Actions

Work Header

you'll be safe under my control

Summary:

Pemuda itu kembali meracik somaeknya, mencampurkan bir dan soju ke dalam gelas dan meraih sumpit untuk diletakkan di dasar sebelum kemudian mengetuknya seperti biasa.

Jeongin melihatnya menuangkan bubuk lain ke dalam gelas, meski dalam kondisi otaknya yang sekarang, dia tak bisa memproses lebih jauh. Didengarnya bibirnya membuka untuk bertanya, "Apa itu?"

Seungmin menoleh padanya dan tersenyum seraha menyerahkan gelas itu. "Padahal selalu kukasih ke dalam minumanmu."

"Iya?"

"Iya," angguknya tenang, mengawasi Jeongin yang dengan patuh meminum gelasnya tanpa pertanyaan lain. "Tapi kamu nggak akan pernah tahu, ya? Kamu nggak pernah bisa inget bagian ini, sih."

Notes:

seungmin use "rape"/"perkosa" as a joke (i mean he's already described as redflag berjalan di sini), mungkin uncomfortable untuk beberapa orang.

Chapter Text

01.

"Kamu dateng!"

Seungmin tertawa kecil saat dia menangkap Jeongin yang melompat ke dalam rengkuhannya. Didekapnya tubuh yang sebetulnya hanya lebih pendek tiga atau empat senti itu, lalu dikecupnya ceruk leher Jeongin hingga si empunya terkikik geli. "Pacarku minta aku dateng," kata Seungmin tenang, "jadi mana mungkin aku nggak dateng?"

"Tapi belakangan ini, kamu makin sibuk," gerutu Jeongin, dengan agak tak sabar menarik lengan Seungmin yang baru selesai menutup pintu apartemen dengan hati-hati.

"Bukannya kamu yang nggak punya banyak waktu buatku?" tanya Seungmin dengan alis terangkat, menyempatkan diri mengecup sudut bibir Jeongin yang mengerucut lantaran dia tak bisa membantah. "Tapi pesanmu hari ini kedengeran desperate banget—kenapa?"

"Aku butuh bantuanmu," kata Jeongin yang matanya kembali berbinar dengan riang saat dia sekali lagi berusaha menarik ujung jas Seungmin yang masih bergeming. "Penting banget."

"Bantuan buat acting?"

"Bisa dibilang begitu."

Seungmin melepaskan tangannya dari tarikan lengan Jeongin. Jemarinya bergerak naik untuk menghalau helai rambut Jeongin yang menghalanginya untuk menatap netra cokelat favoritnya. Ia menelengkan kepala, sedikit mengernyit ketika bahkan sekarang setelah mata Jeongin tak terhalang apa pun, pemuda itu tetap menolak menatapnya.

Dia ingat kalau manajer Jeongin sudah pernah mengabarinya tentang naskah drama yang masih dalam tahap perbincangan seminggu lalu—judul dan detailnya belum dikirimkan karena mereka masih menunggu persetujuan semua pihak. Seungmin tahu benar kalau Jeongin tidak akan pernah melewati batas yang telah mereka sepakati, tapi…

"Bukan adegan ranjang, 'kan?" tanyanya, sebisa mungkin menjaga nada suaranya tetap netral.

"Bukan!" bantah Jeongin ngeri. "Kamu 'kan tahu aku nggak akan terima yang kayak gitu."

"Oh," kata Seungmin, mengembangkan senyumnya lagi. "Jadi apa? Manajer Shin nggak bilang apa-apa, jadi kupikir belum final…?"

"Memang aku yang nyuruh dia nggak bilang," jelas Jeongin, kembali menjawil lengannya. "'Kan lebih enak denger semuanya dariku daripada kamu denger dari orang lain."

Pemuda di hadapannya (yang, demi Tuhan, masih setia bergeming seakan dia tidak menangkap gestur Jeongin yang ingin cepat-cepat menyeretnya masuk ke dalam) kembali mengangkat alis dengan sangsi. "Kalau aku cuma denger 'semuanya' darimu, bisa ada yang kamu tutup-tutupin atau nggak kamu ceritain."

"Biasanya, itu 'kan karena aku lupa!"

"Makanya kita butuh notulen yang ingat semuanya, 'kan?"

Jeongin mengerang, nyaris putus asa. "Ayo masuuuk."

Tetapi Seungmin selalu merasakan kepuasan tersendiri saat melihat Jeongin gagal dalam usaha untuk meluluhkan hatinya—seperti sekarang. Meski fisiknya memang terlihat lebih ramping daripada Jeongin yang rutin berolahraga, untuk beberapa alasan dan dalam banyak situasi berbeda, dia lebih sering menang dalam hal tenaga dan tekad (kadang dia berpikir Jeongin tidak menggunakan seluruh tenaganya karena dia memang tidak ingin menang—yang mana jika itu benar, malah lebih bagus lagi).

Seungmin tertawa ketika Jeongin yang gagal menariknya untuk melangkah maju malah jatuh menubruk dadanya. Dia meraih pinggang Jeongin dan mengabaikan gerutuan pemuda itu, kembali menenggelamkan kepala di ceruk lehernya. Dirasakannya tubuh Jeongin menggeliat pelan dalam rengkuhannya—mudah, selalu mudah untuk membuat Seungmin tersenyum. Apa pun yang dilakukannya bersama Jeongin nyaris selalu bisa membuat ia tersenyum atau tertawa.

"Jangan senyum-senyum," gerutu Jeongin lagi.

Maka Seungmin menurut—

"Jangan cium-cium juga!"

