Work Text:
Sudah gila pikir Tee saat ini, bisa-bisanya ia meminta muridnya sendiri untuk berhubungan badan. Well, bukan sepenuhnya salah Tee juga, salahkan temannya Est yang mengatakan disetubuhi berondong adalah suatu hal yang setidaknya sekali seumur hidup harus ia coba dan rasa penasaran Tee yang menang telak daripada akalnya. Maka dari itu ia nekat untuk memberikan pesan tak senonoh dan tak disangka murid tengilnya itu menyanggupi dan akan tiba ke kos nya dalam beberapa menit entah sudah izin mamanya atau belum.
Sembari menunggu berondongnya tiba, Tee mempersiapkan dirinya terlebih dahulu, agar nantinya bisa langsung melakukan. Menimang-nimang apakah ia harus mengenakan busana atau tidak, toh nantinya dia akan dibugili. Namun, membayangkan kemeja yang masih melekat setelah berjam-jam di kampus dibuka paksa oleh muridnya sendiri tampak menggiurkan, jadi ia memutuskan masih mengenakan kemeja putih dengan beberapa kancing atas tidak dikaitkan. Celana bawah sudah ia lepas dan hanya menyisakan celana dalam.
Gila, demi apapun Tee sepenuhnya setuju jika orang mengatai dirinya hilang akal, karena memang nyatanya begitu. Anteng menunggu di atas kasur sembari memainkan tangannya yang sengaja ia oleskan lotion supaya wangi, tak lupa sebelumnya tadi ia sudah bermandikan parfum di sekujur tubuhnya.
Lama banget anjing begitu pikir Tee ketika sosok yang ia tunggu tak kunjung tiba padahal baru juga 5 menit terlewati, dan ia tau betul jarak rumah muridnya dan kos nya butuh waktu lebih dari itu walaupun jalanan lengang sekalipun. Entah karena sudah kepalang sange atau bagaimana. Tiap menitnya ia menunggu tiap menitnya pula akal sehatnya terkikis.
Maka ketika ia mendengar suara ketukan pintu kos, Tee sudah siap menarik muridnya untuk dicumbu brutal. Benar saja, ketika Tee membukakan pintu ia segera menarik dasi abu-abu khas warna SMA dan segera menutup pintu dengan kakinya. Target yang ia ciumi belum sepenuhnya memahami situasi tiba-tiba ini, sehingga ia hanya melotot tak percaya, tak membuka mulut tapi tak menolak juga ketika bibirnya dilumat oleh tentor nya ini.
Begitu cumbuannya terlepas, Tee baru melihat sosok muridnya ini dengan jelas. Berseragam lengkap, kemeja putih dengan logo osis SMA, sebelah kanan ada name tag ‘Dew Jirawat’ , dasi yang tadi ia tarik kini terlihat sudah longgar di kerah, dan celana abu-abu.
“Lo habis pulang dari sekolah langsung ke kos gue?” Tee bertanya sembari berjalan menuju kasur dan duduk bersila diikuti oleh Dew yang duduk di sebelahnya.
“Enggak sih, Mas, tadi pulang dulu naruh tas, sama ganti sendal, udah izin mamah juga kok.” Jelas Dew sembari melihat Tee dari ujung atas hingga ujung bawah, cantik banget mas Tee, tidak berani ia ucapkan keras-keras.
“Bilang apa ke mamah?” tangan Tee dengan santai menuju ke paha Dew bermain-main acak sembari melihat dengan sorot pandang sayu. Tentu saja, ada maksud lain dari perlakuan Tee ini semua, apalagi kalau bukan menggoda dan menyaksikan penuh reaksi Dew.
Dew yang melihat itu semua berusaha santai menanggapi, walau bagian bawahnya sudah mulai bereaksi, “Bilang kalau ada les tambahan sama mas, ditanyain kenapa gak ke rumah aja, aku jawab di kos nya Mas Tee aja.”
“Ooh, gue kira lo mau bilang kalo mau ngewe sama tentornya sendiri.” Jawab Tee dengan santai sembari tersenyum lembut, dengan gerakan ringan ia merangkak naik ke pangkuan Dew, yang menjadi objek pangkuan secara reflek memegang pinggang ramping, dan mendongakkan kepalanya, melihat Tee dari bawah dengan pantulan lampu kamar kos yang tertutup kepala Tee.
