Work Text:
Selain menjadi kapten tentara, Stanley juga dipercaya menjadi humas; menjadi bagian dari The U.S Special Operations Command (SOCOM) Public-Affairs. Parasnya yang jelita nan rupawan membuat ia sering wara-wiri di media, entah untuk kepentingan dokumentasi, iklan maupun wawancara.
Xeno, sang istri, tentu turut bangga sebab suaminya menjadi wajah bagi instansi pertahanan dan keamanan negara. Ia selalu menyimpan media apapun yang memuat Stanley di sana, terlebih jika itu berbentuk video.
Namun, sesungguhnya video-video itu lebih dari sekedar arsip bagi Xeno.
***
“Ohhh… Stan… Stanley… Mhhn…”
Sore itu, televisi di ruang keluarga menayangkan arsip dimana Stanley melakukan press conference terkait ancaman yang mengintai laut San Fransisco. Betapa fasih dan tegasnya pria itu berpidato dengan banyak mikrofon di podium, sembari menjawab berbagai pertanyaan dan ujaran keresahan yang dilontar oleh para wartawan.
Namun, kali ini Xeno sungguh persetan dengan apapun yang diucapkan Stanley di sana, melainkan video itu ditayangkan untuk ia tonton selagi rebahan di sofa. Sembari tangannya masuk celana. Seharian ini sang dokter sungguh tak fokus bekerja sebab hormonnya yang menggila karena ovulasi. Karenanya tubuh ia gatal dan bergelenyar, membikin ia ingin melakukan ini untuk melepas penat serta rindu dan hasrat yang menggebu-gebu— yakni merancap bertemankan video sang suami serta khayal mesumnya sendiri.
“Ohh… Stan… Please, I want you, Captain Snyder… Ahhhnn…” demikian desah sang platina kesepian, sembari satu tangannya meremas dada— dan satu tangannya yang lain terus mengocok liang farji. Bagi Xeno, tak perlulah ia melihat film biru untuk temani ia beronani sore ini, sebab Stanley yang berseragam militer laksana erotika berjalan yang ia gilai.
Hal yang, sayangnya, belum pernah terwujud, sebab saat itu Stanley ogah-ogahan ketika Xeno meminta sembari utarakan fantasinya,
“Ngapain sih, mau ngewe doang harus pake seragam? Males. Ribet. Kapan-kapan aja ah, Xeno.” begitu ujar Stanley.
Andai sang suami tahu. Jika di sela waktu luangnya, Xeno selalu berfantasi bahwa ia tengah digauli seorang perwira berseragam tentara. Tentu Xeno akan sangat menikmati persenggamaannya itu. Bahkan ia akan bersenang hati menghirup kuat-kuat keringat yang menguar dari baju militer tersebut hingga aroma tubuh penuhi rongga dadanya. Sebab sang perwira dalam khayal mesumnya ialah sang suami yang sangat ia cintai— sang Captain Stanley Snyder.
Begitu pula yang tengah ia khayalkan sore ini, sembari manik hitamnya tak lepas memandang layar kaca. Betapa gagahnya Stan-ku dengan seragam militernya itu, membalut tubuhnya yang terpahat indah nan selaras dengan parasnya yang rupawan. Betapa aku inginkan dia, pria berseragam itu, di atasku, menindihku. Lalu membentak-bentak aku sembari memasukiku berulangkali, layaknya sang perwira yang menghukum anak buahnya karena telah mengacau– dan si anak buah harus mau jadi gundik untuk dilecehkan sang perwira jika ingin karirnya selamat. Ahhhn, sungguh elegan! Akulah sang gundik milik sang perwira tentara, lontenya Captain Snyder, suamiku sendiri—
Begitu yang tersirat dalam rancapnya. Semakin jadi khayal bejat sang platina. Semakin jadi pula ia mendesah-desah, liang kawinnya yang ia rogol sendiri dengan jari makin berkedut hingga membecek berlendir di dalam celana.
“Hngghh..!!! Stan… I am so close…! Ugghn—”
Kini dua tangan Xeno yang masuk celana, satu tangannya memencet-mencet itilnya sendiri seraya satu tangannya yang lain mengocok tempiknya yang gatal. Membikin sang istri makin tak tahan lagi. Kenikmatannya makin terasa mendesak di ujung—
“Mhhn… Stan..!! Ahhnn—!! Fuckkk!!! I- I am cummingh—”
“Xeno…?”
Seketika sang istri gagal pelepasan. Yang tertangkap basah kini gelagapan. Xeno mati kutu, fikirannya sejenak membuntu; barangkali ia terlalu asyik melecehkan dirinya sendiri hingga ia tak sadari kehadiran sang suami. Tungkai kaki sang platina terus gemetaran– sebab klimaks yang tertunda.
“S-Stan–! A-A-Aku—”
Namun, tampaknya Stanley paham dengan apa yang telah terjadi tanpa perlu bertanya sekali lagi; bagaimana Xeno tengah carut-marut di sofa, dengan kemeja yang kancingnya terbuka sana-sini. Tak luput dengan dasi yang masih terikat di leher, namun telah tersampir ke sembarang arah. Sementara celananya melorot sampai lutut, dan kedua tangan sang istri telah berada di dalam celananya sendiri. Tak luput dengan wajah merah merona sang platina, dengan area basah yang menggelap di sana. Tak luput pula netra madu itu memandang televisi— memandang tayangan dirinya sendiri saat melakukan press conference.
Ternyata kau serius dengan permintaanmu yang aneh itu, Xeno. Kau gila, selalu gila. Aku menyukainya, sayang. Begitu batin Stanley, sembari ia loloskan celana Xeno hingga selatannya tak lagi tertutup apapun.
“E-eh— S-Stan—??!”
Stanley merebah dirinya pada sofa, posisi kepalanya di sebelah paha Xeno. Lalu dituntunnya sang platina—
“C’ mere, my love,” titah lembut sang suami, sembari mendudukkan sang istri di wajahnya. Membekap dirinya dengan farji basah itu—
“Mhhhn…. Stan..?!! Stanley…!! Oughhn…!!!”
Mulut Xeno tak henti mendesah-desah sebab mulut Stanley kini melecehkan farjinya. Bibirnya yang ungu mencumbu bibir bawah sang istri, melumat-lumat labia yang basah berlumuran lendir birahi. Tak luput kelentitnya yang bengkak dikulum kuat-kuat– lidahnya terus menjilat, menggetar-getar bundel syaraf yang mencuat tegang di sana.
“Ohhhn… damn!! Stan..!! K-Kamu– datang-datang l-langsung m-melecehkanku begini..!! Shitt… feels goodd!! Hngghh…!! S-Sungguh eleganhh, sayangghh…!! Hahhhnn…!” racau jalang Xeno– yang dalam berahinya ia sungguh kegirangan sebab salah satu mimpi basahnya perlahan terwujud; yakni sang perwira tentara berseragam yang kini tengah mencabulinya dengan mulut serta tangan— jemari Stanley yang kini merogol liang peranakannya. Membikin tempik sang istri makin basah, makin berkedut-kedut, makin terasa mendesak di ujung. Membikin pekik kenikmatan sang empunya tubuh makin menjadi-jadi– yang tak henti kelojotan sembari meremas dadanya sendiri di atas wajah sang suami—
“Mhnn… Ugghnn…!!! Stan– Stanley!! Fucckkk!!! I-I w-want t-to— C-CUM— C-CUMMINGH– FUCK— OOHHNN–!!”
Tak henti-henti Xeno blingsatan, bongkah pantatnya terus membentur-bentur wajah Stanley yang ia duduki— sembari cairan cinta menyembur kuat-kuat dari farjinya.
“Hgnhh… fucckk!! Mhhhn.. My dear Stan… Ahh.. sial.. Enakhh bangethh, sayanghh…!!” lenguh sang platina lagi sembari ia terus terkencing-kencing keenakan melepas nikmat yang tertunda— hingga terus basahi tak hanya wajah serta baju sang perwira, namun juga sofa tempat mereka (kelak) bercinta.
Sementara Stanley, ia menelan madu Xeno yang tertampung di mulutnya— sembari menghirup kuat-kuat bagian tubuh yang menindih wajahnya itu. Selain oleh (asap) rokok, Stanley gemar memenuhi rongga pernafasannya dengan aroma kenikmatan torok sang istri.
“Uhhn… Stan.. You okay, darling…?” tanya Xeno lirih, setelah orgasmenya mereda. Sesaat ia khawatir jikalau ia telah membuat Stanley sesak nafas sebab wajahnya terlalu lama diduduki— ataupun ia telah membuat sang suami tersedak oleh pipis enaknya.
Stanley masih ingin berlama-lama membenamkan wajahnya di antara kaki Xeno. Bahkan jika boleh memilih, sungguh tak masalah andai ia mati karena dibekap pantat serta selangkangan sang istri. Namun, kemudian sang suami teringat bahwa ada sesuatu yang sangat ingin ia tunjukkan pada pria kesayangannya itu.
Maka, selanjutnya jawaban Stanley adalah dengan mengangkat kembali pinggang Xeno, menyingkirkan sejenak tubuh sang istri dari wajahnya.
Kini Xeno dapat melihat rambut, wajah, hingga bagian torso dari seragam militer pujaan hatinya telah basah kuyup, kotor belepotan pejuhnya sendiri. Xeno suka melihatnya; bisa-bisa birahinya melejit lagi.
Dan ia semakin suka dengan apa yang akan Stanley lakukan selanjutnya,
“Mhhn… Xeno, please, look…” lirih sang suami sembari ia lepas kancing seragamnya– menyingkap bajunya hingga dadanya yang padat berotot menyembul keluar. Ternyata sebelah kanan ranumnya telah bertato, bertinta hitam, bertuliskan “Xeno” yang berhiaskan doodle gambar hati. Sembari ia pamerkan oleh-oleh dinas di dadanya, ia mulai pelintir puting susunya yang merah muda hingga makin mengacung.
“Ohhn… Stan…! Stanley..! Ughhn… Sungguh elegan, sayangku…!!” lirih Xeno, nafasnya tak ayal memburu. Pertanda ia sangat suka dengan apa yang ia lihat. Sebab sang suami yang pulang lalu merebah di sofa sembari menyentuh dirinya sendiri, ternyata lebih dari sekedar mewujudkan fetish militer sang istri.
Xeno takkan menahan diri lagi— ia ulurkan tangan, menjamah-jamah dada Stanley yang padat nan bertato itu. Seraya darahnya kembali berdesir-desir– ia nikmati sentuhannya sendiri pada ranum milik pujaan hati. Semua itu lambat laun hadirkan kembali gelenyar hingga ke bawah perutnya; hingga kembali membuat basah dan berkedut di antara dua kakinya.
Stanley pun menikmati remas-remas lembut tangan Xeno di dadanya. Namun ia ingin lebih. Memohonlah pria itu, teramat manja— sembari selipkan jemari tangan di antar labia sang istri, lalu memencet-mencet kelentit besar di sana,
“Ohh… Xeno..! Please, molest me more, sweetie…! Please, molest my nipples like you always did— Mhhnn!”
Xeno langsung mengerti pinta sang suami, sebab ini bukanlah yang pertama kali. Ia duduki ranum dada suami— menekan lalu menggesek-gesek kelentitnya berulangkali pada puting susu yang mencuat tegang itu.
“Ohhnn… You like this, my dear Stan?” lirih sang platina, yang berbalas desah manja serta angguk mesra sang manik madu.
Kemudian pinggang Xeno dicengkram— Stanley inginkan kemaluan sang istri makin menekan dadanya. Hingga makin terasa keras pentil dan itil pasutri itu sebab terus beradu.
Tak luput tangan sang suami yang kini juga meremas-remas ranum dada– serta memilin pentil susu tubuh di atasnya. Membikin sang istri menggelinjang lagi—
“O-ohhn.. Stan..! Uhhnn.. W-What if I- I can’t h-hold any longer— Mhhhn—”
“Please do, my dear Xeno,” tandas Stanley, lirih. “Ini kan yang kamu mau, Xeno sayang…? Ngelecehin aku yang pake seragam militer kayak gini— Heh? Xeno??”
Ternyata Xeno keasyikan menduduki susu Stanley; tahu-tahu tubuhnya gemetar lagi tak terkendali— cairan cintanya muncrat lagi, makin basahi baju seragam militer sang suami.
“O-ohn..! S-Stan!! I– I came a-again– Hngh—”
Kini tangan Stanley turun dari dada ke bawah perut Xeno– menekan-nekan perlahan; membantu Xeno tuntaskan orgasmenya.
