Work Text:
.
.
.
Suasana kota Yogjakarta mulai dingin karena hujan deras terus menerus dari pagi hingga malam. Rumah adat dengan halaman luas dan juga terkesan mewah karena ornamen lampu yang menggantung dan juga kolam ikan serta pendopo di dekat nya.
Pintu utama dibuka dari luar ketika Haechan baru saja hendak berdiri dengan gelas ditangan nya, mendapati Jeno yang basah kuyup.
"Mas Jeno?! Ya ampun~! Sebentar, dedek ambil handuk dulu buat mas." Pekiknya terkejut begitu melihat Jeno basah banget sampai rambut hitam nya turun dan juga tas kerja nya ikutan basah.
Dalam keadaan basah, Jeno menatap adiknya yang berlarian menghampiri dirinya, dengan raut wajah yang khawatir. Tangan kecilnya membalut handuk ke tubuh besar sang kakak.
"Makasih, dedek cantik." Seru Jeno yang masih saja menggoda Haechan disaat dirinya kebasahan karena hujan lebat yang mengguyur kota Yogjakarta setelah pulang kerja seperti malam ini.
"Apa sih mas~" seru Haechan yang malu-malu dan langsung melepaskan tangan nya dan berjalan meninggalkan Jeno yang tertawa melihat adiknya itu.
Haechan langsung duduk kembali dan menonton televisi, mengabaikan eksistensi Jeno yang mulai menggoda nya dengan cara melemparkan handuk basah kearah Haechan, dan juga mematikan televisi nya agar Haechan berdiri dan mengejarnya.
"MAS JENOOO~~" seru nya kesal setengah mati dikerjain habis-habisan sama Jeno, sedangkan sosok yang menggoda nya hanya tertawa kencang menuju kamarnya.
"Iya cantik~ hahaha." Balasnya membuat Haechan mendengus sebal dengan tingkah Jeno itu. Padahal biasanya juga Haechan meladeni tingkah kakak tirinya itu.
Jeno dan Haechan adalah saudara tiri, Haechan anak dari mama Doyoung dan Jeno adalah anak dari papa Johnny yang wajahnya dominan seperti bule sama seperti papa nya, sama hal nya Haechan justru lebih manis dan cantik melebihi mama nya.
Malam ini hujan masih mengguyur dengan deras, Haechan memeluk boneka nya dengan bosan dan juga hawa mulai dingin dan rasanya mulai mengantuk.
"Dedek~ tidur. Udah malem, jangan nonton tv mulu." Teriak Jeno dari belakang, Haechan yang mendengar pun langsung melangkah menuruti ucapan kakaknya walaupun masih dalam keadaan sebal dan terus mendengus kesal.
"Iya, mas. Ini mau tidur." Seru Haechan tak kalah nyaring berteriaknya. Haechan melangkah kedepan, melihat motor Jeno yang sudah dimasukkan kedalam dan juga mengunci rapat jendela dan pintu utama.
.
.
.
"Aahh~ aahh~~"
Jemari lentiknya menyentuh labia vaginanya, dengan keadaan setengah telentang, kaki jenjangnya dia lebarkan dan menampilkan vagina kemerahan yang terlihat dari cermin lemari nya didepan kasur.
Berulang kali jemari nya keluar masuk kedalam lubang vagina nya, bibirnya terus mendesah dan juga nafasnya ngos-ngosan sekaligus wajahnya memerah, seolah kurang dan tak menemukan kenikmatan yang dilakukan nya.
"Hikss~ mass Jeno-hh~"
Bibirnya mendesahkan nama Jeno disaat gerakan jemarinya semakin kencang, seolah jemari itu adalah jemari milik Jeno dalam bayangan nya.
Jemari nya mengusak klitoris nya dengan kasar, seolah masih gatal dan butuh pelampiasan agar gatal diarea vagina nya setidaknya mereda.
"Masih gatal~ apa minta tolong mas Jeno aja ya?"
Tubuhnya langsung telentang kelelahan, nafasnya kian memburu kuat dengan dada yang naik turun dan terkulai lemas. Matanya melirik vagina tembam miliknya yang basah karena ludah dan belum keluar sama sekali.
"Mas Jeno harus bantuin aku.." seru nya yang langsung bangun, dan mencari pakaian yang menurut nya cocok untuk malam ini.
