Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-07-12
Words:
975
Chapters:
1/1
Kudos:
23
Bookmarks:
1
Hits:
1,660

Video Call Fansign

Summary:

Menjadi seorang idola bukanlah hal yang mudah, apalagi kalau manajermu adalah kekasihmu juga.

Work Text:

Jaemin terus menguap karena bosan. Dalam waktu kurang dari 3 jam, dirinya akan melaksanakan tugasnya sebagai "Nation's Boyfriend", yaitu melakukan panggilan video dengan 10 orang penggemarnya yang beruntung. Sebagai solois yang sukses di agensi besar, Jaemin tentu harus profesional. Ia begitu menyayangi para penggemarnya, walau terkadang ada saja kelakuan penggemar yang membuatnya sedikit dongkol.

 

"Na Jaemin, Pak Kim sudah menjemput," ucap manager yang merangkap sebagai kekasih gelapnya. Maklum saja, Jaemin sedang berada di puncak ketenaran dan agensi ingin hubungan mereka tak tercium publik agar kesuksesan Jaemin tidak terusik.

 

"Aku mau digendong, Jeno~" Jeno si manager hanya menghela nafas, dirinya sibuk mengemasi beberapa barang yang akan Jaemin butuhkan di gedung agensi nanti.

 

"Sayang, di dunia ini ada yang namanya 'sasaeng'. Kamu tidak ingin mereka menciduk kita kan?" Jeno mendekat, menangkup pipi si penyanyi berwajah manis itu. Bibirnya mengecup bibir Jaemin sekilas. "Ayo, kita harus bergegas. Jangan membuat Pak Kim menunggu terlalu—"

 

"Hyung~ Nana ingin Hyung menuruti Nana sekali saja, please..." Oh, tidak. Jaemin sudah mengeluarkan kartu 'aegyo'-nya. Jeno tidak bisa bereaksi apa-apa selain menunjukkan keluluhannya. Tapi kali ini, dia tidak boleh kalah telak. Senyum di bibir tebal itu mengembang miring.

 

"Baiklah, Hyung akan menuruti Nana," Jeno menggantukan ucapannya begitu melihat Jaemin berjingkrak ria. "...tapi dengan satu syarat."

 

 

 

 

.

.

.

.

.

 

 

 

 

Jaemin dan Jeno bersama 2 orang staf sudah berada di salah satu ruangan yang khusus digunakan untuk event video call fansign. Jaemin begitu luwes menjawab pertanyaan dan menuruti beberapa keinginan para penggemar. Sudah 8 orang penggemar beruntung yang sudah Jaemin hadapi, tinggal 2 orang lagi.

 

Jaemin sudah bersiap dengan earphone dan senyuman manisnya, sebelum akhirnya Jeno merogoh saku celananya. Raut wajah tiba-tiba saja Jaemin berubah, kepalanya tertunduk, sekuat tenaga dia menahan nafas dengan menggigit jari telunjuknya.

 

"Jaemin? Kau baik-baik saja?" Salah satu staff yang bermata sipit menyadari ada hal yang tak beres. Jaemin mengangkat wajahnya, tersenyum kecut dan mengangguk cepat.

 

"Mmm, aku b-baik-baik sa-ja!" Jaemin sekuat tenaga bertingkah seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Jeno menyeringai tipis, ini menyenangkan, pikirnya.

 

"Baiklah, kalau begitu kita hubungi penggemar ke-9 sekarang." Staff yang memiliki senyum kucing itu menyambungkan panggilan dengan penggemarnya. Jaemin melanjutkan pekerjaannya, dan Jeno merusaknya lagi. Sang penggemar terus berucap tentang nasihat dan pesan dukungan untuk Jaemin, dan Jaemin pun menangis. Staf bermata sipit memberikan kotak tisu untuk Jaemin mengelap air matanya.

 

Yang sebenarnya terjadi adalah bukan Jaemin terharu dengan ucapan si penggemar, melainkan Jaemin merasa sakit menahan stimulus dari getaran yang berasal dari dalam anusnya. Sesekali Jeno ingin mengerjai Jaemin karena anak itu selalu menggunakan titik lemah Jeno sebagai senjata jika merengek dan merajuk.

 

Sambungan telepon dengan penggemar ke-9 sudah selesai. Jaemin masih saja menangis karena Jeno menyetel getaran vibrator pada kecepatan tinggi. Si manis meletakkan kepalanya ke meja, menekan pinggulnya dan merapatkan kedua pahanya guna lebih merangsang tubuhnya.

