Work Text:
Ketika Gojo-sensei menyarankan mereka untuk "istirahat sejenak", Yuuji mengira yang dimaksudnya adalah libur dari latihan sehari-hari. Dia tidak menyangka akan mendapatkan voucher penginapan di tepi pantai, dan dia sungguh tidak menyangka akan berbagi dengan Sukuna di resor itu.
"Yang benar saja," gerutu Yuuji sambil berjalan tertatih-tatih di trotoar dengan sandal pantai. "Gojo-sensei memesankan liburan untukku tanpa izin, lalu Kugisaki dan Fushiguro entah pergi ke mana, dan sekarang hanya aku... dan penguasa kutukan sialan ini."
Dalam hati, Sukuna mendengkur geli.
"Ah, bocah sialan. Memangnya apa yang akan kau lakukan sambil terjebak dengan penguasa kutukan dalam petualangannya di tepi pantai?"
"Kau menyebalkan. Kau BENAR-BENAR mengambil alih tubuhku pagi ini hanya untuk makan sarapan hotel."
“Ikan miso itu sungguh lezat. Tidak seperti seleramu dalam memilih pakaian renang.”
Yuuji menunduk menatap celana pendek oranye terangnya. “Ini pakaian yang praktis sekali, kau yang seleranya aneh!”
Sukuna mendengus. “Kau terlihat seperti kerucut lalu lintas.”
Kota yang sedang dia kunjungi sekarang itu sepi di luar musim liburan. Toko-toko sepi, pantai-pantai kosong, dan angin laut yang tenang. Yuuji harus mengakui—itu... lumayan menenangkan. Dia mampir ke kios es serut dan membeli dua. Satu untuknya, satu untuk—Dia berhenti sejenak. “Aku lupa kau tidak punya tubuh asli.”
“Berusaha bersikap baik? Cih.”
Yuuji tetap duduk di tepi air, meletakkan es serut kedua di sampingnya. "Ini namanya berbagi simbolis. Terserah kau mau menganggapnya bagaimana."
Yuuji memandangi ombak sejenak, hangatnya matahari di kulitnya, anak-anak tertawa di kejauhan.
“Aku tahu kau membenciku juga, tapi kenapa kau tidak terus-menerus berusaha menyingkirkanku?” tanya Sukuna tiba-tiba, suaranya rendah.
Yuuji mengerjap. "Aku tidak membencimu seperti yang mungkin kau inginkan." Ia menyesap es serutnya. "Jangan salah paham—kau yang terburuk—tapi kau juga... bagian dariku sekarang."
Keheningan menyelimuti mereka, hanya dipecahkan oleh suara burung camar. Lalu: "...Kau bocah yang aneh."
Yuuji terkekeh. "Butuh waktu untuk mengenal seseorang."
~☆~
Malam itu, penginapan terasa tenang. Yuuji berbaring di futon, kenyang karena hidangan ikan laut panggang pada saat makan malam dan kulit terasa masih hangat karena sinar matahari. Dia merasakan Sukuna mata dan mulutnya keluar di pipinya, bukan untuk membuat kekacauan—hanya saja, seperti teman sekamar dengan opini buruk dan gigi yang lebih tajam.
"Hei, Sukuna?" bisik Yuuji sebelum tertidur.
"Mm?"
"Terima kasih sudah tidak membuat liburan ini terasa buruk."
Sukuna tidak langsung menjawab. Namun dalam keheningan itu, Yuuji merasakan sesuatu yang tidak biasa:
Tidak ada tawa mengejek. Tidak ada lelucon yang kejam. Hanya... diam.
"Lain kali, aku yang memilih tujuan liburan nanti."
Yuuji tersenyum. "Setuju."
~☆~
Matahari pagi terasa brutal, begitu menyilaukan menembus tirai tipis kamar penginapan. Kipas angin berputar tak berguna di sudut, meniupkan lebih banyak udara hangat daripada udara segar. Yuuji mengerang, anggota badannya terasa berat karena kepanasan dan kantuk.
"Kau akan kepanasan di dalam tubuh ini jika kau tidak bangun," Suara Sukuna terdengar di pipinya, geli sebenarnya kalau dirasakan.
Yuuji tetap berguling dan menarik bantal menutupi kepalanya. "Lima menit lagi."
"Lima menit lagi dan aku akan menyeretmu ke laut. Kau menyedihkan."
"Omong kosong untuk seseorang yang bahkan tidak punya tubuh untuk berkeringat," gumam Yuuji, bangun lalu duduk sambil mengerang.
Dia berjalan tertatih-tatih ke wastafel, memercikkan air ke wajahnya, dan melihat sekilas dirinya di cermin—mata setengah terpejam, rambut mencuat seperti kain pel, dan... seringai terkutuk itu samar-samar terpantul di balik senyumnya, menempel di pipi. Kehadiran Sukuna, penuh kepuasan seperti biasa.
“Kau seperti tikus tenggelam. Lucu.”
Yuuji mengacungkan jari tengah padanya dan bersiap-siap untuk pergi keliling pantai.
