Actions

Work Header

And Maybe..

Summary:

Wonwoo adalah budak korporat yang selalu menggunakan Friday Night sebagai quality time dengan teman-temannya, suatu saat dia mencoba restoran yang viral di sosial media karena ajakan Hao.
Sedangkan, Jatuh cinta pada pelanggan di restorannya tidak pernah terbayang oleh Mingyu.
Namun suatu hari ada yang aneh dari keduanya. Lalu apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya?

Notes:

This is my first AO3 and the longest narrative I've ever made. Hope you will enjoy it.. there will 2 part for this. So, enjoy the rides :)

Chapter 1: And Maybe..

Chapter Text

Sama halnya dengan malam Sabtu lain, salah satu restoran di bilangan Jakarta ini selalu ramai. Restoran yang terkenal dengan tempatnya yang berada di daerah anak-anak gaul Jakarta Selatan, tak hanya itu, tapi juga terkenal dengan chéf, waiters dan ownernya yang tampan. Jadi, disinilah Jeon Wonwoo dan kedua temannya, datang mengunjungi restoran yang sedang viral di sosial media dan salah satu applikasi yang lagi ngetren itu.

"Ini tempatnya?" Tanya Wonwoo.

"Iya, kalau yang gue liat di Insta, ini udah sesuai sama alamatnya." Kata salah satu temannya yang kini sudah berdiri di sampingnya dan ikut menatap logo nama restoran itu 'And Maybe'.

"And Maybe?" Tanya temannya yang lain keluar dari pintu penumpang. "Udah reservasi kan? Rame banget, liat deh." Katanya lagi.

"Viral karena emang makanannya enak atau chéf, waiters sama ownernya ganteng, Hao?" Tanya Wonwoo.

"Katanya makanannya enak, but I don't know. Let's prove which one is right?" Jawab temannya yang dipanggil Hao itu. "Ayo, Ji!" Ajaknya kepada temen lainnya.

"Just grab some food. Gue lapernya hampir mau meninggal! Tapi bener udah reservasi kan?" Tanya pria bawel yang bernama Jihoon itu menepuk bahu Wonwoo dan mengajaknya masuk.

"Udah, baweelll. Ayok!" Ajak Hao yang sudah berjalan di depan dan diikuti oleh dua pria lainnya.

Dan di sinilah mereka, di salah satu meja yang disediakan untuk mereka bertiga, di dekat jendela kaca yang memberikan view backyard, berwarna hijau, membuat siapapun yang memandangnya akan terasa nyaman dan rileks -- seperti yang sedang Wonwoo lakukan kali ini.

"Won, makan apa?" Tanya Hao.

"Apa aja, pilihin asal bukan seafood I'm good." Jawabnya, matanya masih tidak lepas dari lampu-lampu dan halaman belakang restoran ini.

Hao dan Jihoon sudah memesan, pelayannya pun sudah pergi dari meja mereka. Hao menatap Wonwoo dan bergantian menatap Jihoon. "Lo kenapa deh, Won?" Tanya Hao.

"Lo liat deh, lucu banget di tengah kota ada yang kepikiran bikin halaman belakang." Kata Wonwoo menunjuk backyard yang sudah dipenuhi lampu dan mistletoe, mengingatkannya dengan nuansa natal dan akhir tahun.

"Kalau diliat dari Insta, yang lagi lo liat juga salah satu kelebihan resto ini sih. By the way Ji, lo liat ga waiter yang tadi? Ganteng banget bikin gue grogi, sampe lupa liat name tag-nya." Tanya Hao kepada teman yang duduk di sebelah Wonwoo.

"Jun." Jawab Wonwoo. "Tadi gue liat name tag-nya, namanya Jun." Jelas Wonwoo.

"Type gue banget, toloong! Ada larangan boleh ngajak waiter pacaran ngga sih di sini? Mas Jun." Kata Hao dengan nada centilnya, yang dibalas cibiran oleh kedua temannya.

 


 

Sejak hari itu And Maybe adalah tempat nongkrong yang selalu Wonwoo dan kedua temannya datangi, selain ternyata menu yang disediakan memang enak, vibes-nya yang mampu menghipnotis dan menenangkan walaupun selalu dipenuhi dengan pengunjung, Hao juga belum berhasil mengajak waiter kesukaannya mengobrol atau berkenalan.

Tapi berbeda dengan malam ini, Wonwoo datang ke restaurant itu sendiri karena tiba-tiba kedua temannya membatalkan janjinya saat Wonwoo sudah sampai dan duduk di salah satu meja yang berada di tengah restaurant ini. Kali ini berbeda dengan malam Sabtu lainnya, lokasi mejanya saat ini sangat canggung. Seperti berada di tengah kerumunan manusia namun sendirian. Dia merasa seperti sedang dibully.

"Mas!" Kata Wonwoo, memanggil salah satu waiter di sana sembari menaikkan tangannya berkali-kali namun tidak juga dihiraukan.

'Damn! I sat in the middle and alone. Awkward. Harus pindah atau pulang, tapi udah nanggung banget sampe sini.' Dumelnya dalam hati.

"Mas?" Panggil Wonwoo lagi.

"Hai, sorry. Ada yang bisa dibantu?" Tanya seorang pria tinggi, berkulit sedikit gelap dan mengenakan seragam chéf berwarna putih dengan apron bermotif garis hitam putih yang melilit dari pinggangnya.

'Oh, mungkin ini chéf yang katanya ganteng? Baru kali ini gue liat? Make sense sih kenapa rame restorannya. Ya emang beneran ganteng. Wonwoo, tidak boleh salting' Gumam Wonwoo dalam hati, sembari mengedarkan padangannya dari bawah hingga atas tubuh athletic chéf itu sambil tersenyum. Kini mungkin orang yang sedang melihatnya dapat mengatakan bahwa Wonwoo seorang pervert dan ingin menjauhkan pria itu dari chéf tampan yang ada di hadapannya.

"Hello?"

"Oh, hi!" Sapa Wonwoo terbangun dari lamunannya dengan tampang bingungnya, dia sempat melupakan tujuan mengapa tadi dia memanggil waiter yang sedang sibuk dengan banyaknya tamu di dalam ruangan ini.

"Ada yang bisa dibantu, Mas?" Pria itu mengulang pertanyaannya. Wonwoo sempat ragu untuk menjawabnya karena malu kepergok sedang melamun menatap pria yang mengajaknya bicara itu.

"Mm, gini--" kalimatnya menggantung. "Mm, ada meja kosong lain ngga ya, Mas? Saya kayanya mau pindah duduk aja deh." Kata Wonwoo sembari tersenyum canggung. Pria di hadapannya membalas senyum Wonwoo dengan tampan.

'This chéf is really handsome and smells good. Wait, how does he still smell this good when he's cooking? Jangan-jangan chef jadi-jadian.' gumam Wonwoo lagi.

"Dateng sendiri ya?" Tanyanya.

"Hah?"

"Ke sini sendirian?" tanya pria di hadapannya lagi.

"Eh, iya. Temen-temen baru ngabarin kalau ngga jadi dateng. Boleh pindah kan ya?" tanya Wonwoo kepada pria dihadapannya.

"Canggung ya?" Tanyanya.

"Hah?"

"Duduk di tengah gini sendirian, canggung ya?" Tanya pria itu, dibalas anggukan yakin oleh Wonwoo. "Haha saya bantu carikan meja lain ya." Kata pria itu tertawa dengan suara baritone-nya yang sedikit berat sembari mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari sesuatu.

"Soon!" Panggilnya tak lama, setelah menemukan apa yang dia cari.

"Lah, Boss! Ngapain di mari? Itu pesenan masak sendiri apa gimana?" Tanya pria itu sesaat ketika sudah berada di hadapan chéf yang dipanggil boss itu.

"Bawel, lagi nungguin bawang gue memotong dirinya sendiri." Katanya, Wonwoo yang mendengarnya, menahan tawa. Mingyu melanjutkan, "Bantuin mas ini cari meja deh, kasian di tengah sendirian." Wonwoo menghentikan senyumnya, mengingatkan dia karena hari ini dia akan menghabiskan makanan dan sisa waktunya di sini sendirian.

"Ngga ada meja kosong, Boss! Kagak liat apa ini penuh semua?" Tanyanya. Pria yang membawa buku menu dan tab itu kemudian melanjutkan kalimatnya, "Mas, masnya pesen dulu aja sambil menunggu pengunjung yang selesai makan gimana?" Tanya pria yang dipanggil Soon itu memberikan solusi. "Biar saya bantu untuk pesanannya ya?" Tanya pria itu dengan ramah dan menyiapkan tab untuk mencatat pesanan Wonwoo.

"Gitu aja ya? Dibantu sama Soon." Tanya pria yang dipanggil Boss itu, menunggu Wonwoo menjawab, tak butuh waktu lama Wonwoo menurutinya dengan menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu saya tinggal dulu ya, Mas. Selamat menikmati hidangan di sini." Kata pria tinggi dengan tahi lalat di pipi kirinya itu ramah, dan menepuk punggung pria berambut ash grey yang ada di sampingnya. "Tolong ya, Soon." Namun sebelum benar-benar pergi dia berbisik sesuatu yang membuat pria dengan seragam waiter itu tersenyum geli dan mengacungkan jempolnya.

"Yuk, masnya. Sudah tahu ingin memesan apa?" Tanyanya pada Wonwoo yang dijawab dengan list pesanan yang ingin pria manis itu pesan untuk dirinya sendiri.

Lumayan cukup lama menunggu pesanannya tersaji, Wonwoo masih duduk di meja awal, tidak ada tempat kosong lainnya, bahkan saat sudah ada meja yang kosong belum sempat Wonwoo beranjak meja itu sudah terisi oleh pengunjung lainnya. Akhirnya, dia menyerah dan menerima kenyataan bahwa dia makan sendirian di tengah restaurant yang ramai itu.

"Dessert in the house." Kata salah satu waiter meletakkan pannacota vanilla dengan syrup gula aren di atas mejanya yang sudah kosong.

"Tapikan saya ngga--" kalimatnya terpotong.

"Dari chéf, katanya maaf ngga bisa membantu untuk mencarikan meja lainnya." Kata waiter itu, kemudian berpamitan dengan sopan.

Wonwoo mencari pintu dapur atau apalah yang mungkin saja bisa membantunya untuk sekedar menemukan atau melihat chéf tampan yang sempat mengambil perhatiannya sepersekian detik itu, 'Got cha!' Katanya ketika melihat pria tinggi, tampan, berseragam putih di dekat pintu koboi silver yang sedang menyilangkan tangan di dadanya dan sedang melihat ke arahnya, tersenyum. Sedangkan Wonwoo yang mendadak salah tingkah itu mengangkat sendoknya sembari mengucapkan kata 'thank you' dengan gestur bibirnya tanpa suara, pria dengan surai hitam model undercut itu menundukkan kepalanya seraya tersenyum, seakan memperbolehkan Wonwoo untuk menikmati dessertnya.

Setelah menghabiskan pannacota-nya, Wonwoo segera berdiri dan meletakkan kertas putih persegi panjang sedikit tebal dari kertas biasanya, dengan ukiran nama perusahaannya bekerja, nama asli serta nomor ponselnya di samping piring kecil yang masih terletak di meja dan meninggalkan meja, menuju cashier, dan meninggalkan restaurant itu.

 


 

Sabtu, Minggu, Senin, Selasa Wonwoo menunggu nomor asing seseorang untuk menghubunginya, tapi hasilnya nihil. Semua panggilan dan message yang masuk hanya dari keluarga, sahabat dan kolega kerjanya.

"Bengong aja lo liatin handphone. Nunggu dihubungin siapa sih?" Tanya Jihoon menghampirinya dengan coffee latte ukuran grande minuman yang biasa Wonwoo minum untuk memulai harinya.

"Si chéf dari And Maybe-lah. Siapa lagi sih? Dari kemaren sampe distalking-in Instanya." Jawab Hao sembari meledek temannya yang menopangkan telapak tangannya di dagu.

"Apaan isi akunnya makanan doang! Udah kaya instafood-fluencer tau ngga lo? Ngga ada satupun mukanya, padahal ganteng!" Pria berkacamata itu memanyunkan bibirnya. "Tapi ya makanannya emang enak-enak sih. Ya kan? Pannacota-nya juga enak, gratis pula." Katanya lagi sembari tersenyum mengingatkannya pada hari Jumat saat dia makan malam sendiri sembari menyesap kopinya. 

"Ganteng, Won? Lebih ganteng dari Mas Jun?" Tanya Hao. "Tiap kita ke sana ngga pernah ketemu ya? Padahal udah 4 kali lho!" kata Hao dengan nada penasarannya.

"Ganteng, ganteng banget kalau kata gue, terus tinggi, kulitnya eksotis gitu, yang gemes apa coba? Kalau senyum, taringnya nyembul. Ah, gemes banget." kata Wonwoo, membayangkan juru masak yang dia temui Jumat lalu. "Terus, matanya duh, matanya tuh duh!" 

"Lo tuh! Kenapa ngga kenalan sih? Biasanya juga berani kenalan sama stranger atau kali ini lo langsung love at the first sight?" tanya Jihoon kepada temannya yang masih tersenyum-senyum sendiri.

"No.. no.. ini bukan cinta kayaknya, hanya tertarik. Wajar sih kalau cowo kaya gitu bikin gue tertarik." Kata Wonwoo menggendikkan bahunya. Seakan berkata 'ngga tau ah, gue pusing.'

"Dari cerita lo sih kaya yang ganteng banget ya? Secara Jeon Wonwoo kalau suka sama cowo ngga maen-maen." kata Hao.

"Type lo banget ya, Won? Gue jadi kepo, hari ini balik cepet sabi kali." kata pria kecil berwajah bulat seperti cimol itu -- Jihoon.

"And Maybe-lah kuy! Gue juga mau flirting ke Mas Jun. Haha." Kata Hao genit.

"Genit banget sumpah temen-temen gue." Kata Wonwoo menggelengkan kepalanya dan beranjak duluan untuk meninggalkan temannya, hendak kembali ke mejanya.

"Mas Won, tadi ada yang nyariin dari tukang paket tapi Masnya ngga bisa dihubungin, jadi aku ambil terus aku titip ke Seungkwan." Kata wanita yang setiap hari selalu setia menjaga meja receptionist

"Thank you, Minju." Kata Wonwoo sopan.

"Lo jajan apa? Dildo lagi?" Tanya Jihoon.

"Heh! Mulut lo!" Kata Wonwoo panik sembari menutup mulut temannya itu yang dihiasi dengan gelak tawa dari Hao.

"Hahahaha yang kemaren aja belom lo review kan?" Tanya Hao, masih tertawa gelak.

"Anjir ya kalian! Sumpah! Gue bahkan lupa kalau sempet beli barang gituan. Hadeuh! Nyesel banget cerita ke kalian emang." Kata Wonwoo melepas bekapannya. "Tapi serius, gue lagi ngga jajan apapun." Kata Wonwoo lagi ketika mereka sudah di lift, masih dihiasi oleh tawa dari teman-temannya.

Sesampainya di mejanya, pria berbadan tinggi ramping itu langsung menemukan kotak besar seperti container, dan ketika dibuka isinya adalah makanan dengan berbagai macam lauk pauknya. Wonwoo terkejut, makanan itu cukup banyak untuk dia habiskan sendiri -- tentu saja karena jumlahnya yang banyak untuk porsi Wonwoo. Tak lama, pesan singkat masuk ke dalam telefon genggamnya, pria berkacamata itu segera mengambil ponsel nya yang menganggur di atas meja.

"Enjoy your lunch, Jeon Wonwoo. Hope you like it. Pasti makanannya kebanyakan, so don't forget to share that food to your friends too, ya! -- KMG."

'Who is KMG?' Gumam Wonwoo, ada kertas juga di tempat bekal itu bertuliskan And Maybe. 'Ah, chéf. Name of the handsome chéf is KMG? Cute.'

Wonwoo dengan lincahnya membalas pesan tersebut dengan senyuman yang terukir diwajahnya siang itu. "Thank you, chéf. I will enjoy it. And please call me Wonu."

Tak lama ponselnya kembali bergetar, "You have to, aku bingung mau masakin apa. Hope you'll like it, Nu."

"I will definitely like it." Jawab Wonwoo, masih dengan senyum yang mengembang dan wajah yang bersemu karena dia mendapatkan pesan dari pria yang dia tunggu-tunggu belakangan ini, tanpa dia sadari teman satu ruangannya sedang memperhatikan.

"100 percent, he's in love." Bisik Hao.

"Certainly!" Jawab Jihoon. "Cieee yang dapet paket! Senyum-senyum aja lo! Sehat?" Tanya Jihoon penasaran dan berjalan ke arah meja Wonwoo.

"Sehat! Hehe Hoon, nanti lunch nya di pantry ya. Banyak banget, kita dikasih makanan." Kata Wonwoo menunjukkan satu persatu kotak bekal dari Mingyu dengan pipi yang masih merona merah. Kaget dan entah mengapa dia senang mendapatkan perlakuan seperti ini.

"Dari?" tanya Hao menyusul Jihoon karena penasaran juga. "Pasti Mas Koki, uhuy!" kata Hao semangat.

"Kayaknya, dia juga suka sama lo deh. Ngapain repot-repot masakin banyak makanan?" kata Jihoon.

"Yakali! Sejak kapan gue menarik sih? Bikin seneng aja lu!" Ujar Wonwoo sembari memukul gemas bahu temannya itu.

"Dih! Dih! Najis." kata Jihoon memegang bahunya dan berjalan kembali ke mejanya.

"Tinggalin aja, Ho. Susah orang lagi kasmaran." Jihoon meninggalkan Wonwoo yang sesekali melihat ponselnya sembari tersenyum girang dan menarik Hao kembali ke meja masing-masing.

 


 

Sejak saat itu, tampaknya Wonwoo tidak perlu menunggu Jumat malam untuk datang ke restaurant And Maybe atau terkadang mas chéf yang ternyata adalah pemilik restaurant yang sedang viral itu yang mengantar-jemput pria manis itu bekerja. Sama halnya dengan Sabtu ini, Wonwoo sengaja datang sore hari untuk menghampiri pria yang 2 bulan ini mulai mengisi kotak pesan dan recent dial pada ponselnya -- dan mengisi hatinya secara diam-diam.

"Wih, Mas Wonwoo makin rajin dateng nih sekarang." Kata salah satu waiter yang sangat Wonwoo kenal, karena pria ini beberapa kali menanyakannya tentang Jihoon -- Soonyoung yang biasa dipanggil Soon di tempat kerjanya. Wonwoo memasang senyumnya dan menutup mulut pria itu, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut restoran.

"Meja penuh, Mas. Kalau ruangan Boss kosong sih." Katanya sambil menurunkan suaranya ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.

"Aku pul-- bentar, Soon." Kata Wonwoo terhenti karena merasakan getaran pada ponsel yang dia simpan di saku celana putih bahannya.

"Mau kemana kamu?" Tanya suara di seberang sana, tanpa mengatakan salam pembuka.

"Nodong itu hobby ya, Gyu?" Tanya Wonwoo.

"Karena aku liat kamu mau keluar, baru juga dateng, manis." Jawab pria yang dipanggil Gyu itu, menggoda. Wonwoo memegang pipinya yang entah mengapa mulai memanas.

"I-iya, aku mau pulang karena restoran bapak rame banget." Katanya, menenangkan debaran di dadanya kali ini. "Dan kebetulan aku kena waiting list, Pak Owner." Kata pria ramping yang hari ini menggunakan white short sleeve shirt with abstract blue pattern sedang berada di dekat pintu masuk rumah makan itu sembari menempelkan ponselnya di daun telinga, berniat pulang awalnya.

"You can come to my office, minta anterin Soon. Nanti aku nyusul." Kata pria yang sedari tadi ternyata sudah memperhatikan pria di dekat pintu masuk tempat usahanya itu. "And I love your white shirt, looks good on you." Kata pria itu dengan suaranya yang menggoda, wajah Wonwoo tentu saja semakin merona dibuatnya, dia langsung menutup bibirnya yang kini sedang tersenyum lebar.

"See you in my office, cantik." Kata pria itu menutup sambungan telefonnya.

"Yuklah, kita ke office aja, Mas. Gue udah di chat Boss nih, disuruh nganter lo. Let's go kita!" Ajak pria dengan wajah yang mirip hamster itu. Wonwoo mengikuti langkah pria di depannya, mereka ke belakang restoran utama dan berjalan menuju rumah kecil yang berhadapan langsung dengan backyard hijau itu.

"Ini halaman belakang beneran di rawat ya, Soon?" Tanya Wonwoo ketika mereka hampir sampai di kantor yang Mingyu -- head chéf sekaligus owner dari And Maybe -- maksudkan.

"Boss care banget Mas sama halaman belakang ini, bahkan kita punya tukang kebun sendiri. Tiap pagi doi ngopi di sini, tiap kita lagi mau nutup juga dia pasti di sini. Kaya apa ya? Kaya healing place-nya gitu." Jelas pria yang hari ini menggunakan seragam hitam dengan apron half berwarna abu-abu muda yang berjalan di depannya. Wonwoo hanya mengagguk tanda dia mengerti.

"Nah, sampe deh kita. Di dalem ada 3 ruangan ya, mas. Ada nama-namanya kok, Mas Won masuknya ke ruangan yang namanya Kim Mingyu, jangan salah masuk." Kata Soonyoung memperingati.

"Emang kenapa gitu?" Tanya Wonwoo bingung.

"Boss yang satunya lagi juga kedatengan tamu special." Jelasnya. "Emang ya, hari Sabtu harinya orang pacaran, gue doang kali nih yang jomblo sambilan kerja." Dumel Soonyoung.

"Nanti gue kasih nomer Jihoon deh, Soon." Goda Wonwoo.

"Beneran lu, Mas? Wah, mantep."

"Tapi, mau nanya."

"Apa tuh? Kalau gue tau, gue jawab." Kata Soonyoung, dia khawatir dikasih pertanyaan soal matematika, soalnya dia lemah dalam perhitungan.

"Mingyu pernah bawa orang juga ke kantornya? Orang special?" Penasaran.

"Hahahaha kirain apaan, gue udah tegang aja nih, Mas." Soonyoung tersenyum lebar, "Ngga pernah, Mas. Boss tuh jomblo dan cupu dalam percintaan. Emang yang nyuruh chat Mas Won duluan siapa? Itu, Boss satunya lagi."

"Pas dapet kartu nama Mas Won, itu kartu nama dibawa-bawa doang, Mas. Bingung dia mau diapain, sampe hafal kali nomer Mas Won. Tanya aja coba!" Lanjut Soonyoung.

"Kok lucu?" Kata Wonwoo sembari tersenyum, wajahnya sudah merona merah sekarang.

"Ya karena si Boss culun, Mas. Ngga ngerti dia pendekatan tuh. Jadi, Mas Won yang harus pinter-pinter mancing. Gue sih cuma bisa bilang good luck ya."

"Baiklah. Thank you infonya, nanti gue chat nomer Jihoon."

"Okay! Siap mantul. Masuk dah, Mas." Kata Soonyoung memberikan jempolnya dan berlalu.

***

30 menit berlalu, Wonwoo masih menunggu Mingyu di ruangannya. Pria berkacamata dengan frame hitam itu duduk di kursi kerja Mingyu yang empuk dan melihat beberapa foto yang berserakan di atas meja, tampak seperti foto yang baru saja dicetak. Sesekali melihat hasilnya membuatnya lapar, banyak jenis makanan yang terlihat sangat menggoda.

'Ah, Mingyu pernah cerita kalau dia suka foto makanan, makanya Insta dia berisi hanya makanan dan ini, kaya kenal ya? Gue?' gumam Wonwoo dalam hati.

Dia membulak-balikkan beberapa foto yang memang itu adalah dirinya, saat sedang makan, saat sedang minum, saat sedang berjalan. "Ah, ini waktu kita pergi kulineran bulan lalu. Gue ngga tau dia candid, hasilnya bagus." Monolognya. Saat sedang melihat-lihat hasil foto itu, pria yang Wonwoo tunggu datang.

"Hai, sorry nunggu lama ya. Aku harus ngasih command ke Ichan, soalnya di luar masih rame." Katanya menghampiri Wonwoo yang sedang duduk di singgasana-nya.

"It's okay. I'm still waiting for you, anyway." Kata Wonwoo. "Hasil foto kamu bagus. Aku kira kamu tuh cuma bisa foto makanan." Katanya menunjukkan hasil foto dirinya, membuat mata dengan manik elang itu panik.

"Mm itu, aku--" Mingyu menghentikan kalimatnya, sangat jelas kini dia sedang mencari alasan.

"It's okay. Hasilnya bagus kok, aku suka." Kata Wonwoo berdiri dari duduk dan mendekatkan dirinya ke arah Mingyu, berdiri tepat di hadapannya.

Mingyu memegang kedua lengan Wonwoo dan berbisik tepat di telinga Wonwoo, "Kamu memang seindah itu." Bulu halus disekujur tubuh Wonwoo meremang. He has goosebumps. Entah karena geli atau karena apa.

"Why are you so tense?" Tanya Mingyu setelahnya, menggoda Wonwoo yang sedang terdiam.

'Apanya yang culun, gue mau godain udah diserang balik??' rutuk Wonwoo.

"Ngga ya, aku ngga tegang. Enak aja!" Bantahnya. Siapa yang ngga liat sih kalau wajah Wonwoo terlihat bingung serta salah tingkah. Bagaimana tidak salah tingkah bila jarak Mingyu sangat dekat dengan dirinya, apalagi setelah mendengar bisikannya.

"Kita mau kemana hari ini?" Tanya Mingyu mengalihkan pembicaraannya dan melewati Wonwoo, berjalan ke mejanya dan duduk di kursi tempat Wonwoo duduk tadi.

"Di sini aja boleh ngga? Kantor kamu nyaman juga. Aku lagi males jalan, terus di sini ada ssmart-TV, jadi aku mau nonton. Di situ ada kasur juga, jadi kalau aku ngantuk aku bisa tidur. Kalau kamu sibuk di restoran ya silahkan, aku tungguin di sini." Kata Wonwoo dengan cerewetnya sembari menunjuk benda yang tadi dia sebutkan satu persatu. Mencoba mengalihkan pikirannya.

"Intinya di sini aja." Kata Wonwoo, mengambil remot TV yang ada di meja kerja Mingyu, menekan tombol power, membesarkan volume-nya dan mendudukkan dirinya dipangkuan Mingyu, menatap manik yang seperti elang itu dengan mata rubahnya. Entah mendapat keberanian darimana, namun dia ingin direngkuh pria di hadapannya hari ini.

Wonwoo dan Mingyu saling memperhatikan tiap inci wajah yang ada di hadapannya, Wonwoo menangkup kedua pipi pria dihadapannya. Dimulai dari Mingyu yang merengkuh punggung bawah Wonwoo agar tidak terjungkal ke belakang dengan posisi mereka saat ini. Mingyu masih terdiam, dia hanya mampu menerima apa yang akan Wonwoo lakukan padanya. Walaupun, dalam hatinya dia ingin memulai semuanya.

"I love your eyes, chéf." Kata Wonwoo dengan suaranya yang menggoda ketika mereka sudah kembali bertatapan dengan jarak yang cukup dekat, mencoba meredam denyut jantungnya yang berdetak. Begitupun dengan Mingyu.

Mingyu tersenyum sembari mengusap bibir bawah Woonwoo dengan tangannya yang bebas, "I adore your lips." Katanya membalas kalimat Wonwoo.

Kini mereka semakin dapat merasakan nafas mereka masing-masing yang semakin lama semakin memburu. Mingyu masih menatap bibir Wonwoo yang sore itu tampak lebih kenyal dan mengkilap, masih mengusap lembut bibir itu, kemudian menyatukan bilah bibir mereka, membawanya ke dalam ciuman yang semakin dalam. Pria manis yang kini ada dilahunannya itu melingkarkan tangannya di leher, sesekali mengelus surai belakang milik Mingyu dan sesekali mengusap rahang milik head chéf di And Maybe itu.

Wonwoo mulai memainkan lidahnya di dalam rongga mulut pemilik ruangan itu, Mingyu menikmati bagaimana cara Wonwoo mengabsen satu persatu benda yang ada di dalam sana, Mingyu pasrah dan mengikuti permainan lidah yang Wonwoo lakukan. Dengan lihai, Wonwoo membuka kancing seragam chéf berwarna hitam yang Mingyu gunakan satu persatu, menelusupkan tangannya dan meraba dada bidang Mingyu, dan menjatuhkan kecupannya pada leher jenjang pria di hadapannya itu.

