Work Text:
Jungsu mana tau kalau konsekuensi dari memilih kamar paling dekat dengan ruang tengah juga artinya akan di amanatkan tanggung jawab sebesar ini.
[11:00 AM] Ibu Kos Widuri: Nak Jungsu..
[11:08 AM] Ibu Kos Widuri: Ibu titip ikan y,, Soal'e mw pulkam 2 minggu, keponakan ibu nikahan...
Semahir-mahirnya Jungsu mengurus kelompok organisasi, kalau bentuknya sekarang adalah koloni ikan yang harus dia beri makan dengan teratur dan mengecek suhu airnya agar mereka tidak tertekan dan mati karena stress, Jungsu lebih baik kembali menjadi ketua sekretaris bidang di BEM Universitasnya.
Sejak lima belas menit yang lalu, kolom pencarian pada googlenya penuh dengan bagaimana cara merawat ikan, pada jam berapa mereka harus makan, apa ikan perlu berjemur, apa yang membuat ikan senang, berapa kali dalam sehari akuariumnya harus ia bersihkan (dan ini membuat Jungsu semakin meragu sebab ternyata akuarium tidak perlu di bersihkan tiap hari). Sebuah konklusi dia dapatkan pada waktu menjelang siang ini; pemahaman Jungsu nol besar.
Dan, dia sudah siap kalau-kalau ikan Ibu Kosnya mati beberapa.
Jungsu yang merupakan lelaki sejati akan tanggung jawab ganti rugi meski pakai uang jajan sendiri!
Jungsu yang merupakan lelaki sejati akan merawat ikan-ikannya sepenuh hati!
Jungsu yang merupakan lelaki sejati akan berjanji untuk menjunjung kesejahteraan ikannya Ibu Widuri!
Jungsu yang merupakan lelaki sejati—
Belum siap ketika melihat tetangganya mencelupkan sejumput roti ke dalam akuarium sakral milik Ibu Kosnya.
"Eh, eh! Stop!" Jungsu tidak tahu kalau ternyata refleksnya tidak begitu bagus. Padahal kakinya hanya perlu dua langkah untuk mendekat ke akuarium yang ada di ruang tengah dan mencegah bencana itu terjadi, namun ulat sudah menjadi kupu-kupu, roti tidak dikenal sudah masuk ke dalam akuarium dan sedang di santap ikan badut milik Si Ibu dengan lezat.
Jungsu nanar menatap akuariumnya. "Mas..."
Lelaki yang Jungsu kenali perawakannya ini hanya menelengkan kepala, tidak mengerti. "Kenapa?" Di tangan kirinya masih ada roti yang sekarang dia kunyah sembari melihat ikan badut di dalam akuarium itu makan dengan lamat.
Kepala Jungsu pening. Baru dua jam sejak ikannya hadir di hidup Jungsu, namun sudah ada kejadian yang membuatnya meragukan kapabilitas dia sebagai seorang fish sitter.
"Mas, itu ikannya Ibu, kenapa di kasih roti!" Jungsu mencerca, alisnya menekuk dengan jelas. Matanya menatap lelaki di hadapannya dengan perasaan jengkel yang kentara.
Si pemilik roti di hadapannya mengangkat bahu acuh. "Tahun lalu juga di kasih makan roti sama Jooyeon, ya tapi bukan yang ini, sih.... Beda ikan."
Jungsu mengumpat dalam hati, ya mungkin beda ikan karena ikan itu mati habis Jooyeon kasih roti!
Dia hanya menghela napas sebelum angkat bicara, "Tapi mending jangan di kasih roti walau ikannya mau, Mas, nanti mereka jadi gak lancar pupnya."
"Oh." Si yang dari tadi dipanggil Mas itu Jungsu ingat-ingat adalah tetangga kosnya yang tinggal di lantai dua, mahasiswa akhir yang menurut Jungsu juga termasuk dalam kualifikasi mahasiswa yang melakukan banyak hal selain skripsian. Namanya Gunil, ternyata ingatannya masih bisa Jungsu banggakan.
Gunil menjulurkan tangan kirinya yang memegang roti, "Jungsu mau roti? Baru banget beli, masih anget. Nih, ada rasa coklat."
Yang ditawari menggeleng, "Makasih, Mas, tapi aku kenyang habis makan donat tadi." Matanya lebih memilih untuk menelisik seisi akuarium yang menurut Jungsu terlalu besar hanya untuk diisi lima ikan badut dan kawanan udang kecil di bawah.
Keduanya masih berdiri bersisian, melihat Jungsu yang syahdu mengamati seisi akuarium buat Gunil mau tidak mau juga menelisik isinya. Memang apa yang menarik dari sekelompok ikan yang berenang kesana kemari? Gunil lebih merasa iri.
Harusnya dia jadi ikan saja agar tidak skripsi.
"Tapi, yang ini buncit banget, gak, sih, Mas?" Jungsu menunjuk satu ikan yang berenang sedikit lebih jauh dari kebanyakan mereka, gerak ekornya lambat.
Gunil dengan cepat menangkap yang mana yang di maksud Jungsu, dia mengamati dengan serius. "Aduh, tapi yang makan roti bukan yang itu, kok. Yang ini, nih." Telunjuk Gunil pancing atensi dari Jungsu, menunjuk ikan badut yang lincah berenang di bagian tengah perairan buatan tersebut.
Padahal Gunil asal tunjuk. Dia tidak mau di salahkan.
Jungsu yang sepertinya meninggalkan otak dan pikiran kritisnya di kamar ikut dengan serius mengamati ikan yang jadi perbincangan mereka. "Apa jangan-jangan ada yang kasih makan roti juga, ya, tadi sebelum Mas Gunil?" Jungsu bertanya dengan nada serius.
Gunil yang sudah berhasil mencuci otak diri sendiri dan tetangganya itu dengan mudah masuk ke alur tebak-tebakan mereka yang terjadi tanpa urgensi tersebut. "Biasanya Seungmin, tuh, yang suka makan di ruang tengah sambil nugas." Tebaknya separuh asal.
"Hm, bisa jadi." Jungsu memejamkan matanya untuk mengingat lagi. "Apa jangan-jangan Jiseok, ya, Mas? Tadi aku dibeliin donat sama Jiseok." Tersangka kedua sudah di beberkan, Gunil manggut-manggut seakan paham.
Yang namanya disebut muncul dari arah dapur dengan membawa gelas yang masih mengepul, bau teh melati tipis memenuhi ruangan. Jiseok mengangkat alisnya setelah menyeruput cangkir dalam genggaman, "Apa, sih, apa?"
