Actions

Work Header

The Caretaker

Chapter 2: What Kitten Wants, Kitten Gets

Summary:

apapun yang kitten mau, harus diturutin majikan.

Chapter Text

⚠️ : isinya ngewe semua ; bahasa non-baku ; keseharian renjun sebagai pengurus, pengasuh, dan... pemuas nafsu 😜 ; pet names daddy and kitten ; elder!nomin ; age-gap ; renjun pecinta cowok kekar ; face-sitting ; mancur-mancur byurr ; dp in 2 holes ; tidak pakai pengaman ; resiko tanggung sendiri

.

.

.

***

Sejak Renjun membiarkan dirinya mengangkang demi memuaskan dua majikan, perjalanan hidupnya bukan sekadar tentang mengurus dua insan berusia lanjutan, melainkan menenangkan libido mereka yang meletup-letup.

Ibaratnya seperti kran berkarat dan macet, setelah Renjun pergi ke toko bangunan membawa obeng maupun alat lain untuk memperbaikinya, tekanan air tersebut tumpah ruah melepaskan kendali kran pada sambungan pipa.

Sama kayak tingkah laku Jeno dan Jaemin usai sang pengurus menerima dua kemaluan mereka sekaligus di liang kawinnya. Memohon mereka menumbuk bergantian, mencumbu g-spot di ujung saluran vagina, berkedut meregangkan seakan hendak merobek Renjun jadi dua lalu memuntahkan lava putih panas bak gunung berapi di Hawaii.

Renjun kalau ingat malam pertama mereka, pasti berujung basah sendiri walau para majikan tampak sibuk dengan kerjaan masing-masing. Bagai kucing betina yang mengalami birahi, Renjun bisa lupa sama kerjaan utama dan malah menggoda dua lelaki berumur di sana biar melenyapkan rasa gatal di pookie.

Kayak sekarang nih...

Melihat betapa seriusnya, berdedikasinya, berwibawanya majikan bernama Na Jaemin ini meski hanya sebatas menggenggam telepon dekat telinga, memberi instruksi jelas pakai intonasi rendah diselingi air muka mengerut keseluruhan, seperti Renjun yang disuruh menjalankan perintah. Padahal kan lagi telponan sama Sion ya?

"Papa kan sudah bilang kalau produksi yang di cabang sana jangan diganggu dulu, Sion." suara Jaemin yang tengah berbicara pada putra semata wayang melalui sambungan telepon terdengar samar di telinga Renjun yang waktu itu melangkah anggun ke ruang tamu. Pemuda cantik itu membawakan segelas kopi, menaruh cangkir putih tepat di meja dimana Jaemin tampak duduk santai melebarkan kaki sambil bersandar pada sofa. "lah? Kamu juga aneh."

Damn, seksi banget nggak tuh kayak ngundang Renjun buat meloncat antara ke tengah-tengah paha atau ke pangkuan sekalian.

Well, asal nggak pangkuan Yang Maha Kuasa aja sih.

Sebetulnya sebagai pengurus rumah, niatnya mau balik kanan bubar jalan setelah melakukan tugas, namun ketika Jaemin mengadu tatap tanpa menghentikan obrolan bersama Sion, Renjun macam terpaku di posisi ia berdiri sekarang. Khususnya kala manik rubah mengarah ke bagian segitiga emas, tepat di gundukan menggembung yang tertutup material celana rumah.

Ini bosnya lagi sange apa emang begitu burungnya kalau pas tidur? Gede amat.

Melihat arah tatapan Renjun, Jaemin menyunggingkan seringai halus, sembari mendengarkan putranya kalang kabut menjelaskan permasalahan yang tak sengaja dibuat, ia mengulurkan telapak di atas kejantanan terbalut material, kemudian mengusap pelan sebagai ajakan.

Renjun menegak saliva, menangkap sinyal secara gamblang tanpa perlu berpikir panjang. Baki di genggaman ia letakkan pada permukaan meja, melangkah anggun di hadapan dua paha lebar lanjut berlutut bagai anak penurut.

'Buka sendiri.' titah Jaemin hanya menggerakkan bibir yang mampu Renjun terjemahkan. Selagi sang atasan berdiskusi luwes perihal perusahaan yang dikemudi oleh putra sulung, tangan-tangan lentik memainkan tonjolan mengeras, mengusap pakai parasan jempol sesekali dicium dan diendus lamat-lamat.

Si burung menggeliat, Renjun hendak menyunggingkan senyum tetapi mencoba ditahan biar tidak kelihatan pingin banget. Bibir merah merekah setara warna buah ceri, menyebabkan Jaemin salah fokus, hampir tak dapat berkonsentrasi pada apa yang dikatakan oleh si sulung.

Renjun menjulurkan lidah, mendaratkan parasan berpapila pada kain celana, sedikit kasar, tetapi cepat basah akibat liur yang terbentuk. Jaemin mendadak gigit bibir, mulai menggumam sama jawaban si sulung, sebagai bentuk ia tidak mau anaknya mendengar kelakuan bejat di rumah sang ayah.

Si cantik setia menjilat macam anak kucing minum susu. Hidung kancing menekan sesekali mengendus aroma maskulin di sana. Merasa bosan, Renjun melorotkan celana rumah Jaemin hingga penis raksasa tersebut menampar muka bulat. "Mmph!" erangnya kaget.

Jaemin agak melotot, nggak marah tapi deg-degan kalau Sion curi-curi dengar. Renjun menggumam kata maaf sambil menyengir tak berdosa kemudian menghirup bagian kepala tak bersunat serta batang nan tegak meminta keadilan.

"Hmm.. iya mulai dari situ- uh."