Haechan telah berganti pakaian dengan baju tidur yang dibelikan Jeno waktu kakaknya dinas ke luar kota sebagai oleh-oleh, warna pink dan juga bergambar hello kitty kesukaan nya dengan lengan panjang dan juga celana panjang.
Tangan nya meraih boneka hello kitty, mendekap nya erat dan langsung keluar menuju kamar Jeno dengan keadaan vagina nya basah namun wajah Haechan biasa saja.
Cklek!
Bersamaan dengan pintu kamar Jeno yang dibuka oleh Haechan, saat itu juga Jeno yang masih dalam keadaan handuk melilit bagian pinggang sampai kaki dan tubuh atasnya masih basah belum kering.
Pandangan mereka menyatu, dan Haechan hanya memberikan senyuman polos nya, dan Jeno yang paham langsung memberikan gestur untuk masuk kedalam.
"Hehe, mas mau bobok bareng~" seru nya sembari mendekap boneka hello kitty nya. Jeno mengangguk pelan. "Kunci pintunya, dedek."
Haechan berjalan dengan posisi pantat nya geol-geol, Jeno yang melihat hanya menatap adiknya dengan pandangan dalam, gerakan pantat nya semakin intens membuat Jeno menelan ludahnya dengan sulit.
"Ngapain sih dek? Gatel memek nya?" Tanya Jeno spontan, Haechan yang melihat dari balik kaca besar di dekat pintu.
"Huum~" kepalanya menoleh kearah Jeno, bibirnya mengulum dalam membuat Jeno tertawa pelan sembari mengusak-usak rambutnya yang masih basah.
"Yaudah nanti mas enakkin memek dedek." Seru Jeno yang membuat Haechan langsung bergerak kesenangan, kaki nya dihentak-hentak lucu dan justru membuat Jeno hanya tersenyum maklum.
Ya maklum—lagi senang, senangnya di enakkin sampai ketagihan.
Haechan masih berdiri didepan cermin, menunggu Jeno selesai dengan tubuhnya yang masih basah, malu-malu melihat kegiatan Jeno padahal setiap saat—keadaan rumah sepi pun mereka memanfaatkan untuk saling berbagi kehangatan apalagi malam ini cuaca dingin dari pagi.
Seolah semesta mendukung kegiatan jorok mereka, dan keadaan juga makin memperkuat keinginan yang membuncah tak terhingga dan ya tentu saja kalau tidak diselesaikan semakin tersiksa.
.
.
.
"Ugh! Sini, dedek cantik~" seru Jeno menepuk pelan sisi kasur besar yang kosong, Jeno sudah terlentang dengan kedua tangan nya berada dibelakang kepala nya—menggoda sekali.
Haechan beranjak malu-malu, walaupun langkah nya pasti dan mantap mendekati sang kakak, menjatuhkan tubuhnya tepat di dada bidang sang kakak—menyembunyikan wajahnya.
"Malu-malu kucing," gumam Jeno pelan, tangan nya mengelus pelan rambut hitam legam sedikit keriting milik Haechan, memainkan nya juga agar membuat rileks Haechan walaupun mereka sering melakukan nya.
Tangan Jeno menepuk berulang kali pantat Haechan yang bulat, bibir Haechan dibiarkan menghisap leher Jeno yang meninggalkan jejak bekas kemerahan.
"Aahh~ maas!" Desah Haechan begitu jemari Jeno asik menaik turunkan dibagian bawahnya yang masih tertutup celana panjang.
"Basah ini, dek. Uhh~ gemess~!" Seru Jeno menekan ke bagian vagina Haechan, membuat Haechan melenguh tepat di telinga Jeno dan semakin menekan tubuhnya mendekat ke Jeno.
Jeno memindahkan tubuh Haechan dengan ringan dan mudah, diatas tubuhnya yang membuat lenguhan Haechan semakin kencang dan Jeno yang justru meremas pantat Haechan dengan gemas.
"Pantat mu makin semok banget lho, dek." Logat jawa nya kental dan Haechan menikmati remasan tangan besar Jeno di pantat nya.
"Hehe, ini mas Jeno remas terus ya jadi besar mas." balasnya begitu dirinya memundurkan sedikit kala vagina nya menyentuh penis Jeno yang masih terlelap belum terbangun bahkan belum ereksi.
Jeno melepaskan tangan nya menikmati tubuh Haechan diatas nya yang sekarang ini asik meremas dadanya, menggoda Jeno dengan bibirnya yang terbuka—menikmati remasan nya sendiri.
"Emang enak, dek?" Tanya Jeno seolah menertawakan bagaimana rasa tersiksa nya Haechan karena tidak nikmat. Biasanya juga Jeno menggantikan tangan Haechan tapi kali ini—membiarkan adiknya sendiri.
Jeno menikmati wajah needy Haechan dari bawah, rasanya ingin menikmati wajah dan tubuh Haechan semua nya malam ini.
Haechan menggerakkan bagian bawahnya, menggesekkan vagina nya ke penis Jeno yang masih belum ada reaksi apapun, membuat Jeno yang melihatnya hanya tertawa—mengejek sang adik.
"Kontol mas kok nggak mau bangun sih?!" Seru nya semakin menggesekkan ke penis Jeno, rasa gatal dan ingin di sentuh sama Jeno itu semakin menjadi begitu gesekkan nya semakin kuat dan menekan.
"Ya belum di godain sama kamu, dek. Coba, godain dulu kontol mas." Seru Jeno dengan santai, masih memperhatikan gerakan abstrak Haechan yang justru dinikmati sama Jeno dari bawah.
Haechan langsung berhenti melakukan kegiatan nya—meremas dada serta menggesekkan vagina nya ke penis Jeno, dia langsung beranjak dengan posisi menungging.
Tangan lentiknya meraih penis Jeno yang masih terlelap, meremas nya membuat Jeno menatap Haechan tajam namun tetap saja Haechan abaikan karena kesal melihat penis kakak nya masih belum ereksi.
"Sakit, dek!" Pekik Jeno ketika Haechan kembali meremas kuat batang penisnya, sembari mencubit kecil bola kembar penis Jeno.
"Aku sebal!! Kenapa dia nggak mau bangun, mas!!" Seru nya kesal dan sebal, Haechan memilih buat menggoyangkan penis nya kesana kemari.
Jeno hanya bisa tertawa pelan, Haechan tampak lucu dengan bibirnya mengerucut sembari tangan nya menggoyangkan penis Jeno yang besar.
"Biasanya kamu jilatin dek, kayak lolipop."
"Maless~ tapi mau jugaa~"
Jeno yang gemas tak karuan hanya bisa menangkup pipi gemas Haechan, menarik wajah Haechan untuk dia ciumi berulang kali, bahkan bibirnya juga ikut dilumat oleh Jeno.
Haechan menyapa penis Jeno dengan mata berbinar, seperti mendapatkan permen yang berukuran besar, kepala penis yang memerah itu dikecup pelan.
"Aku mau makan kamu, haha.." seru Haechan setelah lidahnya menjilati lubang kencing di penis Jeno, bibirnya mulai mensesap penis Jeno, pelan namun pasti masuk walaupun tidak semua.
"Ugh~!"
Jeno hanya bisa melenguh nikmat begitu merasakan mulut panas Haechan di penis nya, lidah milik adiknya juga ikut menggoda, membuat Jeno dengan refleks meremas rambut Haechan.
Posisi Haechan berubah lagi, kali ini tubuhnya bersejajar diantara kaki Jeno, kepala nya naik turun, hisapan kuat di mulut Haechan semakin membuat Jeno pening tak karuan.
"Hhmmphh!"
Pipi tembam nya mengembung dan suara decapan mulut Haechan semakin menambah kesan yang panas, dan juga jorok.
"Sshhh~ hhmmph!"
Penis Jeno seolah permen yang harus dihisap kuat agar bisa mengeluarkan rasa asin dan manis, berulang kali dilakukan sama Haechan, seolah rasa asin dan manis itu mampu meledakkan mulut panas Haechan saat ini.
"Sshh, dekk.." tangan nya kali ini menahan kepala Haechan agar tidak bergerak lagi dan mulut Haechan kini penuh dengan sperma milik Jeno.
Jeno langsung membawa Haechan dalam ciuman intens, berbagi cairan nya sendiri didalam mulut Haechan dan menikmati nya.