Jungsu menunjuk si ikan yang tampaknya belum juga sadar kalau dirinya jadi pusat perhatian mereka. "Ini kok buncit banget, ya? Sakit atau gimana?"
Hyeongjun datang dari belakang Jiseok untuk menyipitkan mata, ikut memperhatikan ikan tersebut dengan seksama. Dia berkata pelan, "Bukannya emang lagi hamil, ya?"
Baru hari pertama, tapi Jungsu sudah pening.
+
Lepas dua hari sejak kejadian ikan dan roti yang pada akhirnya jadi bahan tertawaan anak Kos Widuri itu. Jungsu merasa dalam dua hari yang dia habiskan dengan guling-guling di kamarnya dan menemani Seungmin menyusun laprak di ruang tengah sembari berlagak mengamati ikan-ikan di akuarium, membuatnya dapat banyak wawasan meski dari cocoklogi logikanya.
"Nah, udah!" Di tembok tepat di dekat akuarium milik Si Ibu, Jungsu tempelkan kertas A4 berisi jadwal pemberian makan koloni ikan badut yang berjumlah lima dan dua belas udang kecil yang bahkan tidak dapat Jungsu lihat kalau dia tidak menyipitkan mata (Jungsu sudah tanya jumlahnya ke Ibu Kos!).
"Pfft," Seungmin yang tangan kirinya tengah memeluk toples astor terkikik setelah membaca isinya. "Pemberian pelet tiga butir per ikan, lo pikir itu ikan bisa antri dan ngitung dia udah makan berapa butir pelet, gitu?" Pertanyaan Seungmin tidak Jungsu hiraukan sebab menurutnya, sebodoh-bodoh Jungsu merawat ikan Si Ibu, Seungmin lebih bodoh karena kemarin malam dia hendak menaburkan akuarium dengan ceres coklat.
Kata Seungmin, ikan gak punya akal dan mereka akan mengira ceresnya adalah pelet mereka yang biasanya.
Menurut Jungsu, Seungmin tidak sayang ikan. Karena kalau memang ikan tidak berakal maka kita yang harus memberi mereka makanan layak untuk hidup sejahtera.
Dijawab begitu oleh Jungsu malah buat kepalanya jadi sasaran empuk untuk digetok remot oleh lelaki tidak berperikeikanan itu, katanya Jungsu sudah cocok jadi presiden bawah laut kalau nanti Jakarta betulan tenggelam, ikan Ibu Kos yang akan jadi relawan masa kampanyenya.
Jungsu tidak bilang itu ide yang buruk.
"Terus ini!" Telunjuk Seungmin menunjuk pada poin dimana ada jadwal runut pengecekan suhu air. "Emang Jiseok udah setuju dia mau bantu lo ngecek suhu tiap Senin, Rabu, Jumat?"
Jungsu berpikir keras, kali ini dia gak lupa buat bawa otaknya kemanapun dia pergi. Jungsu pikir, di kos lelaki yang isinya enam orang super aneh ini, dia gak mau jadi korban bualan teman-temannya seperti tempo hari lalu. Apalagi ini menyangkut nyawa makhluk hidup! Menyangkut ikan! Hidup ikan!
Jungsu jawab dengan gelengan. "Ya tapi gimana, dong, yang paham begituan, kan, Jiseok doang!" Dia mengeluh, auranya langsung kelihatan loyo.
Dari samping, ada pangeran dengan astor di tangan kiri yang seakan diliputi cahaya karena Gunil yang entah kapan ikut hadir di ruang tengah muncul dengan senyum pepsoden. Tangan kanannya merangkul bahu Si Loyo itu dengan penuh aura mengayomi. "Tenang," Katanya dengan secercah rasa bangga. "Ada gue, gue bisa bantu cek suhu. Gue punya termometer."
Hah.
Emang cek suhu bisa begitu, ya?
Jooyeon yang kelihatan baru pulang langsung menyerobot dengan kerusuhan yang seakan sudah jadi khasnya. "Gak boleh! Mas Gunil masih bersalah karena kemarin kasih makan Kimo pake roti!" Dia membentuk tanda silang di depan dada sebelum tersenyum bangga, "Gue aja, Bang Jungsu! Cek suhu doang, sih, gue jago. Kemarin, kan, gue habis menang lomba bikin robot terbang!"
Mendengar Jooyeon berkata jumawa tanpa ada kaitan apa-apa buat Seungmin lemparkan bantal ke lelaki tersebut. "Gak ada hubungannya bikin robot terbang sama cek suhu akuarium, dodol!" Seungmin menghardik, tapi Jooyeon seakan kebal—atau memang sudah bebal dari lahir—akan tanggapan Seungmin, fokusnya dia pusatkan hanya pada Jungsu.
Dengan mata masih berbinar, Jooyeon berkata, "Tangan gue udah bisa nebak panas dingin mesin drone, gue juga bisa nebak panas dingin air akuarium!" Dia menjabarkan dengan kalimat yang lumayan masuk akal menurut Jungsu.
Ini pilihan yang sulit karena Jungsu merasa yang memiliki kapabilitas untuk merawat akuarium bersamanya hanya Jiseok dan Hyeongjun, meski masih takut kalau Jungsu suatu hari akan temukan Hyeongjun berendam bersama ikan ikan badut milik Ibu Kos mereka.
Sejauh ini sudah bertambah dua kandidat—tiga, karena Seungmin baru saja berbisik bahwa dia juga mau ikut bantu merawat ikannya. Jungsu punya lima kandidat untuk dia jadikan asisten pribadinya untuk melakukan tugas besar ini.
Jungsu yakin sebelum dirinya lahir, tidak pernah ada persetujuan dalam hidupnya untuk dia memilih asisten pribadi untuk ikan-ikannya. Jungsu super gundah gulana. Dia merasa seperti manajer proyek NASA, bukan mahasiswa tingkat enam yang awalnya cuma mau tidur siang hari Minggu.
"Gue aja, Bang, Please," Jooyeon mendekati Jungsu dan langsung mengamit tangannya, matanya memohon seakan dirinya adalah anjing liar yang mau isian daging burger milik Jungsu. Di belakangnya ada Seungmin yang berbisik pada Jungsu agar lelaki itu menerima dia sebagai wakil pengelola akuarium milik Si Ibu.
Jungsu yakin Gunil juga pusing ketika keduanya terdiam setelah Gunil buka suara, "Gini, deh! Coba jelasin kenapa Jungsu harus pilih kalian buat jadi asisten akuarium!" Ingatkan Jungsu untuk berterima kasih kepada Gunil nanti karena sudah jadi penengah. Dan penemu julukan keren tersebut, asisten akuarium. Berarti Jungsu adalah pemimpin akuarium, dia merasa keren sebab sudah punya tujuh belas ekor ikan sebagai kroco.
"Karena gue ada di kos terus, jadi gue bisa selalu siap sedia kapanpun Jungsu butuh bantuan!" Seungmin memulai dengan kelakarnya yang Jooyeon nilai sebagai omongan tanpa pembuktian, dinilai dari mimik wajah Jooyeon yang meledek dan dengan cepat menimpali omongan Seungmin, "Ya di kos kan lo ngelaprak, mana sempet merhatiin ikannya! Nanti ikannya stress gak lo ajak main!"
Seungmin mendelik, "Ikannya juga stress kalau lo ajak main terus! Mana kalau habis futsal gak langsung ganti baju sama mandi dulu lagi. Ikannya nanti mabok nyium bau keringet lo!"
Jungsu dan Gunil saling melempar tatap. Dirinya hendak menghentikan perdebatan keduanya karena melanggar peraturan rapat organisasi yang selama ini Jungsu junjung tinggi; tidak boleh menyerang secara personal!
Jooyeon mengabaikan kalimat tajam yang menyerangnya secara personal itu, alih-alih dia menatap Jungsu lagi. "Gue aja, lah, Bang, itu ikannya gue semua yang kasih nama."
Informasi yang sangat penting tapi tidak berguna. Jungsu tau seisi akuarium sekarang sudah miliki nama, namun menurutnya urgensi memberi nama ke ikan masih tetap tidak jadi poin plus sebab Jungsu sampai sekarang tidak bisa membedakan Komi dan Kimi. Belum lagi Kimo, Kumi, dan Sumbul.
Nama terakhir diberikan atas saran Hyeongjun, omong-omong.
Jungsu menghela napasnya, "Yaudah gini aja," Jungsu mengamit tangan Gunil seakan dia adalah presiden direksi Bank Swasta dan Gunil adalah pemegang saham terbesar. "Mas Gunil aja yang nanti bantu gue cek suhu akuarium."
Mendengar keputusan yang dinilai anti-klimaks itu, Jooyeon mendesis kecewa, "Gak adil!" Disetujui oleh Seungmin yang membeo bahwa Jungsu seharusnya memilih dia sebab mereka berdua sudah jadi sobat karib ngelaprak di ruang tengah.
Keadaan belum juga membaik dari desau kecewa milik Jooyeon dan gerutuan Seungmin ketika salah satu ikan di akuarium tiba-tiba melompat keluar dari kaca dan tergelapar hebat di lantai.
Jooyeon mendelik, kaget. Seungmin hening. Jungsu mendekat untuk mengamati, "Ini.... Kimo, ya?"
Dari ujung dapur, Hyeongjun melangkah dengan santai untuk melihat korban. "Itu Sumbul."
Malam itu, menurut Jungsu tidak ada yang menang kecuali ikan-ikan.
+
Lama-lama kegiatan mengurus ikan yang seharusnya bikin Jungsu santai sejenak dari ricuhnya kegiatan kampus, malah jadi semacam kegiatan survival untuknya menjaga para ikan agar tetap hidup sejahtera.
Masalah pertama datang tepat pada pagi hari setelah di angkatnya Gunil sebagai asisten akuarium terhormat di kos mereka. Air akuariumnya keruh, warnanya sudah serupa melihat gelas bening yang langsung ditambah air setelah minum susu kental manis rasa coklat, ya, keruhnya seperti itu.
Jungsu sudah sangsi menuduh Hyeongjun betulan cuci kaki di lingkungan tempat tinggal para ikan tersebut. Pasalnya, Hyeongjun semalam bilang bahwa dia akan dengan senang hati bantu Jungsu dan Gunil merawat akuariumnya asalkan mereka berdua mengizinkan dia untuk merendam kaki di dalam kolam buatan itu sesekali.
Permasalahan dia temukan kala filter airnya ternyata sudah tersumbat banyak kotoran, pahit-pahitnya yang Jungsu asumsikan adalah kotoran para ikan. Dia jadi bergidik geli membayangkan habis memegang kotoran ikan dengan tangan kosong, meski rasanya sama seperti memegang lumut.
Tapi intinya, geli!
"Ini Si Sumbul berenang di kolam dalgona atau gimana, dah?" Gunil keluar kamar pada waktu yang tepat! Di pundaknya ada handuk yang Jungsu asumsikan untuk cuci wajah, tangan kirinya memegang roti rasa coklat dengan merk yang sama seperti tragedi roti dan awal mula kedatangan ikan-ikan itu di kos mereka.
Jungsu menghela napas, tubuhnya merebah di lantai dengan tangan dan kaki yang melebar. Jungsu jadi merasa seperti sobat karib SpongeBob, si bintang yang kepalang dungu itu. "Gak tau, Mas, gue bangun udah kayak gini. Tadi tangan gue habis ngubekin filternya, ternyata emang udah kotor." Keluhnya.
Gunil yang Jungsu yakin tadinya hendak melangkahkan kaki ke dapur langsung mengurungkan niat untuk cermati seisi akuarium.
Jungsu jadi deja vu. Di tangan kiri lelaki itu juga ada roti coklat.
"Lo gak mau bersihin?" Gunil bertanya tanpa menolehkan wajah untuk memandang Jungsu, atensinya terfokus pada filter air di hadapannya yang masih berada di dalam akuarium. Dari posisinya saja dia sudah yakin kalau saringan debu tersebut sudah kotor.
Jungsu gelagapan. Tidak mungkin dia jujur pada Gunil bahwa dirinya memang tidak berniat membersihkan filter tersebut. Yang ada di kepalanya justru menghubungi Seungmin atau Jiseok untuk membantunya membersihkan akuarium. Mau ditaruh dimana wajahnya sebagai utusan dari Ibu Kos untuk menjaga ikan-ikannya yang berharga?
Gunil menoleh, ada senyum tipis yang warnai wajahnya. "Gak mau bersihin, ya, Jungsu?" Yang kali ini, lelaki tersebut seakan bertanya dengan retoris sebab dirinya sudah berdeham seakan paham. Gunil memutus alur listrik ke akuarium melalui stop kontak untuk kemudian dia lepaskan filter air tersebut dari tempat semula.
"Princess." Gunil berkata.
Jungsu yakin tidak salah dengar, dia baru membersihkan telinganya minggu lalu. "Apa, Mas?"
"Biar gue aja yang bersihin filter airnya ini, Princess pindahin dulu ikan-ikannya ke ember di garasi. Yang abu-abu punya gue, baru beli itu masih bersih." Gunil terkekeh, dia membalikkan badannya sebelum berjongkok di samping Jungsu yang masih merebah di lantai, "Bisa, kan, Princess?"