Tawanya menguar sekali lagi. "Aku nggak boleh senyum; nggak boleh cium juga—jadi aku harus apa? Kamu bahkan nggak nyambut aku sejak tadi."

"Tadi 'kan udah kusambut," bantah Jeongin dongkol.

Bibir Seungmin bergerak perlahan menyusuri ceruk lehernya sampai ke depan, dengan mudah mengangkat tubuh Jeongin sampai si empunya terpaksa melingkarkan kakinya di pinggang Seungmin. Bola matanya bergerak ke atas, tepat menatap iris cokelat Jeongin yang agak bergetar lantaran bibir Seungmin tak berhenti menggerayangi bagian kulit di dekat tulang selangkanya sekarang. "Yang biasa," kata Seungmin, melepaskan bagian kulit itu setelah dia puas, tampaknya tak berniat merapikan piyama Jeongin yang ia singkap dan kelihatan agak berantakan.

Jeongin menunduk menatap kulitnya yang agak kemerahan akibat aksi barusan, tampaknya tidak menyadari bahwa wajahnya terlihat jauh lebih merah. "Hari ini nggak bisa. Dan jangan cium-cium kayak gitu, jangan tinggalin bekas, kamu 'kan tahu besok aku ada jadwal."

Benar—Seungmin selalu tahu; beberapa kali bahkan lebih hapal soal jadwalnya ketimbang Jeongin sendiri.

"Aku nggak akan kasih jawaban aneh-aneh—jadi sambut aku kayak biasa," pinta Seungmin dengan wajah tanpa dosa.

Pemuda dalam gendongannya mengerang. Keputusan yang jelas salah, karena Seungmin malah mengecup ujung hidungnya lantaran menurutnya yang barusan itu menggemaskan.

"Ayo bilang."

Demi Tuhan, Jeongin ingin sekali mengutuk dirinya di masa lalu yang punya ide gila untuk memberi sambutan yang di kemudian hari malah dianggap sebagai bentuk paling lazim untuk menyambut Seungmin di pintu depan apartemennya sendiri. Jeongin selalu malu untuk mengatakannya tiap kali dia sadar, dan walau dia tahu Seungmin yang jauh lebih menikmatinya ketika dia berkali-kali menolak pada akhirnya akan mendapatkan apa pun yang ia mau, Jeongin tetap akan berkeras menolak seperti ini sampai salah satunya menyerah (tidak perlu dijelaskan lebih lanjut kalau Seungmin tak pernah jadi pihak yang kalah).

"Halo," kata Jeongin lirih, "'mat datang, Seungmin."

Seungmin mengangguk, tampak lebih puas. "Terus?"

"Kamu mau apa dulu—makan, mandi, atau… makan aku—?"

Teriakan tertahan Jeongin ditenggelamkan oleh telapak tangannya sendiri sementara Seungmin tertawa, jauh lebih lepas kali ini.

"Makan kamu."

Jeongin mendelik dari balik perisai-telapak-tangannya. "Katamu tadi, kamu nggak bakal kasih jawaban aneh-aneh."

"Itu nggak aneh." Seungmin memberinya seulas senyum, "Itu jawabanku yang biasa."

"Nggak," geleng Jeongin enggan. "'Kan udah kubilang, nggak boleh. Nggak boleh seks, nggak boleh cium-cium berlebihan, nggak boleh ngelakuin hal-hal aneh hari ini. Aku punya jadwal besok. Dan turunin aku."

Seungmin menatapnya agak lama, sedikit membuat Jeongin bergidik. Butuh beberapa tarikan napas lagi hingga akhirnya pemuda itu menurunkan Jeongin dari gendongannya, meski wajahnya kelihatan agak enggan. "Mandi."

"Oke," kata Jeongin. Dia menengadah dan menatap wajah Seungmin. Rona wajahnya mulai kembali normal ketika melihat mata cokelat pekat itu balas menatapnya. Jeongin mengecup bibir pemuda di hadapannya, cukup cepat untuk tak membiarkan Seungmin menahan bibirnya lebih lama.

"Kamu tahu 'kan kalau kadang kamu bisa lebih curang daripada aku?"

"Nggak sebanding, jadi nggak apa-apa," kata Jeongin seraya menjulurkan lidah. Digamitnya lengan Seungmin dan dituntunnya pemuda itu hingga mereka benar-benar masuk ke dalam—senyumnya mengembang lebih lebar saat Seungmin tak lagi menolak.

Kaki Seungmin berhenti saat mereka melewati ruang tengah, otomatis membuat Jeongin berhenti melangkah juga.

"Apa…?"

"Apa itu?" tanyanya seraya mengangguk pada kumpulan botol alkohol dan kaleng soda di atas meja—beberapa ada yang sudah terbuka.

"Alkohol," kata Jeongin retoris.

"Kalau itu, sih, aku tahu," ujar Seungmin tak sabar. "Maksudku, buat apa? Kamu mau minum hari ini? Ada masalah, atau kamu cuma—"

"Nanti kuceritain, jadi ayo kita mandi dulu…"

"'Ayo kita mandi dulu'? Aku nggak tahu kalau ternyata kamu kepingin mandi bareng."

Jeongin hanya mendelik.

 

===

 

Seungmin menyilangkan tangan dari posisinya di sofa sementara Jeongin berdiri di seberang seraya memainkan jemarinya dengan gugup. Mereka sudah selesai mandi (Seungmin gagal menjebak Jeongin agar tetap di dalam bathub supaya mereka bisa menghemat waktu), makan (Seungmin lagi-lagi gagal memakan yang lain selain makan malam yang disediakan Jeongin untuknya), dan berganti pakaian (dia berhasil meloloskan kemejanya yang kebesaran sebagai ganti piyama belel kesayangan Jeongin karena dia punya urgensi untuk setidaknya menang sekali lagi malam ini, dan dia juga memastikan Jeongin tak mengenakan yang lain selain celana dalamnya untuk meminimalisir hal-hal yang dia yakin akan perlu dia lakukan nanti).

