Chapter Text
Mesin pendingin ruangan yang menyala di kamar apartemen Minghao menurunkan suhu udara hingga cukup untuk membuat ujung jemari tangan dan kaki Minghao membeku, tetapi dengan paradoksis, seluruh badannya membara di bawah kulitnya. Alkohol mulai mengental di dalam pembuluh darahnya, tubuhnya terasa berat seakan massa tubuhnya berganda dan gravitasi menariknya ke bawah. Dia setengah terbaring di ranjangnya, beberapa bantal menyangga punggungnya, dan Mingyu yang tampak sama sekali tak terpengaruh duduk bersandar kepada dinding, gelas tinggi berisi campuran Iceland Vodka murni dan sari buah grapefruit di dalam genggamannya.
Minghao sudah berkali-kali mengeluh tentang bagaimana gelasnya masih terisi setengah dan dia sudah merasa agak mabuk, sedangkan minuman Mingyu tinggal tersisa kurang dari sepertiga dan dia masih tampak baik-baik saja; selalu seperti itu setiap saat mereka minum berdua.
Minghao ingat bagaimana Mingyu tergelak dan bercanda tentang toleransi alkohol Minghao yang sangat payah; selalu seperti itu.
Namun, Minghao tidak ingat dialog apa saja yang ditukar keduanya hingga mereka tiba dalam momen ini. Mingyu memuntahkan sebuah pengakuan yang membuat otak Minghao hanyut dibawa sebuah pusaran, dan figur wajah sahabatnya di bawah pencahayaan kamar yang hangat dan remang mengirimnya hanyut lebih dalam lagi.
"Hah, lo ngarang—"
"Gue serius, anjing. Bagian mananya yang susah banget dipercaya?"
"Ya—habis," Minghao terbata, "Lo bersikap seakan itu normal banget. I just think that was supposed to not be normal … somehow."
"Kenapa harus gak normal? Pikiran itu simply muncul aja di pikiran gue pas pertama kali ngeliat lo dulu. Aneh apanya, sih? Kita juga sama sekali belum kenal satu sama lain, pas itu."
"Ya …" Minghao hendak berseru, tetapi rentetan kata-katanya raib entah ke mana. "Gak tau. Aneh aja," gumamnya.
"Lo sendiri gak bisa jelasin kenapa itu aneh. Ya, berarti nggak aneh dong."
Minghao hendak membalas perkataan Mingyu, tetapi dia menginterupsinya lebih dulu.
"Emangnya lo sama sekali gak pernah mikirin itu?"
Sudut bibirnya kaku. "Mikirin apa?"
"Ciuman sama gue, lah. Kan emang itu pembahasan kita dari tadi."
Sudut bibirnya kaku. Lidahnya kelu di dalam mulutnya. "Yah," dia meringis. "Mungkin … mungkin? Gak tau."
Mingyu terbahak. "Just say you’ve thought about it a lot."
Tangan Minghao menyambar ke depan dalam usaha menoyor kepala Mingyu, di mana usaha tersebut gagal. Mingyu dengan mudah menangkap pergelangan tangan Minghao dan menahannya dalam genggamannya. Minghao segera bangkit untuk mencoba membela dirinya, tetapi kakinya terlilit kain selimut dan dia jatuh terjerembab, kepalanya terbenam di antara lengan dan dada Mingyu yang malah tertawa puas hingga suaranya melengking.
"Lo sialan banget, serius." Minghao merengut, berusaha bangkit di kedua lututnya. Ketika dia menengadah, wajah Mingyu berada sejengkal dari wajahnya.
"Why? Karena pengen ciuman sama lo?"
"Stop, ih!"
"Emang kenapa sih? Biasa aja kali ngebayangin ciuman sama sahabat lo."
"Jadi, lo juga pernah bayangin ciuman sama Seokmin, gitu?"
Matanya sekilas menerawang ke langit-langit. "Yah… pernah, tapi cuma sebentar. Soalnya abis itu kepala dia gue sabet pakai sepatu."
Minghao tertawa. "Kalau sama gue?"
Matanya kembali menatap Minghao. Jernih dan transparan. Minghao merutuki dirinya saat merasakan jantungnya berpacu.