Apa-apaan dengan panggilan menggelikan dari Gunil itu! Jungsu sudah khatam akan candaan yang keenamnya bagi setelah tiga tahun menghuni kos ini. Dirinya juga sering memuji Jooyeon sebab yang termuda itu terkadang begitu cantik dengan rambut panjangnya, Jungsu juga sering melihat Seungmin dan Hyeongjun yang saling memuji tanpa ada okasi apa-apa.
Namun Goo Gunil menurut Jungsu kadang sedikit menyebalkan sebab lontarkan canda dengan senyum teduhnya itu. Buat Jungsu palingkan wajah tanpa jawab apapun selain anggukan paham.
Tangan Gunil terulur untuk usap kepala Jungsu dengan penuh afeksi. Jungsu hampir merasakan hatinya doki-doki kalau saja dia tidak melihat betapa basahnya tangan Gunil dan bau amis yang mulai merayapi indera penciumannya.
Jungsu bangkit dengan agresif.
"Wah, Goo Gunil mau mati, ya!" Tangannya tanpa peduli apapun mencelup ke akuarium itu untuk cipratkan air amisnya ke arah Gunil yang sudah lebih dulu lari ke dapur. "Tangan lo bau amis, jangkrik! Lo malah meper, gue baru keramas!"
Kegiatan pagi itu bertambah selain harus membersihkan filter juga Jungsu dan Gunil harus membersihkan seisi ruangan sebab bau amis dimana-mana. (Seungmin pulang lima belas menit setelahnya dengan kepala pening dan nyut-nyutan sebab jadi penanggung jawab kebersihan di kos ini berarti juga harus menjinakkan dua lelaki dewasa hobi main air.)
Oh, dan, jangan bilang Hyeongjun atas apa yang terjadi hari ini. Bisa-bisa Seungmin harus menghadapi tiga lelaki dewasa yang hobi main air.
"Nah, ini lo taro sini." Gunil mendemonstrasikan cara memasang filter air di tempat baru kepada Jungsu. Lima jam setelah keduanya mendapat ceramah dan refleksi diri dari Seungmin sembari membersihkan lantai kos yang licin dan bau amis, mereka setuju untuk mengganti layout akuarium.
Jungsu mengangguk paham, di sebelahnya ada Hyeongjun yang tengah menempelkan stiker oleh-olehnya dari hiking gunung semeru bulan lalu di pojok kanan akuarium.
Jiseok berdecak, "Argh jelek, Hyeongjun! Masa dalemnya ada ramune warna pink tapi di luar ada stiker anak gunung!" Interupsinya seakan Jiseok peraih medali emas lomba debat antar benua.
Heyongjun melihat ke arah lelaki itu dengan ujung matanya. "Lo mana paham!" Tudingnya tanpa aling-aling. "Ini itu biar sumbul bisa liat gunung, dia pasti bosen tiap hari liatin muka lo semua."
Jungsu mengangguk dalam hati, kayaknya dia kalau jadi Sumbul juga punya pemahaman yang sama dengan Hyeongjun. Jooyeon yang sedari tadi hanya duduk dan menyeruput mi instannya mengajukan tanya, "Tapi jangan lo paksa gitu, lah, Jun, Si Sumbul. Siapa tau dia lebih suka surfing daripada hiking."
Pendapatnya masuk akal.
Saking terlalu masuk akalnya, Seungmin jadi merasa dia ada di ruang sidang perceraian di kantor urusan agama yang tengah membahas masalah hak asuh anak.
Jiseok menepuk bahu Jooyeon dengan bangga seakan sudah menemukan sekutu. "Tuhkan! Siapa tau Sumbul tuh feminim, Hyeongjun. Dia gak nyaman naik gunung sambil pake baju kaya di iklan iklan ramune." Jiseok berkelakar, sekarang Jungsu merasa lelaki itu seakan jadi pihak laki-laki yang kalau kata TikTok jaman sekarang, sangat girl's dad.
Hyeongjun terlihat berpikir sebentar. "Lah." Kalimat awalnya buat ketiga orang yang sedari tadi hanya menyimak juga bertanya-tanya.
Lah? Gunil, Jungsu, dan Seungmin bertanya-tanya.
"Lu liat di genshin, Raiden Shogun aja kembenan gue ajak muterin map naik turun gunung sampe berenang-renang gak apa-apa!" Hyeongjun menyampaikan pendapatnya yang sangat masuk akal.
Setidaknya buat Jooyeon.
Karena sekarang Jiseok kehilangan sekutunya setelah Jooyeon menyetujui, "Bener juga, siapa tau Sumbul mau naik Rinjani sambil cosplay Nahida."
Seungmin yang sedari tadi menyimak lantas tertawa dengan lepas. "Anjrit, Nahida. Di atas gunung, sih, gak apa-apa. Tapi pas turun gunung takut Sumbul ketuker sama Kekeyi."
+
Dan, malam minggu tidak pernah jadi malam yang spesial atau waktu dimana Jungsu merasakan perbedaan di antara hari-harinya yang lain. Malam itu, Jooyeon dan Jiseok sudah berencana akan pulang ke rumah, Hyeongjun menemani Seungmin bermalam di rumah sepupunya karena Seungmin di titah untuk menjaga rumah selama akhir pekan.
Maka malam ini hanya ada Jungsu. Dan ikan-ikannya, serta dua belas ekor udang.
Dan mungkin ada Gunil. Jungsu masih belum yakin sebab lelaki itu belum keluar kamar sejak tadi siang. Mungkin Gunil tidur, mungkin Gunil sedang mengerjakan skripsinya. Apapun itu, Jungsu tidak keberatan karena malam ini seharusnya akan berjalan dengan damai.
Sampai jam sembilan malam, sih, memang berjalan dengan seperti biasa....
Kecuali tentang lampu yang tiba-tiba mati dan bunyi kecipak dari dalam akuarium menyadarkan Jungsu bahwa dirinya memiliki tanggung jawab lain malam ini. Kenop pintu kamarnya terbuka bersamaan dengan Gunil yang baru saja keluar kamar, yang lebih tua tertawa kala sadar tujuan mereka sama.
"Anak kita." Kata Gunil mengingatkan.
Jungsu mengangguk walau setengah bingung, dan sedikit gugup, karena untuk alasan yang tidak sepenuhnya logis, kalimat itu membuat detak jantungnya jadi tidak normal. Perkataannya seakan bilang bahwa Jungsu bisa melahirkan lima ikan badut dan itu anaknya bersama Gunil.