"Jadi?" tanyanya seraya mengangkat alis.

Jeongin berhenti memainkan jarinya dan menegakkan diri, lalu menatap Seungmin lurus. "Aku butuh bantuanmu."

"Dan apa tepatnya itu?" tanya Seungmin, satu tangannya menyelinap ke dalam saku celana piyamanya, meraba kantung yang untungnya tak pernah luput dia bawa—sepertinya dia akan butuh itu lagi malam ini. "Kamu perlu latihan buat adegan ciumanmu lagi? Dan kamu bakal take itu setelah mabuk di shoot yang sebenernya nanti?"

"Oh," kata Jeongin, agak terkejut. "Nggak persis begitu, dan nggak se… um, sebegitunya…? Ada beberapa poin yang bener, jadi mungkin kalau kamu mau denger ceritaku dulu…?"

Seungmin menatap pemuda di hadapannya yang masih kelihatan gugup luar biasa. Jeongin adalah aktor yang hebat, tetapi semua kemampuannya sepertinya memang mudah luruh di hadapan mata Seungmin yang selalu kelihatan siap menelanjanginya. Pemuda itu baru bisa menghela napas lega ketika Seungmin menghela napas dan mengenyakkan diri, lalu mengangguk.

"Oke, jadi… setelah beberapa pertimbangan, aku mutusin buat ambil peran itu. Harusnya Yuna udah kirim detailnya ke emailmu sekarang," katanya memulai, mengawasi Seungmin membuka ponselnya.

"Pemeran utama," kata Seungmin seraya menggulir layar ponselnya. "Nggak heran."

Jeongin merasakan rona menjalari pipinya. "Trims."

"'Limbo'?" kata Seungmin seraya membaca, "premisnya oke."

"Ya," angguk Jeongin, kedengaran lebih berani. "Aku juga suka."

"Jadi, hubungannya sama ini semua…?"

"Um," Jeongin yang tiba-tiba saja menjadi gugup lagi, "ada beberapa adegan di mana aku… aku, um…"

"Mabuk."

Yang lebih muda membuka-tutup mulutnya, tetapi tidak menemukan sangkalan yang tepat hingga ia akhirnya mengangguk. "Betul."

"Dan…?"

"Sebetulnya sederhana," kata Jeongin setelah menepuk-nepuk pipinya untuk menetralkan emosinya sendiri. "Adegan di mana aku harus kelihatan mabuk, betul. Beberapa. Aku butuh itu kelihatan lebih nyata di kamera, jadi… cukup solutif untuk mabuk betulan, 'kan?"

Seungmin mengetuk satu dari sekian banyak botol dan kaleng di atas meja, dan Jeongin tidak perlu terlalu sulit menerjemahkan bahwa pada intinya, pemuda itu jelas tak setuju.

"… 'kan?" tanyanya, mencoba lagi.

"… Kamu inget kelakuanmu tiap kali mabuk, 'kan?"

"Nggak pernah seburuk itu," cicit Jeongin pelan.

"Oh, ya?" tanya Seungmin dengan alis terangkat.

"Iya," kata Jeongin bersikukuh, "karena aku minum sendiri beberapa hari lalu. Dan beberapa minggu lalu. Kamu mungkin udah tahu."

Terang dia sudah tahu—tidak ada satu pun aktivitas Jeongin yang luput darinya, tetapi kalau tidak mendesak, Seungmin tak akan membahasnya kecuali itu membuatnya marah atau dia merasa Jeongin terlalu menyepelekannya.

"… Ya, aku tahu," katanya setelah beberapa saat. "Menurutmu kenapa aku nggak bahas itu?"

"Karena kamu nunggu aku yang bilang."

"Betul. Kamu inget apa yang selalu kubilang ke kamu?"

Jeongin mengangguk. "Kamu bilang aku nggak boleh minum kalau nggak ada kamu—atau jangan minum terlalu banyak, kalau aku memang aku harus minum. Aku… aku tahu aku memang selalu jadi agak… eh… hilang kendali tiap aku minum terlalu banyak, tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku nggak pernah separah itu."

"Kamu selalu berakhir merkosa aku tiap mabuk."

Yang dituding berjengit ngeri. "Kamu—'kan udah kubilang jangan sebut kata itu dengan intensi bercanda kayak barusan! Lagipula, gimana bisa aku disebut begitu kalau kamu juga mau… dan kamu bukannya nggak berdaya buat nolak, tapi kamu memang nggak mau," tambah Jeongin dongkol.

Seungmin mengangkat alis. "Aku memang nggak berdaya."

Jeongin mendelik padanya, membuat Seungmin tertawa. "Kamu bisa usir aku kalau mau. Tapi kamu 'kan nggak mau. Kamu juga nikmatin itu."

"Kalau orang cuma denger sebagian kalimat itu tanpa konteks jelas dari awal, bisa bahaya, tuh."

"Iiih! Intinya bukan itu! Yang mau kubilang adalah, walau aku memang selalu jadi kacau tiap minum sama kamu, aku nggak pernah jadi seberlebihan itu tiap aku minum sendiri atau sama orang lain selain kamu."