Tee menunduk dan memegang kedua pipi Dew dan mengusapnya perlahan dengan ibu jari, “Lo ganteng dari deket gini, gamau cium gue kah?”
Senyum lebar hingga terbentuk lesung pipi menghiasi rupa Dew yang kini gentian Dew yang memegang kedua wajah Tee untuk menerjang bibir plumpy di depannya. Saling menyesap bilah bibir satu sama lain. Tee mengalungkan lengannya ke leher Dew, dan tangan Dew beralih ke dalam kemeja Tee mengeksplorasi punggung halus tersebut.
Tee tidak bohong, berciuman dengan Dew adalah suatu kegiatan yang akan ia sukai dalam hidupnya. Mungkin ia akan berterima kasih dengan Est karena telah menghadirkan rasa penasaran itu dan menjadikan kegiatan ini tercipta.
Mengambil inisiatif duluan ia menggigit kecil bibir bawah Dew dan secara reflek membuka mulutnya, disitu lah ciuman dibawa semakin liar. Lidah Tee mengeksplorasi dalam mulut Dew dan sukses membuat Dew melenguh. Disela-sela permainan lidahnya Tee tersenyum karena gerakan Dew yang kaku namun tak ingin ia tunjukkan secara terang-terangan. Tidak masalah, Tee yang akan membawa kemana kegiatan ini akan berlanjut dan Dew dengan senang hati mengikuti.
“Lo oke? Wajah lo merah banget.” Tee bertanya sembari mengusap dagu Dew yang terdapat sisa liur setelah pagutan mereka terlepas.
Dew linglung, matanya tak fokus melihat ke atas, wajah Tee buram di penglihatannya, tangannya yang tadi bergerilya di punggung Tee kini terkulai lemas, mengangguk pelan sembari berkedip beberapa kali untuk mengembalikan fokus.
“Niatnya mau gue sepongin, tapi reaksi lo yang baru dicium aja begini, kayaknya kita skip aja ya? Langsung ke intinya aja.” Ucap Tee, tangannya sibuk melepas dasi dari kerah Dew, dan membuka satu persatu kancing seragam SMA Dew, menampilkan perut datar dan badan sedikit mengkilap akibat keringat. Sengaja, AC kamar tidak ia turunkan suhu nya, biar makin panas pikir Tee.
“Enggak, mau sepong. Mau Mas Tee sepong aku.” Ujar Dew ketika fokusnya sedikit demi sedikit kembali, tangannya dengan cepat membuka kaitan sabuk logo SMA, Tee yang melihat itu segera turun dari pangkuan dan terduduk simpuh di lantai, inisiatif membantu ia lepas celana seragam abu-abunya, boxer yang ia pakai juga ditanggalkan. Menampilkan penis yang tidak Tee sangka ukurannya lebih dari ekspektasinya. Tidak terlalu besar tidak kecil juga, panjangnya normal walau ia yakin tidak akan sepenuhnya masuk di dalam mulutnya.
Dew tanpa sadar menelan ludahnya dengan gugup, tangannya bergerak gelisah melihat tentornya kini duduk bersimpuh di antara dua pahanya sambil memandangi kepunyaannya dengan tatapan lapar.
“Mas Tee, jangan dilihatin gitu, aku malu.”
“Kenapa malu? Punya lo bagus kok, partner lo pasti puas nanti.” Jawab Tee dengan tangannya yang sudah memegang penis dan diurut pelan dan sedikit mengecup ujung lubang kencing Dew.
Tanpa aba-aba Tee langsung melahap penis Dew yang sudah tegak itu untuk menuju bagian terdalam mulutnya walau masih bersisa sehingga tangannya ikut andil bekerja.
“A-anhh m-mashh.” Dew menggeram rendah, kepalanya mendongak dan matanya terpejam, tangannya reflek mengelus atau mungkin meremas rambut-rambut Tee ketika rasa hangat menyapa penisnya. “Mas bilang-bilang dulu kalo mau masukin kontol aku, untung gak reflek narik.”
