Actions

Work Header

Gores

Summary:

“Eh, Cup. Enaknya hubungan sesama jenis itu, apaan sih?”

Seolah dijatuhkan dari remang angan tertingginya, Ucup tersadar dan mendongakkan kepala pangling tatkala suara yang mengalun itu, tiba-tiba mengagetkan lagi memberhentikan detak jantungnya.

.

Piko bertanya suatu hari : kesaksian pada kanvas yang belum terselesaikan sepenuhnya—ada dua laki-laki yang tergambar dalam sketsa. Berpandangan. Hanya siluet yang tak sempurna, namun Ucup tahu itu akan berkembang menjadi dua insan lelaki yang saling mencinta. Apa yang dituju, Ucup pun tidak mengerti. Tetapi kenihilan itu tidak memberhentikan tangannya, yang meraih; mengabdikan diri semata untuk menggambarkan apa yang sepatutnya dicintai.

Notes:

Mencuri Raden Saleh © Angga Dimas Sasongko, Visinema Picture
Gores by SeiYoshi

.

Yusuf Hamdan | Piko Subiakto
the Hacker x the Forger

fanfiksi ini milik Susu Coklat. Saya hanya mengembangkan dan menuliskan cerita sesuai keinginan yang bersangkutan.
ditulis pada 7 September 2022, pada jam 11:40 AM.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tiap kali Piko terdengar mengelukan betapa tangannya yang lihai menciptakan mahakarya, maka bagi Ucup : Piko itulah keindahan yang mempesona.

Ucup paham betul kinerja tersebut ketika dia bisa melihat dari dekat bagaimana tangan lelaki itu dapat bekerja. Gores demi gores yang rekannya torehkan pada kanvas tidak berwarna, seiring padu cat cair yang dia sambut untuk memenuhi tiap rumpangnya.

Maka ada sedikit sentimen yang tercipta tatkala Piko tahu kegiatannya itu membuat sekujur tubuh tergugah tanpa sebab : dalam diam, keheningan yang benderang, setitik inci putih tanpa luput dalam sorot mata yang tenggelam. Betapa besar antusiasme itu menggolongkannya dalam ciptaan indah. Bagi Piko; melukis itulah semestanya.

Ucup akan menemukan laki-laki itu terdiam di studionya : menatap lekat-lekat kanvas demi membangun pundi terhadap apa yang ingin dihasilkan melalui tangannya yang piawai. Tiap detik itu; meski mereka terpaut dalam jarak non-romansa yang selalu tumbuh tiap kali Ucup berdekatan dengan lelaki pujaan hatinya, Ucup tak pernah jujur bahwa dia berkata hatinya berdegup saat mendapati Piko dalam keadaan berapinya.

Menurut Ucup, inilah roman. Apa yang dia sebut dalam hatinya; apa yang Ucup inginkan ialah suatu waktu dia bisa memiliki Piko untuk dirinya. Piko yang—menawan. Piko yang—hanya melihat dirinya seorang. Ucup membutuhkan tempat supaya dirinya terasa lebih spesial di mata temannya yang sayang, tidak bisa membawa hubungan lebih dari rekan.

Ucup selalu berpikir begitu, sehingga dia menyerah sebelum benar-benar mengetahui apakah sepenuhnya memang Piko tak pernah tertarik dalam urusan bercinta antar sesama. Mereka serupa; pria dan pria, pantasnya hanya sebatas berbagi cerita dan petualangan bersama. Bukannya malah—

“Eh, Cup. Enaknya hubungan sesama jenis itu, apaan sih?”

Seolah dijatuhkan dari remang angan tertingginya, Ucup tersadar dan mendongakkan kepala pangling tatkala suara yang mengalun itu, tiba-tiba mengagetkan lagi memberhentikan detak jantungnya.

Alis Ucup mengernyit.  Pernyataan yang tidak terduga keluar dari sosok idaman kasih dalam imajinasi terdalamnya. Piko, pujaan hati yang diam-diam telah disukai Ucup dari lama, masih sibuk di dalam khayalannya dengan tangan yang melukis tanpa menjeda.

Bahkan jikalaupun bibirnya telah berkata membawa persoalan tak koheren sampai pada permukaan, Ucup tidak pernah sebersit pun terpikirkan hal itu yang bakalan muncul dalam benaknya.

“Kok, tiba-tiba nanya begitu?” Ucup kalang kabut. Dia yang duduk dengan bagian punggung kursi tepat di depannya, pada hadapan Piko, berjengit. Ucup menegakkan punggung, memastikan apa yang lalu terlewat bukanlah salah dalam pendengarannya. “Apa yang merasuki lo sampai ngomong aneh-aneh begitu?”

“Gak tau?” Piko berhenti, seperti yang diharapkan; menempatkan diri bertatap-tatapan pada Ucup dengan celemek penuh percikan cat warna. “Tiba-tiba kepikiran waktu ngelukis.”

Ucup lihat kembali kesaksian itu. Di belakang Piko, tepat pada kanvas yang belum terselesaikan sepenuhnya : ada dua laki-laki yang tergambar dalam sketsa. Berpandangan. Hanya siluet yang tak sempurna, namun Ucup tahu itu akan berkembang menjadi dua insan lelaki yang saling mencinta.

Tatapan Ucup kembali teduh. Belum memutuskan untuk bergerak mendekat. Butuh waktu untuk benar-benar menerima keterkejutan.

“Lo mau nyoba?”

“Apanya?”

“Hubungan dengan sesama cowok,”   Ucup menunjuk dirinya dengan percaya diri. “Sama gue. Tapi kalo lo tanya beneran, ya, gue juga ga tau. Kenapa sekalian gak kita coba bareng?”

“Gak usah sinting, deh, Cup.” Piko menyergah kelanjutan pengajuan itu dan dia meletakkan kembali paletnya di meja. “Gue cuma nanya. Bukan ngarep buat praktek,”

Ucup tahu penawarannya akan ditolak tanpa perlu bertanya mengenai alasan. Tetapi dari itu, senyum jahilnya mengembang. Kesalahan Piko adalah membangkitkan kesempatan Ucup untuk membawa topik itu, tanpa sadar.

Piko yang tak pernah benar-benar terjamah ataupun menjamah. Apa yang harus seseorang harapkan pada sosok cupu yang selalu menghabiskan sebagian waktunya hanya untuk berkarya? Kebanyakan diam; fokus pada dunianya, terkadang melupakan bahwa dirinya sendiri pun masih memiliki sosok yang butuh perhatian di sisinya. (Hitung Ucup menjadi bagian dari itu juga.)

Di sisi lain, Piko itu—suci. Piko itu—belum pernah memiliki pengalaman apa pun semasa hidupnya. Berciuman dengan Sarah pun, Ucup juga ragu. Perihal mengasihi seseorang dan bercinta, itu bukanlah ranah yang harus Piko kembangkan dalam dirinya. Walaupun tak pernah terkata, Ucup juga tahu lelaki ini kemungkinan tak pernah menyentuh Sarah sebelumnya.

Apa juga yang Piko harapkan dari seorang perempuan ketika dirinya bisa menikmati fantasinya yang fana? Menggores, ukir; memanjakan visual menurut kecerdikan pola pikir dan netranya yang menyelidik. Tak perlu ada pertanyaan. Ucup sudah tahu apa yang menjadi jawaban.

Tapi, dia tidak menyerah. Walaupun kengerian itu bermula dari membayangkan Sarah, sebagai kekasih Piko yang bisa kapan saja membuatnya tamat dengan kemampuan bela diri, Ucup tetap maju dan mengecup rambut panjang lelaki itu yang diraih dengan tangannya. Tiba-tiba, tak terkata. Dia berdiri. Mengagetkan Piko, dengan bola matanya yang melebar seketika.

Telah Ucup tanggalkan pula kacamata itu, meraihnya dalam genggaman yang ditinggikan. Piko yang berusaha untuk mengambilnya. Deru napas dalam deru napas. Hidung mereka menyatu. Saling menyapa kulit yang dingin.

Piko yang terlampau terkejut kini khawatir tindakan gegabahnya dalam bergerak akan mengacaukan lukisan di belakangnya. Piko enggan akan hal itu, hingga dia biarkan pula Ucup raih pinggangnya, dalam balut dekapan yang tak putus merapatkan perut mereka. Piko telah bekerja keras. Saatnya menyambut waktu istirahat.

“Cup—gak bisa. Gue masih punya Sarah. Gue gak mungkin ngelakuin ini bareng lo. Jadi lupakan apa yang pernah gue omongin tadi dan—” Pandangannya tidak bisa dijabarkan. Prakata yang keluar dibumbui dengan nada bergetar.

“Gak apa-apa, kan? Asalkan enggak ketahuan Sarah,”

Dan Ucup, menariknya dalam sebuah ciuman.

.

.

.

Bercanda atau tidak, Ucup mana mau peduli soal itu.

Piko memang sosok yang amat jauh lebih serius perawakan ketimbang dirinya. Walaupun dia terlalu gampang panik (dari apa yang bisa Ucup perhatikan) tiap ada masalah yang tiba-tiba menjeratnya, berteriak tidak jelas, mengumpat. Emosi yang tidak stabil selayak itu. Di sisi lain, setidaknya;  Piko yang rajin melakukan observasi membuatnya selalu ingin tahu—apa pun yang terjadi pada alur hidupnya ini.

Terakhir kali Ucup dapat melihatnya seintim dan dari jarak sedekat ini; ialah ketika hujan itu mengguyur tubuh mereka. Piko yang frustasi di bawah rintik air. Ucup yang datang menghiburnya dalam kondisi gelap mata. Tidak disangka akan ada tangis. Tidak disangka Piko yang sekuat dan setenang itu, bisa mengalami panik.

Atau, ketika mereka terjebak di dalam tempat sempit yang sama? Saling berhimpit, rela karena menghindari pengejaran petugas. Ucup dapat rasakan aroma tubuhnya. Piko yang bertremor dalam keadaan tidak menyenangkan yang melanda juga rasa sakit di jantungnya.

“Cup … berhen—”

Dan serupa pula; Piko seperti dalam rengkuh tubuhnya saat ini.

Rasa penasaran yang membuat lelaki itu selalu ingin mencari tahu berujung pada kesepakatan yang dituai tanpa arah. Anggapan demikian membuat Ucup tidak memiliki sedikit pun rasa malu buat menyentuh lelaki itu, dalam porselek keanggunan yang bergetar takut; Piko kulum bibirnya, menahan rintih yang meluncur padahal Ucup baru menyentuh dada dan perutnya saja. Barangkali, rasanya menggelitik? Atau lebih tepatnya, aneh? Seharusnya, Piko jabarkan ini jika dia  sudah sepenuhnya mengilhami bagaimana posisi menjadi wanita.

“Gue sebenarnya gak mau melakukan ini,” Piko menutup matanya dengan sebelah tangan. Apa yang terjadi, dia tidak mengerti. Tahu-tahu saja, mereka sudah berada di ranjang. Ucup yang membawanya dalam gamit tak terelakkan—hempasan badan hingga punggung yang menempel pada sprei. Dan itu, bergilir dengan kecupan kasar.

Ucup tatap matanya. Sirat penuh keputusasaan, tetapi tidak ada yang benar-benar Piko tolak dari perlakuan tak senonohnya. Sepatah ucapan pun tiada yang keluar. Hanya karena dia; tak tega membuat Ucup kecewa dan menghentikan segalanya secara sepihak saja. “Cup, gue … masih—”

“Udah, enggak apa-apa. Gak usah peduliin apa pun.” Ucup mengelus pipi Piko, yang gemetar begitu parah, menyesal. Persoalan Sarah malah membuat Piko mempertanyakan lagi alasan mengapa dia bisa sampai pantas mendapatkan wanita itu sebagai kekasihnya. Tidak ada kesetaraan sama sekali. Yang didapat—dan Piko, telah menyia-nyiakannya dari lama. “Nikmatin aja dan diem, oke?”