"Pa? Kenapa?"

"Oh.. nggak ada." jawab pria surai cokelat secepat ia dapat mengelak. Pasalnya Renjun setelah menggosok parasan wajah ayunya di kemaluan Jaemin seolah ia sedang cuci muka, tiada aba-aba langsung meraup kepala jamur usai kulup ditarik ke bawah. "hmm.."

"Pa, sumpah aneh. Papa lagi ngapain hah?"

"Sion diem deh, kamu urus dulu kelalaianmu di kantor, nggak usah mikir- mmh.."

"Pa! Papa kenapa?! Om Jeno mana?" pandangan Jaemin berkabut ditutupi nafsu seketika tak dapat merespon cepat sang anak bertanya-tanya. Renjun di selangkangan, menaik-turunkan kepala, menyedot anak mani di lubang kencing, membuahkan pipi tembam menjadi tirus serta bunyi slurrrpp yang nyaring sampai telinga Sion.

"Shit-" umpat Jaemin pelan menjauhkan ponsel, Sion setia berteriak-teriak di seberang sambungan, sedangkan pria gagah di sofa menggenggam helaian pirang sekali-kali menghentak pinggul agar menyodok lapisan tisu di kerongkongan. "Yon, udahan gih."

"Pa! Gila ya! Bisa-bisanya teleponan sambil diblowjob, wah, sarap nih bapak-bapak tua." Jaemin tidak meladeni ocehan acak sang sulung selain memutuskan sambungan. Ponsel tergeletak pasrah di alas sofa, ia memegangi kepala Renjun di sisi kanan maupun kiri sembari membantu lelaki cantik itu mengulum kemaluan.

Glok.. glok.. glok..

Manik rubah berkaca-kaca tetapi rasanya worth it, suwer! Celana renda di kewanitaan menjadi becek hanya karena mulut kecilnya disumpal penis berdiameter lebar, berhasil memenuhi keseluruhan, akan berujung membuat rahang kram. Jaemin menggeram nikmat kala sang pengasuh memuaskan kejantanan kerasnya dengan gerakan peristaltik, pijatan-pijatan di sekujur batang membuahkan gelombang orgasme sebentar lagi datang.

"Kitten.. Daddy deket."

Renjun mengangguk-ngangguk, bola mata agak terputar ke belakang, melahap punya Jaemin macam orang rakus. Jaemin mengumpat, bertepatan lubang kencing meluncurkan seuntai dua untai putihnya, lurus menuju perut dalam si pengasuh. Renjun masih melemaskan kerongkongan biar tidak tersedak, perlahan-lahan ia mengeluarkan hingga saliva membungkus sekitaran palkon gendut yang memerah.

"Good boy, Kitten." puji Jaemin terengah tetapi menampilkan seringaian puas. Renjun tersipu, menjilat sudut bibir sesekali membersihkan penis Jaemin yang belum keliatan mau loyo.

"Memek Kitten becek, Daddy.." erang si Cantik menjulurkan bibir bawah, kelopak dikedip-kedipkan cepat kemudian terpekik riang begitu Jaemin menariknya ke pangkuan.

"Daddy bikin tambah becek ya?" tawar Jaemin tidak meruntuhkan cengiran seraya gesit melucuti celana kain asisten rumah mereka diselingi gelak geli dan anggukan antusias. Keduanya menghabiskan waktu sebelum makan siang dengan membanjiri sofa, sampai Jeno tiba di rumah, menangkap pemandangan erotis disusul menghela napas panjang.

"Anjir tau gini aku nggak ke kantor!"

"N-ntarr Kitten.. tunggangin ahhh- ahh habis Daddy Jeno makan." di sela-sela pantat sintal menepuk paha kekar hingga bergoyang bak agar-agar, Renjun meliukkan badan demi menjawab Jeno lantaran sibuk menunggangi Jaemin selayaknya ksatria berkuda. Lelaki lainnya tampak mengulum secenti kulit seputih tahu sutra, menciptakan bercak kemerahan di sepanjang tulang selangka seiring gendang telinga menikmati desahan merdu patah-patah serta hangatnya saluran memek yang terlalu basah untuk penisnya bergerak.

"Yak Na Jaemin!"

"Ahh! Daddy Jeno jangan.. ngambek gitu.. mmhh!" Renjun tak kuasa lama-lama bergerak sendirian selagi membujuk Jeno yang mengerucutkan bibir pada sahabatnya. Merasa pergerakan Renjun melambat, Jaemin mengambil alih posisi dengan mencengkram pipi pantat nan seksi tersebut kemudian menghentak pinggul bagai tiada hari esok.

Protesan Jeno diabaikan sepenuhnya lantaran fokus menggoyang Renjun yang mulai meracau. Bunyi becek penyatuan mereka semakin sedap diresapi dinding rumah, seakan menjadi saksi bisu kegiatan seks dalam ruangan. Renjun merasa dekat, leher terdongak bagai menemukan bintang bertaburan di plafon rumah, pas banget menyemburkan cairan deras mengenai Jaemin macam air mancur di taman.

"Nghh.. Daddy.. please.. please.. banjirin Kitten."

Jeno jadi penonton nggak dibayar dong, menyaksikan sahabat dan pengasuh mereka bersama-sama klimaks dengan kaki menompak tak sabar. Huh, padahal dia bentar doang pakai mobil ke kantor karena Geanie bilang penting, siapa sangka meninggalkan Renjun dan Jaemin sendirian malah membuat dia mendapati mereka tunggang-tunggangan layaknya kelinci birahi.

Kan jadi iri dianya!

