Work Text:
Senyuman Seulgi lebar, semanis kue ulang tahun di tangannya. Mata sipitnya menatap Irene yang terkejut dengan teman-temannya yang mengelilinginya. Merekamnya dengan ponsel masing-masing dan bernyanyi lagu selamat ulang tahun dengan lantang.
Hari ini Irene bertambah umurnya. Ia sendiri sebenarnya lupa, karena sejak pagi sudah disibukkan dengan pekerjaannya yang terus bertambah. Hingga kejutan kecil dari rekan kerjanya bisa buat senyuman di bibirnya.
“Tiup lilinnya!”
“Make a wish, Kak!” seruan Seulgi membuat matanya membelalak. Si aquarius tersenyum usil menunggu reaksi Irene yang tak ambil pusing. Memejamkan mata beberapa detik dan meniup lilin yang menyala di kue yang dibawa Seulgi. Semuanya bertepuk tangan, menyerukan beberapa seruan menggoda Irene yang tertawa kecil.
Ia masih ingat percakapannya dengan Seulgi beberapa bulan yang lalu di saat ulang tahun si aquarius. Dengan senyuman lebarnya mengatakan mereka seumuran sekarang, hanya dalam sebulan. Irene membalasnya dengan tawa lantang.
Irene selalu meminta Seulgi memanggilnya langsung saja. Tak perlu embel-embel tambahan nama lainnya. Menurutnya jarak usia setahun tak berarti apa-apa—dan ia juga tidak mau terdengar tua.
Dan sekarang Seulgi jelas menggodanya dengan panggilan yang tak pernah diucapkan selanjutnya. Huft, bikin repot saja. Ingatkan Irene untuk pukul lengannya nanti kalau sudah potong kue.
“Irene! Ayo, sini kamu potong kuenya!”
***
Benar saja Seulgi sudah senyum-senyum sendiri berjalan menuju kubikelnya. Sebelum akhirnya berpose bersandar pada kubikel transparan Irene menunggu reaksi yang lebih tua. Senyuman lebarnya masih terpatri di bibirnya.
“Kak Irene mau lunch apa hari ini?” tanya Seulgi. Irene tertawa kecil.
“Stop panggil ‘kak’, gak?!” protesnya setengah berbisik. Tapi Seulgi tentu saja tertawa lebar, menghindari pukulan main-main Irene di lengannya.
“Kakaaaakkkk!!” Seulgi malah makin memainkan nada bicaranya. Hanya tertawa kecil menghindar dari pukulan Irene.
“Aww! Kakak, ih!” tawa lebarnya terdengar di ujung kalimat.
“Stop, gak, Gi?!”
Seulgi menggelengkan kepalanya, masih tertawa lebar mendengar nada ancaman fi suara Irene. Padahal ia tahu betul perempuan itu tidak akan bisa mengancamnya apapun.
“Kan, bener. Kakak udah lebih tua dari aku sekarang, kita gak seumuran lagi, loh,” kata Seulgi. Irene menggelengkan kepalanya.
“Stop panggil begitu!” serunya, masih mengikuti langkah Seulgi.
“Kakak!” seruan Seulgi kembali terdengar, disusul dengan tawa lebarnya karena Irene mengejarnya.
***
“Anterin ke stasiun,” kata Irene tiba-tiba. Sudah dengan jaketnya menghampiri kubikel Seulgi, tanpa sapaan menatap si aquarius yang masih sibuk beres-beres.
“Kakak nggak naik gojek?” tanya Seulgi. Mata Irene mendelik kesal, sebelum akhirnya menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
“Anterin, gak?! Birthday treat aku,” kata Irene tak menjawab pertanyaan Seulgi. Yang akhirnya dibalas tawa kecil dan menganggukkan kepala.
“Iyaa, tunggu di depan, ya, Kakak Cantik.”
***
Seulgi merasa pelukan Irene di perutnya lebih erat daripada biasanya. Padahal motornya melaju dalam kecepatan normal, ia tidak ingin waktu cepat berlalu.
Tapi ia diam saja. Meskipun sempat melirik tangan Irene yang melingkar erat di perutnya. Tertutupi jaket hitam kesukaannya.
“Tuk!”
“Sorry!” seruan Irene menyusul setelahnya. Helm mereka berdua terantuk membuat Seulgi tertawa.