Jemari sampai di bagian bawah perutnya, ditekan di balik permukaan celana yang yang bagian resleting-nya hendak diturunkan. Napas Piko duluan tidak teratur. Otak dan rasionalitasnya mencemooh ini. Tetapi mengapa dia tidak bergerak untuk melawan? Bukankah Piko memiliki kekuatan kalau itu untuk sekadar menyingkikan? Ucup, dalam senyumnya yang tak terdefinisikan; ada kepuasan, dan juga gejolak dalam penyertaan.

Tangan yang kemudian meraih kejantanan, membuat Piko merasa telanjang. Tidak berpenutup lagi. Ucup melucutinya. Pun dengan kaus yang disampirkan ke atas, menampilkan dada bidang dan puting kecil yang dimainkan. Tegang. Keras. Seirama Piko mengulum bibirnya, berusaha agar tidak ada sedikit pun rintih yang lolos atau berucap sesuatu yang membuat Ucup justru merasa puas.

“Ughhh … akkhhh … ini enggak benar, Cup—”

“Apa lo pernah beginian sama Sarah sebelumnya?”

Menggeleng lemah, apalah arti kenikmatan yang baru semacam ini pada diri Piko. Dia tegaskan : Piko tak pernah menyentuh Sarah sebagaimana dia menjamah lukisan-lukisannya. Dia tidak pantas menodai gadis itu. Tidak ketika dia tidak memiliki alasan untuk melakukan itu.

Hanya permasalahan waktu sebelum dia meluncur, Piko merasakan sesuatu yang basah, lorong hangat dan lengket, menyergap kelaminnya.

Ucup memasukkan batang kemaluan itu pada mulutnya. Menyesapnya begitu dalam, menghasilkan suara kecapan vulgar yang membuat Piko merasa malu. Sesekali dia lepas kuluman itu, sembari tangannya mengocok kemaluan Piko sampai sepenuhnya tegang, teliti dan sabar. Bagaimana cara dia memainkannya dalam upaya memanjakan—tak ada sedikit pun bagian yang lewat masuk dalam kerongkongan.

Hisap, lumat, sesekali menggigit. Napasnya menggelitik pangkal privasinya yang terasa dingin. Piko menjambak rambut panjang temannya.

 “Cup … Ucup … ughhh—”

Ibu jari Ucup yang menutup akses uretranya membuat Piko tersentak. Sebelah tangan Ucup yang lain—yang bebas, menyentuh sekilas pada bagian bawah zakarnya. Merabanya. Mendorong masuk, sedikit, satu jari dan sensasinya bukan perih, melainkan janggal. Hal paling memalukan untuk diperlihatkan itu ialah ekspresi Piko yang jadi tak kentara karenanya.

Suaranya serak parau. Telah menangis Piko, walaupun pelayanan itu bukanlah sesuatu yang terlalu buruk di antaranya.

“Cup … lo harus berhenti, aa-ahhhh …” Piko tarik rambut panjang Ucup, sampai ikatannya terlepas; mengisyaratkan bahwa dia tidak tahan dalam mencapai titik klimaksnya. Piko mengerang sementara Ucup belum melepasnya. “Gue mau keluar—ahh ….”

“Engga boleh dulu,” Ucup menggenggam penis itu dengan kencang, memblokir jalan keluar tiba-tiba. Piko mengejang. Ujung matanya berair. Sakit. “Gue gak mau lo langsung keluar.”

Tidak akan ada sperma yang dibiarkan lolos, sampai Ucup bisa menikmati Piko yang menggelinjang. Menyeru namanya dengan lebih merdu lagi, atau menggerakkan pinggul meminta lebih seperti menyerahkan harga diri. Piko membulatkan matanya. Setelah mulut, pergerakan itu kian intens menyentuhnya di bawah sana.