Omong kosong pikir Tee, bilang-bilang narik namun kelakuannya berbeda, dipikir tadi ia meremas kepalanya untuk memperdalam penisnya masuk ke dalam mulutnya, membuatnya hampir tersedak dan kehilangan kuasanya untuk memimpin permainan itu apa?
“Bwachoot.” Tee hampir sesak nafas, matanya buram air mata, dan kepalanya pusing berteriak membutuhkan oksigen, jangan lupakan sisa penis Dew yang masih bisa ia genggam itu, “Lu bwochah pwubher tapi gwedhe bwanghet kontwolnyahh…”
Dew yang memang dasarnya tengil tertawa pelan, mengusap mata Tee yang air matanya berkumpul diujung, “Tadi siapa yang sok-sokan mau sepong, kok nangis sekarang?”
Mata Tee reflek memicing sewot, seperti kucing yang kesal ketika dijahili babunya, buat Dew tersenyum gemas, “Mas tau gak? Mas cantik banget kalo dilihat dari atas sini, mulutnya penuh sama kontol aku, seksi.” Tangannya yang masih di atas rambut Tee ia pakai untuk dielus gemas. Sepertinya Dew sudah terbawa arus permainan makanya bisa berkelakuan lebih santai, “Aku dorong paksa biar masuk sepenuhnya, mas bolehin gak?”
“Lu dhengerin ghuwe gaw sih? Lwu tuh ghewde bnahsa- Angh!”
Bodo amat pikir Dew, urusan Mas Tee marah padanya bisa dipikir nanti, yang ia mau sekarang penisnya dilahap habis di dalam mulut hangat Tee. Sesuka hati ia memaju mundurkan pinggulnya dan menjambak rambut Tee berkebalikan dengan gerakan pinggulnya.
Tee yang diberi kelakuan tiba-tiba reflek mencengkram kedua paha Dew dan sedikit mencakar kulit paha Dew. Nafasnya putus-putus dan lenguhan-lenguhan tertahan keluar setiap ujung penis Dew menyentuh pangkal tenggorokannya, gila bocah gila batin Tee sedari tadi.
Merasa tidak ingin alih permainan digantikan oleh Dew, ia dengan cepat mengimbangi permainan Dew dengan menyesap penis Dew kuat, satu tangannya yang masih berada di paha Dew ia alihkan dengan memainkan dua bola kembar Dew, merangsang agar cepat keluar, karena jujur saja mulutnya mulai pegal mengulum penis Dew yang tak bisa dibilang kecil itu. Dew yang diberikan rangsangan di dua bola kembarnya justru membuat jambakan pada rambut Tee makin kuat sampai empunya menangis, bukan karena sakit pada kulit kepalanya, melainkan penis sialannya yang justru mengeras di dalam celana dalamnya yang belum terlepas itu.
“Mas- masss aku mau keluar, lepasin. A-Aahh! Mas jangan gila! Lepasin cepet, aku mau keluar!”
Tee tidak memperdulikan ucapan Dew, ketika ia mendengar Dew akan mencapai pelepasannya, ia dengan semangat semakin menyesap penis Dew dan dengan cepat meraih pergelangan tangan Dew untuk ia bawa ke lehernya, “Raswain khontwol lo di shini mmhh.” Saat Dew meraba leher Tee di sekitar jakunnya, Tee semakin melesakkan penis Dew ke dalam, dan dapat Dew rasakan penisnya masuk sedalam itu, “Mas, kontol aku sedalem ini? Enak banget mas, mas udahan dulu lepas duluu..ini aku beneran mau keluar.” Gelengan cepat dari Tee membuat pangkal penis Dew bisa merasakan rongga-rongga tenggorokan Tee dan itu semakin membuat penis Dew semakin berkedut tak karuan ingin menumpahkan cairan putihnya begitu saja.
Tee tidak kunjung melepaskan penis Dew, justru membiarkan cairan putih Dew masuk dan memastikan tidak ada yang rembes keluar. Ia telan habis semuanya, dan terbesit rasa bangga dengan hal itu.
