Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-05-07
Completed:
2024-07-08
Words:
12,380
Chapters:
2/2
Comments:
30
Kudos:
1,154
Bookmarks:
98
Hits:
117,044

PERI KECIL MILIK AYAH

Summary:

"Kehidupan di hutan memang menyeramkan dan sulit, tidak sampai ketika akhirnya ia bertemu peri kecil yang bisa diandalkan dalam segala hal, termasuk juga dalam hal memenuhi hasrat nafsunya yang besar."

Notes:

Happy reading

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Kehidupan di rimba memang sangat sulit. Mark dan sukunya harus selalu berjuang setiap hari mencari makan dengan berburu, bertarung melawan hewan buas, waspada pada setiap serangan dari suku lain, agar bisa bertahan hidup.

Mark akan mulai berbagi soal kehidupannya di dalam hutan. Hutan tempat mereka menumpang hidup sangatlah luas dan besar sekali, terdiri dari banyak suku di dalamnya, dengan jumlah anggota di tiap suku tidak terlalu banyak, mungkin hanya sampai seratus orang saja.

Setiap suku memiliki pemimpin dan dua orang tetua sebagai penasihat. Semua hal-hal yang dilakukan selama masih terikat dalam suku, maka itu harus atas seizin dan sepengatahuan pemimpin suku.

Rumah mereka adalah sebuah gubuk yang terbuat dari dahan dan ranting kayu, beratapkan dedaunan lontar mau pun kelapa, dengan alas daun pisang atau pun kulit beruang yang lebat bersama bulunya yang hangat.

Di sini, istilah keluarga adalah mencakup seluruh anggota suku. Semuanya adalah keluarga, dengan kepala suku mereka sebagai sosok yang di-Ayah-kan. Dan sementara Ibu, di sini hutan dan segala kemurahan alam semesta adalah sesuatu yang dicap sebagai Ibu. Tidak ada istilah pernikahan yang melibatkan sepasang sejoli, kemudian punya anak, dan keduanya resmi disebut sebagai orangtua dalam keluarga berkat kelahiran anak mereka.

Tidak ada seperti itu.

Pernikahan tidak pernah ada di sini.

Karena penghuni rimba tidak pernah mengenal paham pernikahan, melainkan paham perkawinan.

Ya, memang selayaknya binatang, anggap saja begitu karena realita anggota suku di rimba ini memang seperti demikian.

Entah lelaki atau pun wanita, semua bebas mengawini siapa saja tanpa memandang bahwa yang diajak kawin adalah sosok hasil dari perkawinan sendiri dengan pasangan terdahulunya. Entah saudaranya, entah bahkan yang pernah melahirkannya, semuanya bebas untuk melakukan perkawinan dengan tanpa adanya peraturan apa pun yang mengikat.

Tapi hal itu tidak berlaku bagi pemimpin suku mereka, Mark.

Kebebasan berkawin itu tidak dimiliki oleh pemimpin mereka, karena dia adalah Ayah dari semua yang menjadi anggota sukunya sehingga tak satu pun di antara anggota sukunya boleh menyentuh sang kepala suku. Kepala suku hanya milik alam semata, sebagai Ibu.

Mark terikat kepada alam; hutan, gunung, lautan dan seluruh isinya, Mark terikat kepada mereka dan tak pernah diperbolehkan berkhianat dari mereka.

Atau bila Mark sampai berkhianat maka alam akan murka sebab telah lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang Ayah. Sosok Ayah yang seharusnya hanya perlu mengadibkan seluruh sisa umurnya kepada alam semesta dan seluruh isinya.

***

Saat malam purnama tiba, ada hal rutin yang harus dan selalu Mark lakukan dan tak boleh terlewat, atas keterikatannya dengan alam.

Berjalan menyusuri gelapnya malam dengan rangkapnya dedaunan yang menutupi secercah cahaya dari sang rembulan. Mark tidak akan tersesat meski pun ia tengah berjalan di kegelapan sebab ia telah menyatu bersama alamnya, yang setiap sudut dan isinya telah ia hafalkan semua.

Kegelapan itu berganti, sedikit demi sedikit lingkupnya mulai menampakkan terang. Cahaya bersumber bukan dari sang rembulan, melainkan atas pancaran dan pesona dari sosok-sosok indah yang sekarang tengah beterbangan tak jauh dari tempatnya berdiri.

Mereka adalah para peri, dengan tubuh kecil nan mungil yang mungkin akan remuk hanya dalam sekali genggam.

Mark memasuki kawasan yang tidak boleh sembarang manusia bisa mengunjungi, dan hanya para kepala suku pilihan saja yang bisa datang kemari. Ya, inilah perbatasan antara alam milik manusia serta semesta kehidupan milik para peri mungil itu.

Setiap malam purnama, Mark sebagai salah satu kepala suku 'pilihan' dalam kamus tersebut, mendapat undangan untuk datang kemari. Menyaksikan ritual persembahan yang selalu dilakukan oleh para peri kepada sang Agung, yaitu Langit beserta seluruh kemerlap bintang yang merupakan salah satu sumber cahaya bagi peri-peri itu bisa bersinar.

Para peri melakukan ritual ini untuk menyerap cahaya dari para bintang, agar mereka senantiasa bisa bertahan hidup dan tetap bersinar. Sebab jika mereka tak melakukan ini maka cahaya mereka akan redup dan kemudian keredupan cahaya mereka inilah yang akan membawa mereka pada kematian.

Dan mengapa Mark diizinkan bahkan diundang untuk menyaksikan ritual yang sangat sakral ini?

Adalah karena Mark pemimpin suku yang masih murni dan belum direngkuh oleh alam secara seutuhnya.

'Ketika kamu sudah menjabat sebagai kepala suku, selalu datanglah ke tepi hutan di malam purnama. Lihat dan saksikan ritual para peri yang tengah mempersembahkan diri kepada Langit untuk mengharapkan cahayanya. Lakukan itu selama lima tahun, dan tepat di tahun kelimamu, maka pilihlah satu peri untuk kau culik.'

Itu adalah pesan dari kepala suku terdahulu sebelum mati.

Peri adalah satu-satunya perwujudan makhluk yang diizinkan oleh Alam untuk dimiliki seorang kepala suku. Jika membiarkan diri berada dalam rengkuhan seorang peri, maka Alam tidak akan pernah merasa terkhianati atau pun sampai menunjukkan kemurkaan.

Sebaliknya, peri malah akan memberi kemakmuran bagi kehidupan seluruh anggota suku. Senantiasa bisa menjaga keseimbangan kelestarian alam, mencegah datangnya bencana, membawa keberuntungan, dan kedamaian yang begitu luar biasa.

Ya, kepala suku menculik mereka untuk dimanfaatkan banyak kekuatannya. Selain dalam hal-hal yang menguntungkan anggota suku, penculikan ini tentu saja juga dilakukan dalam tujuan memberi keuntungan bagi sang kepala suku.

'Kamu memang tak bisa berkawin dengan sesama anggota suku atau pun manusia. Tapi meski pun betigu kamu tetap akan mendapatkan pemenuhan nafsumu dari para peri kecil itu.'