 “AKH!?”

 “Tahan, Piko. Jangan langsung keluar, ya?”

Andaikata titah itu dibarengi oleh pergerakan tangan yang juga berhenti melakukan penetrasi, Piko pikir itu masuk akal dan dia bisa menyanggupi. Tetapi, Ucup terlalu menikmati alur permainan yang didominasi. Memaksa masuk jari-jarinya yang entah sejak kapan telah bertambah tiga di dalam lubang temannya.

Begitu aneh. Rektumnya menjepit tidak oleh karena Piko belum terbiasa menerima benda asing. Ucup menusuk dan mencari prostatnya yang jauh tertanam di dalam—dan jemarinya yang panjang, secara sukses mencapai titik itu dengan baik.

Kaki Piko bergerak tidak nyaman. Terutama selain karena Ucup tetap memompa penis sembari menutup ujung kelaminnya, dia juga menabrak prostat Piko berkali-kali.  Gerakan yang memutar dan tak terkendali. Satu-satunya yang lolos dari batang Piko adalah precum. Tapi Piko tegang sampai mampus. Air liurnya tumpah dari sisi bibir. Piko gagal mempertahankan kendali dalam menyenangi kenikmatan duniawi.

“Cup—Ucuupp … akkhh mmmnn! Gue mohon! Gue mau keluaar … aaaahhhh saakiit, Cup … lepas—” satu-satunya perlawanan itu, dilakukannya dengan berusaha menarik tangan Ucup agar menyingkir. Membiarkannya untuk keluar.

“Udah gak tahan lagi emangnya?”

“Hahh—gaak usah main-maiiinn … ughh aahhh nhhg!”

Ucup tertawa senang. Satu dorongan paling kuat yang bisa dia berikan pada laki-laki itu di dalam sana, berbarengan dengan tangannya yang melepas genggaman dan blokade pada lubang. Yang meluncur dari batang kemaluannya adalah sperma kental; akibat tertahan banyak—membasahi sekujur perut dan sebagian menyiprat ke wajah Ucup.  Napasnya kembang kempis. Tatapan Piko sayu dan menyedihkan. Keringat yang bercucuran itu memperjelas bukti bahwasannya, seseorang yang ahli dalam melakukan hacking juga memiliki kemampuan jari yang mumpuni.

Piko kemudian membalikkan posisinya menjadi terbaring menyamping. Menghindari kontak langsung dengan Ucup dan menyembunyikan kelamin dengan merapatkan kaki. Rasanya gila. Seluruh rasionalitas dari Piko itu sendiri jadi tercoreng. Dia tidak mengharapkan Sarah mengetahui ini, tetapi bagaimana jika hal yang ditakutkan tersebut mau tidak mau datang dan membuat Piko harus menerima segala konsekuensi—

Piko yang menawan. Piko yang sayangnya bukan miliknya. Ucup memeluk laki-laki itu dari belakang, sama sekali tidak menyembunyikan dirinya yang juga mengalami ereksi. Belum tampak ingin menyudahi sesi, Ucup mengendus leher Piko yang seketika bergetar. Memberikan kecupan, sentuhan penuh kasih sayang—dahinya mengernyit. Ah, betapa dia ingin membuat Piko mendesah, lagi dan lagi.

“Udah cukup …” Piko menoleh sedikit mendorong wajah Ucup yang nyaris bersentuhan bibir dengannya. Tidak lagi dengan ciuman. Piko masih menganggap itu terlalu intim dilakukan antar sahabat. Ucup yang masih memakai celana, menggesek selangkangannya pada bokong Piko yang menyamping. Penolakan yang membuat Ucup hanya mampu menciumi leher, dan meraih kemaluannya lagi.

Piko merasa panas. Tentu ialah sebab Ucup yang menggerayangi perut dan dadanya, kembali memijat penis pemuda itu kembali. Piko masih lemas. Dia tidak peduli apakah Ucup masih keras, karena dia hanya ingin beristirahat dan memejamkan mata. Melupakan hal ini esok harinya, sehingga tidak ada kesenjangan perasaan yang terjadi di antara keduanya.

