Chapter Text
"Wah ga bisa nih kayak gini. Bisa gila gua," benak Y/N kepada dirinya sendiri.
Belakangan ini Y/N mengalami keadaan yang sulit. Sangat sulit, sampai mengganggu keseharian dan aktivitasnya yang monoton itu. Tidak banyak hal yang bisa memacu Y/N untuk melepaskan rutinitas yang sudah terkurasi dengan sedemikian rupa—yang isinya secara kasar terdiri dari bangun tidur, makan, mandi, berangkat-pulang kerja, scroll TikTok, dan menutupnya dengan tidur. Biasa? Jelas. Sangat amat biasa. Di akhir pekan pun sama, tidak ada yang berubah kecuali berangkat dan pulang kerja. Satu-satunya perbedaan adalah akhir pekan dikhususkan untuk bed-rotting.
Mungkin cuaca tidak menentu yang membuat perasaan ikut kalang kabut. Mungkin rupiah yang kian melemah terhadap dolar hingga melewati tanggal kemerdekaan Indonesia (>17.845). Atau mungkin status melajang yang seolah tidak ada kadaluarsa.
Terlalu lama sudah berlalu sejak Y/N digandeng oleh pasangan. Terakhir kalinya sudah 3 tahun, atau 4 ya? Ah sudahlah. Intinya tetap sama— Y/N sedang butuh outlet.
Di umur yang matang ini libido yang tinggi adalah wajar. Ditambah dengan stress pekerjaan yang seiring bertambah, menghadapi orang-orang menyebalkan yang kurang stabilitas emosional tetapi tidak bisa berkata kasar. Berbagai cara telah dilakukan—mandi air dingin, olahraga, tidur, kurangi makanan pemicu—hasilnya pun sama.
Y/N sange.
Ya, eksplisit saja. Ia butuh pelampiasan yang mumpuni untuk mengeluarkan seluruh emosi terpendam yang telah memuncak sejak pertama kali presiden saat ini terpilih lama.
Bahkan koleksi mainan yang selama ini menemani rasa sepi di waktu malam tidak cukup untuk memuaskan hawa nafsu. Saat ini yang dibutuhkan adalah sesuatu yang tangible, yang bereaksi dengan rangsangan pasti, dan yang tersambung di seseorang.
Mengetahui apa yang dibutuhkan bukan berarti mengakuinya. Seumur-umur hanya ini pertama kalinya membutuhkan orang lain.
Memang sudah hal yang sedikit lumrah di zaman sekarang. Hubungan terbuka yang didorong oleh nafsu, bergonta ganti pasangan tanpa rasa bersalah, melakukan tindakan yang seharusnya hanya dilakukan dengan orang yang spesial, melepas penat melalui dopamin dari sesi yang intens dan panas.
Ya... Pada akhirnya, kita akan memilih dosa kita sendiri. Dan itulah yang akan dilakukan oleh Y/N kali ini.
"Serius ini gua download lagi?" ujar Y/N kepada dirinya sendiri tatkala mengawasi lingkaran unduhan yang kian mengisi menjadi penuh.
Dating apps.
Kembali ke lingkaran setan itu. Di mana orang - orang berkumpul mencari koneksi, baik yang berumur pendek atau berumur panjang. Cara apa yang lebih baik untuk menemukan seseorang yang (semoga) cocok kalau bukan dari situ?
Ya ada sih, tapi udah ini aja dulu.
Setelah unduhan itu selesai Y/N masuk ke akunnya. Oh ya tentu ia sudah punya sebelumnya, untuk iseng di tempo hari, walau akhirnya tidak banyak yang menarik perhatian. Mungkin karena keberuntungan yang belum baik saat itu, tetapi yang ditemukan kebanyakan mesum, tidak sopan, dan tidak sesuai selera.
Berhubung saat ini ada kebutuhan mendesak, Y/N lantas menyesuaikan profil dan seluruh keterangannya. Termasuk tipe yang diinginkan.
She/her. 168 cm. Straight. Non commital. Looking for one night stand.
Preferences:
Tall Men >178 cm. Lean but slightly muscular. Mature. Into roleplays. Masculine but doesn't mind being submissive.