'Jangan khawatir. Mereka memang kecil, tapi mereka memiliki kekuatan besar yang tidak akan pernah kamu duga, yang nanti akan bisa membawa kamu dalam sebuah kenikmatan tiada dua.'

***

Kelopak bunga bergerak secara lirih membelah tipisnya desiran hembus angin. Senyum-senyum penuh rona bahagia yang nampak membuncah telah siap menyambut kehadiran bayi-bayi suci yang baru saja diturunkan ke bumi. Mereka adalah sosok yang telah disiapkan untuk memberi banyak penganyoman pada seluruh penghuni bumi.

Sebagai tangan kanan terpercaya dari sang Dewa.

"Mereka lucu-lucu banget. Aku mau pegang, tapi pasti tidak diizinkan."

"Memang tidak boleh. Mereka masih suci dan murni."

Kelopak bunga dengan warna merah serupa hati itu telah mekar secara sepenuhnya. Di dalam bunga itu telah terbaring masing-masing satu peri dengan tinggi dan besar yang hanya seukuran tangkai putik bunga. Mereka sangat-sangat kecil, bahkan rayap mungkin lebih besar dari mereka.

Sayap mereka masih lemas, belum bisa mekar dan tetap dalam kondisi terkatup rapat.

"Cantik. Cantik banget. Aku mau cium satu!"

"Bisa tidak, jangan berisik? Jangan ganggu dan lebih baik minggir, aku mau kasi mereka berkah serbuk satu per satu."

Serbuk dengan kerlip cemerlang yang bersinar itu pun ditaburkan kepada bayi-bayi peri. Dari sanalah para bayi peri mulai mengalami perubahan wujud menjadi lebih besar, meski itu tidak besar-besar sekali.

Dari seukuran tangkai putik bunga, menjadi setidaknya seukuran telunjuk manusia. Yang artinya itu adalah ukuran wajar untuk peri dewasa. Memanglah, para peri yang baru turun ke bumi, yang awalnya memang bayi akan langsung diubah menjadi peri dewasa begitu mereka telah mendapatkan napas pertama mereka di bumi. Bersamaan dengan itu maka beberapa tugas utama diturunkannya mereka kemari juga telah ditentukan dan dibebankan kepada mereka.

"Baiklah, satu per satu kita akan ajarkan mereka bagaimana cara menjalankan tugas selama di bumi. Kau, namamu adalah Haechan. Kemarilah dan jadilah contoh untuk para temanmu."

Yang dipanggil merasa sangat bingung. Haechan namanya. Dia baru beberapa saat lalu turun ke bumi dan merasakan segar-teduhnya udara di bumi bila dibandingkan saat di Langit. Ia memiliki rambut merah sewarna tanah kuburan dan terkadang akan nampak agak kecokelatan bila terkena terpaan cahaya. Badannya ramping, memiliki sayap transparan dengan warna cahaya bewarna kekuningan, terang sekali. Warna kulitnya putih bersih, wajahnya terlihat sangat kecil sekali namun itu tak memudarkan kecantikan yang dimiliki.

Bibir merah menyala, merona sewarna kelopak mawar yang baru mekar. Hidungnya bangir, namun kecil nan mungil, mencolek ujungnya sedikit pasti sudah akan sukses untuk membuatnya merasa terusik. Matanya bulat sempurna dengan bulu mata yang melengkung indah. Telinganya berbentuk runcing dengan bagian cuping yang menjorok ke bawah, berhiaskan banyak manik-manik yang terbuat dari emas dan berlian.

Haechan sungguh cantik sekali, yang tercantik di antara para peri lain yang baru 'lahir' di bumi.

Semakin istimewa ketika pakaiannya juga nampak berbeda dari yang lain. Sutera berwarna putih, berbentuk gaun dengan bagian bawah yang merumbai, dari bawah panggul sampai pahanya, merumbai dan kain tersebut akan menari-nari indah bila hembus angin menerpa menariknya. Bagian pinggang sampai dada berwarna putih transparan dengan bentuk yang sangat ketat, mencetak erat bentuk tubuhnya.

Berbeda dengan peri yang baru 'lahir' lainnya, mereka memiliki pakaian berwarna biru tua yang senada, hanya Haechan seorang yang berbeda. Haechan tahu apa alasannya, karena dia telah mendapatkan penilaian tertinggi selama di Langit. Dia melayani Langit dengan sangat baik sehingga Langit pun memberinya sebuah keistimewaan terbaik, berupa kecantikan, kecerdasan, dan keunggulan paling sempurna di antara yang lain.

"Haechan, kamu sudah siap untuk diajari?"

"Sangat siap, Guru." Haechan tersenyum kepada peri dewasa yang harus ia panggil dengan panggilan guru, siapa pun yang berada lebih dulu di bumi maka peri itu adalah peri pengajar yang patut untuk dihormati.

***

Haechan tahu apa saja yang akan menjadi tugasnya setelah turun ke bumi. Sebenarnya pun, tanpa perlu diajari lagi, dia telah sangat andal dan menguasai semuanya karena selama di Langit hal-hal tersebut juga sudah pernah diajari.

"Kamu masih gadis?"

"Aku, tidak. Tapi jika membahas dengan manusia, tentu saja masih." Jawab Haechan sembari mendudukkan diri di atas segaris daun pinus.

"Jika begitu tak usah diajari lagi. Nanti malam kita akan adakan ritual persembahan ke Langit. Dan mungkin salah satu dari kita akan diculik oleh salah satu manusia. Setelah ikut bersamanya, tolong rengkuh dan layani dia sebaik mungkin sebab pengorbanannya untuk menjaga kelestarian alam di hutan ini sangatlah besar, maka dari itu balasan yang ia dapatkan haruslah besar juga."

Haechan memberi anggukan dengan tanpa ragu. Jika ia yang terpilih nanti, maka akan ia kerahkan semuanya yang sudah pernah ia pelajari selama di Langit untuk memuaskan sang kepala suku yang telah berjasa banyak, dan patut dapat penghargaan yang setimpal.

"Tapi tidak usah berusaha terlalu keras, badan kamu bagus banget. Aku yakin kepala suku pasti akan mudah puas sama kamu."

"Ya, semoga dia memiliki penglihatan yang jernih nanti malam agar tidak melewatkan kesempatan terbaik mendapatkan aku."

Sang guru tersenyum melihat perangai centil yang dimiliki oleh Haechan. Kerlingan mata yang diberikan terkesan sangat genit, kemudian kibasan rambutnya yang meski pelan itu tapi tetap bisa membuat perhatian orang menjadi teralihkan secara sepenuhnya.

Sekarang guru tidak merasa heran sama sekali mengapa Haechan bisa mendapatkan predikat sebagai peri dengan banyak anugerah keistimewaan dari Langit.

 

***

"Menurut kamu, siapa yang malam ini bakal diambil dan diculik?"

"Memangnya ada berapa kepala suku yang sudah masuk lima tahun masa jabatannya?"

"Ada tiga. Aku pernah pergi ke suku mereka, dan kepala suku itu beneran ganteng banget!! Aku berharap banget buat dipilih!"

"Tapi, aku pikir pasti si anak baru itu yang bakal diambil. Dia cantik banget! Jadi, aku gak bakal sedih kalau gak dipilih."