Ada jeda sebelum dia berkata, "Gak tau. It just … doesn’t sound so bad."
Minghao menelan ludah. "Iya?" suaranya melirih.
Mingyu mengangguk pelan.
Lagi-lagi, lidah Minghao terasa kelu.
Dari jarak sedekat ini, Minghao bisa melihat jelas bagaimana sesuatu mengusik saraf-saraf lelaki di hadapannya. Rupa wajah Mingyu hampir tampak mengabur dalam pandangannya. Berjuta pertanyaan muncul berdesakan di dalam kepalanya, dan dia tahu betul; jawabannya berada tepat di hadapannya, berjarak kurang dari sejengkal dari bibirnya. Tiada hal yang menghalanginya selain keraguan.
"Gak bakal seburuk itu, ya?"
"Mungkin," Mingyu bergumam.
Sorot mata Minghao turun ke bibir Mingyu yang setengah terbuka; mahkota bunga mawar kecokelatan. Cantik.
"I've never kissed a guy, Hao," Mingyu berbisik. Sangat lirih.
Minghao bisa merasakan seluruh tubuhnya merinding. Dia sudah berkali-kali mendengar Mingyu berbisik kepadanya, tentu saja, tetapi tak pernah di tengah kondisi seperti ini.
"Gue juga," Minghao balas berbisik, sedikit terlalu lirih. Bahkan dia tak yakin Mingyu dapat mendengarnya.
Salah satu tangan Mingyu meraih bahu Minghao, tubuhnya bergeser mendekat setelah memindahkan sebuah bantal yang menghalangi. Kini kedekatan mereka terasa lebih nyaman. Udara yang Minghao hirup terasa makin berat. Pandangan mereka terpaku pada bibir satu sama lain.
"If it really sounds that bad to you..." Mingyu memejamkan matanya. "... Hentikan gue, sekarang."
Bibir Minghao membelah terbuka. Pertanyaan di dalam kepalanya berlipat ganda.
Ini kah yang dia inginkan?
Kendati segala keraguan yang tak henti bermunculan, tak ada sedikitpun penolakan yang merangkak di belakang tenggorokannya. Dia menyaksikan bagaimana Mingyu menunggu sebuah jawaban, menahan diri. Dahi mereka bersentuhan.
"Atau, sekarang ..."
Minghao memejamkan matanya.
"Atau sekarang."
Dan, terjadilah.
Bermula dengan sebuah kecupan yang rapuh dan panjang di bibir bawah Minghao—seperti Mingyu berusaha meresapi sensasi pertama kalinya bibir mereka bersentuhan—kemudian satu di bibir atasnya, diikuti oleh sebuah kecupan yang lembut, sedikit basah, sedikit lebih pasti. Seperti Mingyu telah menemukan kunci untuk keyakinannya.
Mingyu perlahan menarik kembali, hembusan napas hangatnya membasuh wajah Minghao. Namun, sebelum dia mendapat kesempatan untuk menghirup oksigen dan mencerna apa yang baru saja terjadi, tangan Minghao lekas menemukan tempatnya di tengkuk leher Mingyu dan didesaknya lelaki tersebut dengan sebuah ciuman tegas.
"Mmh—" napas Mingyu tercekat di tenggorokannya. Dia tersentak, seluruh akalnya hampir terlempar ke luar jendela kamarnya, tetapi bibir Minghao terus memberinya lumatan-lumatan basah yang sedikit ceroboh. Minghao dapat merasakan bagaimana Mingyu mulai meleleh ke dalam tiap gerakannya; rengkuhannya bertambah erat seakan berusaha menjadikan Minghao bagian dari dirinya.
Minghao menyambutnya dengan seluruh hatinya. dia mengizinkan Mingyu melingkarkan lengannya di lekuk pinggangnya dan menariknya lebih dekat lagi.
Bibir mereka tak sedikitpun terlepas saat Minghao merangkak dengan buta, membiarkan Mingyu membawanya ke atas pangkuannya. Dikaitkannya jemarinya dengan helaian rambut Mingyu yang telah bertumbuh sedikit terlalu panjang. Punggung Mingyu menempel rata dengan dinding. Di kala lidah Mingyu dengan penuh hati-hati menyapu bibir bawahnya, menyesapnya berulang kali seperti berusaha mengecap entah perisa apa yang bibirnya miliki, sebuah desauan tergelincir dari lidahnya. Dia dapat merasakan bibir Mingyu membentuk sebuah lengkungan puas. Wajahnya memanas bagai siap meleleh kapan saja.