*swipe
*swipe
*swipe
*swipe
*swipe
*swipe
*swipe
"Ih ga ada yang bagus deh," Y/N mendecak.
Yah, memang tidak ada yang instan. Se-desperate apapun seseorang (termasuk soal ngewe) pasti ada prosesnya. Seleksi dulu lah ibaratnya. So many fishes in the sea bro.
Di situ lah misi mencari partner one night stand dimulai. Ga susah harusnya. Kriteria yang Y/N butuh cuma 5, tentu dengan melihat wajah dan tampangnya. Semoga saja kali ini ada yang oke.
Hari demi hari berlalu. Di kala waktu senggang, Y/N membuka aplikasi itu dan menggeser - geser setiap profil yang lewat. Kebanyakan swipe left; ternyata meskipun hanya untuk semalam menemukan orang sesuai tipe yang diingankan itu sulit. Padahal ya, tadi, ga banyak kriterianya.
Ada sih yang match; tetapi beberapa text bubble kemudian sudah illfeel. Ada pula yang langsung pap *&+#!, what the freak. Kepalang sangenya melebihi Y/N tuh. Mungkin kriteria "Masculine but doesn't mind being submissive" yang ia sertakan juga membuat orang - orang mundur. Mereka pikir bakal diapain sih emang...
Di kala Y/N hampir menyerah dengan misi menemukan orang untuk ngewe itu, ia menemukan profil yang dari foto dan nama terlihat familiar.
"Hah serius..."
*swipe
Match!
"Oh swipe right juga" Y/N berucap sedikit terkejut.
Semakin terkejut lagi, karena setelah zoom in ke foto profil dan menelusuri akunnya sedikit, sungguh jelas ini orang yang dikenal.
Orang yang sama yang dulu pernah membuat jantungnya berdebar kencang karena gembira. Tidak disangka kini kembali membuatnya berdebar dengan alasan yang berbeda.
Jean Kirstein
"Lah ini mantan gua anjir..." Y/N terbelalak melihat nama yang terpampang jelas dalam layar.
Dialah mantan terakhir Y/N. Seseorang yang pada kesan pertama terlihat angkuh, sombong, dan sedikit egois, tetapi dibalik semua itu adalah orang yang suka bercanda dengan hati yang lembut dan sangat amat peduli. Tentu itu hanya bagi mereka yang benar - benar mengenalnya. Ia juga tegas dan tau apa yang diingkan, itulah yang membuat banyak orang tertarik.
Ada rasa sangat beruntung untuk pernah bersamanya. Sayangnya, jauhnya jarak yang memisahkan dan besarnya perbedaan waktu terlalu berat untuk dihadapi berdua sehingga mereka putus secara baik - baik.
Mungkin ini menjadi dilema tersendiri. Putus baik - baik artinya tidak ada drama maupun luka pedih yang perlu dilupakan. Tidak ada kenangan pahit dari pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satunya. Hanya dua insan yang dengan dewasa memutuskan bahwa hubungan itu tidak akan berhasil.
Jika pada saat itu kondisinya berbeda apakah mereka tetap putus? Entahlah.
Yang jelas saat ini, Y/N dihadapi realita bahwa kemungkinan match dengan mantan di dating app memang jarang, tetapi tidak pernah nol. Apalagi mengingat mereka berdua bukan tipe yang main itu. Setidaknya dari yang ia tahu dulu.
“Ini beneran bakal nge-chat kah... apa gua duluan yang mulai... ini gua ngomong apa tapi njir??" gumam Y/N yang di kepalanya kian terlintas banyak skenario.
Pada akhirnya, sebelum seluruh pikiran itu berhasil disimpulkan benang merahnya, si dia sudah mulai mengetik.
J: hai
J: swipe right juga? ;)
"Aduh pake emot lagi sengaja banget dah..."
Y/N: iya nih
Y/N: kok lu di sini?
J: gabut aja. ga nyangka bakal ketemu disini
J: apa kabar Y/N?
"kabar sange..." Y/N berbisik ke layar.
Y/N: I'm good. hbu?
J: good as well
"Udah kali ya gitu doang. Mati topik juga," Y/N menghela napas.
J: so?
"Lah lanjut nih..?"
Y/N: apa
J: jadi ga?
Y/N: jadi apaan?
J: ngewe ;))
Damn.
