Actions

Work Header

Like Him

Summary:

What if in a moment of utter despair, Sukuna became the only one left to push Yūji forward—not out of kindness, but because giving up would insult them both?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jalanan itu terasa sunyi. Terlalu sunyi. Darah menetes dari lengan Yuuji. Kakinya gemetar. Jari-jarinya sakit karena meninju sesuatu yang tak kunjung mati. Kutukan itu kini lenyap. Gedung-gedung retak, lampu jalan berkedip-kedip, dan Yuuji berdiri sendirian, napasnya terengah-engah, jantungnya mencoba mengingat bagaimana caranya berdetak normal kembali.

"Aku belum cukup kuat," bisiknya, lututnya lemas saat dia terduduk di trotoar. "Aku belum bisa menyelamatkan mereka."

Dia tak menangis. Dia terlalu lelah untuk menangis. Namun keheningan yang menyusul—di dalam dan di luar—terasa lebih berat daripada jeritan apa pun, dan kemudian, Yuuji mendengar Suara Sukuna di pipi sebelah kanannya.

"Sudah selesai merengeknya?" Suara Sukuna meluncur di pipinya bagai pisau yang ditusukkan dengan kebencian.

"Diam," gumam Yuuji, menyandarkan kepalanya ke dinding. "Aku tak membutuhkanmu sekarang."

“Kau harus menjaga tubuhmu dengan baik, aku masih membutuhkan tubuh ini, dan aku muak melihatmu merangkak, mengeluh, dan mati berkali-kali.”

“Kau pikir aku ingin hidup seperti ini?” bentak Yuuji, rasa sakit terpancar di balik matanya. “Kau pikir aku tidak mencoba? Aku terus berjuang dan berjuang, dan aku kehilangan orang-orang—!”

“Terus kenapa?” Nada bicara Sukuna terdengar kejam. “Kau kalah sekali dan kau pikir itu berarti kau tamat? Menyedihkan sekali.”

Yuuji mengepalkan jari-jarinya, gemetar. “Kau tidak mengerti.”

“Aku mengerti lebih dari yang kau kira,” kata Sukuna, kini lebih pelan. “Kau bukan satu-satunya yang menolak mati, bocah.” Mendengar itu membuat Yuuji terdiam.

“Kau pikir aku hidup lebih dari seribu tahun tak pernah kalah? Aku sudah dimusuhi oleh berbagai era. Penyihir yang lebih kuat dari yang kau bayangkan mencoba membakarku hingga lenyap dari sejarah, tapi aku masih di sini. Kau tahu kenapa?”

“…Karena kau terkutuk.”

“Karena aku tak pernah menyerah pada diriku sendiri dan kau pun seharusnya begitu.” Yuuji menatap trotoar yang retak, bernapas perlahan. Rasa sakit di ototnya berdenyut, tetapi di baliknya… sesuatu yang lebih stabil kembali. Detak jantungnya. Tekadnya.

“Kau tipe yang harus menang dalam perdebatan, ya?” gumamnya, sambil menyeret tubuhnya tegak.

“Tentu saja.”

Yuuji menyeka darah dari sudut mulutnya. “Kau mengerikan.”

Yuuji bangun dari duduknya, melangkah maju dengan gemetar, lalu melangkah lagi. Rasa sakit itu masih ada. Rasa bersalahnya juga, tetapi sesuatu telah bergeser. Dia tak lagi menanggungnya sendirian.

Malamnya, kembali ke asrama, Megumi melirik tangan Yuuji yang diperban.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya.

Yuuji tidak tersenyum, tetapi tatapannya lebih tenang daripada beberapa hari yang lalu.

"Aku baik-baik saja."

Dan di lubuk hatinya, Sukuna menyeringai.

