Chapter Text
MarkxHaechan
Slight Johnny-Donghyuck
Twin Haechan and Donghyuck
Mark x TwinHc
"Unghhh...!!" Lenguhan keluar dari belah bibir Haechan ketika dia merasakan Mark masih bersemangat menggenjot lubang kawinnya dari belakang.
Sudah tidak terhitung berapa lama mereka bersenggama, berapa banyak Mark mengisi rahimnya dengan semburan spermanya yang dahsyat, berapa banyak ia terus terkencing-kencing setiap kali klitorisnya diusap kasar oleh Mark atau pun bila genjotannya terus berlangsung kasar hingga akhirnya sukses memancing saluran kemihnya untuk berkemih.
"Aakhh! Ay-ayaaah!! Akuu mau pipiisshh-oouuhh nikmatnya!!" Haechan mendesah, menjerit berantakan saat ia menyemburkan air kencingnya. Paha dan lututnya bergetar hebat, pinggul pun mengejan, sementara kelamin tidak berhenti mengucurkan cairan bening itu hingga menggenang di bawah kakinya.
"Arghh!" Yang mengerang adalah Mark, yang ternyata ikut menyusul klimaks, memenuhi lubang vagina Haechan dengan cairan spermanya yang banyak.
"Aahhh..." Desahan yang keluar, terasa hampa saat penis itu dikeluarkan dari vaginanya. Haechan menoleh ke belakang, dia sebenarnya tidak rela ketika lubangnya dibiarkan kosong, ia ingin untuk terus disumpal penis, digenjot kasar, dibuat nikmat hingga lupa segalanya. Haechan sangat menginginkannya.
Tapi sayang sekali, Ayah tampannya Haechan itu harus menyudahi semuanya sampai di sini saja, karena nanti ia masih memiliki pertemuan antar kepala suku yang harus didatangi. Dan itu juga akan dihadiri bersama Haechan.
Acaranya adalah pertemuan rutin antar kepala suku yang hanya diadakan selama sepuluh tahun sekali, dan tuan rumahnya akan bergantian dalam setiap pertemuan. Untuk pertemuan kali ini, akan diadakan di suku mereka, sehingga mereka harus sudah bersiap dan menyambut para tamu dari sejak pagi, tidak boleh sampai terlambat.
"Nanti gak usah pakai baju." Ucap Mark, dia menarik Haechan agar mendudukkan diri pada potongan batang kayu di belakang mereka. Menyuruh Haechan untuk membuka kakinya lebar-lebar sebelum kemudian ia menempatkan diri untuk duduk di hadapan kelamin Haechan, ingin memberikan sentuhan terakhirnya untuk membersihkan kelamin Haechan yang nampak basah, becek, dipenuhi oleh lendir putih bekas penyatuan cairan kawin mereka.
"Kenapa gak usah pakai baju Ayh-yaahh.... Jangaan dijilat, jadi gatel Ayahhh!" Desah Donghyuck ketika labia dan keseluruhan kelaminnya dijilati oleh Mark, dengan sangat rakus, sambil sesekali klitoris sensitifnya dihisap dan dimainkan kasar oleh mulut andal itu.
"Biar semua senang bisa liat badan montok kamu." Jawab Mark singkat.
Haechan sedikit tersipu dipuji seperti itu, bersikap sedikit malu-malu ketika kedua kakinya tengah terbuka lebar membiarkan kelaminnya dengan tidak tahu malu sedang dikacaukan oleh mulut seseorang.
Sebuah kontradiksi yang menarik, antara apakah dia memang masih memiliki rasa malu atau tidak.
Tapi siapa juga yang akan peduli, di sini tidak akan ada yang berani berkomentar soal dirinya karena dia adalah istri kecil dari sang kepala suku, sosok paling dihormati dan puja tinggi di sini.
Sehingga dia bisa melakukan atau menjalani semuanya dengan sesuka hatinya.
Telah tiba waktu mereka untuk menyambut para tamu yang datang, para kepala suku lain yang datang bersama dengan peri kecil mereka masing-masing. Ini menarik, ketika Haechan melihat bahwa ternyata tidak hanya dirinya dan Mark saja yang bertelanjang, tapi semuanya.
Semua orang bertelanjang secara sepenuhnya. Para peri kecil, para kepala suku, para warga yang juga ikut berbaris untuk menyambut. Semua, tidak terkecuali para gadis belia yang masih perawan yang tubuhnya masih begitu segar dengan payudara ranum, kecil dan berbeda jauh dengan milik Haechan atau pun para peri kecil dan orang dewasa lainnya, yang montok sekali sampai tumpah-tumpah.
Mereka berkumpul di sebuah lapangan desa, yang luas sekali dengan banyaknya hamparan rerumputan hijau, yang permukaannya sangat lembut seolah-olah itu permukaan bulu angsa.
"Selamat datang di desa kami." Mark mengangkat sebuah gelas yang berisikan cairan berwarna putih bening, seperti itu adalah air putih biasa.
Haechan hanya memerhatikan, ia juga mendengarkan setiap patah kata yang Mark berikan sebagai sambutan. Namun di tengah kegiatannya, mendadak fokusnya teralih kepada para kecil yang dibawa oleh masing-masing kepala suku. Salah satu dari mereka, ada satu orang yang sangat menarik perhatian Haechan.
Yaitu ternyata ada kembarannya. Donghyuck. Yang dahulu mereka harus berpisah karena Donghyuck harus turun ke bumi terlebih dahulu. Haechan tidak bisa memudarkan senyumnya sama sekali ketika akhirnya mereka saling jumpa setelah satu tahun lamanya berpisah.
Donghyuck dan dirinya adalah kembar identik, mereka sangat mirip dan nyaris tidak bisa dibedakan.
Tapi sekarang Haechan bisa menemukan banyak perbedaan di antara mereka. Yang paling menonjol terletak pada perutnya, Donghyuck sedang hamil sekarang, perut itu nampak buncit bersama dengan kedua payudara besarnya yang meneteskan air susu dengan cukup deras.
Selain perutnya, wajah Donghyuck juga nampak sangat berseri dan bertambah semakin cantik, kedua pipinya merona secara alami, rambutnya panjang bergelombang dan nampak lebat.
