Work Text:
Hanya hari yang klise, pagi ini Chan sudah di siapkan bekal berisi sandwich karena berulang kali mengeluh tidak suka memakan nasi yang sudah terlanjur dingin. Ibundanya juga tidak memiliki pilihan lain daripada membiarkan putra kecilnya itu memakan makanan yang tidak jelas dari mana asalnya.
Masalahnya, Chan ini sudah berada di kelas 11. Yang seharusnya sudah mandiri untuk menyiapkan sarapannya sendiri, membereskan baju bajunya sendiri dan bahkan berangkat sekolah sendiri. Chan sudah mempersiapkan dirinya melakukan hal hal itu, tapi ibundanya ini terlalu takut Chan mengalami hal hal yang tidak diinginkan atau bahasa sekarang adalah terlalu dimanja.
Diluar sana, Kak Hansol sudah menunggu dengan motor vespa kesayangannya itu. Rambutnya rapih dengan backpack berwarna hitam persis seperti milik Chan, maklum dibelikan Ibunda Chan saat berada di Singapura kala itu. Mereka juga cenderung memiliki barang barang sama lainnya — backpack, topi, hoodie dan bahkan sepatu. Bukan sengaja untuk kembar, tapi Ibunda Chan dan Mama Chwe (Mama Kak Hansol) suka membelikan mereka barang barang tersebut. Mungkin karena mereka sudah bertetangga dekat sejak berumur 5 tahun, bahkan Chan sampai di masukan sekolah lebih dulu daripada umur seharusnya karena Ibundanya ingin Chan selalu bersama Hansol. Dan hingga sekarang pula, Chan terus memanggil Hansol dengan sebutan ‘Kakak’ padahal mereka berada di kelas yang sama.
Berpamitan dengan Ibundanya, wajib kecup pipi. Chan keluar sambil memakai helm menghampiri Kak Hansol yang tampak selalu keren dan tampan, berbeda dengan Chan yang masih terlihat sangat anak anak. Chan naik ke atas vespa Kak Hansol tanpa tegur sapa, sudah terbiasa seperti ini dan Hansol juga langsung melajukan motornya ke sekolah.
"pr yang kemaren udah di kerjain belum Chan, gua liat dong."
"pr yang mana deh?"
"agama, pilgan 25 soal"
"sabar aku cek dulu"
Chan membuka ranselnya di sela sela padatnya kendaraan, mencari buku tulis agamanya. Hanya sampai nomor 4 dan belum ada isinya, bagaimana bisa Chan lupa padahal ia selalu rajin di mapel ini.
“ih belum… kok bisa lupa ya aku, terus ini gimana kita? ngerjain di sekolah gak keburu juga inikan mapel pertama.”
Hansol hanya tertawa disana, hingga dilirik pemotor lain yang berada disana bersama mereka berdua. Menengok ke arah Chan yang tampak clueless, Chan selalu rajin makanya Hansol suka menyontek kepada manusia yang ada di belakangnya sekarang ini.
“lu oke di hukum atau mau ikut bolos sama gua?”
"kemana?"
Tersenyum miring menatap Chan yang tampak lemas, seperti sudah mempertimbangkan akan kemana mereka berdua setelah ini.
“PS langganan gua, buka 24 jam pw juga ada ACnya.”
"mahal?"
“Chan lu anak orang kaya, gak usah berlaga ga punya uang”
“namanya juga efisiensi kak…. mana tau kita besok perang terus disuruh beli ompreng sendiri.”
Wajahnya Chan tampak melas, Hansol tidak dapat menahan tawa hingga akhirnya mereka berdua tertawa bersama. Melewati jalan tikus yang bahkan Chan juga belum pernah tau, seru sekali menikmati udara segar pagi ini bersama Kak Hansol. Bahkan tangannya Chan sudah ada di pundak Hansol sambil bernyanyi kuat kuat karena tidak ada orang lain di sekitar mereka.
Sampai juga mereka di tempat PS yang Hansol maksud, Chan hanya mengekori Hansol yang sudah memesan paket PS dengan akrab kepada pelayan disana tadi. Masuk kedalam bilik yang dingin, interior yang mewah dan tidak terlalu sempit membuat Chan sedikit lega. Pikirnya mungkin ia bisa istirahat selagi Kak Hansol bermain PS disana, Chan paham bermain PS karena dirumahnya juga terdapat PS4 dan PS5. Tapi mungkin sudah terlanjur bosan(?) ia hanya ingin menikmati bagaimana Kak Hansolnya itu bermain.