Ketika ia rasakan penis Dew tidak setegang sebelumnya, barulah ia lepaskan kuluman penis dari mulutnya. Melihat Dew mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, masih terbayang-bayang rasa kepayang selepas pelepasan. Bukan kali pertama Dew ejakulasi, ia tidak selugu itu untuk anak SMA yang tidak pernah melihat hal tak senonoh, tapi ini pertama baginya ejakulasi di mulut orang dan mungkin di bagian lain nanti? Ia tidak tau, hanya Tee yang tau dan ia hanya mengikuti akan dibawa kemana kegiatan ini berlangsung.
“Mas gila banget, aku udah bilang lepasin, emang enak minum peju?” Lirik Dew yang melihat Tee masih setia bersimpuh di antara paha nya, nafasnya tak kalah ngos-ngosan dengan mukanya total merah dengan bibirnya yang semakin bengkak.
Tee beranjak dari duduknya, sial kakinya kesemutan karena bersimpuh terlalu lama, ikut duduk di sebelah Dew di atas kasurnya, “Biasa aja.” Keduanya terkejut, suara Tee begitu serak, “Mas minum dulu sumpah, makanya disuruh lepas, tuh lepas, ngeyel banget.” Dew dengan segera menyerahkan botol mineral yang memang tak jauh dari ranjang, “Bacot ah, lu juga kesenengan tadi gue sepongin.” Bela Tee sembari membuka tutup botol itu dan menenggak airnya hingga habis. Balasan Tee telak membuat Dew diam, tidak bisa dibantah juga, karena faktanya begitu.
“Ayo.” Ajak Tee menepuk bagian kasur menyuruh Dew untuk duduk sembari bersandar pada head board.
“Ayo apa mas?” Tanya Dew setelah menuruti suruhan Tee, penuh rasa bingung.
“Lo lupa kenapa gue nyuruh lo ke sini?”
Demi apapun Dew gugup sekali. Tee yang ia lihat sekarang sungguh berbeda dengan yang biasanya mengajari dia materi-materi SNBT. Tee yang ia lihat sekarang tampak nakal, bergairah, begitu menggoda, dan tiap gerakannya menuntut untuk dipatuhi.
Celana dalam yang masih membalut kemaluan Tee, dilepas meninggalkan kemeja yang masih membalut tubuhnya, buat Dew merasa risih dan dengan tidak sabaran membuka paksa kemeja Tee hingga kancing bajunya beberapa berhamburan ke bawah. Ini bayangan Tee yang ditunggu-tunggu. Tersenyum penuh kemenangan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Dew. Tanpa berlama-lama ciuman dan lumatan itu terjadi. Kini keduanya saling tidak mau kalah dalam dominasi, saling menyesap bibir satu sama lain rakus seakan keesokan harinya kiamat.
Tee segera melepas pagutannya ketika Dew menepuk-nepuk bahunya menandakan ia butuh bernafas. Tee tidak ingin membuang waktu maka ia dengan cepat menciumi seluruh area tubuh Dew yang bisa ia jangkau, tanpa meninggalkan bekas tentu saja. Ia tidak segila itu meninggalkan tanda ke bocah SMA yang baru saja dapat KTP itu.
Terbawa arus permainan lagi, penis Dew ereksi dan menusuk-nusuk anus Tee atau mungkin Tee yang sengaja mempermainkan penisnya hingga ereksi? Dew tidak tau.
Merasakan penis Dew yang sudah meminta dimasukkan terbukti dari ujung penisnya yang mengecup jalur masuknya tanpa henti, dengan pasti tangan Tee mengarahkan penis Dew ke lubang analnya yang sebelumnya sudah ia persiapkan. Anjinggg batin Tee karena demi apapun, walau sudah ia persiapkan tetap saja sakit, ia butuh pelumas. “Dew ambilin lubricant di rak sebelah kasur, cepet.” Diberi perintah seperti itu, dengan cepat Dew mengambil barang yang dimaksud dan segera menyerahkan ke Tee. Sensasi dingin langsung menerpa penis Dew ketika tangan Tee yang sudah terbaluti cairan lubricant dan membuat penis Dew semakin ereksi. Setelah dirasa cukup Tee mengarahkan kembali yang sebelumnya ia lepas karena begitu sakit. Pangkal penis Dew dapat masuk dengan lebih mudah sekarang.