Haechan tiba-tiba berdecak iri, bila kehamilan bisa mengubah seseorang menjadi sebaik itu, dalam hal penampilan, termasuk paling utama adalah kecantikan, maka dia juga ingin merasakannya. Dia ingin dibuat hamil juga, dia ingin perutnya membesar kemudian dadanya menjadi semakin montok dan menghasilkan banyak susu, sampai menetes-netes seperti milik Donghyuck. Dan juga dia ingin agar wajah cantiknya ini menjadi semakin cantik karena nampak lebih berseri.
Tapi sebenarnya ia dan Ayah tampannya setiap hari pun selalu berkawin, bahkan tidak pandang waktu dan tempat, dan Haechan yakini dari sekian banyak perkawinan yang mereka lakukan, pasti setidaknya ada satu benih yang berhasil tumbuh serta berkembang di dalam perutnya. Mungkin hanya tunggu beberapa minggu terlebih dahulu sampai tanda-tanda kehamilan itu akan mulai ia rasakan dan nampak pada tubuhnya.
"Dengan ini, aku akan membuka acara kita untuk tiga hari ke depan!" Mark bersorak keras lalu setelahnya ia tenggak minuman dalam gelas yang ia bawa dalam beberapa tegukkan semata.
Haechan tidak fokus sama sekali, acara apa yang Mark maksud dia sungguh tidak paham dan hanya ikut saja untuk meminum air dalam gelas kaca berukuran sedang itu sampai habis. Rasanya jauh dari rasa air putih, sedikit masam dan pahit, kemudian ketika ditenggak akak meninggalkan kesan panas yang menyelimuti tenggorokan.
"Ayah, acara apa yang dimaksud?" Tanya Haechan kepada Mark setelah selesai meminum minumannya.
Mark mengubah posisinya menjadi menghadap Haechan, ia memberi senyum kepada Haechan sebelum kemudian meminta peri kecilnya agar menoleh dan melihat sekitar. Di mana orang-orang sudah mulai sibuk untuk bersenggama, melakukan seks secara kelewat bebas, dengan berbagai pasangan mana pun yang menginginkannya. Haechan bahkan juga melihat kembarannya, Donghyuck sedang dijamah oleh tiga pria lainnya selain pasangannya sendiri.
Haechan tentu saja bingung. Bukankah peri dan kepala suku yang sudah ditakdirkan bersama maka tidak boleh bersetubuh dan mendapatkan jamahan dari orang lain? Lalu kenapa Donghyuck sekarang sibuk melayani empat pria sekaligus dalam satu waktu, yang tidak mungkin bila keempat pria itu adalah pasangannya.
Meski pun rasa heran menyelimuti Haechan, tapi tidak dipungkiri bila kini nyata sekali perutnya mulai bergejolak melihat segala pemandangan erotis yang tersaji di depan mata. Dia merinding dalam sesaat, sambil menggigit bibir bawah pelan, dia juga mulai merasakan tidak nyaman pada selangkangannya, gatal, sedikit basah, sampai membuat ia reflek ingin merapatkan paha rapat-rapat.
"Kita masuk musim kawin, Haechan. Hanya diadakan selama sepuluh tahun sekali. Musim kawin di mana semua orang bebas dan boleh mengawini siapa pun selama tiga hari ke depan." Jawab Mark sambil meraba tubuh halus nan lembut milik peri kecilnya, yang sampai kini masih betah memasang wajah bengong.
Haechan jelas saja terkejut, namun di dalam hati kecilnya langsung dan segera menyambut perkataan Mark dengan sorakkan senang. Ini memang tidak pernah ia pelajari dalam pelajaran yang diberikan oleh para guru selama di langit, tapi melihat peri-peri kecil lainnya mengangkang lebar, mendesah, menjerit keenakan dikawini oleh beberapa pria dengan begitu suka rela, maka dapat Haechan simpulkan bahwa kegiatan ini bukanlah sesuatu yang terlarang dan memang diperbolehkan dan diizinkan oleh langit.
Sejak beberapa hari turun ke bumi dan menjadi pasangan Ayah Mark, Haechan akui ia memang memiliki begitu banyak fantasi liar mengenai berhubungan badan dengan beberapa pria yang suka mengintip kegiatan panasnya bersama Ayah. Jika ia memergoki mereka, rasa hati ingin sekali untuk mengajak mereka bergabung, tapi begitu ingat aturan langit, Haechan selalu urung dan memendam dalam keinginan tersebut.
Tapi sekarang, saat mendengar bebas dan boleh dikawin atau pun mengawini siapa pun secara terbuka, maka keantusiasan itu segera menyerang Haechan sampai membuat lubang kawinnya langsung berkedut-kedut keras, kontraksi awal sebagai penanda bahwa dia siap untuk segala kemungkinan apa pun yang akan terjadi selama tiga hari ke depan.
"Aakhh!"
Teriakkan keras itu berasal dari seberang, tidak jauh dari posisi berdiri mereka. Dan itu disuarakan oleh Donghyuck yang sekarang sedang menungging bersama perut buncitnya, dan di belakang seorang lelaki tengah menggenjotnya, di bawahnya ada pria yang tengah berbaring dan sibuk menghisap susunya, sedangkan di depannya ada pria lain yang berdiri dan penisnya sedang dihisap oleh Donghyuck.
Haechan menatap itu dengan pandangan iri, dia juga mau disepertiitukan, benar-benar terlihat sibuk memanja dan dimanja.
"Dia mirip sama kamu."
"Iya, dia kembaran aku."
Haechan dengan tidak sabaran menarik Mark untuk bergabung bersama Donghyuck, ia ingin mengenalkan Mark kepada kembarannya, sekaligus tentu saja melanjutkannya dengan kegiatan yang panas bersama mereka. Karena sekilas lihat saja, sudah nampak sekali betapa bergairahnya perkawinan yang dilakukan oleh Donghyuck bersama rombongan prianya itu.
"Donghyuck." Panggil Haechan pelan.
Donghyuck bisa mendengar, tapi dia tidak fokus ketika kedua lubangnya sedang diisi oleh penis. Antara lubang kelaminnya dan lubang depan, mulutnya. Keduanya tengah digenjot oleh batang penis yang sangat besar, bersama dengan kedua payudaranya yang dimainkan andal oleh mulut dua pria berbeda. Dalam keadaan seperti itu, ketika nikmat menjalar dengan membabi buta, maka siapa juga yang masih bisa memertahankan fokusnya.
