Chapter Text
“Lagi ngapain, Nak?”
“Makan.”
“Pakai apa?”
“Ayam goreng sama sup. Terus ada ini sisaan sambel semalem.”
“Pintarnyaaa. Kalo Papa Wonwoo lagi ngapain?”
“Ayah tanyalah sendiri! Dari aku pulang sekolah Om Wonwoo nggak keliatan kok!” anak itu bicara dengan nada ketus.
Bagi Chan, Ayah itu hanya Mingyu — pria yang sedang ia dengarkan suaranya dari benda kotak panjang yang tergeletak di meja makan. Setelah hidupnya runyam karena seseorang yang melahirkannya pergi dan selingkuh dengan orang lain, Chan alergi untuk menyebut orang itu sebagai orang tua. Ia hanya menganggap Mingyu satu-satunya. Hal ini termasuk menepis fakta bahwa sekarang di rumahnya sudah ada anggota baru.
Om Wonwoo, namanya.
Oleh Mingyu, Chan dikenalkan dengan Om Wonwoo dalam sebuah makan siang akhir pekan. Tiga tahun setelah perceraian kedua orang tuanya. Sembilan belas bulan yang lalu.
Katanya mereka saling sayang dan suka. Mau serius. Mau menikah. Mau minta izin kepadanya.
Saat itu Chan hanya tertawa sarkas.
Mati-matian Chan mencoba menghapus masa suramnya, sekarang ayahnya mau menghadirkan orang baru lagi yang punya kemungkinan akan menciptakan kisah traumatis yang sama? Ia bukannya menuduh Om Wonwoo akan selingkuh, tapi kemungkinan hal-hal begitu terjadi adalah seperti gempa — datangnya tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi.
Tapi memangnya kalau Chan nggak merestui, ayahnya bakal nggak jadi menikah sama Om Wonwoo?
“Ayah happy sama Om Wonwoo?”
“Happy, Sayang.”
“Om Wonwoo happy sama Ayah?”
Wonwoo hanya mengangguk dengan senyum lebar hari itu, merasa mendapat lampu hijau.
Setelahnya, Chan hanya menghela napas pasrah. Ya sudah, mau gimana juga? pikirnya.
“Oke.”
“Boleh, Nak?”
“Boleh.”
Tapi, Chan harus siap-siap buat sakit hati lagi, Ayah. Jadi Chan nggak mau terlalu deket sama Om Wonwoo, putusnya hari itu.
Saat ini, Kim Mingyu sedang berada di Balikpapan, mengurus Proyek Ruang Pusat Pengendali Kilang Pertamina di sana. Jadi, selama dua bulan penuh, Chan ditinggal berdua dengan Wonwoo di rumah.
Ini pertama kalinya sejak setahun Wonwoo tinggal di sana. Biasanya, untuk urusan ke luar kota, paling lama Mingyu hanya pergi seminggu. Lelaki itu memang sengaja mengambil proyek-proyek yang dekat agar Chan maupun Wonwoo tetap nyaman — memastikan ia bisa bolak-balik pulang. Mingyu tahu bahwa anak semata wayangnya masih belum terbiasa dengan sosok ayah baru di rumah itu, juga mempertimbangkan bagaimana Wonwoo menghadapi kelakuan anaknya jika ditinggal lama-lama. Ia hanya takut terjadi sesuatu dengan mereka berdua — bertengkar, misalnya. Bagaimanapun, Mingyu amat menyayangi keduanya dan tidak memilih salah satu.
Sekali lagi, bagi Chan, ayahnya hanyalah Kim Mingyu. Om Wonwoo hanyalah seseorang yang kebetulan ikut makan di meja yang sama, tinggal di rumah yang sama, tapi tidak pernah benar-benar masuk ke dalam hidupnya.
Sayangnya malam ini, lelaki kesayangan ayahnya itu tidak ikut duduk di meja makan seperti biasa. Chan tidak tahu kenapa. Saat pulang sekolah dan hujan deras sore tadi, dia justru mendapati mobil Om Wonwoo berada di depan sekolahnya dengan seorang supir yang Chan ketahui adalah supir pribadi Ibu Wonwoo. Katanya mau menjemput Chan.
“Pak Wonwoo masih ada urusan.” Itu yang dikatakan supirnya waktu dia tanya Om Wonwoo ada di mana dan kenapa mobilnya justru dipakai untuk menjemput Chan dari sekolah.
Wonwoo tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali. Senyum canggung yang hampir setiap hari menyapa Chan pada obrolan minim mereka itu absen hari ini.
Sayangnya juga, Chan merasa tidak seharusnya dia peduli.
Pada tiap-tiap kesempatan, Mingyu selalu bertanya padanya, “Kalo Om Wonwoo baik, kenapa sampai sekarang Chan nggak mau panggil dia Papa?”
Kalau dibilang baik, Om Wonwoo itu baik, kok. Baikkk sekali. Kendati lebih sering tidak dianggap ada oleh Chan, pria itu selalu menempatkannya nomor satu di rumah ini. Apapun yang hendak mereka lakukan atau rencanakan, semua demi kenyamanan Chan. Termasuk sesederhana menu makanan apa yang perlu disiapkan setiap hari yang membuat Wonwoo harus bersusah payah belajar karena Chan minta dibikinkan sesuatu yang sulit. Lebih kerennya, Mingyu tidak diberi kesempatan untuk membantu sama sekali.
Padahal kalau beli menu berbeda di luar rumah, Mingyu atau Wonwoo tuh sangat mampu loh. Tapi Om Wonwoo memilih untuk menyiapkannya sendiri. Seperti sebuah keharusan bahwa perannya di sana memang untuk itu kendati tidak ada yang menyuruh.
Oh, mereka bahkan belum merencanakan bulan madu dan semacamnya hanya karena memikirkan Chan akan ditinggal sendirian. Ayah Mingyu dan Om Wonwoo bilang, udah tua ah, nggak butuh. Tapi Chan yakin pasti sebenarnya mereka juga ingin punya waktu berdua tanpa harus memikirkan keberadaannya. Apalagi, pernikahan itu jadi yang pertama untuk Om Wonwoo.
Kan, dia itu memang baik.
Tapi kan, orang itu juga dulu baik — orang yang meninggalkan dia dan ayahnya demi lelaki lain. Jadi, kalau baik aja apakah cukup?
Akhirnya pertanyaan Ayah hari itu hanya dijawab Chan dengan kata maaf.
Om Wonwoo itu bukannya bisa mengerjakan semua hal. Satu tahun hidup bersama, Chan tahu kalau lelaki itu lebih banyak payahnya sampai Chan bertanya-tanya apa yang ayahnya lihat dari sosok itu.
“Karena sama Papa Wonwoo, Ayah jadi merasa aman, dan bagi Ayah itu udah cukup,” jawab ayahnya waktu dia iseng bertanya. Saat itu dia hanya tersenyum geli. Dia tidak tahu persis maksudnya merasa aman tuh dilihat dari sisi mana. Soalnya dari segi postur, jelas ayahnya lebih kekar dan jago berantem kalau ada orang jahat.
Chan akui, Om Wonwoo itu tahu diri dan sadar diri. Untuk beberapa hal yang tidak dia kuasai, lelaki itu sangat pesat belajarnya. Belajar mengerti dan memahami Chan menjadi sesuatu yang dia lakukan setiap hari. Baginya, tugasnya hanya itu. Soal memastikan remaja itu mau menerimanya atau tidak, itu urusan lain.
Sayangnya lagi, untuk urusan itu Chan juga tidak ingin memahami.
Sampai esok paginya, Wonwoo masih tidak terlihat di sekeliling rumah. Parahnya hari ini Chan demam hingga menggigil. Cuaca yang sedang tidak bersahabat itu membuatnya rentan sakit dan puncaknya adalah hari ini ia jadi terkapar tidak berdaya di tempat tidurnya.