"Tickles. Babe!" Kata Mingyu.

"Really?" Goda Wonwoo masih mengecupi leher Mingyu yang kini sedang menikmati sapuan bibir Wonwoo di leher dan telinganya.

"Nu -- nghh." Desahan lolos dari mulut pria yang memiliki mole on the tip of his nose.

"Okay, then." Kata Wonwoo menghentikan kegiatannya.

"Kamu lagi isengin aku ya?" Tanya Mingyu, mencubit hidung bangir milik Wonwoo.

"Sakit, chéf." katanya mengelus hidungnya dan memukul manja dada pria di hadapannya.

"Terima kasih untuk recharge-nya. Aku balik lagi ke dapur kalau kamu mau menghabiskan waktu kita di sini. Do whatever you want here, baby." Kata Mingyu mengecup bibir Wonwoo sekilas, mengancing kembali pakaiannya dan meninggalkan Wonwoo di ruangannya.

Benar apa yang Wonwoo katakan pada Mingyu, selama Mingyu sedang sibuk di dapur, dia menghabiskan waktunya di ruang kerja pria itu. Sesekali ada yang mengetuk pintu untuk memberikannya makanan dan minuman, entah itu cemilan asin atau manis signature dari restoran ala eropa itu.

Sudah 2 bulan sejak Wonwoo dan Mingyu berkenalan, di awali dari Mingyu yang memberikan bekal ke kantor Wonwoo yang diterimanya dengan baik, dan berakhir dengan saling berkirim pesan dan menyapa melalui sambungan telefon untuk saling bercerita tentang kegiatan mereka sehari-hari, interaksi mereka juga bukan hanya interaksi sebagai teman biasa, afeksi-afeksi yang diberikan satu sama lain, namun hubungan mereka belum bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih. Contohnya, seperti yang terjadi tadi di kantor Mingyu. Namun, tak bisa dipungkiri bila mereka merasakan debaran-debaran di dada ketika saling bertemu, saling bertatap dan saling merengkuh satu sama lain.

***

Wonwoo masih asyik menonton serial favoritenya di salah satu aplikasi berbayar dari smart TV yang ada di kantor Mingyu dengan selimut yang menutup dari perut hingga kakinya yang kini hanya menyisakan boxer milik Mingyu dan juga bantal yang ada di kanannya, tak berapa lama sang pemilik tubuh tinggi tegap itu masuk ke ruangannya. Menghalangi pandangan Wonwoo yang sedang serius melihat ke layar pipih itu.

"Mingyu! Permisi dong! Ngga keliatan itu!" dumel Wonwoo. "Aku lagi nonton juga, iseng banget sih!" katanya lagi.

Pria itu berjalan menuju sofa, refleks mengecup kening Wonwoo dan Wonwoo sedikit terkejut dengan apa yang Mingyu lakukan, walaupun sebenarnya ini bukan kali pertama mereka saling mengecup. "Apa nih cium-cium?" tanya Wonwoo memegang keningnya.

"Pengen cium aja, siapa suruh jidatnya nganggur!" kata Mingyu dengan santainya. "Aku mandi dulu ya!" kata Mingyu berlalu.

Tak selang beberapa lama, Mingyu sudah menggunakan white t-shirt-nya, langsung merebahkan kepalanya di paha pria yang sudah menunggunya itu, memeluk perutnya seakan tak ingin melepaskan pria dengan bahu tegap, senyum manis, tatapan teduh dan semua tentang Wonwoo  yang membuat Mingyu semakin lama semakin tenggelam dalam pesonanya.

"Serius banget, nonton apa?" tanya Mingyu, masih dari posisinya.

"How I Met Your Mother lagi."

"Bukannya, waktu itu kita udah marathonan nonton itu?" Tanya Mingyu, melihat sekilas ke arah TV dan kembali ke posisinya.

"Ngga tau kenapa, aku kaya ngga bosen aja." jawab Wonwoo tanpa mengalihkan pandangannya. "By the way, tadi Seokmin ke sini, nyariin kamu." kata Wonwoo.

"Terus?"

"Ngga ada terusannya, karena nanyain kamu aja dan ngenalin pacarnya. Ganteng." kata Wonwoo.

"Oh." Mingyu hanya menjawab datar, mencoba memejamkan matanya, Wonwoo memperbaiki duduknya agar si dia dapat merebahkan kepalanya sedikit lebih nyaman dan mengelus surai hitam legam pria yang sedang dekat dengannya itu.

"Capek ya?" Tanya Wonwoo, mengelus pipi pria itu.

"Lumayan, rame banget tadi."

"Terus? Kok kamu ke sini duluan?" Tanya Wonwoo, melihat jam dan baru jam sembilan malam, sedangkan restoran akan tutup jam 11 malam bila Malam Minggu. Wonwoo sudah hafal.

"Anak-anak yang ngurusin sisanya. Aku tinggal aja, kan ada kamu." Katanya yang sedang memejamkan mata namun masih sanggup berceloteh.

"Bobok sini aja ya? Aku ngga sanggup anterin kamu pulang." Kata Mingyu menenggelamkan wajahnya diperut Wonwoo. Wonwoo mengusap lembut punggung si mas chéf itu.

"Kamu kalau capek tuh, tidur di kasur. Itu lho ada kasur." Kata Wonwoo, memerintahkan pria yang merebahkan kepalanya untuk berpindah.

"Mau di sini aja. Sama kamu. Kangen." Katanya, wajah Wonwoo bersemu merah. Karena dia juga kangen, makanya dia ada di sini sekarang.

"Iya, ok." Jawab Wonwoo singkat.