Yang sejak tadi digosipkan pun datang. Haechan terbang bersama sayap tembus pandangnya yang bercahaya, seandainya cahaya itu hilang mungkin orang berpikir dia tidak memiliki sayap dan bisa terbang dengan sendirinya.

"Halo Haechan, kamu cantik banget!!"

Itu pujian yang sudah sangat biasa untuk Haechan sehingga tak perlu memasang reaksi yang berlebihan, selain hanya sekadar memberi senyum saja.

Mereka bersiap untuk memulai ritual. Di mana itu diadakan tepat di bawah pohon dengan dedaunan yang rindang. Peri-peri kecil bersembunyi di balik dedaunan sehingga cahaya mereka menyalakan pohon, nampak berkerlap-kerlip, indah sekali.

Sementara itu ada sekitar lima belas peri dewasa, yang usia tinggal di buminya lebih lama jika dibandingkan dengan yang lain, mereka mulai berubah wujud menjadi manusia dengan tinggi seukuran wanita dewasa pada umumnya. Telinga runcing mereka hilang, ukuran pakaian tak bisa menyesuaikan sehingga itu jelas robek, menjadikan mereka bertelanjang secara sepenuhnya. Sayap-sayap yang biasa mengepak kini juga ikut hilang, tergantikan menjadi punggung halus lembut tiada celah, benar-benar mulus sekali.

Kaki-kaki telanjang itu melangkah pasti mengitari pohon yang bercahaya, dengan saling bergandengan tangan mereka mulai merapalkan mantra.

Haechan yang duduk di dahan pohon dalam wujud perinya juga ikut merapalkan mantra. Sayapnya makin bercahaya semakin panjangnya mantra yang telah mereka ucapkan. Pohon besar itu menyala, saking terangnya cahaya yang dihasilkan sampai itu terlihat seperti pohon tersebut terbakar.

"Di hitungan ketiga, kita juga ikut turun dan berubah wujud seperti para guru. Ayo!"

Haechan pun turun dari duduknya, sayapnya mengepak meninggalkan pohon, dia bersiap untuk berubah wujud menjadi manusia.

"Selama berubah, tutuplah mata kalian. Jika ada yang meraih tangan dalam genggaman, dan menarik kalian menjauh, maka ikutilah. Itu artinya kalianlah yang terpilih."

Semua orang mulai memejamkan, termasuk Haechan yang sekarang sedang pejam mata damai. Ia berubah sambil terbang turun ke bawah, kakinya menjuntai dan saat ia merasakan seluruh pakaiannya koyak karena badannya membesar, ia pikir di detik itu kaki-kaki telanjangnya akan segera menapak pada tanah. Akan tetapi tidak, seseorang telah menggenggam pergelangan tangannya.

Erat.

Posesif.

Dengan hasrat ingin memiliki yang sangat besar.

Haechan tersenyum tipis.

Dugaan semua orang benar.

Dialah yang terpilih pada malam ini.

Tidak menduga namun itu tidak mengejutkan sama sekali. Haechan sudah terbiasa menjadi yang pertama dan selalu diunggulkan dalam banyak aspek.

Haechan pikir mungkin dia memang ditakdirkan untuk itu.

***

"Kamu bisa buka mata sekarang."

Haechan mendengar suara itu. Kakinya sudah tidak melayang lagi, melainkan telah menapak di atas permukaan tanah, rerumputan basah yang menggelitik telapak kaki telanjangnya. Angin menerpa, membuat tubuh yang tak berbalut selembar pun kain itu mulai merasakan menggigil.

Tapi meski pun begitu, berkat genggaman lembut yang ia mengikat jari-jemarinya, setidaknya dia masih bisa merasakan hangat yang nyaman.

'Dia kah? Peri kecil pilihan Ayah? Cantik, coba liat saja badannya itu, bagus banget!'

'Iya! Di antara kita, gak ada yang punya payudara sebesar dan sebulat dia, sudah begitu kelihatan kencang sekali. Iri banget sama tubuh itu!'

Sayup-sayup Haechan dapat menangkap suara itu saat kelopak matanya sedang berusaha mengerjap. Menyesuaikan penglihatannya dengan lingkungan sekitar yang ternyata sudah sangat terang, mungkin memasuki waktu hampir siang.

'Bokongnya... Gede sekali! Ingin remas dan membelainya, tapi tak bisa. Itu cuma punya Ayah seorang...'

Kalimat pujian terhadap tubuh indahnya terus Haechan dengarkan. Ia menatap sekeliling, dan menyadari jika sekarang dia tengah berdiri di antara kerumunan puluhan manusia. Mereka berdiri mengitarinya dengan jarak yang tidak terlalu dekat, tapi dalam jarak ini ia tetap bisa menangkap suara berisik mereka.

Selain berdiri mengeliling Haechan, ada juga di antara mereka yang menonton sambil memanjat pohon, duduk di antara ranting hanya agar bisa mengintip eksistensinya dengan lebih jelas.

'Ayah pintar sekali memilih peri kecilnya.'

'Akhirnya Ayah bisa memanjakan kelaminnya dan menjajal mengawini peri itu.'

'Ayah pasti akan main dengan gila-gilaan, ingat kan dia sudah sangat lama menahan hasrat.'

'Iya, sejak kecil dia sudah disiapkan untuk jadi kepala suku.'

Haechan menatap mereka satu per satu, mulut mereka benar-benar tidak bisa diam. Terus menimbulkan bising.

"Kamu terganggu?"

Haechan tersentak, lelaki yang menggenggam tangannya baru bersuara. Haechan lantas menoleh untuk memberi atensi.

Haechan tentu saja langsung memberi penilaiannya terhadap penampilan dan tubuh pria itu.

Tinggi, dan dia harus mendongak agar bisa meraih matanya dalam tatapan.

Badannya besar, kekar, dengan kulit sedikit cokelat yang terlihat sangat liat, licin bersama beberapa basah bulir keringatnya yang menetes.

Tidak memakai baju, sehingga permukaan keras penuh petak pada perut itu dapat ia nikmati secara langsung. Pinggul sampai atas lutut tertutup oleh pakaian, yang mungkin terbuat dari kulit hewan, terlihat tidak menutupi secara sepenuhnya, tapi setidaknya selangkangan dan penis itu dapat tertutup dengan baik.

Wajah itu tampan, memiliki pahatan rahang yang tajam.

"Gak. Gak sama sekali. Kan memang seperti ini. Iya kan, kalau ingin memerawani seorang peri untuk yang pertama kalinya, maka seluruh anggota suku harus berkumpul dan melihat secara langsung prosesinya. Biarkan saja mereka jadi saksi." Haechan memberi gelengan. "Kamu Mark, sang kepala suku?"

Mark memberi jawaban dengan sebuah anggukan.

"Kenapa pilih aku?" Haechan ingin tahu alasan Mark memilihnya.

"Kamu paling bersinar di antara yang lain. Itu tandanya kamu paling diberkahi oleh Langit, dan punya banyak keistimewaan. Benar kan?" Mark memerhatikan Haechan. Secara naluriah, keindahan tubuh Haechan berhasil memancing dirinya untuk melangkah semakin dekat, menyisipkan tangan dengan hati-hati di antara pinggul ramping itu untuk ia bawa dalam dekapan.

