan wajah datar tanpa dosa yang luar biasa menyebalkan, ia menyusupkan wajahnya mendekat ke telinga Nando. Bibirnya nyaris menyapu kulit sang kekasih, membisikkan sebuah kalimat yang sialnya, volume dan artikulasinya masih tertangkap sangat jernih oleh radar pendengaran Pascal maupun Pandu.

"Malam nanti... jadi, kan?"

 

FIN.