"Iya? Ok?" Tanya pria itu histeris. "Hanya iya ok? Kamu ngga kangen sama aku?" Tanya Mingyu, mendadak terbangun dari tidurnya dan mengejutkan Wonwoo yang berencana untuk kembali menonton.

"Hah?" Tanya Wonwoo bingung.

"Hah?" Tanya Mingyu.

"Kamu kenapa? Kok duduk, katanya capek?" Tanya Wonwoo bingung.

"Ya karena kamu ngga bilang kalau kamu kangen aku." Jawab Mingyu dengan suaranya yang tiba-tiba mencicit, memanyunkan bibirnya. Wonwoo tertawa gemas melihat pemandangan itu.

Dia menyingkap selimut yang menutupinya, menghampiri pria yang lebih tua darinya itu dan mengapit paha luar Mingyu dengan paha dalamnya, Wonwoo duduk di sana. Menangkup gemas pipi si dia dan tersenyum, Mingyu masih bingung dengan apa yang Wonwoo lakukan kali ini.

"Gemes banget sih? Kamu yakin, kamu lebih tua dari aku?" Tanya Wonwoo, mengecup kening Mingyu. Mingyu masih terdiam. "Kalau ngga kangen, ngapain aku nungguin kamu sampe restoran tutup?" Tanya Wonwoo yang kemudian mencium lembut bibir Mingyu yang manyun seperti bebek itu.

Mingyu melepaskan tangan Wonwoo yang ada dipipinya, kemudian dengan lembut membuka kacamata yang Wonwoo gunakan, meletakkannya di meja sebelahnya mendorong pelan kepala pria bermata lembut itu mendekat kearahnya.

"I will kiss you, like there's no tomorrow." Kata Mingyu berbisik.

"Please, go ahead." Jawab Wonwoo melingkarkan tangannya ditengkuk Mingyu, dengan satu tangan lainnya mengelus dada bidang pria itu.

Mingyu mulai melumat bibir bawah kenyal milik Wonwoo, begitupun dengan Wonwoo yang membalas lumatan Mingyu dengan melumat bibir atasnya. Tangan bebas Mingyu sesekali meremat dan mengelus pinggang ramping pria yang ada di lahunannya.

Tangan Wonwoo mulai masuk ke dalam leher t-shirt pria itu, mengelusnya dengan sensual. Bibir mereka masih berpagutan, semakin lama semakin menuntut dan semakin berantakan, lidah mereka yang beradu di dalam, saling bertukar saliva. Kini tangan Mingyu mulai melepaskan kancing kemeja putih abstrak biru yang digunakan Wonwoo, mengelus 2 tonjolan pada dada pria di atasnya dari luar kemeja yang membuat sensasi geli sehingga lenguhan keluar dari bibir Wonwoo sesekali. Darah mereka berdesir, nafsu sudah merajai keduanya, udara di ruangan semakin hangat. Ciuman mereka sesekali terlepas ketika Wonwoo menggesekkan kejantanannya yang mulai menegang karena rangsangan yang diberikan Mingyu dengan milik chéf itu.

Saat ini, Mingyu sedang dibuat terpesona dengan tubuh bagian atas Wonwoo yang sudah tak berbusana. Bahu bidang, dada dan perutnya yang menandakan dia rajin pergi ke gym sangat menggoda Mingyu untuk memberikan banyak tanda di sana. Mingyu mulai meraba tubuh putih mulus itu dari curuk lehernya, ke arah collarbone pria manis itu, menuju perutnya dan bermain dengan mengelus perut sixpack-nya. Wonwoo mendesah pelan dan menggigit bibir bawahnya ketika merasakan sensasi menggelitik dari sentuhan Mingyu -- dia sangat menikmatinya.

"Aku ngga tau kamu suka ke gym." Kata Mingyu dengan suara yang menggoda Wonwoo.

"Hmph.. Kamuhh nggah pernah -- nggh -- nanya --" Jawab Wonwoo mendesah pelan yang kemudian melemparkan kepalanya ke belakang ketika dia merasakan benda kenyal hangat menjilat nipples-nya secara bergantian.

Wonwoo merasakan benda di antara selangkangannya sudah mulai mengeras akibat perlakuan Mingyu. Dengan setengah kesadaran yang ada, Wonwoo pun coba memastikan kejantanan pria yang sedang menginvasi tubuhnya itu, di elusnya benda milik Mingyu di bawah sana hingga pemiliknya mendesah pelan, merasakan nikmatnya.

"Masukin aja, sayang!" Pinta Mingyu memberikan izin saat bibirnya masih memberikan tanda merah keunguan di collarbone Wonwoo. Tangan Wonwoo menelusup masuk kedalamnya, merasakan benda panjang itu menegang. Mingyu melenguh.

"Ahh Jeon Wonwoo." Desah Mingyu.

"Chéf, my ass feels itchy." Bisik Wonwoo dengan suara yang tak pernah Mingyu dengar sebelumnya, suara yang sangat menggoda dari bibir Wonwoo. Suara penuh nafsu. Mingyu menanggalkan celana pendek yang digunakan Wonwoo.

"Kamu kok licik, I'm already fully naked and look at you--" tegur Wonwoo.

"Bukain dong!" Pinta Mingyu. Dengan terburu-buru Wonwoo membuka kaos hitam dan celana boxer pria berkulit tan itu. Melihat tubuh indahnya yang tak kalah dari tubuh miliknya, perut sixpack, dada bidang dan urat-urat yang sedang unjuk diri di daerah tangannya.

"I love your chest." Jawab Wonwoo mengecup dada pria di hadapannya, naik ke bahunya, berhenti di perpotongan lehernya, tangannya tidak ambil diam dengan mengurut pelan kejantanan pria itu. Desahan pelan dari bibir Mingyu menemani suara kecupan dari bibir Wonwoo di perpotong lehernya.

Mingyu meremat benda sintal milik pria manis bermata rubah yang kini sedang kembali berciuman dengannya, lumatan acak namun dalam penuh dengan hawa nafsu.