Kecil. Ketika Haechan tak dalam wujud peri, kenyataannya tubuh itu tetap terasa sangat kecil dalam dekapannya.

"Hari ini, adalah hari pertama aku turun ke bumi." Haechan membalas pelukan Mark, satu tangan menyampir di bahu lebar dan kuat itu, sementara satu tangan lain bergerak melepaskan kain penutup milik Mark. Haechan ingin menelanjanginya sehingga mereka bisa sama-sama dalam keadaan telanjang berdua.

"Oh, kalau begitu sungguh beruntungnya aku." Respon Mark untuk perkataan Haechan, sedangkan respon lain untuk pergerakan Haechan adalah Mark mulai menggerakkan tangannya untuk memberi usapan lembut pada punggung Haechan. Naik-turun, pelan-pelan dan penuh kelembutan, sebelum kemudian usapan Mark menjadi beralih pada permukaan bokong bulat milik Haechan.

Haechan memejamkan matanya sejenak, meresapi rasa yang ditimbulkan berkat usapan di bokong yang ia dapatkan. Telapak tangan Mark sangat kasar berbanding terbalik dengan permukaan kulitnya yang sangat lembut dan mulus. Setiap gesekkannya memberi diri Haechan langsung meremang, bulu romanya berdiri sementara pori-porinya nampak membesar.

Belum sempat Haechan keluar suara membalas ucapan Mark, suara bising dari orang-orang di sekitar terdengar mengudara menggelitik indera pendengaran.

Sebagian besar mereka masih sama memuji mengenai keindahan dan kemolekan tubuh Haechan. Sebagian juga, mulut-mulut kotor itu membicarakan soal ketidaksabaran mereka menyaksikan sang kepala suku yang perkasa menggagahi si peri kecil nan mungil secara brutal, kasar, penuh gairah sampai membuat si kecil menjadi tidak berdaya di bawah kungkungan. Mereka semua tidak sabar untuk menyaksikan momen itu secara langsung.

Bising kalimat kotor inilah yang sukses membuat Haechan jadi semakin merinding dengan gila. Bahkan sedikitnya telah berhasil untuk membuat perutnya serasa digelitiki, dijaili oleh ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam sana.

"Aku juga sama begitu. Kamu tahu kan, pasti luar biasa sekali kalau digagahi sama orang besar dan kekar kayak kamu. Dibayangkan saja sudah bisa dirasakan betapa akan puasnya aku nanti..." Tinggi Haechan adalah setara dengan leher Mark, dengan itu ia tak bisa memberi bisikan langsung ke telinga Mark kecuali jika badannya digendong oleh Mark. Sebagai gantinya kalimat bisikan itu ia ucapkan dengan sambil menatap mata Mark lekat, sedangkan tangannya sibuk menari-nari di atas dada bidang nan keras milik Mark, menggodanya secara langsung.

"Gak sabar ya?" Mark meremas bokong Haechan, balasan dari jari-jari nakal yang sekarang sedang menekan dan meggosok dadanya sensual.

"Banget, gak sabar-uunghh!!" Haechan tersentak dalam lenguhan karena baru saja bokongnya dihentakkan ke depan, ditabrakkan dengan selangkangan milik Mark yang sekarang sudah telanjang.

'Ayah kita memulainya dengan hebat! Pasti enak banget kalau kelamin tabrakan begitu!'

Haechan mendengarnya. Dan kalimat itu tentu saja langsung memengaruhi gairahnya untuk naik semakin tinggi.

"Aahh... Ada moncong besar yang gak sabar masuk ke dalam gua-aahhh!!" Haechan mendesah saat bokongnya dinaik-turunkan secara sengaja oleh Mark, kelaminnya menggesek penis tegang milik Mark berkali-kali sebagai akibatnya. Ia merapatkan kaki karena merasa geli, pahanya terlihat bergetar dan saling menggesek pelan penuh keresahan, tapi meski pun begitu ia sama sekali tak ada niat untuk mengelak, karena ini memang terasa sangat nikmat.

Sebaliknya, Haechan malah juga ikut serta menggerakkan pinggulnya, sangat bersemangat, bergerak sesuai dengan dorongan naik-turun yang Mark lakukan pada kedua bokong semoknya.

"Guanya harus dibasahi dulu biar moncongnya bisa masuk. Apa di sana sudah basah?" Mark menyelipkan jarinya untuk membelah bokong Haechan, ia gosokkan jari tengahnya ke sana sebelum kemudian turun untuk ia arahkan ke lubang depan Haechan dari bawah. Mengulik dengan satu sentuhan pelan, sebelumnya paha Haechan harus ia lebarkan lebih dulu agar lebih mudah.

Basah. Mark menyentuhkan jari tengahnya ke lubang vagina Haechan, dan itu sudah basah.

"Aahhh!" Haechan mendesah sebagai respon dari ulah jahil jemari milik Mark. "Iyaah, basah! Basah, becek! Becek sekalii-Maarkhh!" Jelas Haechan merasa semakin basah saat jari-jari Mark semakin nakal di dalam lubang kawinnya.

'Aku yakin, habis ini Ayah akan menjilati lubang kawin peri itu di depan kita. Nah! Benar! Lihat kan?'

Tebakan orang-orang yang menyaksikan perkawinan antara Mark dan Haechan sangatlah tepat. Saat ini Mark membimbing Haechan agar berbaring di atas rerumputan, berbaring sambil menekuk lutut dan melebarkan kaki dengan selebar mungkin, agar memudahkan Mark saat menjilati liang basah itu. Menjilatinya dengan rakus seakan itu adalah santapan paling nikmat di seluruh jagat raya yang tak boleh terlewatkan barang setitik pun.

"Oohh... Hidungmuuu!" Haechan mendesah ketika hidung milik Mark mengendus-endus selangkangannya, berada makin dekat dan puncak hidung itu menyentuh labianya.

Haechan belum pernah melakukan hal-hal ini dalam wujud manusia. Selama di Langit mereka mengajarinya dalam hal teori namun saat mempraktekkannya mereka diarahkan dalam wujud peri kecil.

Tentu saja rasa asing ini, terasa masih samar untuk bisa ia resapi, kendati demikian hal ini tetap terasa nikmat. Sama nikmatnya saat melakukan dalam wujud peri, hanya saja ini memiliki daya rangsang yang lebih kuat dan besar, mega tak terkira, sampai ia tak mampu membendungnya.

"Gesek-geseek teruus di sanaah! Iyaaaa, begituuu!! Ahhh! Enak! Enak-euurrrhhh!!" Haechan menjambak rumput di sisi tubuhnya, ia remas kuat-kuat ketika dia merasa tidak kuasa dengan gesekan di klitoris yang ia dapatkan dari puncak hidung milik Mark.

Dari skema latihan yang pernah Haechan jalani, bisa dibilang ini terlalu dini sekali untuk langsung sampai pada tahap menjamah vagina. Di latihan-latihan yang telah lalu, dia selalu mendapatkan penekanan soal cumbuan serta ciuman mesra yang membuai, bukan jilatan dan hisapan beringas yang menaikkan gairah nafsu agar makin membara.