Jaemin mengatur napas sesudah keluar di memek Renjun. Rasanya kalau mereka melepaskan kuncian, pasti tumpah ruah seluruh cairan yang tersumbat. Benar dugaan seorang, kala pemuda surai pirang bergerak naik demi mencabut kejantanan, liang senggama nan merah merekah senada bibir atas berkedut hampa diselingi mani kental meluber mengotori sekujur pintu terbuka. Beberapa tetes mendarat di celana Jaemin, bahkan mengalir di paha Renjun sendiri.

"Yah.. kotor." gumam Renjun seolah bukan dia yang mengerang minta dibanjirin tadi. Jaemin terkekeh, menarik kembali figur langsing ke arahnya, lalu menunduk menuju kewanitaan basah buat dibersihkan. "heh! Pak! Ngapain?!"

"Bersihin kamu lah, biar nggak repot mandi lagi."

"Modus banget, anjir." gerutu Jeno akhirnya berhenti menonton porno aksi gratis tersebut seraya melangkah masuk lebih dalam untuk berganti baju maupun makan siang. Renjun lagi-lagi mendesah bersamaan tungkai bergetar karena ulah lidah lihai Jaemin dan hisapan mautnya, membuahkan ia menggigil disusul mengencingi tempat berpijaknya sekarang.

"Aw, ngompol dianya," goda Jaemin menyengir sekalian menaik-turunkan alis. Dia menjilat itil menyembul yang masih terasa rentan sambil menatap Renjun merona merah hampir ke seluruh wajah. "ntaran aja bersihkan ini, kamu makan dulu sana."

Sembari memasang celana renda hitam kesukaan dua majikan dan celana kain sehari-hari, Renjun bertanya, "Bapak nggak makan?"

"Loh, kan udah nih baru aja?"

Kalau bukan majikan aja, mau Renjun hajar rasanya lantaran malah bikin dia tambah merah. "Ya beda, Pak. Makan siang sama makan meki."

"Ah, sama aja. Sama-sama makan daging kok." Si cantik nggak mau ambil pusing, dia mendekap kembali nampan di atas meja kopi kemudian meninggalkan Jaemin yang tertawa terhadap reaksi seraya menyeruput kopi nan sudah dingin. Renjun masih punya tugas satu setelah memuaskan Jaemin, yaitu membujuk Jeno supaya nggak kelamaan merajuk dan memberi lelaki tampan itu servis terbaik.

.

.

.

***


Selepas makan siang, Jeno nggak langsung istirahat. Dia seperti balik ke masa muda, dimana permainan komputer secara daring selalu menyita perhatian. Bisa lebih dari lima jam dia mendekam di depan layar, memaki lawan, bersorak gembira terhadap kemenangan, mengumpat apabila teman satu tim tidak becus memenangkan tantangan. Mereka tidak tahu Jeno sudah tua, sudah setara kakek mereka, semestinya pun orang-orang seusia Jeno sudah mengalami pikun.

Tetapi jangan salah. Jeno justru bersemangat mengeram di kursi kerja seiring jari-jemari yang mulai berkeriput menekan keyboard kayak orang kebakaran jenggot. Suara bariton masih terdengar seperti bapak-bapak streamer, memandu rekan sejawat menumpas musuh di sekitar mereka tanpa diketahui bahwa ia sudah berusia 65 tahun.

"Fuck! Dibilang ke kiri, ya ke kiri tolol."

"Iya kamu yang goblok, Hendry."

Kepala Renjun melongok sedikit sesaat mendengar sumpah serapah. Bunyi ketikan Jeno sangat kencang ditangkap indra seorang. Dia membawa camilan sehabis makan siang, paling kue tart, atau buah potong, atau dia sendiri terkadang. Ditemani sekaleng bir, yang sering Jeno minta setiap kali dia main game di komputer.

"Pak Jen?"

Jeno menyingkap salah satu pelindung kuping ketika menemukan suara halus Renjun, indra pendengaran selalu aktif bila menyangkut keberadaan si cantik. "Hmm?" hanya sebuah gumaman, tidak ada sahutan lain maupun kepala menoleh untuk menyambut kedatangan brondong kesayangan. Renjun mengira Jeno masih marah, oleh karena itu, ia beringsut mendekat kemudian meletakkan bawaan tepat di atas meja yang kosong.

Pria lebih tua menatap layar, kali ini umpatannya mengecil, seakan tidak ingin Renjun kebanyakan mendengar.

"Masih marah sama Kitten?"

"Siapa yang marah?"

"Itu.. mukanya kayak mau makan orang." Jeno berdecak terhadap jawaban Renjun, tak menoleh, tak mengalihkan tatap, murni memandangi layar di depan. Mungkin saat ini, cahaya terang benderang yang sebenarnya dapat melukai mata elang berkacamata plus tersebut lebih menggoda dibanding pengasuh sendiri. Justru Renjun nggak kehabisan akal, ia berdiri di samping figur kekar Jeno, mengusap pundak pria surai hitam secara sensual, lalu mengulurkan tangan ke selangkangan. "padahal Kitten ke sini mau tunggangin Daddy." ucapnya sekalian meremas pelan biji Jeno di balik boxer ketat.

"Jangan ngomong dekat-dekat mic," beruntung Jeno sudah mematikan audio bertepatan Renjun memanggil. Kan berabe kalau teman-teman online pada dengar asistennya ngomong kotor.

Ya, sebenarnya nggak papa sih, sebagai ajang pamer juga.

"Kenapa?" tanya Renjun setengah merengek, kali ini menempatkan tulang duduk di pangkuan Jeno, menghalangi pandangan sang majikan begitu saja menyebabkan lelaki surai cepak tak dapat menggerakkan permainan. "memangnya Daddy nggak mau pamer sama teman-teman?"

Jeno mendengus remeh, berhasil menatap layar kembali lewat pundak landai Renjun yang tidak terlalu menghalangi. "Emang kamu mau didengar, hm? Kamu mau memeknya didengar lagi mangap-mangap ngisap burung Daddy hmm?"

Renjun mematri cengiran, mengalungkan lengan di leher jenjang lalu mendaratkan kecupan. Sayup-sayup dia mendengar panggilan nama lain Jeno dari beberapa orang di sambungan sana, membuat dia tertantang hendak memuaskan sekaligus membiarkan Jeno memerangi lawan.

"Kenapa nggak? Kitten suka kok memeknya didenger orang selain Daddy." bisik pemuda cantik di telinga kanan Jeno yang tidak tertutup headset. Dia menemukan gundukan sang majikan menjadi keras menabrak selangkangan, menumbuhkan senyum usil dengan mata rubah berkelap-kelip jenaka.

Jeno menatap lekat, terlihat jelas pupil matanya agak menggelap seolah kabut nafsu siap mengambil alih. Teriakan teman dunia maya tak dihiraukan sama sekali saat Renjun mempertemukan bibir mereka dalam tautan panas.

Untuk sementara waktu, pemain Jeno hanya berdiam di tempat. Meski dimaki-maki kenapa tidak bergerak, ia tetap melanjutkan aktivitas seksualnya dibanding melanjutkan permainan. Lihat betapa desperate-nya Renjun membuka mulut dan meminta Jeno mengobok-ngobok dinding mukosa, lidah saling membelit, dikenyot kecil sesekali menjatuhkan untaian saliva di atas indra pengecap.

"Sambil.. main.. dong.." desah lelaki lebih muda berusaha melepaskan celana seorang tanpa perlu menjauh. Begitu bagian bawah sudah polosan, ia menggesekkan liang basahnya ke boxer Jeno hingga pria gagah itu mendesis tak sabar. "kasian Daddy disumpahin."

Jeno menekan tombol di keyboard, dari satu menjadi dua, menjadi banyak dengan penekanan kencang tepat di tombol spasi. Renjun menumpu tubuh pakai lutut sementara ia mencoba mengeluarkan burung majikannya dari dalaman ketat, langsung berdiri tersapa udara sekalian diurut naik turun biar makin keras.

Napas Jeno terdengar berat, manik berupaya tetap fokus pada layar sesekali melirik usaha Renjun yang menciumi rahang tegas maupun memandu puncak jamur ke liang. Mereka meredam desahan, bertepatan seseorang di permainan memanggil nama lain Jeno dengan nada heran.

"Nox, you good?"

"Hmm.." jawab Jeno singkat, padat, sedikit diwarnai helaan napas. Terutama ketika bibir vagina menjepit palkon seorang, sengaja dikedut-kedutkan untuk menggoda sejenak, mengundang umpatan kasar lolos dari mulut terbuka.

"Ahh.. Daddy.." Renjun pun tak kuasa meredam desahan sesaat ia menurunkan pinggul sambil melesakkan kejantanan tebal ke dalam tubuhnya. Bunyi becek kentara dengan makian di telinga Jeno, segala sesuatu terdengar bercampur aduk serupa penyatuan kemaluan berbeda. "Daddy soo big.."

"Shit, Nox! Kamu ngapain bangsat?"

"Wah, Nox gila. Sambil ngentot dong dia."

Renjun menyeringai begitu sayup-sayup menangkap protesan kawan-kawan online majikannya. Nggak tahu aja mereka kalau yang ditunggangi sekarang adalah seorang lansia puber keenam. Jeno tidak menjawab, hanya gesit menggerakkan pemain, sekali-kali mengendus leher jenjang pakai hidung mancung bak perosotan.

"Berisik amat, ditembak anjir."

"Ya kamu juga ngapain sambil ngewe woy?!"

"Kenapa?" Jeno terkekeh bertepatan Renjun mulai bergerak naik turun, bunyi tamparan pantat dan paha tertangkap sangat jelas menjadi latar suara mereka selain bunyi tembak-tembakan keras. "iri ya? Nggak bisa ngewe."

"Bukan gitu, fuck-"

"Ngh.." Renjun memegangi bahu tegap sang majikan sembari mengayunkan pinggul ke depan, belakang sembari menekan klit di perut kotak-kotak Jeno agar mendapat gesekan asoy. Kadang temponya cepat, kadang temponya lambat seiring manik cantik berlinang air mata nikmat. "Daddy.. mmh.."

Satu tangan Jeno terulur ke selangkangan, mencubit si itil sensitif, membuahkan pekikan serta tubuh gemetar hebat. Renjun tidak lagi mengayun pinggul, langsung meloncat-loncat mengakibatkan kursi besar itu bergoyang mengikuti irama seorang.

"Ahh! Aahhn!"

"Shit Nox.. udah gila." bukan hanya Jeno yang terpengaruh akan desahan serta bunyi becek kewanitaan disodok penis tebal, teman-teman daring di sambungan sana juga tertangkap menikmati suara Renjun sembari mengocok milik mereka jua.

"Tsk, nggak usah munafik, ngocok juga kan?"

"Ya kamu juga mulai pamer."

"Iya nih Nox jahat bener nggak bagi-bagi."

Jeno mengulas senyum miring, melirik layar dan kesayangan di pangkuan secara bergantian kemudian berhenti menggerakkan pemain demi mendekap erat figur langsing yang menungganginya. "Cium Daddy, Kitten." Renjun nampak menghela napas cepat tetapi menuruti perintah. Bibir kenyal mengait mesra pada bibir lelaki lebih tua, membunyikan kecapan tautan dan saliva yang bertukar sampai ke telinga pendengar tak dibayar.