Anak itu membuka ponsel, mencari apa kiranya yang bisa menolongnya di saat genting begini. Teringat satu-satunya orang yang tersisa di rumah itu adalah Om Wonwoo, maka yang dia lakukan adalah mencari kontak tanpa nama yang ternyata berada di daftar paling atas — karena Om Wonwoo habis mengirim pesan.
Chan, Om Wonwoo masih ada urusan. Nanti Pak Surya ke rumah buat kirim makanan. Jangan gofood atau masak sendiri. Chan mau makan apa hari ini?
Baterai Om udah mau habis. Kalau nunggu Chan balas nanti Pak Surya bingung. Om pesankan ayam bakar nggak papa ya, Nak?
Sudah dibilang Om Wonwoo itu tahu diri dan sadar diri. Tidak seperti Mingyu yang sering menekan Chan untuk memanggil pria itu Papa, Wonwoo justru tidak pernah memaksa. Kalau Chan memang lebih nyaman memanggil dia sebagai Om, Wonwoo akan menempatkan diri selayaknya seharunya. Nomor satu, yang penting Chan nyaman.
Detik setelah dia membaca pesan itu, gemetar di tubuh Chan bertambah. Bukan hanya karena demam, tetapi ada alasan lain. Dulu pun, orang itu begini juga. Sering beralasan sibuk dan punya urusan di luar. Tahunya, sedang bersenang-senang dengan lelaki lain.
Kepala Chan tambah pusing dibuatnya. Maka, satu-satunya yang dia lakukan adalah menelepon Mingyu.
“Chan sakit,” adunya. Suara Mingyu di seberang sana terdengar panik.
“Ya Tuhan! Chan sakit apa, Sayang? Udah minum obat? Udah diperiksa?”
“Nggak tahu. Demam. Belum periksa.”
“Minta tolong Papa Wonwoo buat anter periksa ya, Nak. Ini Ayah nggak bisa hubungin dia dari semalem.”
“Om Wonwoo semaleman nggak pulang.”
“Hah? Serius? Kok bisa?”
“Tadi pagi chat cuma bilang ada urusan. Terus suruh Pak Surya anter makanan ke rumah,” adunya. Sungguh, dia tidak berniat apa-apa. Tapi ketakutannya hari ini butuh ruang untuk dikeluarkan. Dan menurutnya, kali ini Mingyu perlu tahu. “Urusan apa, Ayah?”
“Ayah juga nggak tahu, Nak. Chat Ayah dari semalem aja nggak dibales. Itu Papa Wonwoo chat kamu tadi pagi?”
“Iya.” Air mata remaja itu sudah turun. Lega yang dia harap akan datang setelah mengadu kepada ayahnya tidak hadir sama sekali. Dengan selarik informasi dari Mingyu, chan justru tambah ketakutan. “Ayah, takut…”
Takut kayak waktu itu lagi.
“Chan yang tenang, oke? Dengerin Ayah. Nanti kalau Pak Surya dateng, minta tolong dianterin buat periksa sekalian, ya? Ini Ayah pesen tiket pulang, flight paling pagi jam sebelas. Nggak papa, ya?”
Remaja itu memeluk selimutnya lebih erat. “Ayah pulang karena Om Wonwoo nggak ada kabar atau karena Chan sakit?” gumamnya lirih.
Jujur, Chan lebih berharap alasan ayahnya pulang adalah karena Wonwoo tidak ada kabar, bukan karena dirinya. Tapi Mingyu menjawab, “Kalian sama pentingnya buat Ayah.”
“Dari mana kamu?” Suara dingin Mingyu siang itu menggema di ruang tamu. Dia duduk di sana dengan wajah kacau. Gelisah seharian memikirkan kondisi semuanya. Kondisi pekerjaannya, anaknya yang sakit, hingga Wonwoo yang sejak kemarin malam tidak bisa dihubungi sama sekali. Sekarang, tersangkanya baru saja menampakkan diri di ambang pintu. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, pakaiannya kusut. Kacau.
Sekujur badan Wonwoo dingin saat melihat Mingyu ada di rumah. Bibirnya terbuka saking terkejutnya. Langkah kaki yang tadinya ringan menjadi berat seakan betisnya terikat pada sebuah beban beriklo-kilogram. “Sayang, kok kamu di rumah?” ia menyapa dengan ragu.
“Chan sakit,” katanya datar.
“Hah? Chan sakit?” pekik Wonwoo dengan kedua mata membola. “Sakit apa, Sayang? Udah ke dokter belum?” Lelaki itu berniat melarikan diri ke arah kamar anaknya, ingin memeriksa kondisi Chan detik ini juga. Namun, Mingyu menahan lengannya agar tetap berada di sana.
“Udah diperiksa. Sekarang dia lagi tidur. Kamu perlu ngomong sama aku di sini.”
Mingyu juga belum mengobrol sama sekali dengan putra semata wayangnya. Chan hanya bilang di pesannya, dia mengantuk setelah minum obat, jadi melarang Mingyu untuk membangunkannya kalaupun sudah sampai rumah. Makanya sekarang Mingyu di ruang tamu, memilih menghubungi Wonwoo berkali-kali yang tampaknya tidak kunjung mendapat jawaban.
Baru ketika Mingyu hendak menghubungi Pak Surya — yang notabenenya adalah supir pribadi Ibu Wonwoo, suaminya itu menampilkan diri di ambang pintu.
“Dari mana aja kamu?” ulang Mingyu lagi.
“A-aku ada urusan di luar, Sayang,” jawab Wonwoo gugup.
Masalahnya, mengenal Wonwoo dua tahun membuat Mingyu paham bagaimana raut wajah itu ketika menutup-nutupi sesuatu. Jadi, Mingyu tahu detik ini Wonwoo sedang tidak jujur sepenuhnya.
“Urusan apa sampai nggak bisa dihubungin dari semalem?”
“Min, hapeku mati total. Baterainya abis…”
“Kamu bisa pinjem orang, Wonwoo, astaga! Lagian urusan apa, sih? Aku tanya ke temen kantormu mereka bilang katanya kamu ambil cuti. Aku tanya orang tua kamu juga mereka nggak tahu! Urusan sepenting apa sampai kamu nggak pulang?” cecar Mingyu tak kenal ampun. Meledak sudah segala hal yang menumpuk di kepalanya. Semua ketakutan, kekhawatiran, yang sejak semalam telah tertabung menjadi bom besar.
Wonwoo menelan ludah. Bahunya bergetar ketika telinganya menangkap kata demi kata yang dilontarkan Mingyu dengan begitu tegas.
“Maaf, Mingyu. Maaf, aku nggak tahu sama sekali kalau Chan sakit. Maaf aku kira dia baik-baik aja soalnya Pak Surya nggak bilang apa-apa juga.”
“Kita lagi ngomongin kamu, bukan Chan!”
Lagi-lagi Wonwoo tersentak. Suara Mingyu menggema terlalu keras di telinganya, menmbah hawa dingin rumah besar yang sepi itu. Perlahan, ia mencoba menenangkan diri meskipun rahangnya terasa kaku. Masih sakit.
“Aku dari rumah sakit,” akunya lirih.
Mingyu menyipitkan mata. Rasa khawatirnya bertambah besar di dada, menumbuk halus amarah yang sejak tadi ia keluarkan. Bagaimana bisa Wonwoo sakit dan dia tidak tahu?
“Kamu sakit?”
“Aku habis operasi gigi. Ada komplikasi dan kena abses di gigi bungsuku. Ini udah dijadwalin sejak sebelum kamu berangkat. Jadi karena aku pikir aku bakal sendirian juga, aku merasa nggak perlu bilang ke kamu. Takutnya kamu malah jadi khawatir.”
“Kamu ada operasi dan nggak ngasih tahu aku sama sekali?!” suara Mingyu terdengar semakin keras.