Ketika ibu jari Mingyu menyentuh dagu Minghao; permintaan bagi Minghao untuk membuka mulutnya untuk Mingyu, seluruh keraguannya menguap dan lenyap.
Oh, ya.
Dia menyukai ini.
Lidah Mingyu menyelinap masuk ke dalam mulut Minghao, menjelajah rongga mulutnya setelah Minghao berusaha menyambutnya dengan gerakan lidahnya. Perisa dari gula, sitrus dan alkohol—favoritnya—serta air liur bercampur di tiap tempat lidah mereka bertemu. Sebuah desahan terlepas ke dalam mulut Mingyu saat tangan Mingyu menyelinap ke bawah piyama katun yang Minghao kenakan. Kulitnya seakan dialiri listrik saat Mingyu mengusapnya, merasakan tiap senti kulitnya di bawah jemarinya.
Sedikit memalukan; betapa dia menikmati semua ini. Bagaimana dia baru saja mengetahui bahwa seseorang yang bisa membuatnya merasa seperti ini, selama ini berada di hadapannya. Berperan sebagai salah satu teman dekatnya di kampus. Bukannya dia tak sekalipun pernah membayangkannya; dia sama sekali tak menyangka hal ini akan sungguh terjadi.
"Mm—ngh," Minghao berdengung pelan saat Mingyu memperdalam ciumannya, lidahnya menyentuh langit-langit mulut Minghao. A little too much tongue, Minghao pikir, tetapi dia dilanda oleh terlalu banyak nikmat untuk mampu memprotes.
Minghao sudah pernah bercumbu berkali-kali sebelumnya—setiap saatnya dengan perempuan—dan dia menikmatinya. Tetapi kali ini berbeda. Mungkin rangsangan dari fakta bahwa ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua, tetapi ada sesuatu yang lain. hal-hal yang bisa dia rasakan: air liur mereka yang bercampur, tangan Mingyu di punggung dan sekeliling pinggangnya, detak jantungnya yang memacu di bawah tulang rusuknya, dan atmosfer penuh hasrat yang tiap detiknya makin memekat.
Tanpa sengaja, gigi mereka beradu. Minghao bisa merasakan tawa Mingyu lebih daripada dia mampu mendengarnya. pada saat itu, Minghao melepaskan kaitan mulut mereka.
Tawa terhembus kasar dari mulut keduanya. Dahi mereka tetap bersentuhan.
Bahkan di saat bibir mereka tak lagi tertaut bersama, tiada di antara keduanya yang melepas tangan mereka dari satu sama lain. Kedua tangan Mingyu masih berada di bawah kaus Minghao, jemari Minghao masih bersarang di rambut Mingyu.
Mereka tak ingin mengakhirinya.
Jadi, Minghao memberanikan dirinya untuk mengajukan sebuah permintaan yang lebih terdengar seperti perintah. “Tiduran, Gyu.”
Tak ada sedikitpun perlawanan dari Mingyu. Minghao sedikit mengangkat tubuhnya, memberi Mingyu ruang untuk bergeser dan mengambil posisi yang lebih nyaman. Pandangan Mingyu sama sekali tak beralih dari wajah Minghao ketika dia merangkak di atas tubuhnya, perlahan mendorong tubuh Mingyu hingga rata dengan ranjang dan memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk menyusupkan tangannya ke bawah kemeja polo hitam yang Mingyu kenakan; meraba pinggang, perut, dan dadanya dengan sangat halus dan perlahan hingga dia dapat merasakan otot-otot Mingyu menegang di bawah sentuhannya.
“Minghao…”
Minghao balas menatap mata Mingyu yang setengah terbuka dan menemukan sebuah kilapan yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Dia tak tahu bagaimana harus menafsirkannya. Kedua tangan Mingyu mencengkram paha Minghao yang mengepung tubuhnya dari kedua sisi.
“Mau apa, Gyu?” dia berbisik.
