Actions

Work Header

Kosan si Cantik

Summary:

Mark kira Haechan adalah perempuan baik, sampai dimana mereka habiskan malam bersama, Haechan berkata bahwa perempuan baik adalah perempuan nakal yang belum ketahuan.

Chapter 1: Pertemuan pertama

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Bekerja sebagai supervisor di sebuah kafe yang kini sudah memiliki banyak cabang mengharuskan Mark berpindah dari kota satu ke kota yang lain untuk membantu keberlangsungan berjalannya kafe tersebut.

Menggandrungi bisnis tersebut lebih dari tiga tahun, cukup buat Mark memegang posisi penting hingga dipercayakan oleh pemilik utama bisnis tersebut untuk mengawasi dan mengelola ke seluruh cabang yang tersebar di kota-kota besar. 

Lelaki dengan tinggi semampai juga wajah tampan beralis camar itu tentu saja senang. Selain mengeksplor kota di negara tercintanya, Mark suka hidup nomaden yang tidak mengharuskan ia menetap di satu rumah saja. Bukan karena ia tidak mampu membeli rumah, namun memiliki rumah dan hidup sendirian bukanlah hal yang ia inginkan. 

Setidaknya berkeliling kota di Indonesia bisa saja mempertemukannya dengan pujaan hati, kan? 

Walau tidak berharap banyak, ia cukup disibukkan dengan pekerjaannya yang ternyata lebih hectic dari dugaan sebab kafe tempatnya bekerja sudah menjadi buah bibir satu negara hingga demand yang dimiliki cukup tinggi. Mempunyai waktu libur di hari kerja dan bekerja hingga akhir pekan menjadikan jadwal Mark tidak senada dengan kebanyakan orang yang bekerja di bidang selain retail. 

Meski memiliki banyak teman di kota-kota yang sudah pernah ia datangi untuk bekerja, Mark tetap belum menemukan seseorang yang bisa menggaet ketertarikannya. Tidak jarang juga lelaki berzodiak Leo itu menyewa pria atau wanita panggilan untuk menemani malamnya yang sepi. 

Terlihat menyedihkan, walau sebenarnya tidak. 

Mark bisa saja memilih satu dari beberapa orang yang belakangan ini secara terang-terangan mendekatinya, seperti mas Yuta dari Bali yang rutin menghubunginya untuk sekedar basa-basi, atau mba Yeri dari Jogja yang pernah secara langsung mengungkapkan rasa sukanya pada Mark. 

Banyak. Hanya saja memang belum ada yang terasa pas di hatinya. Entah sebab apa, Mark sendiri pun bingung. 

Sesekali saat tidak menemukan pria atau wanita panggilan yang cocok dengan selera, Mark juga beberapa kali menyambangi klub bar untuk melepas penat dengan menari pada lantai dansa. Mencium satu atau beberapa orang yang menghampirinya tanpa melanjutkan kegiatan panas yang biasa dilakukan teman-temannya. Bahaya, Mark hanya menghindari kemungkinan penyakit tertular jika sembarang mengambil dari tempat seperti itu. 

Oh, berbicara mengenai teman-teman Mark yang lain. Mereka banyak menjebak Mark untuk mengikuti kencan buta yang dirancang dadakan. Sekali dua kali pertemuan dan keesokan harinya yang mereka dapatkan pasti Mark dengan wajah masamnya. 

Ga cocok sama gue, katanya lesu. 

Mungkin hanya masalah waktu, Mark selalu berpikir demikian menenangkan dirinya yang merasa takut akan hidup sendiri hingga masa tuanya datang. 

Lelaki berumur seperempat abad itu sedang mengendarai mobilnya, tidak lama lagi dari perkiraan waktu yang ditunjukkan dari peta digital di layar kecil mobilnya, Mark akan sampai di kota Bandung. Ia hendak menemui Johnny dan Jaehyun, kawan lamanya yang menetap di kota tersebut. 

Dering telepon berhenti berbunyi dan suara yang terdengar selanjutnya adalah milik Johnny yang menyapa. "Lurus aja dari situ, gue sama Jae nunggu di depan pager kos nya ini," 

Dengan arahan tersebut, Mark menyusuri jalan sambil melihat sekeliling jalan hingga pandangannya menangkap kedua temannya yang melambaikan tangan kearahnya. Mark akhirnya memarkirkan mobilnya masuk ke pekarangan rumah kos tersebut dibantu oleh Johnny yang membukakan pagar. 

Setelah turunnya Mark dari mobil, mereka bertiga berpelukan singkat salurkan rasa kangen sebab sudah lama sejak terakhir mereka bertemu di kelulusan kuliah.

"Asik.. gimana bos kabarnya?" Tanya Jaehyun dengan nada canda kentara yang membuat Mark menggelengkan kepala. 

"Bos apaan sih," menolak dipanggil demikian walau kenyataannya memang jabatan yang Mark tanggung sekarang lebih tinggi diantara mereka. "Gue baik kok. Kalian gimana stay di Bandung?"

"Aman sih kerja disini, ga terlalu sibuk kayak lo yang anak Jakarta," jawab Johnny menyindir halus perihal Mark yang jarang sekali ikut serta ajakan kumpul mereka.

Percakapan terus berlanjut panjang hingga cukup lama ketiga lelaki itu duduk di bangku teras rumah. Mengetahui kabar terbaru masing-masing yang membuat perbincangan mereka makin seru. Johnny yang bekerja di salah satu perusahaan di tengah kota sementara Jaehyun melanjutkan studi pascasarjana sambil magang di kantor tempat Johnny bekerja. Dua lelaki ini tampak tidak bisa dipisahkan. 

"Berapa lama di Bandung, Mark?" Johnny bertanya sembari menyodorkan kotak rokok, menawarkan Mark bergabung merokok bersama mereka.

"Tiga bulan sih harusnya, bisa lebih dari perkiraan," jawaban Mark membuat kedua lelaki itu mengangguk paham. 

Menyudahi acara ngobrol mereka, Jaehyun lebih dulu berdiri ajak Mark berkeliling melihat kos dari luar, menimbulkan satu pertanyaan muncul dari Mark.

"Kosan punya siapa deh ini, Jae?" Tanyanya penasaran. Jaehyun sendiri lupa menjelaskan perkara itu karena dari awal ia hanya menawarkan ada satu kamar kos kosong yang bisa Mark tempati selagi berada di kota itu.

"Punya.." belum sempat menjawab pertanyaan Mark, seorang perempuan cantik dengan surai hitam sepunggung juga senyum yang mengembang manis itu mendekat kearah mereka bertiga. 

Diantara yang lain, Mark terlihat kentara sekali menganga kaget memperhatikan sosok perempuan yang kini berdiri di hadapan Jaehyun dan memeluk lengannya tanpa mengalihkan pandangan pada Mark.

"Cantik ya cewe gue sampe ngeliatnya gitu banget?" Ejek Jaehyun yang hasilkan tawa dari semua orang disana kecuali Mark yang menunduk malu, ia menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal. 

"Efek jomblo kelamaan sih ni anak.." decakan Johnny siratkan khawatir yang ditanggapi guyon oleh mereka. Mark sendiri tidak membantah. Antara benar karena efek terlalu lama sendiri atau perempuan yang Jaehyun kenalkan sebagai pacarnya itu memang terlampau cantik di mata Mark. 

"Haechan," uluran tangan lentik milik perempuan itu disambut baik oleh Mark yang turut mengenalkan diri. Lagi-lagi dirinya mendapatkan informasi baru kalau perempuan cantik itu adalah pemilik kosan yang akan ia sewa. 

"Kenapa ga lo aja yang sewa kosnya deh, Jae?" Tanya lelaki itu, penasaran untuk yang kesekian kali.

Jaehyun terkekeh sambil merangkul pacarnya, "Kenapa harus sewa kalo gue bisa tidur di kamar pacar cantik gue ini? Ya gak, sayang?" Jaehyun menoleh dan menyentuh pelan dagu Haechan bermaksud menggoda, mendapatkan sahutan huuuu geli bucin dari Johnny.

Haechan akhirnya menyudahi percakapan tidak jelas arah itu dengan membukakan pintu yang sebenarnya tidak dikunci, ketiga lelaki itu sudah bisa masuk dan melihat-lihat sendiri jika tidak larut dalam agenda temu kangen dadakan mereka tadi. 

"Biar deh si Mark liat ke dalem sama Haechan, kita ngopi aja yuk Jae di depan?" Tawar Johnny. Mendengar itu Mark agak kaget dan menoleh was-was menanti respon dari yang diajak bicara.

"Yaudah yuk. Sayang kamu langsung aja ya ngomong ke Mark masalah sewa nya," respon mengiyakan dari Jaehyun diangguki pula oleh Haechan hingga kedua lelaki itu pamit dan menghilang setelah pagar kosan kembali tertutup. 

Lah kok gue malah ditinggal berduaan sih...

Mark sekarang merasa canggung, langkahnya kikuk mengikuti Haechan yang berjalan didepannya. Tidak ada percakapan berarti yang mereka ucapkan hingga akhirnya langkah keduanya berhenti setelah menaiki tangga hingga ke lantai tiga. 

"Kamar yang kosong cuma ada di pojok lantai tiga ini, Aa Mark. Ayo atuh, masuk liat ke dalem," ajak Haechan setelah pintu kamar itu terbuka. Mark manut, memasuki kamar tersebut dan melihat kamar kos yang cukup luas dengan tempat tidur queen size dengan pendingin udara dan kamar mandi dalam. 

Puas dengan yang dilihat, fasilitas tersebut sudah sangat cukup bagi Mark. Ia juga berdecak kagum karena walaupun kosong, kamar itu masih sangat bersih.

"Belum lama ya kosongnya? Rapih banget kamarnya," ucap Mark sambil mengitari kamar yang sudah full furnished itu. 

Dibalas gelengan dari perempuan yang berdiri menunggu di ambang pintu, "Sebulan lalu kayaknya, a. Aku rajin bersihin soalnya hehe.." Haechan mengaku dengan nada malu. 

Mark menyahut oohh dan mengangguk-angguk paham. Setelah puas melihat, ia akhirnya menghampiri Haechan dan mengatakan "Aku—eh gue maksudnya," ujarnya gugup. 

Dibalas tawa oleh Haechan, "Gapapa atuh, a. Aku-kamu juga gapapa." 

Tolong salahkan perbedaan budaya Jakarta dengan kota lain, sebab di Jakarta memanggil dengan aku-kamu hanya ditujukan oleh orang yang dekat atau disayang saja. 

"Iya, Haechan. Aku jadi sewa ya buat tiga bulan. Ada peraturan yang perlu aku tau?" 

Perempuan itu menjawab dengan nada lembut, menjelaskan secara rinci peraturan selama menjadi penyewa di kos yang sebenarnya hampir sama dengan kosan yang sudah Mark tempati sebelum-sebelumnya di kota-kota lain. Peraturan dasar yang salah satunya adalah tidak membuat kebisingan yang mengganggu tetangga kamar. Perihal untuk pulang malam maksimal di jam sepuluh di hari kerja dan jam dua belas di akhir pekan. 

Mark mengangguk setuju dengan semua peraturan yang ada tanpa membiarkan saat Haechan akan menjelaskan fasilitas lainnya yang akan didapat. Karena Mark pasti tidak akan memakainya. Ia akan mencuci kering bajunya sendiri sebab dirinya jarang berganti pakaian, typically laki-laki. Soal masak, dirinya sangat tidak pandai maka Mark lebih memilih selalu menggunakan jasa pesan antar makanan atau membelinya di luar setelah pulang bekerja. 

Fasilitas yang ada di dalam kamar sudah membuat Mark cukup untuk menampung hidupnya selama tiga bulan di kota tempatnya dulu menjalani masa kuliah. 

Kembali lagi pada mereka berdua, Mark izin untuk mengambil satu koper dan tas ransel besarnya dari mobil sementara Haechan menunggu di dalam kamar Mark. 

Sekembalinya Mark dengan tentengan penuh di kedua tangan, pandangan Mark jatuh pada Haechan yang duduk di pinggir kasurnya dengan menyilangkan kaki. 

Enak kali ya kalau punya cewe yang nungguin tiap gue pulang kerja, batin Mark bersuara.

Matanya masih memaku pada presensi cantik Haechan hingga tidak sadar perempuan itu sudah berdiri mendekat dan menawarkan bantuan untuk memasukkan barangnya. Mark gelengkan kepala, menolak dengan halus bantuan Haechan. 

Selesai dengan barangnya yang sedikit itu, Mark ajak Haechan untuk turun dan menghampiri Johnny dan Jaehyun. 

"Ga usah kita ngobrol aja disini, a." Ucap Haechan menolak. 

Mendengar itu Mark sedikit panik. Ia tidak ingin di sangka buruk karena memilih berdua di kamar kos itu dengan pacar temannya. Tidak etis. Maka itu, Mark kembali ajak perempuan itu hingga akhirnya Haechan manut dan menunjukkan jalan sampai mereka berdua bertemu dan bergabung dengan Johnny dan Jaehyun yang sedang menikmati kopi sambil merokok itu.

"Gimana Mark?" Pertanyaan gamang dari Johnny buat Mark awalnya bingung, tapi akhirnya tetap menjawab jujur.

"Baik kok Haechan, cantik pula. Beruntung lu Jae dapetin model begini, ga kayak mantan pas kuliah dulu," sahut Mark ditanggapi kekehan seadanya dari Jaehyun yang sedang memainkan game dari ponselnya.

"Itu juga gue tau. Maksud gue kamar kosnya anjir," titah jelas dari Johnny buat Mark lagi-lagi salah tingkah. Mencoba untuk tidak terlalu kentara kalau kini isi pikirannya hanya kecantikan Haechan dengan badan bagusnya yang sedari tadi ia tolak untuk lihat. 

Get your shit together, Mark, Haechan tuh pacar temen lo.

Lelaki itu memaki dirinya sendiri dalam hati. Mengutuk segala bisikan jelek dari iblis yang ada di benaknya. Mark akhirnya coba tenang dan kembali lanjutkan obrolan dengan Johnny juga Jaehyun sesekali tanpa memberi tatap pada Haechan yang duduk berseberangan dengannya.

Ini baru hari pertama Mark setelah sekian lama di Bandung dengan tujuan bekerja, Mark dalam hati berharap ia tidak akan mengacaukan apapun selama tinggal sementara disana.

Notes:

bear with me for the next update hehe