Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-12-11
Words:
1,258
Chapters:
1/1
Comments:
13
Kudos:
1,216
Bookmarks:
60
Hits:
123,886

Genjreng

Summary:

“Kak, emang bener ya katanya kalo jago genjreng gitar, jarinya jago genjreng memek juga?”

Work Text:


Mark punya satu kebiasaan yang udah jadi habitnya kalo lagi gabut. Pangku gitar sambil ngelamun metik-metik senarnya. Sekarang pun dia lagi begitu, gara-gara gabut disuruh jagain anak tetangga pas nyokapnya sama nyokap si anak tetangga itu lagi pergi arisan.

Pas lagi humming lagu random yang melintas di kepalanya, tiba-tiba si anak yang dititipin ke dia itu menghampirinya. Ia duduk di samping Mark tiba-tiba dan nyender ke lengannya bikin tubuh Mark sedikit terdorong ke depan.

“Kak! Kakak jago banget main gitarnya!” Anak itu memuji dengan nada ceria dan ekspresi yang manis, bikin Mark setengah salting. Soalnya pas Mark ngelirik ke bawah, cowok itu make rok pendek warna pink.

Hal yang jarang sekali Mark lihat, seorang anak laki-laki pakai rok. Tapi entah kenapa menurut dia Haechan cocok banget pake rok pendek itu. Lucu.

...dan...seksi??

“E-eh… iya Haechan, makasih.”

Jemari Mark masih memetik secara asal di senar-senar gitarnya, tetapi menghasilkan nada yang enak. Haechan memerhatikan permainan jemari Mark sembari tersenyum.

“Kenapa Chan?” Tanya Mark kemudian “kamu mau belajar main gitar juga?”

Haechan menggeleng “hehe nggak. Cuma mau liat doang, jari-jari kakak jago banget itu main di senarnya.”

Mendengar pujian lagi membuat Mark tambah semangat dan menunjukan kebolehannya bermain gitar dengan lebih serius, berharap dapat pujian lagi dari Haechan yang manis itu. Tapi bukan pujian lagi yang dia dapat, Haechan malah bertanya sesuatu padanya.

“Hm, kak, mau nanya dehh.”

Mark menghentikan permainan gitarnya lalu menatap Haechan di sampingnya dengan seksama. “Nanya apa Haechan?”

“Kak, emang bener ya katanya kalo jago genjreng gitar, jarinya jago genjreng memek juga?”

Jujur saja, Mark kaget dengar hal itu. Haechan yang kelihatan polos dan manis itu, mulutnya baru saja melontarkan kata-kata yang menurutnya tak pantas.

“Hush! Tau darimana kamu,” tegur Mark. Tanpa sadar, ia gemetar gugup “kok ngomongnya begitu.”

“Aku sering dikucekin sama temenku yang jago main gitar, terus enak banget kak. Eh kata dia emang kayak gitu, kalo jago main gitar tuh biasanya jago juga ngucekin memek soalnya kan jarinya sama-sama dipake ngegenjreng, hehehe.”

Mata Mark membola hampir tak percaya, rupanya Haechan tak sepolos kelihatannya.

Mulut Mark ikut menganga ketika Haechan melebarkan kakinya sehingga rok di atas lututnya tertarik ke atas, dengan sengaja memamerkan paha sekal mulus miliknya.

“D-dek, itu rokny-“

“Mau coba gak kak?”

Haechan mengamit tangan Mark lalu mengarahkannya untuk diletakan di atas pahanya “mau coba kucekin memek aku gak? Aku pengen tau, kakak jago main gitar jago juga gak mainin memek.”

Sumpah, tangan Mark keringetan ketika menyentuh kulit paha Haechan yang terasa amat lembut. Ia gugup, agaknya sedikit gemetar.

Melihat Mark yang tampak ragu dan masih menahan diri, Haechan menyenderkan tubuhnya di atas sofa lalu mengangkangkan kaki hingga memeknya benar-benar terpampang di depan mata Mark.

Ya, langsung terpampang. Wajah Mark memanas ketika menyadari bahwa Haechan tak mengenakan celana dalam sedari tadi.

“Ayo kakk, cobainn. Mau coba dicolmekin juga sama kakak ganteengg. Aku horny daritadi ngeliatin jari kakak yang berurat gitu metik-metik senar gitar, mau dicolok-colok pake jari kakakk.”

Astaga, bener-bener deh ya. Mark gak pernah ketemu anak secentil dan sebinal kayak Haechan begini. Dia gak bisa tahan lagi. Dia remas paha Haechan dengan kencang lalu bangkit setelah meletakkan gitarnya di bawah sofa, tangannya melebarkan paha Haechan dan menyingkap rok pendek anak itu ke atas.

“Bangsat, ternyata kamu gini ya aslinya? Kalo depan tante aja, alim kamu keliatannya.”

Haechan cekikikan, senang telah berhasil membuat Mark tergoda. Ia menyamankan posisi terlentang mengangkang di atas sofa sedangkan Mark ambil tempat di antara kedua paha Haechan, mengungkungnya dari atas. Jemari Mark langsung mengusap vagina Haechan dari luar, yang fuckk, halus tembem banget anjing. Pas Mark ngusap-ngusap tuh, rasanya jarinya langsung dikekep sama kulit gemuk memek Haechan.

Karena Haechan ngangkang total banget, itu liang masuknya terpampang jelas dan ikut kegesek-gesek sama jari Mark. Dia sampe keenakan gitu, matanya merem-melek sambil gigitin bibir bawah dan desah rendah, kesulitan ambil nafas gara-gara keenakan di usepin memeknya.