Mingyu menggigit bibirnya, lalu menjawab, “Apapun yang lo mau, Hao.”
“Apapun?”
“Apapun.”
♡
Malam itu, dentuman keras musik dari stereo memekakkan telinga Minghao selagi tubuhnya bergerak mengikuti irama dan ayunan pinggul wanita yang menari dengan kedua lengan Minghao di pinggangnya. Aroma tajam alkohol berbaur dengan campuran absurd dari bau tubuh ratusan manusia di dalam ruangan tersebut, jadi Minghao membenamkan hidungnya di lekuk leher sang wanita. Aroma semerbak black licorice memenuhi indera penciumannya. Sebuah seringaian merekah di balik kabut alkohol.
“I like this song!” sang wanita setengah berteriak, berusaha mengalahkan suara musik.
“Yeah.” Minghao tidak tahu lagu apa yang sedang diputar—dia cuma mengatakan apa saja. Seluruh tubuhnya terbakar oleh alkohol dan dia berkeringat di mana-mana. Mana dia peduli gadis yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu itu berkata apa di saat dia pun tak bisa mendengar suaranya sendiri.
“Minggir dulu, yuk! Wanna get more shots.”
Minghao mengekorinya saat wanita tersebut membawanya menembus kerumunan menuju jejeran meja bar. Minghao duduk di sampingnya, mendesis setelah menelan satu seloki wiski dalam sebuah tenggakan cepat.
Minghao menoleh saat gadis itu menepuk bahunya.
“Gak tau kenapa gue mau bilang ini ke lo—tapi itu cowok ganteng banget, kan?”
Minghao melihat ke arah yang diacukan gadis itu diam-diam. Kulit kecoklatan, mata yang berkilap di tengah keremangan, serta garis wajah yang bersamaan tampak halus dan tegas. Minghao tak sadar dia mengamatinya sesaat terlalu lama.
“I made out with him once at the back. Tapi tiba-tiba dia ninggalin gue di tengah sesi. Gue masih sebal sampai sekarang.”
Seperti katanya tadi, Minghao tidak mengerti mengapa gadis itu menyampaikan hal itu kepadanya. Namun, mata Minghao masih terpaku pada pria tersebut hingga pria itu tiba-tiba menoleh dan mengilaskan sebuah senyuman ke arahnya dan Minghao segera memalingkan wajahnya.
Apakah dia tersenyum padanya? Atau kepada orang lain yang berada di arahnya?
Entahlah.
♡
“A—ah, Mingyu …”
Entah sudah berapa kali Minghao memanggil-manggil nama Mingyu, namanya mulai terasa seperti mantra di lidahnya. Yang dipanggil sibuk menyesap buah dada Minghao yang kini terbaring bertelanjang dada di bawahnya. Sekujur leher dan dadanya terlukiskan warna merah muda keunguan.
"Mingyu, cium gue … bibir gue," titah Minghao di saat mulutnya merindukan milik yang satunya.
Mingyu segera menyejajarkan kepalanya dengan kepala Minghao, memandang wajahnya yang merona merah sebelum memberinya ciuman yang panas, mendalam, dan panjang. Dia berusaha menunjukkan betapa dia selalu menginginkan Minghao seperti ini, dan Minghao dapat merasakannya dalam setiap gerakannya. Baik melalui tangannya yang meraba pinggang hingga ke pahanya, atau bagaimana dia melucuntukan sendi rahangnya agar Minghao dapat dengan mudah menemukan jalan ke dalam rongga mulutnya.
Dengan sengaja, lutut Mingyu memberi tekanan penuh arti pada kemaluannya yang sudah setengah menegang dan Minghao melingkarkan kakinya di pinggang Mingyu sebagai respon, berusaha menemukan lebih banyak sentuhan yang sangat dibutuhkannya.
"Mmmh, ah …" Minghao mendesah lega saat dia perlahan menggerakkan pinggulnya seiring Mingyu terus menggesekkan pahanya kepada kemaluannya. Kepala Mingyu bergerak menuju ruang di bawah daun telinganya, tepat di mana Minghao lebih sensitif—dia baru saja mempelajarinya beberapa menit yang lalu. Mingyu ikut mencari kepuasannya sendiri, mulai menggesekkan selangkangannya kepada salah satu paha Minghao yang sengaja sedikit ditekuknya untuk mempermudah gerakan lelaki di atasnya.