Tawa dan senyum Seungmin lenyap seketika. Dia menengadah untuk menatap Jeongin penuh. "Jadi maksudmu, aku masukin sesuatu ke dalam minumanmu tiap kita minum bareng?"

Jeongin mengernyit bingung. "Nggak. Kenapa kamu malah mikir ke sana—astaga, nggak! Aku tahu kamu nggak mungkin begitu, dan aku nggak bakal nuduh kamu aneh-aneh. Maksudku, mungkin pertahananku jadi lebih 'lemah' karena aku tahu keamanku terjamin tiap aku bareng kamu, dan itu juga kenapa aku mau minta tolong kamu hari ini. Karena aku percaya kamu."

Ah. Ternyata Jeongin memang selalu sepolos itu, ya?

"Jadi? Spesifiknya, apa yang kamu mau kulakuin malam ini?"

"Cukup duduk aja. Kalau aku berhasil lewatin malam ini tanpa… um, tanpa maksa… maksa apa pun ke kamu, dan bahkan bisa baca beberapa baris dari naskahnya… boleh, 'kan, aku coba metode ini buat shoot nanti?"

Seungmin menelengkan kepala dan menimbang sebentar meski jelas jawabannya tak akan berubah. Dia memilih untuk bertanya lagi sebelum benar-benar menjawab, "Ada lagi 'kan? Tujuanmu bawa alkohol sebanyak ini?"

"… Kamu inget kapan pertama kali kita ketemu, 'kan?"

Pertemuan pertama mereka yang sesungguhnya maupun pertemuan pertama mereka dari sudut pandang Jeongin? Tentu dia ingat keduanya—meski Jeongin tak perlu tahu soal yang pertama. "Makan malam klub teatermu dulu. Putaran ketiga, makanya sebagian dari kalian udah banyak yang nggak sadar."

"Betul," kata Jeongin seraya melangkah untuk duduk di sofa. "Dan kamu gabung karena ada temennya temenmu atau apalah…"

"Ya, mirip-mirip itu."

Jeongin mengangguk. Samar-samar dia juga masih ingat—tentang entah bagaimana Seungmin tiba-tiba mengisi posisi kosong di tempat duduk di sebelah kanannya, tentang Seungmin yang begitu lihai meracik kombinasi alkohol untuk meja mereka, tentang dia yang menenggak semua yang disodorkan teman-temannya termasuk Seungmin, juga tentang…

"Jadi, maksudku…" Jeongin berdeham beberapa kali, mencoba mengusir rona yang mulai menjalar di wajahnya lagi. "Coba bikinin yang kayak waktu itu lagi. Kamu masih inget kombinasinya? Aku udah coba bikin sendiri dari tadi, tapi nggak ada yang rasanya persis kayak waktu itu…"

Tentu dia ingat semua yang dia racik untuk mereka—untuk Jeongin. Apalagi kalau yang pertama—mana mungkin dia bisa lupa?

"… Kata mereka lumayan keras, siapa tahu kamu lupa."

"Ya, dan aku berhasil minum beberapa gelas, 'kan?"

Mau tak mau Seungmin mengangguk. Toleransi alkohol Jeongin memang terhitung cukup tinggi (dan mungkin dia akan bisa minum beberapa gelas lagi jika saja tak ada sesuatu yang lain dalam gelasnya waktu itu).

"Jadi coba bikin itu lagi. Sejauh yang kuinget, memang itu yang paling berasa."

"Tapi soju biasa juga udah cukup bikin mabuk, kok. Somaek yang waktu itu jadi lebih berasa karena kombinasi soju dan birnya pas. Rasionya—"

Jeongin mengerang pelan untuk memotong khotbah itu. "Iya, tiga banding tujuh atau dua banding delapan, tapi aku tetap nggak bisa ketemu kombinasi kayak apa yang pas, tahu?"

"Kamu udah minum sebanyak apa?"

"Cuma icip-icip sedikit," gerutu Jeongin. "Karena aku nggak mau mabuk tanpa sempet kasih tahu kamu kalau aku tetep masih punya kesadaran dan nggak bakal lepas kendali."

"… Kamu serius banget, ya?"

"Memangnya dari tadi nggak kelihatan?" tanya Jeongin dongkol.

"… Oke," kata Seungmin setelah menimang sebentar. "Kalau berhasil, kamu boleh take adegan-adegan itu dengan cara ini—tapi kalau kamu malah berakhir… kamu tahu, bikin kita ngabisin semalaman ini ngelakuin hal-hal lain, maka jangan pernah bahas ini lagi."

Jeongin lagi-lagi mengerucutkan bibirnya dengan sebal. "Oke," katanya akhirnya. "Tapi aku pasti nggak kenapa-kenapa. Aku tahu batasku, dan selama ini aku nggak pernah lepas kendali selama aku nggak lewatin itu. Aku cuma harus pastiin kali ini aku juga bisa begitu—jadi kamu bisa percaya betulan."

"Aku nggak yakin," komentar Seungmin dengan agak geli.

"Makanya aku harus buktiin, 'kan?" ujar Jeongin tak sabar. "Cepet bikinin satu buatku."

"Kamu cuma kepengen minum, ya?"

Yang lebih muda sekali lagi mengerang. Beruntung Seungmin hanya tertawa dan tidak lanjut menggodanya kali ini. Satu tangannya meraih satu botol bir dari kerumunan di atas meja sementara yang lain bergerak untuk mengambil botol soju. Dia meneliti botol bir di tangannya, diawasi oleh Jeongin yang diam-diam tersenyum (Seungmin selalu kelihatan lebih menarik saat sedang fokus pada sesuatu, tapi biarlah itu Jeongin simpan untuk dirinya sendiri malam ini).

"Semuanya bir Korea," kata Seungmin geli setelah dia bergantian mengecek botol-botol itu satu per satu.

"Bukannya itu yang paling cocok?"

"Betul," angguk Seungmin sebelum menoleh padanya dan tersenyum. "Itu juga yang paling kusuka."

Jeongin tahu benar kalau ucapan barusan adalah tentang bir, tapi bisakah dia disalahkan ketika Seungmin menatapnya seakan ada maksud lain dari kalimat itu?

"Nggak usah gombal," gumamnya dengan agak gugup. "Aku udah jadi punyamu."

Ya, tapi 'kan kadang kamu lupa atau nggak terlalu anggap itu serius—kayak sekarang.

"Aku nggak gombal," kata Seungmin tanpa dosa, "aku kasih tahu kamu kalau bir yang kusuka itu bir Korea."

"Kamu 'kan memang tipe konservatif yang kayak gitu—nggak cuma bir, soal makanan atau yang lainnya juga begitu."

"Bagus kalau kamu ingat," kata Seungmin, kembali fokus pada botol-botol di hadapannya. Dia mendekatkan salah satu botol bir dan mengambil gelas, lalu menuangkan bir itu ke sana. "Dua puluh banding delapan puluh itu untuk kombinasi yang lebih ringan," katanya memberi tahu—meski dia yakin Jeongin pun sebenarnya tidak perlu pengetahuan baru itu.

"Yang satu lagi aja, kalau begitu."

"Kamu memang mau mabuk, ya? Hm?"

Jeongin memilih untuk tidak menjawab. Dia mengawasi Seungmin mengambil yang lain—botol soju, kali ini—dan mencampurkannya dengan bir di dalam gelas. Jeongin harus menggunakan sloki untuk memastikan rasionya tepat, tapi Seungmin hanya butuh memperkirakan untuk mencapai ketepatan itu. Lepas mencampurkan keduanya, pemuda itu meraih sumpit di ujung lain meja, memasukkan salah satunya ke tengah gelas sementara satu yang lain digunakan untuk memukul sumpit di dalam sana; praktis menciptakan busa yang menyebar ke sekitar gelas.

"Minum," kata Seungmin pada Jeongin yang dengan patuh melakukan titahnya.

Pemuda itu tertawa setelah Jeongin menenggak habis isi gelas itu, tampaknya tidak menyadari bahwa gaya minumnya yang terburu-buru mengakibatkan sedikit campuran kedua minuman itu mengalir melewati bibirnya, jatuh ke dagu dan lehernya. Ia mendekat, mengabaikan wajah Jeongin yang refleks memerah karena gugup dan menjilati basah itu, turun perlahan hingga lehernya.

"Bisa pakai tisu," kata Jeongin lirih.

"Aku lebih suka begini," kata Seungmin kalem. "Tapi kalau masih protes, berarti memang belum mabuk, ya?"

"Mana bisa satu gelas begitu bikin aku mabuk?" balas Jeongin agak pongah. Dia lalu terkikik geli, "Tapi rasanya persis kayak apa yang kuinget dulu."

"Apa kamu jadi inget beberapa hal lain juga?"

"Nggak!" kata Jeongin galak. "Mending kamu tuang lagi dan bikin aku mabuk betulan."

Seungmin terkekeh mendengarnya. "Apa pun yang kamu mau."

 

===

 

00.

Seungmin tidak percaya cinta sampai dia merasakan jantungnya berdegup dengan cara yang tidak wajar untuk pertama kalinya malam itu.

"Siapa dia?" tanyanya pada temannya yang duduk di kursi teater di sebelahnya.

"Yang mana?"

"Yang lagi nangis di tengah panggung."

"Oh—Jeongin. Keren, ya, aktingnya?"

"Ya," kata Seungmin pendek, salah diartikan oleh temannya bahwa dia hanya sekedar bertanya tanpa rasa penasaran berlebih.

The Panthom of the Opera tidak pernah jadi hal yang menarik bagi Seungmin karena dia merasa 'kekalahan' Erik adalah sesuatu yang janggal, dan bahkan meski tahu bahwa adaptasi dari pertunjukkan klub teater universitas mereka malam ini tidak akan membawa plot yang jauh berbeda, dia tetap bersyukur datang setelah melihat sosok itu menengadah pada para menonton. Matanya yang agak tajam kelihatan jauh lebih lembut di bawah lampu sorot—mungkin karena air mata di pelupuknya, mungkin karena alisnya yang bertaut, atau mungkin karena Seungmin sudah disihir untuk langsung jatuh cinta sehingga pandangannya dengan mudah menjadi bias.

 

===

 

"Yang tadi itu keren banget."

Yang Jeongin terlonjak di tempatnya berdiri. Dia menoleh, tampak sama terkejutnya dengan Seungmin yang membelalak melihat basah di sudut matanya yang cantik.

"Oh—m, makasih…" kata Jeongin gugup.

Pemuda itu berusaha menghapus jejak air mata di wajahnya, tapi Seungmin jauh lebih cepat untuk menahannya mengusak dengan kasar. Diulurkannya sapu tangan dari saku kemejanya pada Jeongin, sedikit membuat pemuda di hadapannya terperangah.

"Astaga—maaf…"

Seungmin tak sempat bicara lebih lanjut karena teman Jeongin datang ke dalam kamar mandi itu, mengatakan satu-dua hal dan membawa Jeongin pergi dari sana; tanpa sengaja meloloskan sapu tangan itu dari genggamannya. Dia berlutut untuk meraih helai itu dan membawa satu sudutnya yang basah ke bibirnya untuk kemudian menjilatnya pelan.