Gila, entah sudah berapa kali Dew mengucapkan itu dalam hati, karena sungguh baru kepalanya saja yang masuk ia dapat merasakan betapa hangatnya lubang anal Tee dan rasa pijatan akibat terlalu rapat menjepit. Tee bergerak turun, supaya penis Dew dapat masuk lebih dalam. Kedua tangannya bertumpu pada bahu Dew.
“Nghh!” Dew menggigit bibirnya sendiri. Penisnya sudah masuk sempurna ditelan habis oleh anal Tee.
Tee menyeringai, tak dipungkiri lubang analnya sakit sekarang. Namun, memikirkan bagaimana ia bisa sesuka hati memainkan penis Dew membuatnya lupa akan rasa itu.
Tee tidak mau menyangkal, yang ia rasakan sekarang adalah kenikmatan dunia yang tidak bisa ia urai dengan kata-kata. Dikata menyesal atau apa juga tidak, karena ia sungguh menikmati ini. Dia sendiri pun juga sudah berniat akan menghilang dari hidup Dew jika saja tadi anak itu menolak ajakannya. Tee tidak memiliki perasaan lebih pada Dew, hanya sebatas guru dan murid, tapi ia juga yang mengajak untuk bersetubuh. Tee tidak suka bercinta tanpa status yang jelas, namun penis yang tengah mengisi analnya sekarang jauh lebih nikmat dari tangannya sendiri. Dan yang ia lihat sekarang wajah Dew yang ia rasa lebih tampan dari biasanya yang wajahnya saja Tee sudah bosan melihatnya. Pikiran-pikiran random yang tiba-tiba menyerang otaknya kini terbantahkan karena pinggul Dew yang naik secara tiba-tiba membuat penisnya semakin melesak ke dalam.
“Mas kenapa bengong sih? Mikirin apa? Tugas kuliah? Kalau gitu aku cabut aja ya, kita lakuin kapan-kapan.” Ucap Dew yang hampir saja mengangkat Tee untuk melepas penis dari analnya jika saja ia tidak segera memeluk tubuh Dew dan mengetatkan analnya menandakan jangan berani-beraninya penis ini lepas.
“Gak! Ayo lanjutin.” Tee melumat bibir Dew terburu-buru. Tangannya yang menganggur meraba dada Dew dengan sensual. Tidak ada sensasi apa-apa dengan rabaan dadanya hingga Tee memainkan dua puting Dew dengan ibu jari dan telunjuknya secara bersamaan.
“Ah-ngh!” Dew memejamkan matanya erat kepalanya menengadah reflek menjauhkan wajahnya dari ciuman, ia baru mengetahui satu hal jika ternyata puting lelaki senikmat itu jika dimainkan.
Tee menggaruk main-main kedua puting Dew dan sesekali menariknya membuat Dew mendesah lebih keras, “A-aah! Mas! Jang-mmpphh-!”
Tee menutup mulut Dew dengan tangan, mendekatkan wajahnya untuk berbisik, “lo denger gak?”
Ditanya seperti itu, Dew berusaha menajamkan pendengarannya. Ada gumaman orang-orang di luar yang semakin lama semakin jelas.
“Temen kos gue ada di luar, lo mau ngasih tau kegiatan kita atau enggak itu tergantung suara lo.” Perkataan yang diucapkan Tee terdengar santai tapi bagi Dew lain. Kesadaran bahwa ada orang-orang di luar membuatnya panik. Bagaimana jika orang-orang tau bahwa di dalam kamar ini ada mereka berdua yang sedang berbuat cabul, bagaimana reaksi mereka? Apa yang akan mereka lakukan jika hal itu terjadi? Bagaimana jika sampai orang tua nya tau akan hal ini? Kepala Dew rasanya ingin pecah memikirkan itu.
“Eh?” Tee mengerutkan alisnya, rasa dibawahnya ada yang mengganjal, kemudian tertawa pelan, “Apasih Dew? Kok makin gede gini kontol lo? Panik?” Ucap Tee main-main menepuk beberapa kali bagian bawah perutnya di mana rambut-rambut halus tumbuh disitu. Dew mengerang.
Tee tak tahan lagi, ia menaik turunkan tubuhnya dengan acak, keras, benar-benar serampangan. Tangannya masih menutup mulut Dew. Ketika ia duduk sepenuhnya, tonjolan di bawah perutnya timbul akibat dari penis Dew. Mengusap perlahan tonjolan itu sambil tersenyum puas. Tubuhnya ia lonjakkan lagi, sembari menekan-nekan tonjolan di perutnya. Kepalanya menengadah mulutnya membuka mengeluarkan desah dan liur yang menetes. Suara becek menggema keras di ruangan. Melupakan fakta teman kos nya masih berbincang di luar.
“Dew! Anjing!” Ucap Tee keras membelah suara tubrukan antar kulit, “Di sini..” Tee terdiam sejenak, bergerak perlahan agar penis Dew semakin menekan titik yang dimaksud. Jari-jari tangannya yang tidak ia gunakan untuk menutup mulut Dew mencengkram erat bahu Dew sedangkan jari-jari kakinya menekuk hingga membuat sprei kasurnya kusut, “Di sini Dew… enak banget…pas banget..a-anghh..”
Penis Dew benar-benar telak menumbuk prostatnya. Tubuh Tee menggelinjang, hampir jatuh karena tidak sanggup menerima nikmatnya, tapi tumbukannya begitu candu sampai-sampai Tee tidak mau rasa itu hilang. Maka dari itu ia gerakkan lagi pinggulnya naik dan turun dengan cepat dan tepat mengenai titik tersebut, ketika ia hampir saja ejakulasi, harus berhenti ketika di dalam analnya terasa hangat dan tubuh Dew naik sedikit dan bergetar pelan. Ada yang merembes keluar dari sela-sela anusnya. Remaja puber di bawahnya baru saja ejakulasi. Tangannya yang masih membekap mulut Dew ia lepaskan.
Wajah merah padam, mulut menganga meraup rakus pasokan oksigen, mata berkaca-kaca akibat pelepasan. Tee terkekeh gemas, tapi Tee belum ejakulasi daritadi dan ia tidak suka kegiatannya terganggu padahal hampir saja ia ejakulasi tadi. Tee bawa tangannya menepuk pipi Dew yang masih mabuk selepas ejakulasi.
“Hey, gue belom keluar dan lo udah keluar dua kali?"
“Maaf mas, habis mas enak banget, aku gakuat.” Jawab Dew sedikit panik.
Terbesit ide nakal di kepala Tee, dengan perlahan ia melepaskan penyatuan mereka, “anhh!” rasa geli ketika sperma Dew mengalir keluar ditambah penis Dew yang menggesek tiap inci dinding analnya sebelum sepenuhnya terlepas.
Tee menungging di sebelah nya menghadapkan pantat sehingga Dew bisa melihat membuka belah pipi pantatnya dan menampilkan lubang analnya yang basah dan ada sebagian sperma yang mengalir keluar.
“Bersihin, Dew.”
Tanpa penolakan Dew segera mendekat dan memasukkan dua jarinya, menggaruk bagian dalam Tee dan menarik jarinya keluar. “Nnhh- jilat jari lo.” Perintah Tee yang masih menungging.
“Mas? Yang bener aja? Kenapa?” Pertanyaan dengan nada tak setuju Dew lontarkan, tapi sebelum omelan lebih lanjut ia lontarkan, perhatiannya tergantikan oleh lubang anal Tee yang terbuka lalu tertutup Kembali. Lubang becek itu tampak bengkak memerah di kulitnya yang putih. Pemandangan selezat itu membuat ia membasahi bibirnya dengan ludah.
“Kenapa apanya? Gue aja gak masalah nelen peju lo, ya lo juga harus gitu.”
Tidak ingin protes lebih banyak jadi ia menurut saja. Perlahan Dew memasukkan jarinya, menjilatinya secara perlahan, memancing rasa ingin muntah, tapi Tee memperhatikannya dengan analnya yang masih berkedut itu. Sepintas ide muncul di benak Dew, jika Mas nya ini minta dibersihkan dan dijilat kenapa tidak langsung saja ia jilat anal Tee? Benar bukan?
Perlahan Dew mendekatkan wajahnya ke lubang anal Tee, hembusan nafas Dew memberikan sensasi dingin terhadap lubang analnya. “Dew? Lo mau ngapain?” Tanya Tee penuh kebingungan.
“Mas minta dibersihin kan? Yaudah aku bersihin.” Setelah mengucapkan itu, lidah Dew langsung masuk ke dalam, menjilat sebisanya, mengorek keluar sperma yang bisa ia jangkau dengan lidahnya.
Tidak terbesit di pikiran Tee, Dew akan menjilati lubang analnya makanya ketika diberi stimulus seperti ini ia reflek mendekatkan lubang analnya dengan bibir Dew, “haa-a-anghh!” desahnya saat lidah Dew benar-benar membersihkan sperma di dalam. Gerakannya kaku tapi beberapa kali menyentuh sedikit prostat dengan tidak sengaja yang justru semakin membuatnya terangsang.
Dew ingin melepaskan diri sekedar untuk mengambil nafas. Namun dengan cepat tangannya yang semula membuka pipi pantatnya, kini menjambak rambut Dew, memastikan kepala Dew tidak menjauh dari lubang analnya, tangan satunya ia bawa untuk menarik tangan Dew untuk memegang penisnya yang sudah basah dengan precum. “Kocokin.” Dew dengan patuh mengocok penis Tee, walau amatiran hanya bermodalkan kegiatan biasanya jika ingin menuntaskan hasratnya sembari melihat video porno. Lubang kencing Tee ia mainkan, menggosok dan sedikit menggaruk bagian lubangnya. “Bangsathh, terusin, jangan berhenti mmnghh..”
Dew juga tidak berhenti menjilat dan memaju mundurkan lidahnya, sesekali tangan satunya meremas bongkahan kenyal Tee hingga memerah.
Tangan Tee yang menganggur ia pakai meremas seprei kasur hingga kusut. Menangis sembari mendesah tak karuan ketika dua area sensitifnya dipermainkan. Sedikit lagi. “A-Angghhh!” Tubuhnya bergetar hebat. Mani nya menyembur mengotori tangan dan sebagian mengenai sprei kasur.
Tee yang merasa sudah puas dengan adegan cabul ini pun bangun meninggalkan Dew, niatnya ingin mengambil tissue dan lap basah untuk bersih-bersih. Namun, tiba-tiba tubuhnya ditarik dan dihimpit ke antara tembok dan head board kasur.
“Lo kenapa sih? Lo marah gue suruh jilat sperma lo sendiri? Maaf deh.”
Tee melirik ke penis Dew. Tegak dan sepertinya ia tau kemana Dew akan mengarahkannya. Baiklah Tee akan menurut kali ini.
“Oh, masih ngaceng ternyata, yaudah sini pake anal gue.” Jawab Tee sembari melebarkan kedua pantatnya dan menunjukkan lubang merah yang masih basah dan bengkak.
Diberi lampu hijau dengan segera Dew melesakkan penisnya ke dalam anal Tee. “Nghh..Mas enak banget...mau terus kayak gini.” Pupil mata Tee membesar dan reflek tangannya bertumpu pada head board kasur kala Dew mulai bergerak sesuka hatinya, kadang cepat kadang lambat, mengejar pelepasannya sendiri, hanya sesekali penisnya menumbuk prostatnya tanpa sengaja, mau kesal juga tidak bisa, karena fakta bahwa Dew lah yang menentukan segala kegiatan ini terjadi dan memenuhi keinginan gila nya itu.
“Maass..a-ahh aku gabisa berhenti nghh..ini enak banget...kaya gini terus ya mas..” Dew mencengkram kuat pinggang Tee yang ia yakin akan meninggalkan bekas setidaknya sampai esok hari.
“N-nghh..yaudah jangan berhenti! Ah!” Seru Tee ketika penis Dew lagi-lagi tak sengaja mengenai prostatnya.
Tangan kiri Tee mencengkram head board kasur dan tangan satunya lagi mengocok penisnya sendiri. Dew menggeram dan mengigit bibirnya sendiri, bunyi adu kulit membuatnya semakin ingin mengejar pelepasannya.