Indera pendengaran keduanya dipenuhi oleh suara napas yang makin menderu, serta derit ranjang yang bertambah bising seiring tempo dari aksi keduanya bertambah tergesa-gesa.
"Enak, Hao?" Mingyu berbisik, setengah tersengal, suara rendahnya meremang di gendang telinga Minghao.
Minghao mengangguk cepat, mungkin sedikit terlalu antusias. Semuanya memang terasa begitu nikmat, walaupun keduanya masih memakai celana masing-masing dan tak ada yang benar-benar saling menyetubuhi atau disetubuhi. Yang dia ketahui, dia ingin terus merasakan tubuh Mingyu di atasnya.
"Wanna feel your hands … Mingyu."
Mingyu malah tersenyum, bibir bawahnya diapit barisan giginya. Di bawahnya, Minghao hampir gila melihatnya. Dengan wajahnya seperti itu dan dahinya mengernyit seakan dia begitu terlarut dalam gelora; Mingyu tampak sungguh menawan. Pinggulnya terus bergerak dengan lihai. Indah. Minghao telah terhipnotis.
"Serius, Hao?"
Minghao tak mengerti. "Apa sih?"
"No please, no will you, or anything? Hm?"
Minghao menghela napas berat saat merasakan gerakan pinggul Mingyu bertambah kasar dan tekanan di selangkangannya meningkat. "What, you want me to beg?"
Mingyu masih tersenyum. "Mungkin."
Minghao tergelak. "Really? Gue baru tau lo tipe yang suka begituan."
"Surprise, surprise. I am."
Minghao tidak mengatakan apa-apa. Lidahnya menjadi kelu, dia tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya tanpa merasa malu, seperti jika dia memohon sesuai dengan permintaan Mingyu, maka dia akan kalah dalam permainan sialan yang tiba-tiba Mingyu karang. Sedangkan, dia sudah sepenuhnya menegang di bawah sana dan membutuhkan sesuatu yang lebih dari ini.
Namun, Mingyu terus menantinya. "Ayo, Hao. Gue mau dengar."
"Sentuh gue aja, kenapa sih?"
Mingyu terkekeh jahil. "Emangnya cara minta yang bener kayak gitu?"
"Fuck you, seriously."
"I can try that, only if you ask right."
Rahang Minghao mengeras. Kata-kata tersebut membengkak di tenggorokannya. Dia tidak mau menyerah secepat ini, tetapi, ya tuhan, dia ingin merasakan lebih dari ini. Ingin Mingyu memberinya lebih dari ini.
"C'mon," desak Mingyu. "C'mon, Hao. Ini nggak cukup, kan? Lo mau lebih."
Bibir Minghao membelah terbuka saat Mingyu kembali menciumi lehernya dan jemarinya mencubit pucuk buah dadanya. Permohonan tersebut semakin berat di lidahnya.
"Bilang, Hao. Ayo."
Persetan.
"Please, Gyu, use your hands … wanna feel you. Please."
Sebuah lumatan di bibirnya. "Nah. Gampang, kan?"
Tanpa membuang waktu, tangan Mingyu menyelinap ke bawah karet celana Minghao dan melucutinya dengan asal, membiarkannya tersangkut di salah satu lututnya. Dia tersenyum simpul saat mengambil sedikit jeda untuk mengagumi tubuh telanjang Minghao di bawahnya, kemudian perlahan mendorong paha Minghao agar membuat ruang baginya. Dengan penuh kehati-hatian, jemarinya membalut kemaluan Minghao mulai dari ujungnya, lalu dengan mudah menggunakan sejumlah air mani yang sudah membasahinya untuk memperlancar gerakan tangannya.
Minghao menghela napas lega, sangat lega. Dia menelan ludah, kenikmatan mengalir bersama dengan darahnya.
"Oh iya," Mingyu menginterupsi. "Gue belum pernah ngelakuin ini sebelumnya—maksud gue untuk orang lain—jadi, kalau gak enak, just let me know, oke?"
"Kalau enak?"
Sebuah seringaian merekah di wajahnya. "Let me know, too."