 

"Jisung, Chenle. Sekarang sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau sambil menunggu satu orang ini, kalian membeli makanan terlebih dahulu? Aku akan menemani Jaemin di sini sampai tangisnya reda."

 

"Apa tidak apa-apa, hyung?" Staf si mata sipit terlihat ragu, agensinya sangat ketat dalam memantau kinerja karyawannya.

 

"Ya, tidak apa-apa. Kalian kan sudah tahu kalau aku kekasih Jaemin. Aku yang traktir, nanti uangnya akan ku kirim ke rekening-mu, Jisung." Jeno berpindah untuk duduk di sebelah Jaemin, merangkul punggung si manis yang bergetar.

 

"Baik, Jeno hyung. Ayo, Chenle!" Dua staf itu sudah keluar dari ruangan. Tersisa Jeno dan Jaemin saja. Akhirnya Jaemin mengeluarkan suara desahannya dengan lega setelah Jeno berhasil mengunci pintu ruangan tersebut.

 

"Ahh一 Nghh... Ma-maafkan Nana, hyung一hh..." Jaemin memohon dengan tatapan memelas, menatap mata tajam Jeno yang begitu mengintimidasinya. Tanpa diperintah, Jaemin melepaskan celana levis yang ia kenakan. Kakinya terangkat dan menampilkan penis yang tegang dan lubang berisi vibrator telur yang bercelah.

 

"Anak manis meminta maaf sambil menggoda, hm? Apa Nana pikir, Nana pantas dimaafkan?" Jeno berucap begitu pelan, namun suara baritonnya bagai alpha tone di telinga Jaemin. Kepala Jaemin menggeleng dengan cepat. Si manis sudah terlihat tak bertenaga, namun ia tetap memaksakan untuk fokus kepada dominannya, demi mencegah amarah sang dominan.

 

"T-tidak! Mm一" Jaemin gelisah, ia terus bergerak tak nyaman. Tubuhnya semakin sensitif, sehingga sedikit sentuhan saja bisa membuatnya bagai terbang ke awan. Jeno tertawa pelan, ia sangat menikmati pemandangan Jaeminnya yang sedang frustasi.

 

"Hyung akan memaafkan. Nana ingin berapa?" Jeno mencondongkan tubuhnya, mendekati wajah Jaemin yang penuh peluh. Senyum samoyed-nya tersirat intimidasi.

 

"D-dua puluh, hyung一mmh..." Jaemin terus berusaha menjawab Jeno, meski ia kesusahan menstabilkan suaranya. Penampilan Jeno juga membuatnya semakin horny. Rambut yang disibak ke atas dengan potongan undercut, kemeja casual lengan pendek berwarna putih gading yang tak terkancing kerahnya, jam tangan, serta celana bahan berwarna hitam. Semua itu adalah perpaduan yang pas untuk ketampanan Jeno.

 

"Berbalik, sayang. Hyung akan meminta maaf. Nana hitung ya?" Yang ditanya hanya mengangguk, kemudian membalik tubuhnya menjadi menungging di atas kursi. Jeno mendekati Jaemin, memeluk pinggang Jaemin dengan satu tangan dari samping kiri. Satu tangannya yang lain sedang membuka bungkus lubrikan. Dituangkannya ke tangan dan lubang Jaemin.

 

"Sa一hh, tuu," Jaemin menjerit sambil berhitung ketika satu kepalan tangan Jeno masuk ke dalam analnya. Lubang Jaemin sudah terbiasa dengan ukuran tangan Jeno karena setiap maaf yang Jeno maksud adalah melakukan 'fist bump' ke dalam anal Jaemin alias teknik 'fisting'.

 

Jarmin terus menghitung dan Jeno juga terus menggauli lubang Jaemin dengan tangannya. Pada hitungan kedua puluh, Jaemin menggelinjang kuat. Bola matanya bergulir ke atas, merasakan penisnya menyemburkan sperma serta air seninya ke lantai.

 

Jeno menarik kepalan tangannya keluar dari lubang Jaemin, beserta vibrator telur yang masih menyala itu. Jaemin benar-benar kewalahan kalau Jeno sudah menghukumnya.

 

"Sepertinya penggemar ke-10 lupa kalau hari ini gilirannya. Kalau begitu, kita akan menuju ruang makan setelah aku membersihkanmu dan juga ruangan ini."

 

Jaemin menganggukkan kepalanya dengan lemah. Untung saja Jeno tidak meminta一

 

"Nanti malam, aku menginap ya? Aku tidak puas kalau cuma segini saja."

 

Mari berdoa untuk keselamatan anal Jaemin karena masih ada dua jadwal fancall lagi esok hari.

 

 

 

 

.

.

.

.

.