Work Text:
Sepasang kaki kecil digoyang-goyangkan secara tak beraturan, tangan yang berada di atas paha juga ikut mengetuk-ketuk permukaan kulitnya tak sabaran. Matanya berpendar mengamati lalu lalang orang yang lewat di hadapannya, beberapa di antara mereka menggunakan kruk atau kursi roda, sebagian yang lainnya berbaju serba putih atau hijau terang, sedangkan yang sisanya tampak biasa saja namun tetap tidak bisa menyembunyikan pikiran berat di dalam kepala mereka. Tangan bocah laki-laki itu kemudian membenarkan letak kacamatanya yang turun di batang hidungnya, lalu menoleh ke sebelah kanan, tempat dimana ayahnya duduk sambil membaca koran.
“Masih lama ya, Ayah?”
Yang ditanya, hanya tersenyum singkat dan mengangguk, lalu kembali memfokuskan perhatiannya ke deretan kalimat yang tersusun di kertas coklat tersebut. Merasa tidak digubris, bocah kecil itu kemudian beranjak dari duduknya, berjalan beberapa meter menjauh dari kursi berwarna biru tadi. Perhatiannya kemudian teralihkan pada sebuah lukisan ikan di dalam kolam yang ukurannya amat besar dipajang di salah satu dinding, mengingatkannya pada salah satu lukisan di rumahnya yang ukurannya juga tak jauh beda dari lukisan tersebut. Meski yang satu ini tidak membuat bulu kuduknya merinding seperti lukisan di rumahnya itu.
Ketika ia hendak berjalan kembali ke tempat duduknya semula, badannya secara tidak sengaja terhuyung ke arah depan. Ada seorang laki-laki dewasa berdiri di belakangnya dengan ekspresi terkejut karena kecerobohannya membuat ia menabrak badan anak laki-laki itu yang jauh lebih kecil darinya.
“Maaf, Dik. Tadi saya terburu-buru.”
Bahu bocah tersebut diusap perlahan sembari bapak-bapak berusia tiga puluhan itu berjongkok di hadapannya meminta maaf. Sedangkan yang diajak berbicara hanya mengangguk polos sambil tangannya membenahi letak kacamatanya yang sedikit geser akibat benturan tadi.
“Siapa namamu, Dik? Orang tuanya mana? Siapa yang sakit?”
“Seungcheol!”
Satu teriakan cukup keras dapat mereka dengar dari sisi kanan, menampilkan ayah dari bocah itu dengan raut wajah khawatir. Beliau kemudian berjalan menghampiri keduanya lalu meraih tangan Seungcheol untuk digandengnya.
“Maaf, pak. Anak saya nakal ya?”
“Nggak pak, justru saya tadi yang nggak sengaja menabrak anak bapak.”
“Ah nggak papa pak. Maaf, tapi kami harus duluan, sudah gilirannya. Mari, pak.”
Dengan saling melempar senyum dan anggukan kepala yang ramah, Seungcheol dan ayahnya melangkah menjauh dari pria tadi. Sesekali anak kecil tersebut menoleh ke belakang, memastikan apakah laki-laki asing yang menabraknya itu sudah pergi atau masih berdiri disana.
Hingga kemudian mereka sampai di depan sebuah ruangan dengan tulisan ‘Poli Mata’ ditempel di pintunya, seorang suster menyambut Seungcheol dengan senyuman lebar sambil menyapanya. Suster yang wajahnya sangat familiar untuknya. Maklum, selama empat tahun belakangan ini dalam hidupnya, ia memang sering bolak-balik mengunjungi rumah sakit tempat ia berada sekarang. Menemui dokter dan suster-suster yang sama membuat mereka seperti sudah saling mengenal dan akrab. Meski umur Seungcheol baru saja masuk usia delapan, rasa-rasanya ia justru lebih sering datang ke rumah sakit dibandingkan bermain di taman bersama teman-teman sebayanya.
“Halo, Seungcheol. Apa kabar?”
“Sehat, Dok.”
“Keren. Lagi libur sekolah ya ini?”
“Iya, Dok.”
“Mau liburan kemana rencananya?”
“Nggak tahu, tapi kata Ayah mau jalan-jalan liat cangkang keong raksasa.”
Dokter itu mengernyitkan dahinya, penasaran dengan objek yang dimaksud Seungcheol barusan lalu mengalihkan tatapannya ke ayah Seungcheol yang sedari tadi tersenyum lebar mengamati percakapan dua orang tersebut.
“Ke Australia maksudnya Dok, opera house.”
“Oh… hahahaha, ya ya. Wah seru dong, Dokter aja belum pernah kesana. Nanti foto-foto dong terus ditunjukin ke Dokter kalau Seungcheol kesini lagi besok-besok.”
“Berarti aku bakalan kesini terus ya, Dok?”
Sontak yang dipanggil dokter tersebut tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Seungcheol barusan. Ayah Seungcheol juga cukup terkejut dengan apa yang ia dengar barusan, tidak menyangka Seungcheol akan melontarkan pertanyaan seperti demikian.
Selama beberapa tahun terakhir, minimal sekali dalam satu bulan, Seungcheol dan orang tuanya memang rajin berkunjung ke rumah sakit tersebut. Bertemu dengan Dokter Woo, dokter spesialis mata kepercayaan keluarga mereka. Semuanya bermula sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, Seungcheol kecil sering kali mengeluh kepalanya sakit dan matanya terus-terusan digosok secara tidak beraturan yang membuatnya terlihat berair bahkan beberapa kali meradang. Orang tuanya mengira mungkin ada serangga nakal di kamar Seungcheol atau bocah itu alergi terhadap suatu hal. Namun puncaknya ketika Seungcheol mengungkapkan bahwa ia tidak bisa melihat wajah Ayahnya dengan jelas.
Pernyataan Seungcheol tersebut membuat orang tuanya bergegas membawa Seungcheol untuk diperiksa oleh Dokter Woo. Sejak pertemuan mereka untuk yang pertama kali itu hingga saat ini, Seungcheol dijadwalkan untuk harus rutin berkunjung ke rumah sakit tempat Dokter Woo praktik demi melihat perkembangan penglihatannya. Sejak hari itu juga, Seungcheol harus memakai kacamata yang membantunya untuk melihat dengan lebih jelas, meski dalam beberapa bulan sekali kacamata itu harus diperbaiki karena penglihatan Seungcheol kian memburuk untuk ukuran anak seusianya.
Diagnosa awal dari Dokter Woo adalah Seungcheol menderita rabun jauh, seperti kebanyakan orang pada umumnya. Namun, ketika beberapa bulan belakangan ini keluhan Seungcheol semakin menjadi, penglihatannya semakin memburuk terutama saat malam hari, kemampuannya untuk membedakan warna juga melemah, Seungcheol juga mengeluhkan bahwa cahaya lampu yang terlalu terang kadang membuat mata dan kepalanya sakit, serta bagaimana dunia rasanya terlihat lebih sempit dari biasanya. Dokter Woo kemudian melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Seungcheol, tidak hanya indera penglihatannya namun juga seluruh bagian dari tubuh Seungcheol. Hasil dari eksaminasi tersebut dijadwalkan untuk dibacakan kepada orang tua Seungcheol hari ini.
“Maksudnya, kalau ketemu dokter lagi. Nggak harus kesini kok.”
Dokter Woo mencoba ‘menghibur’ Seungcheol dengan jawabannya yang penuh dengan kebohongan. Tentu saja, Seungcheol pasti akan berkunjung ke rumah sakit itu terus-menerus dan menjalani segala macam pemeriksaan yang melelahkan sepanjang hidupnya kelak, sebab deretan tulisan di beberapa lembar kertas yang digenggam Dokter Woo itu jauh dari doa dan harapan baik orang tua Seungcheol.
“Nama penyakitnya Retinitis Pigmentosa, adanya mutasi gen pada sel batang mata Seungcheol. Saya awalnya ragu, namun setelah melalui segala macam pemeriksaan dan memperhatikan betul gejala yang Seungcheol rasakan, kami positif akan diagnosa ini. Maaf, tapi Seungcheol secara bertahap akan terus-terusan mulai kehilangan kemampuannya untuk melihat. Mungkin akan ada beberapa waktu dimana gejalanya terlihat mereda atau bahkan berhenti, namun suatu saat juga akan datang dengan mudah sehingga kemungkinan besar Seungcheol akan kehilangan penglihatan sepenuhnya. Penyakit ini sebenarnya sifatnya genetik, ada kerabat yang menderita penyakit serupa?”
Mendengar seluruh penjelasan dokter tersebut, dunia ayah Seungcheol seketika gelap dan runtuh. Salah satu hal paling traumatis dan menyakitkan yang pernah terjadi dalam hidupnya. Anak semata wayangnya, divonis dengan penyakit yang akan terus bersamanya sepanjang hidupnya, suatu hal yang tidak pernah ia sangka akan mengalaminya. Ia bahkan tidak sanggup lagi menjawab pertanyaan dan mendengar penjelasan lanjutan dari Dokter Woo. Pandangan matanya kemudian tertuju pada Seungcheol yang duduk diam di sebelahnya, dengan kepala menunduk. Meraba-raba apakah bocah kecil itu paham betul dengan kalimat-kalimat yang barusan dikatakan oleh dokter di depannya, apakah bocah kecil itu paham betul bahwa suatu saat nanti ketika ia beranjak dewasa ia tidak bisa lagi memandang dunia untuk selamanya.
Dan untuk bertahun-tahun kemudian, sepanjang hidupnya, Seungcheol begitu familiar dengan rumah sakit dan bagaimana kehidupan di dalam bangunan tersebut berjalan. Baik dari dokter yang menangani penyakitnya, maupun beberapa yang ia temui di koridor rumah sakit namun perlahan menjadi kenalan akrabnya, suster-suster yang membantunya selama ini, hingga penjaga kantin ataupun petugas kebersihan yang begitu ramah. Beberapa di antara mereka sudah tergantikan posisinya, silih berganti dengan karyawan-karyawan baru lainnya – yang kemudian juga akan sama akrabnya dengan Seungcheol.
Sejak hari itu, hari dimana hasil eksaminasinya dibacakan, Seungcheol banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan pemeriksaan dengan Dokter Woo. Yang semula sebulan sekali, intensitasnya kemudian bertambah, kadang ia menemui dokter itu dua kali dalam sebulan atau di waktu-waktu tertentu bahkan juga lebih dari itu. Seungcheol kecil tidak terlalu memahami perihal penyakit yang dideritanya ini, sepemahamannya ia hanya menderita rabun jauh seperti salah satu teman di sekolah dasarnya. Namun ketika suatu hari temannya itu menyatakan bahwa ia tidak harus menemui dokter sebulan sekali seperti dirinya dan dapat mengidentifikasi warna-warna dengan mudah, Seungcheol paham bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
Sampai pada suatu malam, ia memberanikan diri untuk melontarkan pertanyaan kepada orang tuanya. Di tengah-tengah sesi makan malam mereka, Ayah Seungcheol mau tidak mau harus menjawab pertanyaan bocah umur sepuluh tahun itu. Awalnya, alih-alih mengatakan yang sesungguhnya, pria itu hendak memberikan jawaban yang ‘menghibur’ Seungcheol. Namun, melihat anaknya yang memandangnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, justru mendorong ayah Seungcheol untuk menceritakan yang sebenar-benarnya kepada Seungcheol.
Kini sudah tujuh tahun lamanya Seungcheol hidup dengan mengetahui fakta bahwa suatu hari di masa depan nanti, ia akan terbangun tanpa kemampuan untuk melihat. Bahwa ia akan menjadi buta untuk selamanya. Kalau ditanya bagaimana rasanya, mengetahui bahwa hidupmu tidak ‘sempurna’, tidak seperti manusia ‘normal’ pada umumnya, Seungcheol sudah melewati segala macam tahap kesedihan dan duka yang bisa dialami oleh manusia. Denial, anger, bargaining, depression, acceptance, lalu kembali lagi ke tahap pertama dan berulang kali mengulang semuanya dari awal. Tidak mudah dan tidak akan pernah mudah untuk Seungcheol hidup dengan kenyataan yang demikian.
Setiap hari dalam hidupnya, ia terbangun dengan perasaan cemas. Takut-takut, ketika matanya dibuka setelah terbangun dari lelapnya, ia tidak lagi melihat langit-langit kamarnya yang berwarna putih tulang, melainkan dunianya berubah menjadi hitam gelap. Setiap tindakan dalam kesehariannya juga serba dihati-hati, hal-hal yang ingin ia lakukan harus melalui persetujuan orang tuanya, bahkan kini di umurnya yang sudah menginjak remaja pun ia masih merasa seperti anak kecil dalam pengawasan penuh orang tua.
Adiknya – yang berjarak sepuluh tahun dengannya – bahkan rasa-rasanya tidak diawasi sebegitu ketatnya oleh orang tua Seungcheol, bebas begitu saja menikmati kehidupannya tanpa ada larangan ataupun aturan tertentu dari Ayah dan Ibu Seungcheol. Setiap kali Seungcheol memberontak, mengeluarkan isi hatinya, pasti akan dijawab dengan kalimat yang sama, “Ini semua karena kami sayang sama kamu, kami takut ketika hal buruk terjadi ke kamu, kami nggak bisa mendampingi kamu.”
Seperti saat ini, Seungcheol mengungkapkan keinginannya untuk menimba ilmu di negara lain. Salah satu negara yang sudah menjadi idamannya sejak kecil, setidaknya ingin tinggal di sana barang hanya sebentar saja. Tentu, dengan mentah-mentah semuanya ditolak begitu saja oleh orang tua Seungcheol.
“Aku nggak akan aneh-aneh juga kok di sana. Kenapa nggak bisa support aku, sih?”
“Bukan gitu nak, kami juga mau yang terbaik buat kamu, tapi kalau sekiranya membahayakan juga kami nggak akan tega.”
“Membahayakan dari mananya? Aku kesana kan sekolah.”
“Kalau hal nggak baik terjadi waktu di sana gimana? Kamu jauh dari rumah, nggak ada yang bisa bantu.”
“Hal nggak baik yang kayak gimana, sih?”
“Ya kan kamu tahu sendiri yang kami maksud, nak.”
“Nggak, aku nggak paham. Aku sehat-sehat aja kok. Bisa jalan, bisa nulis, bisa lari, bisa ngapa-nga-”
“Gampang kamu ngomong begitu, Seungcheol! Coba kamu lepas kacamata kamu itu, bisa apa kamu seterusnya!”
Seungcheol tidak pernah menyangka, Ayahnya akan begitu hebat membentaknya. Selama ini, Seungcheol memang bergantung dengan kacamata yang diberikan Dokter Woo sejak ia kecil, yang rajin disesuaikan kebutuhannya beberapa bulan sekali. Kacamata itu spesial, karena khusus dibuat untuk membantu Seungcheol melihat dengan jelas. Pasalnya, gangguan penglihatan yang ia alami tidak sekedar kaburnya pandangan, namun juga menyempitnya jangkauan penglihatannya. Tanpa menggunakan kacamata tersebut, dunia Seungcheol tidak pernah lagi terlihat jelas.
“Nak, kami ini hanya melakukan yang terbaik yang kami bisa, kami bisa memberikan fasilitas semaksimal mungkin untuk membantu kamu, juga melindungi kamu dari segala macam hal yang bisa saja terjadi. Kalau suatu saat nanti, penglihatan kamu itu semakin memburuk waktu jauh di sana, kamu mau gimana? Dokter Woo kan juga di sini, semua orang yang membantu kamu ada disini. Tolong ya Nak, tolong dengar kata kami.”
Butuh seminggu lebih untuk Tuan dan Nyonya Choi membujuk dan meyakinkan Seungcheol untuk menuruti titah mereka agar laki-laki itu tetap tinggal dan melanjutkan studinya di dalam negeri saja. Seungcheol akhirnya hanya bisa mematuhi nasihat orang tuanya, sedikit banyak sebenarnya juga khawatir akan kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi pada dirinya. Takutnya, ia tidak bisa menamatkan studinya dengan baik karena penglihatannya semakin buruk, yang mana justru semakin memberikan beban untuk orang tuanya.
Penyakit yang Seungcheol derita ini, persis seperti penjelasan Dokter Woo, bahwa terkadang ada saat-saat dimana semuanya nampak membaik, Seungcheol tidak merasakan sakit di kepalanya, penglihatannya pun hanya sekedar buram seperti penderita rabun jauh pada umumnya, cahaya-cahaya lampu berlebihan tidak lagi terasa seperti membakar bola matanya. Namun di satu sisi, gejala-gejala yang lebih buruk bisa datang kapan saja tanpa diprediksi, sama halnya dengan kemungkinan hilangnya keseluruhan kemampuan penglihatan Seungcheol, bisa saja terjadi ketika ia terbangun dari tidurnya, di siang bolong ketika bermain sepak bola, atau bahkan mungkin ketika makan malam. Hal yang menjadi kekhawatiran utama keluarga Choi.
Karena hal tersebutlah, Seungcheol selama ini tumbuh menjadi anak yang tidak banyak bicara dan tidak pandai bergaul. Teman dekatnya bisa dihitung jari, itupun jumlahnya tidak lebih dari lima. Juga dari kecil, orang tua Seungcheol memasukkannya ke suatu yayasan sekolah swasta yang terdapat sekolah dasar hingga menengah atas di dalamnya, membuat Seungcheol memang jarang sekali ‘keluar’ dari lingkup pertemanannya yang itu-itu saja. Maka ketika ia kini sedang berada di penghujung usia remajanya, ia pikir dengan tinggal di luar negeri, setidaknya bisa menjadi salah satu perjalanan pencarian jati dirinya yang sesungguhnya, melihat dunia luar yang lebih beragam lagi, berkenalan dengan orang banyak dan menjajal hal-hal baru yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.
Menurutnya, rencana untuk bisa melanjutkan studinya di tempat yang jauh dan asing untuknya selama ini bisa menjadi ‘cahaya’ di sela-sela hidupnya yang begitu ‘gelap’ selama ini. Meski memang indera penglihatannya masih berfungsi, namun Seungcheol selalu menganggap bahwa selama ini hidupnya sudah kelam, jauh dari indah penuh warna. Mengetahui bahwa cepat atau lambat ia akan menjadi seseorang yang menyandang keterbatasan kemampuan untuk melihat, ditambah dengan orang tuanya yang begitu ‘menjaga’nya bak barang pecah belah, semakin mudah bagi Seungcheol untuk tidak lagi menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.
Berat memang rasanya, bagi Seungcheol untuk menerima fakta bahwa orang tuanya menolak keinginannya itu, namun bagaimanapun Seungcheol cukup tahu diri bahwa sesungguhnya ia memang membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa menjalani hidupnya dengan baik kedepannya. Orang tuanya juga sudah banyak berkorban selama ini, menyediakan apapun yang bisa memenuhi dan membantu kebutuhan Seungcheol, bahkan harus mengesampingkan perhatian mereka untuk adiknya – Hansol.
Sebagai gantinya, orang tua Seungcheol kemudian menawarkannya sebuah saran yang cukup menarik perhatiannya. Gagal menimba ilmu di negaranya, orang tua Seungcheol pikir dengan mempelajari bahasanya dapat setidaknya sedikit menghibur Seungcheol.
“Mau belajar bahasa prancis saja, nak? Ayah punya kenalan yang bisa membantu.”
Dan dengan mudah, tawaran itu disetujui oleh Seungcheol. Pengajar bahasa yang dimaksud oleh ayahnya tersebut adalah seorang laki-laki yang umurnya tidak jauh dari Ayah Seungcheol, memiliki pembawaan yang ramah namun juga tegas, dengan senyuman yang familiar bagi Seungcheol.
“Lupa ya? Kita pernah ketemu sekali loh.”
Seungcheol mengernyit ketika mereka berkenalan untuk pertama kalinya.
“Dimana, om?”
“Dulu, waktu kamu masih kecil. Nggak sengaja om senggol kamu yang lagi lihat lukisan di rumah sakit.”
Seketika memori Seungcheol berputar, kembali ke beberapa tahun yang lalu, ketika ia masih berada di bangku sekola dasar. Ia ingat pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang meminta maaf kepadanya karena sudah menabraknya dengan tidak sengaja, namun pertemuan mereka kala itu kelewat singkat, sebab ayahnya sudah menggeretnya untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan untuk bertemu Dokter Woo.
“Ah, iya. Aku inget, om. Kok bisa kenal ayah?”
“Sejak itu, om perhatikan kamu dan ayah sering ke rumah sakit. Ada suatu kesempatan, om ajak ngobrol ayah kamu dan kami jadi teman sampai sekarang.”
“Om juga sering ke rumah sakit?”
“Iya, menemani istri om. Dia dulu harus rutin cuci darah.”
“Oh.. sekarang sudah pindah rumah sakitnya? Kok kita nggak pernah ketemu lagi?”
“Istri om sudah meninggal, lima tahun yang lalu. Jadi memang nggak pernah ke rumah sakit lagi.”
Seungcheol hanya bisa terdiam mendengar jawaban laki-laki tersebut, bingung harus merespon yang seperti apa. Pria itu juga nampaknya menangkap rasa canggung yang perlahan mengusik Seungcheol, terlihat dari bagaimana akhirnya ia mengalihkan pembicaraan mereka dengan menuntun Seungcheol untuk membuka bahan ajar yang sudah ia persiapkan.
Pertemuan Seungcheol dengan pengajar bahasa Prancisnya itulah yang membawanya bertemu dengan seseorang yang kelak menjadi satu-satunya orang yang memahami Seungcheol sepenuhnya, seseorang yang menemani Seungcheol di setiap momen dalam hidupnya, seseorang yang sangat Seungcheol percaya dengan sepenuh jiwanya, satu-satunya orang yang berhasil mengisi hari-hari Seungcheol dengan warna hingga memenuhi relung hatinya.
Seungcheol ingat betul, sore itu hujan tiba-tiba turun di tengah bulan Juli. Meski tidak sampai yang terlalu lebat, namun cukup membuat tubuh basah kuyup dengan rintiknya. Seungcheol sedang dalam berjalan kaki dari sekolahnya menuju rumah Sir Yoon – guru bahasa Prancisnya – ketika ia merasakan ujung kepalanya mulai basah dengan air hujan. Ketika kemudian ia sampai di kediaman gurunya itu, kedatangannya disambut oleh seorang laki-laki seumurannya sedang duduk di teras rumah. Melihat Seungcheol yang basah kuyup dengan raut wajah menyedihkan berdiri di balik pagar rumahnya, laki-laki itu membuka payung untuk melindungi dirinya dan mempersilahkan Seungcheol untuk berteduh di terasnya.
“Maaf, sir Yoon ada?”
“Papa belum pulang dari kantor. Katanya terjebak macet. Maaf, siapa ya?”
“Ah, maaf. Aku Seungcheol, murid sir Yoon. Aku belajar bahasa Prancis dengan beliau beberapa bulan terakhir ini. Kamu anak sir Yoon, ya?”
Seungcheol mengulurkan tangannya yang basah oleh air hujan ke hadapan pria di depannya itu. Yang kemudian dibalas dengan genggaman di tangannya.
“Salam kenal, aku Jeonghan. Iya, aku anak sir Yoon. Maaf, aku baru datang Senin kemarin setelah tinggal di rumah nenekku beberapa bulan, jadi kita belum bertemu.”
“Salam kenal juga, Jeonghan. Boleh aku menunggu disini sampai sir Yoon datang?”
“Boleh, masuk saja.”
“Tapi bajuku basah.”
“Nggak papa, aku pinjamkan bajuku. Sambil aku hubungi Papa untuk memberi kabar soal kamu disini.”
“Nggak merepotkan?”
“Nggak sama sekali, Seungcheol. Masuk saja, tunggu di ruang belajar ya, yang biasanya kamu tempati kalau sedang belajar bahasa prancis dengan papa.”
“Terima kasih, Jeonghan.”
Pria bernama Jeonghan itu kemudian berlalu meninggalkan Seungcheol untuk masuk ke dalam kamarnya dan mengambil beberapa helai pakaian untuk dikenakan oleh Seungcheol. Seungcheol sendiri menunggu kembalinya Jeonghan dengan duduk diam di salah satu kursi yang berada di ruang belajar, sembari mengamati rumah milik sir Yoon yang entah mengapa kini kesannya jauh lebih terang dibandingkan dengan beberapa kali ia berkunjung sebelumnya.
Kacamata dengan bingkai berwarna hitam yang Seungcheol kenakan itu ia benahi letaknya setelah Seungcheol mengusap bulir-bulir air hujan yang tercetak jelas di kacanya dengan sedikit bagian dari kemejanya yang tidak terlalu basah. Matanya ia kedip-kedipkan beberapa kali sebelum akhirnya menemukan posisi pas untuk letak kacamata di batang hidungnya. Sedari pagi tadi, mata Seungcheol rasanya berat sekali untuk dibuka, seperti ada sesuatu yang mengganjal di balik bola matanya, pandangannya pun menyempit sampai ia harus benar-benar mengalihkan fokusnya ketika berbicara dengan orang lain. Hari-hari seperti ini, dimana penglihatannya terkesan lebih buruk dari biasanya, memang belakangan ini kerap datang menghampiri. Seakan-akan memberikan peringatan bahwa ‘waktu’ Seungcheol tidak lama lagi.
“Seungcheol, ini bajunya. Mungkin nanti kaosnya agak kekecilan kalau di badan kamu tapi seharusnya masih bisa muat sih. Kamar mandinya ada di dekat dapur, silakan kalau mau ganti dan bersih-bersih dulu.”
“Makasih, Jeonghan.”
Benar seperti dugaan Jeonghan, kaos yang Seungcheol pakai sore itu memang terlihat terlalu kecil untuk ukurannya, bagian lengannya jadi tampak tercekik karena terlalu ketat melingkari tangannya. Namun sudah lebih dari cukup untuk Seungcheol, daripada ia harus menunggu sir Yoon dengan pakaian yang basah tak karuan.
“Kalau kamu mau, pakaianmu yang basah ditinggal saja. Biar nanti dibantu cuci oleh bibi yang bantu beres-beres.”
“Nggak perlu, aku bawa pulang saja. Terima kasih, Han.”
“Sama-sama. Kata Papa kayaknya macetnya panjang banget jadi sampai rumah mungkin terlalu malam kalau mau belajar. Kalau diganti besok atau lusa, gimana? Tapi kamu tunggu dulu disini sampai hujan reda.”
“Oh begitu… besok jadwalku untuk ketemu dokter. Mungkin lusa, kalau sir Yoon berkenan.”
“Oke, nanti aku sampaikan. Mau minum apa? Teh? Susu?”
“Nggak perlu, Jeonghan. Nanti merepotkan.”
“Nggak sama sekali, hujannya mungkin bakalan lama redanya. Aku buatkan teh, ya.”
Belum sempat Seungcheol menolak, Jeonghan sudah berlalu melesat menuju dapur. Aroma teh earl grey dapat Seungcheol cium dari ruang belajar tempat ia duduk sedari tadi. Sejak ia menyadari bahwa penglihatannya melemah dan tidak berfungsi layaknya orang pada umumnya, indera-indera lain dalam dirinya seakan-akan bekerja berkali-kali lipat lebih intens dari biasanya. Penciumannya makin tajam, pendengarannya pun juga sangat teliti dan selalu tepat sasaran. Seakan-akan semuanya bahu membahu saling melengkapi untuk menyokong langkah Seungcheol dalam kehidupannya.
Ternyata selera Jeonghan sama, batin Seungcheol. Sepanjang hidupnya, earl grey memang merupakan salah satu jenis teh yang menjadi favorit Seungcheol, mengetahui Jeonghan ternyata juga memiliki kesamaan preferensi dengan dirinya membuat sebuah senyuman kecil terukir di wajah milik Seungcheol.
“Ini, maaf adanya earl grey karena aku dan Papa suka teh itu.”
“Nggak papa, aku juga suka earl grey.”
“Wah kebetulan kalau begitu, ayo diminum.”
Seungcheol menuruti titah Jeonghan. Ia menyeruput pelan teh tersebut dari ujung cangkirnya, menghirup aroma khas yang keluar dari cairan berwarna coklat tersebut dan menikmati bagaimana hangat mulai memenuhi tubuhnya setelah basah terkena air hujan. Ia kemudian melempar senyum kepada Jeonghan, yang dibalas dengan sebuah senyuman tercantik yang pernah ia saksikan dalam hidupnya, tanpa sadar membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdegup lebih kencang.
Sore itu, dengan suara hujan yang terus jatuh membasahi di luar dan dua cangkir teh earl grey hangat menemani percakapan dua insan muda yang baru mengenal itu. Seungcheol banyak menerima informasi baru soal sir Yoon dan keluarganya, bahwa Jeonghan ternyata sebaya dengannya namun kini sudah lebih dulu menyelesaikan jenjang sekolah menengahnya karena dulu sempat mengikuti kelas akselerasi, ketika Seungcheol bertanya dimana Jeonghan melanjutkan studi kuliahnya ternyata pria itu memutuskan untuk rehat satu tahun sebelum nanti menentukan pilihannya. Itu sebabnya juga mengapa Jeonghan begitu leluasa tinggal di rumah neneknya selama lima bulan belakangan ini.
“Jadi nanti kalau kuliah kita jadi satu angkatan lagi?”
“Iya, bisa dibilang begitu.”
“Udah ada rencana mau kuliah dimana?”
“Belum tahu, tapi papa pasti maunya di universitas yang top.”
“Memangnya kamu nggak mau?”
“Mau sih, tapi popularitas sekolahnya bukan jadi faktor penentu utama. Kamu sendiri?”
“Belum terlalu yakin juga, tapi mungkin juga ikut kata orang tuaku. Toh aku juga nggak bisa kuliah terlalu jauh.”
“Kenapa?”
“Nggak dikasih izin.”
Jeonghan hanya mengangguk sebagai jawaban. Seungcheol lagi-lagi membenahi letak kacamatanya, sebuah gerakan yang mengundang perhatian Jeonghan untuk menatap lekat kacamata yang dikenakan pria itu.
“Seungcheol.”
“Ya?”
“Boleh aku bertanya?”
“Boleh.”
“Kacamatamu lebih tebal dari kacamata Papa dan kacamata orang biasanya, kenapa?”
Seungcheol tidak menyangka bahwa Jeonghan akan melontarkan pertanyaan yang demikian. Satu kesimpulan baru yang dia dapat soal Yoon Jeonghan hari ini, bahwa laki-laki di sampingnya ini adalah seorang observant yang luar biasa. Pasalnya, jarang sekali orang-orang yang Seungcheol temui akan menaruh perhatian lebih terhadap kacamata yang Seungcheol kenakan.
“Maaf kalau menyinggung, nggak perlu dijawab kalau memang nggak mau. Maaf.”
“Nggak kok, nggak menyinggung sama sekali. Ini memang kacamata yang khusus dibuat untuk aku pakai. Sir Yoon pasti sudah pernah cerita, kan? Soal aku dan penyakitku?”
“Iya, tapi aku masih kurang paham. Memang ada penyakit seperti itu?”
“Buktinya ada, aku.”
“Kalau kamu pakai kacamata itu apa bisa mengobati? Atau seenggaknya jadi nggak makin parah?”
“Nggak juga, ini hanya membantu aku untuk melihat karena penglihatanku akan semakin memburuk sepanjang berjalannya waktu.”
Hening, Jeonghan tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Belakangan ini, ayahnya memang banyak bercerita soal Seungcheol dan bagaimana pria seumurannya itu menjalani hari-harinya dengan satu pertanyaan besar yang tidak akan pernah diketahui oleh siapapun jawabannya, yaitu perihal kapan penglihatannya akan menghilang untuk selamanya. Meskipun secara garis besar Jeonghan sudah banyak memahami soal penyakit yang diderita Seungcheol, namun kini mendengar penjelasan langsung dari orang yang bersangkutan ternyata masih membuatnya takjub dan bingung harus merespon yang seperti apa. Sebab ia tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya hidup dalam rasa takut yang terus-terusan menghantui secara tidak pasti.
“Jangan bingung, lagi pula sejauh ini aku juga masih bisa hidup biasa-biasa aja kok. Ya… mungkin, siapa tahu, aku cukup beruntung ternyata aku bisa aja nggak buta total. Mungkin mataku bakal begini-begini terus aja, siapa tahu.”
“Benar juga, toh nggak ada yang tahu pasti kan kapan penglihatan kamu itu bisa hilang?”
“Nggak ada. Gejalanya ya pasti ada memang kalau sudah parah banget, tapi sejauh ini menurutku ya gini-gini aja deh. Nggak pernah yang gimana-gimana.”
“Kalau gitu, justru seharusnya ini jadi kesempatan kamu Seungcheol, untuk bisa eksplor banyak hal dalam hidup. Cobain yang selama ini belum pernah kamu cobain.”
“Maunya sih begitu, tapi orang tuaku banyak membatasi.”
“Ah, mungkin orang tuamu itu sebenarnya khawatir aja kalau kamu lakuin semuanya sendirian. Mungkin kalau ada temannya juga bisa lebih luwes mereka.”
“Itu masalahnya, Jeonghan. Aku nggak punya teman dekat, kebanyakan temanku ya nggak jauh-jauh dari teman sekolah biasa aja, selebihnya aku nggak punya teman di luar lingkup sekolah.”
“Aku bisa jadi teman kamu kalau kamu mau.”
Seungcheol mengedipkan matanya berkali-kali, cukup terkejut dengan tawaran yang diberikan Jeonghan barusan. Heran, karena Jeonghan begitu ramah dan terbuka dengannya padahal mereka baru saling mengenal beberapa jam yang lalu.
“Orang tua kamu juga kenal sama papaku, jadi pasti nggak akan terlalu khawatir kalau kita temenan. Ya, kan?”
Jeonghan mengalihkan pandangannya ke arah Seungcheol. Senyuman lebar dapat Seungcheol lihat tersungging di bibir laki-laki itu. Begitu manis dan menawan, membuat Seungcheol terpana dalam sekejap. Entah sihir atau sugesti macam apa yang datang menghampiri, namun kini Seungcheol merasakan penglihatan dan pandangannya menjadi lebih jelas dan terang dibandingkan sebelumnya, dengan Jeonghan yang menjadi fokus utamanya sedang cahaya putih terlihat terpancar di belakang Jeonghan. Mirip sekali dengan bayangan seorang malaikat di kepalanya.
“Gimana? Nanti aku ajak kamu jalan-jalan ke banyak tempat baru, mau?”
“Boleh. Makasih ya, Jeonghan.”
“Sama-sama.”
Hampir sepuluh tahun lamanya sudah Seungcheol mengenal Jeonghan dan berakhir menjadi teman terbaik dalam hidupnya. Dari yang awalnya kunjungan Seungcheol ke rumah sir Yoon untuk belajar bahasa prancis namun agendanya bertambah menjadi bertemu dengan Jeonghan dan banyak menghabiskan waktu bersama, hingga kemudian memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi yang sama sampai juga berusaha lulus di satu periode yang sama meskipun harus melalui banyak drama dan rintangan untuk mereka akhirnya bisa terbebas dari status mahasiswa. Kurang lebih, segala bentuk momen kehidupan yang mendewasakan Seungcheol dan Jeonghan mereka lalui bersama.
Seperti janji Jeonghan, ia benar-benar mengajak dan membawa Seungcheol ke tempat-tempat baru serta melakukan hal-hal yang belum pernah Seungcheol lakukan sebelumnya. Semuanya mereka lakukan untuk memberikan warna dalam kehidupan Seungcheol. Jeonghan juga tidak pernah menganggap Seungcheol sebagai seseorang dengan ‘penyakit’ yang membutuhkan perhatian khusus, baginya Seungcheol tidak beda dari orang dengan rabun jauh pada umumnya saja. Suatu hal yang berhasil membuat Seungcheol bahagia dan merasa dianggap sepenuhnya.
Seiring berjalannya waktu mengenal dekat Jeonghan, Seungcheol tidak dapat memungkiri adanya perasaan-perasaan asing yang mulai muncul memenuhi hatinya. Perasaan-perasaannya terhadap Jeonghan itu walaupun asing, namun rasanya begitu nyaman dan menyenangkan. Seungcheol belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya, entah sebatas rasa nyaman dan aman untuk berada di samping Jeonghan atau mungkin lebih dari itu, ia sendiri tidak tahu pasti apa jawabnya. Yang jelas, hidupnya jauh lebih berwarna dan bermakna semenjak Jeonghan hadir. Selain itu, rasa-rasanya Seungcheol seperti memiliki tujuan hidup baru, untuk melihat Jeonghan bahagia.
Selama sepuluh tahun belakangan ini juga Jeonghan selalu menemani Seungcheol dimanapun dan kapanpun. Kalau dulu saat Seungcheol yang berkunjung ke rumah Yoon ketika masih berada di bangku SMA, maka ketika mereka sudah masuk ke dunia perkuliahan, giliran Jeonghan lah yang banyak menghabiskan waktunya di kediaman Seungcheol. Awalnya Seungcheol tidak setuju, sebab jarak mereka yang memang agak jauh dan memakan waktu perjalanan, namun Jeonghan bersikeras. Aku juga mau banyak eksplor daerah sini, pintanya. Sebagai bentuk terima kasih mereka, orang tua Seungcheol terkadang memerintahkan supir pribadi mereka untuk mengantar Jeonghan pulang yang tentu seringnya ditolak dengan halus oleh Jeonghan.
Banyak menghabiskan waktu bersama tanpa mengenal waktu, membuat Jeonghan perlahan dapat sepenuhnya memahami perihal penyakit yang diderita Seungcheol, termasuk gejala-gejalanya dan bagaimana terkadang hal tersebut sangat mengganggu ruang gerak Seungcheol. Selain itu, Jeonghan juga banyak berbincang dengan orang tua Seungcheol soal penyakitnya ini, tentang harapan dan rencana-rencana mereka untuk menghadapi kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan saja. Jeonghan bahkan tahu betul macam-macam obat yang harus Seungcheol konsumsi setiap harinya serta rutinitas macam apa yang harus Seungcheol lakukan untuk - setidaknya - membuat Seungcheol merasa lebih baik.
Untuk sebagian orang yang tidak mengenal mereka, melihat Jeonghan hadir di tengah-tengah kehidupan Seungcheol yang membutuhkan banyak perhatian lebih, mungkin akan menilai Jeonghan sebagai seorang caregiver untuk Seungcheol. Orang yang akan membantu Seungcheol melanjutkan hidupnya dengan baik meskipun kemampuan untuk melihatnya akan hilang sekalipun. Jeonghan sebenarnya tidak keberatan akan pandangan tersebut, justru Seungcheol yang banyak sewot atas hal ini. Pria itu tidak mau terlihat menyedihkan di hadapan Jeonghan, tetap ingin menunjukkan sisi terbaiknya untuk seseorang yang ia kagumi tersebut.
“Nggak perlu repot-repot jelasin ke orang lain tiap kali mereka kira aku merawatmu.”
“Nggak bisa gitu, Han.”
“Kenapa? Aku nggak tersinggung kok.”
“Ya karena kamu bukan perawatku. Kamu kan temanku, nggak seharusnya kayak gini. Kesannya aku beban untuk kamu.”
“Nggak pernah sama sekali aku kepikiran kamu beban. Aku juga anggap kamu teman kok, yang penting kan gimana kita aja. Nggak perlu mikirin pendapat orang.”
Seungcheol menghela nafasnya. Ia menghentikan suapannya, hidangan makan malam di depannya kini tidak lagi menggugah seleranya. Kacamata berbingkai tebal dibenarkan letaknya sebelum ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Jeonghan yang masih duduk terdiam di meja makan. Suara pintu dibanting dengan keras dapat Jeonghan dengar beberapa saat selanjutnya, tahu betul bahwa itu adalah suara pintu kamar Seungcheol.
Kini giliran Jeonghan yang menghela nafas. Piring-piring kotor dengan sisa-sisa makanan tidak tersentuh kemudian ia bereskan dan diletakkan di tempat pencuci piring. Orang tua Seungcheol sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan mereka, membuat Jeonghan dengan suka rela menginap di rumah kediaman keluarga Choi untuk menemani Seungcheol dan Hansol selama beberapa hari.
Akhir-akhir ini Seungcheol memang susah sekali mengontrol emosinya. Jeonghan dapat merasakan adanya perubahan yang cukup signifikan soal ini. Selama mengenal Seungcheol dalam beberapa tahun terakhir ini, Jeonghan belum pernah melihat sisi Seungcheol yang seperti ini. Hal-hal kecil mudah sekali menyulut amarahnya dan membuat moodnya berubah drastis. Kadang Jeonghan berpikir mungkin Seungcheol terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, suntuk melandanya, membutuhkan hiburan di luar rumah. Karena semenjak mereka lulus dari universitas, Seungcheol memang tidak memiliki banyak kegiatan di luar rumah. Rutinitasnya hanya sekedar membantu memeriksa laporan perusahaan ayahnya, itu pun semuanya dilakukan dari rumah. Berbeda dengan Jeonghan yang memiliki rutinitas pekerjaannya sendiri.
Beberapa hari yang lalu Jeonghan sebenarnya sudah mengajak Seungcheol untuk menemaninya membeli beberapa kebutuhan untuk kantornya. Mereka juga menikmati makan siang di salah satu rumah makan kesukaan Jeonghan dan menjajal kedai kopi yang baru saja dibuka. Pikir Jeonghan, mungkin dapat membantu Seungcheol untuk lebih bisa mengendalikan perasaannya. Namun yang terjadi barusan justru menunjukkan jawaban yang bertolak belakang dengan harapannya.
Orang tua Seungcheol mengira bahwa sikap Seungcheol belakangan ini mungkin juga salah satu pengaruh dari semakin memburuknya penglihatannya. Terakhir kali jadwal pertemuannya dengan Dokter Woo memang ditutup dengan kabar yang kurang membahagiakan. Mata Seungcheol semakin menunjukkan kelemahannya. Berdasarkan hasil eksaminasi mereka dan juga penuturan Seungcheol soal gejala yang ia rasakan, Dokter Woo memperingati keluarga Choi untuk bersiap akan kemungkinan terburuk yang mungkin sebentar lagi bisa saja terjadi.
Jeonghan juga turut mengetahui soal fakta itu. Seungcheol sendiri yang memberi tahu kabarnya.
“Semuanya tambah parah, Han. Kalau aku lihat lampu yang terang banget, mata aku sakit. Bahkan pakai kacamata ini pun kadang nggak membantu sama sekali.”
“Cheol…”
“Aku masih bisa ngerasain semuanya makin sempit, kayak ada tembok besar di samping kanan kiriku. Penglihatanku terbatas banget.”
“Ch-”
“Aku nggak bisa lihat dengan jelas. Kabur, buram, semuanya nggak jelas. Aku nggak bisa lihat muka kamu dengan jelas, Han.”
“Kalau obatnya diminum dan ikutin kata-kata Dokter Woo you’ll feel better kok, Cheol.”
“Nggak ada, Han. Nggak ada kayak gitu.”
“Cheol, please. Jangan nyerah gini, dong. Belum pasti juga kok kamu akan buta selamanya.”
“Udah pasti, Han! Kamu dengerin cerita aku nggak, sih!? Memang nggak tahu kapan tapi udah pasti aku bakal buta, Han!”
Jeonghan tersentak mendengar Seungcheol yang tiba-tiba berteriak di hadapannya. Mereka yang semula duduk bersebelahan, kini Seungcheol berdiri sambil menunjuk matanya sendiri. Jeonghan dapat melihat tetesan air mata keluar di balik kacamata tebal milik Seungcheol. Ia sendiri juga mulai tidak kuat untuk menahan tangisnya, matanya mulai berkaca-kaca.
“Udah percuma juga kayaknya kamu nemenin aku, Jeonghan. Nggak perlu lagi kayaknya kamu ke rumah.”
“Cheol, masih banyak hal yang bisa kita lakuin. Nggak perlu mikirin soal kemungkinan jelek itu. Kita have fun dulu aja.”
“Nggak usah, Jeonghan. Aku cuma beban aja buat kamu.”
Seungcheol melangkah menjauh dari Jeonghan yang masih terduduk dengan dahi mengernyit. Heran dengan sikap Seungcheol yang kelewat tidak masuk akal, ada amarah juga ikut muncul dalam dirinya. Seungcheol begitu egois.
“Kamu yang bilang sendiri katanya kamu nggak mau aku keliatan kayak perawatmu. Kalau kita ini teman, kenapa kamu sendiri yang nyerah gini!?”
Langkah Seungcheol terhenti. Ada jeda beberapa detik sebelum Seungcheol membalikkan badannya dan menjawab pertanyaan Jeonghan.
“Aku tarik omonganku. Kamu perawatku dan mulai sekarang kamu aku pecat, nggak perlu lagi kerja untuk merawat aku ya, Jeonghan.”
“Maksud kamu gimana, sih? Nggak, aku mau tetap sama kamu. Terserah kamu mau atau nggak, pokoknya aku tet-”
“Aku sayang sama kamu Jeonghan!!!”
Teriakan Seungcheol terdengar begitu frustasi. Tangisannya semakin deras membasahi pipi nya. Seluruh mukanya sudah memerah layaknya tomat.
“Aku sayang sama kamu, Han. Lebih dari teman. Lebih dari apapun itu. Aku nggak mau kamu lihat aku kayak gini. Sakit rasanya, Han. Setiap hari aku bareng sama kamu tapi aku bahkan nggak bisa lihat wajah kamu jelas. Aku nggak bisa kayak gini, Han. It’s killing me, Han.”
“Tap-”
“Please, Han. Kalau memang kamu teman baikku, kalau memang kamu sayang sama aku, tolong ikutin kemauanku yang satu ini. Please, Han, just go. Live your life.”
Jeonghan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Air matanya sudah menetes tidak karuan, hidungnya memerah, wajahnya acak-acakan tidak beraturan.
“Kamu egois, Cheol.”
Satu kalimat pamungkas keluar dari mulut Jeonghan malam itu, sebelum akhirnya ia membereskan barang-barangnya dan meninggalkan kediaman Choi. Tidak pernah kembali lagi.
Jeonghan kira semuanya akan berjalan dengan mudah. Malam itu, ketika Seungcheol ‘mengusirnya’ dengan kalimat yang cukup menusuk hati, Jeonghan bertekad untuk benar-benar menjalankan apa yang Seungcheol perintahkan. Untuk live his life. Benar memang, banyak hal dalam hidupnya yang terpaksa tertunda pelaksanaannya karena selama ini ia terlalu fokus untuk menjadi teman yang baik untuk Seungcheol. Maka mulai malam itu juga, Jeonghan berusaha untuk membalas tuntas semuanya.
Namun kenyataannya, belasan tahun mengenal Seungcheol dan menempatkan pria itu pada sebuah posisi khusus dalam hidupnya, sama sekali tidak mudah. Seungcheol dan segala hal tentangnya sudah menjadi bagian dari hidup Jeonghan yang ternyata amat ia rindukan. Tanpa Seungcheol, semuanya terasa hampa. Bukan hanya soal menjadi teman baik untuk Seungcheol, namun Jeonghan justru kini menyadari bahwa perasaan yang ia miliki untuk Seungcheol ternyata lebih dari itu. Persis seperti yang Seungcheol ungkapkan juga pada malam perpisahan mereka. Menyayangi lebih dari teman.
Awalnya, Jeonghan mencoba menepis hal tersebut. Mungkin ia hanya butuh waktu untuk akhirnya terbiasa menjalani hari-harinya tanpa Seungcheol. Namun kini, satu tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu, Jeonghan bahkan tidak pernah berhenti memikirkan Seungcheol. Teman-teman Jeonghan yang tahu-menahu soal ini semuanya setuju bahwa yang dirasakan oleh Jeonghan ini tidak lagi sekedar rasa prihatin dan peduli seorang teman, jauh lebih besar dari itu. Bahwa Jeonghan memang sudah menambatkan hatinya kepada Seungcheol. Mereka semua juga setuju kalau mungkin sebaiknya Jeonghan kembali menemui Seungcheol, lagipula tidak ada salahnya untuk bertukar sapa setelah sekian lama.
Hidup Jeonghan tanpa Seungcheol justru menjadi sebuah kehidupan yang menyedihkan. Tidak ada lagi semangat terpancar dari pria itu. Semacam mati rasa dibuatnya. Semuanya begitu monoton dan stagnan. Jeonghan yang dulu, selalu menghargai hal-hal kecil nan sederhana dalam hidup kini menganggap remeh semuanya. Sir Yoon bahkan hampir frustasi melihat perubahan Jeonghan yang demikian. Tidak ada lagi senyuman di wajah mungil Jeonghan, tidak ada lagi sapaan ramah yang hangat didengar, tidak ada lagi sentuhan menenangkan dari seorang Yoon Jeonghan. Tanpa Seungcheol, Jeonghan justru tidak bisa lagi melanjutkan hidupnya dengan baik. Laki-laki itu, sudah menorehkan kenangan yang terlalu besar dampaknya untuk Jeonghan.
“Nak, besok ikut papa ya, Han.”
“Kemana?”
“Teman papa ada yang baru saja pensiun, mau dirayakan sambil makan-makan. Kamiu ikut ya.”
“Nggak mau, isinya orang tua semua kan.”
“Nggak juga, pasti ada anak teman papa yang datang juga.”
“Tap-”
“Ikut saja ya, Han. Sebentar saja kok.”
Berhasil membujuk anak semata wayangnya itu, Jeonghan pun turut dengan ayahnya untuk berkunjung ke salah satu rumah teman sir Yoon pada Sabtu sore itu. Sepanjang perjalanan mereka Jeonghan tidak bisa berhenti menguap. Semalam ia memang terjaga sampai pukul tiga pagi, selain karena tidak bisa tidur, Jeonghan juga sedang asyik mengikuti sebuah seri televisi yang menjadi perbincangan hangat di internet.
“Tidur aja, Han. Masih agak jauh juga kok ini.”
“Nggak papa aku tidur?”
“Nggak papa. Nanti papa bangunin.”
Karena memang sudah kelewat ngantuk, Jeonghan akhirnya membiarkan dirinya terlelap begitu saja ke dalam alam mimpi. Tanpa menyadari bahwa jalan yang dilalui oleh ayahnya itu adalah sebuah jalan yang begitu familiar untuknya. Rute yang biasanya hampir setiap hari ia lewati selama beberapa tahun.
“Bangun, Han. Sudah sampai.”
Satu goyangan kecil dapat Jeonghan rasakan di punggungnya. Matanya yang masih terasa berat perlahan ia paksa untuk dibuka sepenuhnya. Jeonghan menghela nafas panjang sebelum melongok ke luar jendela mobil, mencoba mengamati sekeliling mereka. Pohon-pohon ini, bunga-bunga ini, jalanan ini, semuanya tampak familiar. Bangunan di depan itu…
“Papa! Kenapa nggak bilang kalau kita ke rumah Seungcheol?”
“Kamu nggak pernah nanya?”
“Tapi ka-”
“Kenapa? Nggak mau ketemu Seungcheol?”
“Bukan nggak mau. Terakhir kan dia yang nggak mau ketemu aku.”
“Tapi kita ini diundang loh sama Ayahnya Seungcheol. Ayo masuk dulu, nggak usah terlalu memikirkan soal itu dulu.”
Semuanya benar-benar di luar ekspektasi Jeonghan. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia bisa menginjakkan kakinya di rumah ini lagi, setelah satu tahun lamanya berpisah. Dengan langkah berat dan jantung yang berdegup kencang, Jeonghan mengekor sir Yoon yang sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam halaman keluar Choi. Jeonghan dapat mendengar percakapan orang-orang dewasa di balik pintu rumah itu, ternyata memang ada acara spesial.
“Ah! Sir Yoon! Sudah lama sekali nggak ketemu! Jeonghan! Apa kabar, nak?”
Itu ayah Choi, menyapa mereka begitu pintu utama rumah terbuka lebar. Lalu mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.
“Silakan dinikmati cemilannya, sambil menunggu tamu yang lain. Ayo mari, yang lainnya ada di ruang tengah.”
Jeonghan terus mengikuti langkah ayahnya meski matanya berpendar mengamati orang-orang yang datang malam itu. Hati kecilnya mencari keberadaan Seungcheol, tidak mau membohongi sendiri bahwa ia pun sesungguhnya ingin bertemu dengan pria itu.
“Jeonghan!”
Suara wanita yang begitu familiar dapat Jeonghan dengar dari arah belakang badannya. Itu ibu Seungcheol.
“Lama sekali nggak ketemu, apa kabar, Han?”
“Baik. Tante sendiri?”
“Ya gini-gini aja kamu bisa lihat sendiri. Oh iya sebentar. Hansol! Hansol! Sini nak, ada kak Jeonghan.”
Untuk sepersekian detik Jeonghan mengira bahwa nyonya Choi akan memanggil Seungcheol untuk menemuinya. Alih-alih Hansol muncul dari arah dapur dengan senyuman simpul khasnya.
“Hai kak, apa kabar?”
“Halo, Hansol. Gimana kuliahnya?”
“Lagi skripsi kak. Kak Jeonghan sekarang kerja dimana?”
“Masih sama kok sama yang kemarin.”
“Tante tinggal dulu ya, ada tamu lagi kayaknya. Hansol, kak Jeonghan diantarkan kalau mau ambil minum atau snack ya.”
“Ayo kak, mau minum apa?”
“Adanya apa?”
“Semua ada, tinggal pilih aja sih hahahaha.”
Belakangan kemudian Jeonghan baru memahami bahwa acara malam ini adalah perayaan ulang tahun ayah Seungcheol sekaligus purna tugasnya beberapa bulan yang lalu. Tamu-tamu yang hadir malam itu kebanyakan memang diisi oleh teman-teman dekat beliau. Ramai tamu undangan itu merayakan ayah Seungcheol dengan meriah, namun bagi Jeonghan semuanya tetap terasa hampa. Ia masih belum bisa menemukan keberadaan Seungcheol sedari tadi. Rasanya ingin sekali ia menanyakan soal pria itu kepada Hansol, tapi nyalinya ciut.
Hingga sesi makan malam bersama tiba pun, batang hidung Seungcheol belum terlihat sama sekali. Aneh menurutnya, karena seingat Jeonghan Seungcheol dekat dengan ayah Choi sehingga mustahil sepertinya kalau sulung itu tidak ikut merayakan ulang tahunnya. Atau mungkin Seungcheol tidak lagi tinggal di rumah ini.
“Kak Han duluan aja ke meja makan, aku ke atas dulu.”
Hansol mengundurkan dirinya untuk bergegas naik ke lantai dua rumah mereka. Jeonghan hanya mengangguk dan mengikuti arahan Hansol. Meja makan yang disediakan oleh keluarga Choi malam itu panjang sekali, mungkin bermeter-meter ukurannya mengingat tamu yang datang juga banyak. Jeonghan memilih untuk duduk di sebuah kursi paling pojok, agak menjauh dari padatnya teman-teman tuan Choi di tengah. Ayahnya ada di seberangnya, sedangkan sisi kanannya diisi oleh seorang pria yang - mungkin - seumuran dengannya.
Ketika Jeonghan sedang asik menyantap hidangan pembuka, perhatiannya kemudian teralihkan ketika seseorang yang sedari tadi didambanya kini berada di hadapannya. Seungcheol, dengan rambut disisir ke belakang, kacamata tebal berbingkai hitam, memakai jas berwarna hitam, duduk di sebuah kursi roda dengan Hansol mendorongnya dari belakang. Jeonghan dapat melihat pergelangan kakinya diperban dengan kain tebal. Sebuah pemandangan yang sama sekali tidak pernah Jeonghan bayangkan akan ia saksikan.
Jeonghan tidak dapat melepaskan tatapannya dari Seungcheol, sedang pria itu juga menangkap kehadiran Seungcheol di tengah-tengah ruangan. Mereka saling bertukar pandang untuk beberapa saat. Air mata terlihat menggenangi pelupuk mata Jeonghan, banyak sekali hal yang ingin Jeonghan katakan kepada Seungcheol, ingin sekali rasanya ia menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Seungcheol. Namun Hansol mendorong kursi roda yang menopang Seungcheol itu begitu saja melalui Jeonghan. Seungcheol kemudian duduk bersebelahan dengan ibunya, di ujung meja yang berlawanan dengannya.
“Aku ke toilet dulu ya, Pa.”
Air mata yang dibendung Jeonghan sedari tadi lolos begitu saja. Dengan sengaja ia membiarkan semuanya keluar membasahi wajahnya. Tidak lagi memperdulikan makan malam di luar sana. Yang Jeonghan inginkan saat ini adalah waktu berdua untuk berbicara dengan Seungcheol. Ingin mengungkapkan apa yang selama ini ada di dalam hatinya, pertanyaan-pertanyaan soal malam itu, juga perihal perasaan-perasaannya terhadap Seungcheol, semuanya memberontak ingin keluar.
Sepanjang sesi makan malam itu, Jeonghan kehilangan nafsu makannya. Hanya satu per empat bagian hidangan yang berhasil ia telan, sisanya dibiarkan begitu saja di atas piring. Jeonghan bahkan lebih dulu meninggalkan meja makan sebelum makanan penutup dihidangkan. Ia memilih untuk duduk di taman belakang, di sebuah kursi yang menjadi saksi bisu banyaknya waktu yang ia habiskan bersama Seungcheol dulu.
“Nggak mau makan chocolate cake, Han?”
Sebuah suara menyapa telinga Jeonghan. Dengan cepat, ia menoleh ke sumber suara tersebut. Seungcheol ada di belakangnya, duduk di atas kursi roda dengan tatapan penuh arti.
“Seungcheol.”
“Ya? Masuk aja kalau mau dessertnya, belum habis kok.”
Hening. Jeonghan tercekat. Ia hanya bisa memandang Seungcheol dengan mata berkaca-kaca.
“Wh-what ha-happened?”
Seungcheol mengernyit, mencoba memahami pertanyaan Jeonghan barusan. Hingga kemudian menangkap bahwa yang dimaksud pria itu adalah soal kakinya yang dibalut perban dan alasan penggunaan kursi rodanya.
“Ah, ini. Bulan lalu aku jatuh waktu lagi sepak bola, cedera pergelangan kaki. Jadi harus pakai kursi roda.”
Jeonghan tidak menjawab.
“Tapi sekarang udah mendingan kok. Seharusnya bulan depan sudah bisa dilepas perbannya.”
Masih hening.
“Jatuh karena waktu itu tiba-tiba mataku hampir gelap. Hampir nggak bisa melihat, jadinya kehilangan keseimbangan terus jatuh.”
Jeonghan masih diam, namun bedanya kini air matanya perlahan sudah menetes lolos dari matanya. Untuk yang kesekian kalinya malam ini. Mendengar alasan dibalik luka yang dimiliki Seungcheol itu, mengiris hati Jeonghan berkeping-keping. Penglihatan Seungcheol benar-benar semakin memburuk.
“Maaf, kalau kita bertemu dengan keadaanku kayak gini.”
Jeonghan terisak.
“Jeonghan, apa kabar?”
Tidak lagi kuasa Jeonghan menahan semuanya. Ia melangkah mendekat ke arah Seungcheol dan memeluk laki-laki itu erat. Tidak lagi memperdulikan kursi roda yang menghalangi geraknya, Jeonghan hanya ingin meluapkan semua hal yang dipendamnya satu tahun belakangan ini. Seungcheol membalas pelukan Jeonghan, memberikan usapan lembut di punggung orang yang amat ia sayangi itu.
“Jangan nangis, kalau tamu lain dengar takutnya nanti jadi heboh.”
Jeonghan melepas pelukannya, ia berlutut di hadapan Seungcheol masih sambil terisak mengeluarkan emosinya selama ini. Seungcheol menghapus jejak-jejak air mata di wajah Jeonghan, memberikan kecupan singkat di pucuk kepala pria itu.
“Maaf, Jeonghan. Aku minta maaf.”
“Kenapa malam itu kamu minta aku pergi, Cheol?” Jeonghan bertanya dalam isak tangisnya.
“Maaf, Jeonghan.”
“Kamu egois malam itu. Kamu bahkan nggak mau dengar aku bicara. Nggak cuma kamu yang sedih, nggak cuma kamu yang sakit, nggak cuma kamu yang menderita, Cheol. Aku juga!”
“Maaf, Jeonghan.”
“Kamu paksa aku buat pergi, untuk lanjutin hidupku. Aku nggak bisa, Cheol. Aku nggak bisa. Hidupku selama ini tentang kamu, mau aku jalani gimana kalau nggak ada kamu!?”
“Maaf, Jeonghan. Maaf. Nggak ada kata lain selain maaf. Nggak seharusnya aku paksa kamu untuk pergi gitu aja.”
“Tolong jangan kayak gitu lagi, Cheol. Sakit rasanya.”
Seungcheol membawa Jeonghan ke dalam pelukannya. Ia memeluk erat pria itu, menyesapi aroma tubuhnya, aroma yang sangat ia rindukan.
Sebenarnya, juga tidak pernah mudah untuk Seungcheol, hidup tanpa Jeonghan di sisinya. Selama ini, belasan tahun terakhir, Jeonghan selalu hadir dalam setiap langkah hidup yang ia ambil, mendampinginya untuk tetap terus bertahan meskipun ingin sekali rasanya menyerah. Jeonghan lah yang menjadi salah satu penyemangat terbesar dalam hidupnya, yang banyak menyadarkan dia bahwa memang seharusnya hidup dinikmati dan dijalani saja tanpa harus memikirkan yang akan datang.
Malam terakhir mereka bertemu satu tahun yang lalu itu, menjadi salah satu penyesalan dalam hidup Seungcheol. Ia terlalu egois memikirkan dirinya sendiri, berpikir bahwa dengan mengusir Jeonghan dari hidupnya maka penderitaan yang ia alami akan berkurang sebab ia tidak perlu merasakan secara perlahan kehilangan wajah seseorang yang ia cintai itu, tanpa pernah mempertimbangkan perasaan Jeonghan, tanpa pernah mempertanyakan hati Jeonghan. Semuanya ia lakukan karena ia terlalu mencintai Jeonghan, tidak mau membiarkan Jeonghan melihat sisi terlemahnya, ikut merasakan dan mengalami penderitaannya. Yang Seungcheol mau adalah Jeonghan melanjutkan hidupnya seperti orang normal saja tanpa ia ketahui bahwa bagi Jeonghan, tidak ada yang namanya kehidupan jika tidak ada Seungcheol di dalamnya.
“Aku sayang sama kamu, Han. Kita mulai semuanya bareng-bareng ya, dari awal.”
Malam pesta perayaan ulang tahun tuan Choi itu ternyata menjadi malam terakhir untuk Seungcheol dapat melihat dengan jelas. Ketika pagi datang, Jeonghan dikejutkan dengan Hansol yang sudah datang berkunjung ke rumahnya dengan wajah panik dan sedih sekaligus.
“Kita ke rumah sakit kak. Kak Seungcheol bilang, semuanya hitam.”
Ketika sampai di rumah sakit, Jeonghan dapat menangkap jejak-jejak air mata terlukis di wajah ibu Choi. Ia menghampiri wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri itu, lalu memeluknya erat, membiarkannya kembali terisak di pundaknya.
“Tante nggak tega lama-lama di dalam. Tapi kalau kamu mau masuk, boleh kok, nak.”
Jeonghan melangkah perlahan masuk ke dalam ruang inap tempat Seungcheol berada. Kata Dokter Woo, ia masih memerlukan beberapa pemeriksaan untuk Seungcheol sehingga laki-laki itu belum diizinkan untuk meninggalkan rumah sakit.
“Han?”
Seungcheol menolehkan kepalanya ke arah Jeonghan. Memang betul kata orang-orang, ketika salah satu indera tidak berfungsi dengan baik, maka indera yang lainnya pasti akan lebih tajam dari biasanya. Tangan Seungcheol dijulurkan ke depan, mencoba meraih apapun yang dapat dijadikan tumpuan untuknya bangkit dari tidurnya. Jeonghan bergegas mendekat, meraih tangan Seungcheol untuk digenggamnya.
“Han? Jeonghan kan?”
“Iya, ini aku.”
Ada senyuman lebar terlukis di wajah Seungcheol ketika pertanyaannya terjawab. Jari-jari Seungcheol kemudian bergerak perlahan menelusuri tangan Jeonghan lalu naik ke bagian atas hingga bahunya kemudian sampai ke leher dan pipi Jeonghan. Seungcheol menempelkan telapak tangannya di pipi mulus milik Jeonghan itu, meraba-raba dan mengusapnya dengan lembut masih dengan senyuman yang semakin lebar terlihat di wajahnya. Jeonghan menggenggam tangan Seungcheol tersebut untuk dipegangnya erat.
“Jadi ini rasanya. Aku pegang kamu walau aku nggak lihat kamu tapi muka kamu kebayang jelas di pikiranku.”
Air mata Jeonghan mulai menggenang di pelupuk matanya. Hari yang paling mereka takutkan selama ini, ternyata datang hari ini. Setelah pesta perayaan meriah semalam, setelah ia kembali dipertemukan dengan Seungcheol, seakan-akan memang menunggu waktu yang tepat.
“Jangan nangis, Jeonghan. Aku nggak sedih sama sekali.”
“Siapa bilang aku nangis.”
“Aku bisa dengar suara ingus kamu.”
“Jorok juga kamu.”
“Tapi serius, jangan sedih. Tadi pagi waktu aku buka mata tapi pandanganku gelap, aku justru rasanya tenang. Mama dan Hansol yang lebih panik. Mungkin memang sudah waktunya sekarang, aku malah lega karena nggak perlu was-was lagi setiap bangun tidur.”
Tangan Seungcheol mengusap lembut pipi Jeonghan. Jeonghan sendiri berusaha mati-matian untuk menahan tangisannya. Jari-jari Seungcheol menyentuh pelan hidung Jeonghan sambil tertawa kecil. Jeonghan ikut tertawa dibuatnya.
Memberanikan diri, Jeonghan mendekatkan badannya ke arah Seungcheol. Menyatukan bibirnya dengan pria Leo di hadapannya itu. Air matanya tidak dapat lagi terbendung tatkala ia dapat merasakan sentuhan di permukaan mulutnya. Jeonghan dapat merasakan senyuman kecil terlukis di wajah Seungcheol. Untuk beberapa saat, ia membiarkan bibir mereka bersatu, saling menempel meski tidak ada hisapan atau gigitan yang berlebih. Cukup untuk menyalurkan rasa cinta dan kasih yang mereka miliki. Berharap bahwa mulai saat ini, langkah kehidupan mereka akan selalu diberikan cahaya terang yang menyatukan cinta mereka, tidak lagi berada di dalam kegelapan dan penderitaan yang menyakitkan.
“Thank you, Jeonghan,”
“Im here, Cheol. I’ll always be with you.”