Setelah memberi sebuah lumatan yang singkat dan mendalam di bibirnya, Mingyu melanjutkan aktivitasnya di bawah sana.
"Too soft. Cepat sedikit," Minghao memandu.
"Got you, got you."
"A—aah, gitu, gitu—iya," suku kata terakhirnya meleleh ke dalam sebuah desauan merdu. "Mm—ah, ah, Mingyu …"
Kehangatan yang menyelimutinya terasa hebat. Dia membuka pahanya lebih lebar dan dorongan tangan Mingyu mengenainya dengan sangat tepat.
"Fasten the grip, please—yeah, fuck, oh..."
Cengkraman jemari Mingyu mengencang di sekitar penis Minghao. Otot paha lelaki itu menegang. Sesekali Mingyu mengusik pucuknya untuk memicu lebih banyak lagi cairan penetrasi agar tangannya dapat bergelincir di penisnya dengan lebih mudah. Kecepatan gesekannya bertambah.
Minghao memejamkan matanya erat-erat. Dia terbebani oleh pandangan Mingyu yang terpaku pada wajahnya, memperhatikan tiap ekspresi mikro yang terbentuk di wajahnya seiring lelaki tersebut berusaha memuaskannya. Seluruh tubuhnya memanas. Sedikit memalukan baginya untuk membiarkan Mingyu melihatnya dalam kondisi yang begitu rapuh dan jernih.
Mingyu telah melihatnya dalam situasi yang hampir sama memalukannya dengan saat ini. Sedikit contoh adalah di saat dia menangis di lobby gedung Fakultas Seni Rupa dan Desain, berpikir tak akan ada yang cukup peduli untuk memerhatikan air mata yang membasahi wajahnya, lantaran hasil kerjanya tak kunjung diterima dosen, diikuti oleh telepon dari Mama yang menyampaikan bahwa beliau merindukannya dan kondisi fisik Baba tak membaik. Atau di satu waktu lain saat tubuh Minghao terkulai tak berdaya di ranjang Unit Gawat Darurat. Kulitnya memucat, warna merah muda cemerlang di bibirnya memudar, saluran infus menyalurkan zat besi ke dalam pembuluh darahnya. Mingyu duduk di samping ranjangnya saat air mata membasahi pipinya, sama seperti sebelumnya.
Dalam semua situasi penuh kerapuhan tersebut, Mingyu tetap hadir. Bahkan di saat Minghao terlalu malu untuk membiarkannya melihatnya dalam kondisi seperti itu, entah dengan cara apa, Mingyu berhasil membuat Minghao mengizinkannya tetap ada.
Jadi, kali ini sungguh; persetan rasa malu.
Jika ini sebuah permainan, maka dia sudah kalah sejak lama.
Minghao meraih tengkuk leher Mingyu, menariknya ke dalam sebuah ciuman yang bergairah dan kotor. Terlalu basah, campuran air liur mereka sedikit menodai dagu Minghao. Gerakan tangan Mingyu di bawah sana bertambah cepat.
"This is how I've always wanted you," Minghao berkata ke bibir Mingyu.
Dengan matanya yang masih terpejam, Minghao bisa melihat mata Mingyu berbinar. "Yeah?"
Minghao mengangguk cepat.
"Rasain aja, Hao. Rasain gue."
Di tengah landaan gairah yang makin menggentarkan, Minghao membawa tangannya untuk dengan cekatan membuka kancing celana jins Mingyu dan menyusupkan tangannya ke dalam kehangatan di antara kedua kakinya. Seketika seluruh tubuh Mingyu menegang, gerakan tangannya berantakan, sebuah erangan panjang penuh kelegaan meluncur dari lidahnya.
“Enak, Gyu?” Minghao mendesis.
Alisnya yang mengernyit dan mulutnya yang terbuka tapi tak mampu mengeluarkan sedikitpun suara sudah cukup untuk memberitahu Minghao jawabannya.
Minghao tersenyum, perasaan bahwa kini dia memiliki sebagian kendali atas Mingyu mengisi gelasnya hingga hampir penuh.
“Come with me, Hao, please… gue mohon...”