“Ngantuk, Kak?” tanya Seulgi. Dan Irene kembali membenturkan helm mereka berdua lagi.
“Stop panggil begitu!” serunya, Seulgi kembali tertawa. Ingin melihat wajah sebal Irene kalau keseringan ia goda.
“Mau jalan-jalan dulu, nggak? Lo buru-buru, Kak?” tanya Seulgi setelah puas tertawa. Pelukan Irene makin erat di perutnya.
“Mau,” jawabnya, suaranya cukup kecil. Tapi masih bisa didengar Seulgi di antara klakson dan deru mesin dari kendaraan lainnya.
“Ada siomay baru deket kos gue. Mau, gak? Dari pagi lo makannya salad, minum jus, sehat banget,” ujar Seulgi. Pelukan Seulgi masih erat di perutnya.
“Kan, aku biasanya makan itu!” serunya membela diri. Seulgi terkekeh.
“Makanya sesekali nggak sehat mulu. Cheat day pas birthday sesekali. Mau?” tanya Seulgi lagi. Matanya kembali melirik tangan Irene di perutnya.
“Mau, Gi.”
***
“Bang! Siomay spesial dua dibungkus. Nggak pake pare,” kata Seulgi. Irene jadi panik sendiri.
“Eh! Aku pake pare,” ujarnya buru-buru. Membuat penjual siomay yang sudah mengambil kertas nasi kembali menganggukkan kepala menanggapi Irene. Sedangkan Seulgi tertawa kecil mendengarnya.
“Kirain nggak suka pare,” katanya mengedikkan bahu. Irene sibuk memperhatikan porsi siomay yang dibungkus.
“Harus makan sayur, lah! Kamu, tuh, udah gede nggak suka sayur,” cengiran Seulgi makin lebar. Malah ia yang kena omel sekarang.
“Kentang, kan, sayur, Kak,” Seulgi masih saja berusaha membela diri. Untung saja perhatian Irene sedang tertuju pada langit yang tiba-tiba tumpahkan airnya kecil-kecil. Tangan Irene menuju dahinya menutupi matanya menatap Seulgi.
“Yah, ujan, Kak! Kita makan di kost aku aja, ya!”
***
Entah berapa kali Irene sudah berkunjung di kamar kost Seulgi sepulang kerjanya. Karena kepentingan membantu Seulgi, atau karena ia malas pulang seperti sekarang ini.
Untung saja masih gerimis yang jatuh. Hingga hujan deras begitu mereka injakkan kaki ke dalam kamar Seulgi. Rambut Irene terlindungi dari hujan.
“Deres banget…” lirih Irene menatap tetesan air hujan dari balik jendela. Seulgi menyiapkan piring dan sendok untuk dirinya dan Irene.
“Di sini dulu aja. Nanti gue anterin ke stasiun,” tukasnya. Irene menganggukkan kepala, akhirnya duduk di hadapan Seulgi yang sibuk tuangkan bumbu kacang ke piringnya.
Keheningan menyelimuti mereka berdua. Seulgi yang sibuk menyiapkan sepiring siomaynya, dan Irene yang hanya diam memperhatikannya.
“Aku sebenernya males pulang, Gi,” ujar Irene tiba-tiba. Seulgi menjilat bumbu kacang yang ada di ujung ibu jarinya, melirik Irene yang tiba-tiba mengaku. Ia sudah tahu.
“Ujan?” tanya Seulgi. Mengambil bungkusan bumbu kacang dari tangan Irene dan menuangkan ke piring perempuan itu. Irene menggelengkan kepala, membiarkan Seulgi membantunya.
“Males sendirian di rumah,” jawab Irene. Seulgi kembali menganggukkan kepalanya mengerti.
“Kalo emang masih mau ketemu gue bilang aja, kaliiii,” masih sempat-sempatnya ia menggoda Irene. Tapi reaksi si aries malah membuatnya menahan tawa.
“Iya, tadi malu bilangnya,” balas Irene.
“Kenapa musti malu, sih, Kak. Kayak sama siapa aja,” ujar Seulgi menyodorkan piring siomay ke hadapan Irene.
“Selamat makan!” serunya ceria, menyendokkan potongan siomay dalam mulutnya.
“Makan, Kakak,” pinta Seulgi. Irene masih menatapnya.