Manis.

 

===

 

"Sebelah Jeongin kosong, 'kan?"

Kepala Jeongin yang agak terkulai menengadah untuk melihat satu seniornya di klub teater menunduk menatapnya.

"Come on! Aku tahu kamu belum mabuk."

Jeongin mendecih dan bergeser, memberi ruang bagi sosok pemuda lain untuk duduk.

"Hai."

"Halo," kata Jeongin sebelum dia akhirnya menoleh. Sosok itu tersenyum padanya, nyaris mengingatkannya dengan anak anjing yang dengan mudah memunculkan simpati milik nenek penjaga kedai roti dengan harga murah di seberang kampus. Tetapi mungkin bukan hanya itu, pikir Jeongin saat dia mengernyit untuk menelisik sosok itu lebih dalam. Mungkin juga karena rambutnya yang ditata dengan sedemikian rupa sehingga mirip telinga anjing, mungkin karena cara ujung-ujung bibirnya yang terangkat dengan apik, atau mungkin karena matanya yang agak sayu saat dia menatap Jeongin seakan menanti elusan Jeongin di kepalanya. Atau mungkin juga karena sweater-nya yang agak kebesaran membuat tubuhnya agak tenggelam di dalam sana. Atau mungkin dia kelihatan lebih memunculkan simpati karena kacamata yang bertengger di wajahnya.

"Semua orang bilang begitu," kekehnya.

"Ap—apa?" Jeongin menutup mulutnya dengan gugup.

"Aku mirip anak anjing," kata sosok itu lagi.

"Maaf," cicitnya pelan seraya mengutuk diri sendiri.

"Nggak masalah," balas sosok itu dengan lugas.

"… Omong-omong, kayaknya aku nggak pernah lihat kamu di klub…?"

"Oh." Seungmin tersenyum dengan agak canggung dan menggaruk belakang kepalanya—persis, persis sekali dengan anak anjing kikuk milik penghuni flat di sudut lantai dua tempat Jeongin tinggal. "Aku memang bukan anak teater. Aku datang karena diajak temenku," lanjutnya, mengangguk pada sosok lain di seberang meja yang agak jauh dari mereka.

"Aku juga nggak pernah lihat orang itu," kata Jeongin heran.

"Dia juga bukan anak teater," kata Seungmin geli. "Kami—dia—temen Lee Seunghyub; dan kami diajak untuk gabung malam ini. Sebetulnya agak kebetulan karena kami memang lagi di luar sebelumnya."

Jeongin berdecak dengan sedikit simpati. Lee Seunghyub adalah ketua klub teater mereka, dan hobinya memang membawa sebanyak mungkin orang untuk minum, terlebih pada kloter kedua atau ketiga ketika sebagian besar anggota inti klub teater sudah pulang atau tumbang.

"Oh, ya, namamu…?"

"Aku Kim Seungmin," kata Seungmin seraya mengulurkan tangannya dengan formal.

"Aku Jeongin. Yang Jeongin," kata Jeongin, dengan agak gugup menyambut uluran tangan itu. Sepertinya dia tidak harus sekaku itu dengan teman seumuran… Sebentar. "Walau bukan anak teater, kamu anak kampus kita, 'kan? Departemen apa?"

"Administrasi Bisnis, tahun ketiga."

"Oh, aku tahun kedua Departemen—"

Jeongin mengerjap ketika dia menyadari sesuatu.

"Ya?" tanya Seungmin, meski dia sebenarnya tidak perlu menunggu jawaban Jeongin untuk tahu (sebab dia sudah tahu).

"Senior!" kata Jeongin gugup. Mungkin inilah kenapa dia gugup—aura atau apa pun yang orang katakan tentang berhadapan dengan orang lain yang lebih tua. "Maaf. Aku, eh, saya minta maaf buat yang sebelumnya."

"Nggak perlu," kata Seungmin geli. "Dan nggak perlu seformal itu, nggak masalah, kok."

"Tapi ini pertemuan pertama kita, dan aku nggak mau kasih kesan buruk," keluh Jeongin, meski dia benar-benar menanggalkan separuh dari gaya bahasa formalnya. "Terlebih kalau Senior itu temennya Senior Seunghyub."

"Temen dari temennya," koreksi Seungmin, membuat Jeongin tertawa.

Dia belum sempat membalas karena seruan dari seberang menghentikannya.

"Seungmin, kamu bisa bikin somaek yang oke, 'kan?"

Seungmin menengadah dengan alis terangkat. "Jadi tujuan ngajak aku ke sini memang cuma itu, ya?" kekehnya.

"Jadi betul?" timpal Seunghyub antusias. Dia mengedik pada sosok di sampingnya, yang Jeongin duga sebagai penghubung si ketua klub teater dengan sosok di sebelahnya. "Dia bilang bikinanmu oke bahkan cuma dengan kira-kira."

"Somaek nggak pernah sesusah itu untuk dibuat," kata Seungmin sederhana.

"Dan dia bisa bikin lebih banyak jenis lainnya," kata pemuda di seberang, tampak sama antusiasnya dengan Lee Seunghyub yang kelihatannya akan benar-benar memasukkan Seungmin ke dalam daftar anggota yang wajib hadir dalam acara minum-minum mereka sekarang.

Jeongin menggumamkan keluhan pelan—ini artinya mereka mungkin akan masuk ke putaran keempat karena Seunghyub masih tampak bersemangat. Sayangnya, yang barusan itu sepertinya jauh lebih keras dari perkiraannya karena separuh meja menoleh padanya.

"Nggak apa-apa, 'kan?" timpal pemuda lain di seberang Jeongin. Lim Jimin menyeringai dan menatap Seunghyub penuh arti. "Dia 'kan juga baru patah hati! Ya, 'kan, Senior? Kita bisa lanjut sampai Jeongin bener-bener mabuk—dia nggak pernah kelihatan semabuk itu, sih!"

Ucapan itu disambut baik oleh orang-orang di sekeliling meja.

"Aku mau pulaaang!"

"Atau kamu takut yang kali ini bakal beneran bikin kamu mabuk?" ledek Jimin dari seberang. "'Yang Jeongin yang toleransi alkoholnya tinggi banget'?"

Jeongin mengernyit. Dia memang terkenal sebagai salah satu anggota yang susah sekali mabuk karena toleransi alkoholnya cukup tinggi, secara langsung mengakibatkan para anggota tidak bisa melihat sisi lemahnya saat ia separuh atau sepenuhnya tak sadar.

"Mana mungkin begitu?"

"Kalau begitu, coba ini."

Dia mengerjap saat Seungmin menyodorkan satu gelas somaek padanya. Busa di dalamnya menyebar dengan cepat, dan dengan ditingkahi tatapan Seungmin yang agak tajam serta sorakan orang-orang di sekelilingnya, Jeongin menenggak gelas itu untuk memberi mereka bukti atas klaimnya barusan.

 

===

 

Jeongin membuka matanya perlahan, merasakan pening melanda kepalanya saat dia beranjak duduk. Dia menggeliat dan memfokuskan pandangannya, menjumpai furnitur dengan gaya minimalis dan warna netral di depan matanya—sebentar.

Dia memang belum lama pindah sehingga semuanya kadang masih kelihatan asing begitu ia membuka mata, tetapi yang satu ini agak… terlalu asing. Dia menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat sekelilingnya, jelas tak butuh sepenuhnya sadar untuk menyadari bahwa semua yang ada di sini kelihatan terlalu mahal untuk dia peroleh dengan uangnya sendiri. Maka—maka mungkin…

Setengah mati Jeongin berdoa agar bayangannya tak menjadi nyata, dan hanya perlu sekejap untuk menghancurkan doa itu saat dia melihat sesosok pemuda tertelungkup di sebelahnya.

Sial.

Sial.

Sial.

Jeongin tahu benar bahwa suasana hatinya sedang tak baik-baik saja lepas dia tahu bahwa pacarnya berselingkuh dengan gadis dari departemen sebelah minggu lalu dan mereka terpaksa putus setelah terus bertengkar selama beberapa bulan terakhir, tapi apa dia memang segila itu untuk menarik asal seorang pemuda hanya seminggu setelah dia putus?

Dan bukan pemuda biasa, batin Jeongin agak panik, sebab pemuda biasa-biasa saja sepertinya tidak mungkin bisa dan bersedia menyewa kamar hotel semegah ini hanya untuk menidurinya.

Membalik tubuh si pemuda jelas bukan hal baik karena Jeongin belum siap menjerit ketika melihat bahwa mungkin saja itu adalah pemuda yang benar-benar ia kenal, jadi Jeongin berusaha memutar otak untuk kembali menarik ingatan-ingatannya yang agak kabur semalam:

Mereka—anak-anak klub teater—hanya sedang minum biasa lepas sesi latihan untuk pertunjukan selanjutnya sampai ada beberapa yang lain yang datang, termasuk Seungmin dan…

Jeongin mengerjap.

Benar—Seungmin.

Tak butuh waktu lama bagi beberapa ingatan lain untuk masuk ke dalam kepalanya—cara dia menggeliat di samping Seungmin, caranya mengeluh bahwa kemejanya menjadi terlalu panas, cara Seungmin yang kebingungan berusaha menenangkannya, cara orang-orang di sekelilingnya menatap dengan tatapan heran dan menggoda—

Tidak, tidak, tidak. Dia tidak pernah semabuk itu sebelumnya, dan dia juga tidak akan pernah menyeret seseorang untuk melakukan seks tanpa hubungan apa pun. Dia memang agak bebas, tapi dia bukan tipe yang seperti itu. Tapi dia toh melakukannya malam kemarin, dan—

Jeongin berjengit saat sosok di sampingnya menggeliat. Sekarang dia benar-benar mengenali rambut itu: hitam agak kecoklatan dan halus luar biasa sampai menjambaknya kemarin malam terasa sangat menyenangkan—TIDAK. Bukan itu yang harus Jeongin pikirkan sekarang. Pandangannya turun pada punggung telanjang Seungmin yang tak lagi bersih dan ternoda di sana sini—entah segila apa dia semalam.

Sebelum Jeongin sempat bergerak dari posisinya, Seungmin keambali menggeliat, perlahan bangun dan duduk untuk berhadapan dengannya. Berbanding terbalik dengan horor yang belum meninggalkan wajah Jeongin sejak tadi, dia kelihatan sumringah sekali dengan senyum lebar dan mata yang masih kelihatan sayu itu. Jeongin memutuskan untuk menghindari matanya dan menunduk—keputusan yang jelas salah karena bahkan dada Seungmin pun sebagian besar tertutup oleh bekas gigitan dan yang lain yang membuat wajah Jeongin sontak memerah.

"Pagi," kata Seungmin cerah. Melihatnya tanpa kacamata agak membangkitkan ingatan Jeongin seakan itu wajah yang familiar, meski Jeongin tak ingat pernah melihatnya di mana.

