Actions

Work Header

Prole: Side Story

Summary:

Hanbin tak pernah menyangka akan dijadikan bintang porno ekslusif bagi para pemilik tier tinggi pada jam makan siang sebelum praktikumnya dimulai.

Notes:

Please read the tags before you proceed the story. Let me know if I missed any.

Big thanks to cinta yang udah memotivasi aku untuk membuat sucks Hanbin's tits agenda, jasamu akan aku kenang selamanya.

So here it is , A what so called fivesome. Enjoy your ride!

Work Text:

Hanbin cuma bisa melengos malas kala lagi-lagi waktu makan siangnya diintrupsi oleh anak-anak brengsek itu. Dia tak tau maksud Matthew mengikat tangannya dengan dasi lalu menyeretnya ke rooftop perpustakan pusat yang hampir nggak pernah terjamah manusia itu untuk apa– Well, buat anak-anak asrama bintang, tempat itu sudah seperti selayaknya markas kebangsaan mereka. Tanpa mahasiswa lain tau, gudang yang ada sudah di sulap jadi lounge bintang lima, apa aja ada.  

Dia ingin mengelak, tapi tentu dia tak bisa menolak titah Matthew, dia tidak boleh menolak titah salah satu dari mereka.

“Guys, gue bawa bintang utama kita nih,” seru Matthew sewaktu dia membuka pintu dan mendorong Hanbin sampai nyusruk ke lantai.

Semua orang yang ada di ruangan itu kontan menatap ke satu arah yang sama. Senyuman angkuh penuhi wajah mereka semua, bikin Hanbin muak. 

Nggak cukup kah dia kenyang dapat pandangan merendahkan itu di asrama setiap hari? Setidaknya di kampus ini Hanbin mau bebas dan menikmati privillegenya sebagai salah satu penghuni asrama bintang. 

“Wah, halo Hanbin. Gue nggak liat lo pagi ini, berangkat subuh kah?” Itu Taerae, Wannabe kesayangan raja yang punya senyum paling cantik. Tapi jangan terjerat, di balik tingkah sok anggunnya itu dia adalah orang yang paling sering kasih Hanbin banyak tugas menyebalkan. 

Pernah satu kali dia harus keliling kota demi mencarikannya sebungkus mie instan asal korea yang habis dimana-mana, dan sewaktu Hanbin mendapatkannya si brengsek itu dengan santainya memilih makan indomie yang ada di dapur asrama. 

“Kalau papasan sama lo sih, bisa-bisa dia nggak jadi ngampus, Rae.” Ini Matthew, yang sebelumnya punya tugas menculik Hanbin dari gedung fakultasnya. 

Sebagai Pleaser dengan kedudukan terendah di tier tinggi, sudah tugasnya jadi kacung buat pemilik posisi-posisi krusial. Walau tentu, kewenangannya jelas masih lebih tinggi daripada Hanbin yang bikin si kacung itu bebas memperlakukannya sesuka hati.

“Nggak boleh gitu, Matt. Ketentuannya kita bisa mainin dia cuma di asrama, dan nggak boleh sampai ngeganggu aktivitas akademiknya,” peringat Zhang Hao. 

Jadi seorang Jack menuntut dia jadi aturan berjalan. Sebagai tangan kanan raja dia harus memastikan permainan berjalan di tempat semestinya, supaya tak ada kontrak yang dilanggar.

“Jangan terlalu kaku, Hao. Hanbin sih pasti seneng kalau diajakin bolos sama Rae, iya nggak? Bin.” Dan ini, sosok yang paling Hanbin benci setengah mati. Puncak dari piramida hirarki yang berlangsung di asrama mereka. Jiwoong, si raja absolut yang baru. 

Rasa dengki masih berkecumul di hati Hanbin tiap kali dihantam kenyataan kalau tahta bukan lagi kepunyaannya. Parahnya, kartu itu jatuh di tangan Jiwoong, yang dulunya kaki tangan Hanbin paling setia. Pria itu memegang semua kekuatan dan kelemahannya, bikin Hanbin ada di situasi yang benar-benar memuakkan.

“Lo semua nggak tau ya kalau ini jam makan siang? Jangan berulah please, gue ada praktikum habis ini,” sinis Hanbin sambil menatap mereka satu persatu. Kalau tatapan bisa membunuh, kepala mereka berempat pasti sudah bolong oleh pancaran laser dari sorot matanya.

“Justru karena itu, kita mau ngajak lo makan bareng di sini.” Jiwoong memberi kode pada Matthew untuk membagikan kotak makanan yang dilihat dari labelnya punya salah satu restoran mahal terkenal. 

Satu persatu dari mereka menerima kotak itu dengan senang hati, menyisakan Hanbin yang cuma bisa melongo di tempat. Oh, apa yang dia harapkan? Dapat jatah dan makan bareng layaknya sahabat seperorokan? Jangan mimpi. 

Jiwoong membuka miliknya sambil melirik Hanbin lewat ujung mata, senyum bengisnya keluar lagi, sungguh Hanbin akan melakukan apa saja untuk bisa mencabik bibir itu.

"Eh, Hanbin belum dapet? Gimana sih Matthew, kok Hanbin belum dapet." tanyanya diselipi gurau, yang buat Hanbin tak ada lucunya sama sekali. 

"Waduh. Ada sih punya lo, tapi bukannya ada aturan target nggak boleh makan sama tuannya ya?"

Matthew berjalan mendekati Hanbin, lalu berjongkok di depannya. Senyum lebar yang selalu dia tebar kemana-mana itu betul-betul buat Hanbin geram. Pasti ada udang dibalik batu. Batinnya melengos lagi, apalagi sih yang mereka rencanakan. 

"Nari dong, cantik. Lo kan paling jago tuh. Kita kehabisan tontonan porno nih, bisa kali lo tunjukin skill lo yang katanya juara satu di asrama bintang itu. Kalau servis lo bagus, King bisa lah kasih keringanan biar lo ikut makan."

Pinta itu bikin Hanbin menganga, tuh kan. Dia dibawa ke sini pasti cuma untuk dipermalukan. Dan apa katanya tadi? Mereka mau buat dia jadi bintang porno eksklusif? Bangsat betul. 

"Lebih baik gue kelaparan daripada harus bertingkah kayak jalang di depan orang-orang sok macam kalian," geramnya marah. 

Sayang, tubuhnya tak suportif, Hanbin merutuk aksi protes yang dilakukan perutnya. Mengundang tawa dari keempat bajingan yang masih duduk di tempatnya masing-masing. 

"Perut lo protes tuh, beb. Nggak kasian sama cacing-cacing kecil yang bertahan hidup di sana?" Taerae terkekeh geli. 

Tingkahnya amat menyebalkan, buat apa dia mengangkat kotak makannya tinggi-tinggi, mengambil sesendok nasi dan ayam suwir ke dalam mulutnya dalam gerakan slow motion. Dipikir Hanbin akan tergoda? iya. 

Pemuda itu memejamkan matanya erat, menghembuskan nafas pelan-pelan. Hanbin mempertimbangkan tawaran untuk bisa mengisi perut, pasalnya kalau sampai dia tak makan, bisa pingsan dia waktu harus berjibaku dengan asam dan basa. 

Sudahlah, di depan mereka, Hanbin akan selalu murah

Dengan tangannya yang masih terikat, Hanbin berusaha menurunkan celana. Terkutuklah Matthew yang seenaknya menahan kedua tangannya di balik punggung, memang anak itu yang paling senang lihat Hanbin menderita. 

Menahan perih dari jari yang kering, Hanbin mengisi lubangnya maju dan mundur. Nggak ada sama sekali rasa enak yang menyertai. Pemuda itu sampai mengigit pelan bibir. 

Sialan, susah sekali onani di tengah keterbatasan begini, mereka ini sebenarnya mengharapkan dia berbuat apa sih. 

Jiwoong dan kawan-kawannya tampak begitu menikmati ekspresi kesusahan Hanbin. Kerutan yang muncul di kening setiap kali dia mencoba menusuk dirinya sendiri, peluh yang menetes di sela dahi, juga ringisannya saat badan melengkung karena gagalnya penetrasi, semuanya menyenangkan untuk dilihat.

Mereka seolah tengah menonton film biru yang pemainnya masih amatir, kaku dan kebingungan memuaskan dirinya sendiri. Cukup menghibur, bikin Jiwoong tak bisa melepaskan pandangan dari Hanbin selagi terus menyendok makan siang. Yang lainnya juga begitu, terus menghujami Hanbin tatapan tajam yang bikin Hanbin kepanasan di tempat. 

Agaknya dia harus sedikit berterima kasih. Jadi pusat atensi begini bikin miliknya mengacung tinggi, dari dulu Hanbin memang suka diperhatikan, dimakan lewat tatapan. Adrenalinnya mengucur deras, tak bisa menyangkal kalau dia masih begitu menikmati jadi bahan fantasi orang-orang. 

Dilihat dari sorot sayu keempatnya, presensi Hanbin sendiri sudah cukup untuk mengusik libido mereka semua. Bukan salah Hanbin punya badan montok dan paras rupawan yang mudah bikin orang birahi. Apalagi ditambah bagian bawahnya yang kini telanjang, mempertontonkan pahanya yang sekal. Kurang menggoda apa untuk terus dipandang. 

Hanbin mengerang keras, batinnya putus asa. Mau bagaimanapun jari-jari pendek miliknya tak akan sampai pada sebuah titik yang bisa bikin dia keenakan. Sampai sekarang Hanbin cuma dapat sakitnya, lubangnya kian perih karena penetrasi kering yang dipaksakan keempat jari. 

Mata Hanbin berair, membuat ilusi yang buat manik coklatnya seperti dilapisi kilau permata. Sekali lagi dia merendahkan diri, memohon pada siapapun di ruangan itu untuk membantunya meniti puncak. 

Hao jadi yang pertama menanggapi. Pria itu melempar sebuah benda yang tepat mengenai pipi Hanbin yang basah oleh air mata. Pemuda itu mendelik, tapi protesnya dibungkam waktu dia melihat apa yang baru saja Hao berikan kepadanya. Itu adalah sebuah dildo yang berukuran besar, cukup untuk mengoyak lubang Hanbin sampai melar. 

“Pake tuh, jari doang mana cukup buat lo.” 

Hanbin menatap sinis pada sosok yang masih santai tumpang kaki, tapi tak ayal diambilnya juga dildo itu. Dia sudah tak peduli kalau Hao dan yang lain mau menganggapnya gampangan, yang terpenting sekarang adalah memuaskan dirinya sendiri.

Benda panjang itu punya tekstur kasar yang mirip dengan aslinya. Ada guratan urat yang menonjol, hanya dengan membayangkan permukaannya menggesek dinding analnya sudah cukup buat Hanbin pening. 

Perlahan dia memposisikan diri bertumpu pada lutut, lalu dengan hati-hati duduk di atas mainan itu. Lubangnya mekar, menerima invasinya dengan senang hati, yang bikin Hanbin meringis dan menjerit karena rasa sakit dan perih yang datang bersamaan. Tapi dia tak menyerah, sambil menggigit jari sampai berdarah Hanbin terus berusaha membuatnya terbenam sempurna. 

Peluh membasahi tubuh Hanbin dan membuat kemeja putih yang dia pakai basah. Kain itu berubah transparan dan melekat pada tubuhnya, mencetak dada padat dengan dua puting menjeplak saat Hanbin membusungkan badan. 

Dia menunggu beberapa saat untuk menyesuaikan diri, terengah sambil menyeka darah yang menetes diujung bibir. Bikin celana semua orang di sana mengembung, ketat. Mustahil sih tidak terangsang kalau tampilan Hanbin seerotis itu.

“Cepet Hanbin, katanya habis ini ada praktikum.” seru Jiwoong santai, dari nada bicaranya tak terlihat sama sekali kalau dia ikut terpengaruh oleh pertunjukan Hanbin. Tapi tentu tubuhnya tak bisa dibohongi, sang raja juga mulai panas .

Hanbin mendecih kesal, mulai menggerakan tubuh naik turun menghantam benda yang dipegang tangan gemetarnya. Bukan bohong, tangannya luar biasa keram karena lama berada di posisi tak menyenangkan, tapi Hanbin mencoba abai bahkan terus melenturkannya demi menggerakan dildo itu agar turut membentur prostat. 

Desahnya melingking, suara Hanbin itu bagus, Taerae yang vokalis band fakultas saja mengakuinya. Jadi bukannya memekakkan telinga, deretan ah ah yang diucapnya justru terdengar seperti sebuah lagu becek yang tetap merdu. 

Gerakan Hanbin jadi lebih cepat waktu dia mulai merasa nyaman, rongganya yang kering kini sedikit basah oleh rembesan darah. Lelaki itu tak peduli, bagian bawahnya mati rasa, seolah sarafnya cuma merespon pada rangsangan yang bikin dia mendesah keenakan. 

Gesekan kasar dari benda dingin itu kontras sama otot-otot Hanbin yang menegang kepanasan. Semakin lama, semakin dalam, hingga akhirnya Hanbin memekik kencang. Akhirnya setelah kepayahan sekian lama, benda itu menyentuh buntalan prostatnya. 

Pria manis itu menekan titik itu lagi dan lagi, saliva yang tertahan di mulut akhirnya luruh lewat sudut bibir, turun ke rahang dan berakhir di dadanya karena mulut Hanbin terus menganga dan mendesah. Sebentar lagi, tinggal sebentar lagi dia akan men –sialan.

Erangan keluar dari bibirnya yang total basah. Tepat sebelum sempat mencapai tingginya surga, libido Hanbin dipatahkan oleh cincin besi yang mengunci kejantanannya. 

Mata bulat itu kembali mendelik pada Taerae yang tiba-tiba ada di hadapannya, masih dengan senyum cantiknya yang biasa.

Buat Hanbin Taerae itu orang paling meresahkan, nggak tau diuntung. Kala dia jadi king dulu, Taerae adalah jokernya. Tapi nggak pernah sekalipun dia memperlakukan si cantik itu dengan kasar. 

Beda sekali dengan kelakuannya sekarang ini. Hanbin tak tau dia punya star syndrom atau itu murni wataknya sendiri yang tidak bisa dia puaskan waktu dia terpengkur di bawah kaki Hanbin dulu. Dua-duanya sama meresahkannya buat Hanbin. Situasinya mirip habis manis sepah dibuang.

“Jangan galak-galak dong ah, gue cuma mau bantuin kok.”

Bantuan macam apa yang membuat dia tersiksa? Taerae memang anjing.

Setelah mengunci batang Hanbin dengan seuntai cockring , tangan Taerae melata di atas kulit sang target, dimulai dari selangkangan, ke pinggang, lalu menyusup di balik kemeja basah.

“Gila, lo main sendiri aja udah basah kuyup begini, gimana kalau gue biarin keluar ya? Makin banjir dong lo.”

Taerae menjauhkan tangan dari kulit Hanbin, ganti mengincar kancing-kancing yang menyatukan kemeja. Dia melepasnya satu-satu, pelan-pelan seolah tau itu akan menyiksa Hanbin. Tolong, dia sudah kepalang jauh, dia butuh bantuan untuk kembali mencapai puncaknya lagi. 

Manik bulat Hanbin yang diselumuti air mata adalah alasan mengapa Taerae ingin ikut agenda mari memakai Hanbin hari ini. Taerae bukan dom sejati, dia lebih sering di bawah, tapi kalau mangsanya Hanbin sih dia mau-mau saja jadi pihak yang menggagahi. 

Tujuan Rae adalah melihat wajah kacau Hanbin, yang tak pernah dia lihat dulu sewaktu pemuda itu menjadi king

Rae nggak tau kenapa dia bertigkah sejauh ini di depan Hanbin. Mungkin karena dia dulu pernah menjadi mangsa, instingnya jadi menajam untuk menaklukan si predator yang sudah kalah. 

Rae menatap tak suka pada kain basah yang membungkus tubuh bagian atas Hanbin, maka setelah selesai melepas semua kancing dia menarik kain itu hingga robek. Dia juga melepas ikatan dasi yang telah membelenggu Hanbin sejak awal kedatangannya.

“Anjir, kalau akhirnya dirobek juga ngapain lo buka kancingnya satu-satu?!” ini seruan Matthew.

“Suka-suka gue dong,” balas Taerae santai, sudut bibirnya meninggi, “aduh maaf, Bin. Kemeja lo jadi rusak. Gapapa kan kalau praktikumnya half naked gitu. Pasti lo bakal jadi pusat perhatian, kesukaan lo, kan?”

Perkataan Taerae memang ada benarnya, sekali lagi Hanbin tegaskan, dia suka dan terbiasa jadi pusat perhatian, tapi bukan dengan cara begini. Terlebih karena kata-kata itu keluar dari bibir Taerae, dia merasa sangat direndahkan. 

Pemuda itu betulan ingin memukul si Wannabe , tapi dia tak bisa. Hanbin mengutuk orang yang memulai permainan hirarki tak masuk akal ini di Asrama Bintang, juga orang yang melemparnya ke posisi terendah. Sekarang dia nggak punya kuasa apapun, bahkan dijadikan budak oleh orang-orang tier tinggi ini.

“Rae, jangan kelewat batas,” sekali lagi Hao memberi Taerae peringatan. Tapi bukannya menurut dia malah tertawa. Serius deh, kalau ada jasa untuk menonjok orang, Hanbin akan bayar berapapun harganya asal dia bisa melihat wajah elok itu merah dan bengkak.

“Santai, Hao. Gue ada bawa baju ganti, bisa kali di pake sama Hanbin nanti. Lo nggak keberatan sama ungu polkadot kan?” tanyanya berlagak polos.

Hanbin sudah tidak tahan lagi, “Brengsek, anjing lo”

“Ssh,” Taerae mendesis sambil menempelkan jari telunjuk di bibir Hanbin, “jangan kasar-kasar, sayang. Daripada mulut lo dipake buat ngumpat mending lo manfaatin buat yang lain..”

Alis Hanbin menukik, apalagi sih yang mau dilakuin laki-laki stres ini.

Tanpa merasa perlu menjelaskan maksudnya secara lisan, Taerae membuat Hanbin mengerti lewat apa yang kini dia lakukan. 

Kening Hanbin makin mengkerut waktu lihat Taerae menurunkan resletting celana. Oh, shit, dia tau kemana arah permainan ini.

Taerae memaksa Hanbin bertumpu pada lutut sementara wajahnya tepat berada di depan celana cowok itu. Dia lantas mengeluarkan kemaluannya dan mengarahkan batang yang sudah cukup keras pada bibir Hanbin.

“Kokop, Hanbin, kata Jiwoong lo udah pro soal ginian.”

Hanbin menatap tajam pada sang raja yang baru, pria itu santai saja di kursi kebesaran sambil menyantap makan siangnya. Jiwoong anjing, benar kan dia pasti menyebarkan kartu Hanbin pada yang lain.

Taerae yang mulai tidak sabar menangkup pipi Hanbin, membuatnya mendongak ke arah wajahnya. 

“Jangan liatin king mulu, yang paling spesial selalu dapat terakhiran. Sekarang fokus sama gue, lo masih mau makan siang kan?”

Hanbin menggeram kesal, tapi tak ayal dikulumnya juga batang Taerae, dia memang masih butuh makan siang.

Jiwoong tidak bohong saat dia bilang mulut Hanbin itu salah satu mulut terenak yang pernah dia coba. Taerae yang baru sekali merasakan saja bisa dibuat selena ini. 

Laki-laki itu tau dimana dia harus menjilat, dimana dia harus menghisap, dan dimana dia harus memijat. Sedotannya juga juara, Taerae nggak menyangka batangnya muat dalam mulut Hanbin, mungkin hampir mencapai ujung tenggorokan, tapi hebatnya dia tidak tersedak sama sekali. 

“Gila, Hanbin, lo enak banget,” geram Taerae.

Mulutnya nggak berhenti melantunkan erang dan desah, jemarinya menjambak rambut Hanbin dan mengarahkannya maju mundur dengan tempo yang ia kendalikan. Sesekali Hanbin akan mengerang, membuat mulutnya berosilasi yang berdampak pada batang Taerae yang masih sibuk disesap. Sinting, kalau mulutnya saja seenak ini apakabar bagian bawahnya? 

Erangan Hanbin bukan semata untuk memuaskan Taerae. Kalau laki-laki itu lupa, kemaluannya masih terkunci oleh cockring . Seluruh badannya masih sensitif akibat klimaks yang tak sampai dan membiarkan mulutnya dikuasai Taerae adalah kesalahan yang fatal. 

Hanbin merasa penuh, tapi kosong di saat bersamaan. Lubangnya masih disumbat oleh batang dildo, tapi dia tidak juga merasa cukup. Sensasi panas pada bagian dalam mulutnya, Hanbin ingin juga merasakan itu di lubang analnya. 

Taerae sepertinya menangkap kegelisahan Hanbin dari kakinya yang tak bisa diam. Pantatnya terus terangkat senti demi senti, tubuhnya yang awalnya hanya di topang lutut sekarang bertumpu pada Taerae. Kedua tangan Hanbin meremas kaki si laki-laki rupawan erat-erat, seolah hidupnya bergantung padanya. 

Hal ini membuat Taerae senang. Hanbin yang lemah, Hanbin yang tak berdaya, Hanbin yang memohon lewat sorot matanya yang berair, Taerae suka. Sung Hanbin yang sepenuhnya ada dibawah naungannya adalah mahakarya yang harus Taerae abadikan.

Dia mengeluarkan ponsel dari celana lalu memotret Hanbin dari segala sisi. Decak kagum keluar dari bibirnya, “emang pantes ya lo jadi primadona, badan lo montok bener.” 

Erangan Hanbin bikin Taerae mendesah lagi, tawanya lepas, “iya, ampun tuan putri,”

Pemuda itu melirik Matthew yang tengah sibuk memandang kegiatan mereka sambil menyantap makan siang.

“Matt, kayaknya Hanbin belum cukup nih sama punya gue. Lubangnya masih nganggur tuh, sabilah lo pake juga.”

Mata Hanbin langsung melotot. Ia ingin menoleh pada si kacung tapi tangan Taerae memaksanya untuk fokus padanya seorang.

Sekarang dia harus melayani dua orang? sudah gila ya.

Sudut bibir Matthew ikut tertarik mendengar ajakan Taerae. Pemuda itu menggeledah tas dan menemukan tiga botol lubrikan yang sudah dia siapkan untuk pesta siang ini. 

“Gue tau lo emang jalang, tapi gue gatau lo seliar ini, Bin. Lo mau lubang lo semuanya penuh? Maruk ya,” Matthew coba berbasa-basi.

Dia menempatkan diri di belakang Hanbin, sebelah tangannya menyangga perut si manis, sementara yang lain melebarkan kakinya. Matthew mengeluarkan dildo yang sedikit basah oleh darah lalu lanjut mengecek kondisi lubang Hanbin.

“Ckck, kering banget, pantes lo kesakitan,” komentarnya sambil membuka botol lubrikan pertama, Matthew menuangnya langsung pada lubang Hanbin, “satu botol doang sih nggak cukup ini. Tahan bentar ya, cantik.”

Cantik, sayang, cantik, sayang.

Bisa tidak sih mereka berhenti memakai kata itu, pujian begitu bikin kepala Hanbin pening, libidonya naik. Sekali lagi Hanbin meninggi, lalu tiba-tiba jari Matthew masuk tanpa mengetuk. Hanbin mendesah, akhirnya hampir tersedak karena milik Taerae di mulutnya. 

Matthew berusaha menyiapkan Hanbin dengan baik guna menaati peraturan nomer 5 di asrama mereka, tidak boleh sengaja menyakiti target. 

Dan memang, dari semua orang di tier tinggi, hanya Matthew yang selalu memperlakukan Hanbin dengan baik, yah di luar permintaannya yang aneh-aneh, atau waktu dia nggak lagi bareng tongkrongan Jiwoong, Matthew adalah yang paling bisa Hanbin anggap teman.

Awalnya Matthew hanya meraba dinding rektum Hanbin, mengoleskan lubrikan yang memenuhi lorong itu agar merata, lalu lama kelamaan tendensinya berubah dari menyiapkan jadi memainkan.

Matthew senang mendengar desah Hanbin dan Taerae disaat yang bersamaan, apa yang dia lakukan pada Hanbin akan berdampak juga pada Taerae yang belum melepaskan diri dari kuluman Hanbin. Permainannya naik bertahap dari dua jari, tiga jari, hingga kini empat jari bersarang di lubang Hanbin.

“Sialan, Matthew, ah!” geram Taerae, tapi bukan bohong dia menikmati apa yang Matthew lakukan. 

Hanbin sendiri melenguh keras, jika saja ruangan ini tidak didesain kedap suara, desahannya pasti bocor keluar saking kencangnya. Apalagi ketika Matthew dengan sengaja menyiksa prostatnya. Menyebalkan. Matthew akan menekan buntalan itu saat Hanbin nggak siap, lalu akan sengaja membuatnya meleset saat Hanbin sangat mendambanya.

“Sabar dong, cantik,” jawab Matthew atas lenguhan dan desahan protes Hanbin.

Pemuda itu menurunkan resletting celana dan mengeluarkan kejantanannya, lebih besar dari punya Taerae. Matthew membaluri lagi miliknya dengan pelumas sebelum mendobrak masuk dalam sekali sentak.

Untuk pertama kalinya Hanbin kehilangan kontrol atas mulutnya sendiri. Dia berteriak, lalu seketika tersedak akibat milik Taerae yang masih bersarang di mulut. 

Taerae dengan sigap mengeluarkan miliknya, lalu mengelus rambut Hanbin pelan saat pemuda itu sibuk terbatuk. 

“Pake aba-aba kek Matt, liat nih anaknya langsung keselek,” protesnya pada Matthew.

“Ya maaf, udah nggak tahan.”

“Seenggaknya jangan langsung sekali sentak anjir.”

“Lanjutin aja anjing nggak usah peduliin gue.” 

Tak bohong, kalimat itu betulan keluar dari bibir Hanbin. Kepalanya sudah dipenuhi kabut, dia sudah tidak peduli pada harga dirinya, yang penting dia bisa melepas semua kegilaan yang merambat di tubuhnya.

Matthew dan Taerae menatap satu sama lain, bibir keduanya mencipta seringai. Tanpa buang-buang waktu lagi, Taerae kembali memenuhi mulut Hanbin dengan kejantanannya. Dia memperkosa mulut Hanbin dengan lebih beringas, yang nyatanya disambut baik oleh yang punya tubuh. Matthew nggak mau kalah, dia menarik batangnya hingga menyisakan pangkal, lalu menghujam dengan sepenuh tenaga hingga langsung menyundul buntalan saraf yang buat manik Hanbin memutih. 

Ini adalah apa yang dia harapkan. Kedua lubangnya penuh dan panas, rongganya digesek keras dan dalam, pun prostatnya di dobrak berkali-kali. Kalau bukan karena cincin sialan itu Hanbin pasti sudah mencapai puncak sejak tadi.  

Agaknya Taerae sekali lagi menangkap raut frustasi Hanbin, matanya melirik milik si manis yang masih keras dan mengacung. Pemuda itu kembali berbicara dengan Matthew lewat tatapan, seolah sedang melakukan transaksi rahasia. 

Setelahnya, tubuh Hanbin digunakan dengan membabi buta. Air mata keluar dari bibirnya akibat cekokan brutal Taerae di mulutnya. Benaknya pun makin kacau karena titik manisnya ditubruk berkali-kali dalam selang waktu 5 detik. Kaki Hanbin gemetar, jika Matthew tidak menahan perut dan pinggangnya, dia pasti sudah sempurna rubuh sejak tadi. 

Tumbukan pada mulut atas dan bawahnya makin tak terarah, kucing manis itu mulai kepayahan meladeni mereka berdua. Mulut Hanbin masih setia mengumandangkan desah, yang agaknya membikin kedua eksekutornya semakin barbar. Primitif, dia seperti dibawa kembali menuju zaman mezolitikum dimana manusia belum bisa menggunakan akal sepenuhnya.

Iya, ini memang persetubuhan yang melalaikan akal dan logika, buat Hanbin tentunya.

Jika dari awal dia menggunakan akalnya, dia tentu nggak akan mau menerima ajakan Matthew menuju roof top tempat para elit asrama bintang menghabiskan waktu. Jika dari awal Hanbin berpikir logis, dia seharusnya melawan saat Matthew mengikat tangannya dengan dasi. 

Kesimpulannya, Hanbinlah yang mengumpankan dirinya pada lubang neraka. Anggap saja dia gila karena turut larut dalam rencana mereka. Hanbin tau, dia harusnya sudah tau, hafal di luar kepala kalau piramida ini nggak berlaku di lingkungan kampus–kecuali basecamp ini yang termasuk bagian dari fasilitas penghuni asrama bintang.

Desah tertahan Hanbin makin terdengar keras saat dia merasa dua kejantanan yang memenuhi dua mulutnya berdenyut dan membesar. 

Mereka mungkin akan segera klimaks, dan dia tau dia akan jadi sasaran air mani. Hanbin menutup matanya erat, menanti semburan yang dia tau akan datang.

Untungnya Matthew sedikit berbelas kasih pada Hanbin. Tepat sebelum dia dan Taerae mencapai puncak, lelaki itu melepaskan cockring yang membelenggu kejantanan si kucing manis. Ketiganya lalu menyusuri lautan bintang di saat yang sama, mengeluarkan cairan ke tiga tempat berbeda. Taerae pada mulut Hanbin, Matthew pada anal Hanbin, sementara Hanbin mengotori perut dan dadanya sendiri. 

Cairan milik Taerae mengalir dari sudut bibir Hanbin yang terbuka, nafasnya terengah setelah sang Wannabe membebaskan mulut Hanbin. Melihat itu Taerae memainkan jari telunjuk di bawah dagu Hanbin, memaksanya untuk menutup mulut. 

"Telen." 

Hanbin tak punya cukup kuasa untuk menolak, jadi ia menelen semua mani sampai tenggorokannya bersih. Rasanya manis tapi sedikit pahit, seperti americano dengan tambahan dua pump sirup jagung. Bisa dimengerti karena Taerae adalah orang yang sangat menjaga pola makannya, kalau orang itu adalah Matthew, mungkin dia akan muntah di tempat. Bukannya apa-apa, Matthew terlalu sering merokok dan makan mie instan.

Setelah ketiganya pulih dari euforia, Matthew dan Taerae bertukar tempat. Mereka ingin merasakan lubang Hanbin yang lain, dan kegiatan panas itupun berlangsung kembali.

Dari kursi singgahsananya, Jiwoong memperhatikan apa yang para bawahannya sedang lakukan dengan jeli. Jiwoong tidak sekalipun berpaling, dia menonton segalanya. 

Mulai dari Taerae yang menyuruh Hanbin untuk memanjakan miliknya, sampai akhirnya mereka bertiga klimaks bersama. Jiwoong menikmati semuanya. Matanya menatap tajam pada seluruh ekspresi wajah dan tubuh yang Hanbin berikan cuma-cuma, Jiwoong berniat menyimpannya dalam kepala. 

Mimik Hanbin setelah lega melepas hasrat selalu jadi bagian yang paling sang raja tunggu-tunggu saat mereka bercinta dulu. Bedanya saat itu Jiwoong adalah salah satu kacung Hanbin yang tidak punya kebebasan atas dirinya sendiri. Sekarang situasinya sudah berbalik, Hanbin jadi pemilik posisi terendah, sementara dia ada dipuncak hirarki.

Jiwoong melirik Hao yang selalu setenang jelaga. Lelaki itu dari tadi diam sambil memainkan ponselnya, nampak tak tertarik dengan permainan tiga orang itu. 

“Hao, kok nggak ikut main?”

“Ikut kok, Ji. bentar lagi,” jawab laki-laki itu singkat. Dia bahkan tidak menoleh pada sang raja, matanya terus fokus pada layar ponsel, Jiwoong jadi heran. 

Kepalang penasaran, pemuda paling tua itu mengintip apa yang tengah Hao lakukan dengan ponsel pintarnya. Tawa Jiwoong pecah setelah melihat apa yang tengah direkam oleh Jacknya. Tidak cukup keras untuk sampai pada tiga orang yang masih menenangkan diri setelah sesi panas yang melelahkan, tapi dapat Hao dengar dengan jelas dari kursinya di samping Jiwoong.

“Nggak boleh, anjir, Hao. Gue tau dia cakep, banget. Tapi ngerekam sex tape orang lain tanpa consent itu bisa dikenain undang-undang,” biasanya ini adalah bagian Hao. Pria itu seperti empat penyangga yang membuat king mereka selalu berada di puncak tertinggi. Tapi kali ini dialah yang melanggar aturannya sendiri, jadi Jiwoong menggantikan tugasnya untuk mengingatkan.

“Tenang, Ji. rekaman ini cuma dibuat untuk kepentingan pribadi kok,” ujar Hao diiringi seringai licik.

Jiwoong kembali termenung, oh, dia paham…

Senyum Jiwoong melebar waktu Hao mengeluarkan headphone wireless yang sudah otomatis terhubung dengan pemilik gadget, dia kemudian beranjak dari sofanya yang empuk menuju Hanbin yang lunglai di tengah ruangan. 

Ini akan jadi pergumulan yang seru, Jiwoong harus menontonnya dengan seksama.

Hanbin yang masih terkapar di karpet bersama Matthew dan Taerae dibuat terkejut oleh kehadiran Hao di dekat mereka. Pemuda itu tak mengindah apalagi menyapa Wannabe dan Pleaser Jiwoong yang tengah mengatur nafas. Tujuannya hanyalah sang target, Sung Hanbin, yang kini telanjang di atas karpet beludru yang melapisi seisi ruangan. 

Ketika jarak mereka sudah sangat dekat, Hao merendahkan diri untuk memasangkan headphone di telinga Hanbin.

“Ini buat apa?!” tanyanya kebingungan.

Hao menyeringai, “ada video yang harus lo tonton.”

“Video apa sih gue nggak ngerti,” erang Hanbin lemah karena gagal mendapat secuil petunjuk, dia tak suka menebak-nebak. Dari nada suara Hao, Hanbin tau video itu berisi sesuatu yang buruk.

Hao itu, meskipun hampir nggak pernah kehilangan ketenangannya, punya cara sendiri untuk menyiksa dan mendisiplinkan Hanbin. Pria itu suka melukis, dan bermain biola. Waktu bosan, Hao seringkali bertitah agar Hanbin diam selama berjam-jam, kedinginan, dan tidak bergerak hanya untuk menjadi objek lukisannya. 

Hukuman Hao juga lain, dia nggak akan berhenti sampai mangsanya hampir sekarat. Hanbin pernah mengalami dihukum langsung oleh Hao, dan dia langsung trauma. Orang itu hampir nggak punya belas kasih kalau sedang marah.

Hanbin menunggu penuh antisipasi, matanya terus mengikuti semua pergerakan Hao. Saat ini pemuda itu sedang bermain dengan handphone nya. Kalau Hanbin boleh menduga, mungkin Hao cuma mau dia dengar lagu erotis yang biasanya bisa meningkatkan gairah, tapi ternyata bukan.

Ini lebih parah. 

Tepat setelah Hao menekan tombol play pada layar ponselnya, Hanbin langsung dikejutkan oleh suaranya sendiri. Terdengar sangat dekat seolah dia sedang diteriaki di daun telinga. Kepanikan memenuhi diri Hanbin, itu suaranya saat dia bermain solo tadi. Dan seolah itu belum cukup, Hao menunjukkan video yang memperlihatkan Hanbin saat tengah bergerak naik turun di atas dildo, lalu berlanjut ke permainannya bersama Taerae dan Matthew.

Laki-laki itu berusaha berpaling, tapi Hao dengan cepat menangkup pipinya. Memaksa Hanbin agar terus melihat layar handphone nya. 

Menurut Hanbin, apa yang dilakukan Hao berkali-kali lebih parah dari yang dilakukan Matthew dan Taerae. Ketika bersama mereka berdua, hanya fisik Hanbin yang dipermainkan. Lain dengan yang Hao lakukan, pemuda itu menyiksa mental Hanbin habis-habisan.

“Fokus Hanbin. Liat muka lo waktu lagi dienakin kayak gimana. Jangan berani-beraninya tutup mata, lo nggak akan seneng dengan apa yang akan gue lakukan buat ngehukum kucing yang nakal.” 

Mau tidak mau Hanbin mengiyakan. Dibanding hukuman Hao, menahan rasa malu jauh lebih mudah untuk dilakukan. Lagipula, mendengar suaranya sendiri memantik Hanbin untuk– tunggu, apa maksudnya memantik?

Sinting

Hanbin tidak mungkin tegang karena suaranya sendiri kan?

“Gila sih, lo beneran ngaceng gara-gara denger suara lo sendiri?,” decak Hao, ada nada geli dalam kontrol suaranya, Hanbin sekali lagi merasa direndahkan.

Hao memaksa Hanbin menonton sampai habis, kemudian mengulangnya dua kali lagi. Hanbin rasanya ingin mati, tidak kuat dipermalukan lebih lama lagi, tapi Hao tentu tak akan membiarkannya.

Jack itu justru makin gencar menggoda Hanbin dengan permainan katanya. Hao menggeryang tubuh Hanbin yang masih sempurna berbaring, dia elus seluruh permukaan kulitnya lalu menekan otot-otot di tiap titik yang sensitif sembari terus membisiki Hanbin tepat di telinga. 

“Lo denger, kan? Suara lo itu mirip suara lacur. Lo lacur, Hanbin, satu-satunya lacur di asrama bintang. Lo harusnya bangga.”

Hanbin menggeleng, “nggak, udah, tolong matiin videonya. Gue bukan lacur.”

“Kalau bukan lacur namanya apa, dong. Orang yang nyerahin dirinya buat dijamah cuma lacur, kan?”

Tanya itu dibalas gelengan yang makin rusuh. Air mata mengalir dari sudut mata Hanbin, pening di kepalanya sudah tak tertahankan. Dia kembali menegak, dia minta sekali lagi dipuaskan.

“Hao.. tolong..” ucapnya lirih pada orang nomer dua di asrama itu. 

“Tolong apa, sayang? Mau gue kontolin sampe mentok? Suka kan dikontolin sama gue?”

Hanbin mengangguk pelan, serpihan harga dirinya yang masih tersimpan menolak untuk menyerah, tapi tubuhnya berkata lain. Dia butuh penghabisan, dia butuh dilenakan, sampai mencapai puncak itu lagi kalau bisa.

“Oke, karena lo udah jadi anak baik hari ini, gue turutin.”

Hao membaluri miliknya dengan pelumas sisa Matthew tadi, lalu seperti yang si pleaser lakukan, dia menghujam lubang Hanbin dengan sekali sentak. Hanbin yang mulutnya kini bebas menjerit kencang, hantaman pertama Hao sukses mengenai titik manisnya. 

“Nyaring banget suara lo, ada bakat jadi bintang porno ya?” 

Lagi dan lagi, Hanbin menggeleng rusuh. Presensi batang Hao di dalam lubangnya membuat otak Hanbin menggila, lidahnya kelu bahkan hanya untuk mengucap sebuah kata. Hanya erangan dan desahan erotis yang jadi tanda kalau Hanbin masih sepenuhnya sadar. Hao benar-benar menghancurkan rongga Hanbin, jauh lebih parah dari yang Matthew dan Taerae lakukan. 

Hao sendiri menikmati tubuh Hanbin dengan rakus. Sisa sperma Matthew Taeare dan banyaknya lubrikan dalam lubang kucing manis itu membuat penetrasi ini jadi terlalu mudah. Hao tidak suka. Matanya melirik dildo yang tergeletak tak jauh dari tempatnya dan Hanbin bercinta. Pemuda itu menimang-nimang sambil terus menghantam lubang Hanbin.

Dia perlu melakukan sesuatu, dan Hao mensyukuri otak jeniusnya yang langsung memunculkan sebuah ide.

“Lo nggak papa kan sama double penetration ?” tanya Hao santai seolah pertanyaan itu sama biasanya seperti bertanya soal menu sarapan di pagi hari. 

Ahh – gila lo ah !” jawab Hanbin di sela desahan. 

“Tenang aja, lubang lo ini gampang melarnya, ini aja dari tadi gue nyodok lo berasa kayak lagi di perosotan kolam renang. Sensasinya kurang,” keluh Hao. 

“Hhhh ,” Hanbin menatapnya tajam, tapi detik berikutnya dia membuka kakinya lebih lebar, yang Hao anggap sebagai jawaban iya.

Mulanya dia mengeluarkan batangnya dari lubang Hanbin, kemudian membaluri dildo penuh bercak darah itu dengan lubrikan. Lalu memasukkan benda buatan itu ke dalam lubang hangat Hanbin, disusul dengan miliknya beberapa saat kemudian.

Hanbin menjerit keras dalam prosesnya, yang dengan sigap sumpal memakai jarinya yang panjang. Dia berusaha untuk membuat Hanbin lupa atau teralih dari rasa sakitnya. 

“Tahan sebentar, ya?” Hao menarik miliknya keluar lalu menghantam keras untuk menekan benda dingin nan kasar itu agar menyundul prostatnya. 

Hanbin menjerit tertahan, pemuda itu menggigit keras bibirnya hingga mencipta aliran darah di sudut bibir. Tubuhnya gemetar menahan sakit akibat penetrasi yang dilakukan di luar batas lubangnya.

Pada akhirnya, setelah Hanbin mulai terbiasa dan Hao tak kuasa menahan, tubuh mereka kembali beradu. Hao menggeram saat dia merasakan dinding rektum Hanbin menjepitnya erat, semakin sempit karena dia harus berbagi tempat dengan benda tiruan. Keadaan Hanbin sendiri jauh dari kata baik, dia kacau balau di sini dan di sana. Ringisan yang dikumandangkan si kucing kini telah berubah jadi lenguhan nikmat.

Hao beberapa kali menggeram karena kesulitan menggerakan miliknya, tapi dia tak berhenti memberikan Hanbin sensasi yang luar biasa. Kesejatian Hao dan dildo itu bergantian menumbuk titik manisnya, mencipta perpaduan gila antara panas dan denyut batang milik Hao, dengan permukaan kasar nan dingin dari dildo. Masih cukup perih untuk Hanbin, tapi dia tak protes. Hanbin sepenuhnya menikmati, dia tidak tau ada rasa sakit yang bisa seenak ini.

Penyatuan Hao dan Hanbin berlangsung cukup lama, dan dalam prosesnya nada desahan si kucing manis terus bertambah tinggi. Hao tentu menyadari alunan melodi yang spontan tercipta itu, jadi dia memutuskan untuk bermain dengan Hanbin sekali lagi.

“Suara lo beneran spek jalang ya. Atau lo sebenernya emang mau jadi jalang? Mau gue bantuin?” Hao menunduk, bibirnya tepat berada di sebelah telinga Hanbin.

“Video yang tadi, gimana kalau gue sebarin di kampus. Suara lo ini walaupun kadang kayak toa ngamuk bisa bikin orang-orang gila di situasi yang tepat, ngefly gitu. Ditambah badan lo yang ga usah diragukan lagi, pasti banyak yang minat,” bisiknya di telinga Hanbin.

Mata pemuda itu kontan membola, si brengsek ini serius ingin jadikan dia jalang? Otaknya dimana!

Ahh –janga– hshh jangan AH ! Coba-coba,” ancam Hanbin yang hanya Hao anggap angin lalu.

Sang Jack justru makin gencar menggoda kucing manis itu dengan skenario yang sangat kotor.

“Bayangin, Hanbin. Orang-orang yang nonton video ini bakal tegang waktu denger desahan lo yang mirip bintang porno itu. Beberapa orang nggak bakal tahan dan akhirnya video itu dipake buat masturbasi.

Semuanya bakal ngehayal lagi nyodok lubang lo, mainin badan lo, nyentuh semua titik sensitif sampai lo teriak keenakan. Lo bakal jadi pusat dunia mereka, otak-otak selangkangan kayak mereka nggak bakal peduli harga. Asal permainan lo bagus lo bakal disawer banyak, cuan besar.”

Hanbin benar-benar ingin menutup telinganya, tak ingin lagi mendengar skenario yang Hao susun. Namun sial, tubuhnya kembali menolak implus yang dia berikan lewat pikiran. 

Hanya dengan membayangkannya, kenapa tubuh Hanbin memanas? Kenapa kejantanannya berdenyut lagi? Hanbin sudah hilang kendali, semua ini harus segera diakhiri atau dia akan kembali meledak.

Ss -top, uda– mmh jang Ah dilanjut,” pinta Hanbin putus asa. 

Bukannya iba, Hao justru menjatuhkan bom terakhir dari permainan ini, “mereka bakal terus-terusan make lo buat jadi objek seksual mereka, hari-hari mereka bakal masturbasi sambil ngebayangin wajah keenakan lo, berharap bisa bener-bener make dan penuhin lubang lo di realita. Tapi mereka nggak punya hak, yang bisa make lo cuma anak-anak asrama bintang. Inget itu, lo cuma punya anak asrama bintang, bukan yang lain.”

Percaya atau tidak, Hanbin kembali mencapai putihnya tepat setelah Hao menekankan kalimatnya yang terakhir. Hao menegaskan kalau Hanbin adalah properti bersama, dan Hanbin suka diibaratkan sebagai barang yang dimiliki semua orang. 

Hao tergelak melihat Hanbin keluar untuk kedua kalinya. Tangannya menepuk-nepuk pantat kucing manis itu pelan yang buat dia bergetar kian keras. 

“Serius? Lo keluar cuma karena omongan gue? Gila, Hanbin. Keknya gue harus mempertimbangkan bisnis film biru lo dengan serius. Tapi sebelum itu, maaf, tuan putri, gue belum keluar nih.” 

Tepat setelah dia berujar, Hao kembali menghujam miliknya dalam rongga Hanbin. Dia tak peduli pada keadaan ai kucing yang masih sangat sensitif akibat pelepasannya tadi, dia hanya fokus pada dirinya sendiri. 

Butuh beberapa sentakan dan Hao pun menyusul Hanbin menggapai puncak. Keduanya terengah di tengah ruangan sembari diperhatikan oleh tiga orang lain dalam ruangan ini dan bukannya risih, Hanbin justru menyukai sensasinya. 

Hanbin hampir terlena oleh perhatian semua orang sampai tak sadar bahwa ada satu orang lagi yang harus dia puaskan. Setelah turun dari putihnya, Hao langsung mengeluarkan dildo dan kejantanannya. Pria itu menatap puas pada cairan yang keluar dari celah lubang Hanbin, sudah bercampur antara dia, Taerae, atau Matthew.

Hao kemudian berpaling pada Jiwoong, seolah mempertanyakan nasib Hanbin selepas ini. Pria tertua di asrama bintang mengangkat telunjuk, menggerakkannya ke arah dirinya sendiri yang Hao pahami sebagai perintah untuk membawa Hanbin pada Jiwoong. Hao lalu mengangkat tubuh Hanbin yang masih lunglay, lalu mendudukkannya di paha sang raja.

Kesadaran Hanbin hilang perlahan lahan, pemuda itu kini tengah berada diantara dua dunia; raganya ada di bumi, tapi benaknya tengah melayang di suatu tempat bernama limbo; persimpangan diantara surga dan neraka, sangat cocok untuk keadaannya saat ini. Sedari tadi dia terus di siksa di neraka, tapi siksaan itu juga yang membuatnya mencapai surga. Dan Hanbin harus mengingatkan dirinya sendiri, kekacauan ini belum berakhir.

Jiwoong menepuk pipi Hanbin pelan, “Bin, lo masih sadar kan?”

Pemuda itu mengangguk lemah, Hanbin masih mengalami miss orientasi. Benaknya berputar-putar, tidak tau dimana harus memijak.

“Masih kuat nggak? Kalau nggak bilang aja.”

Ditengah kebingungan akan presensinya sendiri, Hanbin masih bisa menghujam Jiwoong dengan lirikan tajam. Dia benci dianggap lemah, apalagi oleh seseorang yang telah menggulingkan kekuasaannya.

“Ngewe sama lo nggak bakal bikin gue mampus,” ucapnya sinis.

Sang raja mengangkat sebelah alis, seringainya muncul lagi, “oke, bagus kalau gitu. Kita liat sampai mana lo bisa bertahan.”

Tubuh lemas si target Jiwoong posisikan agar  membelakanginya, menghadap Hao, Taerae, dan Matthew yang tengah berleha di atas karpet. Pantat kenyal Hanbin langsung beradu dengan kejantanan keras yang masih tersembunyi di balik celana, membuatnya melenguh.

Tangan Jiwoong bergeliria, menyentuh seluruh permukaan kulit seputih susu itu sebelum berlabuh di dada. Jiwoong menangkup dua bongkahan yang menonjol, tak sebesar milik wanita tapi cukup sekal untuk ukuran seorang pria dewasa. Desahan Hanbin keluar lagi saat sang raja mulai menguleni, menekan puncaknya dengan ujung kuku.

“Lo harusnya mulai pake bra, Bin. Dada lo tuh terlalu semok, kalau ga ditopang nanti malah kendor. Tapi susah sih, soalnya kayaknya cuma tangan gue yang pas buat jadi bra lo,” bisik Jiwoong di telinga Hanbin.

Lagi dan lagi Hanbin diserang dari mana mana, dia tak tau harus merespon apa kecuali mengumandangkan banyak emm dan ahh yang tak ada artinya. Kupingnya panas mendengar ocehan mantan Jack nya itu, tapi dia tidak bisa melawan atau membantah. 

Hanbin sudah benar-benar kehilangan tenaga. Sekarang tubuhnya bekerja hanya berdasarkan insting dan implus. Seperti dadanya yang kembang kempis, melengkung mengikuti permainan tangan Jiwoong. Kejantanannya mengeras untuk ke sekian kali buah dari kocokan tangan sang raja, terasa ngilu karena tak dibiarkan untuk beristirahat.

Awan kelabu yang sedari tadi menutup akal sehatnya sirna saat Jiwoong pada akhirnya membenamkan miliknya di dalam Hanbin. Tak perlu persiapan apa-apa karena rongga itu sempurna licin oleh sperma dan lubrikan. 

Sang target mengerjap berkali-kali. Wajah sayunya menoleh pada Jiwoong, memohon tambahan kontak yang langsung Jiwoong penuhi dengan sebuah ciuman dalam yang menuntut. 

Bibir lo cuma punya gue.

Waktu Hanbin masih menjadi raja dulu, pernyataan itu adalah perintah yang selalu dia berikan kepada Jiwoong. Cuma punya gue, cuma gue yang boleh, cuma gue yang bisa , Hanbin ingat selalu melontarkan itu kepada Jiwoong kala mereka tengah bercinta. 

Agaknya pernyataan itu masih berlaku sampai sekarang, hanya pemberi dan penerimanya saja yang bertukar. Pergumulan panasnya bersama tiga antek-antek Jiwoong sama sekali tak menyertakan bibir. Entah bagaimana, mereka semua tau kalau ranum itu hanya milik sang raja seorang.

Hanbin tak pernah meragukan kemampuan Jiwoong dalam beradu bibir. Lumatannya memabukkan dan lidahnya pintar berdansa. Semua bagian mulutnya lengkap terjelajahi, tak menyisakan sedikitpun cela. Hanbin merasa terus dilambungkan ke atas awan. 

Ciuman mereka baru berhenti saat keduanya kehabisan udara. Jiwoong dan Hanbin mempertahankan jarak tipis diantara mereka. Kening bertemu kening, Hanbin bisa merasakan hembus nafas jiwoong dengan jelas, begitupun sebaliknya. 

“Untung Matthew nggak keluar di mulut lo ya, jadi rasanya kayak punya Taerae, manis, apalagi campur sama ludah lo,” komentar Jiwoong yang mendapat protesan dari Matthew.

Pada situasi biasa, harusnya Hanbin merasa jijik mendengar ucapan jorok Jiwoong, tapi sekarang ucapan itu malah membuatnya kembali pening, apalagi setelahnya pria itu mulai menumbuk Hanbin. Mulanya pelan, tapi berangsur cepat ketika Hanbin kembali bernyanyi. 

Suara kotor Hanbin buat tiga orang lainnya kembali panas. Dari tempatnya duduk di lantai, Matthew, Taerae dan Hao mengocok milik mereka yang tegang. Pipi Hanbin total memerah, seolah dia dan Jiwoong adalah sebuah film biru yang tengah ditonton oleh dewasa muda yang tengah memuaskan diri mereka sendiri. 

Hanbin ingin berpaling, tapi Jiwoong menahan rahangnya. 

“Jangan sembunyi, Hanbin. Liat mereka main solo gara-gara lo. Ini baru bertiga, gimana kalau sampe rekaman di handphone Hao beneran ke sebar. Semua orang di kampus ini bakalan gila karena lo,” bisik Jiwoong sambil menggigit telinga Hanbin. 

“Ah ! Brengs– mmh awas aja AHH ! Lo,” jawab si manis di sela desah. Jiwoong meresponnya dengan tawa yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Hanbin.

Jiwoong dan Hao sama saja, senang menggoda Hanbin dengan permainan kata. Meskipun ingin sekali mengingkari, Hanbin akui rangsangan itu paling mujarab untuk membuatnya menggila, suaranya kian tinggi dan dia mulai bergerak sendiri, berusaha meraih putih secepat mungkin.

“Wow wow, santai, sayang, jangan buru-buru.”

Jiwoong memeluk Hanbin dari belakang untuk menahan tubuh itu agar tak turut bergerak. Tangan kanannya bergerak naik turun di atas perut yang terus mengembang dan mengempis.

“Perut lo sekarang pasti penuh banget ya abis diisi sama benih tiga orang, belum lagi punya gue, lo pasti kembung abis ini,” ujar Jiwoong sambil mendorong lebih dalam, terlalu dalam malah, sampai-sampai kepala kejantanannya menyembul di balik perut telanjang Hanbin.

Emh , salah lo semua.”

“Tapi lo juga menikmati, kan? Lo suka dikontolin sampe mentok, sampai nyembul gini.” Jiwoong membawa tangan Hanbin agar ikut merasakan sundulan di perutnya. 

Ahh ! Jiwoong, terlal– mhh dalem.”

“Biarin, katanya ngewe sama gue nggak bakal bikin lo mampus,” ucap Jiwoong acuh. Tangannya menekan tangan Hanbin agar dapat merasakan kejantanannya lebih jelas, “rasain, Hanbin, lo bakal gini kalau bayi dalam perut lo gerak, nendang-nendang. 

Kita semua nggak ada yang pake pengaman jadi benih gue, Hao, Taerae, sama Matthew bakal penuh dalam perut lo. Salah satunya bakal jadi janin, bakal lo kandung sembilan bulan, dan lo nggak akan tau siapa ayahnya sampai bayi itu lahir. Menarik kan?”

“Gue cowok– ah, goblok.”

Jiwoong dan skenario barunya yang tak masuk akal, tapi berhasil buat Hanbin melambung tinggi. Lelaki itu kembali mencoba menggerakkan tubuhnya, dia tidak mau Jiwoong mempermainkan dia lebih lama.

“Siapa yang tau kalau lo cowok jadi-jadian, atau lo interseks? Punya rahim juga, atau simply karena Tuhan pengen main-main sama lo, nggak ada yang tau, Bin.”

Jiwoong mengecup perpotongan leher Hanbin, tangannya naik lagi ke dada. Memijat dan memeilintir puncaknya yang buat Hanbin melengking. 

“Kalau perut lo udah gede, dada lo juga bakal gede, bakal ada susunya. Nanti waktu anak lo lahir lo bakal susuin dia, lo penasaran nggak rasanya nyusuin kayak gimana?”

Kewarasan Hanbin pasti sudah sempurna hilang, dia mengangguk mengiyakan.

Jiwoong melihat bawahannya yang masih sibuk dengan urusan mereka sambil memperhatikan Hanbin yang bergerak bak di atas pelana. 

“Guys, bikin antrian sini. Katanya Hanbin mau nyusuin kalian,” seru Jiwoong ketiganya.

Seperti seekor anak ayam yang selalu melakukan titah ibunya, mereka berbaris. Matthew jadi yang pertama, tanpa aba-aba dia meraup puting sang target ke dalam mulutnya. Mengulum lalu menghisap kuat seakan pucuk itu mengeluarkan susu. Aksinya buat Hanbin mendesah keras, dadanya membusung untuk mengakomodir bibir Matthew sampai pemuda itu puas menyusu. 

Setelah Matthew selesai, Taerae melakukan hal yang sama pada puting Hanbin yang satunya. Berbeda dengan Matthew yang brutal, Taerae menghisap penuh perasaan, secara perlahan dan lembut yang justru buat Hanbin frustasi.

Hao jadi yang terakhir, dia menatap dada Hanbin puas, kedua putingnya keras dan lecet buah dari kelakuan Matthew dan Taerae. 

“Matt, Rae, daripada lo kesusahan sendiri mending lo pada pinjem tangan Hanbin deh, mumpung kosong tuh,” saran Hao.

Matthew dan Taerae saling tatap, senyum miring tercetak di bibir mereka sebelum mengambil tangan Hanbin dan menuntunnya menuju batang yang masih tegak, Matthew di kanan dan Taerae di kiri. Hanbin yang tak tau sudah melayang kemana menggerakkan tangannya dengan senang hati, mengundang lenguh dari kedua bawahan Jiwoong itu.

Sang raja yang masih setia memanja targetnya dari belakang mengacungkan jempol pada Hao. Dia memang mengagendakan mari memakai Hanbin hari ini , tapi dia tak tau akan sepanas dan semeriah ini. Mereka semua benar-benar memanfaatkan setiap bagian tubuh Hanbin untuk kepuasan mereka sendiri.

Jiwoong meraup dada kanan Hanbin, membuatnya lebih menyembul. Putingnya yang keras mengarah pada Hao yang langsung menyesapnya dengan senang hati. Tubuh Hanbin mulai bergetar, tak kuasa menahan semua ini lebih lama. Jadi dengan sedikit akal yang masih bisa dia pertahankan, Hanbin menjauhkan dadanya dari Hao yang belum puas menyusu. 

“Ah, Bin. Curang lo, yang lain lo susuin sampe puas kenapa gue nggak.”

“Udah- hh anjing, gue mau keluar, tolong,” ucapnya kepayahan.

Hao tidak terima, “kalau gitu lo harus tanggung jawab sama ini.”

Pria itu lalu naik ke sofa yang Jiwoong duduki. Sebelah tangannya menumpu pada bahu Jiwoong sementara yang lainnya memaksa Hanbin untuk menelan batang kerasnya. 

Hanbin tidak bisa melakukan apa-apa, seluruh bagian tubuhnya kembali diserang bersamaan, semuanya bergerak di luar kehendaknya. Yang bisa Hanbin rasakan saat ini hanyalah tumbukan Jiwoong pada prostatnya, manis sepat Hao di lidahnya, juga tekstur kasar berurat di kedua tangannya. Hanbin tak bisa memikirkan apapun lagi, dia memejamkan mata dan berharap semua ini akan berakhir sesegera mungkin.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, akhirnya mereka keluar berbarengan, membuat kekacauan di sofa yang tengah Jiwoong duduki. Keempatnya terengah, mencoba mengatur nafas sebelum melepaskan diri dari Hanbin. 

Jiwoong melirik pemuda yang lunglay di atas dadanya itu. Matanya tertutup, tenang dan nafasnya berubah teratur. Agaknya melayani empat orang sekaligus melampaui batasan tubuh Hanbin. Dia langsung kolaps setelah klimaks untuk kesekian kali. 

Jiwoong mengangkat tubuh Hanbin ke sofa yang lebih panjang dan membaringkannya di sana. Dia lalu melepas kemejanya dan menyampirkan kain itu menutupi tubuh atas Hanbin. Di dapur Hao menyiapkan air hangat dan handuk, sementara Matthew dan Taerae membersihkan segalanya. Mereka seperti sedang kerja bakti.

Hao membawa air itu ke dekat sofa tempat Hanbin tertidur, pemuda itu merendam dan memeras handuk sebelum mengusapkannya pada tubuh telanjang Hanbin, pelan-pelan menyeka semua cairan yang menempel. 

Sang raja tentu tak ikut agenda bersih-bersih, alih-alih dia justru mengambil ponselnya dari atas meja. 

“Lo pada ada yang tau aslab praktikum kimia anorganik nggak? Hanbin jadwalnya itu kan sekarang.”

Matthew sebagai satu-satunya orang yang seprodi dengan Hanbin langsun menanggapi, “kalau nggak salah sih Kak Jeongwoo.”

“Oh, si Jeongwoo, gampang lahh,” ujar Jiwoong manggut-manggut.

“Lo mau izinin Hanbin, Ji?” tanya Taerae yang masih sibuk mengepel.

Pria itu mengangguk, “kasian udah tepar gitu. Anggep aja ucapan makasih udah bikin kita puas hari ini.”

“Lain kali jangan gini, Ji. Dia sampe nggak bisa ikut praktikum kan.”

“Iya, Hao. Lain kali di asrama deh. Tapi jawab yang jujur, bener kan gue bilang Hanbin itu enak banget.”

Well, Hao nggak bisa menyangkal ucapan Jiwoong yang satu itu.