 

Tapi bukan berarti Haechan tidak suka dengan sikap buru-buru ini, dia menyukainya saja, karena lagipula ini nikmat dan tubuhnya pun tak akan bisa menafikkan segala rasa yang tengah merundung, menyebar dari ujung kaki hingga puncak kepalanya.

"Aahh!! Sedikit, sedikiiit lag-lagiihh!" Haechan kewalahan di saat lidah Mark sangat lihai membelah labianya, menjilati tengah dan puncak klitorisnya. Memakai jari-jemari untuk membantu menambah nikmat. Tidak bisa, ini terlalu besar, gelombang nikmat itu sangat besar sekali sehingga ia merasa bagai tengah digulung kuat di dalamnya.

"Lendirmu sangat manis, Haechan-uumhh!" Mark bergumam di tengah kegiatan. Menghantarkan getaran yang membuat Haechan jadi merinding dengan hebat.

Lendir Haechan benar-benar manis dalam pengecapan Mark. Mark menjilatinya rakus, bergerak dari atas ke bawah, kemudian berputar, dan berhenri sejenak untuk memberi hisapan kuat baik pada klitorisnya mau pun pada liang sempit sumber lendir itu berasal. Lidahnya mengecap puas, seluruh lendir itu bercampur dan menyatu bersama liurnya, ia telan bulat-bulat tanpa ada perasaan jijik sama sekali.

Sebaliknya, Mark begitu gila ingin menikmatinya lagi dan lagi karena itu terasa sangat manis, persis seperti nektar bunga.

"Aahh! Maarkkhh-akkuu tidaak kuaat lagiihh!" Haechan nyaris menjerit, kepalanya mendongak setinggi mungkin, sementara punggungnya melengkung dengan sempurna, dia mendapatkan klimaksnya.

Lubang kawin Haechan langsung berkontraksi, berkedut kencang bersamaan dengan pinggulnya yang terangkat dan mengejan kuat memuntahkan cairan putih kental, yang mana itu bila disesap akan terasa lebih manis, bahkan mengalahi madu.

"Uhmm!! Manis! Maniis!" Mark menjelma menjadi sangat kalap ketika ia mendapatkan yang lebih manis dari yang ia sesap sebelumnya. Keberingasan itu muncul saat Mark malah semakin menekan mulutnya, menghisap kuat-kuat lubang kawin Haechan sebagai sumber dari rasa manis yang ia candukan. Kepalanya menggeleng, bergerak kacau untuk mengobrak-abrik kondisi kelamin milik Haechan.

"Sud-sudaah! Tunggu dulu! Sudaaah, akuu-aarghhh!" Haechan berusaha merapatkan pahanya, mengapit kepala Mark semakin kuat saat ia merasakan gelombang orgasmenya kembali datang, dalam jarak waktu yang sangat dekat, sebab stimulasi yang Mark berikan sungguh berlebihan.

'Ya! Hahah! Peri itu kewalahan!'

'Hahaha! Ayo, terus kacaukan kelaminnya! Buat dia semakin kepayahan! Buat dia semakin kacau dan berakhir sampai menangis karena terlalu nikmat!'

Haechan sempat membuka matanya di saat ia hampir mencapai puncak keduanya, ia melihat semua orang bersemangat melihat kondisinya saat ini. Senang sekali melihat dia dilemahkan, melihat dia mengejan-ngejan dengan pinggul bergetar naik, senang melihatnya terus meracau tidak jelas sambil menjambaki rerumputan di bawah tubuh.

Mereka benar-benar terlihat sangat kesenangan melihat kondisinya saat ini.

Apakah semenarik itu?

Atau apakah mereka (untuk para wanita) sebenarnya ingin merasakan ini?

Atau malah mereka (para lelaki) ingin berada di posisi Mark, menggantikan Mark dan menjelma menjadi yang membuatnya menggelinjang dalam nikmat?

Jika memang demikian, Haechan sebenarnya tak keberatan bila di antara para lelaki itu secara bergantian ingin mencicip tubuhnya. Hanya saja hukum alam tidak memberi izin dan persetujuan atas hal tersebut. Padahal mungkin itu akan nikmat dan fantastis sekali seandainya dia secara bergilir digagahi oleh mereka, melayani satu per satu sampai mereka mendulang kepuasan yang hakiki.

"Akhhh!!" Fantasinya yang semakin meliar membawa Haechan akhirnya kembali memuncratkan laharnya kembali. Kali ini tak hanya meraih orgasme, Haechan juga mendapatkan pelepasan yang dibarengi dengan mengucurnya air seni miliknya. Deras sekali, membasahi wajah milik Mark dan menyiprat ke mana-mana membasahi paha serta perut miliknya sendiri.

"Uhmm!" Bunyi Mark yang tengah asik menyucuk sisa-sisa lendir manis yang meleleh keluar dari lubang kawin Haechan. Mark hisap dengan rakus, tidak ingin jika ia sampai melewatkannya barang setetes saja.

"Haaah... Haaah..." Suara deru napas Haechan yang terdengar sangat berantakan dan kacau.

Mark bangun dari posisinya. Sejak saat lalu terlalu asik dengan kelamin Haechan, dia sampai melewatkan pemandangan menarik, hasil perbuatannya, yang sekarang tergambar di wajah Haechan. Rambut merah bata itu berantakan, wajah cantiknya yang kecil nampak memerah dengan hiasan banyak bulir peluh yang menetes. Mulut Haechan terbuka, bernapas kacau membantu hidungnya yang payah dalam menghirup mau pun membuang udara.

Tubuh telanjang Haechan melemas dengan kedua tangan terkulai di masing-masing sisi tubuh. Kaki jenjang dengan paha sekal dan padat itu meleleh, mengangkang di masing-masing sisi tubuh Mark. Mengapit badan Mark di tengah-tengah selangkangannya. Kakinya lurus, tak berdaya untuk Haechan gerakkan karena dia sudah terlalu lemas.

'Pegang dadanya! Puting itu mancung, warnanya merah pekat seperti rambutnya! Jika aku bisa menyetubuhinya, akan aku hisap puting itu, menyusu rakus sambil menggenjot, mengawininya kasar!'

'Membuat badannya jadi terlonjak-lonjak karena genjotan yang terlalu kasar!'

'Pokoknya gak akan aku lewatkan puting dan susu besarnya itu!'

Haechan memejamkan mata ketika kalimat-kalimat kotor itu saling bersahutan di sekelilingnya. Ia bisa merasakan lubangnya jadi berkedut dan terasa semakin basah saja setelah mendengarnya, kalian tahu kan? Dia menjadi semakin terangsang dan panas saat kalimat kotor itu membayangi diri.

"Mereka benar. Dada seindah ini, sudah jelas tidak akan aku lewatkan." Mark merangkat untuk menindih tubuh Haechan. Mengurung dan mengungkung tubuh itu di bawah kuasa serta dominasinya.

"Semua orang menggila karena kita." Bisik Haechan saat wajah Mark berada tepat di hadapannya. Ia menggiring Mark agar melirik ke sekitar, pada anggota suku yang sekarang sebagian besar sudah hanyut dalam nikmat masing-masing demi menuruti nafsu yang naik.