Seperti yang sudah dideskripsikan di awal, pantai itu lebih sepi daripada kota. Garam dan madu(salah)— garam dan pasir menempel di udara, menyelinap ke dalam sepatu ketsnya. Yuuji berjalan melewati deretan kios suvenir—kalung kerang, jimat kecil, kipas warna-warni. Ia berhenti di salah satu kios yang menjual pernak-pernik buatan tangan yang diukir dari kayu apung.
“Cih. Sampah,” gumam Sukuna. “Apa gunanya suvenir? Kau tak butuh kenang-kenangan untuk mengingat sesuatu yang terkutuk.”
Yuuji mengambil sebuah gelang kecil yang ada manik harimau.
“Yang ini lucu.”
“Terlihat bodoh.”
“Justru karena terlihat bodoh aku ingin membelinya.” Yuuji tertawa, mengejutkan si penjual, lalu menyerahkan beberapa koin.
"Ah, yang serigala itu, akan aku beli untuk Fushiguro, yang rubah cocok juga untuk Kugisaki." Yuuji asyik sendiri memilih suvenir untuk teman-temannya, bahkan dia tidak lupa untuk membelikannya kepada Maki, Inumaki, Okkotsu, Panda, hingga Gojo-sensei sendiri.
Setelah sibuk memilih suvenir, Yuuji kembali ke arah pantai, kemudian sambil berbaring di atas handuk di tepi air, Yuuji mengangkat gelang harimau itu ke arah cahaya. Gelang itu tidak istimewa. Diukir dari kayu dan menggunakan tali yang dihaluskan, tapi dia bisa merasakan perhatian Sukuna tertuju padanya. Ombak bergulung-gulung. Matahari terbenam, dan untuk sementara waktu, kutukan di dalam dirinya tak bersuara lagi—bukan karena bosan, tapi sesuatu yang jauh lebih langka. Mungkin dia merasa tenang.
~☆~
Yuuji tidak bermaksud memulai pengusiran kutukan, yang ia inginkan hanyalah cumi bakar dari gerobak pinggir jalan dekat pantai. Kota itu sunyi, terlalu sunyi, dan angin laut membawa panas lengket aneh yang membuat kulit terasa seperti berdengung. Penjual itu nyaris tak berkata sepatah kata pun—hanya mengangguk singkat dan membalik tusuk sate di atas arang dengan fokus.
Lalu sang penguasa kutukan itu muncul dengan satu mata dan satu mulut di pipinya berkata, "Tempat ini bau." Suara Sukuna terdengar seperti bisikan di tulang pipinya.
Yuuji mengerutkan kening. "Kau juga bilang begitu tentang tempat sebelumnya."
"Yang sebelumnya bau manusia. Yang ini lebih parah. Yang ini bau jiwa remuk."
"...Aku tidak merasakannya." Saat Yuuji menggigit gigitan pertama, angin tiba-tiba berubah. Jangkrik yang menjerit sepanjang hari... berhenti. Dia membeku di tengah kunyahan. Langit tidak berubah, tetapi sesuatu di bawahnya telah berubah. Pedagang gerobak itu terdiam, menatap ke arah laut. Jauh di atas air, kabut mulai bergulung-gulung, tebal dan rendah, meskipun udara panas yang kering.
"Dia di sini."
"Apa itu?"
"Sepertinya dia merasakan keberadaanku."
Yuuji perlahan berbalik. Ia nyaris tak bisa melihat kilauan, seperti minyak di atas air, yang melayang di pantai ke arah mereka. Energi kutukannya menyebar secara naluriah, tetapi apa pun itu wujudnya—kutukan itu tidak menyerang. Belum. Dia menelan sisa tusuk sate cumi dan melangkah ke arahnya, ragu apakah dia berani atau hanya sangat, sangat bodoh. Lalu terjadilah kecelakaan itu. Yuuji mengusap tangannya di tepi tiang kayu di samping gerobak pedagang. Sebagian glasir kecap manis melumuri kayu dengan guratan aneh seperti bintang. Energi terkutuk Sukuna di dalam dirinya berdenyut—dan memicu sesuatu. Terlambat. Saat kabut terkutuk melewati sigil glasir darurat itu, kabut itu menyala. Cahaya menyambar keluar seperti ledakan kilat. Udara bergema dengan jeritan yang membuat tanah bergetar, lalu—hening. Kehadiran wujud terkutuk itu telah lenyap. Bahkan tonggeret pun menahan napas. Yuuji mengerjapkan mata ke arah tusuk sate yang setengah terbakar yang masih di tangannya, lalu ke arah bekas hangus di tiang kayu.
"...Apa aku baru saja mengusir sesuatu dengan sate ini?"
“Ya, kau yang melakukannya.”
Malam itu, saat Yuuji duduk di balkon penginapan yang berderit dengan handuk di kepalanya dan pasir masih menempel di pergelangan kakinya, ia bergumam, “Apa yang baru saja terjadi hari ini? Sampai aku tidak bisa memprogres itu semua.”
“Kau bahkan tadi tidak makan dengan benar.” Ucap Sukuna melalui wujudnya yang menempel di pipi Yuuji.
“...Kau benar-benar menghinaku setelah aku menyelamatkan diri dengan makanan?”
“Itu pun secara tidak sengaja.” Lontar Sukuna dengan nada mengejek.
“...Tetap saja itu berhasil hitungannya!”
—selesai.