Takut, Wonwoo hanya bisa menunduk di tempatnya berdiri. “Min, maaf. Aku nggak mau ganggu kamu. Kamu udah capek sama kerjaan kamu jadi aku pikir aku nggak perlu kasih tahu kamu karena ini operasi kecil aja. Aku cuma — ”
“Nggak mau aku khawatir? Gitu?” Mingyu menghembuskan napas keras-keras. “Won, justru kamu nggak bilang-bilang dan ngilang begini yang bikin aku khawatir! Aku di luar pulau, Chan sakit, kamu nggak bisa dihubungin! Chan bilang kamu nggak pulang! Semua orang nggak tahu kamu di mana, nggak tahu kamu kenapa! Aku kira kamu kenapa-kenapa!”
“Min aku bener-bener minta maaf.” Wonwoo menggigit bibirnya.
“Kamu tuh anggep aku apa sih? Kok hal sepenting ini bisa-bisanya disembunyiin dari aku?!”
“Sayang, maaf…”
“Aku tuh khawatir setengah mati, sumpah, Won! Aku takut kamu kenapa-kenapa dan nggak ada yang tahu! Kamu cuma bilang urusan-urusan tanpa jelasin urusannya apa! Ini sepenting operasi, Jeon Wonwoo! Astaga! Kok bisa kamu sembunyiin gitu aja?!”
“AYAH JANGAN MARAH-MARAH!” Bentakan itu datang dari arah kamar putra mereka. Chan berdiri di sana, di depan pintu, sambil memeluk selimut. Di keningnya ada bye-bye fever yang terpaksa ia tempel gara-gara Pak Surya mendesaknya. Wajah pucatnya nampak garang, tidak membiarkan sakit membuatnya lemah. “Jangan marahin Om Wonwoo.”
Ruangan itu seketika hening. Dua manusia dewasa itu mengalihkan fokusnya pada sang putra, menjeda perdebatan yang belum selesai.
“Om Wonwoo baru kali ini aja bikin salah. Selama ini kan Om Wonwoo selalu baik. Selalu sayangin Ayah sama Chan walaupun Chan masih suka ketus dan bandel.” Anak itu berjalan mendekat sambil mengeratkan selimutnya. “Kalau kemarin Om Wonwoo nggak minta Pak Surya jemput, Chan udah kehujanan dari sekolah. Mungkin sakit Chan jadi lebih parah. Ayah kan larang Chan naik taksi sembarangan soalnya Chan takut diculik,” terang anak itu dengan bersemangat.
“Om Wonwoo, Chan minta maaf. Gara-gara Chan, Ayah jadi marahin Om Wonwoo.” Kedua matanya terasa memanas. Ada bulir bening yang turun dari pelupuk matanya. Saat langkah kakinya berada di hadapan kedua orang tuanya, Chan jatuh tersungkur, memeluk kedua kaki Wonwoo yang mulai melemas.
“Chan, Sayang, kamu ngapain, hei?” Wonwoo yang sedari tadi diam, terkejut bukan main. Ia memprotes, mengangkat kedua lengan anaknya agar bangun. Sayangnya, anak itu justru memeluk kakinya lebih erat.
“Maaf, gara-gara Chan drama pakai ketakutan tadi pagi, Ayah jadi pulang dan marah-marahin Om. Maaf, bukannya istirahat, Om malah jadi ngadepin beginian. Chan minta maaf, Om,” isaknya lirih. Bahu anak itu berguncang keras, meluapkan apa yang ada di kepala juga dadanya. “Maaf, Om. Chan cuma takut ditinggal pergi lagi. Maaf udah berburuk sangka sama Om Wonwoo. Maaf bikin Om Wonwoo ketakutan gara-gara dimarahin Ayah.”
Untuk sejenak, dunia Wonwoo terasa berhenti. Ia sudah tidak memikirkan lagi amarah Mingyu beberapa menit lalu. Ia sudah tidak takut lagi dengan apapun setelah anak yang sejak dulu hanya bisa bicara satu-dua kata kepadanya, yang barangkali tidak pernah menganggapnya ada, kini membelanya. Memeluk kedua kakinya. Di depan ayah kandungnya sendiri.
Lebih dari itu, anak itu bilang takut kehilangannya.
