Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-10-22
Words:
2,247
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
217
Bookmarks:
12
Hits:
11,583

Toko Bangunan Berkah Jaya

Summary:

Kalau Yeonjun cinta pada pandangan pertama, Soobin kayaknya lebih cocok buat dibilang sange pada pandangan pertama.

Work Text:

Hampir semua orang di proyekan kayaknya juga tahu kalau Yeonjun beneran naksir berat sama anak dari juragan toko bangunan sekaligus mandor proyek tempat dia kerja sekarang. Nggak jarang Yeonjun suka sengaja curi-curi kesempatan buat ngibrit ke toko bangunannya cuma buat ketemu cowok yang nggak pernah senyum kalau ngelayanin dia beli material. Kalau orang-orang bilang, sih, cinta pandangan pertama. 

Yeonjun pertama kali lihat Soobin yang ikut ngawasin proyek tempat Yeonjun nukang bareng sama Bapaknya. Iya, namanya Soobin. Soobin wangi. Bau parfum. Yeonjun jelas tahu itu parfum mahal, nggak kayak badannya yang bau matahari setiap hari. Yeonjun jelas tau bedanya. Yeonjun bakal selalu cari alesan biar dia bisa ke toko bangunan Berkah Jaya itu, “Ahelaaah, sekalian gua mau beli extrajoss di Mpok Ipeh.” belum dapat balasan Yeonjun langsung kabur dengan motor knalpot sember yang penuh modif miliknya itu.

“Soobin, ganteng, hehe,” Soobin cuma ngelihat cowok yang rambutnya merah menyala hasil dari cat rambut murah yang bisa dibeli di warung dengan kaos kutang yang setengahnya basah sama keringet itu datar, nggak lupa celana sobek-sobeknya yang sebagian udah kecipratan adonan semen. “Paku sama amplas dong, cakep.”

Soobin cuma ambilin pesenan Yeonjun masih dengan muka datarnya, masukin pesenan Yeonjun asal ke plastik item dan catet semuanya di buku besar tokonya dia dan nulis notanya ogah-ogahan. Soobin langsung kasih pesenan Yeonjun. “Nih. Kalo material abis chat aja ke whatsapp toko kan bisa.” 

“Ah, kaga dah, nanti nggak  bisa ketemu kamu dong, ganteng.” sahut Yeonjun dengan logatnya yang khas.

Soobin memutar bola matanya malas mendengar Yeonjun dengan celotehan yang menurutnya seperti orang yang keracunan extrajoss.

Tapi, masalahnya bukan karena Soobin nggak suka sama Yeonjun. 

Masalahnya, Soobin takut sange kalau Yeonjun deket sama dia. Soobin juga nggak tahu kenapa bisa badannya punya reaksi kayak gitu waktu Yeonjun deket dia. Soobin nggak bisa tahan kontolnya buat nggak ngaceng sekali hidungnya diisi bau keringet Yeonjun.

Kalau Yeonjun cinta pada pandangan pertama, Soobin kayaknya lebih cocok buat dibilang sange pada pandangan pertama.

Soobin lihat Yeonjun pertama kali waktu ikut Bapaknya ke tempat proyek baru nggak jauh dari toko bangunannya. Waktu itu Soobin iseng ikut Bapaknya karena bosen jaga toko bangunan dan kebetulan toko hari itu lagi nggak banyak pelanggan, jadi cuma ada karyawan Bapaknya aja yang jaga toko. Pertama kali lihat Yeonjun, Soobin rasanya kayak remaja yang kelebihan hormon.