Sudah jelas Donghyuck tidak akan pernah bisa sama sekali. Dia payah luar biasa, dan hanya berakhir dengan memberikan lirikan mata saja kepada seseorang yang sudah menyapanya.
"Uunghh... Haechan.... Kamu? Sudah di bumi-mmpppphh!" Sayang sekali Donghyuck tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika mulut sudah kembali dibungkam, disumpal oleh sebatang penis.
Selangkangan Haechan semakin terasa tidak nyaman saat ia melihat pemandangan itu, apalagi ketika tangan Mark dari belakang juga sudah mulai untuk menjamahi tubuhnya. Meraba dari bokong, sensual, dipijat halus, kemudian terus bergerak ke depan.
"Buka kakinya, sayang..." Panggilan seduktif, dengan suara rendah yang dihantarkan langsung tepat di sisi telinga.
Haechan menggelinjang dalam beberapa saat, menggeliat tidak nyaman dalam dekapan Mark dan menurut patuh ketika pahanya diarahkan untuk terbuka oleh Mark.
Mereka masih dalam posisi berdiri ketika kelaminnya mulai dijarah oleh jari-jemari panjang milik Mark.
"Aarghh!!" Kekuatan kaki Haechan sangat lemah, ia harus berakhir meleleh di atas tanah, dan Mark mengikutinya.
Duduk mengangkang, membiarkan Mark mengerjai lubang kawinnya dari belakang dengan seru. Langsung memakai pergerakan yang agresif ketika lagipula sejak tadi kelaminnya sudah basah, merembeskan cairan pelumas dalam jumlah yang banyak.
"Aakhhh! Iyaaah enaak banget Mark!!" Haechan berkali-kali melengkungkan punggungnya setiap kali klitoris bergesekan dan dikocok secara sengaja oleh Mark.
"Ituhh Ayah kamu, Haechan-uunghh!! Johhnnyyy aarhhh susu akuh tumpaah!" Donghyuck meracau di tempatnya, sempat melayangkan satu pertanyaan kepada Haechan namun semuanya buyar ketika Johnny asik menyusu padanya secara brutal, dihisap kuat hingga ia khawatir putingnya bisa saja ikut tersedot lepas karena terlalu kuat.
Johnny adalah Ayah Donghyuck, lelaki dengan bentuk tubuh perkasa, tinggi, gagah, dan juga tentu saja berwajah tampan. Dan sekarang dia sedang mengandung hasil perbuatannya bersama sang Ayah.
Donghyuck melirik kepada Haechan yang sekarang sedang mengejan, berteriak keras dengan selangkangan menyemburkan air kencing yang begitu tinggi, tapi tidak lama kemudian ada dua lelaki muda yang terlihat berebut ingin menampung semburan air tersebut.
Donghyuck merinding melihatnya, sekali pun sekarang tubuhnya sendiri sedang digarap oleh empat pria, namun melihat kembarannya yang sudah lama tidak ia jumpai, dan sekalinya mereka bertemu adalah di momen seperti ini, hal itu membuat badannya jadi makin gila panasnya.
Donghyuck reflek membuka kakinya dengan semakin lebar, terhitung ia sudah disetubuhi oleh dia pria, yang keduanya telah menyumbang masing-masing satu semburan sperma untuknya. Tapi lubang kawinnya masih lapar, ia menginginkan yang lebih banyak lagi. Jadilah ia membuka kakinya lebar-lebar di saat ada dua mulut yang sibuk melamoti kelaminnya.
"Iyaah Donghyuck, akuu sudah di bumii-aahhh!!! Maarkk aku juga ingin seperti dia!!" Haechan mendesahkan rasa irinya kepada Mark, ia mendongak ke belakang sambil menarik tangan pria yang ada di belakangnya, seakan meminta izin kepada Mark apakah ia boleh mengajak orang lain untuk menggaulinya.
"Boleh, sayang. Butuh berapa pria yang kamu mau, lakukan saja." Mark tentu saja mudah mengizinkan ketika ini sudah jadi peraturan yang berlaku. Bahwa siapa pun berhak mengawini dan dikawini oleh siapa pun.
"Berapa puun! Mau banyak-banyaaakhh!! Aaahhh Maarkhhh ada yang hisap susukuh, hisaap yang dalaam!" Baru sesaat Haechan mendapatkan izinnya dari Mark, dan sekarang sudah ada dua pria lain yang datang untuk menyusu kepadanya.
Jumlah pria di sekitar Haechan ada lima, dua di depan kelaminnya dan berebut untuk mencicipi lubang kawinnya yang tengah menghasilkan cairan manisnya sangat deras. Sedangkan dua lainnya sibuk bermain di atas dada, ada yang menyusu, ada juga yang mengocok penis di depan putingnya, untuk menggesekkan puncak putingnya dengan puncak penis. Digesek kasar dengan gerakan memutar, dan atau terkadang menekan-nekannya hingga dada bulatnya memantul pelan.
Dan terakhir ada Mark yang sekarang sibuk mencumbunya, mengajak untuk berciuman dengan cara yang cukup terburu-buru, karena Mark sudah terlalu terkabutkan oleh nafsu, nafsu membara yang menyala dan membakar mereka.
Haechan tidak pernah mendapatkan kenikmatan sebanyak ini, seluruh titik nikmatnya disentuh dengan baik oleh banyak orang, dan ia melakukannya di sebelah orang yang juga sama tengah dimanja oleh banyak orang.
Dalam sesaat Haechan melirik kepada Donghyuck, dan mata mereka bertemu. Mata sayu serta terangsang mereka saling pandang, dan momen itu hanya membuat Haechan merasa semakin terbakar saja.
"Ayah, masukiinn!! Masukiinn!" Donghyuck merengek seperti anak kecil ketika sejak tadi belum ada yang memasuki kelaminnya lagi. Ia memohon kepada Johnny, dengan suara mencicit yang sangat mirip dengan anak kecil.
Menarik perhatian Haechan, ia menoleh kepada Mark sambil melayangkan tatapan matanya yang nampak sangat sayu.
"Aku juga mauu! Masukiin!"
Seakan meladeni dua bayi, Mark dan Johnny saling pandang kemudian saling lempar seringai. Dua peri kembar ini, tidak disangka sekali bila ternyata bukan hanya wajah saja yang sama persis namun juga tingkah binalnya juga sangat sama persis.