“Nak,” bisiknya serak. Sekali lagi Wonwoo mencoba mengangkat tubuh itu, tetapi chan sama sekali tidak beranjak. “Nggak papa. Om nggak papa. Om nggak marah. Chan wajar kalau takut. Ini salah Om juga, Ayah Mingyu juga berhak marah — ”
“Nggak!” potong Chan cepat-cepat. “Om Wonwoo itu, selalu Chan jahatin! Chan ketusin! Di rumah ini Om Wonwoo cuma punya Ayah. Kenapa Ayah marah-marahin? Ayah bilang Ayah happy sama Om Wonwoo. Ayah sayang sama Om Wonwoo. Kalau Ayah sayang sama Om Wonwoo, harusnya jangan dimarahin Om Wonwoo-nya!” ujarnya dengan api kemarahan.
“Ayah itu cuma khawatir,” balas Mingyu pelan. Pria itu ikut berjongkok di belakang putranya. Tangan kanannya terulur, mengelus pelan kepala Chan yang masih terbalut selimut. “Sama kayak Ayah khawatir waktu denger Chan sakit, Ayah juga khawatir karena Papa Wonwoo nggak ada kabar. Ayah nggak bermaksud marah.”
“Khawatir juga bilangnya bisa baik-baik! Kenapa harus marah kayak tadi?! Setelah semua yang Om Wonwoo kasih buat Ayah, buat Chan, nggak pantes Ayah gituin! Kalau kata-kata Ayah nggak baik mendingan diem aja!” Isak anak itu semakin keras. Maka, meskipun kesulitan, Wonwoo akhirnya ikut berjongkok, merengkuh anak itu dalam sebuah pelukan hangat. “Setelah menikah sama Ayah, kan, Om Wonwoo selalu nomor satuin Chan dalam hal apapun. Bahkan dibanding balesin pesan Ayah, Om Wonwoo lebih milih buat pilihin menu makan Chan tadi pagi. Chan nomor satuin Ayah buat semuanya. Terus kalau bukan Ayah, yang nomor satuin Om Wonwoo siapa?”
Baik Mingyu maupun Wonwoo sama-sama terpaku. Kalimat itu menusuknya lebih keras dibanding amarah-amarah yang menguasai ruangan itu sebelumnya. Wonwoo mengeratkan pelukannya pada tubuh Chan, yang dibalas anak itu dengan sama kuatnya — masih di kaki.
Mingyu tidak mengerti kenapa Chan sampai seperti ini. Dia itu hanya khawatir. Setelah khawatirnya reda, dirinya dan Wonwoo juga akan bersikap selayaknya pasangan pada umumnya. Wonwoo pun mengerti kalau Mingyu marah karena mengkhawatirkannya, bukan karena hal lain. Ia tahu persis bagaimana Mingyu menyayanginya selama ini. Jadi, Chan tidak salah apa-apa. Tidak seharusnya anak itu memarahi Mingyu sekeras ini.
“Maafin Ayah ya, Nak.” Mingyu ikut memeluk dua orang kesayangannya. Ia bubuhkan kecupan singkat baik di kepala Chan maupun suaminya. Jadilah tiga orang itu sekarang menempel erat. “Sayang aku minta maaf. Maaf tadi aku marah berlebihan.”
“Enggak, Min. Aku juga salah. Harusnya memang aku tetep ngabarin.”
Tangisan anak itu berubah menjadi raungan. Air matanya membasahi celana Wonwoo yang tidak ganti sejak kemarin. Bahunya berguncang hebat. “Chan udah telanjur sayang sama Om Wonwoo. Kalau Ayah marah-marah, nanti Om Wonwoo jadi pergi gimana? Chan nggak mau ditinggal lagi!”
Kalau diminta memberikan sebuah pengandaian, Wonwoo merasa baru saja diberi air es segar dalam haus kerongkongannya. Barisan kalimat yang diucapkan anak remaja di dalam dekapannya memberi sebuah kelegaan luar biasa. Sesuatu yang selama ini ia ingini tanpa mencoba ia cari karena telanjur sadar diri. Wonwoo kontan lupa rasa sakit pasca operasinya hanya demi mendengar anaknya itu sudah menyayanginya.