Minghao menghirup napas tajam ketika sesuatu di bawah abdomennya melilit dan dia segera tahu; dia tak dapat bertahan lebih lama lagi, begitu pula dengan Mingyu. Keduanya tak lagi perlu mengeluarkan banyak gaya untuk terus menggerakkan tangan mereka, dan walaupun Minghao tahu pergelangan tangan Mingyu pasti sudah mulai terasa sengal, tak ada di antara mereka yang berhenti; justru meningkatkan temponya.
“Gyu... deket banget,” keluh Minghao cepat.
“Sama gue, Hao, ayo—mmmh, argh—”
Tepat di saat Minghao merasakan Mingyu menumpahkan pelepasannya ke dalam kepalan tangannya sambil berulang kali meneriakkan Minghao, Minghao, Minghao, Minghao bersumpah matanya tak mampu melihat apa-apa selain ledakan cahaya putih yang berpendar, perlahan meredup seiring gerakan tangan mereka bertambah lambat dan seluruh renjana mereka terpompa habis hingga hampir melunak.
Air mani Mingyu menggenangi telapak tangannya, bergulir ke sela-sela jemarinya. Noda putih melekat di sekitar pusarnya. Mulut mereka berdua berair menyaksikannya.
Mingyu menjatuhkan tubuhnya tepat di sisi tubuh Minghao yang terkulai tak berdaya, dahinya beristirahat di bahu Minghao. Tarikan napas mereka bertambah pelan selagi detik waktu membasuh titik-titik peluh di dahi mereka.
♡
Minghao sudah sekian kali mengimajinasikan berciuman dengan Mingyu. Selama dua tahun lebih mereka saling mengenal dan menghabiskan banyak waktu dalam tiap minggunya bersama. Entah berapa kali khayalan yang muncul dalam rupa pertanyaan-pertanyaan tersebut terlintas dalam benaknya.
Minghao menganggap pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai tak lebih dari rasa penasaran tak berarti. Hingga suatu malam di saat dia menyentuh dirinya, rupa dari balutan tangannya di sekitar kemaluannya menjelma menjadi bibir Mingyu yang sewarna dengan mahkota mawar kecokelat-cokelatan, dan Minghao bersumpah dia melihat sinar putih di sudut matanya saat mencapai pelepasan.
Jadi, mungkin sebagian dari dirinya menginginkan Mingyu. Mungkin.
Ada suatu malam di Cigarre—bar & kafe di area sekitar universitasnya—yang mungkin menjadi sumber awalnya. Malam itu, versi karaoke dari lagu Go There With You milik Victoria Monét terdengar dari sound system, suara nyanyian kerumunan pelanggan bar di dance floor menjadi musik latar belakang bagi kedua pria yang duduk berdampingan di meja bar. Sinar warna merah yang terpancar dari lampu LED berganti menjadi warna hijau di wajah Mingyu, dan Minghao bersumpah dapat merasakan tangannya gemetaran saat mengangkat gelas selokinya mendekat ke bibir.
"Lo gak suka jus cranberi campur vodka? Please, you're missing out," celoteh Mingyu sambil memutar matanya dengan dramatis.
"Lebay lo. Masih banyak campuran yang lebih enak dari itu. Jus cranberi terlalu pahit," Minghao meletakkan gelasnya di permukaan granit meja bar.
"Yang lo suka apa, dong?"
"Hm …" Minghao menyesap gelasnya yang masih penuh. "Pineapple juice. Manis, refreshing."
"Yeah, that’s pretty good. Apa lagi?"
"Yang gue minum sekarang, nih. Greyhound. Campuran sama grapefruit juice. Manis juga, but with a kick of sourness."
Mingyu manggut-manggut setuju. "Ciuman abis minum greyhound enak, tuh," guraunya.
Minghao terdiam, sesuatu menutupi matanya bagai kabut. Dia belum pernah mencium seseorang setelah meminum greyhound, pikirnya. Kepalanya menoleh ke arah Mingyu yang kini menatapnya lekat-lekat dari samping. Minghao berkedip cepat saat detik berlalu dan tatapan pria tersebut tetap terpaku padanya.
"What?" suara Minghao terdengar lebih lirih daripada seharusnya.