"Mau reuni sama kembaran kamu gak?" Tanya Johnny kepada Donghyuck yang ternyata langsung diangguki dengan penuh semangat oleh Donghyuck.
"Mau! Mau! Mau-aaahhh! Ayh-aaayaahh kliit aku jangan digosok gituuh! Aahh akuuu gak kuaaat!" Donghyuck harus mendapatkan interupsi ketika ia merasakan klitorisnya digosok kasar oleh Johnny, kakinya yang semula mengangkang lebar perlahan ia coba rapatkan namun sayang sekali tak bisa ketika pahanya mendapatkan cengkeraman kuat dari Johnny. Berakhirlah dengan ia tetap mengangkang, dan mendapatkan orgasme hebat sampai paha dalamnya bergetar hebat, panggulnya mengejan, naik-naik ke atas bersama dengan perut besarnya yang ia pegang dan usap kasar karena mendadak terasa kencang.
"Aahhh! Enaakh sekali Ayaah!" Meski pun dia mendapatkan orgasme yang begitu membuat badan berakhir menjadi lemas dan payah, namun itulah yang ia suka. Donghyuck suka dibuat menjadi tidak berdaya karena kenikmatan ini, Donghyuck suka ketika ia begitu kacau dan berantakan, tidak tertolong, karena dirundung oleh banyak nikmat yang menyerang seluruh permukaan tubuhnya.
Donghyuck suka itu, sangat suka sekali sampai rasanya dia menjadi gila ketika ia tidak mendapatkan jamahan dari sang Ayah dalam sehari saja.
Belum reda Donghyuck bersama euforia pasca orgasmenya, tiba-tiba ia merasakan bila Johnny menariknya agar mendekat pada kembarannya. Donghyuck menyambut itu dengan binar rasa senang, dia sangat rindu kembarannya.
Di mana sebelum mereka harus berpisah, dan masih sama-sama mejadi penduduk unggulan Langit, mereka selalu bersama dan melakukan segala hal secara bersama termasuk ketika mereka belajar mandiri bila habis mendapatkan pelajaran dari guru.
Mereka akan saling berbagi nikmat, menyentuh tubuh satu sama lain, saling mengeksplorasi apa pun yang kira-kira membuat mereka penasaran dan tidak tahan ingin menjajanya.
"Aaahhh Haechaan!! Aku rinduu!" Donghyuck dibaringkan oleh Johnny di sebelah Haechan yang sekarang sudah mengangkang, dengan lubang kawinnya digenjot oleh Ayah sosok tersebut.
"Mereka binal banget, lebih dari yang kita bayangkan." Johnny berkata kepada Mark, menunjuk si kembar yang tiba-tiba saja sudah saling memakan bibir satu sama lain.
"Pas sekali untuk kita-aah! Sempit sekali!" Balas Mark, ia mengerang sekaligus mendesah saat merasakan lubang Haechan menyempit, dan memakan penisnya dengan rakus.
Johnny tidak mau kalah dari Mark yang sekarang tengah mendulang nikmat, namun lebih dulu dia masih ingin memainkan lubang kawin si peri kecilnya yang tengah mengandung itu. Dua jari Johnny masukkan ke dalam, memberi dorongan pelan yang kemudian dia mulai menggenjotnya dengan tempo cepat karena lubang Donghyuck begitu licin, sangat memudahkan pergerakannya.
"Uuhmm!! Aay-ayaah...mpphh!" Sulit bagi Donghyuck untuk mendesah dan menikmati sodokan pada lubang vaginanya di saat ia harus meladeni ciuman dari kembarannya, sekaligus kedua payudaranya yang sekarang sedang diremas-remas, dan dihisap oleh siapa pun tangan dan mulut yang tidak ia ketahui siapa pemiliknya. Tapi Donghyuck tidak melawan, ia membiarkannya saja karena lagipula peraturannya sudah seperti ini, dan ini pun sangat enak.
"Ayahh Markk, aku jugah mau hamiil seperti Donghyuck-aarghh! Mentook bangeet! Haechan sukaah Ayah!!" Haechan melepaskan ciumannya dengan Donghyuck hanya untuk berkata soal keiriannya yang juga ingin dibuat hamil seperti Dinghyuck, dan kemudian ia mendapatkan hadiah berupa lubangnya disodok terlampau keras, sampai ke ujung, sangat mentok sekali, dan itu terus berulang-ulang hingga badannya ikut terlonjak-lonjak bersamaan dengan dadanya yang memantul hebat.
"Ungh! Haechan, beberapa bulan lagihh kamu bakal hamiil...aahhhh! Perut kamu bakal bes-besaar! Aahh Haechaan! Enak sekalii digenjoot saat perut membesarhhh....Ayaaah Johnnyyy lebihh cepaaat Hyuuck mau pipiiss!!" Donghyuck meracau di sebelah Haechan, seakan memanasinya betapa sangat nikmat ketika digenjot dalam keadaan perut membesar.
Johnny menarik jarinya saat Donghyuck benar-benar kembali berkemih, tidak sebanyak sebelumnya, tapi saat ia menampari permukaan kelamin itu, keras, maka kucuran airnya semakin keluar banyak. Muncrat ke mana-mana sampai mengenai wajah dan dada telanjang miliknya.
"Ay-ayaah Markh! Haechaan juga mau pipissh...aahhh sedikiit lagii!! Lebih cepat, iyaahh cepaat Ayaah Markkh! Arghh!!" Haechan membusungkan dada tinggi, jari-jemari kakinya menekuk ke dalam, pahanya bergetar hebat, pinggulnya bergerak resah, dan ia orgasme untuk kesekian kalinya.
Mark tidak memedulikan betapa payahnya kondisi Haechan saat ini, dia tetap menggenjot lubang itu, lebih gila, untuk menyusul pelepasannya yang juga terasa semakin dekat.
"Uhhmm!! Ayaah Johnnyy besaar sekaliihh!" Di sebelah Donghyuck mendesah ketika lubangnya kembali dimasuki dan dipenuhi oleh penis milik Ayahnya.
Dengan sensasi sama yang selalu memabukkan, Donghyuck menikmati setiap hentakan yang Johnny berikan pada lubangnya. Kakinya dinaikkan ke atas, menyampir di bahu kokoh milik Johnny, dan dalam posisi itu menyebabkan setiap sodokan yang Johnny berikan jadi terasa semakin menusuk dengan dalam. Tapi Donghyuck tidak menolaknya, dia malah jauh lebih menikmatinya sampai merasa badannya bagai diterbangkan terlampau tinggi oleh Johnny menuju nirwana.