Rambut Yeonjun yang merah menyala itu salah satu yang bikin mata Soobin langsung nggak bisa lepas, belum lagi setiap nukang Yeonjun juga selalu pakai kutang (warnanya ganti-ganti dan kayaknya Yeonjun punya kutang cadangan banyak), tapi yang Soobin paling suka kalau Yeonjun pakai kutang warna item press body nya. Badan Yeonjun beneran bagus menurut Soobin. Ya, tipikal tukang pada umumnya tapi buat Soobin bentuk badan Yeonjun yang paling bagus . Lengan Yeonjun berisi ototnya besar, bahunya lebar dan mengkilat karena matahari yang kena kulit penuh keringetnya. Soobin nggak sadar udah nelen ludahnya waktu lihat Yeonjun sibuk angkat bolak-balik ember penuh semen. Otot lengannya makin nonjol dan kadang juga otot perutnya kelihatan jelas waktu Yeonjun lap keringet di wajahnya pakai kutang kotornya itu. Kadang juga celana Yeonjun melorot dan entah Yeonjun sadar atau nggak sadar, hampir setengah dari celana dalamnya dengan gampangnya keekspos dengan bebas yang bikin Soobin telen ludahnya makin kasar. Soobin nggak buta buat lihat tonjolan di celana Yeonjun juga.

Udah beberapa kali Soobin ikut Bapaknya buat ngawasin proyek dan Soobin beneran nggak bisa lepasin matanya dari Yeonjun barang sedetik. Setelah beberapa kali ikut ngawasin kadang Yeonjun bales godain Soobin, kadang kedipin sebelah matanya, kadang dadah in Soobin heboh yang bikin Soobin langsung melengos. Walaupun wajahnya melengos, tapi celananya jelas udah ngegembung sedikit. 

Tolol.

Soobin ngerasa beneran tolol waktu dia sange pertama kali lihat Yeonjun karena setelah pulang dari tempat proyek Bapaknya itu Soobin langsung masuk kamarnya dan serampangan cari dildo yang dia simpen di paling belakang tumpukan baju lemarinya. Buru-buru lepas celananya dan ambil botol lubrikan di kasurnya, Soobin gigit bibir bawahnya waktu lumurin cairan lubrikan itu ke dildo di tangannya, otaknya nggak bisa berhenti bayangin kalau yang di tangannya itu kontol Yeonjun. Kontolnya makin keras waktu tanganya sengaja muterin dildo warna ungu yang dia punya itu dan tanpa sadar lidahnya gerak seolah lagi jilatin kontol. Tolol. Yang ada di kepalanya cuma kontol Yeonjun yang bahkan Soobin belum tahu gimana bentuk dan ukurannya, tapi yang jelas dia mau boolnya diisi kontol tukang rambut merah itu.

“Ung-hhh, anjing,” Soobin gesekin ujung dildonya ke analnya pelan, otaknya nggak bisa lepas dari bayangan kalau yang lagi gesek lubang pantatnya sekarang adalah kepala kontol Yeonjun, kontol Soobin sendiri kedutan waktu ujung dildonya masuk ke anal, “Mmmh, Mas Yeonjun, Mas-” Soobin tempel dildonya ke kursi yang dia pake khusus buat coli, masturbasi, ngentotin dildo, apapun namanya yang penting boolnya keisi penuh. “Umhhh, kontol Mas Yeonjun, mau kont-”

Isi kepala Soobin sekarang cuma Yeonjun yang lagi nyodokin boolnya dia dan tangan Yeonjun yang penuh keringet itu ngeremes pinggangnya. Soobin lempar kepalanya ke belakang, dua tangannya gerak sendiri buat sentuh pinggangnya, ngeremes pinggangnya sendiri bareng sama lenguhan dia yang keluar kenceng setelah itu, “HNGHHH- r-remes Soobin, Mas- Mas Yeonjun- hnhhh!”