Duduk dengan rapih—minuman dan makanan yang mereka pesan bersamaan dengan memilih paket PS juga sudah sampai dengan cepat. Menikmati AC di jam 8 pagi tidaklah buruk ternyata, apalagi jika dengan Kak Hansol. Memeluk cushion sofa sambil menatap Kak Hansol yang sedang memainkan game ‘The Last Of Us II’ dengan serius, padahal Kak Hansol sudah memainkan itu di rumah Chan tepat saat gamenya baru saja dirilis.
Hansol mencoba tenang, ia sudah sangat hapal bahkan hatam dengan game ini. Tapi tatapan Chan yang sangat memperhatikannya cukup membuat dirinya agak terganggu, hingga ia sendiri pun dapat merasakan ada panas yang menjalar di leher dan juga pipinya. Chan terlihat sangat amat lucu sekarang; pipinya yang gembul, rambut coklat ikal dan jangan lupa dengan mata yang mirip sekali dengan anjing milik Seungkwan bernama Bookkeu.
“lu ngeliat gua kayak naksir”
Bahkan kalimat pertama yang Hansol keluarkan saat ini membuat Chan merasakan mules seperti, rasanya seperti di panggil ke ruang guru tanpa ada alasan yang jelas.
“kalo iya, ga boleh?”
“boleh”
Hansol kembali fokus ke dalam gamenya membuat Chan dapat sedikit bernafas, takut jika Kak Hansol tau bagaimana Chan selalu mengagumi pria itu. Bahkan lebih dari sekedar kagum.
Chan menyukai Kak Hansol sejak SMP.
Mungkin Hansol tidak pernah sadar bagaimana Chan selalu berdebar setiap kali Hansol menawarkan jas hujan yang hanya ada satu. Mungkin Hansol tidak pernah sadar bekal Chan selalu ia sisihkan untuk Hansol seorang. Mungkin Hansol tidak pernah sadar bahwa dirinya sudah berada lebih dari setengah Kehidupan Chan. Hansol hadir di setiap moment di hidup Chan. Hansol selalu menjadi bagian dari Chan.
“aku suka kakak”
“gua juga suka gua”
“ngeselin.”
Chan jengkel, pipinya pasti sudah merah jambu sekarang. Tapi ia juga harus bersyukur karena lighting di bilik ini berwarna biru tua.
Hansol menjeda gamenya, duduk menghadap Chan sepenuhnya.
“ini romantically apa platonic?”
Chan sudah memikirkan ini matang, Chan sudah memposisikan jika Kak Hansol menolaknya mentah-mentah sekarang. Chan sudah membuat rencana jika Kak Hansol tidak ingin berangkat dan pulang sekolah dengannya lagi, Chan sudah membuat alasan kepada Mama Chwe dan Ibundanya jika mereka bertanya ada apa antara dia dan Kak Hansol. Chan rasanya memang sudah siap menanggung segala resiko yang ada.
“aku berpuluh ribu kali nanya ini ke diriku sendiri, aku suka kakak…. romantically. aku bener bener suka kakak. aku ngga ngerti gimana cara bilangnya, tapi aku tau ini romantically.”
Hansol tampak berfikir disana, bagaimana bisa ia begitu tenang sedangkan Chan merasa sesak setengah mati.
Karena yang Chan tidak tau, mungkin saja Hansol merasakan hal yang sama. Mungkin saja Hansol berdebar setiap kali Chan menyenderkan helmnya ke helm Hansol di saat lampu merah. Mungkin saja Hansol memperhatikan Chan yang selalu memasukkan dirinya di dalam rutinitas anak itu. Mungkin saja Hansol juga ingin selalu bersama Chan lebih dari yang biasa mereka lakukan.
Tapi yang Hansol tau, dia sangat ingin mencium bibir Chan sekarang.
“kalo aku gak mau jadi pacar kamu gimana, Chan?”
Hansol itu sangat anti aku kamu dengan Chan, kecuali saat Chan memang membutuhkan treatment lebih seperti sakit yang mengharuskan ia dirawat di rumah sakit.
“ya ngga apa… aku cuma pengen bilang aku suka sama kakak. aku cuma pengen kakak tau. aku cuma mau jujur sama diriku sendiri.”
“kalo aku pengen cium kamu, gimana?”
Chan hanya kaget, bukan berarti tidak ingin merasakan bibir pria yang ia sebut Kakak itu.
“mau… aku juga mau cium bibir kakak.”
Chan yang mendekatkan wajahnya terlebih dahulu, menatap mata Hansol yang sama sekali tidak berubah. Bulu matanya yang panjang, alisnya yang terlihat sangat perfect, hidungnya yang jauh lebih mancung daripada Chan. Hansol membawa kedua tangannya ke pipi Chan, mengelus lembut pipi sosok yang lebih kecil darinya. Mulai mengecup bibir Chan lembut, hanya kecupan kecupan kecil di atas bibir Chan. Sedangkan tangan Chan berada di bahu Hansol yang tampak tegang.
Hansol menjauhkan wajahnya, menatap Chan yang sudah memejamkan mata siap untuk dicium oleh Hansol. Tapi Hansol memilih untuk merapihkan poni Chan yang terlihat lepek akibat keringat yang ia hasilkan sendiri, mungkin cemas selama percakapan tadi.
“aku masih gak yakin sama diriku sendiri Chan, aku masih belum bisa ngerti apa yang aku rasain ke kamu. aku takut kamu berharap lebih kalo aku beneran cium kamu lebih dari ini.”
Chan paham apa yang Hansol maksud, karena tujuan awal ia mengatakan ini hanya agar Hansol tau. Selebihnya, biarlah itu urusan Chan.
“aku ngga pernah berharap apa apa dari kakak, aku cuma pengen kakak ada di dalam hidupku selamanya. ntah menjadi siapa dan dimana. jadi… tolong cium aku ya?”
Hansol tidak bisa menahan dirinya lagi, Chan sudah begitu membuka dirinya untuk Hansol.
Tangan kanan Hansol membawa lembut punggung Chan agar mendekat, sedangkan yang sebelah kiri dibuat untuk mengusap pipi dan rahang Chan sekali lagi. Akhirnya, ia mulai menciumi Chan dengan sungguh-sungguh. Mengigit bibir Chan lembut agar Chan membuka akses untuk Hansol menginvasi bibirnya. Membelitkan lidahnya dengan lidah Chan, membuat saliva mereka berdua jatuh ke sofa yang mereka duduki sekarang. Tangannya beralih menahan kepala belakang Chan, mengusap rambut ikal pria yang membuatnya juga tersipu akhir akhir ini. Memperdalam ciuman yang membuat udara di sekitar mereka menjadi hangat apalagi mendengar leguhan kecil yang keluar dari bibir tipis Chan. Hansol menikmati ciuman ini, mungkin juga karena ini Chan. Lee Chan.
Hansol memberi jarak setelah ciuman itu berakhir, Chan menarik nafasnya setelah sesi itu berakhir. Menatap Hansol yang tampak gelisah setelah ciuman panjang dengannya.
“ngga perlu buru-buru dipikirin kakak, aku ngga kemana mana. aku disini.”
Hansol masuk begitu saja ke dalam pelukan Chan, menaruh kepalanya di perpotongan leher sosok yang lebih kecil darinya ini. Chan mengusap kepala Hansol lembut, bahkan sempat sempatnya mencium rambut Hansol disana. Cukup lama mereka di posisi ini, membuat Chan sedikit merasa pegal di pinggangnya.
“kalo di coba pelan pelan, boleh gak Chan?”
Chan kira Hansol bercanda di lehernya, sampai akhirnya Hansol menatap mata Chan sambil mengembalikan posisinya menjadi seperti semula.
“mau, boleh. boleh kakak.”
Chan juga tidak pernah tau Hansol akan memutuskan secepat ini, tapi ia bersyukur atas apapun yang Hansol ambil. Chan ingin perlahan Hansol bisa melihat dirinya dari sudut Chan. Chan ingin menunjukkan betapa berharganya Hansol untuknya. Semoga, semua ini bertahan lama.