Ahmm… Kak Mark, kak-hhh enak bangett.”

Haechan melirik ke bawah ketika merasakan telunjuk Mark bermain di klitorisnya. Kemudian ketika menatap Mark yang mengungkungnya dari atas, tubuh Haechan melemas. Dimainin memeknya gitu dan ngeliat Kak Mark yang super ganteng dari jarak sedeket ini.

Eungghh, Kak Maarrkk, masukiinnn. Mau dientott pake jari kakakkk.”

Duh, anjing, Mark merutuk dalam hati dengar Haechan merengek dengan gemas seperti itu. Di keseharian aja dia selalu turutin kemauan Haechan, apalagi sekarang.

Langsung, Mark memasukan dua jemarinya ke dalam lubang Haechan yang sudah becek. Yang lebih muda mendongakkan kepalanya akibat kaget mendapat serangan yang tiba-tiba begitu. Pinggulnya naik sebab tubuh bagian bawahnya sensitif sekali sekarang.

“Kenapa? Katanya udah sering dikucekin sama temen kamu, berarti bisa dong langsung terima dua?”

“Ehmm…”

Mata Haechan memejam erat. Bibirnya menipis membentuk garis lurus dan alisnya menaut tinggi. Setelah menteralkan deru nafasnya, ia melirik ke bawah dan menggerakan pinggulnya sendiri membuat jemari Mark keluar masuk di liangnya.

“Fuck, nakal banget ngentotin diri sendiri pake jari kakak. Rasain loh ya kakak kucekin kamu gak pake ampun.”

Satu tangan Mark menahan paha dalam Haechan agar tetap mengangkang, sebelum dengan tiba-tiba menusukan jemarinya berkali-kali di lubang Haechan yang banjir oleh cum anak itu sendiri. Sodokan Mark sangat brutal, Haechan hingga memekik-mekik keenakan.

“ASSHH… HAAAA KAK MARKK. AHH, AHHH ENAK BANGETT.”

Haechan mulai menangis-nangis tenggelam dalam kenikmatan dan Mark sama sekali tak memelankan kegiatannya. Ia justru menambahkan jari ketiga di dalam lubang Haechan hingga sodokannya menimbulkan bunyi becek dan bikin Haechan kelimpungan.

“Kak… Kak aduuh, aku mau pipiss.”

“Keluarin cantik, kakak mau liat squirt kamu.”

Mark mencabut jemarinya dari memek bocor Haechan dan langsung saja, cairan bening mengucur deras dan tubuh Haechan gemetar hebat. Jujur saja, Mark merasa takjub sekali melihat squirt dari cowok manis ini. Makin sange dah dia ngeliat live porn begini.

Walaupun tubuh Haechan sudah lemas, tapi kakinya masih mengangkang lebar. Mark yang gemas kemudian menampar-nampar memek Haechan sampai anak itu kelojotan hingga nangis-nangis lagi.

“Aduhh kak… hiks, masih sensitif kak… hiks"

Tanpa menghiraukan rengekan Haechan, Mark kembali memasukan dua jemarinya ke dalam senggama Haechan hingga anak itu memekik.

Kemudian Mark membuat gerakan scissoring sambil menahan tubuh Haechan agar diam, sebab anak itu kini tengah kelojotan dientot pake jarinya lagi. Berulang kali Mark menghujamkan jarinya di dalam memek Haechan hingga sudah cukup lebar dan banjir untuk dimasuki benda yang lebih besar, yaitu penis Mark.

Tetapi Mark masih terus mencolek senggama anak itu lalu menamparnya dengan kencang, kemudian mencoleknya lagi lalu menamparnya lagi, berulang kali hingga pepek becek itu memerah dan berantakan oleh lendir beningnya sendiri.

Haechan masih ribut mendesah di bawahnya, dan jujur saja kalau desahan Haechan itu benar-benar bikin ikut sange, desahannya manja banget. Tangan Mark yang satu lagi akhirnya mengurut kejantanannya sendiri yang menegang dari luar celana.

“Chan, mau kontol gak?”

Haechan mendongak, menatap Mark dengan mata yang berbinar oleh air mata kenikmatan. Ia mengangguk-angguk sambil terengah, tubuhnya gemetar tiap kali jemari Mark menggaruk dinding vaginanya yang licin.

“M-mauu kakk, mau dientot pake kontoll. Mau disusupin pake kontol juga memeknyaa. Aku-uhhh mau kakk.”

Haechan mulai meracau gak jelas ketika melihat Mark menurunkan celana dan memperlihatkan penisnya yang mengacung tegak tepat di depan muka Haechan yang udah lemes.

Yang lebih muda memberikan tatapan memuja kala melihat kontol yang gede itu. Ia menggenggamnya lalu bantu mengurut kejantanan Mark.

“Gede banget kak, ngghh emangnya muat di…-ahh akuu?” Mark ambil posisi menunduk, ia setengah menindih Haechan di atas sofa lalu ia menyeringai.

“Coba yuk? Buktiin apa memek tembem kamu ini bisa nampung kontol sange kakak atau nggak.”

Dan begitulah bagaimana awal dari kisah Mark yang ngejebol anak tetangga sendiri sampe akhirnya berakhir jadi FWB sama si Haechan. Enaknya punya FWB tetangga tuh itu, kalo sange tinggal jalan ke rumah sebelah aja udah puas ngentotin memek bocor.