Chapter Text
Tidak percaya diri. Itu yang Mingyu rasakan sekarang.
Dia sudah duduk bersila di lantai dengan dagu di atas telapak tangan dan ujung kuku kelingking di antara barisan giginya selama beberapa menit yang terasa begitu panjang. Dan berisik. Ya, kepalanya sangat berisik.
Di saat dia bangun tidur tadi pagi, dia merasa begitu terinspirasi oleh serpihan mimpinya. Dia tidak ingat jelas, tetapi ada gambaran-gambaran beku dari sebuah pantai berpasir kuning pucat, deburan ombak yang berbuih, hamparan langit biru dingin, dan dia merasakan kehangatan kulit dan daging meremas jemarinya. Mingyu tak tahu pasti dengan siapa dia berpegangan tangan, karena di mimpi itu, dia terus berlari dan berlari, pandangannya lurus dan hanya terisi oleh pemandangan yang mengabur dalam gerakan kakinya yang konstan. Dia bisa merasakan telapak kakinya dipeluk oleh pasir basah lantaran berada terlalu dekat dengan dengan garis pantai. Bagaimana angin laut menerpa pipinya—dia mengingat semua itu.
Saat matanya terbuka, kakinya pegal dan jantungnya berdegup cepat. Entah mengapa dia sangat senang. Celah-celah di antara rusuknya terasa penuh. Sudah terlalu lama sejak terakhir kali dia bangun dengan perasaan selain kosong.
Jadi, dia segera menggosok gigi dan memakan sisa sereal di dalam toples, lalu meraih kanvas 40x50cm dari tempat dia menyimpannya di belakang rak buku dan mengupas pembungkus plastiknya dengan tergesa-gesa. Tabung-tabung cat akrilik berhambur di dekat lututnya, kanvas di antara paha. Dia tak menyadari sudut bibirnya mengulas sebuah senyuman sembari dia mencampur warna merah, kuning, biru, dan putih. Di sudut lain, dia menuangkan warna putih dengan sedikit biru.
Penuh hasrat, dia menorehkan warna-warna yang telah dia campur di atas kanvas. Gores. Gores. Gores. Gores.
Apaan, nih?
Tanah pasirnya lebih terlihat seperti tanah kuburan. Gelap dan padat. Air lautnya terlihat seperti air danau tak berkehidupan.
Mingyu mencampakkan kuasnya, meraih ponsel. Pria tak berwajah di video tutorial yang dia tonton secara tak langsung mengatakan bahwa dia telah melakukan semuanya dengan salah.
“Ck, bangsat, bangsat,” geramnya.
Kini, telapak tangannya yang ternodai berbagai warna seakan mencemoohnya. Lo ngotorin gue cuma buat bikin lukisan jelek begini? Lalu, kanvasnya ikut serta melemparkan makian karena sudah merusaknya, Mingyu membenci dirinya sendiri, dan berat untuk bernapas karena dia tak sadar kebencian dirinya telah menggenangi apartemen studionya hingga sebatas dahi. Dia harus beranjak dan menghirup udara segar, tetapi dia lebih memilih bergeletak di lantai yang dingin.
Tangannya menggaruk kulit kepalanya yang gatal. Kapan terakhir kali dia keramas? Helaian rambutnya sudah saling menempel dengan satu sama lain oleh minyak. Saat menyentuh mulutnya, kumis yang lupa dicukur menusuk ujung-ujung jarinya. Sudah tidak terampil, wujud fisiknya menjijikkan pula.
Banyak yang bisa dia lakukan sekarang—keramas, mencukur kumis, membereskan peralatan melukis, dan daftarnya masih sangat panjang—tetapi pandangannya terpaku terlalu kuat kepada langit-langit kamarnya.
Perasaan seperti sedang tenggelam kembali menggelapkan benaknya.
Ada sesuatu yang kerap membandel di tempurung kepalanya akhir-akhir ini.
Terakhir kali Seokmin mampir ke apartemennya, pria berponi itu mencerocos tentang bagaimana Mingyu tak boleh lupa mengurus dirinya sendiri. Mungkin dia memerhatikan tutup tempat sampahnya yang menganga karena terlalu penuh, tidak adanya gelas bersih yang bisa dipinjam, dan tirai yang masih tertutup rapat walau matahari sudah bergelayut tinggi di langit.
“Emang kenapa sih, Seok?” Mingyu menyahut lesu. “Gituan bisa diberesin nanti. Gue juga gak nyuruh lo jadi pembokat.”
“Lo ngomong nanti-nanti udah dari seminggu yang lalu!” mulutnya mengerucut.
“Yah, mager aja. Emang kenapa, sih?”
Seokmin pasrah, hanya berdecak lalu beranjak dari sofa. Dia melangkahi Mingyu yang tengkurap di lantai sambil mengetik di laptopnya seperti seekor anjing melangkahi kuburan. Mingyu mendengar susuran tirai jendela bergulir ditarik. Sedikit cahaya alami tertuang di lantai.
“Lo udah lama banget gak gambar, ya?”
Mingyu menoleh kepada Seokmin yang sedang mematut salah satu jendela yang hampir seluruh permukaan kacanya tertutupi oleh kertas sketsa buatannya.
Dia segera memalingkan wajahnya. Beberapa—sedikit terlalu banyak—di antaranya adalah sketsa Minghao. Dia ingat ketika salah satu foto diri Minghao yang Minghao pos di akun Instagram pribadinya entah kenapa membuat Mingyu ingin menggambarnya. Minghao membuncah riang ketika melihat hasil sketsanya.
“Gak pernah ada yang gambar gue sebagus ini,” katanya.
Mingyu tak percaya, tidak mungkin teman-teman sesama senimannya tidak pernah menggambarnya dengan lebih bagus.
Namun tampaknya Minghao sesuka itu dengan sketsa buatan Mingyu. Entah karena apa. Berkali-kali dia mengirim chat kepadanya, “gambar gue lagi” dengan sebuah foto dirinya tertaut pada pesannya. Dengan senang hati, Mingyu membuatnya. Berkali-kali.
Sekarang di jendela itu terpajang sketsa Minghao berpose di tangga, punggung Minghao dengan latar matahari terbenam, tangan Minghao menggenggam setangkai mawar, dan berbagai Minghao-Minghao lainnya. Ajaibnya, dia sudah hampir lupa pernah membuat semua itu karena akhir-akhir ini, dia bahkan tak pernah ingat untuk membuka tirai jendelanya.
“Gue aja lupa pernah pajang gambar-gambar gue di situ,” jawab Mingyu.
Seokmin mendengus. “That’s more concerning than you thought, y’know?”
“It doesn’t have to be.”
“Iya, karena lo gak mau mikirin.”
“Maksud lo?”
“Maksud gue cuma… just, take care of yourself, Gyu. ”
Mingyu tidak menyukai intonasinya. “You don’t think I’m trying?”
“Gak—maksud gue bukan gitu,” intonasinya hati-hati. Seokmin menghampirinya di lantai, bersila di dekatnya.
“Lo datang ke sini terus ngomel aja. Gue gak butuh. I know I’m not my best right now. Semua orang bilang take care, take care. Like that wasn't all that I've been trying to do," cibirnya. Mingyu bisa merasakan beban dari tatapan Seokmin, tetapi dia terus mengetik.
“Maksud gue bukan gitu.”
“Terus, apa?”
“I’m your friend. I’m worried.”
“Gue gak butuh dikasihani.”
“Bukan kasihan. Gue gak bisa lihat lo terus-terusan kayak gini. Dulu lo selalu optimis, lo selalu ada tanpa perlu dicari, kamar lo selalu paling wangi, lo juga selalu lagi gambar di iPad lo atau di buku butut lo kalo gak lagi ngapa-ngapain—I just miss you, I don’t know! ”
“Well, I’m sorry I’m not all that right now—maybe not anymore, I don’t even fucking know. Gue gak tau maksud lo sebenarnya gimana, tapi semua yang lo bilang, that’s exactly what I said I don’t need right now: pity. Gue gak butuh dikasihani, Seokmin, gue sendiri gak tau hidup gue sekarang maksudnya apaan tapi—tapi—tapi apa—gue bahkan gak tau gue mau ngomong apa!” Mingyu membanting laptopnya tertutup. Wajahnya memanas, dia tahu Seokmin juga sama, jadi dia menahannya. Semuanya akan membuncah tak keruan jika dia lepas kendali.
Ada sunyi yang panjang. Mata Seokmin berkaca-kaca, kata-kata membengkak di pangkal lidahnya.
Mingyu memijat dahinya, menarik napas dalam-dalam. “Gue gak seharusnya marah… I’m sorry. I’m sorry.”
Seokmin mengangguk, menggosok matanya. “Maaf karena omongan gue… gak seharusnya gitu. Gue gak maksud kayak gitu."
Mingyu mengangguk.
“I just miss you, man. ” Dia terkekeh. “Jijik ya lo dengarnya?”
Mingyu menggeleng, ikut tertawa. “Sekarang gak terlalu, sih.”
“Cuma, kayak,” Seokmin menggaruk dahinya, “Tiap kali gue ke sini, selalu ada aja gambar-gambar yang baru lo pajang di situ. Kayaknya udah lama banget gak pernah nambah lagi. Makes me feel weird. ”
Mingyu terdiam. “Iya juga, ya.”
Mingyu masih memikirkan itu sampai sekarang.
Menggambar, melukis; kedua hal yang merupakan bagian dari dirinya semenjak saat dia belum mengetahui banyak hal. Kini dia terbaring kosong di lantai, bertanya-tanya mengapa dirinya begitu payah dalam melakukan hal yang selalu yakin bisa dan suka dilakukannya.
Apa dia telah kehilangan itu juga?