~☆~

Tokyo kini terasa sunyi. Terlalu sunyi, dan tidak ramai seperti biasanya. Mungkin juga karena dia berada di pinggir kota Tokyo. Yuuji berdiri di tepi distrik yang hangus, tinjunya terkepal, buku-buku jarinya retak. Kutukan di hadapannya berbeda dari yang pernah dia hadapi sebelumnya—dia berbicara dengan teka-teki dan bersenandung dengan beban seribu jeritan. Bangunan-bangunan miring menjauh darinya. Kaca-kaca melengkung. Tanahnya bau darah tua. Dia tahu dia seharusnya tak sendirian di sini menjalani misi, tetapi dia juga sadar tak akan ada orang lain yang datang.

"Kau akan mati, lagi." Suara Sukuna merayap di pipinya, rendah dan nyaris geli.

Yuuji bernapas di tengah ketakutan. "Mungkin."

"Lebih baik kau tidak perlu bertarung." Sukuna terkekeh.

Kutukan itu melesat maju—cepat, besar, tak wajar. Yuuji menghadapinya secara langsung. Tinju melayang ke cakar. Ke bagian tulang lalu mengarah ke bilah. Setiap serangan terasa liar, dipenuhi kepanikan, hingga tiba-tiba... sesuatu berubah. Rasa takutnya tak kunjung hilang. Setiap pukulan yang dia gunakan tajam. Disengaja. Terasa kuat dan ketika energi kutukan membubung di sekelilingnya seperti asap, itu bukan milik Sukuna. Tidak sepenuhnya. Itu milik Yuuji.

“Menarik,” desis Sukuna, terdengar hampir bangga. “Sekarang berhentilah bertarung seperti orang linglung dan mulailah bertarung sepertiku.”

Yuuji berteriak—bukan karena kesakitan, melainkan perlawanan. Sebuah seruan lawan yang sepenuhnya miliknya. Kutukan itu goyah, terkejut, dan saat itulah Yuuji bergerak, lebih cepat dari rasa takut, lebih jelas dari amarah, dan membenamkan tinjunya di dada kutukan itu. Semburat merah keluar dari jiwanya dan menyebar ke beberapa area termasuk wajah Yuuji. Hening seketika. Sudah berakhir. Yuuji berdiri, terengah-engah, lengan gemetar, darah menetes dari bibirnya.

"Kau tidak mati."

"Tentu tidak."

"Lumayan, bocah."

Yuuji mendongak, menatap langit yang baru mulai cerah. "Aku berharap kau setidaknya diam sebentar."

Kemudian, ketika bala bantuan dari sekolah Jujutsu tiba, mereka mendapati Yuuji sendirian—memar, berlumuran darah, tersenyum tipis. Sedikit lebih kuat. Sedikit lebih mengerikan. Masih menjadi dirinya sendiri. Namun ada sesuatu di dalam dirinya yang kini membara sedikit lebih terang, diredam oleh kegelapan, namun tak lagi takut akan kegelapan.

~☆~

Pengusiran kutukan hari lalu itu bersih, efisien, dan mengerikan. Kabar menyebar cepat di dunia jujutsu.

"Itadori Yuuji mengalahkan Special Grade sendirian."

Tak ada yang mengatakannya seperti tuduhan, tapi Yuuji merasakannya dari cara Nanamin mengamatinya lebih lama dari biasanya, dari cara Megumi ragu sebelum menepuk bahunya, dan bagaimana senyum Gojo-sensei berubah sedikit terlalu penuh perhitungan.

"Jangan salah paham," kata Gojo-sensei suatu pagi, mata biru cantiknya tersembunyi di balik kacamata hitam, "Aku bangga padamu, tapi jangan biarkan kekuatan itu membuatmu sombong, oke?"

Yuuji senyum. "Mengerti."

"Kau terlihat cukup mengerikan sekarang." Suara Sukuna kembali terdengar, suara itu keluar dari sudut pipi kanannya, suaranya halus dan puas, menggema di wajahnya seperti infeksi.

Yuuji mengepalkan tinjunya di bawah meja. "Aku tidak sepertimu."

“Pertarungan terakhir itu. Kau menyukai kekuatannya. Kau terlihat puas melihat bagaimana kutukan itu merintih.”

“Tidak,” bisik Yuuji, jantungnya berdebar kencang.