Biarlah, mungkin susunan otak orang yang tengah menjalani skripsi memang sedikit berbeda.
"Mas, gimana, dong?" Jungsu mengecek isi akuarium dimana Sumbul dan kawan-kawan masih berenang kesana-kemari seakan mau migrasi.
"Gue juga gak ada pengalaman lagi. Ini kalau mati lampunya sebentar, sih, harusnya aman walau oksigennya gak nyala." Gunil berkata, tangannya mencabut aliran listrik akuarium melalui stop kontak.
"Yaudah," Jungsu pikir hal ini memang masalah eksternal yang tidak bisa dia usahakan jalan keluarnya, jadi Jungsu duduk di lantai sembari mengamati ikan-ikan tersebut. "Kita jagain sampai nyala, gimana, Mas?"
Saran Jungsu di sambut anggukan dari Gunil.
Lelaki itu pergi ke dapur untuk beberapa saat membuat kegaduhan yang dapat Jungsu dengar, sebelum kembali dengan senyum polosnya dan empat buah lilin yang bersisa kurang dari setengah batang di tangannya.
Jungsu tertawa, "Ngapain bawa lilin, Mas."
Yang diajak bicara hanya mengangkat bahu dengan acuh, dia menjentikkan korek untuk membakar masing-masing sumbu lilin kemudian diletakkan di sekitar akuarium. Pendar cahayanya buat Jungsu kali ini dapat melihat kawanan ikannya dengan baik.
"Kayak gini, biar lo gak perlu nyipitin mata buat liatin ikan-ikannya." Mata mereka bertemu, Gunil menempatkan diri untuk duduk di sisi Jungsu. "Nanti gue gak bisa bedain lo masih bangun atau udah tidur."
Yang dibercandai begitu mendelik, dengan bahunya dia menyenggol lengan Gunil cukup kuat hingga sang empunya mengaduh. Jungsu tertawa pelan, "Lebay."
Yang lebih tua menatap Jungsu untuk beberapa detik sebelum menggigit bahu Jungsu.
Nah, kali ini sakit.
Jungsu merasa bahunya akan pegal untuk dua jam kedepan sebab habis dianiaya mas-mas hobi ngegym.
"Udah, ah!" Jarak di antara mereka terbentang sebab Jungsu meringsek, menjauh sembari merengek. "Lo kebanyakan bercanda sama Jooyeon, jadi hobi gigit-gigit!" Tudingnya tanpa alasan pasti.
Gunil berpikir sejenak, matanya hangat menatap akuarium yang ikan-ikannya sudah jauh lebih tenang. "Lo yang gak pernah bercanda sama gue, dari dulu, lho, gue begini." Ungkap Gunil.
Jungsu menelengkan kepalanya. Bingung harus menanggapi bahwa Gunil bilang mereka tidak cukup dekat, atau kenyataan bahwa Gunil bangga dengan tabiatnya yang hobi gigit. Tapi, Jungsu pikir hal ini seharusnya tidak dia pikirkan lebih lanjut, jadi dia membuka suara untuk menggoda, "Jadi lo mau bercanda sama gue, Mas?"
Baru Jungsu sadari bahwa Gunil merupakan sosok yang miliki pemikiran yang simpel, sebab tanpa biarkan detik berganti, Gunil mengangguk. "Jungsu kalo sama gue tegang banget, takut gue jadiin responden skripsi gue, ya?"
Goblok, dah, Mas-mas satu ini. Jungsu mana kepikiran bahwa dirinya memenuhi syarat untuk jadi salah satu dari daftar responden tugas akhir lelaki itu. Tahu judulnya pun Jungsu tidak.
Jungsu tertawa keras, "Lebih takut kalau gue dijadiin support system buat bantuin lo nyelesain skripsi, sih, Mas." Dia menjawab dengan nada yang sama main-mainnya.
"Yah," Gunil menatap Jungsu dengan raut murung yang seharusnya dibuat-buat. "Padahal emang itu tujuannya."
Jungsu menoleh ke arah Gunil, mencoba membaca wajahnya dalam keremangan cahaya lilin. Tapi lelaki itu cuma mengedipkan sebelah mata, seakan kalimat barusan tak berarti apa-apa. Atau, mungkin Jungsu yang sukar membaca bahwa Gunil sudah jadi orang paling jujur malam itu.
"Kalau minta ditemenin skripsian doang, sih, satu kosan juga bisa nemenin lo." Jungsu menjawab, kembali fokus pada ikan yang berenang tenang di akuarium. "Lo skripsiannya di ruang tengah, dong, Mas, kan ada Seungmin sama gue yang lagi ngelaprak."
"Tapi kadang, kan, Seungmin sama Hyeongjun nugas berdua di luar." Jawaban Gunil sudah bisa di prediksi Jungsu. Jadi yang lebih muda melontarkan tanya, "Terus, gimana? Lo mau ikut? Jangan, lah, kasian mereka mau berduaan juga."
Sejauh yang Jungsu ingat, bahkan sejak Jungsu memilih tinggal di sini setelah ospek universitas, Seungmin dan Hyeongjun memang sudah jadi pasangan secara romantis. Kalau Jungsu tidak salah ingat juga, Hyeongjun pernah berkata bahwa keduanya menjalin hubungan sejak masih bersekolah di bangku menengah pertama.
Namun karena suasana kos yang seringnya ramai, Jungsu kadang jadi merasa kasihan ke teman sebayanya itu, beberapa kali dia tidak sengaja interupsi kegiatan berciuman keduanya sebab harus pergi ke dapur atau baru pulang dari kampus.
Makanya! Jungsu jadi orang yang melarang keras orang lain ikut mengekori kegiatan Hyeongjun dan Seungmin. Sepasang kekasih itu butuh privacy! Jungsu suka melihat orang jatuh cinta! Dia akan jadi peri cinta di kos ini!
"Kalau gak boleh ikut Hyeongjun sama Seungmin, gue keluarnya sama lo aja, boleh?" Pertanyaan Gunil di jawab angguk dari Jungsu tanpa dirinya sempat berpikir dua kali.
"Boleh." Apapun demi teman-temannya supaya mendapatkan waktu berduaan.
Nanti dia akan minta Seungmin untuk belikan Jungsu selusin donat sebab sudah jadi baik hati sekali.
"Tapi, lo emang gak bosen ngurusin ikan terus?" Gunil mengajukan tanya.
Jungsu rasa setidaknya sudah empat puluh menit berlalu sejak listrik padam, sampai sekarang masih belum juga menyala. Keduanya yang diliputi rasa bosan akhirnya sepakat bahwa kawanan ikan dalam kotak kaca itu perlu sesekali mereka beri hadiah kecil. Malam ini bentuknya kubik cacing yang dibekali Si Ibu.
"Enggak, sih, habisnya gue udah bosen main handphone terus di kamar." Jungsu menjawab, tangannya ikut tercelup ke dalam air untuk berikan ikan-ikan itu makanan cukup bergizi. "Kan seru liatin ikan."
Gunil mengangguk, setuju. kubikan cacing di tangannya sudah habis. Jungsu merasa Gunil seharusnya jadi panitia Makan Bergizi Gratis saja, sebab lima ikan dia beri lebih dari satu ons cacing beku. Jungsu rasa Sumbul akan kenyang bego malam ini.
"Enak, ya, ikan gak banyak drama soalnya."
Jungsu tertawa mendengar balasan dari Gunil, dia tanpa tunggu waktu mengangguk. "Gak kayak anak kosan yang tiap malem rebutan remote TV."
Gunil menatap Jungsu, ikut tertawa. "Atau, yang tiap pusing ngelaprak malah ngabisin dua boks Donat Bahagia sendirian." Katanya.
Jungsu mendelik, lidahnya terjulur bermaksud meledek. "Atau, yang suka gigit-gigit."
Yang lebih tua tersenyum dengan puas seakan tujuan hidupnya tercapai sebab sudah tinggalkan impresi yang lumayan jenaka untuk Jungsu.
Sumbul dan Kimo di dalam akuarium masih berkelana kesana kemari, sementara yang lainnya tidak lagi berenang dengan cepat. Gunil asumsikan mereka sudah penat, mungkin para ikan tau kalau hari sudah malam. Jungsu pernah memberi informasi bahwa saat lampu mati atau dalam keadaan gelap, ikan juga akan tertidur sebab mereka pikir sudah malam.
Sedangkan Gunil di malam minggu ini, naasnya harus mengamati ikan-ikan itu agar tetap tertidur nyenyak. Poin bagusnya, ada Si Tetangga yang berada di sisinya malam ini.
Ada perasaan aneh yang Gunil sadari setahun belakangan ini acap kali dirinya berpapasan dengan Jungsu. Mungkin dari cara lelaki itu tersenyum hingga matanya menyipit, atau mungkin dari bagaimana Gunil sering kali melihat Jungsu berkedip manual dalam waktu acak sebab rambut depannya halangi jarak pandang. Atau mungkin dengan bagaimana Jungsu tersenyum pada Gunil dengan sama cerahnya seperti tiap kali lelaki yang lebih muda menyapa Jiseok atau Jooyeon yang merupakan teman dekatnya.
Dan perasaannya tumbuh karena Gunil tidak ada niat untuk membiarkannya layu. Meski Jungsu masih lebih sering mengobrol dengan Seungmin di bandingkan dirinya, meski Jungsu masih lebih sering bersandar pada bahu Hyeongjun dan memuji lelaki itu. Meski Gunil belum miliki keberanian sebesar itu untuk mengambil satu langkah pasti agar Jungsu sadari perasaannya.
"Tapi, lo pernah pengen jadi ikan, gak?" Gunil memecah hening setelah keduanya sadar para ikan sudah di ambang sadar. Suaranya berbisik, Jungsu refleks meringsek maju agar dapat tangkap suara Gunil lebih jelas.
Yang lebih tinggi berpikir sejenak sebelum menjawab, "Kayaknya.... pernah." Matanya tertuju pada pendar cahaya dari lilin yang Jungsu asumsikan akan habis dalam dua jam, "Tapi kalau di pikirin lebih jauh lagi, kayaknya sepi, ya. Kimi sama Kumi gak bisa ngobrol, gak bisa bercanda. Gak bisa ngerasain hal aneh kayak sekarang."
Gunil mengangkat alisnya penasaran, dirinya juga mendekati Jungsu, bahu mereka bersentuhan satu dengan yang lainnya. "Kayak sekarang?"
Jungsu mengangguk pelan, pandangannya berpindah dari cahaya lilin ke wajah Gunil yang di sinari oranye dari api lilin. "Ya, gini.... Tengah malem ngasih makan ikan, gelap-gelapan, ngobrolin banyak hal sama Mas-mas yang tadinya gue kira ngeselin banget."
Bahunya bergoyang ketika Gunil tergelak, "Oh, udah naik level, ya, dari Mas-mas nyebelin jadi Mas-mas biasa aja?"
Jungsu mengangkat bahu. "Mhm." Jemarinya yang sedari tadi berayun canggung, kini dengan perlahan mengusap lengan Gunil, Jungsu mengaitkan tangan keduanya. Nyaman. "Malah sekarang, gue rada berharap hal kayak gini bisa jadi kegiatan mingguan kita. It's enjoyable."
Kepalanya Jungsu sandarkan ke bahu Gunil yang terbentuk sebab Jungsu tau seberapa sering lelaki itu pergi ke gym. Jungsu memejamkan matanya, "Gue ngantuk, Mas."
Gawat. Jungsu yang ngantuk malah buat jantung Gunil rasanya hendak lari dari tempat.
+
Yang Jungsu ketahui, setelah malam itu, hubungannya dengan Gunil menjadi semakin dekat dengan cara paling menyenangkan yang bisa Jungsu rasakan.
Sekarang dirinya jadi tahu kalau Gunil juga sama seperti Hyeongjun, kegiatannya di kamar tidak hanya berkutat pada lembar garapan skripsi namun juga game online dengan set up komputer super ciamik yang Jungsu sadari karena dalam kurun satu minggu ke belakang ini, entah sudah berapa kali dirinya luangkan waktu di kamar yang lebih tua.
Tidak ada alasan pasti, dan Jungsu juga tidak tahu bagaimana itu terjadi. Yang jelas, kamarnya sendiri sekarang jadi kurang menarik lagi.
Mungkin karena tidak ada Gunil di kamarnya yang akan buatkan dia teh bluberi, mungkin karena kalau Jungsu di kamarnya sendiri tidak ada presensi Gunil yang berbaring di sebelahnya untuk mainkan rambut Jungsu dengan jemari. Mungkin karena Gunil dan pribadinya yang buat Jungsu bisa habiskan hari dengan nyaman.
Atau mungkin, Jungsu jatuh cinta.
"Menurut gue, iya." Seungmin masih berkutat pada laptopnya ketika dia sampaikan pendapat, tubuhnya tengkurap dan punggungnya jadi bantalan Hyeongjun yang tengah mainkan ritme asal dari gitar di tangannya.