Nggak cukup di situ aja, Soobin asal lepas bajunya. Wajahnya kelewat merah waktu dia ngaca di cermin lemari pas di depannya. Wajahnya merah sange, matanya sayu, dan bibirnya yang punya bentuk khas mirip kelinci itu merah menggoda karena kebanyakan dia gigit. Soobin bawa tangannya ke dadanya, ujung jarinya senggol pentilnya sendiri yang udah ngacug tegak, “Ahh! Ayo nen ke Soobin, Mas Yeonjun-hhh.” Soobin perhatiin wajahnya sendiri waktu semua kalimat jorok itu keluar dari mulutnya. Anjingnya, Soobin makin sange dan ngocok kontolnya sendiri cepet waktu bayangin jarinya yang udah dia ludahin melintir putingnya, bayangin jari basahnya jadi lidah Yeonjun, “M-mas, uhh! G-gatel pentil Soobin-nggg!” badan Soobin total geter waktu tiba-tiba ada ledakan penuh dari seluruh bagian badannya, berujung di ujung kontolnya dia yang ngeluarin peju lebih banyak dari biasanya cuma karena Soobin juga bayangin gimana wangi keringetnya Yeonjun.

Soobin pikir dia cuma bakalan coli bayangin Yeonjun ngisi boolnya satu kali itu aja, tapi ternyata nggak. Setiap dia pulang dari ngawasin proyek Bapaknya dan Yeonjun jelas nukang di sana Soobin selalu berujung buang isi kontolnya keluar dengan kepala yang penuh dengan Yeonjun, Yeonjun, dan Yeonjun tukang Bapaknya yang bikin dia sange setengah mampus.

Di hari lainnya Soobin dateng lagi ke tempat proyek Bapaknya, tololnya dia malah kebelet pipis dan buru-buru ke spot di ujung tempat proyek yang dipake buat kamar mandi para tukang yang kerja di sana. Soobin nggak bisa kalau harus pipis di tempat yang menurut dia nggak bersih, tapi sekarang dia sama sekali nggak punya pilihan lain daripada harus pipis di alam terbuka. Tanpa lihat ada isinya atau nggak kamar mandi yang sebenernya cuma bilik kecil dari kayu-kayu sisa bangunan dan ditutup terpal itu Soobin buka pintunya dan nyaris teriak waktu lihat Yeonjun yang juga lagi pipis di dalem. Yeonjun juga sama kagetnya waktu pintu kamar mandi itu kebuka, walaupun kamar mandinya juga nggak ketutup sepenuhnya tapi siapa yang nggak kaget kalau lagi dengan khidmat pipis tiba-tiba ada orang lain masuk? Salah dia juga sih karena nggak tutup pintunya bener.

“Eh, sori, sori, gua nggak tau di dalem ada orang,” Soobin setengah tergagap waktu lihat yang ada di dalem bilik kamar mandi itu ternyata Yeonjun, tapi bukannya langsung minggir dari pintu kamar mandi matanya malah lihat Yeonjun yang masih di posisi megang kontolnya dan habis bilas kontolnya. Tolol. Soobin emang tolol. Matanya nggak bisa lepas dari kontol Yeonjun yang kali ini kelihatan jelas buat matanya. Soobin nggak tahu harus bersyukur karena bisa lihat kontol Yeonjun atau merutuk karena kontolnya langsung ikut ngaceng. Yeonjun juga nggak sedongo itu buat tau kalau Soobin ngeliatin kontolnya, bukannya cepet masukin kontol ke celananya lagi malah Yeonjun dengan santainya bilas kontolnya lagi, seolah sengaja biar Soobin lihat.

“Mau ngeliat kontol gua nyampe kapan, ganteng?”

“Ngentot,” Rutuk Soobin refleks.

“Apa? Mau ngentot sama gua?”

Nggak tahu Soobin kerasukan setan dari mana tapi kepalanya ngangguk dan matanya juga masih nggak lepas dari kontol Yeonjun yang masih belum Yeonjun masukin ke celananya.

“Bilang, dong. Lu mah sok jual mahal sama gua jutek taunya spek lonte liat kontol doang langsung ngangguk.” Yeonjun tarik Soobin masuk ke kamar mandi reyot itu dan kunci pintunya asal. “Kenapa? Kebelet pipis? Tadi lu ke sini mau ngapain?”

“Iya, mau pipis.”