"… Pagi," kata Jeongin pelan. Mungkin dia akan terdengar kurang ajar jika bilang begini, tetapi dia harus mengatakannya—toh dia belum berencana berpacaran setelah putus kemarin. "Senior, soal tadi malam…"

"Ah, tadi malam!" kata Seungmin antusias, meski tak lama kemudian dia kelihatan agak canggung saat menggaruk pipinya. "Sebetulnya tadi malam itu… pertama kalinya buatku. Aku selalu mikir seks itu agak sakral—maksudku, itu cuma bisa dilakuin sama pasangan… tapi waktu lihat Jeongin nyudutin aku dan nggak mau lepasin aku gitu aja tadi malam…"

Rahang Jeongin nyaris jatuh ke lantai mendengar penuturan itu.

"Bukan berarti aku nggak suka… tapi karena itu bener-bener yang pertama… Jeongin, apa kamu ngerasa nggak nyaman?" tanyanya seraya menengadah. Matanya yang agak sayu sepertinya kontras sekali dengan figur wajah Jeongin yang tajam (meski agak bulat), dan bisakah Jeongin mengatakan tidak pada mata yang menatapnya dengan ekspresi memelas seperti itu—bahkan meski dia sebetulnya tidak mengingat apa pun selain kekurangajarannya semalam?

"Aku... sebenernya aku…"

Seungmin mengerjap. "Kamu nggak inget, ya?"

Jeongin menunduk dengan agak bersalah.

"Kalau gitu bisa jadi ada salah paham, ya," komentar Seungmin, kedengaran jauh lebih senang meski yang satu ini tidak disadari Jeongin dalam kekalutannya.

"Maaf—aku—"

"Jeongin," panggil Seungmin lembut seraya menggenggam tangannya. "Apa kamu pikir aku bawa kamu ke sini dengan manfaatin keadaan mabukmu?"

Jeongin membeliak. "Nggak! Aku sama sekali nggak nyalahin Senior—maksudku, aku memang nggak sepenuhnya sadar kemarin malam, tapi ada beberapa yang kuinget, dan aku sama sekali nggak bermaksud nyalahin… Aku… aku tahu kalau…"

"Begitu?" tanya Seungmin, sekarang kedengaran ragu. "Ah—satu lagi. Sebetulnya tadi malam, anggota teater yang lain udah rembukan untuk bawa kamu pulang, tapi berhubung kamu pernah bilang kalau kamu pindah dan belum kasih tahu mereka ke mana tepatnya…"

Sial. Jeongin memang lupa.

"Dan kamu juga nggak mau lepas dariku, jadi mereka… mereka bilang nggak apa-apa kalau kamu pulang sama aku; itu kenapa akhirnya kubawa ke sini. Juga, sebetulnya aku nggak masalah kalau harus tidur di sofa sementara kamu di sini—maksudku, aku nggak berniat aneh-aneh, tapi kamu…"

Seungmin tak perlu melanjutkan kalimatnya untuk membuat Jeongin mengetahui apa yang terjadi; tentang bagaimana dia menghampiri Seungmin dengan tergesa, naik ke pangkuannya, merengek padanya…

"Maaf," kata Jeongin setulus yang ia bisa.

"Aku nggak masalah," kata Seungmin, jauh lebih tulus dari yang bisa Jeongin ucapkan padanya. "Kayak yang kubilang, itu pertama kalinya buatku, jadi… jadi aku takut. Tapi ternyata nggak seseram itu—aku bahkan suka rasanya. Aku suka waktu Jeongin meluk aku erat kayak kemarin. Aku suka waktu Jeongin cium aku—itu juga yang pertama. Aku nggak tahu caranya, tapi waktu kamu maksa buka mulutku dan aku bisa ngerasain lidahmu…"

Wajah Jeongin memucat. Dia memaksa? Tapi sepertinya Seungmin tidak cukup peka untuk menghentikan ucapannya karena dia melanjutkan,

"… terus waktu Jeongin pegang-pegang… waktu Jeongin buka bajuku… waktu Jeongin mulai cium-cium dadaku, waktu Jeongin narik aku ke kamar…"

Tidak—jangan dilanjutkan—

—sekelebat bayangan Seungmin yang terduduk di atas ranjang dengan alis bertaut kebingungan terlintas di kepalanya, juga tentang dia yang naik ke atas pangkuan pemuda itu, membelai tonjolan di celananya. Tentang dia yang menggesekkan bagian bawah tubuhnya sendiri dengan milik Seungmin, tentang dia yang memasukan satu atau dua atau tiga jari Seungmin dan merengek lantaran jemari itu tak mengerti cara bergerak dengan baik untuk membuatnya puas sebab mungkin itu memang yang pertama untuk Seungmin, tentang dia yang mengulum jemari Seungmin dan menengadah untuk menatapnya, tentang dia yang menuntun penis Seungmin memasuki lubangnya… betapa menyenangkannya perasaan tadi malam bahkan saat ia tak sepenuhnya sadar, sebab sudah lama dia tidak merasa begitu—

"—hangat."

Jeongin mengerjap dengan putus asa, merasakan hatinya mencelos saat melihat senyum yang mengembang di wajah Seungmin.

"Jeongin," panggil Seungmin lagi.

"… Ya," katanya lemas.

Seungmin menggenggamnya lebih erat, menatap Jeongin tepat di matanya. "Kupikir aku suka kamu."

Dan mana bisa Jeongin mengucapkan, "Ayo kita lupain yang kemarin," setelah mendengar kalimat itu keluar dari bibir Seungmin yang kedengaran begitu tulus?