“Cup … berhenti, gue baru aja keluar—ahhh”

“Mnnh, gue cuma niat kelarin sisanya aja, kok.”

“Gila lo—hheghhh!”

Berkali-kali. Sentruman itu. tak berhenti. Gesekan yang dibarengi oleh pinggul Ucup yang bergerak, juga tangannya yang tidak berkeinginan berhenti dalam memberikan pijatan. Pembatasnya memang berupa celana tanpa ada sentuhan antar kulit—tetapi rasanya begitu keras dan panas. Piko menggigit bibir bawahnya sendiri. Sangat tidak teratur dalam pernapasan dan meraup oksigen di sekitar.

Sesak dan aneh. Kalau seperti ini terus, apakah dia akan klimaks lagi? Dua kali sementara Ucup belum mengalami pelepasan apa pun? Ketika Piko berpikir dia mengalami ejakulasi untuk yang berikutnya, hal lain yang justru keluar dari penisnya ialah cairan bening tak terduga. Piko membuka matanya lebar-lebar. Likuid itu terus mengalir, melimpah ruah dengan banyak dibarengi sekujur tubuh Piko yang bergetar. Stimulasi dari Ucup yang sengaja mempermainkannya—dan bagi Piko, seluruhnya terasa memalukan.

“Cup … sialan—” Piko syok; menutup wajahnya karena malu, menggertak giginya. Kalau boleh meminta, Piko ingin menghajar Ucup sekarang juga. Namun tidak bisa. Perasaan yang merajainya saat ini hanya penuh oleh rasa lelah. Piko terlalu lemas untuk menindaklanjutinya. Ucup membalik Piko dengan menarik tangannya, membuat kepalanya berhadapan dengan ceruk pemuda itu. Mencium aromanya dengan lebih baik lagi.

“Tidur aja kalo lo emang mau. Biarkan gue selesain sisanya sendiri …”

“Ughhh …” Piko dapat merasakan Ucup membuka celananya, menyelipkan kejantanannya yang berdiri di antara paha Piko. Maju mundur. Namun tanpa penetrasi. “Gue gak mau lagi ngelakuin ini—”

“Oh, ya?” Ucup terdongak, mendekapnya lebih kencang; desah yang keluar, seirama dengan ratapan penuh harap yang keluar. “Ini belum ada apa-apanya dibandingkan seks beneran. Gue hanya bantuin lo keluar, enggak lebih.”

“Ughh … ‘bantu’ doang tapi lo sendiri tegang?”

“Kalau yang itu apa boleh buat,” Ucup menampilkan deret giginya dalam senyum yang menyebalkan. Sedikit sentakan membuat Piko mencengkram bahu Ucup, merapatkan kakinya lebih dekat, lalu lingkar tangan yang melilit di leher. “Pinjam … paha lo sebentar—”

Ucup mencintainya. Sangat mencintainya. Sayangnya pernyataan tersebut tidak akan pernah tersampaikan; meski nanti mereka bawa berkelana persoalan itu sampai ke ujung dunia sekalipun. Tapi, siapa peduli? Selama Piko berada di sisinya; meskipun yang bersangkutan sendiri tak pernah mengharapkan hal yang bukan merupakan inti dari pertanyaan yang pernah terlontarkan itu sampai terjadi karenanya; Ucup akan tetap menggemarinya. []

Notes:

fanfiksi ini DISELESAIKAN SEBELUM saya menonton karya film aslinya. Oleh karena itu, mungkin ada beberapa inti kalimat dalam paragraf yang tidak mengalami relevansi dengan alur film sebenarnya.

Anyway, still. Filmnya memang sebagus itu dan saya cukup menikmati ketika menonton filmnya bersama teman di bioskop. Terima kasih atas rekomendasi dan kesempatannya pada oknum Susu yang telah membuat saya dapat menulis ini <3