“Yaudah pipis.” Ujar Yeonjun enteng dengan dagu yang menunjuk ke ujung sisi kamar mandi yang biasanya memang digunakan untuk pipis.

Soobin dengan gampangnya menuruti Yeonjun. Melepas kancing celananya dengan mudah dan menarik turun celananya. Soobin rasa memang sekarang otaknya mungkin hilang dan sudah teraduk bersama adonan semen, akalnya juga sama sekali nggak jalan karena sama sekali nggak ngerasa kesel waktu dia akhirnya cuma nurut sama Yeonjun. Kebalikan dari itu, sekarang malah darahnya mengalir deras terpacu bersama adrenalin karena Yeonjun yang  nggak melepaskan matanya saat dirinya buang air kecil.

“Udah?” tanya Yeonjun sambil masukin tangannya ke tong besar yang berisi air penuh, air yang sama yang dia pake buat bilas kontolnya tadi. Soobin ngangguk pelan dan badannya sedikit tegang waktu Yeonjun tiba-tiba nempelin badan ke punggungnya dia. Tangan kiri Yeonjun remes bokong Soobin sementara tangan kanannya ambil air dan dengan entengnya bilas kontol Soobin, Soobin kepalanya makin kopong waktu rasain sensasi air dingin dan tangan Yeonjun yang kena kulit kontolnya. Hidungnya langsung terisi dengan aroma Yeonjun yang khas. Bau keringet Yeonjun campur bau matahari yang tanpa basa-basi masuk ke hidungnya buat Soobin langsung menggesekkan bokongnya ke kontol Yeonjun dengan binalnya. 

“Lu,” Yeonjun ikuti permainan Soobin, turunin celananya dan gesekin kontolnya ke belahan bokong Soobin, “Binal banget kalo ketauan bokap lu gua dipecat, nggak?”

Soobin geleng cepet. Gila, ya! Mana mungkin Soobin rela Yeonjun dipecat, siapa nanti yang mau ngentotin dia lagi? “Nggak, nggak, gua diem.” Soobin makin gesekin belahan bokongnya ke kontol Yeonjun dan makin teken kontol Yeonjun ke bokongnya sampai boolnya bisa ngerasain urat kontol Yeonjun. “Gua sange sama bau lo.”

Soobin nggak bohong. Di kamar mandi yang sempit ini isinya jadi bau keringet Yeonjun semuanya. Soobin juga bisa rasain tangan Yeonjun yang lengket karena keringet di kulitnya. Yeonjun mendengus di sebelah telinga Soobin dan jilat telinga Soobin pelan, “Apa? Lu sange sama bau tukang?” Tanya Yeonjun, tangannya nggak berhenti buat elusin kontol Soobin yang penuh di tangannya. Tangannya muterin kontol Soobin dan jilat telinga Soobin lagi waktu rasain kontol Soobin kedutan di tangannya.

“Hnghhh- Y-Yeonjun,” Lenguhan Soobin jelas banget di telinga Yeonjun yang bikin Yeonjun senyum penuh kemenangan, “M-Mas Yeonjun, please- entot-” belum selesai Soobin menyelesaikan kalimatnya, Yeonjun dengan jari-jari yang sudah diludahinya banyak langsung mengisi lubang anal Soobin. Nafas Soobin tercekat satu detik dan badannya refleks tegang waktu rasain dua jari Yeonjun tiba-tiba udah ada di boolnya. Walaupun malem sebelumnya Soobin udah isi boolnya pakai dildo lagi, tetep aja dua jari Yeonjun bikin badannya geter dan gelinjang nikmat setelahnya.

“Oh? Mas Yeonjun?” Yeonjun gigit telinga Soobin, jarinya mulai gerak cepet di anal Soobin buat buka lubang Soobin lebih lebar walaupun sebenernya nggak perlu. “Bilang lu mikirin apa aja?”

Yeonjun balik badan Soobin. Kali ini Yeonjun bisa lihat muka Soobin yang jelas sayu merah dan matanya yang sama sekali nggak bisa kebuka sepenuhnya. “Hhh-ahh, mikirin kontol lo ngisi bool gue, M-mas! Hnghhh!”

“Ludahin kontol gue kalo gitu,” Soobin jilat bibirnya sebelum kumpulin air liur di dalem mulutnya. Tangannya raih lengan Yeonjun yang sebelumnya cuma bisa dia lihat dari jauh dan sekarang Soobin jelas bisa rasain gimana kerasnya lengan Yeonjun dan sama sekali nggak masalah soal keringet Yeonjun yang lengket di telapak tangannya. Kontolnya makin ngeras. Soobin buang ludahnya sendiri di tangannya sebelum lumurin kontol Yeonjun pake ludahnya. Soobin nggak peduli ada lubrikan atau nggak, pelumas apapun itu Soobin nggak butuh. “Pinter, lonte. Pinter baget lu nurut.” Yeonjun jilat leher Soobin dan beri kecupan kecil di leher putih cowok jangkung itu.

Bulu kuduk Soobin jelas meremang mendengar pujian jorok dan nggak senonoh itu. Yeonjun mendorong Soobin ke tembok kayu kamar mandi itu dan mengangkat salah satu kaki Soobin, menahannya dengan tangan dan memposisikan ujung kontolnya di anal Soobin. Tangan Soobin meremat lengan Yeonjun cukup erat saat merasakan ujung kontol Yeonjun yang mulai masuk ke analnya. Rasanya Soobin gila. Kemarin Soobin hanya bisa membayangkan dildonya yang menjadi kontol Yeonjun dan sekarang kontol Yeonjun yang benar-benar masuk ke analnya. Soobin gigit bibir bawahnya dan menatap Yeonjun dengan tatapan seduktifnya, “Hhh- gimana? M-mas, ngentotin- ahh!” Soobin memekik cukup kencang saat Yeonjun menyodok boolnya tanpa aba-aba dan kencang, langsung menyentuh prostatnya. “Anak- hhh! Mandor lo?” 

“Rasanya?” Yeonjun memompa kontolnya cepat di bool Soobin, nggak peduli Soobin yang sepertinya kewalahan karena nyawanya seperti dicabut setengah dari tubuhnya dan kontolnya yang juga dikocok cepat oleh Yeonjun. Badan Soobin menggelinjang waktu Yeonjun ludahi kontolnya lagi. “Enak. Enak lah ngentotin lonte binal kayak lu.”

“Hnghhh!” Soobin ambruk ke badan Yeonjun, wajahnya tenggelam ke bahu Yeonjun dan hidungnya sengaja digesekkan ke leher Yeonjun. Menghirup dalam-dalam aroma cowok di depannya, membiarkan tukang di depannya menjamah badannya asal-asalan dan membiarkan isi kontolnya mengotori baju si kuli bangunan itu. “Ahh- ah! Ngentot, kontol kuli- uhh!”

Yeonjun terkekeh puas mendengar racauan Soobin. Tangannya yang terkena peju Soobin dibawanya untuk meremat muka Soobin, melumuri wajah Soobin pake pejunya sendiri. Soobin nggak peduli yang penting boolnya sekarang cuma diisi peju dan kontol Yeonjun. 

“Nih, makan peju kuli.” Yeonjun memompa kontolnya lagi di anal Soobin yang sudah penuh dengan pejunya, membuat Soobin meringis kecil karena overstimulasi yang dia rasakan juga setelah ejakulasi tapi juga nggak protes saat Yeonjun masih memompa kontol di boolnya. 

“Besok lagi ya, Mas.” badan Soobin bergetar pelan saat merasakan peju Yeonjun yang mengalir keluar dari lubang analnya.

“Lonte banget, ganteng.” Yeonjun cium pelan pipi Soobin yang masih punya sisa tipis pejunya sendiri dan memeperkan sisa peju dari kontolnya ke paha Soobin.