"Haechan, Ayah keluaar!! Ayah bakal hamilin kamu, terima ini-aarghh!!"
Geraman di sebelah membuat Donghyuck mendapatkan distraksinya, ia memerhatikan Ayah dari kembarannya yang sekarang sedang klimaks dan menyemburkan sperma banyak-banyak ke dalam lubang kawin Haechan. Pemandangan itu terlihat sangat panas, Donghyuck menilai jika Ayah dari kembarannya sangatlah tampan, meski pun Ayahnya sendiri juga tampan tapi Ayah Mark terlihat sedikit lebih atraktif ketika sedang mendapatkan klimaksnya.
Urat-urat leher yang menonjol, dada bidangnya yang lebar, bahunya yang sangat kokoh dan penuh otot, kemudian tangannya yang juga dipenuhi oleh otot serta pembuluh darah yang menonjol. Terlalu erotis dan menarik mata Donghyuck, sampai dia tidak sadar mulai melayangkan tatapan lapar kepada Ayah Mark sambil gigit jari.
Donghyuck, memiliki sebuah hasrat yang tiba-tiba saja muncul dengan tanpa dia mau, yaitu dia ingin merasakan dikawin oleh Ayah Mark. Merasakan lubangnya digenjot kuat dan kasar seperti yang Haechan rasakan sekarang, ingin merasakan rahimnya dipenuhi oleh hangat semburan sperma Ayah Mark.
Donghyuck ingin merasakannya juga!
"Uuuhhh Ayaaahh!" Donghyuck terlalu asik dengan fantasinya sendiri ketika dia tiba-tiba saja merasakan Johnny mengubah posisinya menjadi menungging, ia mengikuti instruksi itu.
Digenjot dalam posisi menungging seperti ini juga sangat nikmat, dan terasa lebih nyaman untuk perut besarnya. Tapi posisi ini juga yang membuatnya jadi mudah lemas, lututnya terus bergetar-getar dan tidak kuat menumpu badan, beruntung sekali ada orang lain di bawahnya yang sigap menyangga tubuhnya, menyusu padanya sambil memegang bahunya agar tetap kuat berada dalam posisi menungging.
"Ayaahh!! Hyuuckk tidaakh kuaat! Hyu-hyuuckk aakhh kliit hyuckk tidaakhh Aayhaaahh!" Donghyuck menggeleng kasar ketika Johnny secara kasar menggenjotnya, kemudian tangan Johnny juga aktif mengucek klitorisnya dari belakang. Jadi semakin lemas saja.
Meninggalkan Donghyuck dan Johnny yang kembali dengan aksi perkawinan mereka, saat ini Haechan dan Mark sudah berada berada dalam posisi yang sama persis seperti Donghyuck. Dia sejak tadi memang terus menaruh iri pada kembarannya, ingin merasakan dan mengikuti apa pun yang kembarannya lakukan. Maka jadilah, ia berakhir menungging, digenjot dalam posisi anjing kawin, dengan satu pria di bawahnya asik memainkan dadanya, dan Haechan juga mengundang dua pria lainnya untuk ia manjakan penisnya.
"Uuhhmm!!" Haechan bergumam tidak jelas, mulutnya memberi oral, dan tangannya mengocok penis lainnya. Ia lakukan secara konstan bersamaan dengan lubang kawinnya yang terus digenjot oleh Mark.
Dalam kegilaan gairah, Haechan sudah tidak mau memikirkan apa pun selain menikmati seluruh kenikmatan ini, sembari membayar puas mereka yang sudah memberinya nikmat.
Penis dalam kulumat semakin membesar, kedua tangannya pun mulai kewalahan mengocok penis dari pria lainnya, dan lubangnya makin lama makin terasa didesak untuk melebar sebab penis Mark juga makin membesar. Mereka bertiga, penis yang tengah Haechan manjakan, mereka sebentar lagi akan mendapatkan klimaks dan menyemburkan spermanya.
Haechan makin bersemangat, tidak sabar untuk menerima guyuran sperma yang begitu hebat dari para pria yang saat ini tengah mengelilinginya. Para pria perkasa dengan penis besar mereka yang juga tidak kalah perkasa.
"Aaahhhhh!!" Haechan mendesah, melepaskan kulumannya dari penis tersebut saat semburan spermanya terlalu banyak, sangat banyak sekali sampai tumpah-tumpah dari mulutnya dan muncrat mengenai wajah serta rambutnya.
Dua penis lainnya juga menyemburkan sperma, ia bagai dihujani banyak sperma, yang satu melesak dan masuk memenuhi rahimnya, sedangkan penis dalam genggaman juga menyemburkan sperma dan itu mengotori seluruh permukaan tangannya.
"Ahh... Enak Ayaah... Enak sekaliihh!" Haechan lemas, penis dalam lubangnya dicabut kemudian badannya jatuh menimpa pria yang ada di bawah tubuhnya. Terlalu lemas sampai dia tidak peduli dengan keadaan super berantakan miliknya. Banyak sperma melumuri tubuhnya, menyatu bersama keringat dan sekaligus cairan liur dari orang-orang yang tadi mencumbu dan menjilati kulit halusnya.
Mengilap, membuatnya jadi nampak lebih dan semakin seksi.
Haechan memejamkan matanya sebentar, sebelum kemudian mulai merasakan lubangnya kembali dijamah. Lubangnya yang sudah basah dan terus melelehkan cairan putih kental, entah cairannya sendiri ataupun telah tercampur banyak sperma, tapi yang jelas sekarang kondisi selangkangannya sangat dipenuhi oleh lendir hasil perkawinan yang sudah ia lakukan.
"Cantik, belum capek kan?" Ucap seorang pria di belakang Haechan.
Haechan menoleh, itu bukan Mark tapi merupakan salah satu rakyat Mark yang ia tak ketahui siapa namanya, dan sekarang pria itu sedang berusaha membobol dan memasukinya.
Haechan menjawab tidak lelah, ia memasang senyuman menggoda kemudian bangkit kembali sambil membuka lebar pahanya.
Haechan sangat siap untuk dikawini lagi.
"Ayo, masukin, kawinin lubang aku lagi yaahhh!"
***
Malam telah tiba, namun semarak musim kawin di desa masih belum surut sama sekali, namun berbedanya sekarang lebih banyak yang memilih untuk kawin di dalam pondok mereka masing-masing, tapi ada juga yang masih asik melakukannya di luar.
Berbeda dengan Donghyuck yang sebaliknya, sekarang dia ada di pondok bersama dengan Johnny yang ternyata tengah terlelap. Mereka juga baru selesai bersenggama, dan kemudian mereka terlelap bersama dalam posisi saling mendekap.
Donghyuck terbangun ketika ada banyak sekali hal yang mengusik pikirannya. Yaitu adalah wajah tampan yang dimiliki oleh Ayah Mark. Donghyuck sangat sulit untuk melupakan wajah kenikmatan Ayah Mark saat mendapatkan klimaksnya dan memenuhi lubang Haechan dengan banyak sperma.
Donghyuck terus terbayang-bayang sampai ia khawatir mulai menaruh obsesi tersendiri kepada pria itu.
Pada akhirnya demi menuruti hasrat besarnya itu, Donghyuck pun memutuskan keluar dari pondoknya, berjalan dalam keadaan telanjang menuju ke pondok milik kembarannya. Donghyuck bertekad bahwa dia harus ikut menjajal penis milik Ayah Mark di dalam vaginanya.
Tadi ia tak sempat ikut menikmatinya sebab tubuhnya sudah terlanjur lemas, maklum saja itu adalah efek dari kehamilannya, yang membuat dia tak bisa berstamina besar selayaknya Haechan yang bahkan tadi sudah sempat menjajal penis Ayah Johnny.
Itu sangat tidak adil untuk Donghyuck! Sekarang gantian, harus dia yang juga ikut merasakan penis milik Ayah Mark!
Donghyuck berjalan memasuki pondok milik Mark dan Haechan yang memang tidak memiliki pintu. Dia usap perut buncitnya ketika ia mulai mendengar desahan hebat dari kembarannya, pasti lubangnya sedang digenjot kasar oleh Ayah Mark. Membuat Donghyuck jadi tidak sabar dan ingin segera ikut bergabung.
"Channiee...." Panggil Donghyuck dengan suara liriknya ketika ia melihat Haechan dan Mark sedang bersenggama dalam posisi Haechan berada di atas Mark, menunggangi penis Mark dengan gerakan dan goyangan yang begitu andal.
Kelamin Donghyuck yang memang masih basah dan becek, sisa pergumulannya sendiri dengan Johnny kini juga terasa semakin basah, hanya saja sekarang lubangnya juga berkedut dengan cukup keras, apalagi ketika matanya bertemu dengan mata milik Ayah Mark. Kedutannya semakin kencang dan mendadak kakinya jadi lemas, tak sabar ingin luruh ke tanah, dan membukanya lebar-lebar, menyambut penis Mark untuk memasuki dan memenuhi lubangnya.
"Aahhh hyukciieehh!! Siniiih ayo gabuung!!" Ajak Haechan kepada kembarannya. Ia tersenyum lebar sambil naik-turun di atas Mark. Naik-turun, bergoyang memutar, seperti mengulek penis Mark di dalam lubangnya.
Haechan tahu kalau sejak tadi pagi Donghyuck sering sekali mencuri mata pada Ayahnya. Memang Ayahnya sangat tampan dan perkasa sekali, tidak heran kalau orang-orang akan senang memandangnya entah dengan tatapan menarik atau pun mesum, sama seperti kembarannya yang menatap Ayahnya dengan tatapan lapar.
Sebagai kembaran yang baik, Haechan akan mengajak Donghyuck untuk bergabung bersama mereka. Lagipula tadi dia sudah sempat mencicipi punya Johnny, jadi ia harus adil membagi miliknya kepada Donghyuck.
Mark menoleh kepada Donghyuck, kembaran peri kecilnya yang memiliki wajah hampir sama, hanya saja Donghyuck memang nampak lebih montok karena faktor kehamilannya. Selain itu juga rambut Donghyuck berwarna hitam legam, sangat berkilau, berbeda jauh dengan rambut Haechan yang berwarna merah bata seperti tanah liat.
Tapi keduanya tetap cantik dan menarik, dan tentu saja seksi.
"Kemari Hyuckkie, ayo gabung sama kita-arghhh..." Mark mengerang saat ia merasakan lubang Haechan jadi semakin sempit, Haechan orgasme, dan peri kecilnya itu sengaja merapatkan kaki, menyebabkan lubangnya juga ikut menyempit.
"Aahhhh!! Ayaahhh!! Channiee datanghh!" Desah Haechan sambil mendongak dan melengkungkan punggungnya. Cairan berlendirnya keluar, merembes dari lubangnya dan membasahi selangkangan Mark, bahkan sampai ada yang ikut menyiprat hingga ke perut atas milik Mark.
"Channie, Hyuckie juga mau dibuat seperti itu. Bolehkah Hyuckie berkawin dengan Ayah Mark? Hyuckie ingin merasakan kelamin Ayah Mark di dalam lubang Hyuckie yang sudah gatal ini...uuhh!" Donghyuck melangkah mendekati mereka, dengan beralaskan kasur yang terbuat dari tumpukan bulu angsa berbungkus kulit tumbuhan kering, dan ia bergabung naik di atasnya. Ia membuka kaki, memamerkan selangkangannya yang sudah sangat basah itu tepat di samping kepala Mark.
Mark menyeringai ketika menoleh sudah disuguhi lubang surgawi milik kembaran peri kecilnya. Ukurannya tidak lebih tembam dari Haechan, namun klitorisnya tipe yang menonjol dan terlihat lebih besar bila dibandingkan dengan milik Haechan. Mark memberinya usapan pelan, bertahun-tahun berpuasa gairah, dan sekarang ia berkesempatan merasakan musim kawin yang hanya sepuluh tahun sekali, dan tidak satu lubang pun dilarang untuk ia masuki. Mark akan memanfaatkan tiga hari terlangkanya ini dengan sebaik mungkin.
"Ahhh.. ayaahh... Enak sekalihh digosok seperti ituuhh!" Donghyuck mengangkang lebih lebar di saat jari-jemari Ayah Mark begitu aktif mengusak puncak klitorisnya.
Tangannya terangkat dan Haechan menyambutnya dalam genggaman. Membiarkan Donghyuck memakainya sebagai tumpuan dan pegangan, sekaligus pelampiasannya ketika rasa nikmat yang mendera terlalu berlebihan.
"Boleh Hyuckkie, kamu boleh berkawin dengan Ayahku. Lagian tadi aku juga berkawin dengan Ayah Johnny, enak sekali. Kelamin Ayah Johnny besar, tapi bengkok, buat lubang kawin aku jadi geli tapi enak sekali!" Haechan menceritakan pengalamannya tadi ketika berkawin dengan Johnny selama setidaknya ia bisa membuat Johnny menyemburkan sperma di dalam rahimnya hingga tiga kali semburan.
"Uunghh!!" Haechan melepaskan penis Mark dari lubangnya, lagipula ia sudah orgasme, dan sekarang ia ingin melihat agar Ayahnya menggenjot kembarannya dan mendapatkan klimaksnya bersama kembarannya yang terlihat sudah sangat tidak sabar untuk dikawini.
"Aakhh! Haechaan-Channiieehh!" Donghyuck membusungkan dada ketika dia merasakan klitorisnya sudah dihisap kasar oleh Mark, dan masih ditambah dengan Haechan yang tiba-tiba saja menyusu padanya, menghisap putingnya kasar dan rakus sampai dia bisa merasakan air susunya tersedot sangat banyak oleh mulut kembarannya.
Dengan dua stimulasi yang sangat berlebihan itu Donghyuck langsung cepat sekali mendapatkan pelepasannya, begitu hebat, dengan banyaknya cairan lendir berwarna putih kental yang muncrat mengotori wajah Mark, dan sebagian juga dihisap, ditelan oleh pria itu.
"Manish..mphhh!!" Mark kembali menenggelamkan kepalanya di sana, rasanya lebih manis dari milik Haechan, sepertinya ini juga pengaruh dari kehamilan. Mark sangat rakus menjilati kelamin Donghyuck, tidak mau menyisakan setetes pun sisa cairan milik Donghyuck.
Bila semanis ini, dan sememabukkan ini, Mark jadi merasa semakin bersemangat untuk menghamili Haechan agar peri kecilnya itu juga bisa menghasilkan cairan yang semanis ini.
"Aahh Ayaahh sudaah! Suda-aaahh!! Ayaaahh!!" Donghyuck kewalahan ketika kelaminnya dimainkan dengan sangat andal, ia tak mampu membendung nikmat itu sampai kakinya reflek merapat kemudian mengapit kepala Mark dengan rapat-rapat.
"Hyuckkie, Channie pengen sekali punya dada yang keluar susunya secara alami begini. Nanti kalau Channie hamil, Channie harus bisa keluar susu...uuhh!" Ucap Haechan, melepaskan dada milik Donghyuck, menelan habis cairan manis itu sambil kemudian memerah susunya sendiri yang tidak/belum menghasilkan susu seperti milik kembarannya.
"Iyaah Channiieehh, Channiee hamil dulu nanti pasti keluar susu-aahhh!! Ayaaahh sudaah! Ayo masukkiin kontolnya ke dalam Ayaahh! Arnghhh lubang akuu gatal banget, kedut-kedut terusshh Ayah!!" Donghyuck sudah tidak sabar. Dia merengek sambil kembali membuka kakinya, memamerkan lubang vaginanya yang sudah lapas ingin segera diisi.
"Ayah, ayo kawini Hyuckie, kasihan dia sudah gatel banget katanya." Haechan meminta Mark agar berhenti melamoti kelamin kembarannya. Dia menyuruh Mark agar segera menggenjot kembarannya yang sudah terlihat sangat tidak sabaran itu.
Memang, sejak dulu di antara mereka, Donghyucklah yang paling binal dan nakal serta centil, maka dari itu Donghyuck segera dikirim bumi lebih dulu karena memang sudah tidak sabar untuk merasakan berkawin sungguhan dengan manusia.
"Kembaran kamu binal banget!" Ucap Mark bersiap untuk memasukkan penisnya, sebelum itu ia juga sempat menampar-nampar kasar permukaan kelamin Donghyuck sampai sosoknya harus berjingkat karena menahan sakit yang ditaburi nikmat.
"Memang, Channie yang mengajari jadi binal juga dia. Hyuckkie memang binal banget!" Haechan menimpali. Dia duduk di sebelah Donghyuck yang sedang berbaring pasrah membiarkan lubangnya dimasuki oleh penis Mark.
"Aahhh!! Channiieeh kontol Ayah Maark besaar bangeeth Channiiee!!" Donghyuck menjerit-jerit saat merasakan penis Mark memasukinya.
Pemandangan dan suara itu terdengar sangat erotis untuk Haechan, membuat ia kembali terangsang, dan kelaminnya jadi ikut gatal sendiri, ingin mendapatkan atensi supaya diberi nikmat. Jadilah Haechan membuka kakinya di sebelah Donghyuck, merabai labianya sendiri untuk ia gosok-gosok, mainkan, dan beri nikmat.
"Oouuhh Ayaahhh!! Daleeemm!" Donghyuck segera membusungkan dadanya, saat Mark langsung menggenjot dengan tempo yang cepat dan menghentak kuat, menumbuk titik nikmatnya dengan sangat telak.
"Buka kakinya Haechan!" Sambil Mark menggenjot Donghyuck, Mark juga akan memberi nikmat pada peri kecilnya sendiri. Dia menyuruh Haechan agar berbaring di sebelah Donghyuck, kemudian membuka kakinya, agar dia bisa mengobok-obok lubang itu dengan jari-jari panjangnya.
"Aarhhgg Ayaaahh!!" Desah Haechan, yang mana ini saling bersahutan dengan Donghyuck yang juga sedang mendulang nikmat.
Mark menyeringai, rasanya memuaskan dan nikmat sekali bisa membuat dua peri kecil ini terlonjak-lonjak di bawah kuasanya, mendesah nikmat karena perbuatannya, menjadi sangat berantakan karena ia kacaukan lubang kawinnya.
Mark jadi semakin panas saja melihatnya, apalagi sekarang Haechan dan Donghyuck sedang begitu nakal tengah saling mencumbu, berciuman mesra.