"Mas Jeno kalau mau crot tuh bilang gitu.. kan aku kaget." Seru nya mengomeli Jeno sembari memukul dada bidang Jeno membiarkan mulutnya kotor di sisi bibir—masih ada bekas sperma.
"Iya cantik, iya."
"Jangan iya, iya aja. Bukti nya main crot dimulut ku aja."
Jeno memilih buat kembali mencium Haechan, daripada harus mendengarkan ocehan Haechan yang mengomeli dirinya, lebih baik dibungkam dengan ciuman yang panas.
.
.
.
Posisi Jeno masih sama, hanya saja kali ini Haechan yang bergerak, tubuhnya masuk disela-sela kaki Jeno dan memamerkan lubang vagina nya yang sudah basah karena ludah dan juga cairan licin didalam nya.
Jemari Jeno kini kembali menyentuh vagina Haechan, menggesekkan jemari nya, membuka lubang kemerahan itu dengan dua jari nya.
"Aahh~ masshh.." desah Haechan begitu Jeno menggoda nya dengan satu jari masuk kedalam dan ibu jari nya menggoda klitoris vagina Haechan.
"Kurang, cantik? Mau ditambahin?"
"M-mauuhh ahhh.." dua jari Jeno yang panjang itu berhasil masuk, menggoda lubang didalam nya dengan gerakan yang intens.
Keluar dan masuk terus dilakukan, desahan Haechan juga terus keluar bahkan pantat nya bergoyang seolah ingin menelan dua jemari Jeno sekaligus.
Dua jemari Jeno yang masih didalam itu mulai bergerak cepat, mengoyak isi didalam nya yang membuat Haechan mendesah nyaring sekaligus nikmat. Merasakan kaki adik nya gemetaran, semakin cepat juga jemari nya bergerak didalam.
"Aahhhh~ aahh massshhh..." desahnya memegangi kaki Jeno, pelepasan nya kian dekat dan semakin cepat gerakan Jeno semakin cepat juga Haechan keluar.
"Aahhh!! Maashhh!!!"
Tubuhnya langsung terkulai lemas dengan vagina nya yang berkedut, kaki nya gemetar dan juga pantat nya bergerak pelan merasakan gelombang orgasme karena jemari sang kakak.
"Hmm~ hmm~~ makin licin ini, kontol mas tinggal masuk aja ya dek?" Tanya Jeno dengan masih tangan nya mencolek-colek bahkan menggoda klitoris nya, yang membuat Haechan menoleh kebelakang dan langsung menepuk kaki Jeno dengan kencang.
"Maass Jenoo!!!" Pekik nya membuat Jeno makin tertawa kencang dan menarik kaki Haechan agar semakin menempel pada dirinya.
Penis nya dipersiapkan, menepuk pelan kearah vagina Haechan yang semakin membuat Haechan mendengung pelan merasakan penis Jeno.
"Dek, mas masuk ya? Pukul kaki mas kalau sakit.." seru Jeno yang perlahan dengan membuka labia vagina Haechan dengan jemari nya, mengelus pelan sebelum akhirnya penis panjang itu masuk dengan erangan kencang dari Haechan dan geraman nikmat Jeno.
Cengkraman di kaki Jeno mengerat kuat, sebelum akhirnya terlepas begitu Jeno mendiamkan sebentar, sampai akhirnya teriakan Haechan kencang lagi begitu Jeno menghentak penisnya kedalam yang membuat suara tabrakan antar kulit itu terdengar di malam panas kamar Jeno.
"Aahhh~ p-pelanhh.. masshh.." seru Haechan kalang kabut begitu Jeno bergerak keluar masuk dengan keras, tangan nya bahkan meremas pantat Haechan dengan kuat.
"Memek mu jepit kontol mas, dek~" Jeno sudah merem melek, pinggul nya semakin berusaha keras untuk bergerak makin kuat.
Desahan, erangan dan juga geraman itu semakin intens dan juga keras, posisi mereka tidak seperti doggy style tapi lebih ke posisi kneeling Wheelbarrow Haechan justru memilih buat jatuh kebawah karena tidak kuat dengan gerakan Jeno yang makin cepat.
Gerakan yang makin intens dan juga makin mendorong kuat penisnya masuk kedalam, bola kembar nya bahkan menabrak klitoris Haechan yang semakin membuat suara antar kulit itu makin jorok.
Plok!
Plok!
Plok!
"M-masshh..."
tangan nya meremas sprei kasur, Jeno tak menjawab tapi justru mendorong masuk lagi, dan lagi semakin kedalam seolah ingin mengeluarkan seluruh sperma nya kedalam tubuh Haechan.
"Hhhh~ hahh~ m-masshhh..."
"B-bentar lagihh..."
"P-ppelaann... ahhh~"
"C-cantik—hah!!"
Jeno menekan kuat kedalam penisnya, wajahnya memerah bahkan Haechan juga sudah menenggelamkan kepala nya ke kasur, kaki nya kembali gemetar karena pelepasan nya sampai bersamaan dengan milik Jeno.
Wajah Jeno lega nya bukan main, sperma nya masih terus keluar membasahi bagian dalam vagina Haechan, begitu dilepaskan dengan pelan—sperma itu keluar saking penuhnya karena semprotan dari penis Jeno.
.
.
.
"Capek ya?"
Jeno bangkit dari kasur, menatap adiknya yang terlentang lemah ditengah kasur dengan posisi kaki nya masih terbuka lebar dengan cairan sperma Jeno mengalir keluar dari vagina nya.
"Huum~" mendengung pelan, Jeno tertawa pelan kemudian menciumi pipi adiknya sampai basah, namun Haechan tak protes sedikit pun.
Jeno mengambil cemilan manis dan juga minum, Jeno capek dan Haechan juga capek apalagi dia banyak teriak nya namun justru penis Jeno justru masih berdiri tegak seolah belum puas dengan yang tadi.
Jeno menyondorkan gelas berisi air putih, Haechan meminum nya sembari tangan nya menoel-noelkan penis Jeno yang tegak dengan urat-uratnya terlihat menonjol dan merah.
"Hihi~ kontol mas tegak banget."
"Iya, masih mau masuk lagi dek, masih kuat main lagi nggak?"
Pipi nya ditangkup dan mencium bibir Haechan lagi, kepalanya mengangguk memberikan jawaban pasti ke Jeno tanpa protes dan juga memilih buat menikmati saja.
"Masih~~" cicitnya pelan. Jeno tertawa pelan kemudian tangan nya berada di ketiak Haechan, menggendongnya untuk bangun dari kasur nya.
Membawa tubuh Haechan berdiri didepan kaca, diturunkan pelan tubuhnya, kaki nya dilebarkan dan kembali mengusak-usak vagina nya.
"Lihat dek, memek kamu masih basah, becek banget." Seru Jeno kembali mengusak klitoris Haechan, kepala Haechan sudah terkulai lemas di bahu Jeno.
Kaca besar itu memperlihatkan bagaimana kegiatan Jeno yang masih dalam dekapan dari belakang, membiarkan penis tegaknya memilih buat menusuk-nusuk pantat semok nya Haechan.
"M-mas~"
"Hmm?"
"E-enakkhh hhhah~"
Desahnya pelan, hidungnya mengendus pelan leher Jeno, semakin kucekan di klitorisnya kencang, makin menempel wajah Haechan pada leher Jeno.
Jeno menikmati wajah Haechan yang aduhai, tidak kuat dia rasanya ingin membuat Haechan semakin menangis dengan desahan nya yang keras.
"M-mass m-mauu pi-pipisshhhh~"
Jemari nya kian cepat mengusak klitoris nya, merasakan kedutan yang pelan dan nafas Haechan yang makin memburu, dan langsung membasahi kaca didepan nya dengan cairan nya yang muncrat terus menerus.
Seolah Haechan tak boleh istirahat sebentar pun, satu kakinya diangkat, menampilkan lubang vagina Haechan yang masih basah, becek, dan juga berkedut itu membuat Jeno menggigit bibirnya—matanya bernafsu melihat pemandangan seksi melalui kaca besar.
"Memek kamu masih kedut-kedut dek," Haechan juga ikut melihat, vagina nya miliknya bahkan tampak seksi dengan dibelakangnya penis Jeno tegak gagah.
"Masukin kontol mas ke memek dedekk~" pinta nya ketika tangan nya meraih penis Jeno, menempelkan ke vagina nya dan menepuk-nepuk pelan.