Tangan Dew yang awalnya berada di pinggang Tee kini ia bawa ke depan, penis basah milik Tee yang sedang dipakai masturbasi membuatnya gemas dan sedikit risih karena terhalang tangan Tee, ia singkirkan tangannya, lalu mengocok dengan kasar penis pemuda yang lebih tua darinya. Diberi stimulus kasar secara tiba-tiba buat Tee memekik tertahan.
“Fucckkk...Dew gue mau keluar-nghh-ah-Dew!” Tee ejakulasi lebih dulu, sperma nya menyembur keluar membasahi tangan Dew. Tubuhnya bergetar, dan penisnya tidak berhenti mengeluarkan mani nya bersamaan dengan lubang analnya yang berkedut hebat dan menjepit penis Dew lebih kencang.
Mengejar pelepasannya sendiri, tanpa memisahkan penyatuan mereka, dengan mudah Dew memutar badan Tee hingga kini saling berhadapan. Wajah yang tak fokus, liur yang sudah mengalir dari mulut yang terbuka sedikit, matanya juling dengan air mata yang terus mengalir. Wajahnya total merah. Itu yang sekarang Dew lihat.
Tanpa memikirkan Tee yang baru saja merasakan euphoria nya. Dew tetap bergerak sesukanya dan melihat dua puting Tee yang sudah mengacung tegak, ia ingin Tee merasakan apa yang ia rasakan tadi, dengan cepat ia gunakan tangannya untuk memilin, mencubit, dan menarik puting kanan Tee, puting sebelahnya ia sesap dengan mulutnya seperti sedang menyusu saat ia kecil dulu, menjilati dan menggigit dengan gemas puting merah muda Tee.
Tee yang diberikan stimulus sebanyak ini tidak kuasa menahan desahannya, menjambak rambut Dew. Ini kebanyakan anjirrr gue gakuat. Pikir Tee saat ini sembari menangis.
Dew menyusu secara bergantian, tangannya lagi-lagi ia gunakan untuk mengocok penis Tee yang memerah dan masih lemas pasca ejakulasi. Penisnya juga masih setia memaju mundurkan di lubang anal Tee.
“Dew! Bangsat! Gue masih lemes anjingg, jangan dikocokin! Ah AH!” Seakan tuli, Dew tidak memperdulikan perkatan Tee sama sekali, justru ia semakin bersemangat membuat penis Tee untuk tegak kembali.
Beberapa hentakan terakhir, Dew buat lebih kuat hingga tonjolan timbul di perut Tee. Tangan Tee mencakar dan menepuk-nepuk punggung Dew supaya berhenti. Ia tau betul ini bukan rasa-rasa ia ingin ejakulasi, ini pasti hal lain yang Tee sendiri tidak mau membayangkan hal itu terjadi. Namun, apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Setelah hentakan Dew terakhir yang paling kuat dan paling dalam serta kocokan Dew pada penisnya yang makin kencang. Dew ejakulasi lebih dulu, air mani nya tersembur ke dalam lubang Tee- penuh.
Tee menyemburkan air mani dan air seninya juga menyembur kuat, membasahi kasur, badannya, dan badan Dew.
Ini yang tidak mau Tee bayangkan, setelah kejadian itu terjadi ia memalingkan wajahnya tanpa ingin menengok Dew sekalipun, menangis hingga terisak, rasa malu lebih menguasainya saat ini.
“Mas maaf..aku gatau kalo bisa sampe pipis gini..” Ucap Dew yang kini sudah melepaskan penyatuan mereka mengabaikan sperma nya yang mengalir di lubang anal Tee.
“Gue kan udah bilang bangsat! Berhenti tuh berhenti! Tolol!” Ucap Tee kini membelakangi Dew.
“Iya maafin aku ya mas, harusnya aku dengerin omongan Mas Tee, udahan ya mas marahnya?”
Yah biarkan Dew memikirkan bagaimana caranya membujuk Tee yang ngambek supaya bisa ia ajak bersetubuh lagi. Eh maksudnya mau mengajari dia untuk lolos SNBT.