Dia teringat bagaimana energi kutukannya melonjak—begitu liar, hampir kehilangan kendali. Napasnya pun tercekat. Dia memang menyukai energi itu. Meski hanya sesaat.

Malam itu, dia berlatih lebih lama dari biasanya. Memukul boneka-boneka Yaga-sensei itu hingga buku-buku jarinya retak. Hingga energi kutukannya berpendar seperti api dari kulitnya. Megumi menghampirinya.

“Buku jarimu berdarah,” katanya.

“Aku baik-baik saja.”

“Yuuji.” Kelembutan dan kekhawatiran suara Megumi lebih menusuk daripada menenangkan.

“Semua orang bertingkah seolah aku akan kehilangan kendali,” gumam Yuuji. “Seolah aku... menjadi dirinya.”

Hening.

Lalu Megumi memberinya handuk. "Kau semakin kuat dan menakutkan, tapi aku tidak akan kalah darimu."

Yuuji berkedip. "Apa?"

"Kau berhasil melindungi orang," kata Megumi. "Bahkan ketika itu menghancurkanmu. Kau bukan Sukuna. Kau hanya... Yuuji."

Untuk beberapa saat, Yuuji terdiam.

Lalu dia tersenyum, lelah namun tulus. "Terima kasih."

Dari lubuk domain-nya, Sukuna bergumam: "Cih. Menjijikkan."

~☆~

Yuuji memimpikan api. Api itu menjalar ke seluruh kuil yang hancur, mengejar bayangan. Dia berlari tanpa alas kaki, panas menjilati pergelangan kakinya, tetapi ada yang salah. Bukan rasa takut yang mendorongnya maju. Melainkan amarah. Dia terbangun berkeringat, jantungnya berdebar kencang.

"Kau merasakannya sekarang, kan? Sensasinya. Rasa laparnya."

Yuuji tidak menjawab. Dia tidak akan memberinya kepuasan itu, tetapi ada sesuatu yang berubah. Setiap kutukan yang dihadapinya sekarang tampak ragu-ragu sebelum menerjang. Mereka membisikkan hal-hal seperti: "Dia bukan sekadar wadah."
"Dia bagian darinya sekarang."
"Tidakkah kau merasakan kekuatan Raja Kutukan merembes?

Yuuji tahu—dia semakin kuat, tapi dia tidak tahu apakah itu masih kekuatannya.

Seminggu kemudian… Mereka dikirim dalam misi di sebuah kota terpencil Okinawa yang disinari matahari, yang terasa aneh sejak mereka tiba. Tak ada kutukan yang terlihat. Hanya keheningan. Lalu serangan sekejap: kutukan yang tak pernah Yuuji hadapi. Anggota tubuh yang panjang, mata hitam, mulut yang dijahit. Dia berbicara dengan teka-teki dan berbau seperti kelopak sakura yang membusuk.

"Kaulah wadah Sukuna," desisnya, tersenyum dengan gigi yang terlalu banyak. "Mari kita lihat mana yang mati duluan. Wadah atau monsternya."

Yuuji meninju lebih dulu, tapi kutukannya cepat. Terlalu cepat. Dia membantingnya ke tanah, cakarnya menyeret luka di tulang rusuknya. Darah memercik ke beton.

"Biarkan aku mengatasinya." Suara Sukuna kembali terdengar mendesak.

"Tidak," Yuuji meludah. "Tidak, kecuali terpaksa."

"Kau akan mati."

"Mungkin."

Kutukan itu menukik lagi, memekik—lalu membeku di udara, matanya melebar. Energi kutukan Yuuji kini panas membara, berdenyut keluar seperti makhluk hidup. Bukan milik Sukuna. Itu miliknya. Kutukan itu tersentak, dan dari lubuk hatinya, Sukuna tertawa—tapi tidak seperti sebelumnya. Kali ini, diiringi sesuatu yang asing.

"Kau bocah sombong dan nakal. Awas saja kalau kau mati."

—selesai.

Notes:

Added some more scene from the threadfics on twt, hope you enjoy it :3

Series this work belongs to: