Actions

Work Header

hamster plushie

Summary:

“Anak itu cerita apa lagi? Kemarin udah bikin kamu mohon-mohon buat naikkin kontol kakak, sekarang apa lagi?”

 

“Mau dipake asal-asalan,” Hanbin mengucapkan kata tersebut gak pakai malu-malu, lagian urat malunya udah putus kalau lagi sange begini. Persetan dengan respon Jiwoong, cowok itu gak mungkin menolak permintaan Hanbin. “Terus sambil pegang Dudung.”

Work Text:


“Kak..... Bisa cepet gak sih.........”

Kalau udah begini Jiwoong gak ada pilihan lain selain menenangkan diri, menutup seluruh jendela yang menampilkan file dokumen di laptop dan segera menutupnya. Jiwoong juga gak lupa meremas rambutnya sendiri karena terlampau stres akibat suara-suara yang dilontarkan oleh si pacar manjanya itu. Hanbin daritadi udah naik di atas pangkuan Jiwoong, memeluk boneka hamster kesayangannya itu. Wajahnya udah merah padam, bola matanya udah dilapisi cairan bening yang membuat tampilannya semakin mengilap di sana.

“Abis nonton apa sih, Hanbin?”

Jiwoong meremas kuat pinggul dan pantat Hanbin hingga yang lebih muda menggelengkan kepalanya heboh. “Bukan nonton.... Zhang Hao—aku denger ceritanya Hao.”

“Anak itu cerita apa lagi? Kemarin udah bikin kamu mohon-mohon buat naikkin kontol kakak, sekarang apa lagi?”

“Mau dipake asal-asalan,” Hanbin mengucapkan kata tersebut gak pakai malu-malu, lagian urat malunya udah putus kalau lagi sange begini. Persetan dengan respon Jiwoong, cowok itu gak mungkin menolak permintaan Hanbin. “Terus sambil pegang Dudung.”

Jiwoong cuma bisa geleng-geleng kepala. “Kerjaan aku belum selesai loh.” Mungkin di benak Jiwoong sebaiknya setahun yang lalu dia nikahi saja adik tingkatnya itu, bukannya terus ambisius melanjutkan studi mengejar gelar profesi untuk mendapat pekerjaan yang mumpuni.

“Nanti ajaaa....” Juga bukan Hanbin kalau gak ngerengek demi mendapatkan apa yang dia mau—apalagi di hadapan Jiwoong.

Duh, gak tau lagi isi telinga sama otak Jiwoong udah campur aduk. Konsentrasinya buat menyelesaikan pekerjaan lenyap tenggelam bersamaan dengan nafsu. Hanbin merangkum kedua pipi Jiwoong setelah meletakkan si boneka hamster di antara pahanya, gak lupa dia senyum dengan sorot mata yang Jiwoong artikan sebagai 'undangan' untuk melanjutkan ke sesi yang lebih intim.

Jiwoong menyelipkan kedua tangan ke dalam kaus putih yang dikenakan Hanbin, mengelus pinggang sempitnya yang sedikit berisi karena anak itu sedang mogok ikut olahraga karena terlalu sibuk dengan tugas akhir. Tapi, bukan masalah bagi Jiwoong, di matanya Hanbin tetap sempurna selayaknya karya seni yang terkadang ingin sekali dia hancurkan saat malam lalu dia susun lagi—dia sayang-sayang sampai pagi.

“Mana bisa sih aku pake kamu asal-asalan? Kamu cocoknya disayang-sayang.”

Ada benarnya tapi juga ada bohongnya. Biar kelihatannya lembut dan penuh kesabaran, tapi Jiwoong juga manusia yang terkadang punya imajinasi atau beberapa hal yang ingin dia lakukan bersama pasangan tercinta.

Tapi, memang dasarnya udah kepalang sange, antara mulut, badan, dan otak udah gak koheren. Hanbin gak menjawab pernyataan Jiwoong melainkan bergerak maju dan mundur, menggesekkan belahan pantatnya di paha yang lebih tua. Selangkangan Hanbin udah kerasa lembap bikin dia makin gak nyaman, gelisah ingin cepat-cepat digarap betulan sama Jiwoong.

“Gak sopan, Hanbin. Kalau aku ajak ngomong tuh respon yang bener, fokus liat mata aku, bukannya ngeliatin selangkangan.”

Bibir Hanbin mencebik, kedua pipi bulatnya total memerah dengan air mata yang udah berkumpul siap terjun kalau malam itu Jiwoong benar-benar merojok analnya sembarangan. Benar aja, gak sampai semenit, Hanbin bisa ngerasain jemari Jiwoong yang bergerak pelan di paha dalamnya. Celana pendek yang dikenakan Hanbin seakan gak ada guna, apalagi sedari tadi memang sengaja Hanbin naikkan sampai atas, mengekspos keseluruhan paha tanpa cela.

“Nakal. Pake celana sependek ini, gak pake daleman tuh biar apa, Hanbin?”

Isi otak Hanbin udah penuh sama kabut, dia gak bisa mikir lagi waktu Jiwoong ikut megangin pinggulnya biar gerakan di atas paha cowok itu semakin intens. Celana pendeknya udah gak berbentuk lagi. Air mata Hanbin akhirnya lolos waktu sadar cairan pra ejakulasinya merembes dari balik celana dan Jiwoong tentu gak menyia-nyiakan hal tersebut.

“Biar... Gampang...” Hanbin udah gelagapan, air liurnya nyaris bikin dia tersedak kalau Jiwoong gak langsung lumat bibirnya kasar. Rambut Hanbin diremas Jiwoong seiring keduanya memperdalam ciuman, mengejar entah apa hingga hanya suara kecipak dan napas yang bersahutan di seluruh penjuru kamar.

“Gampang apa? Coba ngomongnya yang jelas dulu...”

Tangan Jiwoong udah mulai bergerak turun, mengelus pinggul, serta dua bongkah sintal milik Hanbin yang kelihatan makin seksi kala celana pendeknya di selipkan ke arah dalam. Jiwoong tampar kedua pantat Hanbin yang sontak membuat sang empunya merengek minta lebih, mungkin satu atau dua jari cukup membuat rengekan tadi semakin memenuhi telinga yang lebih tua.

“Kak—”

“Pegang Dudungnya yang bener.” titah Jiwoong sambil memanuver tubuh Hanbin untuk rebah di bawah kungkungannya. Celana Hanbin udah dilepas, ninggalin kaus tipis yang udah keangkat setengah. Nampilin perut Hanbin yang kelihatan lembut sama putingnya yang udah mencuat menarik buat dimainin. Juga penisnya yang udah meronta meminta afeksi. “Seksi banget.”

Kalau Hanbin lagi mode normal bukan sange kayak sekarang mungkin dia bakalan merespon perkataan Jiwoong sambil bercanda. Tapi sekarang bukan itu masalahnya, dia butuh diapa-apain, butuh dienakin. Hanbin pegang Dudung selayaknya hidup dia bergantung sama boneka hamster tersebut, kakinya dia lebarin biar Jiwoong bisa lihat dengan jelas kalau lubangnya udah megap-megap mau dipenuhin. Pipinya yang merah itu makin basah karena air mata Hanbin keluar lagi, dia sange berat tapi pacarnya masih sibuk mainin putingnya.

“Kakak, cepetan ih!”

Jiwoong yang baru kelar kasih perhatian ke seluruh badan Hanbin, masih mencoba untuk ninggalin beberapa tanda di perut pacarnya itu. “Cepet cepet tuh mau ke mana sih?”

“Mau di—penuhin—akh! Ahn-ngh.” Hanbin pegang kuat tangan Jiwoong yang sekarang udah turun ngegodain penisnya, omong-omong daritadi dianggurin menyedihkan. Hanbin naik lagi, cairannya udah ngebasahin lubangnya. Hanbin gigitin bibirnya sendiri, tangan sebelahnya megangin Dudung, dia remas kuat tiap kali Jiwoong kasih atensi di bagian sensitifnya.

Sekarang giliran cincin anal Hanbin yang Jiwoong mainkan pakai jari, sesekali dengan gerakan memutar sebelum cowok itu benar-benar menusukkan jarinya ke dalam sana. Tatapan Jiwoong gak pernah lepas dari wajah Hanbin, tiap detail ekspresi pacarnya dia perhatikan dengan baik. Jiwoong suka. Jiwoong suka lihat Hanbin yang tersiksa sekaligus keenakan, bikin penisnya makin tegak bersemangat meski permainan inti belum dimulai.