“Ugh… Xeno..! You’re soo fucking sensitive, my sweetie.” ujar sang suami– yang kini tangan satunya makin turun ke bawah. Ternyata untuk menyibak lebar-lebar labia sang istri. Ingin melihat langsung kelentit yang mencuat tegang serta farji yang tengah berkontraksi melepas nikmat— berkedut-kedut karenanya.
Tentu saja Stanley tak puas jika hanya sebatas melihat. Ia inginkan vagina yang ia sentuh berkontraksi makin sering. Ia selipkan jemarinya di antara bibir kemaluan Xeno– untuk kemudian ia pilin-pilin kelentit di sana–
“F-Fuck??!! M-Mhhhnn..!! Stan–?! S-so brute!!! Hnghh!! K-Kau ngapain, sayanghhh??! Please, hold on–!! Geli bangetthh– a-aku masih m-muncrathh!!” racau dan erang Xeno makin tak menentu, saat ia rasakan jemari Stanley masuk lagi ke dalam dirinya. Membentuk gunting, kembali merogol titik manis di dalam liang kawinnya— hingga makin terasa gatal tak berujung. Hingga cairan cintanya tak henti-henti menyembur. Dan sang perwira takkan berhenti meski seragamnya kini telah basah kuyup berlumuran kencing, hingga gundiknya— istrinya hampir-hampir menangis minta ampun sambil kelojotan–
“AHN..!! S-Stan..!!! Ampunn, arggghhnn…! J-Jangan d-dikobelin t-terus!!! Hiks— OUCH!!”
Setelah menampar farji Xeno, Stanley sudahi keusilan jemarinya di sana. Ia menarik dasi sang istri– bermaksud mengarahkan paras rupawan sang platina ke arah dadanya, baju dinasnya yang basah kuyup– sebab semua perbuatan dia.
“Lihat, bajuku jadi basah kuyup begini, Xeno sayang. Tolong bersihkan pake lidahmu.”
Mata onyx itu membelalak senang, ia menatap nyalang dari ujung rambut si pirang, pakaiannya, hingga hampir ke ujung kaki.
Setelahnya, Xeno meremas lembut gundukan yang telah sedari tadi mencuat di balik celana Stanley. Berbisiklah ia,
“Tentu, sayangku. Tapi sambil masuk, ya? Please…?”
***
Bintang-bintang seolah bermunculan di langit saat Xeno menyatukan dirinya dengan Stanley– memasukkan besar milik pria itu di dalam dirinya. Seketika ia tak henti menghentak-hentak bongkah pantatnya pada selangkangan sang suami, agar batang zakar itu masuk lebih dalam, dan semakin dalam..
“Auughn… Shh…!! Stan..!! Feels goods..!! Mhhnn..!” begitu lenguh manja nan cabul dari mulut sang platina, yang tak henti-henti merogol liang kawinnya sendiri. Sebagai wujud syukur atas nikmat batang berurat sang suami di dalam dirinya. Sebagai wujud syukur atas terkabulnya salah satu mimpi basahnya; yakni sang perwira berseragam tentara yang kini sedang memenuhinya.
Begitu pula dengan Stanley, tak henti ia gerakkan pinggulnya sendiri— merogol farji Xeno dengan batang kontolnya. Sebagai wujud syukur karena bercinta dengan sang platina tercinta setelah merindu sekian lama.
“Ohh, Xeno my darling..! This is all you want, right?” bisik mesra Stanley sembari nafasnya memburu– sama berderu seperti nafas tubuh di atasnya.
Tanpa malu, yang ditanya menjawab di sela desahnya, “Mhhnn.. Yesh, Captain— ACKHN—!”
Xeno memekik sebab Stanley yang sontak menarik dasinya hingga leher ia terjerat. Rupanya wajah si platina dibawa ke arah torso atas sang perwira yang basah kuyup berlumuran madu sang platina.
“Kubilang jilat, lonte.”
Liang kawin Xeno makin berkedut kencang dikatai begitu, sementara wajahnya terus dijejal ke dada sang suami. Kini sang dokter lonte bersenang hati menjilat-jilat ranum susu yang berotot itu, membersihkan keringat serta bekas kencing di sana dengan lidahnya— sungguh terasa lezat. Tak luput mengemut putingnya bergantian hingga makin mencuat dan keras— seperti ujung ranumnya sendiri. Ia tahu betul bahwa Stanley sama seperti dirinya, sama-sama sensitif di dada. Terkias dari lenguh dan geliat sang suami,
“Mhhn.. Xeno…!”
Setelah puas memanja dada Stanley, kini giliran mulut sang platina yang membersihkan torso seragam bagian atas itu dari sisa-sisa perbuatannya. Ternyata Xeno bisa usil juga— digigit-gigitnya kancing seragam itu sembari tangannya kembali meremas-remas dada sang empunya tubuh. Stanley merasa gemas melihatnya— maka ia tarik lagi dasi sang platina, membuat wajah mereka makin mendekat hingga hampir tiada jarak.
Sesaat Xeno mengira bahwa Stanley akan menciumnya. Namun—
“ACKHHNN!!! Ughh– Uhukkhh…!!”
Sang platina makin berkelojot tubuhnya saat sang suami mencekik serta menampar dirinya teramat keras beberapa kali– sembari masih menggauli. Terasa sakit, perih, membuat pusing, semua itu menjelma jadi nikmat yang tak lazim di persetubuhan mereka. Dan ini bukan yang pertama kali; Xeno selalu suka diperlakukan seperti ini. Begitu pula dengan Stanley, ia pun sangat menyukai dengan apa yang ia lihat: yakni paras cantik si gundik yang ia entot kini makin memerah dan lebam, ujung bibirnya pun mulai terlihat setitik darah. Sembari air matanya mulai berlinang serta lidahnya menjulur-julur sebab nikmat deraan darinya.
“Ackkhnn… C-Captain Snyder my love…! Haarrghn…! K-Kamu selalu menganiayaku seperti ini..!! Mhhn..! Hikss…! Sungguh eleganhh, sayanghh…!”
Stanley menjerat lagi leher sang gundik dengan dasi, lalu menamparnya kuat-kuat sekali lagi. Lalu, berbisiklah ia teramat cabul, “Ohh… Xeno…! Lihat dirimu..! Kamu malah semakin basah dan berkedut saat kusiksa begini.. Persis pelacur.”
Tutur biadab Stanley buat pekik tangis kenikmatan Xeno makin menjadi— begitu pula dengan genjotan ia di batang kontol sang suami,
“Ougghhnn, fuckkk!!! Stan…!! K-Kenapa jadi lacurmu sungguh senikmat i-ini, C-Captain?! Hngghh..!!!”
Stanley makin geram— ia tekan kuat-kuat rahang Xeno dengan jarinya, supaya mulut itu terus menganga.
Phuuh.
Ternyata untuk meludahi mulut sang istri.
Namun, setelahnya..
“Maaf, Xeno istriku. Maafkan aku yang tadi kelewat kasar hingga membuatmu berdarah begini,” begitu batin Stanley, yang terkias dari jilatan ia pada ujung mata Xeno yang berjejak air mata, lalu turun menjilat lecet berdarah di ujung bibir sang istri.
Setelahnya, giliran lidah ia yang masuk ke dalam rongga mulut sang platina— tentu berbalas kuluman manja. Berlanjut jadi saling menumpah ruah rasa cinta serta hasrat setelah sekian lama merindu— melalui perpagutan ranum anggota lisan, yang masing-masing bibir saling berpagut, serta lidah yang saling bertaut. Hingga saliva menguntai dan menetes-netes sampai dagu.
“Mmmhnn…”
Tak luput masing-masing cumbu turun ke leher bergantian. Seringkali menggigit mesra terlampau nikmat hingga meninggalkan tanda cinta berbentuk bibir di masing-masing ceruk itu. Tangan mereka pun tak pernah berhenti menjamah-jamah masing-masing ranum dada.
Selama itu pula manik Xeno seringkali tak luput memandangi Stanley, mengagumi dan memuji ia yang berseragam militer itu melalui desah kenikmatan serta kedut pada kelaminnya. Ia sungguh suka, tubuhnya sungguh suka dicintai, lalu dilecehkan hingga dirogol begini sadis oleh sang perwira tentara tercinta; fantasinya mutlak menjadi nyata. Begitu pula dengan Stanley; seiring batang zakarnya pun makin menggembung— seiring sanggama ia yang makin menjadi-jadi dengan sang istri, ia membatin: ternyata menganggap rendah istriku seperti ini rasanya tidaklah buruk; rasanya senikmat ini. Entah mengapa aku jadi suka— hasratku makin melejit saat kubuat Xeno tersayangku menderita sembari kugauli liang peranakannya.
Dan itu terkias dari bunyi kecipak basah dari persenggamaan mereka. Bunyi yang semakin terdengar becek, semakin terdengar cabul saat akhirnya ejakulasi menyembur dari masing-masing kemaluan; Stanley yang menyembur banyak-banyak pejuh di dalam Xeno, begitu pula dengan sang platina yang kembali muncrat entah kesekian kali.
“A-auuhhn..!! Stan—! K-kamu keluar banyak sekali…! Punyaku terasa hangat— Mhhn…!!”
Namun, kali ini tampaknya farji sang istri berkontraksi nikmat terlampau kencang– sementara zakar sang suami masih berada di dalamnya—
Poofftt. Poofft. Poooffttt.
“Ahhn— Ahhh– Ohh— What the fuck?!!! S-Stan..?! Arghn, maaf..! I-Itu sungguh tidak elegan— Ughhnn! Sialan, memalukan sekali!”
“Ohh, ahahahah! Don’t worry, Xeno my sweetheart. You came very hard over my cock, that led your cunt… You know. Queefing,” tutur Stanley selepas orgasmenya, lalu memeluk Xeno serta mencolek ujung hidung si platina yang menunduk malu — sebab vaginanya tak sengaja buang angin saat berkedut melepas nikmat.
“Seenak itukah dientot olehku, Xeno sayang? Sampai-sampai memekmu mengempot-empot begitu—” rayu cabul Stanley, yang berbalas pukulan manja Xeno di dadanya.
“Sshh…! Diamlah, dasar tentara cabul—”
“Oh, benar sekali. Mulai saat ini, akulah si tentara cabul yang siap melecehkanmu persis seperti khayalan gilamu—”
Dada Stanley dipukul lagi sebelum ia sempat tuntaskan sarkasnya.
Lalu, sejenak sepasang pasutri itu pun tertawa-tawa atas senda gurau garing nan senonoh di antara mereka. Sementara masing-masing kelamin masih bersatu.
Sesaat kemudian, tiba-tiba Stanley kembali mengerjai Xeno— menghentak lagi zakarnya di dalam.
“Hnghh! Heh!! Stan! K-Kamu—?!”
Saat itu pula Xeno merasa bahwa milik sang suami perlahan menggembung lagi.
“Ahhn, ahahaha… Ternyata aku terlampau merindukanmu, Xeno… Sampai-sampai rasanya tak cukup jika hanya sekali bercinta denganmu,”
Xeno tersenyum sumringah, wajahnya menghangat— ia senang dengan fakta bahwa dirinya membuat sang suami birahi lagi. Birahinya pun turut melejit lagi.
Saat Stanley kembali membelai mesra rambutnya, saat itu pula bibir mereka kembali bertemu dan bergumul mesra. Lidah mereka kembali bertalian sejenak— cumbu sarat nafsu yang membikin hasrat mereka kembali menggelegak hingga gelenyarkan kemaluan.
“Ohh, that’s very elegant..! Please, Captain Snyder…! Please, kontolin aku lagi, Captain…!” mohon Xeno, sembari pinggulnya kembali menggerak– kembali mencari rasa enak dari tubuh bawahnya.
“Mhh, Sure, my slutty Doc.” lirih sang perwira, berbalas menghentak kencang liang peranakan di atasnya— hingga mentok serta telak menyundul titik manis.
Dan mereka menghabiskan hari bersanggama hingga lupa diri, hingga bertemu pagi, dengan bermacam-macam posisi. Menumpah ruah segala fantasi birahi melalui semburan mani. Jika sudah bosan di sofa, mereka akan melepas rindu seperti itu dimana pun di sudut rumah— sementara masing-masing pakaian kerja telah berserak entah di mana.***
— (inspired by this one of stanxeno fanart. let’s appreciate and support the artist <3)