"Iya apa, yang jelas!" Dua biji kacang goreng Jungsu lemparkan ke arah Seungmin untuk kenai dahinya. Buat lelaki itu mengaduh.
Hyeongjun menyesap minuman di tangan lelakinya sebelum dia angkat bicara, "Maksud Seungmin tuh, lo sama Mas Gunil emang saling naksir." Seungmin mengangguk, setuju dengan kalimatnya yang diperjelas Hyeongjun.
"Ah, tapi masa dia naksir gue," Tatapan Jungsu kosong menatap pintu kamar Seungmin, dia merenggangkan kedua tangannya sebelum berbaring dengan menggunakan perut Hyeongjun sebagai tumpuan.
"Ya emang kenapa, dodol, lo tuh cakep." Perkataan Seungmin tidak Jungsu gubris dengan serius. Jungsu seharusnya tidak memikirkan tentang perasaannya dengan seserius ini, toh Jungsu tidak apa kalau memang Gunil enggan miliki perasaan yang sama dengannya. Menurut Jungsu, cinta bisa dilakukan oleh satu orang, dan Jungsu tidak masalah kalau dirinya jadi orang yang cinta sendiri.
"Tapi kayaknya," Hyeongjun seruput es tehnya lagi. "Mas Gunil tuh emang udah lama naksir Jungsu." Perkataannya tidak masuk akal.
Memang harusnya di sore hari seperti ini, Jungsu bersihkan kamarnya saja, bukan malah pusing sendiri dengan perasaannya ditemani pasangan yang punya pemahaman nol besar tentang cinta.
"Iya, emang." Seungmin menyetujui, Jungsu dapat lihat dia menganggukan kepala. "Kan yang suka beliin Jiseok donat, tuh, Mas Gunil. Tapi syaratnya, buat Jiseok dua biji, buat Jungsu sepuluh biji."
"Lah, itu berarti dia naksir Jiseok, kocak!" Alis Jungsu menukik, dirinya dibuat bingung oleh pola pikir Seungmin.
Hyeongjun menggeleng, "Tapi seharusnya, Mas Gunil emang naksir lo, tau, Jungsu." Hal-hal seperti ini kalau Hyeongjun yang mengatakan, Jungsu jadi sedikit percaya.
"Masa, sih," Pikiran Jungsu masih mengawang. Lagipula, seingatnya selama dia jatuh cinta, biasanya dia akan senang dan menikmati apapun yang dia rasakan dengan cuma-cuma.
Meski sejak dengan Gunil, dia juga senang. Senang sekali, malah. Saking senangnya, Jungsu jadi sedikit tidak sabar untuk membicarakan perasaannya, untuk memiliki Gunil, atau untuk dimiliki Gunil. Pendapat apapun tentangnya dan Gunil bisa Jungsu terima dengan senang hati, asalkan sama Gunil.
"Gue pernah lihat, Mas Gunil beli gorengan buat anak kos. Tapi yang buat lo, dipisahin bungkusnya. Ada dua tempe, satu tahu isi, padahal yang lain dapet satu-satu." Sambil berkata, jemari Hyeongjun menyisiri rambut Jungsu dengan lembut.
Yang diperlakukan seperti itu hanya berdeham, memejamkan matanya.
Seungmin menyetujui dengan lantang, "Dia juga pengen deket-deket sama lo terus, tau, aslinya." Saking serunya pembicaraan mereka sore itu, laprak di laptop Seungmin tidak lagi dia perhatikan. "Waktu kita rame-rame di ruang tengah nonton bola, Mas Gunil tuh duduk di pojok, terus pas lo dateng dia langsung geser posisi. Biar bisa nyelipin tempat duduk buat lo."
Jungsu mana sadar afeksi dari hal sekecil itu. Lagipula, dia pikir hal-hal seperti itu memang alami antar teman, seperti halnya dia dengan Jooyeon yang akan berbagi makanan atau saling ajak ketika akan lakukan sesuatu.
Hyeongjun terdengar berpikir sebelum akhirnya ikut buka suara, "Dia juga gak jadi kayak Mas Gunil yang biasanya tiap ada lo." Tangan Hyeongjun beralih dari rambut Jungsu ke pipi empuk lelaki itu, dia tekan-tekan pelan sebelum dia cubit dengan gemas. "Dia tuh kalo ngobrol sama siapa aja sambil main HP. Tapi sama lo, enggak. Matanya nempel terus ke lo."
Jungsu mengangguk paham. "Kayak Seungmin tiap ngobrol sama lo?"
Hyeongjun menjawab dengan cepat, "Kayak Seungmin tiap ngobrol sama gue."
Kalimat persetujuan itu, menurut Jungsu punya makna yang besar karena seharusnya orang-orang di sekitar mereka lebih dari paham kalau Seungmin memang cinta mati dengan Hyeongjun. Tatapannya beda, kalau tatapan mata bisa jadi ajakan untuk menikah, berarti Seungmin sudah menikahi Hyeongjun setiap hari.
Kalau gitu, Gunil udah nikahin Jungsu juga tiap malam mereka ngobrol di depan akuarium.
"Terus juga, kamu inget, gak, waktu kita lagi sama Mas Gunil di dapur, ada Jooyeon juga lagi masak mie."
Perkataan Seungmin di jawab anggukan dari Hyeongjun. Lelaki itu lanjutkan bicaranya, "Mas Gunil pernah bilang ke Jooyeon, Jungsu kalau lagi gugup matanya suka kedip-kedip, lucu banget, gue naksir berat, deh."
Lah. Jungsu jadi bertanya-tanya dalam hati, memang bisa, ya, alurnya jadi terbalik gini?
+
"Apa itu, Mas?" Jungsu menoleh, tatapannya jatuh dari wajah Gunil ke tangannya yang sodorkan plastik putih. Yang lebih tua tersenyum, "Tahu isi yang depan fakultas lo itu. Suka, kan?"
Jungsu mengangguk dengan semangat, tangannya sigap menerima bungkusan tahu isi dari Gunil dengan senyum cerah. Yang lebih tua duduk di sisi Jungsu, punggungnya bersandar pada sofa, tas punggungnya dia taruh di atas meja.
"Makasih, Mas. Tau aja gue lagi pengen ini." Jungsu berucap setelah sukses dengan satu gigitan tahu isinya. Gunil mengangguk, tangannya hampiri rambut Jungsu yang sudah mulai panjang. Jari Gunil menyelip pelan ke helai rambut depan Jungsu, menyibakkannya dari mata lelaki tersebut.
"Sumbul udah makan?" Gunil melirik akuarium di pojok ruangan, lampunya yang semula berwarna putih terang kini berwarna biru khas konter pulsa, ide dari Jooyeon yang diam-diam YouTube Shortsnya sudah penuh dengan tutorial menghias akuarium dan cara merawat ikan badut.
"Udah. Tadi gue kasih cacing beku lagi, tuh, kayaknya masih pada seneng habis makan enak." Ucapan Jungsu dibuktikan langsung sebab kawanan ikan itu masih lincah berenang kesana kemari di hari yang sudah gelap ini.
Gunil mengangguk paham, dirinya berdeham dengan nyaman. Secara alami sandarkan kepalanya ke bahu Jungsu. "Besok udah gak ngerawat ikan-ikannya lagi, ya." Gunil berkata pelan.
Jungsu mengangguk. "Iya, kan udah lewat dua minggu. Lo sedih banget gitu, lama-lama gue mikir mereka beneran anak kita." Jungsu berkelakar, pancing tawa renyah dari Gunil.
"Nanti jangan di kamar terus aja, ya, Jungsu." Suara Gunil semakin lirih, tapi Jungsu tidak miliki keberatan akan hal itu. Keduanya masih sama-sama nyaman dalam posisi ini. Gunil bersandar pada bahu kiri Jungsu, sedangkan tangan kanan Jungsu berada dalam genggaman kedua tangan Gunil.
"Emang kenapa kalau gue di kamar terus?"
Meski keduanya tidak saling bertatapan, Jungsu lebih dari paham kalau Gunil tengah mengulas senyuman. "Nanti gue kangen."
Jungsu terkekeh, mengangguk. "Kangen gue atau kangen Sumbul dan kawan-kawan?"
Pertanyaan retoris. Satu dunia juga seharusnya sudah paham siapa yang jadi objek kangen Gunil. Tidak mungkin Sumbul yang bahkan mengobrol dengan lelaki itu saja tidak pernah.
"Kangen lo, lah." Gunil berkata dengan mantap. "Satu tahun naksir lo diem-diem dan gitu-gitu aja, ternyata deketnya karena jadi asisten akuarium, mana cuma dua minggu. Gue harusnya bisa belajar bersyukur dan bergerak pelan-pelan, tapi mungkin gue udah naksir mentok."
Jungsu tertegun. Yang dia tahu memang Gunil termasuk orang blak-blakan yang perilakunya susah ditebak, namun yang kali ini.... Jungsu mana pernah mengira akan dengar pernyataan cinta lelaki itu dalam keadaan yang seperti ini?
Jadi, dia tarik napasnya dan simpulkan senyum geli. "Kalau kata Seungmin, lo udah cinta mati, Mas."
Bukan elak yang Jungsu dapatkan, malah Gunil yang anggukkan kepala menyetujui. "Kalau kata gue, gue udah cinta mati." Gunil menjawab dengan lugas.
Gunil bangkit dari posisinya, Jungsu menatap presensi lelaki itu yang berdiri dan kembali sampirkan tas punggung pada pundaknya. Tanpa Jungsu dapat pikirkan dua kali, tangannya sudah berada di pergelangan tangan Gunil, menahan lelaki itu untuk pergi. Keduanya bertatapan dan Jungsu paham kalau tatapannya kali ini mungkin serupa dengan tatap mata cewek-cewek anime setiap memohon sesuatu.
"Mau kemana?" Pertanyaan Jungsu dijawab Gunil dengan nada kebingungan, "Mau mandi dulu, gue masih gerah, kan baru balik ngampus."
Jungsu menggelengkan kepalanya pelan, dia berbisik, "Mas Gunil gak mau denger jawaban gue dulu?"
Yang diajak bicara hanya tersenyum seakan Gunil adalah orang yang paling memahami Jungsu di antara miliaran orang di antero bumi. Lelaki itu berjongkok di hadapan Jungsu, buat dirinya lebih rendah dari Jungsu tangannya membingkai pada wajah, ibu jarinya mengelus pipi Jungsu dengan lembut. "Kan, gue gak ada minta lo jawab apa-apa."
Diajak bicara dengan nada lembut seperti ini buat Jungsu merasa seperti jadi anak kecil lagi. "Tapi mau jawab." Jungsu tidak pernah tau kalau dia dapat keluarkan rengekan yang seperti itu.
Kalau waras masih jadi temannya hari ini, mungkin Jungsu sudah punya rencana untuk kubur dirinya sebab malu.
Gunil menepuk kepala Jungsu pelan. "Mhm, boleh, Jungsu. Gue dengerin."
Nahkan. Giliran sudah dipersilahkan waktu dan tempat, Jungsu malah mati gaya. Lidahnya kelu. Tubuhnya kikuk dan kaku. Harus bilang apa dia pada Gunil? Bahwa Jungsu menyukainya juga? Bahwa Jungsu juga tidak keberatan kalau mereka sama-sama cinta mati? Bahwa Jungsu juga tidak akan rela kalau apa yang mereka miliki hari ini hilang begitu saja? Bahwa Jungsu mau miliki Gunil dengan sepantas-pantasnya, setulus perasaan yang dia miliki?
Haruskah Jungsu bilang bahwa Jungsu mau Gunil untuk jadi miliknya?
Atau, haruskah Jungsu daratkan kecupan pada bibir Gunil yang masih simpulkan senyum teduh?
Kalau Jungsu diperbolehkan untuk memilih, dia akan memilih opsi terakhir. Dan Jungsu adalah sebebas-bebasnya manusia, maka dia jatuhkan kecup pada ujung bibir Gunil dengan malu-malu. Tangannya juga menangkup pipi Gunil seraya dia tinggalkan kecupan pada ujung hidung Gunil yang mulai tutup matanya.
"Jadi pacar gue, ya, Mas."
Bibir Jungsu tengah kecupi pipi Gunil kala lelaki itu mengangguk pelan, setuju atas tawarannya. Maka Jungsu yang masih menangkup pipi Gunil mendekatkan wajah keduanya untuk jatuhkan ciuman pada bibir yang lebih tua, lidahnya dia biarkan keluar untuk jilat bibir atas Gunil secara eksperimental, keduanya memangut dengan hangat dan Gunil rasa ada pesta kembang api yang tengah membuncah di dadanya. Meledak-ledak buat perutnya melilit, sama seperti lidahnya yang Jungsu hisap dengan apik.
Jungsu hampir melenguh ketika Hyeongjun dengan langkah kakinya yang berderap berisik putuskan tautan antara keduanya.
"Noooo! Jangan ciuman di depan Sumbul! Anak gadisku jangan di kotori matanya!"
Seungmin di belakangnya tersenyum canggung. "Uhm, maaf, ya? Tapi kalau mau lanjut, boleh di kamar aja."