Ada yang sudah saling genjot, berciuman sambil tangan menjelajah ke mana-mana, ada yang berada dalam posisi 69, saling menjilati dan memakan kelamin masing-masing, ada yang sedang menyusu rakus, dan masih banyak lagi. Semua orang benar-benar hanyut, terbakar dalam gairah yang membara.

"Artinya, kita harus buat mereka jadi makin gila." Balas Mark sambil mengikis jarak wajah mereka. Ingin meraih ciuman dari Haechan. Mark raup bibir itu, yang semula lembut, lumatan yang sangat membuai dan menghanyutkan. Kemudian beberapa saat kemudian berubah, menjadi hal yang penuh desakan, tuntutan, sangat mendominasi, begitu menguasai.

Tengkuk kecil Haechan diremas dan dipijat pelan, ditekan ke depan agar ciuman mereka berlangsung dengan semakin dalam serta intens. Lidah telah berhasil masuk sejak tadi, menjelajah, menjajah isi mulut Haechan dengan tidak terkalahkan. Memberinya belaian dari segala sisi dan sudut hingga membuat Haechan menggeliat kesenangan dengan perilaku yang Mark berikan tersebut.

"Urrhhmm!" Mark mengerang pelan, napasnya menipis sehingga dia harus melepaskan ciuman mereka, sebentar saja untuk kemudian ganti posisi dan kembali memulai sesi berciuman lain yang sudah jelas semakin agresif.

Mark sudah cukup berpuasa, sudah cukup selama ini selalu menahan diri ketika melihat para anggota sukunya selalu sibuk berkawin bila habis berburu, dengan wanita mana pun tak pandang bulu, dan di mana pun tanpa ada etika malu sama sekali sebab di sini rasa malu itu memang telah lama ditiadakan.

Sejak dulu Mark hanya mampu memandang penuh harap sambil dalam hati mulai bekerja keras untuk mengontrol diri, tak boleh lepas kendali dan harus selalu bisa menekan, mengontrol nafsunya dengan sebaik mungkin.

Tapi sekarang akhirnya Mark mampu meraih masa jayanya juga. Sekarang, dia juga bisa memiliki kebebasannya untuk menuntaskan hasrat serta nafsunya yang sebenarnya sangat besar. Walau dia tidak akan bisa sebebas, seperti para anggota sukunya, dan hanya dengan Haechan saja dia akan mendulang nikmat ini, hal itu tak akan menjadi masalah besar untuknya.

Lagipula, Haechan di sini bahkan beribu kali lebih cantik dan luar biasa menggairahkan bila dibandingkan dengan wanita mana pun yang ada di sukunya. Dengan begitu Mark yakin dia pasti juga bisa mendulang sebuah kenikmatan yang begitu luar biasa dari Haechan, melampaui segala nikmat manapun yang diraih oleh para lelaki di sini karena bisa bergonta-ganti pasangan kapan pun mereka mau.

"Aahhh!" Ciuman terlepas, Haechan langsung mendesah, dadanya membusung saat Mark bergerak memberi sentuhan. Mengapit dari bawah ketiak, meremasnya dari masing-masing sisi dadanya, disatukan bersama untuk diremas kuat-kuat bersamaab dengan putingnya yang ikut dimainkan menggunakan ibu jari.

Perilaku itu membuat Haechan menggelinjang. Kelaminnya terus menghasilkan lendir basah, membuatnya jadi sangat becek, sedangkan dinding vaginanya mulai berkedut dengan keras sekali. Haechan yakini lubangnya mulai tidak sabar untuk segera diisi.

Ya, Haechan tak sabar untuk dikawini oleh Mark.

Haechan buka kakinya dengan selebar mungkin, mengangkang cuma-cuma hanya untuk Mark seorang.

"Aarhhh! Enaak, sedoot teruus susunyaa!" Haechan meracau sambil menjambak rambut. Kenikmatan datang secara bertubi.

Mark menyedot puting Haechan, bagai tengah menyusu, memainkan putingnya dengan lidah dan gigi. Sedangkan di bawah, penis Mark mengacung tegak, keras sekali, terus menggesek dan menyenggol klitoris sebesar kacang almond milik Haechan, yang sangat sensitif itu, yang sedang membengkang itu, dan makin bengkak serta merah merekah saat penis Mark terus menekannya keras.

"Uhk! Sesaak!" Haechan mengeluarkan protesnya, ia bisa merasakan Mark sedang berusaha melakukan penetrasi pada lubangnya. Masih dengan jari, tapi rasanya tetap mengganjal dan sedikit membuatnya bergetar tidak nyaman.

Mark masih berusaha, awalnya satu jari tengah dan itu ia dorong dengan hati-hati. Hangat, basah dan penuh lendir, dinding vagina Haechan terus berkontraksi memijat jemarinya. Itulah yang Mark rasakan pada percobaan satu jarinya.

Kemudian masuk lagi jari lainnya. Telunjuk. Kali ini lebih mulus karena sudah ada jalan yang telah ia buat sebelumnya. Dua jari masuk, Mark melakukan gerakan menusuk sambil membuka jarinya, menggunting, melebarkan jari itu agar saat penisnya masuk nanti bisa terasa lebih mudah.

"Aahh! Enaak! Enaakh sekaliiihh!!" Desahan Haechan menyiratkan rasa frustasi. Nikmat sungguh membuatnya nyaris kehilangan kesadaran. Ia biarkan Mark menyusuinya, ia biarkan lubangnya diobok-obok oleh dua jari Mark, ia biarkan badannya ikut terlonjak akibat sodokan yang Mark berikan.

Dan terakhir, ia biarkan dirinya berakhir menjadi tontonan gratis untuk seluruh kaum haus nafsu, yang sekarang mereka sedang asik bersenggama setelah melihat aksi panasnya bersama Mark.

"Sudah, aku sudah tidak tahan. Akan aku perawani lubang sempit ini sekarang juga!" Mark bangun, dia berdiri dengan lututnya di depan selangkangan Haechan. Mark urut-urut penisnya yang besar dan panjang, dengan urat-urat keras yang menonjol tajam, dengan ujung memerah meneteskan lendir bening. Kesejatiannya yang nampak sangat gagah, yang akan ia pakai sebagai senjata utama untuk menggagahi peri kecil di bawahnya.

"Aakhh! Besar!! Besaar sekaliih!" Haechan memejamkan mata erat saat vaginanya dibobol oleh kejantanan milik Mark. Masuk dari bagian kepala dengan pelan sekali, terus pelan-pelan namun pasti sampai akhirnya seluruh batang penis itu telah berhasil diloloskan Mark secara sempurna di dalam lubang sempit itu.

"Aahh!" Mark mengeluarkan suara desahannya. Sama seperti ketika jarinya baru pertama kali masuk, kali ini penis Mark juga mendapatkan deskripsi kenikmatan yang serupa hanya saja sekarang kedutan Haechan terasa lebih tajam dan sempitnya lubang itu sangat memanja penis Mark dengan telak.

"Cepat tusuk-tusuk! Yang lain sudah asik kawin sejakh-aahh sejak tadiihh! Kita jangan sampaihh kalah!" Haechan malah menggerakkan pinggulnya lebih dulu, memancing Mark supaya langsung menggenjotnya.