“Kamu suka banget ragebait orang, ya?” tanya Irene. Seulgi tertawa keras setelah susah payah menelan potongan siomaynya. Pertanyaan Irene jadi pertanyaan retorik yang jelas tak ada jawabannya. Dan sepertinya ia sadar akan hal itu, jadi ikut menyendokkan potongan pare ke mulutnya.
“Hmmm, enak,” komentar Irene. Seulgi menganggukkan kepalanya, sibuk mengunyah.
“Gi,” panggil Irene. Seulgi melirik Irene menaikkan satu alisnya. Sedangkan yang lebih tua menunggu perhatian Seulgi.
“Mau minum?” tanya Seulgi. Irene menggelengkan kepalanya.
“Makasih, ya?” kata Irene, senyuman tipis terlukis di bibirnya. Alis Seulgi mengernyit mendengarnya.
“Buat?”
“Buat semuanya,” jawab Irene.
“Ih, gue udah ajak lo jalan, beliin siomay. Jangan kira gue nggak nungguin traktiran, ya! Akhir bulan, Kak. Tolong lah anak kost ini,” seru Seulgi panik. Tawa Irene kembali terdengar, napas lega keluar dari paru-paru Seulgi.
“Iyaaaa, nanti aku traktir.”
***
“Kalo mau nginep sini, baju kerja lo ada satu pasang di sini,” kata Seulgi. Kembali menghampiri Irene dengan baju ganti di tangannya. Irene menatapnya ragu.
“Gapapaaa, gue nggak ngusir. Tapi hujannya masih deres banget, terus udah malem. Kalo mau pulang, juga gapapa, nanti aku anter,” tukas Seulgi buru-buru.
“Aku nginep, boleh, ya?” tanya Irene pelan. Tawa Seulgi bahkan terdengar lebih keras dari suaranya.
“Boleeeeeh, Kakak. Paling, traktirannya jadi minimal AYCE bintang lima aja, sih,” jawab Seulgi. Keheningan kamar kostnya jadi diramaikan tawa kecil Seulgi dan kekehannya karena si aries sibuk mengejarnya untuk protes.
Setidaknya bagi mereka berdua hari ini tidak akan berakhir dengan sepi.
***
Irene sibuk dengan ponselnya. Dan mata Seulgi masih tertuju pada televisi di hadapan mereka. Makin lama tubuh Irene makin miring bersandar pada sofa di belakangnya, lirikan Seulgi yang menyadari itu jadi tak nyaman sendiri melihat posisi perempuan itu.
“Di kamar aja kalo mau rebahan, Kak,” kata Seulgi. Irene menggelengkan kepalanya.
“Aku tidur sini aja,” balas Irene. Alis Seulgi bertaut protes.
“Ngapain, sih. Di kamar aja sama gue. Kayak apaan aja pake segala di sofa,” lidah Seulgi berdecak protes. Irene tertawa kecil mendengarnya.
“Takut kamu tendang, kalo malem-malem,” ujar Irene. Seulgi menatap Irene memprotes hendak membela diri. Tapi ia mengurungkan niat melihat Irene yang masih sibuk dengan ponselnya.
“Chatting sama siapa, sih?” tanya Seulgi memiringkan badan agar bisa melihat ponsel Irene. Tak disangkanya si aries malah menunjukkan layar ponselnya. Berbalik arah menyandarkan badannya pada Seulgi yang masih terkejut.
“Mama ngucapin selamat ulang tahun. Terus nyuruh pulang pas tanggal merah,” jawab Irene, masih menyandarkan badannya pada bahu Seulgi yang membeku.
“Ooh,” balas Seulgi singkat. Masih bingung dengan beban berat badan Irene yang tiba-tiba diserahkan padanya.
“Rame di grup keluarga pada ngucapin,” lanjut si aries. Seulgi kembali menganggukkan kepalanya. Sebelum akhirnya ikut menyamankan diri dengan bahu yang disandari Irene.
“Aku gak mau pulang,” kata Irene tiba-tiba. Seulgi menatapnya, meskipun hanya terlihat bulu mata panjangnya dan hidung mancungnya dengan Irene yang masih bersandar padanya.
“Kenapa?” tanya Seulgi, bingung harus apa.
“Repot,” jawab Irene singkat.
“Yang penting lo nyaman aja, Kak,” balss Seulgi. Perlahan membawa tangannya mengelus bahu Irene, mencoba menunjukkan ada dirinya di sini.
“Hmm,” dengungan suara Irene seolah terasa hingga nadinya. Belum lagi saat perempuan itu malah menyamankan diri merapatkan jarak di antara mereka. Hingga seolah Seulgi sedang memeluknya.
“Dingin, Gi,” cicit Irene.
“Mau di kamar aja? Selimutan?” tawar Seulgi. Irene menggelengkan kepalanya, meletakkan ponselnya di nakas dan malah mengalungkan tangannya di pinggang si aquarius.
“Mau sama kamu aja.”
***
Yang ada mereka malah memeluk erat badan satu sama lainnya. Irene yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Seulgi, sesekali tawa kecil mereka terdengar.
Entah karena Seulgi kegelian atau Irene yang menanggapi candaan yang dilontarkan Seulgi dengan isengnya.
“Masih dingin, Kak?” tanya Seulgi. Mencoba menahan rasa gemasnya merasakan Irene menganggukkan kepalanya dalam pelukannya.
“Masih,” bisiknya menjawab pertanyaan Seulgi. Hingga si aquarius menarik Irene makin dalam ke pelukannya—tak menyadari perempuan itu sudah di atas pangkuannya.
Tapi Irene malah menyamankan dirinya, menyembunyikan wajah merahnya di ceruk leher Seulgi. Seolah ingin ingat ini seumur hidupnya. Dan tangan Seulgi malah menepuk bokongnya perlahan, seolah ingin menidurkan bayi dalam gendongannya. Irene tergelak.
“Kenapa?” tanya Seulgi.
“Kayak lagi gendong apaan aja, Gi,” jawab Irene, tertawa kecil. Seulgi bisa merasakan hentakan tubuhnya dalam pelukan. Masih tetap menepuk bokong Irene perlahan, seirama dengan kekehan kecilnya. Seulgi diam saja merasakan hembusan napas lembut Irene di lehernya.
“Gemes banget,” gumam Seulgi, meskipun Irene masih bisa mendengarnya.
“Gi,” panggil Irene.
“Hmm?”
“Kangen,” bisik Irene, Seulgi tersenyum kecil merasakan bibir Irene di lehernya. Ia meninggalkan ciuman kecil di sana.
“Kangen siapa? I’m right here,” balas Seulgi, masih ingin menggoda Irene. Dan Irene malah menggeliat pelan merengek manja.
“Kangen,” ulang Irene lagi, masih dengan suara pelannya.
“Kangen siapa, Kakak Cantik?” tanya Seulgi lagi, senyumannya makin lebar mendengar rengekan manja Irene.
“Jangan panggil begitu,” pinta Irene dengan rengekannya.
“Emang kenapa, sih? Suka, ya?” tanya Seulgi. Dengan sengaja meninggalkan ciuman kecil di pelipis Irene yang masih menyembunyikan wajahnya.
“Suka,” jawab Irene setengah berbisik. Seulgi membalasnya dengan tawa kecil meledeknya, memancing rengekan manja dari yang lebih tua.
“Kakak,” panggil Seulgi, dengan sengaja menghembuskan napas panasnya di telinga Irene. Yang akhirnya langsung menggeliat di atas pangkuannya.
“Mmmmhh, jangan, Gi,” rengekan Irene semakin jelas terdengar.
“Kan, Kakak suka?” tanya Seulgi memastikan, tanpa ada niatan untuk berhenti menggodanya.
“Suka, tapi jadi geli perutnya,” jawab Irene berbisik, makin menempelkan wajahnya di ceruk leher Seulgi. Kulit mereka makin menempel, dan Seulgi makin menarik Irene ke pelukannya. Makin menghilangkan jarak di antara mereka.
“Kok, bisa geli, hm? Mau dielus perutnya?” Seulgi terkekeh pelan merasakan gelengan kepala Irene di pelukannya.
“J-jangan…” cicit Irene. Tangan Seulgi malah mengelus punggungnya lembut, membuat rengekan manja si aries kembali terdengar.
“Nghhh…, G-Gi…” panggil Irene lagi. Seulgi kembali meninggalkan ciuman di pelipis Irene yang sibuk memejamkan matanya, semakin merasakan sentuhan lembut Seulgi di punggungnya.