“Lagiii-hh...”

“Apanya yang lagi? Udah gak sabar dikontolin ya?”

Hanbin cuma mengangguk beberapa kali, pinggulnya yang naik-naik sampai harus Jiwoong tahan tiap kali analnya dirojok dua jari. Dari gerakan lambat sampai gerakan ngegunting, Jiwoong kasih Hanbin kesempatan beradaptasi supaya nanti gak terlalu kesakitan.

“Jawab pakai mulut, Hanbin.”

“Mau dikontolin sampe mentok, please please... Kondomnya abis... Ah—Kak! Langsung aja gak apa-apaaah-” Yang keluar dari mulu Hanbin kedengaran asbun. Otak, mulut, sama badan Hanbin udah gak sinkron satu sama lain. Yang penting Jiwoong udah bisa nangkap apa inti yang disampaikan oleh pacarnya itu.

Jiwoong dengan kesabarannya yang cuma seujung kuku, akhirnya ngeluarin penisnya yang nyaris loncat daritadi. Dia meringis waktu mijit batangnya perlahan, sengaja dia liatin di hadapan Hanbin. Mata sayu Hanbin cuma bisa ngeliatin, gak bisa kontrol wajah mupengnya dengan bibir setengah terbuka. Kedua paha Hanbin udah dilebarin dan ditahan sama Jiwoong, ditekuk, mempermudah aksesnya.

“Langsung ajalah, udah becek banget minta dihamilin gini.”

Basa-basi Jiwoong yang gak masuk akal, tapi bisa bikin Hanbin muncrat padahal belum disentuh sama sekali. “M-mau. Mau dihamilin.”

“Siapa yang kasih izin keluar duluan?” Jiwoong menekan ujung penisnya ke lubang senggama Hanbin, dia putar di sekitaran sana, naik turun membuat ujung jemari kaki Hanbin menekuk ke dalam.

Pandangan Hanbin udah buram, kakinya pegel karena daritadi cuma ngangkang. Padahal dia cuma mau dikontolin tapi rasanya susah banget!

“Kak—ayo plis masukkin aja... Akh, aangh—”

Jiwoong menggeram rendah saat berhasil mendorong penisnya masuk ke dalam anal Hanbin yang udah licin karena cairannya sendiri, dia keluarkan setengah lalu dia hentak kembali pakai tenaga. Bibir Hanbin yang daritadi udah kebuka cuma bisa mejamin mata, banting kepalanya sendiri ke bantal. Kuku-kukunya tenggelam d lengan Jiwoong. Bagian bawah Hanbin kerasa panas, penuh, tapi enak.

Boneka hamster itu Hanbin remas kuat waktu Jiwoong mulai genjot lubangnya pelan, nikmatin penisnya yang juga diremas-remas sama dinding anal Hanbin yang rapat. Jiwoong juga gak nyia-nyiain kesempatan buat lumat lagi bibir Hanbin, dia gigitin bagian bawahnya, gak lupa dilesakkannya pula lidah gak bertulang itu buat nyapu seisi mulut Hanbin. Bertukar saliva seiring dengan gerakan pinggulnya yang gak ngerti apa itu pelan.

“Ah, ah, Kak—tebel banget. Enak... Penuh...”

Tubuh Hanbin tersentak-sentak mengikuti tempo permainan Jiwoong malam itu. Kakinya sengaja Hanbin lingkarin di sekeliling Jiwoong, berharap biar penis pacarnya itu makin ditelan oleh lubangnya. Bibirnya melengkung ke atas waktu Jiwoong juga bermain-main di lehernya, ninggalin beberapa tanda di sana.

“Di dada ajaaah—jangan leher. Aw—aduuuh, iyaaah di situ, tato...” Hanbin remat pelan rambut Jiwoong sebelum dia cium lagi bibir cowok tersebut. Si Gemini itu kemudian berbisik pelan di daun telinga Jiwoong, tersenyum centil, “pejuin di dalem ya, Kakak Ganteng. Sampai penuh, sampai luber.”

Jiwoong yang disulut kalimat-kalimat cabul yang tercipta dari bibir cantik Hanbin gak bisa diam gitu aja. Dia percepat hentakan penisnya di dalam, menyundul titik manis Hanbin berkali-kali sampai yang di bawahnya cuma bisa mendesah dan nyebut-nyebut namanya gak karuan.

“Kakak pejuin di dalem sampe kembung, mau?”

Hanbin mengangguk, bola matanya bergulir ke belakang saat Jiwoong mengubah tempo sodokannya jadi perlahan namun dalam. Diusapnya perut Hanbin seakan pacarnya itu mampu menampung benihnya di dalam sana, lalu menyunggingkan senyum miring.

“Dipenuhin... Sampe hamil.”

Jiwoong bergerak semakin brutal, sampai tubuh Hanbin terhentak layaknya boneka rusak. Dudungnya udah terlepas dari genggaman tangan entah jatuh ke mana.

“Mau, mau!” Hanbin yang udah lagi gak bisa mikir cuma menjawab ucapan Jiwoong yang gak masuk akal tadi. Ekspresi wajahnya udah bloon, analnya yang terus-terusan dirojok juga ikut meremas penis Jiwoong sebagai akibat dari obrolan di luar nalar mereka berdua. Belum lagi wajah Jiwoong yang basah karena keringat itu makin kelihatan seksi, juga erang serta desah yang memabukkan keluar masuk telinga Hanbin. Akhirnya sukses membuat perut bagian bawah Hanbin menegang lagi. “... U-udah, Kak, mau keluar lagiiii-h-aaangh mau muncrat lagii.”

Dua, tiga, empat, sampai genjotan terakhir, sebelum Jiwoong menahan penisnya begitu dalam dan menyemburkan cairan spermanya ke dalam Hanbin. Tubuh Hanbin gemetar mencapai puncaknya yang mengotori perut juga Jiwoong. Pun Jiwoong gak berhenti untuk terus nyodok anal Hanbin dangkal, dengan tujuan jangan sampai ada cairan miliknya yang terbuang sia-sia.

Jiwoong singkirkan helaian rambut Hanbin yang basah karena keringat, supaya gak ngehalangin mata. Hanbinnya yang cantik, wajahnya yang mengilap dilapisi keringat, bibirnya yang merah karena bengkak, juga dadanya yang naik turun mengatur napas. Tubuhnya yang penuh tanda milik Jiwoong kontras dengan warna kulitnya yang cerah. Cairan putih milik Jiwoong langsung meleleh keluar sewaktu dia nyabut penisnya dari lubang Hanbin.

Cantik, selalu cantik.

“Dudungnya ke mana?” tanya Jiwoong waktu napas mereka udah kembali normal dan dia udah rebahan di samping Hanbin.

Hanbin mengangkat bahunya kemudian mengubah posisinya untuk memeluk Jiwoong dari samping. “Gak tau, tadi kayaknya jatuh pas kakak nyodok akunya kenceng banget.”

Jiwoong mengecup bibir Hanbin, pipinya jadi ikut memerah mendengar kalimat blak-blakan pacarnya barusan. Seakan orang yang barusan menggempur Hanbin bukanlah orang yang sama. Lalu dia cubit pipi Hanbin gemas. “Kasian Dudung kamu bawa-bawa.”

“Gak apa-apa, pasti kakak tadi makin semangat, kan? Liatin aku bawa Dudung? Apalagi waktu kaos aku udah gak karuan, celanaku udah copot—”

“Sayaaaaaang, udah dong.” Jiwoong memeluk pinggang Hanbin semakin erat, menyembunyikan wajahnya di puncak kepala Hanbin.

Hanbin tertawa melihat respon Jiwoong yang malu-malu. Tangannya meraih rambut Jiwoong kemudian dia usap-usap sayang. “Besok-besok aku sambil peluk boneka beruang yang gede itu kali ya?”

“Hanbin sayaaaaaang.”

Mungkin selanjutnya Hanbin bakal peluk boneka yang lebih besar supaya kakak pacarnya itu makin semangat ngegenjotnya di lain hari.

Series this work belongs to: