Work Text:
Biasanya Denji malas dekat-dekat dengan orang yang sedang merokok. Bukan benci rokok, Denji hanya cukup paham kalau bau asap rokok akan menempel dengan mudah pada pakaian. Pulang dengan aroma nikotin dan tembakau lalu dipeluk Nayuta adik kesayangannya? Nggak, makasih. Nayuta nggak akan pernah mencium bau benda laknat yang nggak sehat itu.
Biasanya Denji akan menendang Yoshida yang mulutnya selalu asam setiap sepuluh menit sekali dan harus disumpal rokok jika cowok sok ganteng itu sudah mengambil koreknya di dekat Denji. Ngerokok di tempat lain aja, monyet! Umpatnya setiap waktu. Yoshida sendiri akan tertawa geli lalu menjauh darinya, menyalakan rokok sambil berjalan dan menatapnya lekat-lekat. Denji ingat betul seruan menjengkelkan yang akan selalu Yoshida katakan setelahnya. "Geser dong, manis. Anginnya ke arah lo nih! Hahahah."
Sebal. Anak bangsat, memang.
Seharusnya, itu semua sudah jadi alasan yang cukup kenapa dia nggak akan dekat-dekat dengan Yoshida malam ini. Pesta ulang tahun Mifune sedikit liar. Yang punya pesta sudah mabuk berat dan sibuk bernyanyi rock dengan lirik mesum. Yang lain menyoraki sambil menggilir sloki alkohol. Ramai. Denji suka keramaian tapi dia waspada dengan asap rokok. Bahkan rambutnya bisa bau nikotin. Nayuta nggak boleh mencium bebauan laknat. Lantas, kenapa Denji malah menatap Yoshida yang tengah merokok lekat-lekat saat ini? Dia nggak begitu menikmati kekacauan para penyanyi mabuk. Makanan dan camilannya lezat tapi Denji masih lapar. Lidahnya kebas dibakar alkohol tapi liur seakan terus menetes dari mulutnya.
Si bangsat itu merokok sambil menyilang kaki. Mengembuskan asap ke atas dengan seringai remeh sok gantengnya. Kancing kemejanya dibuka tiga seakan bilang ruangan ini gerah dan dia mau telanjang saja. Wajahnya merah karena konsumsi terlalu banyak alkohol tapi dia belum mabuk total. Yoshida masih merokok dan Denji memperhatikannya dengan lapar.
"Mabok mabok begini enaknya disundut rokok sama kak himeno sambil diinjek kontolnya pakai heels," kata Aki tiba-tiba. Begitu vulgar dan panas sebab otaknya sudah mati setengah dibunuh enam gelas vodka. Dia berjalan sempoyongan ke arah Yoshida dan meminta sebatang rokok. Menyalakannya lantas berjongkok di sebelah kaki Yoshida. "Sange banget gue butuh nyebat."
Yoshida tergelak. Menendang punggung Aki sampai terhuyung ke depan sambil menyahut, "gue aja yang sundut lidah lo sini. Sukanya dikasarin kan lo? Hahahah." Dan jari tengah Aki adalah jawabannya.
Bangsat, Denji mau. Yoshida yang setengah mabuk itu seksi sekali. Dia juga mau ditendang begitu sambil dikatai lalu dipuji-puji. Aki benar. Mabuk-mabuk begini enaknya disundut rokok sambil diinjak sepatu mahal Yoshida. Otaknya sekarat.
"Ngeliatinnya biasa aja dong, manis. Nggak usah sampai netes gitu liurnya. Apa? Mau ditendang juga, mmn?" Yoshida bangsat. Senyum kecilnya terlalu banyak mengirimkan isyarat. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk ujung rokok supaya bara abunya turun. Diambilnya lagi segelas whiskey. Semua dilakukan tanpa melepas pandangan pada Denji yang sudah gemetar kepanasan.
"Ngamar gih, ngamar. Besok udah janjian bolos kita semua. Mifune! Kamar lo bisa dipake ngewe nggak?!" Aki menyambar begitu saja. Berteriak memanggil yang punya acara yang sudah teler di atas sofa.
"Pake ajaaaa. Jangan muntah tapi hing."
"Tuh, pake aja katanya."
Denji masih nggak mau buka suara. Kepalanya bertalu-talu dan telinga berdenging entah karena libido memuncak atau karena alkohol mulai berefek padanya. Denji selalu minum penuh tanggung jawab. Dia nggak akan serampangan seperti Aki dan Yoshida. Larut dalam pikirannya sendiri, Denji nggak sadar kalau Yoshida bangun dari duduknya, mengerling pada Denji dan berjalan ke arah tangga. Seratus persen yakin kalau dia menuju kamar Mifune di lantai dua. Cowok bangsat itu mempermainkannya.
"Ngapain di sini? Ngewe sana," ujar Aki memecah keheningan. Dia bangun dari jongkoknya dan menempati tempat duduk Yoshida tadi. Memijit pelipisnya. Nggak sadar kalau besok pagi dia akan menyesali tindakan laknatnya ini.
"Mulut lo ngawa ngewe mulu monyet." Meski menyalak garang, Denji tetap menyusul Yoshida. Berkali-kali merutuki diri sendiri tapi bayangan Yoshida yang mengisap rokok lantas mengembuskan asapnya tepat di depan wajahnya terus berseliweran di kepala. Buat dia panas saja, sih.
Tanpa mengetuk pintu, Denji masuk dengan was was. Yang pertama kali dia lihat adalah Yoshida yang duduk di bingkai jendela. Memandangnya tepat di mata masih sambil menyelipkan rokok baru di dua belah bibir ranumnya.
"Sini. Nyalain rokok gue. Be useful," suruhnya kalem. Nggak menuntut tapi bagi Denji itu mendominasi. Lututnya lemas dan kakinya berjalan begitu saja. "Korek ... mana koreknya?" Lagi-lagi Yoshida tersenyum kecil. Begitu meremehkan Denji yang sudah kalang kabut.
"Ambil sendiri dong, manis. It's right inside my pocket." Si bangsat ini. Sengaja sekali menggoda Denji yang kepalang needy.
"Banyak mau banget."
"Minta dikontolin tapi nggak mau disuruh-suruh. Go fuck yourself, then." Umpatan lolos dari mulut tersumpal rokok milik Yoshida. Bukannya tersinggung, Denji malah jadi keras. Dia menelan ludah kasar. Tangan gemetarnya meraba celana bahan Yoshida, menyusup ke dalam saku dan mencari benda laknat untuk menyalakan rokok kesekian Yoshida.
"Gue suruh ambil korek. Bukan pegang-pegang paha gue. Sange banget sampe bodoh ya?"
"Sok tau banget," sergah Denji jengkel. Denji nggak mau dikata-katai karena ini hanya membuat dia makin pusing. Padahal Denji yakin seratus persen kalau dia suka dipuji. Jempolnya lantas menggulir pemantik. Memercikan api sampai rokok Yoshida terbakar sempurna. Bau tembakau langsung semerbak menusuk hidung Denji. Dia makin pusing dan itu nggak lepas dari mata elang Yoshida. Diisapnya rokok dalam-dalam, lantas dia embuskan asap pekat di depan Denji. Sengaja. Mata berair dan reflek batuk remaja itu menggelikan. Cukup menarik baginya. Manis.
"Lo sinting, ya?!" Marah. Denji mundur dua langkah. Tangannya mengibas guna menghalau kepulan asap masuk ke paru-parunya tapi kaki Yoshida lebih cepat bertindak. Sepatu mahal itu terangkat, menyentuh penis berbalut celana pendek Denji seolah sedang menginjak dan mengejek Denji bersamaan.
"Oh, doll. I thought you were wishing to be fucked dumb while I smoke the shit out of my cigarette." Dia bersuara pelan. Mata melirik cepat pada gundukan tegang di bawah sepatunya. Tahu benar kalau Denji kalah telak dan dia adalah satu-satunya yang berkuasa di sini. "Kontolnya keras, tuh. Yakin nggak mau diludahin aja sambil disundut rokok?"
Bajingan. Yoshida Hirofumi bajingan tengik. Seenaknya bertingkah seksi dan buat dia ereksi dengan kata-kata kotor itu. Sepatunya menekan penisnya dan bergerak bebas seolah mencemoohnya yang malah senang direndahkan.
"Nanti makin keras, emang mau tanggung jawab?" Denji menantang sok berani. Masih ada harga diri yang harus dia pertahankan di sini. Sukses menarik satu alis Yoshida ke atas.
"Memang pantes ditanggungjawabin? Anjing kayak lo, mah, harusnya berlutut aja di bawah gue. Tungguin gue kelar nyebat sambil ciumin sepatu gue. Aren't you a good boy?" Bangsat, bangsat, bangsat. Kartu as sudah dikeluarkan. Kalau caci maki bisa buat Denji ereksi, maka pujian bisa buat otak Denji instan terkorupsi. Yoshida adalah cowok bajingan yang pintar membaca situasi. Tahu benar dia cara membuat Denji bertekuk lutut tanpa perlawanan berarti.
"Woof." Tawa renyah menggelegar. Yoshida pusing bukan kepalang tapi otaknya masih berjalan dengan baik. Nggak menyangka kalau Denji benar benar bersimpuh dan mencium sepatunya dalam hitungan detik. Pemandangan yang menyenangkan. Sayang dilewatkan. Maka dia ambil ponselnya dan mulai merekam.
"Denji. Say woof."
"Woof."
"Jilat sepatunya."
"Hng."
"Aw ... my cute baby boy."
Ponselnya menampilkan Denji yang menjilat sepatu Yoshida pelan-pelan. Matanya menatap lapar ke atas, tepat pada kamera seolah menantang Yoshida untuk melakukan hal tidak senonoh. Yoshida yang setengah mabuk tentu tertantang. Rokoknya diisap lagi.
"Stick your tongue out, Denji. Show me how eager you are," kata Yoshida. Sedikit membungkuk sampai wajahnya sejajar dengan Denji. Dia tunggu sampai liur menetes dari bibir dan lidah merah itu. Sampai basah, basah sekali hingga sekiranya mampu memadamkan rokoknya yang sudah pendek itu.
"Pinter banget jadi asbak begini. Punyanya siapa ini? Yoshida bukan?"
Panas, gosong, dan asing. Gelenyar aneh itu menyenangkan. Abu rokok melebur di atas lidah panasnya. Bara api nggak melukainya sebab liurnya membasuh segala yang hinggap di atas benda lunak tersebut. Tepat saat puntung rokok dibuang ke bawah, lidah Denji membelit telunjuk dan jari tengah Yoshida. Membawanya masuk ke dalam mulut yang basah dan hangat itu.
"What would a good boy say when he's allowed to do things he wanted to do?" Yoshida bertanya dengan pelan. Suaranya serak dan dalam sebab tenggorokannya kering dan panas pasca diguyur habis-habisan oleh alkohol, pun dia merokok terlalu banyak.
"Thank God?" Bangsat. Yoshida niatnya cuma main-main tapi Denji malah memantik api nafsu di dalam dirinya dengan dua kata berbahaya itu. Binar mata polos Denji begitu menggoda seolah minta untuk dikerjai. Mulutnya sibuk mengecap dan mengulum jari, menjilatnya seperti anak baik yang diberikan permen loli. Kabut nafsu makin tebal meliputi dua mata yang nanar itu.
"You should worship your God, Denji. Be a good boy and show your gratitude." Jemari di dalam mulut ditarik ke luar, kini jempolnya yang masuk, menyisakan empat jari yang mencengkram rahang Denji. Jempol itu menekan sisi kanan bibir dan pipi dalamnya ke luar seolah memaksa Denji untuk buka mulut dan melebarkannya.
"Thank you for your blessing. Sujud syukur udah mau dimainin. I am nothing but a mere servant," sahut Denji nggak mau kalah. Entah otaknya terkorupsi si bangsat Yoshida, atau entah dia masih bisa berpikir untuk mengerjai Yoshida balik. Yang jelas, kalimat Denji hanya memperkeruh keadaan. Tangan Yoshida yang lain menjambak rambut Denji, memaksanya mendongak. Cuih. Wajah bodoh yang memerah itu diludahinya. Hangat dan seperti rokok. Denji cuma bisa berkedip mencoba memahami situasi.
"Your head is sure so high, yeah?"
Bajingan tengik. Denji sungguhan diludahi dan penisnya malah ereksi sempurna. Seolah tersihir, dia buru-buru menunduk. Menatap sepatu Yoshida lekat-lekat. Menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan supaya Yoshida merokok lagi. Satu-satunya yang membuat Denji horny adalah si bangsat itu setengah mabuk dan sedang merokok. Denji mau-mau saja menggesekan penis dan lubangnya ke badan Yoshida asalkan pemuda itu mengisap rokok dengan seksi lagi. Dikatai dan direndahkan jelas nggak ada di dalam daftar Denji. Seks itu tentang sentuhan nikmat dan kalimat manis. Kan?
... kan?
"Cowok tolol kayak lo ngerti apa sih tentang tidur bareng? Anak baik-baik kayak lo mana tau enaknya dikatain. Sukanya dibaikin, ya? Tapi waktu diludahin malah ngaceng tuh, kontol kecilnya. Yakin anak baik-baik?" cerca Yoshida habis-habisan. Dia tertawa meremehkan. Mengetuk-ngetuk pelipis Denji seolah menyadarkan dia kalau otaknya nggak ada di sana. Denji bukan anak baik-baik.
"Gue ngerti."
"Oh, iya? Anak baik ngerti apa, coba?"
Berpikir, berpikir, berpikir. Denji paksa otak kecilnya berpikir tapi yang ada di sana cuma Yoshida merokok. Cuma ada Yoshida mau ke sudut manapun Denji mencari. Dia telan ludahnya kepayahan. Takut-takut menyentuh sepatu mahal pemuda yang duduk di atas sana.
"Dumb whore." Yoshida mengumpat. "Sini gue ajarin caranya ngenakin orang yang bisa bikin lo enak juga," lanjutnya kemudian. Dua kaki yang saling menumpu tadinya diturunkan memijak lantai. Dibuka perlahan dan memperlihatkan resleting menyesakkan. Lantas, telunjuk basah dan lengket yang diisap Denji tadi mengetuk-ngetuk buntalan keras di sana. Seolah menunjukkan sesuatu. "Mulut lo pake. Angetin kontol gue bisa, nggak? Nggak pinter kalau nggak bisa."
Denji itu pintar. Dia yakin sekali kalau anak baik adalah dirinya sendiri. Kalau disuruh, akan dia kerjakan. Meski tangannya gemetaran dan penisnya ngilu minta dikeluarkan, Denji akan tetap melakukan apa yang Yoshida suruh demi dipuji lagi. Dia buka resletingnya. Menelan ludah lagi sebab belum pernah melakukan hal ini. Yang dia tahu, Denji hanya harus mengulum dan mengisap penis besar Yoshida seperti apa yang dia lakukan pada jari-jari tadi. Sama saja.
Kan?
"Mwah," Denji mengeluh pelan. Meninggalkan satu kecupan manja pada kepala setengah keras itu. Yoshida menggeram, memejamkan mata menahan lonjakan gairah. Yoshida sering mendapat service mulut, tapi dicium dengan polos begitu adalah yang pertama kali. Nggak heran kalau penisnya langsung tegang sempurna dan pinggangnya maju nggak sabaran.
"Fuck, you're hot."
"Mmmn?"
Denji begitu panas. Gerakannya berantakan. Berkali-kali tersedak dan mau muntah sebab memasukkan milik Yoshida terlalu dalam dan kikuk. Dia kecupi dari bawah ke atas, menjilat urat seolah meninggalkan jejak dosa. Mengisap tiap permukaan dan mengulum keseluruhan seperti seorang amatir. Dan gerakan amatir adalah yang paling enak. Sensasi ingin lebih dan tidak sabaran buat Yoshida pusing bukan kepalang. Service Denji terlalu malu-malu dan serampangan. Yoshida akan ke luar kalau saja gigi gigi itu nggak sengaja menggerus penisnya.
"Bangsat!" Dia mengumpat kasar bersamaan dengan menarik penisnya ke luar seperti kesetanan. Mata menyorot tajam dan tangan kiri kini menarik poninya ke belakang, memaksa Denji mendongak ketakutan.
"Jangan kena gigi, tolol! Do it like a good boy or else, I'll fuck the shit out of your sense in front of our friends." Dia lanjut mengancam. Denji jelas nggak mau harga dirinya diinjak di depan teman-temannya. Dia mencicit maaf, memohon pengampunan dengan mata berair.
"Dikocok, bukan dipegangin. Pernah ngocok nggak, lo? Atau karena saking anak baiknya sampe gak pernah coli?" Rasanya, nggak akan ada menit terlewat tanpa Yoshida mencerca dan mengatainya. Dan Denji benci dirinya yang malah meneteskan precum tanpa permisi seolah menikmati semua hinaan itu. Sebagai anak baik, Denji cuma bisa meminta maaf dengan mulutnya yang penuh, tangan mengocok dan memompa penis licin dan tebal Yoshida sampai sang empunya menggeram keenakan.
Yoshida ke luar di dalam mulutnya nggak lama kemudian. Ponsel merekam mata membelalak dan gerakan amatir yang patah-patah. Denji reflek memuntahkan sisa-sisa yang tertinggal di rongga mulut dan mengeluarkan penis yang mulai lemas itu. Tatapannya nyalang hendak protes, tapi seringaian Yoshida terlalu seksi hingga menghipnotisnya. Ponsel Yoshida lalu dipindahtangan. Denji nggak bisa berpikir lagi. Mau apa bajingan seksi ini?
"Mikir buat gue, please. Otak gue kecil, gue udah tolol banget," rengeknya. Niat mengamuk dia telan mentah-mentah sebab dilihatnya tangan Yoshida merogoh saku, rokok dikeluarkan lagi. Denji dapat yang dia mau.
"Kasihan. Mulutnya baru dikontolin udah tolol aja. Capek ya, manis? Perlu duduk? Sini." Sembari berbicara kotor begitu, Yoshida meraih pinggang Denji, menariknya cepat sampai Denji limbung. Remaja itu terjatuh di pangkuan Yoshida, sedikitnya membuat si perokok mendesis sebab penisnya diduduki dua bongkahan kenyal milik Denji. Denji berkedip, masih meraba-raba keadaan. Tiba-tiba saja dia dipangku. Tiba-tiba punggungnya menempel pada dada bidang Yoshida dan pria itu memeluk pinggangnya erat.
Napas Yoshida begitu panas di telinganya sebab dia memangku dagu di pundak Denji. Rokok sudah menyelip lagi di antara bilah bibir dan jemarinya yang menggenggam korek kini menunjuk ponsel.
"Look at that, doll. Muka tolol yang berantakan kayak gitu punya siapa? Keringetan, rambut lepek, liur di mana-mana, peju meleber kemana-mana. God, you're so hot," bisiknya rendah, sukses membuat bulu kuduk Denji berdiri. Dia sama sekali nggak tahu kalau ponsel Yoshida masih merekam. Kini wajah berantakan dan kotornya terpampang jelas, tangan gemetar Denji membuat ponselnya nggak stabil. Yoshida berdecak. "Stay still."
"Maaf." Cuma itu yang mampu Denji ucapkan. Dia nggak menangis tapi harga dirinya sudah teracak-acak. Penisnya berkedut minta dipuaskan tapi bergerak seinci pun dia ciut. Yang berikutnya dia lihat adalah tangan Yoshida melintasi wajahnya, memantik korek dan membakar rokok tepat di sebelah wajahnya. Keparat. Denji sempat takut. Aroma tembakau yang hangus langsung menguar dan dia terbatuk kecil sebab nggak sengaja menghirup asap.
"Oh, my. Denji, you're leaking. Basah banget ya kontolnya?" Ejekan lainnya. Kali ini buat Denji menegang karena korek sudah diletakkan entah di mana. Tangan kiri Yoshida mampir ke pangkuannya. Mengusap penisnya yang berbalut celana basah. Yoshida, anak setan. Sengaja sekali mengembuskan asap rokok sambil tangannya main-main di bawah sana.
"Nnn ... mau, Yoshida," desah Denji nggak tahu malu. Dia menyerah. Sudah percayakan seluruhnya pada Yoshida, biar pemuda brengsek itu saja yang berpikir. Denji iya iya saja.
"Mau apa, sayangku?"
"Kocokin juga, please ... mau. Mau enak, please."
"Since you beg like the good boy you are," jawab Yoshida main-main. Rokoknya diisap lagi, kepala yang bersandar di pundak itu anteng sembari menatap penis Denji yang tegak sempurna usai dikeluarkan dari celananya. Diurut perlahan, diusap manja, dan diremas-remas. Yoshida benar-benar mempermainkannya sesuka hati.
"Ffffuh," menghela asap, Yoshida berkata lagi, "filthy doll. Dikatain sama diludahin malah tegang. Udah tau enaknya ngewe ya, sekarang? Kontolnya dikocokin begini sampe lo desah-desah gitu. Enak, mhm? Liat muka lo di kamera, tolol banget. Punya gue."
"Mmn .... "
"Apa?"
"Nnng .... " Yoshida tertawa lagi. Benar-benar terhibur karena yang bisa Denji lakukan cuma mendesah keenakan. Wajahnya menengadah, liur terjun bebas seperti anak sungai dan matanya sembab berair. Nggak memandang apapun sebab bola mata sudah memutih. Seperti bintang porno saja. Dan Yoshida menikmati ekspresi kotor itu lewat ponsel yang merekam. Ide mesum terlintas lagi di otak kotornya.
Cuih.
Dia meludah lagi, liur itu jatuh tepat di penis Denji. Kocokan jadi makin licin dan basah. Denji tegang setengah mampus, pahanya menggelinjang; siap untuk pelepasan. Tapi Yoshida memang bajingan. Dia lepas penis malang itu. Menekan libido Denji sampai nol. Pelepasan gagal dirasakan, Denji sakit kepala setengah mampus.
"Hah ... hah? Hah ... brengsek ... kenapa stop? Gue mau keluar, Yoshida. Please. Mau keluar," racaunya setengah memohon. Ngilu karena gagal keluar bercampur jengkel sungguhan buat dia menitikkan air mata. Merengek seperti anak kecil kehilangan mainan.
"Cup, cup, cup. Anak baik sayang. Nangis karena nggak jadi orgasme? How pathetic. Nyebat dulu, nggak, sih?" Yoshida menyahut remeh. Terkekeh geli karena Denji tampilkan wajah bodoh lagi. Rokok dia tarik dari bibirnya, begitu saja dia selipkan di antara belahan bibir Denji yang bergetar kurang familier.
Si bangsat ini betulan kejam. Yoshida yang biasanya nggak sebegini menjengkelkannya. Dia pria yang lembut dan selalu mengiyakan ucapan Denji tanpa pikir panjang. Tapi Yoshida yang oleng dan setengah mabuk benar-benar titisan setan. Denji disuruh merokok. Denji itu nggak pernah merokok.
"Tarik pelan-pelan-"
"Uhuk!"
"Dumb. Gue bilang tarik pelan-pelan, bukan nyepong rokoknya. Habis tarik, buang ke luar. Jangan keselek." Intruksi Yoshida memang jelas. Sambil menjepit rokok dan membantu Denji, dia mengelus penis itu lagi. Tapi Denji kepalang bodoh. Tetap saja dia terbatuk. Makin bingung karena sensasi nikmat mampir lagi.
"Pleasure yourself. Kalau mau keluar, enakin diri lo sendiri sambil ngerokok. And hands off, Denji. Pegang aja hp gue yang bener."
Bangsat, bangsat, bangsat, bangsat. Yoshida memang bajingan. Denji dipaksa memuaskan dirinya sendiri tapi dengan apa? Dua tangannya memegangi ponsel guna merekam diri yang dicabuli dengan sukarela. Tangan Yoshida juga sibuk. Satunya memeluk pinggang Denji, satunya membantu Denji untuk merokok—memegangi rokok saat Denji harus mengisap, dan menariknya ke luar saat Denji harus mengembuskan asap; menyelipkan rokok, menariknya ke luar, begitu terus. Lagi, lagi, dan lagi.
Satu-satunya yang terlintas di kepala Denji adalah menggesek-gesekkan dirinya di paha Yoshida. Lubang basahnya mungkin bisa mengantarkan friksi menyenangkan. Denji berusaha.
"Nnn ... susah," rengeknya kesal. Maju mundur mencoba menggoda lubang ketatnya tapi celana bahan Yoshida amat menyusahkan. Gesek lagi. Naik turun memompa penis setengah tegang Yoshida, mengurutnya dengan bodoh, lalu bergerak maju mundur lagi. Begitu terus sampai lubang basah itu akhirnya merasakan sesuatu. "Anjing!" Umpatan kasar itu lolos dari mulut Denji yang tersumpal rokok. Suaranya teredam kekehan merendahkan dari Yoshida. Lubangnya sudah sensitif sekali, sedikit gesekan dan dia bisa orgasme. Berdenyut tidak tahu malu padahal cuma digerus kain kasar dan penis Yoshida yang sama sekali nggak membantu. Dia total kacau.
"You grind like a whore, yeah? Enak gesek-gesek gitu? Sambil dikocokin gini enak, nggak, manis?" Mulut Yoshida terus-terusan melecehkan Denji yang mabuk kepayang. Lehernya kini ikut dikerjai. Dikecupi dan dijilati, digigit kecil-kecil sampai ruam merah muncul di mana-mana. Yoshida memang gemar menandai kepemilikannya. Dan yang dikerjai punya satu lagi alasan untuk menyemburkan spermanya.
"Uung ... yeah .... "
"Yeah?" Kecupan terakhir dan leher yang sudah babak belur, Denji akan orgasme jika lagi-lagi Yoshida nggak memilih jadi bajingan. Remaja itu berhenti mengocok penisnya. Memaksa Denji berhenti menggesek paha dan penisnya dengan lubang sensitifnya.
"Yoshida bangsat!"
"Baby doll doesn't curse. Be patient, Denji," katanya menanggapi. Rokok kembali pada pemilik sebenarnya. Yoshida bersandar lagi pada pundak Denji yang terengah-engah, lelah dibuat keenakan lalu semuanya direnggut tepat sebelum dia orgasme. Denji benci digantung.
Untuk dua menit, Yoshida nggak melakukan apapun. Dia merokok dengan khidmad sembari memandangi kaki Denji yang gemetar. Kepalanya pusing, asap yang mengepul nggak mengurangi peningnya. Penisnya juga berkedut, gesekan tadi sukses membuat dia ereksi. Yoshida pikir dia dan Denji bisa orgasme kali ini. Maka bibirnya menyeringai jahat lagi. Terkekeh kecil sembari melepas pelukan pada pinggang bergetar itu.
"Hahahah. Tolol banget mukanya. Mau ke luar, mmn?"
"Mau. Mau ... mau ... mau, tolong. Gue bakal ciumin kaki lo kalau gue dibolehin keluar, Yoshida. Please."
"I love when you beg." Sahutan serak dan panas Yoshida menusuk lehernya dingin. "And it makes me want to crush you into useless pieces," sambungnya kemudian. Tangan kiri Yoshida kemudian meraih leher Denji. Menggenggamnya dan menekan nadi Denji. Yang dicekik tersentak kaget, berpikir kalau dia mungkin akan mati kehabisan napas dengan kondisi belum orgasme. Menyedihkan.
"Ssh. Pegangin rokok gue." Usai berkata begitu, Yoshida mengembuskan asap terakhirnya sebelum rokok itu diselipkan kembali pada dua belah bibir mengkilap Denji. Jemari yang bebas lantas menyusup ke balakang, dia isap dan kulum sendiri sebelum diselipkan pada lubang ketat Denji.
"Hnnng ... aah ... hah ... nnn .... " Denji nggak bebas berbicara. Dia cuma bisa mendesah karena tercekik. Cekikan Yoshida nggak menyakitkan, tapi seolah memotong jalur oksigen ke otaknya. Mata Denji dibuat berkunang-kunang dan telinga seolah berdenging. Otaknya pening dan wajahnya merah padam. Liur menetes tanpa henti, badannya menggelinjang hebat sebab jemari panjang Yoshida mengorek-ngorek lubangnya. Diobrak-abrik tanpa perasaan sampai titik postat Denji dia temukan.
"Yoshidhabanghasft!"
"Mmn? Can't hear you, doll. Enak?" Denji menggeleng-geleng sebagai respon. Mencoba lepas dari cekikan nggak berperasaan Yoshida tapi dia diam-diam menikmatinya. Jari jari sialan itu ... jari jari bajingan itu melecehkan lubangnya sampai Denji menjerit tertatahan. Jari-jari sialan itu juga mencekiknya dan buat adrenalinnya memacu nafsu ke ubun-ubun. Bola matanya memutar ke atas dibawa nikmat, cuma putih yang bisa Yoshida lihat di layar ponselnya.
Ah, bangsat. Jarinya dijepit kencang-kencang. Begitu sempit dan panas. Seolah penisnya juga merasakan yang sama—dia menggigit bibirnya. Wajah Denji sudah merah padam, anak itu mungkin akan pingsan sebelum merasakan orgasme.
Maka bersamaan dengan leher yang dia lepaskan, Denji menyemburkan spermanya. Muncrat ke lantai dan sepatu mahal Yoshida. Wajah bodoh dan keenakan yang menurut Yoshidda tolol berhasil membuat dia orgasme yang kedua kalinya. Celana Denji kini basah depan belakang.
"Pinternya. Bisa nahan nggak keluar terus keluar yang banyak waktu dibolehin. Denjinya Yoshida ya, ini? Bilang apa, manis?" Yoshida ambil rokok di mulut Denji yang sempat tergigit anak itu secara nggak sengaja—dia hisap. Usai orgasme hebat, dia butuh rokok.
"Makasih ... nng."
"Good. You did it so well, love. Pinter banget Denjinya gue. Such a good baby."
Ah, bangsat. Dia cuma main-main dengan Denji tapi keluar sampai dua kali. Dia pikir mereka nggak akan sejauh ini. Yoshida benar-benar oleng malam ini. Alkohol dan rokok adalah kombinasi laknat. Ingatkan dia untuk minta maaf pada Denji besok.
Matanya lalu melirik pada ponsel yang nyaris jatuh sebab Denji lemas selemas-lemasnya orang melakukan seks. Yoshida terkikik geli, tangannya meraih ponsel dan menekan tombol berhenti merekam. Ponsel yang jadi saksi bisu perbuatan mesum Yoshida dikantongi lagi. Yoshida rasa ada yang kurang.
"Nnn? Yoshida ... nggak sanggup ... hng?!" Sebuah ciuman panas yang berantakan. Seks nggak berarti apapun baginya jika dia nggak berciuman. Bibir pahit yang selalu mengapit rokok itu kini mengulum bibir Denji yang kebingungan. Dagunya ditarik dan dia menoleh ke belakang, dicium rakus dan lidahnya terbelit panas. Yoshida nggak berhenti; mau sebodoh apapun Denji dalam memahami situasi, dia tetap akan memimpin dan mendominasi. Ciuman itu begitu berantakan sampai liur meluber kemana-mana. Rahang, dahu, sampai hidung dia ciumi. Dia hisap gemas dan kembali memagut ganas Denji yang kelimpungan.
Yoshida lepas pagutan keduanya sampai jalinan saliva menghubungkan bibir mereka. Jeda itu dipakainya untuk mengisap rokok. Napas putus-putus Denji terdengar manis, anak itu terengah-engah dan memejamkan mata dari sapuan asap yang diembuskan Yoshida di depannya. Kalau begini, Yoshida mana bisa nggak menciumnya lagi? Dagu diraih kembali. Dia memagut bibir berantakan dan mulai mengerjai wajah si pirang.
Cklek!
Ciuman terlepas, Denji terengah-engah lagi dan kepalanya jatuh menabrak bahu Yoshida dengan lunglai. Yang mencium mendongak sedikit, menatap lurus pada pintu yang dibuka oleh seseorang.
"Yoshida, bantuin gue. Sange berat," seru orang itu dari pintu. Terseok-seok berusaha menghampiri Yoshida yang langsung mendengus malas. Hayakawa Aki tiba-tiba masuk ke kamar dengan kondisi mabuk berat. Bertambah lagi bajingan yang gila di kasur. Denji bahkan nggak mampu untuk sekedar berkedip.
"Males. Gue udah keluar dua kali, capek." Yoshida menyahut malas. Dagunya seolah menunjuk Denji yang terkulai lemas di pangkuannya. Tapi mungkin akal sehat Aki masih tersisa sedikit jika itu menyangkut Denji yang selalu dia sayangi dan lindungi. Aki balas menggeleng. Nggak mau kalau sampai harus meminta Denji.
"Sepongin aja deh, sepongin. Aduh anjing, gue udah sange berat. Bantuin, sat." Dia bersikukuh. Susah payah untuk akhirnya berdiri di depan Yoshida yang mendecih. Merebut paksa rokok yang sudah pendek itu dan mengisapnya serampangan.
Kalau dilihat-lihat, kondisi Aki memang memprihatinkan. Bau alkohol menguar pekat dari badan dan mulutnya. Celana yang terlihat sesak sebab penisnya tegak dan peluh yang membanjiri kaus putihnya. Tapi Yoshida sudah lelah dan setengah mabuk juga. Dia mungkin akan muntah kalau dipaksa mengisap penis Aki.
"Nih, lo tonton aja sambil ngocok. Baru banget tadi. Gue bantuin ngata-ngatain lo dari sini. Gih, sana. Gue mau manjain si manis ini mumpung masih sadar," putusnya final. Menyerahkan ponselnya yang tengah memutar sex tape yang direkam barusan. Lantas Aki mendesah jengkel. Dia rebut ponsel Yoshida dengan kasar dan duduk di atas ranjang Mifune sambil menggurutu. Nggak lupa untuk mengacungkan jari tengahnya. Nanti dia akan jambak Yoshida, mampus.
"Bangsat! Ini Denji? Besok gue tonjok lo, anjing."
"Yeah, yeah. Go fuck yourself, manwhore. I'm watching."
Denji nggak mampu berkata-kata lagi. Orgasmenya luar biasa enak tapi tubuhnya remuk. Yang bisa dia lakukan cuma menikmati sisiran jari Yoshida pada rambutnya dan memejamkan mata mencoba istirahat. Kecupan demi kecupan dia terima di sekujur wajahnya tanpa perlawanan. Meski suara desahan Aki sedikit mengganggu dan Yoshida sungguhan membantu pria itu dengan mengata-ngatainya dari sini. Yang penting keinginan Denji malam ini terpenuhi. Denji sukses dibuat enak oleh Yoshida yang merokok.
Besok dia buang ke mana bajunya, ya? Apa Denji harus keramas juga?