Apa inti dari hidupnya jika dia telah kehilangan segala hal yang dia sukai?
Mingyu teringat oleh Minghao, ketika dia mengatakan bahwa dia ingin mendefinisikan dirinya dengan hal-hal yang dia cintai. Minghao mencintai seni. Warna hijau. Cat minyak. Wiski. Hal-hal itu mengingatkannya oleh Minghao. Jadi, benar perkataannya, Minghao didefinisikan oleh hal-hal yang dia cintai. Mingyu berharap namanya ada di antara hal-hal itu, walau sekarang tampaknya hampir tidak mungkin.
Mingyu ingin mendefinisikan dirinya dengan lukisan-lukisan yang pernah dia buat. Lembaran sketsa yang bertengger di kaca jendela. Tapi bahkan hal-hal itu kini terasa begitu jauh darinya. Yang ada hanya kanvas lukisan jelek yang terkapar di dekat kakinya. Dia bahkan enggan melirik hasilnya.
Dia bertanya-tanya apa arti dirinya sekarang.
Ketika beranjak tak lama kemudian, dia memikirkan Minghao.
Apakah dia telah kehilangan Minghao juga?
♡
Tampak dari belakang dinding kaca restoran fast food di lobby gedung apartemen Mingyu, wajah senja sudah setengah terselubung oleh jubah gelap malam.
Dengan setengah ketidakpercayaan, Mingyu melirik wajah Minghao yang duduk di hadapannya dari balik topi baseball-nya.
Makan. Makan ayam lo, Mingyu. Kok malah mikir.
Mingyu membuka bungkus kertas nasi ukuran large-nya, menahan kejutan saat nasi mendidih hampir membakar lidahnya.
“Masih panas nasinya,” tutur Minghao pelan tanpa menatap ke depan.
“Iya, gue baru sadar,” Mingyu tertawa kikuk. Dia berharap Minghao tak menyadari daun telinganya memerah padam, walau sepertinya tidak akan, karena pria tersebut tak ada lagi memandangnya sejak mereka pertama berpapasan di antrean kasir. Tatapannya tak bisa ditafsirkan saat Mingyu tanpa berpikir mengajukan untuk duduk di meja yang sama. Mingyu bersyukur Minghao tidak melempar nampan ke wajahnya dan mengusirnya, malah duduk dengan tenang sembari menyantap nasi dan fried chicken-nya. Sesekali menyesap gelas lemon tea dengan setengah es batunya. Satu kursi di sebelahnya diisi oleh tas jinjing yang penuh oleh bahan makanan dari supermarket.
Rasanya seperti hanya dibutuhkan satu kedipan mata untuk makanan Mingyu habis tak bersisa. Makanan Minghao masih tersisa setengah.
Mingyu tak bisa menahan diri dari terus menatap Minghao. Secara harfiah, dia menonton Minghao mengunyah makanannya. Bagaimana bibirnya mengerucut dan pipinya membulat. Menggunakan dua jarinya untuk mengupas kulit ayam. Mingyu berusaha untuk tidak tersenyum. Berusaha menahan sejuta kalimat yang terjalin kusut di tenggorokannya. Dua menit yang lalu, dia mati-matian berupaya memilih dan memilah apa yang sepertinya harus dikatakan. Kemudian dia menyadari, sudah terlalu lama sejak mereka seperti ini .
Mingyu dan Minghao di meja makan yang sama, menikmati makanan mereka dalam kesunyian yang nyaman.
Mingyu yang menghabiskan makanannya terlalu cepat, Minghao yang mengunyah dengan perlahan.
“Proses pencernaan, kan, mulainya dari mulut. Kalo baru masuk langsung ditelan kayak lo gitu, gimana lambung lo mau cerna dengan benar?” Minghao pernah bilang, dahinya berkerut sambil mencibir Mingyu.
“Gue ngunyah tapi gak selambat lo. Lagian, makanya itu ada asam lambung. Betul, kan?” balasnya keras kepala.
Lamunannya buyar ketika Minghao meletakkan piring karton berisi curly fries miliknya ke atas nampannya yang hanya terisi sampah.
“Makan aja, tuh.”
Mingyu berharap seluruh perasaannya tidak tumpah melalui tatapannya yang terpaku terlalu kuat pada wajah Minghao.
Saat Minghao mulai merapikan sampah sisa makanannya, Mingyu angkat bicara. “Gue antar lo pulang, ya?”
“Naik Gojek aja,” tolaknya singkat.
Mingyu menggigit lidah. Entah sudah berapa kali dia menggunakan kata ini kepada Minghao, tetapi dia harus mengatakannya. “Please?” suaranya kecil.
Tatapan Minghao rendah saat dia mengangguk pelan. “‘Kay. Ayo.”
Hening dan senyap yang pedih menggelayut di langit-langit mobil sepanjang perjalanan. Lagu yang melantun dari speaker tak guna mengalahkannya.
Semua ini salahnya, Mingyu pikir.
♡