Mark pun sadar setelah mendengar ucapan Haechan, jika sekarang kondisi lapangan desanya sudah serupa bagai arena pesta seks yang sangat panas. Desahan semua orang terdengar saling bersahutan, berbagai macam posisi bercinta tengah dipraktekkan oleh mereka. semuanya asik mendulang nikmat, tidak pandang bulu entah itu antar sepasang yang seusia, atau pun sepasang yang memiliki jarak usia terpaut jauh; antara gadis belia dengan pria dewasa, antara pria kecil berpenis minim dengan wanita dewasa yang lubangnya sudah longgar, antara dua saudara wanita bersama satu pria, antara tiga pria dengan satu wanita seorang.

Ya, semuanya bagai sedang berpesta sekarang.

Membuat Mark jadi semakin menggelora, ingin ikut hanyut dalam pesta panas yang tengah berlangsung.

"Aahhh! Aahhh!!" Haechan langsung mendesah keras-keras saat Mark menggenjotnya dengan tempo cepat, menghentak, dan sangat kuat.

Mark tidak mau kalah dari mereka. Dia juga sama tengah mendulang nikmat, terlebih kenikmatan yang ditawarkan oleh lubang Haechan sungguh sangat tiada dua.

Setiap genjotan yang Mark berikan akan membuat Haechan mendesah dengan keras, dengan badan yang terlonjak-lonjak, payudara yang memantul-mantul, dan paha yang semakin mengalung erat di pinggangnya.

Terus mendesah, Haechan secara mandiri membelai dadanya sendiri karena sejak tadi kedua bongkahan itu terus memantul, bergoyang tak tentu arah seiring dengan semakin kencang tubuhnya bergoncang. Haechan remasi dadanya, ia usap-usap putingnya kasar, membuatnya jadi semakin tegang, keras, dan menegak sempurna.

"Aahhh!! Hisaappp dalaam! Enaaakk, nikmaaatnya Markhh!" Haechan tahu aksi remas-meremas dadanya tadi telah memancing perhatian dari Mark. Terbukti pria itu langsung menunduk, mengincar dadanya untuk dihisap putingnya.

Kenikmatan yang berlipat ganda.

Semakin bertambah gila saat tangan Mark turun ke bawah, menggosok klitorisnya kasar, membuat dirinya langsung bergetar dan menggelincang dengan hebat. Perutnya bergolak, terasa semakin kencang bersamaan dengan genjotan yang Mark berikan juga makin kencang saja.

"Ke-keluuaar!! Aakuuh ingin keluuar! Ahhh! Genjoot di sanaah, terus! Teruus!! Lebihh kencang! Keraaas-Maarkkhh!" Dan teriakkan itu menjadi penanda bahwa Haechan telah mendapatkan orgasmenya.

"Aarghh!" Mark menggeram tertahan. Mukanya memerah dan itu ia tenggelamkan di dada Haechan dalam-dalam. Haechan orgasme, membuat lubang vagina yang menjepit penisnya jadi semakin menyempit, memijat penisnya makin kuat.

Tapi itu tak menyurutkan Mark, tak membuat Mark jadi menurunkan tempo genjotannya. Berbanding terbalik, tak Mark acuhkan Haechan yang masih loyo karena orgasmenya, Mark tetap menggenjot lubang itu dengan keras dan kasar, mengejar klimaksnya sendiri.

"Aarrgghhh!!! Penuuuhh bangeett!" Haechan menggeleng frustasi ketika lubangnya dipaksa untuk terus melebar, karena penis Mark yang semakin lama terasa semakin bengkak, membuatnya merasa sangat penuh. Dinding vaginanya digaruk-garuk kasar oleh urat penis Mark yang menonjol setiap kali benda itu keluar-masuk, titik terdalamnya ditumbuk kasar, diberi kenikmatan secara brutal, bagai memiliki niat untuk membuatnya sampai babak belur.

Ya, babak belur karena kenikmatan, sudah jelas.

"Aarghhh!" Mark merasakan dia semakin dekat, ia bangun dari dada Haechan karena ingin fokus menggenjot, meraih klimaksnya segera.

Haechan tidak mau kalah, dia juga sedang berusaha untuk mendapatkan nikmat selagi Mark benar-benar terlalu terpaku pada orgasmenya yang makin dekat. Haechan ketatkan dan renggangkan lubangnya, memijat penis Mark dengan teratur agar puncak klimaks itu segera menyembur. Kedua tangan yang menganggur ia pakai untuk memainkan dada dan vaginanya. Satu tangan untuk memanja puting sambil meremas-remasi dada, sedangkan satu tangan lain ia pakai untuk mengucek vaginanya, menambah nikmat supaya dia bisa ikut membarengi Mark ketika akhirnya pria itu sudah sampai.

"Aku ke-keluar.... Rrrrghh!!" Mark menggeram menyambut semburan spermanya.

"Ak-akuuu ikuuutt!! Aakhhhh Markkhh aku pipiiissshh!!" Haechan orgasme, dan dia juga untuk yang kedua kalinya sampai terkencing-kencing. Pahanya ia angkat, air kencingnya memancur mengotori perut kotak-kotak milik Mark.

"Aarghhh!!" Mark masih mengerang. Ia merasa begitu nikmat dalam pelepasannya ini sampai-sampai kedua lutut yang ia jadikan sebagai tumpuan bergetar.

Ini adalah klimaks pertama Mark di dalam liang kawin yang selama ini selalu ia angankan. Jadi wajar sekali bila ia mendulangnya dengan perasaan yang sehebat itu.

"Aahh... Penuh banget, benihnya masuk semuah..." Gumam Haechan sambil mengusapi perutnya yang baru saja mendapatkan sensasi hangat, aliran sperma Mark di dalam rahimnya.

"Aku sejak dulu sudah memimpikan ini. Nikmatnya saat bisa mengawini orang secara langsung."

"Pasti tersiksa sekali, apalagi kalau harus menunggu lama." Balas Haechan sambil menyunggingkan senyum kepada Mark.

Mark membalas senyuman itu, ia tarik badan Haechan agar berada dalam posisi duduk. Mark melakukan itu dengan kondisi penisnya masih tertanam di dalam lubang Haechan.

"Unghh... Kalau begini, jadi semakin mash-masuuk!" Haechan menahan desahannya, ia remat kuat kedua bahu Mark saat pelan-pelan bisa ia rasakan penis itu kembali menegang.

"Bagus. Makin masuk, maka jadi makin mentok nusuknya." Ucap Mark sambil menghentakkan penisnya, menyodok lubang vagina Haechan, menyundul bagian intinya dengan keras sekali.

"Aarghhh!!" Dan mendapatkan hadiah beruba suara desahan keras nan merdu milik Haechan.

Dari siang sampai malam, pesta seks itu masih berlangsung, mereka tidak terlihat lelah sama sekali. Apalagi untuk Mark dan Haechan yang semakin lama malah semakin membara, terbakar dalam kobaran nikmat yang tengah mereka rasakan.

