Actions

Work Header

What else do I care about but you?

Summary:

Max tak dapat melihat adanya alasan yang pasti untuknya membantu George dalam hal percintaan, karena dirinya sendiripun tak sadar kalau ia sedang jatuh cinta.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

George 6 tahun saat ia gagal bersekolah di tempat yang sama dengan Max. Ibunya melarangnya untuk pergi ke sekolah dasar negeri tersebut, dikarenakan takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya. George tak paham, padahal jika ia bersekolah di tempat yang sama dengan Max, ia pasti akan aman.

Akhirnya, George pergi ke sekolah swasta, di mana semua ekspektasi sang ibu pasti akan terpenuhi disini. Meskipun sedikit kesal, George tetap senang karena teman-temannya juga bersekolah di tempat yang sama dengannya.

George memang tak bersekolah di tempat yang sama dengan Max, namun ia berada di kelas yang sama dengan adik perempuan Max yang selalu Max anggap menyebalkan, Victoria. Sehingga, terkadang George ikut Victoria pulang ke rumahnya.

George berusia 9 tahun saat ia sadar kalau ia menyukai seorang lawan jenis di kelasnya. Bagi George, perempuan itu sangat cantik, sehingga susah untuk tidak memperhatikannya meskipun dalam jarak jauh. George menceritakan kepada Max, bagaimana ia selalu salah tingkah dan malu saat anak perempuan itu berada dekat dengannya.

Max berusia 11 tahun, menyadari ada perasaan marah, kesal, dan tak suka saat George menceritakan itu. Ia tak tahu mengapa, namun ia juga tak berani untuk mengutarakannya. Melihat betapa bahagianya (dan cantiknya saat pipinya mulai bersemu merah) ia saat menceritakan itu semua, membuatnya tak tega.

“Kalo suka, tembak lah.” Max berbicara dengan nada ketus sambil mencabut-cabut rumput di bawah kakinya. Untung saja ibunya sedang keluar, jadi ia tak akan dimarahi karena mencabut rumput-rumput di taman kecil kesayangan ibunya ini untuk melampiaskan rasa kesal.

“Malu… Kalo dia gak suka aku, gimana?” George menunduk, memainkan jari jemarinya sendiri.

Aneh banget, emang ada yang gak suka kamu?

Perasaan ingin menjawab seperti itu begitu kuat, namun bagian dirinya yang lain memberitahunya untuk tidak menjawab seperti itu. Sehingga, Max hanya bisa mengatakan,

“Kita bikin dia suka sama kamu.” George mengangkat kepalanya, menatap bingung Max.

“Kita?”

Max sedikit panik saat mendengar pengulangan George, ia sendiri bingung mengapa ia mengucapkan kalimat itu.

“Ya… Nanti aku bantu biar dia suka sama kamu.” George tersenyum sumringah mendengarnya.

“Hehe… Thank you” George kembali bermain dengan Sassy yang sedari tadi memang sedang berbaring malas di depan mereka. Namun, fokus Max tak berada di kucing miliknya yang saat ini sedang mengeong keras, seakan meminta pertolongan (George memeluk kucing itu terlalu erat).

Pipi merah itu lagi.

Bagaimana bisa Max mengatakan ‘tidak’ saat raut wajah itu muncul? Bahkan, jika ayahnya yang sangat pemarah itu melihat ekspresi George saat ini, beliau bisa luluh.

Lupakan bagaimana percintaan George dengan anak perempuan di kelasnya itu terjalin, Max saat ini hanya ingin tahu bagaimana caranya agar pipi itu bersemu merah lagi.

Posisi George dan Max saat ini sedang berada di taman kecil rumah Max dan membelakangi pintu masuk, mereka duduk menghadap ke kolam ikan koi, sehingga Max maupun George tak bisa melihat kalau Victoria sedang menguping.

Max baru sadar kalau Victoria telah memerhatikan mereka sejak tadi saat ia berdiri dan ingin masuk ke dalam untuk mengambil minuman. Max membelalak, Victoria tanpa menyia-nyiakan waktu, langsung saja menarik tangan Max masuk ke dalam.

Setelah membawa Max cukup jauh dari taman, Victoria mulai bertanya, “Abang inget kan aku pernah cerita George suka sama siapa?” sambil menyilangkan tangannya.

Max menaikkan sebelah alisnya, kebingungan. “Isabella, kan? Tadi dia juga cerita.” jawab Max, merasa aneh dengan pertanyaan adiknya.

“Iya, abang tau kan?”

“Iya lah, anaknya temen Ibu kan? Temen lu juga, kadang main ke rumah.” Victoria mengangguk mendengar jawaban itu.

“Aku tau Isa tuh kadang selalu nyapa sama ngelirik-lirik abang kalo dia main ke rumah,” Victoria menggantung ucapannya, menarik napas, seakan mempersiapkan dirinya untuk mengucapkan kalimat berikutnya.

“Intinya, abang jangan ganggu Isa sama George deh!”

Lah?

“Hah? Maksudnya?” Max dibuat semakin bingung.

“Ya, jangan ganggu! Aku tadi liat muka abang kayak gak seneng gitu pas George cerita tentang Isa, abang suka sama Isa juga ya? Gak usah deh, cari yang lain aja!”

Yang awalnya ia mengangkat sebelah alisnya karena bingung, sekarang ia menukik kedua alisnya karena kesal, entah mengapa ucapan adiknya membuatnya tersinggung.

“Siapa yang suka sama dia sih? Gue bahkan gak tau kalo dia lirik-lirik gue! Gue mah gak peduli sama dia!” balas Max, membela diri karena tak terima atas tuduhan adiknya.

“Kalo gak peduli, kenapa mukanya gak seneng gitu? Biasa aja dong mukanya!”

“Emang muka gue begini! Lagian, lu gak denger tadi gue ngomong apa? Gue bilang gue bakal bantu George buat deketin Isa!” Victoria terdiam.

Memang benar ia mendengar kakaknya mengatakan hal itu, namun entah kenapa perasaannya mengatakan kalau kakaknya tidak memiliki niat asli dibalik perkataan itu.

“Lu gak usah ikut campur urusan gue sama George, lu urusin Isa aja, gue mah kagak peduli ama si Isa.” Max meninggalkan Victoria begitu saja tanpa melihat ekspresi dan mendengar jawaban dari adiknya.

Saat Max kembali dari mengambil minuman, George bertanya dengan kebingungan mengapa ia lama sekali, namun Max hanya menjawab tidak ada apa-apa.

Notes:

HI! if u found this fic but not from my twitter, just so u know this is the narration version (and a lil bit more detailed) of my socmed au thread on twitter @pukimagk. ;)

Series this work belongs to: