Work Text:
Bel pulang sekolah menengah atas itu berbunyi, suara seorang perempuan dalam bahasa Inggris menyampaikan bahwa jam sekolah telah berakhir. George segera membereskan barang bawaannya dan meninggalkan kelas.
Ia memasuki kelas dengan papan di atas pintu bertuliskan X-E, kelas milik Victoria yang saat ini masih membereskan buku-buku miliknya. George mendekati Victoria,
“Pi, kata mami, gue pulang sama lu dulu hari ini.”
Victoria menoleh dan mengangkat alisnya, “Kenapa?”
“Nggak tau, katanya sih di rumah ngga ada orang.” Victoria terdiam beberapa detik setelah itu, masih mempertimbangkan apakah George sebaiknya pulang bersama dirinya atau tidak.
“No problem for me… But I have a group project after this, gue udah bilang sama Ibu juga kalo gue bareng sama Camila.” Victoria menatap tidak enak pada George. Ia sungguh tidak apa-apa jika George ingin bertamu di rumahnya, namun tugas sekolah tak bisa ditinggalkan, kan?
Hening beberapa saat di antara mereka sampai akhirnya Victoria terpikirkan satu solusi,
“How about I call Abang? Lu pulang sama dia aja.”
George agak memiringkan kepalanya sambil mengernyitkan dahi, “Okay then…”
“You’ll be fine with him, right?”
“Yeah… I guess I’ll be fine…”
Tidak ada yang salah dengan Max, jujur saja. Max tak pernah mencoba untuk mempercepat laju kendaraannya secara tiba-tiba atau bahkan mengerem secara mendadak. Ia selalu berkendara dalam kecepatan normal, sehingga George pun tak merasa kesulitan untuk duduk di atas jok motornya yang sangat menungging itu.
Tidak ada yang salah dengan cara berkendara Max, sungguh, hanya saja…
BRUM! BRUM!
Yang pertama kali George lihat saat mencapai gerbang sekolahnya adalah Max yang sudah menduduki motor besarnya—yang George yakini itu adalah merek Yamaha. George sedikit malu saat menghampiri Max, mungkin karena motor Max memiliki suara yang sangat nyaring dibandingkan dengan motor orang-orang pada umumnya, atau mungkin karena penampilan Max yang masih memakai seragam putih abu-abu dan helm full face-nya itu yang terlalu menarik perhatian.
“Nih helm.” Max memberikan helm yang juga full face dengan ukuran agak besar, George tak tahu apakah itu helm milik Max atau bukan, namun yang George ketahui, ia harus segera pergi dari sini.
Ia cepat-cepat menaiki motor Max dan memegang bahu Max, “Udah Bang, buruan jalan!” George memukul pelan bahu Max, ingin menyalurkan perasaan malunya yang sedang ia rasakan saat ini.
“Aduh! Iya-iya! Buru-buru amat sih.” Max segera menjalankan motornya, pergi menjauh dari area sekolah George.
“Kenapa dah buru-buru? Emang mau kemana habis ini?” tanya Max saat mereka sudah mulai memasuki jalan raya.
“Gak kemana-mana…” jawab George dengan mencicit.
“Terus?”
“Ya gak papa…”
“Malu ya diliat pacar lu kok lu dijemput sama cowok?” mendengar itu, George secara reflek memukul keras punggung Max hingga Max setengah berteriak.
“Aduh! Sakit tau! Emang gua salah?”
“Ya salah lah! Orang gue gak punya pacar!” Sejujurnya, jawaban itu sudah cukup untuk membuat Max menutup mulutnya. Namun, Max merasa ada yang kurang, padahal ia sendiri juga tak tahu jawaban seperti apa yang ia inginkan.
“Ya terus kenapa minta cepet-cepet?” Max kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
George tidak menjawab langsung, ia diam seakan sedang memikirkan jawaban yang pasti, karena sebenarnya, ia pun tak tahu.
“… Soalnya motor Abang berisik.” jawab George, hampir tak bersuara.
Max terdiam lama karena ia hampir tak bisa mendengar suara George, sebelum akhirnya ia dapat menyadari ucapan tersebut.
“Motor gua berisik?” Max mengulang kalimat George, ingin memastikan jika ia mendengar ucapan George tadi.
“Iya, terus you catch too many eyes, and because of that people started looking at me too and I did NOT like that.” George menjelaskan dengan sedikit menekankan kata yang menurutnya penting.
Motor Max berhenti tepat di depan lampu merah. George dapat mendengar suara tawa dibalik helm Max, membuat George berpikir apa sih yang lucu? dan hanya memutar malas bola matanya.
“Jadi intinya, lu malu sama gua?” tanya Max, George masih mendengar adanya kekehan.
“Iya… Kali.” George menjawab sedikit ketus.
“Malu apa protektif sih itu namanya?”
“Kok protektif?”
“I don’t know, because you sound like one?” George memukul Max lagi, kali ini tak sekencang tadi.
“It has nothing to do with it, I’m really just embarrassed of you.” Kali ini Max tertawa lebih kencang dan tak berusaha menutupinya, George yang mendengar gelak tawa tersebut hanya bisa membuang muka. Jika saja tak ada helm full face ini, pasti wajahnya sudah terlihat semerah tomat, mungkin karena cuaca panas atau perasaan malu.
Hening yang mengisi waktu keduanya, George jadikan bahan untuk memikirkan ada apa dengan dirinya hari ini. Tepatnya saat Max menjemputnya tadi. Yang Max tahu, George tidak suka menjadi pusat perhatian saat ia menjemputnya tadi. Namun yang George tahu, hal ini lebih dari sekedar hanya tidak menyukai perhatian dari orang banyak.
Tepat saat George melihat perawakan Max di depan gerbang dan ingin menghampirinya, tiba-tiba ada yang menahan lengannya dan diikuti oleh suara perempuan.
”Eh George, itu kakaknya Victoria gak sih?” ujar perempuan itu saat George berbalik badan.
”Iya, kenapa?”
“Do you know his social media? Can you give it to me?”
Dih.
Satu kata yang menggambarkan George saat ia mendengar permintaan perempuan itu. Ia tahu benar siapa perempuan di hadapannya ini, ia tak dipanggil Admin Lambe Turah tanpa alasan. Bahkan, gosip perempuan di depannya ini sudah menyebar luas hingga sekolah lain.
George tahu niat dibalik permintaan itu. Ia bisa saja memberikan apa yang perempuan itu mau, namun sesuatu dalam dirinya berteriak untuk tidak berbicara apa-apa.
”Dia gak punya sosmed.” Hanya jawaban singkat yang ia berikan, tapi ia tahu perempuan itu pasti paham maksud dari kalimatnya.
Mengingat kejadian itu membuat George kembali merasa panas, kali ini ia sungguh yakin kalau ini bukan tentang cuaca. Rasanya ia ingin membuka helm full face ini dan merasakan langsung hembusan angin menerpa wajahnya.
Omong-omong soal helm,
“Ini helm siapa btw?” tanya George saat ia sadar kalau helm yang sedang ia kenakan ini bukan milik Max.
“Helm temen gua, katanya belum dicuci 6 bulan.” George memekik, bersamaan dengan Max—yang untuk pertama kalinya—melajukan kendaraannya secara mendadak, mengakibatkan George secara reflek langsung memeluk pinggang Max.
“I REALLY HATE YOU, ABANGG!”
George mungkin mengatakan jika ia membenci Max, dan untuk sekarang, ia meyakini pernyataannya itu. Namun, perilaku seperti ini sudah biasa terjadi, karena pada akhirnya, ucapan itu hanyalah sebuah kalimat.
