Work Text:
Jumpa pertama mereka bukanlah pertemuan tatap muka di koridor kampus; melalui telinga, Mingyu bertemu dengan Wonwoo.
Selasa, di akhir tahun lalu, sore di tengah kota yang Mingyu tinggali menjadi langganan tergerus hujan. Langit pagi yang begitu cerah berhasil mengecohnya untuk tidak bersiap-siap dengan hadiah dari langit. Tidak sendiri, mahasiswa lalu lalang yang diingatnya hanya memakai kaos di pagi hari, berubah diselimuti jaket di sore harinya.
Mingyu waktu itu duduk-duduk di gedung sekretariat, menunggu hujan reda karena sialnya hari ini dia membawa motornya, bukan mobilnya.
Headset -nya tertinggal, sialnya. Ia mengalah, tak mungkin mendengarkan playlist- nya dengan beberapa mahasiswa di sekitarnya yang bernasib sama. Maka Mingyu beralih membaca timeline twitter-nya, berdengus saat melihat teman sekelasnya, Seokmin, yang sudah mendarat selamat di rumah pacarnya.
Di tengah-tengah kegiatan membacanya, ia tersela oleh bunyi krosak-krosak dari speaker di dinding yang disandarinya.
“Sore teman-teman semuanya yang masih di kampus. Kejebak hujan, ya?”
Oh, radio kampus jam 4 sore.
Hanya satu kalimat, tapi si penyiar di belakang pengeras suara itu terdengar congkak, menyindir Mingyu dan semua mahasiswa yang sepatunya basah, tapi fokus Mingyu bukan di isi siarannya; Siapa? Kenapa Mingyu baru sekali ini mendengar suara ini? (atau Mingyu tak pernah tau, tak begitu memperhatikan siaran kampus.)
Tak seperti yang lain, Kim Mingyu malah berfokus pada suara si penyiar yang entah kenapa membuatnya tiba-tiba tertarik, tiba-tiba menajamkan pendengarannya dan meninggalkan layar ponselnya, tiba-tiba ingin menjilat ludahnya sendiri karena pernah melabeli siaran radio kampus sebagai hal yang membosankan.
Si penyiar kini membaca pesan dari website khusus anak-anak radio broadcast. Bermacam-macam jenisnya; salam anonim untuk yang dipuja, protes kecil-kecilan untuk dosen yang hobi mengerjai mahasiswanya dengan tugas atau sekedar request lagu.
Mingyu jujur gak peduli. Telinganya malah berpusat pada suara si penyiar yang terdengar berat, yang sebenarnya bisa saja dibuat-buat tapi ia pikir tak mungkin . Tenggorokan seseorang akan sakit jika memaksa membuat suara sedalam itu.
Lidahnya menjulur membasahi bibir. Kim Mingyu begitu penasaran, bagaimana sosok asli di belakang microphone si penyiar? Karena anehnya, dengan suara seberat itu, imajinasinya tidak membawanya kepada seseorang lelaki menakutkan dengan tinggi badan minimal 190 cm dengan otot dimana-mana.
Bagaimana bisa? Kata-kata yang diucap si penyiar terdengar mendayu-dayu, seakan berdansa di udara sebelum masuk ke telinganya. Tawanya memabukkan, bergema kalem di tenggorokannya, memberi kesan mengejek dan nakal, bukannya tawa yang dilepaskan saat seseorang bahagia. Yang mengalun di telinga terdengar memikat, hampir menggoda, malah. Ini juga memang dipengaruhi otak Mingyu yang memang mesum, tapi Mingyu tak mau dirinya di salahkan. Ia yang digoda, disini ia korbannya, yakinnya dalam hati.
Hujan mereda dan Mingyu tak langsung lari ke parkiran menjemput motornya. Ia masih duduk disana, tanpa alasan. Siaran dari lelaki yang masih misterius tadi juga sudah berakhir sejak tiga menit lalu.
Mingyu tersadar dari lamunannya saat pintu masuk sekretariat di sampingnya terbuka berkat seseorang yang keluar dari sana.
Sang mahasiswa tidak menengok siapa , tak peduli siapa , sampai si lelaki yang baru saja keluar dari gedung sekretariat dan berdiri tak jauh dari Mingyu mengangkat teleponnya.
“Baru selesai—,” katanya menyahuti siapa saja yang di seberang sana, “ruang siaran kan lagi direnovasi—oke, gue tunggu di sini ya.”
Dengan suara yang familiar di telinganya, yang tak mudah dilupanya, Mingyu menyipitkan matanya pada pemuda yang berjalan untuk duduk di tempat yang masih tak jauh darinya.
Ditatap begitu intens, si objek pandangnya balas menatapnya tepat di mata, dibalik kacamatanya.
Mingyu mengedip.
Dia benar soal lelaki yang tak mungkin menyeramkan atau berbadan besar mengintimidasi.
Karena Lelaki yang balik menatapnya jauh, jauh sekali dari semua itu.
Suara yang mempesona memang sudah seharusnya dimiliki yang berwajah mempesona.
.
“Hmmh, Mi-Mingyu—”
Wonwoo ada di bawahnya, memunggunginya, dengan bokong yang naik tinggi ke atas, menjemput apa yang diberi Mingyu.
Setelah berhasil meraih sebelah tangan Wonwoo untuk ditarik ke belakang, Mingyu memaju-mundurkan pinggulnya lebih giat, mengeruk dalam-dalam tubuh Wonwoo dengan penisnya.
Tangan yang gatal mengusap sensual sebelum memukul keras bokong sang pemuda yang di depan; Erangan keras menjadi balasan.
“Hngg— apa sih— Mingyu!”
Tiga bulan berpacaran, Mingyu merasa istimewa karena cuma dia satu-satunya yang tahu sisi berlainan dari Wonwoo di kesehariannya.
Wonwoo di ranjang terdengar manja, mengoceh (memohon) Mingyu untuk memasukinya lebih dalam, untuk tidak keterlaluan memainkan puting dadanya, untuk melepaskan kondomnya.
Wonwoo, yang di siaran radionya terdengar bagai mahasiswa cerdas dengan tutur katanya yang cakap hilang saat melahap dan dilahap Mingyu. Yang keluar dari mulut Wonwoo bukannya nasihat, bukannya kata-kata penyemangat di sore hari sebagai seorang penyiar; Jeon Wonwoo tak bisa berkata-kata di bawah Kim Mingyu. Ia terdengar bagai speaker yang rusak, yang berisik tanpa ada yang tahu apa yang diucapnya.
Wonwoo yang punya kebanggaan sendiri karena begitu disukai penjuru kampus lenyap ketika tubuhnya bersih namun kotor oleh gigitan sang kekasih. Kedua mata pemuda berwajah elok yang jadi idaman itu akan terbalik karena nikmat, kacamata bertengger longgar di tinggi hidungnya. Matanya berair saat Mingyu dengan tak sopan menjilati analnya, tak sanggup menahan malu saat suara edible lubricant yang dituang banjir oleh Mingyu sampai di telinganya. Wajahnya yang apik dialiri keringat dengan bercak merah memadamkan tulang pipinya.
Wonwoo, dengan suara yang seharusnya berat, yang terkenal menghanyutkan, menurut saat Mingyu memintanya membuang itu semua dengan meminta hal paling menggelikan, paling konyol sedunia.
“Hei? Wonwoo?”
Mingyu, masih dengan pekerjaannya yang memuaskan hasrat pacarnya di siang bolong, di kamar kosannya yang sempit, membalik tubuh Wonwoo untuk menghadapnya.
Seperti biasa, saat kegiatan seksual mereka terlalu intens, Wonwoo selalu terlihat malfunctioning, tak dapat menggapai kesadarannya di dunia selain rasa menyesakkan di tengah tubuhnya.
“Pretty— the prettiest kitten,” Mingyu mengecup pipi pemuda terkasihnya yang matanya hanya setengah pandang, kemudian berbisik tepat di telinganya, “kitten, meow for me?”
Wonwoo yang mendengar permohonan pacarnya seperti disentil, matanya mengedip sebelum menatap Mingyu, tak yakin dengan apa yang didengarnya. Bukan salahnya meragukan pendengarannya karena pinggul Mingyu masih bergerak di atasnya walau sangat berkurang intensitasnya. Pinggulnya berputar, menyeret dindingnya.
“Hm? Meow for me?”
Akhirnya dicerna otaknya, Wonwoo mengernyit.
“M-meow apa—?”
“You know how, baby,” Mingyu tersenyum begitu jahat, “kamu kan suka ngomong sama kucing-kucing di kampus.”
Kalau penis Mingyu bukan sedang di dalamnya, bukan sedang bergerak pelan dan membuat Wonwoo frustasi, lelaki dengan rambut hitam legam itu sudah pasti akan memukul kepala Mingyu.
”—or else I won't let you come.”
Mingyu tahu betul dimana harus mendorong dan menarik pacarnya, tahu betul bagaimana cara agar Wonwoo tak akan menolaknya.
Jelas Mingyu tahu kalau Wonwoo tak mau hal itu sampai terjadi. Di kampusnya tadi, Wonwoo tak bisa menarik perhatiannya dari Mingyu yang datang merecoki latihan band adik tingkatnya, menggebuki drum yang sudah lama tidak disentuhnya. Otot tangannya menggembung saat ia melepas kemeja flanelnya, menyisakan Mingyu yang bermain di balik alat musik pukul itu dengan kaos hitam yang agak ketat di lengan.
Akibatnya? Wonwoo langsung saja menciumnya saat sampai di parkiran mobil dengan tangan yang meraba-raba kemana-mana.
“Mi-Mingyu—”
Mingyu menggeleng, “Meow for me, Kitten.”
Tau permintaan baik-baiknya susah diterima, Mingyu langsung banting setir: permintaan berubah menjadi perintah. Walaupun sering menyangkal, Wonwoo begitu suka saat ia ada di bawah kuasa Mingyu. Entah kenapa, lelaki itu sulit untuk menolak maunya apabila Mingyu sudah menggunakan nada perintahnya, dengan alis menukik serius dan tatap mata yang mampu menembus keras kepalanya, menjadikan Wonwoo penurut.
Wonwoo menggigit bibirnya, desahan halus masih menyela keluar dari belah bibirnya karena kefrustasiannya dengan gerak Mingyu yang terlalu lamban, tidak sama sekali memuaskannya.
Lelaki di bawah menggumam, Mingyu tak puas.
“Apa? Wonwoo, look at me ,” Mingyu mencolek dagu Wonwoo untuk menatapnya, “what did you say, kitten?”
Wonwoo menelan harga dirinya, menepis malunya.
Pipinya bersemu makin merah, matanya menatap melas pacarnya di atas.
“Mm—meo— meow...”
Hadiah pertama untuk kitten- nya yang pintar, Mingyu menabrak keras Wonwoo di bawahnya. Hasilnya, penis Mingyu menembus makin dalam, buat Wonwoo terkesiap sampai pundak telanjang Mingyu digores sedemikian rupa.
“Ulangi lagi, sayang?”
Wonwoo, dengan suara yang seharusnya berat, yang terkenal menghanyutkan, menurut saat Mingyu memintanya membuang itu semua dengan meminta hal paling menggelikan, paling konyol sedunia, menuruti kembali mau Mingyu dengan suara yang tinggi, yang serak karena mendesah sejak dilempar Mingyu ke atas ranjang.
Hadiah pertama tadi begitu menjanjikan. Satu kali tabrakan dan Wonwoo merasakan listrik sampai ke ujung kukunya. Ia ingin lagi, lagi, lagi. Walau harus menelanjangi harga dirinya, harus menaikkan suaranya, kalau ia bisa merasakan lagi bagaimana dalamnya Mingyu di sela tubuhnya tadi, ia tak mau ragu—
— Wonwoo menggigit pergelangan tangan Mingyu di samping wajahnya yang sedang menopang tubuhnya. Lidahnya yang mungil terjulur, menyisir kulit Mingyu.
“Mmeow,” rintihnya dengan mata memohon- nya, Wonwoo mengendusi Mingyu dengan hidungnya, “mmh— Mingyu— mmhweow— mmeow--”
“Shit, Kitten,” Kim Mingyu tertawa kecil, mengejek, begitu menyebalkan, “things you do for my cock.”
Mingyu tahu kalimat barusan berpotensi melukai harga diri pacarnya yang setinggi langit. Kiranya, ia akan digigit oleh sang pacar di bawahnya.
Alih-alih, mulut terbuka Wonwoo bukan untuk menggigit. Gigi-gigi yang mengancam merobek kulitnya tak berarti saat si pemuda yang ternyata kakak tingkatnya itu malah mengulum pergelangan tangan Mingyu, sebanyak yang mulut kecilnya bisa raih.
Lelaki di atasnya menggumamkan umpatan, sebelum membalas Wonwoo bertubi-tubi dengan gerak pinggulnya yang buas.
“Ooh—Mingy— u— Mhmmmah—”
Mingyu tak bisa untuk tidak menggigit keras-keras leher sang kucing yang meninggi, bersama dengan harga dirinya yang terjun ke jurang karena di tengah desahnya yang kering dengan tenggorokannya yang gersang, Jeon Wonwoo mengeong tanpa aba-abanya. Terdengar bagai kucing betina di masa kawinnya, mengeong lemah mencari perhatian si jantan untuk membuahinya.
Jeon Wonwoo yang terlihat sedang terbang dimanja Mingyu, terbaring naik-turun sebab lonjakan pinggulnya yang liar begitu menginjak-injak kewarasannya, menaikkan egonya karena sang pacar yang adalah model student di kampusnya, yang jadi contoh baik mahasiswa bahkan sampai fakultas sebelah bisa dibuat begini berantakannya, dicabik-cabik akalnya, dibisukan tuturnya, diperintahnya untuk mengeong hanya untuknya.
‘Oh I wish i can make him full, so full of me—’
Hampir menapaki garis finish- nya, rentetan imajinasi Mingyu yang lewat barusan disuarakan begitu saja.
“I will let it out inside,” bisiknya di rahang Wonwoo, ”want to pump you with my seed, Kitten.” desahnya di akhir kalimat.
Mingyu terkoyak punggungnya, mengerang saat penisnya dijepit; Wonwoo gemetar di bawahnya, tersihir kalimat Mingyu yang begitu menekan hasratnya sampai meletus bagai lahar berapi yang akhirnya memuntahkan gejolak panasnya.
.
Di akhir sesinya, saat nalar yang beterbangan sudah kembali, dengan tubuh yang lengket sebab keringat, penolakan untuk mandi dan merah-ungu di leher yang masih mekar, Wonwoo tak mau keluar dari selimutnya.