"Lick it." Kata Mingyu memberikan jarinya di depan bibir Wonwoo, ketika ciuman mereka terlepas. "And suck it baby, think this fingers is Mr. D." Kata Mingyu lagi. Tidak ada lube di sini hingga dia memita Wonwoo menjilatinya, namun jari itu pun dihisap dengan eksotis oleh bibir hangat Wonwoo.

Sudah sangat basah, Wonwoo menuntun jari itu satu persatu memasuki lubang-nya. "Ahngh! Gyuuuhh!" Panggilnya dengan nada manja.

"Ya, sayang?" Jawab Mingyu yang masih memberi gestur memutar di dalam lubang Wonwoo, perlahan mengacaknya.

"Add more fingers, nghh please ahhh--" pinta pria itu yang kini posisinya sudah sedikit menungging dan menyembunyikan wajahnya yang ada di ceruk leher sang dominan. Mingyu menurutinya, kali ini membuat gestur keluar masuk di bawah sana, mencari titik sensitif milik Wonwoo dan membawa Wonwoo ke nirwana. 'Found it!' Katanya ketika mendengar Wonwoo terus mendesah memanggil namanya. Jari Mingyu pun membawa Wonwoo terbang ke langit.

"Oh yes, Wonwoo desahan kamu sexy bgt. Keep moans, baby." Kata Mingyu mempercepat temponya, dan Mingyu semakin asik menghisap serta menjilati putingnya, membuat Wonwoo semakin berisik.

"Gyuhh.. ahhh! Aah!! Sayang, I wanna cum. Ngghh!" Kalimat Wonwoo seperti nyanyian di telinga Mingyu. Mingyu semakin menumbuk titik itu dengan cepat. "Oh, no! Not that spot. Gyuuuhh, aku ga kuuaatt lagi.. Aaaaaaaaanghhh." Erangan panjang dan tubuh Wonwoo yang bergetar hebat, menandakan bahwa dia sudah mencapai puncaknya, putihnya menyembur di perut Mingyu.

"Mingyu, maaf." Katanya lemah ketika melihat cairan putih kental di perut Mingyu -- miliknya.

"Ngga apa, sayang. Kok minta maaf sih?" Kata Mingyu tersenyum, lalu mengecup kening Wonwoo dan membersihkannya, kini keadaan mereka sedikit berantakan. Mingyu kemudian menggendong Wonwoo ke tempat tidur yang ada di ruangan itu.

"Capek ya? Kamu keluar lumayan banyak lho." Goda Mingyu sembari merapihkan surai Wonwoo dan mengecupi wajah pria yang kini sudah berbaring di tempat tidurnya. Wonwoo hanya tersenyum dan mencubit lemah perut Mingyu sebagai jawabannya. Pria tinggi dengan wajah tampan itu mengambil tangan pria manis di sampingnya dan mengecupi setiap jarinya, Wonwoo hanya tersenyum menerima perlakuan manis dari si dia yang membuat dadanya berdebar.

"Kamunya gimana? Emang ngga mau?" tanya Wonwoo.

"Aku gampang, kamu istirahat aja ya. Kasian ih, baru satu ronde langsung lemes." Ucap Mingyu mengecup seluruh permukaan wajah Wonwoo dan menyelimuti tubuh mereka berdua yang tidak menggunakan sehelai kainpun.

"Ih sumpah, iseng banget sih mulutnya daritadi." kata Wonwoo mencubit bibir Mingyu dengan jarinya. Mingyu hanya tertawa dan membawa Wonwoo kedalam pelukannya. Kepala Wonwoo kini sudah berada di dada Mingyu, merasakan degup jantung pria yang berada di sampingnya.

"Gyu--" kata Wonwoo memecah kesunyian ruangan itu.

"Hmm?" jawab Mingyu yang masih mengelus surai Wonwoo, dan sesekali mengecupnya.

"Boleh nanya?"

"Bolehlah, semua untuk kamu." kata Mingyu. Semakin mengeratkan pelukannya.

"Kalau gitu aku bertanya. Kita ini-- apa?" tanya Wonwoo, Mingyu menghentikan gerakan tangannya, Wonwoo mendongakkan kepalanya dan menatap manik milik pria yang ada di sampingnya, mencoba mencari jawaban saat Mingyu tidak langsung menjawabnya -- terdiam. "Kalau ragu, ngga usah dijawab." kata Wonwoo lagi dengan nada yang sedikit kecewa. Wonwoo membalikkan badannya, Mingyu masih tidak menjawab pertanyaannya seakan membeku.

Tak lama, Wonwoo mencoba memecah keheningan antara mereka. "Aku pulang aja ya." kata Wonwoo, beranjak dari tempat tidurnya, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Mingyu masih terdiam.

'Nice! This is how it feels to finish before starting.' Gumam Wonwoo, menjerit dalam hati.

Kini Wonwoo sudah menggunakan pakaian lengkapnya sama seperti saat dia datang ke tempat ini tadi sore. Dia masih melihat ke tempat tidur, tempat terakhir dia meninggalkan Mingyu, yang sampai kini masih belum bersuara namun matanya mengikuti gerak-gerik Wonwoo.

"Mm.. Thanks for today. Aku pulang." Wonwoo melangkahkan kakinya keluar dari ruang itu, tanpa menunggu jawaban dari pria tinggi itu.

"Hao? Pick me up, please!" Kata Wonwoo ketika sudah melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan restoran And Maybe.

"Di mana?"

"Indoapril Point deket And Maybe. Gue tunggu di sana ya. Kalau udah sampe kabarin."

"Ngga balik sama chéf ganteng?"

"Ga usah bahas dia dulu deh." Kata Wonwoo berdecak kesal.

'This is how it turned out in the end.' gumamnya berjalan menjauh dari restoran dan pria favorite-nya.

 

[To be continue]