“Shhh, Om Wonwoo di sini. Nggak ke mana-mana. Om Wonwoo janji nggak bakal tinggalin Chan sama Ayah Mingyu. Jangan takut ya, Sayang?”
Dalam dekapannya, anak itu mengangguk. “Beneran?”
“Beneran, Sayang. Om sayang kalian berdua. Maaf ya udah bikin khawatir.”
“Maaf juga Ayah udah bikin Chan takut.”
Ruangan yang sebelumnya dingin itu kini berubah hangat. Hangat sekali. Entah kondisinya atau memang secara logika mereka sedang berpelukan erat. Sampai Chan menghentikan tangisannya, pelukan itu belum juga lepas. Masih tetap sama bermenit-menit lamanya.
Satu tahun berada di rumah ini dengan begitu banyak rasa sabar yang tertumpuk, Wonwoo tidak tahu ujungnya akan membuat dirinya sebahagia ini. Ia tersenyum begitu lebar, kendati rahangnya masih sakit. Apa memangnya yang lebih membahagiankan dari disayangi keluarganya seperti ini? Wonwoo tidak bisa mendeskripsikan lebih panjang.
Mingyu mengecup punggung tangan Wonwoo yang masih melekat di punggung anaknya. Dalam sebuah gerak bibir tanpa suara, ia mengucapkan terima kasih berkali-kali. Tindakan itu hanya dibalas Wonwoo dengan anggukan.
Semuanya sudah selesai.
Setelah beberapa saat ruangan itu diisi dengan isak tangis juga helaan napas, akhirnya remaja itu melepaskan diri dari rengkuhan orang-orang. Wajahnya sudah memerah. Air matanya membekas di pipi. Tanpa memedulikan Mingyu yang masih duduk di belakang tubuhnya, ia mendongak. Mengunci netra Wonwoo dengan tatapan pedihnya. “Om Wonwoo, beneran jangan pergi, ya?”
“Enggak, Sayang. Nggak bakal pergi.”
“Gimana mastiinnya biar Om beneran nggak pergi?”
Wonwoo tersenyum manis. “Om bisa janji. Kamu bisa pegang omongan Om.”
“Kalau gitu, Chan boleh panggil Om Wonwoo… Papa?”
Wonwoo pikir, bahagianya sudah selesai. Semua sudah lebih dari cukup.
Nyatanya, gemuruh di dadanya jadi makin berisik setelah kalimat tanya itu dilemparkan. Kedua matanya menatap Mingyu di belakang anak itu yang sama terkejutnya. Mingyu yang tidak tahu apa-apa tambah menganga lebar mulutnya, sama-sama tidak percaya.
Tangan Wonwoo digenggam erat oleh Mingyu. Gemetarnya terasa begitu kentara. Dinginnya menjalar di kulit Mingyu seumpamasedang menggenggam es batu.
“Ya Tuhan,” desis Wonwoo parau. Senyum di bibirnya bergetar. “Ini beneran? Chan mau jadi anak Om?”
Remaja itu mengangguk. “Kalau boleh,” cicitnya malu.
“Ya, Tuhan. Boleh, Sayang. Boleh. Sini peluk Papa, Nak!”
“Makasih, Papa.”
Ketika pelukan itu kembali tercipta, Wonwoo merasa langit di atas sana ikut turun, turut memeluknya. Hangat itu sekarang bertambah. Jarak yang dulu ada telah terkikis. Dadanya penuh dengan milyaran rasa syukur, memenuhi ruang yang dulu sengaja ia kosongkan tanpa harapan apa-apa. Ia menutup mata, membiarkan air matanya jatuh tanpa halangan di bahu anaknya.
“Papa yang makasih, Nak!” bisiknya lirih, tenggelam dalam isak tangisnya. “Makasih. Makasih sekali, Sayang.”
Jika Mingyu ditanya apa itu pintu surga, jawabannya adalah pemandangan di hadapannya.