"Daddy.. mmh.. Daddy- ahh Kitten deket.."

"Kitten mau muncrat? Mau kencingin Daddy sekarang?" kompor Jeno mengundang riuh dari beberapa orang di sana. Mereka ikut bergabung melempar kalimat kotor, seakan meminta Renjun segera orgasme membasahi Jeno bersamaan dengan kecepatan tangan mereka di kemaluan.

Renjun menegang saat gelombang klimaks datang menghampiri. Semburan hangat cukup deras menyiram bagian bawah Jeno yang masih mengenakan celana maupun perut yang tertutup singlet hitam. Lubang kencing terasa kembang-kuncup mengeluarkan aliran, termasuk lendir bening menetes cepat di sela-sela sumbatan. "Unghh.." erangnya merinding sebadanan, kayak seluruh rambut di badan pada tegak naik dan melambai-lambai, menyebarkan hormon dopamine ke peredaran darah. "nghh.. enak.. Daddy."

"Enak, Sayang? Masih gatel nggak memeknya?"

"Masih.. mmhh.."

Sorakan ricuh kembali menggema di gendang telinga kedua insan berhadapan. Semakin menyoraki Renjun yang kurang terpuaskan walau sudah keluar sekali, mengatai lelaki cantik itu kegatelan dan butuh digaruk oleh banyak titit.

"Ayolah, Nox! Kasih bagi dong ke kita, biar memeknya nggak gatel lagi."

"Mimpi banget." gerutu Jeno membuahkan gelak halus dari Renjun yang menyengir lebar terhadap sahutan di balik headset. Lelaki surai cepak mengganyang pipi pantatnya, mengunyel bak adonan, perlahan-lahan menggenjot ke atas demi mengejar klimaks seorang.

"Daddy.." lenguhan Renjun bak bensin dilempar brutal ke api membara. Jeno menghentak dalam-dalam, saling bertukar karbondioksida pada mulut terbuka disusul untaian meluncur dari lubang palkon di dalam si pengasuh.

Mereka bisa mendengar hembusan napas berat beradu di sambungan dunia maya. Teman sejawat Jeno meraih klimaks bersamaan, mengumpat memanggil julukan Renjun sambil membayangkan mereka juga menggauli sosok asing di pangkuan Jeno. Renjun mengaitkan bibir mereka lagi, mengecup berulang-ulang sampai bengkak, membelah biar mulut terbuka ketika Jeno menjulurkan lidah buat diajak bertautan basah.

"Masih marah?" tanya Renjun setengah berbisik sesudah puas menukar ludah tanpa ada rasa jijik di antara mereka. Senyuman tampan mengembang termasuk lengkungan sabit muncul di sudut netra setajam elang.

"Siapa bilang Daddy marah?"

Renjun mau tak mau mengulas senyum lebar, mengecup pipi Jeno sebagai akhir dari permainan lalu melepaskan penyatuan. "Sambil dimakan camilannya"

"Nggak demen kalau bukan kamu camilannya."

"Hmph." berbalik menjadi mode profesional, Renjun tampak memutar mata malas sembari menaikkan celana renda sekalian celana panjang. Dia tidak mengindahkan basahnya kemaluan, mencetak jelas di bagian selangkangan kemudian berlalu pergi begitu saja. Jeno kebagian senyam-senyum karena mendapat apa yang dia lewatkan pas menangkap basah Jaemin bersama Renjun lalu melanjutkan lagi permainan yang belum selesai dituntaskan.

.

.

.

***


Setiap malam, Renjun punya agenda istimewa. Iya benar. Memuaskan dua majikan sekaligus adalah jalan ninja Renjun sebelum mereka tidur nyenyak. Seakan mereka nggak perlu obat penenang buat pulas, main sama Renjun sudah termasuk pengobatan alternatif tanpa memerlukan senyawa kimia mengalir ke tubuh.

Usai makan malam, Renjun sudah digendong ala karung beras oleh salah satu dari mereka. Kadang Jaemin, kadang Jeno. Kadang kamar Jaemin, kadang kamar Jeno karena mereka pasti punya kasur yang cukup buat mereka bertiga. Renjun mah senang aja dibanting-banting ke sana kemari, kan memang kesenangannya didamba lelaki kekar. Apalagi kalau mereka juga ikut memuaskan, apa nggak tambah banjir si pookie tembam.

"Pak! Saya mau request!" selepas Renjun beneran termantul-mantul di kasur empuk, ia menarik perhatian para lansia yang sedang grasah-grusuh melepaskan pakaian.

"Mau apa?" tanya Jeno memiringkan kepala heran. Renjun mencoba menahan cengiran dengan menggigit bibir bawah, tapi entah kenapa tetap saja terpampang di wajah cerah.

"Kitten mau Daddy ciuman sambil ngocok satu sama lain."

Burung gagak lewat. Aaakkk! Aaaakk! Aaaak! Menyisakan kesenyapan mendera ruangan, mata terbelalak serta senyuman lebar tidak runtuh dari parasan muka.

"Serius?" itu yang terucap pertama dari mulut Jeno. Jaemin sih bodo amat ya orangnya, asalkan Renjun senang, menggagahi Jeno pun sanggup dia laksanakan sekarang juga. "Kitten mau.."

"Daddy ciuman, terus ngocokin titit satu sama lain." jawab Renjun sama sekali mempertahankan permintaan. Jeno dan Jaemin berpandangan, sementara si cantik berusaha menunggu dengan sabar.

"Tapi kita nggak gitu-"

"Ih! Kitten maunya gitu!"

Sumpah ya. Sejak kapan Renjun jadi menuntut begini huh? Perasaan waktu awal-awal mereka ngasur bareng, Renjun tipikal pemalu dan menerima apapun yang dikasih dua sekawan. Titit sudah, dijebol dua lubang sudah, digrepe-grepe sudah, dibuat mancur apalagi.

Ada efek apa nih?

"Daddy sih nggak masalah, nggak tahu Jeno ya."

Renjun mengarahkan tatapan penuh harap ke Jeno. Sengaja manik rubah dikedip-kedipkan lucu, dibuat berkaca-kaca, bibir bawah menjulur sesekali dimanyun-manyunin biar Jeno luluh. Pria surai cepak terlihat ragu, bimbang, ah pokoknya nano-nano kalau disuruh membayangkan dia ciuman sama Jaemin sambil ngocokin teman oroknya itu. Ah! Elah si Renjun benar-benar ya! Untung kusayang!' kira-kira begitulah batin Jeno bergejolak saat mendapati kitten kesayangan memasang raut murung.

"Yaudah!" akhirnya ia setuju. Renjun sontak berbinar, bak ketiban permata dua kilogram, jatuh dari khayangan mendarat di depan mata. Dia tergesa-gesa melucuti pakaian, menyisakan diri telanjang bulat di hadapan sang majikan. Jaemin mengedikkan bahu tak acuh, melanjutkan pelepasan celana rumah sementara Jeno dengan sirat muka yang masih mencerna bergabung polosan jua.

"Oke, Kitten mau gimana?"

Sembari menyandarkan punggung pada kepala ranjang, Renjun melebarkan kedua kaki yang ia tekuk bagian lututnya. Sengaja memamerkan belahan gembil nan menggoda iman, serta menggetarkan batang kemaluan dua pria tertua. "Eum.. iya ciuman sana, Kitten liatin sambil colmek."

Jaemin dan Jeno bertatapan lagi. Sinar mata Jaemin seolah mengatakan do it now or never, sorot netra Jeno menggambarkan keraguan untuk mencium temannya. Renjun tuh gregetan banget karena mereka belum mengeksekusi, dia seorang sudah mengulum dua digit lentik, membaluri ruas jari pakai saliva, kemudian mendarat di tirai yang menyembunyikan klit.

"Bah, lama kali lah Daddies!" protesnya mengerucutkan bibir. Jaemin duluan menampakkan dominasi, memegang leher tegang Jeno lalu menubruk bibir mereka agak keras. Jeno nampak memejamkan mata, kelihatan dari kelopak yang berkerut kala bibirnya bertemu punya Jaemin. Lelaki surai cokelat memperdalam pagutan sampai bibir mereka bertaut sempurna. Renjun mengedip-ngedipkan mata tak percaya, mulai menggosok parasan telunjuk tepat di kelentit, menambah stimulasi pemandangan menaikkan syahwat semakin menjadi-jadi. "fuck.. akhirnyaa ahhh."

Sebenarnya mereka tidak menduga bahwa Renjun akan terpengaruh pada apa yang mereka lakukan sekarang. Jaemin mengaku dia tidak merasakan apa-apa ketika keduanya berebutan dominasi, bibir bawah Jeno dia gigit pelan hingga kawannya terperanjat, refleks membuka mulut. Kini lidah panjang yang suka membawa Renjun melihat bintang di plafon, bertemu lidah lainnya di rongga makan lelaki rambut cepak.

Renjun tak dapat berpaling dari pameran terseksi sepanjang ia tinggal di sana. Melihat bagaimana Jaemin berusaha mendominasi Jeno sambil mencengkram leher sahabatnya, disusul Jeno jua tak mau menyerahkan diri seperti submisif pada umumnya, mengambil kesempatan meremas kejantanan Jaemin hingga lelaki itu mendesis halus.

Pemuda yang bersandar secara tak sadar ikut meremas miliknya, sebuah desahan lolos dari belah bibir kenyal, mencuri perhatian kedua majikan. Manik cantik itu berkilau di pandangan mereka, menumbuhkan perasaan ingin memberi pameran terbaik untuk asisten kesayangan.

Lengan kekar berkontraksi kala Jeno maupun Jaemin bergerak menggrayangi tubuh telanjang satu sama lain. Tangan penuh urat merayap ke selangkangan, mengurut penis tegak tanpa melepaskan ciuman sama sekali. Mereka melirik ke Renjun demi melihat reaksi, dimana lelaki rambut pirang berulang-ulang meredam desahan sendiri seraya menyelipkan dua digit ke dalam mulut bawah sekaligus dikocok menyesuaikan tempo genggaman majikannya.

Pagutan panas terlepas, menyisakan dua sekawan menghela napas hangat di mulut masing-masing. Jaemin menyunggingkan senyum miring bak menantang, sedangkan Jeno tetap datar dengan bibir membengkak akibat ulah sahabat seorang.

"Lagi.. nghh.. lagii Daddy.." erang Renjun mempercepat irama digit lentik di liang, bunyi kecipak lendir terdengar merdu, memantul ke dinding kamar. Lelaki termuda menggeliat resah, pertanda ia dekat. Pinggul bergetar pelan, pergelangan tangan diputar membuahkan pekikan kecil saaf pancuran menyeruak keluar. "ahn!"

Jaemin maupun Jeno tidak berkedip, sebaliknya menatap penuh hasrat bagai hendak menerkam Renjun saat itu jua. Mereka berhenti memuaskan kemaluan, beralih mengelilingi si cantik yang tersengal seperti pusat tata surya.

Kelopak perlahan menutup separuh, Renjun membiarkan dirinya dibuai mesra oleh para majikan dan hanya meloloskan erangan pada sensasi bibir maupun sentuhan lembut bergerilya di kulit putih mulusnya. Jeno mengambil kesempatan mencium duluan, sementara Jaemin mengecupi bagian dada sesekali menjentik pentil mungil yang terasa tegang. Renjun menjerit tertahan, pelumas alami merembes dari lubang kedutan, mengundang tangan-tangan kekar mengusap atau meremas tudung kenyal nan menggemaskan.

"Mmphhh!"

Chup- chup- chup. Seluruh permukaan tubuh Renjun ditumbuhi bercak merah, sebagai tanda kepemilikan, sebagai pengingat bahwa hanya dua sekawan yang dapat melakukan hal ini kepadanya. Perut Renjun menghangat setiap kali digit panjang menyelinap menyapa saluran, mengocok tiada henti, entah punya siapa lantaran dirinya terhimpit figur kekar. Semakin membuatnya kecil, dan lemas tak berdaya.

"Pilih satu, mau dudukin Daddy Jaemin atau Daddy?" tanya Jeno setelah tautan mereka terlepas, meninggalkan Renjun bernapas besar-besar, kagok mau menjawab.

"Daddy Jaemin-" si cantik berucap, "sambil kulum Daddy Jeno."

Burung tegak di selangkangan pokoknya berdiri setinggi tiang sewaktu mendapati permintaan. Posisi mereka berubah. Jaemin merebahkan badan, membawa Renjun mengukung kepala sendiri menggunakan lutut di sisi kanan kiri sambil menghadap ke Jeno yang duduk membuka kaki di antara paha Jaemin. Renjun nampak menjilat bibir begitu disuguhi dua kelamin, menyuruh Jeno menggeser lebih dekat supaya bisa mengulum kedua-duanya sekaligus.

"Emang muat?"

Renjun mengulas cengiran jenaka, menurunkan liang tepat di hidung mancung Jaemin dalam posisi menungging seraya menumpu badan seorang pakai lengan di sisi paha sang majikan. "Kan udah terlatih." itu saja jawabannya kemudian memulai aksi. Jaemin sudah duluan menyantap, memainkan lidah di sekitaran mulut liang serta klit yang berdenyut cepat. Jeno menontoni Renjun membelah bibir kenyal, meraup dua kepala jamur tanpa kesusahan sama sekali.

Dinding menjadi saksi bisu decakan puas dan geraman rendah bersumber dari Jeno. Jaemin melingkarkan lengan di pinggang ramping, menurunkan pantat Renjun biar ia membenamkan seluruh wajah di organ intim. Lelaki surai pirang tersedak begitu indra lunak menggores saluran, kemudian menari-nari usil tanpa mengacuhkan sang pemilik.

Seuntai liur jatuh mendarat di rambut kemaluan, Renjun melepaskan sebentar karena rasa nikmat membuat otaknya hendak mengerang seraya menekan muka Jaemin lebih dalam.

"Kitten, jangan kenceng gitu duduknya ntar Daddy Jaemin penyet loh." tegur Jeno mendapati Renjun berani menggesekkan miliknya di wajah Jaemin, terutama di hidung mancung yang punya tonjolan keras, seakan bisa ia gunakan jadi pemuas sementara selain penis.

Jaemin nggak mengindahkan, justru membiarkan Renjun memanfaatkan hidung, tulang pipi, serta mulutnya untuk mencapai klimaks. Benar saja, sambil mengerang-ngerang manja, pinggul Renjun terangkat sedikit, disusul pancuran membludak dari lubang kencing tepat di belahan bibir.

"Mmphh.. maaf Daddy, Kitten nggak kuat.. nghh."

Tamparan sedikit keras mendarat, mencetak telapak berlima jari tepat di pipi pantat yang bergoyang macam jeli. Jaemin menyeringai, mengecup si liang kedutan, menyeruput tetesan lendir yang bocor ke dagu, bagai ingin menghisap nyawa Renjun dari sana.

"Daddy Jeno lagi."

Posisi ditukar. Jeno ambil giliran berbaring lalu Renjun duduk meski sedang gemetaran tepat di muka gantengnya. Kali ini Jaemin yang berdiri mempersembahkan si otong, didamba sepenuhnya oleh mulut Renjun, bersamaan tangan lentik tak ketinggalan mengocok punya Jeno di selatan.

Sumpah ya memang nggak bisa Renjun tuh multi-tasking. Disaat kerongkongan seorang disodok tanpa ampun, lidah Jeno tidak berhenti bergerak di meki, ntar klitnya dijentik pakai ujung lidah, ntar keluar masuk di liang kawin, ntar mulut pria surai cepak itu mengenyot-ngenyot kayak empeng bayi. Renjun banyak tersedak, menjatuhkan air liur di sudut bibir terbuka hingga manik rubah berkaca-kaca. Begitu perutnya memberi aba-aba, ia tergesa-gesa melepaskan yang ia lahap.

"Puah- mmhh.. ahhh.. Daddy mau.. mau squirt.. mmhh!"

Jaemin memegangi lengan Renjun yang menggelinjang membasahi Jeno di bawahnya. Pinggul terhentak maju mundur, lubang belakang kembang kuncup menarik perhatian Jeno buat melumasi di sana pakai lendir yang terbuang. Jarinya kena jepit, fuck- sudah sempit, sedap pula! Jeno nggak sabar mau membobol lubang belakang kalau responnya antusias kayak gini.

