Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2017-01-11
Words:
685
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Hits:
135

Coloring Blue

Summary:

Kata dokter kandungannya tidak terselamatkan. Yoongi mengangguk mengerti. Tapi kenapa ada yang mengganjal disini?

Notes:

Rekomendasi lagu: Troye Sivan ft Alex Hope - Blue

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kata dokter kandungannya tidak terselamatkan. Yoongi mengangguk mengerti. Tapi kenapa ada yang mengganjal disini? Ada yang mengganjal di ulu hatinya yang mendesak udara di paru-paru menekan ke atas hidung yang mulai membuntu.

 

“Tak apa sayang, kau yang utama untukku.”

 

“Aku gagal memberimu anak, Yoongi,” gadis itu mulai terisak.

 

Yoongi sungguh tak masalah. Dia baik-baik saja asal selalu bersama istri tercantiknya. Jadi Yoongi bangkit dari kursi dan mendekap kepala gadis itu di dada, “Kita bisa mendapatkan anak nanti, tapi mendapatkanmu hanya bisa sekali. Asal kau baik-baik saja aku tak masalah.”

Lalu gadis itu balik memeluk Yoongi dalam. Menenggelamkan wajah sampai gesekan kain katun suaminya terasa panas di dekitar mata. Yoongi memeluk sambil mencium lama puncak kepala si gadis. Menyadari kaki istrinya masih bergetar menjuntai dari sofa tempatnya duduk. Yoongi membelai lembut punggung di gadis, afeksi kecil yang kemudian turun ke lulut, menghentikan getaran ritmis si gadis dengan postur tubuh berlutut di hadapannya. Mata gadisnya sembab, aliran air mata tercetak jelas di sana. Bibirnya masih bergetar dan melengkung kebawah.

Tak pungkiri, kurva Yoongi juga melengkung ke bawah.

Tiga minggu usia kehamilan saat si gadis menyadari ada yang lain hidup di rahimnya. Seminggu kemudian Yoongi buru-buru membawa si gadis ke rumah sakit karena mengeluh sakit perut saat buang air. Darah sudah menggenang saat Yoongi berinisiatif masuk ke toilet karena gadisnya tak kunjung selesai. Si gadis hanya menangis karena fobianya pada darah malah membuat tubuhnya lemas.

Dua tahun pernikahan. Keduanya ingin segera punya anak. Tahun ini Yoongi berumur 37 tahun sedangkan istrinya berumur 25 tahun. Umur yang cukup matang bagi si gadis untuk punya anak dan rawan karena Yoongi sudah mulai menua. Rawan karena semakin lama punya anak maka jarak Yoongi dan anaknya akan semakin jauh. Dia takut tidak bisa menemani anaknya bermain karena tubuhya mudah lelah dimakan usia. Itulah mengapa mereka begitu bahagia saat melihat dua garis (sekalipun satunya samar) dari kotak petunjuk test-pack.

Tapi hadiah dari Tuhan belum sampai di alamat rumahnya.

Gadis itu mulai menenangkan diri. Perasaannya tentu masih kalut. Ada banyak awan gelap dan hujan deras mengguyur atmosfir rumah itu, tapi seolah tidak menyentuh Yoongi. Yoongi masih dalam ekspresi datar. Walaupun tadi dia sempat tersenyum saat menenangkan gadisnya. Walaupun dia mengklaim bahwa kurva hatinya juga melengkung ke bawah. Tapi ekspresi wajahnya seolah tak ada apa-apa. Datar dan dingin. Pusaran angin bah menggulung tubuhnya untuk menjauhi hujan badai sejauh mata memandang ruang kamar.

“Apa dia sudah bernyawa?” istrinya bertanya tiba-tiba. Wajahnya tertunduk mengamati tangannya yang terselimuti gengaman besar Yoongi.

“Belum, sepertinya.”

“Apa ‘anak’ itu tau kita pernah akan menjadi orang tuanya?”

“Entah."

“Kuharap dia ingat.”

“Dia belum bernyawa, sayang.”

“Kalau begitu aku yang akan mengingat benihmu pernah mampir dan tumbuh di sini,”

“Hey,” Yoongi mengintip wajah si gadis sebelum mencium lembut bibirnya. Ada rasa asin menyela di sana. Silih bertumpuk rasa sesak menekan dada dan sakit di rusuk. Sesekali sesalan yang dibungkam lagi oleh sapuan hangat jauh di dalam mulut. Jemari gadisnya meremas kuat kaus katun Yoongi. Merapal ”maaf, maaf, maaf” dalam gerakan bibir. Yoongi membalas “Ini takdir yang harus kita relakan” lewat tangannya yang menangkup wajah si gadis.

Udara dingin malam tidak merasuk baginya. Tak ada rasa dingin dari sisa salju di bulan Januari. Bahkan Yoongi hanya mengenakan kaus yang dibalut jaket tipis dan celana jeans. Sesekali orang memandang aneh ke arahnya. Ya, dia pria aneh yang duduk di halte berjarak 500 meter dari rumahnya pada pukul setengah dua belas malam yang sudah jelas waktu beroperasi bis sudah habis. Istrinya sudah tidur—kelelahan—saat yoongi tinggal pergi untuk mencari udara segar.

Yoongi kembali mengawang. Tapi kenapa ada yang mengganjal disini? Padahal dia tidak sedih, marah, atau kecewa (walaupun kecewa sempat ada namun segara pudar saat menyadari kesehatan istrinya adalah prioritas utama).

Tapi kenapa ada yang mengganjal disini? Sekalipun Yoongi sangat ingin memiliki anak tapi dia masih bisa bersabar pada takdir sekalipun berdoa adalah hal yang jarang dia lakukan.

Tapi kenapa ada yang mengganjal disini? Ada yang mengganjal di ulu hatinya yang mendesak udara di paru-paru menekan ke atas hidung yang mulai membuntu. Perlahan pandangannya menjauh pada langit malam yang gelap tanpa bintang dan bulir-bulir hangat mengalir turun dari sudut mata. Akhirnya rasa ini datang juga.

Notes:

- Mulai pukul 10.22 PM. Selesai pukul 11.45 PM.
- Sebenarnya ini hasil luapan emosi dan sakit kepala karena habis nangis (baru tau kalau nangis itu bikin pusing karena jarang nagis ugh). Dan begini deh kalau lagi baper (walaupun cuma drabble)
- Sepertinya cocok jadi side story dari fanfic yang lagi di garap sekarang. Kalau mampu suatu saat akan dimunculin kok cerita Yoongi yang nikah sama cewek yang jauh lebih muda dari dia (ada yang tertarik? Ada?)