Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-08-01
Updated:
2025-08-01
Words:
747
Chapters:
1/?
Comments:
1
Kudos:
5
Bookmarks:
2
Hits:
68

meet me at the court

Summary:

Seungmin is twenty seven, and living his best life (with a little bit of chaos, for sure). Lahir dari keluarga yang berada, Seungmin habiskan masa kecilnya dibawah mentari dan musim panas yang tidak pernah benar-benar panas di London. Tidak ada memori buruk yang membekas dari kenangannya disana, –except that Tennis Club™, of course.

Setelah bertahun-tahun berlalu, sebuah suara yang Seungmin kira sudah ia lupakan sepuluh tahun yang lalu kembali terdengar di telinganya. Di dalam ruang pengadilan itu ia menangkap seseorang dengan rambut gelap dan kacamata yang bertengger di hidungnya lanjutkan perkataannya dari secarik kertas yang ia pegang. Seungmin rasa nafasnya berhenti sesaat saat tatapan mereka bertabrakan.

Minho.

Freaking Lee Minho.
His forever nemesis. And he's grinning like a devil towards him.

Chapter 1: Prolog

Chapter Text

Seungmin's car was stolen, and everything is Jeongin's fault.

Ia tidak berharap minggu barunya akan berubah menjadi masam saat terima telfon Jeongin di pagi buta yang kabarkan ia pasal mobil yang sepupunya pinjam itu menghilang dua hari lalu. It's Monday, a new week, and everything is already going south at freaking 2 am. Screw that hot guy whom made his cousin's jaw drop to the floor and force him to lend his bmw, Rosalinda. That lovely Rosalinda yang Seungmin beli tahun kemarin dari bonusnya setelah rampungkan Gala tahunan. That was hard, as a creative director from one of the biggest fashion magazine in the world, Seungmin pays a huge tribute untuk acara-acara dan pemotretan besar yang diadakan tiap tahunnya. And that sweet Rosalinda yang Seungmin kendarai untuk menyusuri jalanan New York to his head quarter is missing.

"That was the first car I bought with my own money." Seungmin scowls.

Changbin terkekeh, handed him a nice shot of Americano after Maya –the receptionist in their office– told him bahwa seungmin datang dengan muka super tertekuk yang instantly spreading a sour mood in their office. "Stop sulking, your father literally can buy the whole factory."

"But still." Seungmin masih dengan wajah yang cemberut sesap pelan-pelan Americanonya, "Cold Americano taste better."

"Brat." Pria yang setahun lebih tua itu kemudian melenggang dengan senyum kecil menuju kursinya di departemen produksi, terlalu hapal usilnya Seungmin setelah empat tahun creative editor itu pindah dari kantornya di Hanover Square. Dia ingat bagaimana Seungmin dengan aksen British and his cute childlike appearance memperkenalkan diri di depan seluruh tim, undang tepuk tangan dan ribuan pujian yang buat pipinya bersemu kemerahan.

Seungmin is twenty-seven, and living his best life (with a little bit of chaos, for sure). Born and raised in a well family (he's getting his first pair of Brunello Cucinelli at the age of two, by the way), seungmin habiskan masa kecilnya dibawah mentari dan musim panas yang tidak pernah benar-benar panas di London. Tidak ada memori buruk yang membekas dari kenangannya disana, –except that tennis club, of course.

Setelah habiskan sepertiga paruh hidupnya di Westminster, ia kemudian terbang ke New York untuk bergabung dengan tim global dari salah satu majalah fashion ternama. Terpisah lebih dari lima ribu mil dari keluarganya dalam waktu yang lama. Berusaha untuk menjalani harinya yang terlanjur buruk, Seungmin starts to rummage through his email inbox, answering some related works messages until one mail with important tags and NOTICE in its title somehow made his head boil more. Seungmin gets ticket parked, from a car that's missing.

Hell.

Dengan langkah kaki terburu, Seungmin susuri lorong dengan pilar dan langit-langit tinggi bergaya aristokrat dengan patung Lady Justice. After that ticket parked mail, Seungmin calls the court for a testimony to his case karena mobilnya hilang. Hell, dia tidak akan membayar penalti untuk sebuah mobil yang bahkan ia tidak tahu ada dimana. His family might be buying him a new car in instant but Seungmin refuse to be illogical. His. Car. Is. Stollen.

Setelah habiskan setidaknya tiga puluh menit menunggu pada antrean, ia akhirnya masuk ke dalam ruang sesuai dengan jadwal yang dikirimkan pengadilan setempat kemarin lusa. Seungmin want to sulk at that very moment. Walaupun sudah masuk ke dalam ruang pengadilan, Ia harus menunggu lagi beberapa saat sampai namanya dipanggil untuk menghadap hakim dan juri. He's tired and quite restless, pile of works waiting for him back in his office. Sebuah event tahunan besar yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi membuatnya extra sibuk dan jam istirahatnya otomatis terpangkas.

Namanya dipanggil setelah beberapa saat, dengan hembusan nafas pelan dan kepala yang ribut berusaha susun kata demi kata mengenai mobilnya yang hilang, Seungmin langkahkan kakinya dan tempati kursi dengan mikrofon yang menghadap dewan pengadilan. Ia berusaha dengan percaya diri menjelaskan mengenai kronologi mobilnya yang menghilang, berusaha yakinkan hakim di depan bahwa keputusan atas penalti yang harus ia bayar adalah hal yang konyol.

Everything is going so well sampai sebuah suara yang Seungmin kira sudah ia lupakan sepuluh tahun yang lalu kembali terdengar di telinganya. Rentetan kalimat yang sudah ia siapkan di benaknya hilang begitu saja berganti dengan pertanyaan-pertanyaan apakah ia salah mendengar dan hanya mendengar suara yang mirip saja. Tetapi semua prakira Seungmin terbantah saat netranya menyapu ke bagian kanan ruangan, dimana seseorang dengan rambut gelap dan kacamata yang bertengger di hidungnya lanjutkan perkataannya dari secarik kertas yang ia pegang. Seungmin rasa nafasnya berhenti sesaat saat tatapan mereka bertabrakan.

Minho.

Freaking Lee Minho.
His forever nemesis. And he's grinning like a devil towards him.