"Aamhhh!! Ayaahh! Channieee sukaa.....enak sekalii Aaayhh! Sodok yang dalam!!" Haechan mendesah dengan gelagat frustasinya, ini nikmat tapi entah kenapa dia merasa masih kurang. Dengan hasrat hausnya, Haechan mainkan dadanya sendiri kemudian juga mengucek kasar klitorisnya. Kaki sudah terbuka sangat lebar, tiga jari Mark keluar-masuk menggenjotnya, Donghyuck di sebelahnya tiba-tiba mendesah keras sekali ketika orgasmenya datang lagi.
Haechan jadi semakin kasar mengucek klitorisnya, dia juga ingin menyusul Donghyuck yang sekarang pinggulnya tengah mengejan hebat akibat orgasme yang juga tidak kalah hebat.
"Aarghhhh! Ayaaahhh!!" Jerit Haechan, menyusul Donghyuck meraih orgasmenya, yang sekarang diselingi dengan air kencing yang mengucur deras membasahi kasur mereka.
Mark semakin gelap dalam napsunya, melihat dua peri binal itu mendapatkan pelepasan yang begitu hebat, penisnya jadi terasa semakin mengeras, tegang sempurna bersama lubang Donghyuck yang terus memijatnya penuh buai. Berkedut-kedut hebat, memancingnya agar segera klimaks.
"Ayaahh besaarr bangeett! Aanrghh! Hyuckiie tidak kuat Ayaah!" Donghyuck mengusap perutnya pelan ketika penis Mark jadi semakin besar, dan terus membesar sebelum akhirnya cairan sperma milik Mark menyembur keluar, memenuhi lubangnya.
"Aaahh...." Desah Donghyuck dan Mark secara bersamaan setelah berhasil mendulang nikmat bersama.
Haechan tersenyum melihatnya, Donghyuck pasti sangat menikmatinya, sama persis seperti dirinya tadi siang yang juga kelojotan penuh nikmat saat dikawini oleh Ayah Johnny dan disembur sperma berkali-kali hingga kembung.
"Ayah, sekarang giliran Channie, Channie juga mau digenjot pakai kontol lagi Ayah...uhhh!" Haechan di sebelah Donghyuck sedang melebarkan labianya, seakan itu sebagai undangan agar Mark secara berganti mengawininya yang sekarang lubangnya sudah lapar lagi.
Mark menyeringai, memanglah yang sedang ia layani sekarang ada duo kembar yang sangat binal dan punya nafsu tinggi mengalahi dirinya. Dari sekarang, sepertinya Mark harus bisa menguat-kuatkan diri untuk melayani keduanya secara bergantian sampai dua-duanya bisa merasa puas.
"Kamu juga sama pelacurnya!" Ucap Mark yang sekarang sudah menggeser posisinya di depan Haechan.
"Iyaah, pelacurnya Ayah-unghghh!" Melenguh saat penis Mark ditepuk-tepukkan pada permukaan vaginanya dan tidak segera dimasukkan.
"Channiee, ayo digenjot Ayah sambil menyusu sama Ibu yaahhh..." Donghyuck senang menyebut dirinya sebagai Ibu ketika dia memang akan menjadi seorang Ibu. Dia meminta Haechan agar meletakkan kepala pada pahanya, dan kemudian menyusu kepadanya.
"Aahhh!" Donghyuck langsung mengeluarkan desahan penuh kenikmatan di saat putngnya sudah masuk ke dalam mulut Haechan.
Posisi ini adalah yang tergila. Mark menggenjot Haechan kasar, Haechan menyusu pada Donghyuck rakus dengan tangannya juga bermain-main pada kelamin Donghyuck yang terbuka cuma-cuma di sebelahnya, sedangkan Donghyuck sendiri dia tidak mau kalah, dia juga mengulurkan tangan untuk menyentuh vagina Haechan dan memainkannya seirama dengan bagaimana brutalnya Mark memberi genjotan.
Gila, benar-benar gila sekali namun mereka sangat menikmati itu bahkan terus berlanjut sampai semalaman penuh. Baru selesai ketika Mark sudah kelelahan melayani duo kembar yang energinya bagai tiada habis. Haechan dan Donghyuck tidak kehabisan akal, ketika Mark sudah kelelahan dan sudah jatuh dalam tidurnya, Haechan dan Donghyuck sibuk sekali bernostalgia, mengenang dan mengulang kembali segala kegiatan yang biasa mereka lakukan ketika masih di Langit dahulu.
Dari saling menggesek kelamin dengan pisusu menggunting.
"Aahhh!! Hyuckiieehhh! Nikmat sekaliih!! Geseekk teruus tekaan kuat Hyuckiieehh!"
Kemudian saling menyusu pada satu sama lain, salin melamoti kelamin secara bergantian dan banyak sekali hal mereka lakukan demi menyalurkan rindu menggila yang tengah membelenggu mereka.
"Chaaniieeeh!! Hyuck mau pipiisshh!" Ibu hamil itu kembali terkencing-kencing saat kelaminnya sedang diusak kasar oleh telapak tangan Haechan.
Pelepasan terakhir yang memuaskan untuk keduanya. Napas mereka memburu, keadaan mereka sudah tidak bisa dijelaskan lagi betapa berantakan dan kacaunya. Sebenarnya mereka juga belum lelah, dan masih ingin melakukan banyak hal berdua, hanya saja tiba-tiba seseorang datang mengusik kegiatan berciuman mereka.
"Hyuckie memang sangat nakal." Ucap pria itu.
Donghyuck dan Haechan menoleh secara bersamaan, dan seketika itu juga mata mereka berubah, nampak menjadi berbinar dengan semakin terang.
"Ayah Johnny!!" Pekik mereka bersamaan, senang sekali karena sudah menemukan target baru untuk diajak bersenang-senang bersama.
"Masih kuat gak mainnya sayang-sayangku?"
"Uuhh... Masih Ayaaahh! Lihaat lubang Hyuckkie berkedut lagi melihat kontol Ayah, ayo masukkkiin sinii!"
"Ayah Johnny, Channie juga mau! Channie juga mau digenjot Ayah Johnny!"
"Iya sabar sayang, semua nanti Ayah genjot."
Dan semua pun terus berlanjut sampai pagi, sampai Haechan dan Donghyuck kelelahan, dan Johnny sendiri juga merasa lelah sampai akhirnya ia tertidur di sebelah peri kecilnya.
KELAR!!!