"Unghh bentar- Kitten capek.." keluh Renjun mencari posisi enak buat berbaring dan mengambil napas sebentar. Tiga kali klimaks rasanya seperti terbang ke surga, jatuh dari ketinggian. Dia meringkuk macam udang, mengapit kemaluan, kebas karena kebanyakan keluar.

"Nungging, Sayang." Jaemin bersuara. Renjun mendongak.

"Eh sebentar dulu Daddy! Kitten capek tau mancur terus."

"Yaudah ngangkang aja."

Renjun benar-benar nggak habis pikir sama libido mereka berdua. Jeno tampak gagah perkasa dengan torpedo di selangkangan, Jaemin juga nggak kalah menawan waktu berlutut dengan pentungan di segitiga emas.

Lemas. Itu saja yang dapat ia deskripsikan sewaktu Jeno menyangkutkan kepala jamur lewat lubang pantat tanpa pemanasan, dan Jaemin menyusup di liang depan. Seketika Renjun penuh pakai banget. Mereka membuatnya sesak sampai tenggorokan, seolah penis mereka nembus hingga ke sana.

"Main jeblos aja, si Jeno. Disiapin dulu, anjir!"

"Udah biasa dia." Jeno memang belum bergerak utuh, masih membiarkan lubang Renjun membiasakan peregangan dari palkon gendut. Jaemin sudah menghentak sekali dorong, memandangi air muka teler yang dipamerkan Renjun sekarang. "lagi Kitten?"

Renjun cuman bisa mengangguk, terserah deh mau diapain dua lubangnya yang penting mereka keluar dulu sepuasnya. Biar mereka bisa istirahat, biar mereka mengisi tenaga semalaman sebelum menggempur Renjun di hari esoknya.

"Iya gerak.. gerak.. Kitten lemes banget." erang si cantik mengizinkan. Pokoknya malam itu Renjun cuman kedapatan menjerit begitu dua penis berkedok pentungan hansip bergerak maju mundur mengoyak saluran. Cairan kewanitaan menetes-netes di batang kemaluan Jeno jadi genjotannya ikutan licin seperti Jaemin di sarang depan. Pentil Renjun kena cubit, itil menyembul kena tarik, dibuat melar, dibuat merah, dibikin bengkak sama cubitan Jaemin seiring dua pria lansia menggagahi Renjun tiada habisnya.

Mereka baru klimaks setelah Renjun memancur duluan, melukis lorong dengan putih hingga tumpah ruah bersamaan cairan si pengasuh jua. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas, sudah cukup permainan mereka malam ini. Apalagi menemukan Renjun terbaring dalam dekapan Jeno, tidak mau bergerak, memejamkan mata erat diselingi helaan napas acak.

"Pak, saya nggak sanggup siapin air buat mandi ya, mata saya berat." gumam Renjun pelan.

"Nggak ada yang nyuruh kamu nyiapin air, Sayang." balas Jeno tetap membiarkan dirinya menjadi penyangga dimana Jaemin sudah mencabut penyatuan, lalu pergi mencari handuk yang dibasahi air buat membersihkan badan mereka bertiga.

"Tapi.. Bapak.. kan.. mau tidur masa nggak mandi- zzzzzzz."

Jeno berusaha tabah menghadapi kegemasan Renjun yang tadinya meracau tiba-tiba mendengkur halus. Dia tak sadar memeluk lengan Jeno bak guling, menempelkan pipi pada dada yang menangkap detak jantung Jeno yang berdetak menghanyutkan. Lelaki surai cepak menyampirkan senyum, membelai pahatan wajah ayu secara pelan, takut membangunkan si pangeran tidur.

Jaemin datang membawa dua buah handuk, satu dia lempar ke Jeno, satunya lagi dia usapkan ke Renjun. Sungguh beda sekali perlakuannya membuahkan Jeno hampir memukul lelaki itu pakai kain di genggaman.

"Tidur kamarmu aja, Jen, biar besok baru kubersihin." sambil memakaikan kaos kedodoran miliknya pada figur ramping di pelukan Jeno, Jaemin melontarkan saran. Kedua sekawan bergantian menggendong Renjun buat mengenakan dalaman kemudian meninggalkan kamar Jaemin supaya beristirahat di kamar utama satunya.

Renjun terhimpit macam isian roti lapis. Kalau di burger, peran dia sebagai daging tebal yang melengkapi dua roti panggang di sisi kanan kiri. Sebelum benar-benar tertidur, mereka menatap asisten cantik di tengah-tengah, makin terpana sama pesona yang ia pancarkan meski sedang terlelap, dimana raut Renjun benar-benar indah di pandangan mereka.

"Siapa yang nyangka kita ciuman gara-gara orang ini huh?" Jaemin terkekeh duluan memecah keheningan kamar dengan suara baritonnya. Jeno mau tak mau ikut tergelak, kepala menggeleng-geleng sembari mengelus pipi tembem Renjun sebelah kanan.

"Definisi apa yang Kitten mau, Kitten dapatin." sahut Jeno pelan agar tidak mengganggu kepulasan si cantik.

"Huh, sekali ini aja ya, Ren. Besok-besok saya nggak sudi ciuman selain sama kamu." bisik Jaemin entah didengar apa nggak lantaran Renjun lagi berkelana di alam mimpi tentang dua majikannya bercumbu ganas di hadapan dia yang kesenangan karena fantasi seorang berhasil diwujudkan.

Benar kata Jeno barusan, what Kitten wants, Kitten gets.

Mereka sudah terlanjur mabuk kepayang sama pesona sang asisten sampai mau melakukan apapun yang nggak pernah sama sekali mereka lakuin selama berteman.

.

.

.


 

Notes:

thanks for reading. happy new year🥳