“Kenapa, Kakak?”
“U-udah, ih… jadi gatel,” jawab Irene. Senyuman Seulgi makin lebar.
“Mau dibantuin garuk?” tanya Seulgi iseng, matanya melihat Irene menggelengkan kepala. Tetapi badannya perlahan bergerak di pangkuan Seulgi. Beban tubuh Irene bisa dirasakan Seulgi yang masih menepuk punggungnya lembut.
Tapi malah Irene yang perlahan menggesekkan selangkangannya di paha Seulgi yang tertawa kecil menyadarinya.
“Katanya gatel? Hmm?” suara Seulgi terdengar. Irene kembali merengek mendengarnya, menyembunyikan wajahnya dari Seulgi yang berusaha menatapnya. Ia yakin pipinya sudah merah padam, dan ia tak bisa menghentikan gerakan pinggangnya.
Perlahan menggesekkan pusat tubuhnya pada paha Seulgi di bawahnya. Irene menggigit bibirnya berusaha tak mengeluarkan lenguhan diselingi dengan rengekan manjanya.
“Mmmmhhh…” meskipun gagal juga. Tangan Seulgi yang memeluknya dan membantunya terus bergerak cari enaknya patut disalahkan juga.
“Mau gesek-gesek aja, Kakak?” tanya Seulgi, Irene merengek di pelukannya. Tangannya memeluk leher Seulgi makin erat, gerakan pinggangnya makin cepat. Seulgi yakin celana dalamnya sudah lembap di sana.
“Mmmhhh… m-mau—aaahhhh…” desahan Irene akhirnya tak ditahan. Seulgi dengan sukarela membantunya menggerakkan pinggang.
“S-Seulgi—hhhh…” panggil Irene perlahan. Seulgi menatapnya meskipun matanya terpejam erat, bibirnya yang tak berhenti mendesahkan namanya tetap terbuka.
“Enak, Kak?” desahan Irene makin nyaring tiap kali Seulgi memanggilnya dengan sebutan yang membuatnya marah itu. Rengekannya makin jelas diselingi dengan desahan beratnya. Begitu juga dengan gerakan pinggangnya yang putus-putus, ia makin menekankan selangkangannya pada paha sekal Seulgi.
“Nghhhh… e-enak…” Seulgi tersenyum lebar mendengar desahan Irene. Tangannya mengelus sisi-sisi badan Irene yang tak berhenti bergerak cari enaknya. Hingga perempuan di pangkuannya itu membanting kepalanya ke belakang, kakinya bergetar samar dan gerakannya terhenti.
“Aaanghhhh…” bibir merah Irene bergetar, kakinya yang mengangkangi Seulgi bergetar juga. Sepertinya ia baru capai tingginya, meskipun ia masih saja gerakkan pinggangnya pelan-pelan menikmati rasanya.
Tangan Seulgi perlahan mengelus rambut panjang perempuan di pangkuannya, anak rambutnya mulai menempel di dahinya karena keringat. Wajahnya merah padam dan bibirnya masih terbuka. Seulgi penasaran apa rasanya masih manis seperti terakhir kali ia mencobanya.
“Good girl,” bisik Seulgi iseng. Ia terkekeh kecil mendengar rengekan manja Irene karena pujiannya. Badan Irene masih bergetar samar di pangkuannya, hingga perempuan cantik di pangkuannya lemas dan kembali bersandar di bahu Seulgi.
“Jangan panggil gitu, ih…” balas Irene lemas. Masih dengan dahinya yang menempel di bahu Seulgi yang tertawa pelan.
“Kenapa, Kakak?” tanya Seulgi. Irene mendelik mendengarnya.
“Emang kenapa, sih?” tanya Seulgi setelah puas dengan tawanya.
“N-nanti aku sange…” Irene kembali menyembunyikan wajahnya di pelukan Seulgi. Benar saja ia kembali ditertawakan si aquarius.
“Kakak…” bisik Seulgi lagi. Tangan Irene memukulnya lemah, tentu saja tak sakit sama sekali. Ia hanya ingin menggoda si aries yang masih lemas dengan napas patah-patahnya.
“Stop, gak?!” ancam Irene, seolah baru mengerahkan seluruh sisa tenaganya.
“Nggak mau. Nggak mau stop dikangkangin kamu sampe lemes.”