Pandangan Mingyu menyuarakan sesuatu yang lebih lantang daripada mulutnya yang terkatup rapat, tetapi Minghao tak yakin apa maksudnya.
Minghao memiringkan kepalanya dan merasakan sesuatu pada atmosfer ruangan bergeser. Genggamannya erat dan basah pada gelasnya yang dipenuhi jejak kondensasi. Bayangan semu dari bulu mata Mingyu bergerak di atas pipinya saat sorot matanya merendah.
Lelaki yang baru dia kenal beberapa minggu lalu dari temannya itu sama sekali tidak berjarak terlalu dekat dengan tubuhnya, tetapi dia menatap Minghao; sungguh menatapnya. Tanda tanya muncul di dalam kepala Minghao. Tubuhnya membeku saat lutut mereka bersentuhan di bawah meja.
Minghao bersumpah dia tak berhalusinasi saat melihat wajah Mingyu perlahan bergerak mendekat— "Lo berdua udah akrab banget kelihatannya!"
Minghao tersentak saat tangan Seokmin menepuk punggungnya. Kontak mata mereka terputus, dan atmosfer ruangan bergeser kembali ke tempatnya. Minghao baru menyadari dia menahan napasnya sejak tadi.
Momen singkat tersebut hanyut begitu saja terbawa oleh arus waktu. Tak ada di antara mereka berdua yang pernah mengungkitnya, walaupun adegan tersebut berkali-kali terputar ulang di belakang kepala Minghao.
Sebagian dari dirinya berharap Mingyu juga mengingatnya dengan cara yang sama.
♡
Tubuh Minghao tersentak saat mendengar pintu terbuka. Mingyu yang sudah kembali mengenakan kemeja polo dan celana jeansnya dengan benar berjalan memasuki kamar dengan sebuah handuk kecil di tangannya, lalu duduk di sebelah Minghao yang terbaring di punggungnya.
"Bersihin dulu, Hao. Sini, gue—"
"Gak apa-apa. Gue bisa sendiri." Minghao beranjak duduk dan meraih handuk tersebut dari tangan Mingyu.
Kecanggungan bangkit di udara, membakar pangkal lidah Minghao. Mingyu hanya duduk tak bergeming, menatap jarak sempit yang terbentang di antara keduanya.
Setelah mereka menyelesaikan sesi tadi dan kabut yang melanda benak keduanya menguap hilang, realita yang sejak tadi menunggu di sudut kamar datang mencekik keduanya.
Minghao duduk di sudut ranjang setelah memakai celananya dengan benar. Perasaan bahwa salah satu dari mereka harus segera membuka pembicaraan membebani pundaknya, tetapi tak ada sepatah kata pun yang bisa dia katakan.
"Minghao."
Sang pemilik nama menoleh sedikit terlalu cepat.
"Lo—uh …" Mingyu menyisir rambutnya dengan jemarinya; kebiasaannya saat merasa canggung. "Kita—lo—are we gonna regret this?"
Minghao tidak tahu. Dia mengedikkan bahunya.
Suaranya kecil saat dia bertanya, "Lo nyesel, sekarang?"
Ada jeda sebelum Minghao menggelengkan kepalanya. "Gue gak tahu apa yang gue rasain."
"Gue juga." Mingyu menekuk lututnya, memeluknya di dekat dadanya. Tubuh besarnya tampak dua kali lipat menciut. "Tapi, gue cuma mau lo tahu ini."
Minghao menatap wajah Mingyu.
"The only reason I did that was because I wanted to. Gue berharap lo gak akan nyesel—apapun yang bakal terjadi setelah ini. Gue cuma mau lo ingat itu."
Minghao sungguh ingin mengatakan sesuatu; sebuah pertanyaan, sebuah jawaban, apa saja. Tetapi dia tak bergeming di posisi yang sama. Pemikiran bahwa dialah pria pertama yang pernah Mingyu sentuh seperti itu dan sebaliknya membuat kepalanya pening.
"Gue balik, Hao."
Minghao hanya mengangguk pelan, mendengarkan bunyi pintu kamarnya tertutup rapat dan langkah kaki Mingyu menjauh, hingga menghilang setelah suara pintu apartemennya menutup terdengar.
Meninggalkannya sendiri dengan semua pertanyaannya.
♡