Berbagai macam posisi telah mereka jajal. Dari posisi Haechan di atas, Bergoyang di atas Mark seakan Mark adalah kuda jantan perkasa yang tengah ia tunggangi. Kemudian posisi anjing kawin, posisi yang sukses membuat Haechan sampai menjerit-jerit karena saking kenikmatannya digenjot Mark dari belakang.

Dan kali ini posisi mereka adalah Mark berbaring, dengan Haechan berbaring di atasnya. Kelamin mereka masih menyatu dengan banyaknya lendir putih yang membuat becek selangkangan. Mark menggenjot Haechan dari posisi itu, pinggulnya bergerak rusuh, senada dengan gerakan Haechan yang walau payah, tapi tetap berusaha mengimbangi Mark.

"Aakhhh! Maarkhh keeluuarr!! Mauuhhpl pipiish lagiih!"

"Bareengh!" Ajak Mark saat dia juga mulai merasakan klimaksnya sudah dekat. Ia makin kencang menggenjot Haechan, tangannya terulur ke depan untuk mengacaukan klitoris Haechan. Benda sensitif itu jadi semakin tegang di bawah kucekan kasarnya.

"Berheentii! Su-sudaaah! Maarkkhh-aarghhh!" Haechan akhirnya tidak kuat, kucekan Mark di klitorisnya, genjotan kasar Mark, tumbukan pada titik surgawinya, semuanya terjadi secara berasamaan. Membuat Haechan tak bisa berkutik sama sekali saat gelombang orgasmenya datang, berbarengan dengan mengucurnya air seni dari saluran kencingnya.

"Aargh, Haechaan!!" Mark sempat meneriakkan nama Haechan saat akhirnya dia berhasil meraih klimaksnya.

Sperma mengalir banyak, masuk ke dalam, memenuhi lubang Haechan sampai sebagian meluber keluar sebab lubang Haechan tak cukup menampung semuanya.

Ada jeda untuk bernapas, walau sebentar tapi itu tetap dimanfaatkan dengan baik oleh keduanya.

"Kamu belum lelah kan?" Tanya Mark setelah mereka bangun, melepaskan tautan kelamin mereka kemudian Haechan di depannya berbalik untuk menatapnya.

"Belum. Dan gak ada lelah kalau itu buat melayani Tuan Mark yang tampan." Haechan menjawab, dengan memberi provokasi berupa ia buka kakinya dengan lebar, memamerkan lubang vaginanya yang sudah super becek itu kepada Mark.

"Uuhh..." Haechan gosok-gosok vagina beceknya dengan nakal.

"Silakan, Tuan. Sudah siap untuk dimasuki lagi..."

Setelah mendengar bisikan sensual ini, tak usah menunggu lama untuk Mark langsung menerjang tubuh Haechan penuh nafsu. Peri nakal, sangat nakal. Jangan harap Mark akan memberinya ampun, akan Mark setubuhi sosok itu terus-menerus tanpa mengenal waktu dan tempat sama sekali.

 

***

Tugas Haechan hanyalah memberi anugerah untuk tanaman yang ditanam supaya tumbuh subur. Menjauhkan seluruh anggota suku dari mara bahaya. Melindungi mereka, memastikan mereka selalu dekat dengan sumber makan agar mereka bisa bertahan hidup.

Selain tugas-tugas itu, Haechan juga memiliki tugas pokok lainnya, yaitu melayani sang kepala suku. Melayani mafsunya yang sangat besar, yang benar-benar tak pernah pandang situasi, waktu, mau pun tempat sama sekali, jika sedang ingin maka setiap saat dia harus selalu bersedia untuk melayaninya.

"Peri kecil ini, sungguh erotis sekali penampilanmu." Komentar Mark pada wujud peri yang dimiliki oleh Haechan. Menilainya erotis sebab sekarang Haechan sedang menduduki buah strawberry dengan kondisi tubuh hanya memakai kutang dan kancut semata.

"Uuhhh!! Bijihh buahnyaa gesek-geseekk kliitt akuuh, enaak bangeet!!" Haechan mendesah sambil memaju-mundurkan pinggulnya di atas buah itu. Menggesekkan klitorisnya dengan sengaja pada tonjolan hitam biji strawberry.

Rambut Haechan dicepol dua, bergerak-gerak lucu seiring dengan gerakan rajin Haechan mengendarai buahnya.

Pagi itu Mark sedang berburu dengan ditemani bersama Haechan. Mereka berhenti karena Mark melihat banyak hamparan buah strawberry. Selama mereka berhenti, Mark sibuk menikmati buah tersebut, sementara Haechan hanya duduk diam di atas buah sembari bernyanyi kecil, membuang bosan selagi menunggu Mark yang ingin istirahat.

Dari sanalah sebuah pikiran kotor muncul di dalam kepala Mark. Memang pada dasarnya dia tak bisa berpikir baik, apalagi kalau itu menyangkut Haechan. Ia tercetus ide, menyuruh Haechan bermasturbasi dengan bantuan dari biji-biji buah strawberry yang menonjol itu sebagai bantuan.

Haechan yang disuruh tak bisa menolak. Ini sudah jadi tugasnya. Menuruti fantasi Mark juga adalah sebuah keharusan untuknya sehingga tak usah tunggu apa pun lagi, Haechan langsung berlakon di atas buah itu.

"Aakhhh!! Akuuhh!! Aarghhh!" Mengerang keras, Haechan klimaks -lagi, ini sudah ketiga kalinya dia klimaks. Bermasturbasi di atas buah strawberry dengan sambil ditatap intens oleh Mark, keluar tiga kali, dan dua kali sampai terkencing-kencing.

Akibat ulahnya ini, buah strawberry yang dinaiki oleh Haechan jadi berlendir, mendapatkan lumuran cairan vagina Haechan yang kental dan bonus air kencing Haechan yang sangat banyak itu.

"Kamu pintar sekali. Sekarang bangun, kamu sudah bisa istirahat." Ucap Mark sambil berseringai, sambil juga memberi tepukan pada puncak kepala Haechan dengan ujung jari telunjuknya, pelan saja.

Haechan pun langsung terbang, pergi dari buah itu untuk duduk di bahu telanjang milik Mark. Ia lemas, ia sandarkan badanya pada leher kokoh milik Mark, menjadikan tempat itu sebagai hal ternyaman untuk beristirahat.

"Uh? Dimakan?" Haechan menatap Mark dengan tatapan heran saat ia melihat Mark memetik dan menyantap strawberry bekas perbuatannya, yang basah dan licin penuh bekas lendirnya.

Mark mengendikkan bahu sampai badan Haechan ikut bergerak-gerak.

"Manis. Kamu tahu kan, jadi aku makan. Besok akan kita ganti buahnya, giliran lakukan di atas buah pisang. Mau kan?"

Haechan sempat melamun sebelum akhirnya sadar dan memberi anggukan.

"Pisang yang menggantung di atas pohon sana, atau yang di bawah sini?" Haechan terbang, mendarat di atas tonjolan penis Mark di bawah sana.

Mark menyeringai.

"Dua-duanya. Pagi lakukan di bawah sini, siang lanjut lakukan di pisang yang itu. Kamu siap?"

"Selalu siap, kapan saja dan di mana saja, tuan tampan!"

***

END