Jeno memperhatikan penis nya masuk kedalam lubang vagina Haechan, dengan wajah Haechan yang mendongak keatas, matanya terpejam nikmat disertai desahan dan juga cengkraman tangan nya di tangan berotot Jeno.
Keluar masuk dengan pelan, Haechan melihat itu semua dan gerakan keluar masuk penis Jeno dari yang ritme pelan kini ritme cepat.
"M-masshh..."
"Memek nya dientotin begini enak dek?" Tanya Jeno, Haechan mengangguk saja tak sanggup menjawab begitu penis Jeno makin menumbuk kedalam dengan kuat.
"Aaahh~ maasss hhh~~" desahan Haechan semakin kencang, wajahnya memerah dan Jeno fokus dengan dorongan pinggul untuk semakin melesak masuk kedalam.
Kepala Jeno kali ini mengincar bagian dada Haechan, sembari menusuk vagina Haechan, kini lidahnya menjilati puting dada Haechan.
Haechan yang mendapatkan dua kenikmatan di dua titik yang berbeda hanya bisa mendesah dan meremas rambut Jeno, menekan kepala Jeno untuk semakin menjilat dan menghisap dada nya.
"Aahh~~ eenaakk bangetthh..."
"M-mass laa-lagihhh ahh~~"
Begitu mendengar ucapan Haechan, Jeno mempercepat gerakan pinggul nya dibawah, teriakan serta desahan itu masih terus terdengar memohon pada Jeno.
"M-maaasshhh... ahhh maassshhh..." pekiknya kala Jeno mengangkat kedua kaki Haechan, berhenti sejenak dan kembali bergerak menumbuk lubang vagina Haechan.
Suara adu antar kulit itu semakin nyaring, didepan cermin mereka bisa melihat satu sama lain bagaimana milik Haechan melahap habis milik Jeno ataupun gerakan kuat dari Jeno mampu membuat lubang itu kian licin dan basah mengkilap.
"Lihat dek, memek punya dedek tuh, lihat.."
Penis nya keluar masuk dengan ringan, cairan putih perlahan keluar dari sela-sela batang penis Jeno yang dimana artinya keduanya sebentar lagi hampir sampai pelepasan nikmat bersama.
"Kontol masshh... s-sumpaahh e-eannnakkk bangett.."
"D-ddalleemm aahhh~~"
"E-enakkkk hahhh~"
ucapan Haechan juga kian melantur, lidahya menjulur keluar sampai mengeluarkan air liur, dahsyat dan kuat nya gerakan pinggul Jeno mampu membuat suara yang aneh dan jorok.
Brott!
Brott!
"M-'mmauu p-pipiissshhh..."
Suara jorok itu semakin diperparah dengan keadaan vagina Haechan yang berkedut hebat, Jeno mulai mengusak lagi klitoris Haechan sampai akhirnya kedua nya sama-sama keluar.
Syurr!!
Syurr!!
Crot!!
Crot!!
Plop!
Air kencing warna bening milik Haechan itu keluar bersamaan dengan penis Jeno yang ikut terdorong keluar, karena tekanan dari dalam vagina Haechan.
Kaca besar itu basah, dan dalam keadaan basah juga masih memperlihatkan vagina Haechan yang perlahan mengeluarkan sperma Jeno yang terasa penuh didalam.
"C-capekk mass~"
pria manis itu mengeluh dan langsung tubuhnya berbalik dipeluk Jeno, membiarkan lubang vagina nya terus mengeluarkan sperma Jeno yang belum berhenti keluar dari sana.
Jeno mencium kening Haechan lembut, tangan nya menyisirkan pelan rambut Haechan kebelakang, mengusap keringat nya pelan. "Mas beresin semua dulu ya, cantik."
Haechan menggeleng pelan dan makin mengeratkan tangan nya dileher Jeno, membuat Jeno akhirnya memilih buat menggendong Haechan sembari membereskan kekacauan mereka berdua.
Semua nya sudah rapih, bahkan Haechan sudah terlelap nyaman dengan kaos milik Jeno walaupun harus menggunakan tanpa celana dalam, Jeno berulang kali menciumi kening Haechan, kadang dibagian pipi nya juga.
"Selamat tidur, cantik." Diakhiri dengan kecupan manis di bibir Haechan, memeluk Haechan dengan erat setelah malam panas mereka lakukan beberapa jam yang lalu.
Mbull Kim.
