Work Text:
Matanya terpejam, merasakan sentuhan halus jemari lentik Mark pada tubuhnya. Lenguhannya lolos tanpa ia sadari saat kekasih hatinya itu membubuhi kecupan pada bagian kulit yang warnanya lebih gelap dari kulit lain— his keloid.
Selama ini, Junior justu berpikir bahwa bekas lukanya itu harus ditutupi.
It was too ugly and weird, pikirnya kala itu.
“Oh God,” Mark berkata di sela-sela kecupannya. “This scar makes you hotter i swear.”
Belum sempat ia membalas, Mark bangkit dan kembali mencari posisi ternyamannya di pangkuan Junior. Lelaki berbulu mata lentik itu tersenyum, menatap Junior seraya menyentuh kedua pipinya. “I love it so much.”
Mark kali ini memberikan serbuan kecupan pada wajah Junior, tangannya bergerak mendorong mundur rambut Junior yang menutupi sebagian dahinya. “So.. handsome.”
Junior tersenyum. Oh he loves him so much.
Dahi, kedua matanya, hidung, dan Junior berhenti sejenak saat ia memberikan kecupan manisnya pada dua tahi lalat kecil hampir samar milik Mark yang berada pada rahangnya.
“Did you know?” Tanyanya.
Mata Mark masih terpejam, namun mulutnya sudah membentuk bulan sabit dengan sempurna. “Apa?”
“They say where your moles are placed is the spot where your true love in your past life kissed you most.”
Senyumannya semakin merekah, matanya mengerjap sebelum menatap Junior penuh sayang. Ia menahan tengkuk sang pujaan hati, memberinya kecupan serupa yang tadi ia terima di beberapa titik pada wajah Junior.
“Will you do the same?”
Mata Junior terbuka sempurna, berusaha kembali tersadar setelah menerima kecupan mahadahsyat dari Mark. “Do what?”
“Kiss me on where they love to kissed me in my past live?”
Junior kali ini tersenyum. So smugly.
“You have lots of moles.”
“I do.”
“Lots of kisses then,” jemari Junior perlahan naik. He traced every moles he could see on his lover’s body. Jarinya berhenti pada satu tahi lalat yang paling jelas terlihat di leher Mark.
“Not only where they love to kissed you, i’m willingly doing it from your head to toe.”
Satu kecupan Junior berikan pada tahi lalat kecil pada wajahnya, sang kekasih sudah terkekeh geli saat Junior semakin gencar mengecupnya. Bergeser pada bibir dan kembali turun pada leher jenjangnya.
Mata Mark sudah terpejam, tangannya mencengkram erat rambut Junior dan lenguhan erotisnya terdengar saat sang kekasih memberinya gigitan kecil tepat di titik sensitifnya.
Hanya Junior yang bisa membuatnya seperti ini.
Belum selesai sampai di situ, Junior memberi kecupan kecil pada seluruh tangan hingga ke ujung jarinya.
“Cantik,” Junior berucap pelan. “Kamu paling cantik satu dunia, Ji..”
Sinting. Mark sungguh kehilangan akalnya dicium seluruh badan sembari dipuja sedemikian rupa.
Ia menarik Junior kembali dan mencumbu bibir manisnya.
“Ah!”
Masih terengah, Junior berhenti dan memberi jarak di antara mereka. Tatapannya kali ini berbeda.
“Ji,” Ia mendekat, Junior bisa melihat kedua pipi Mark sudah memerah hingga telinga. Kekasihnya itu tampak kacau. Sisi congkaknya seolah muncul, Mark hanya terlihat seperti ini karena dirinya.
Junior mengecup bibir tebal Mark sekilas sebelum berbisik, “I want you, again.”
Lelaki di dekapannya mengerang, memeluk Junior begitu erat seolah memberi tanda seberapa haus dirinya akan sentuhan yang bisa memuaskannya.
“I’m all yours, Juju.” Ujarnya balas berbisik. “I’m all yours.”
Tidak sampai hitungan detik, Junior membalikkan posisi mereka. Si manis kesayangannya sudah terlihat tidak berdaya di bawahnya.
Mark terlihat sama berantakannya dengan kondisi kamar Junior saat ini, kemeja mereka berdua yang dilempar sembarang, celana mereka yang entah mereka taruh di mana serta botol cairan pelumas yang hanya tersisa setengah tercecer di kasurnya.
Bibir Mark merona bukan main, beberapa tanda merah juga mewarnai kulit pucatnya di beberapa bagian.
Gila, Junior sungguh merasa besar kepala melihat pemandangan di hadapannya.
Mark benar-benar indah dengan keadaan seperti ini.
Junior mengusap pelan puncak dada Mark sebelum mengulum bagian kanannya membuat si empunya kembali merintih.
“Ju— ah!”
Kecupannya kembali naik, sembari mengusap pinggul Mark, ia mengerang. “Shit, you look hot.”
Mendengar pujian yang ditujukan hanya untuk dirinya seorang, Mark tersenyum kecil. Tangannya sudah melingkar erat pada leher Junior.
“Put it in, i'm still loose.”
“You sure?”
Mark hanya mengangguk. Ia memang sudah terlihat kacau namun akan lebih kacau jika milik Junior tidak segera mengisi penuh dirinya di bawah sana.
Dan bilang saja dirinya memang serakah, tapi bersama Junior, Mark tidak pernah merasa cukup.
Junior treats him so good and it’s actually driving him insane.
“Ji,”
Mata Mark hanya mampu terbuka separuh saat Junior memanggilnya.
“Can i fuck you raw?”
And that was it.
Mark benar-benar ingin berteriak.
“Fuck yes,”
Dan ucapannya memang benar, he’s still loose. Milik Junior masuk begitu saja tanpa pelumas tambahan. Lelaki itu melenguh saat baru masuk separuh dan Junior sudah menyentuh titik lemahnya.
“Ju—ah, ah! Wait,” Junior berhenti begitu Mark mencengkram erat bisepnya. “Wai—ngh! Ah, sebentar it feels different.”
Lelaki yang berada di atasnya menatap Mark khawatir. “Ji? Aku keluarin aj—”
“Jangan!”
“Sakit?”
Mark menggeleng. “Bukan. It feels fucking amazing! Tapi ini beda, i could actually feel you down there.”
Kali ini Junior tersenyum. Ia menunduk mencium dahi Mark sekilas dan mengusap rambutnya yang kini sudah basah oleh peluh.
“Take your time, baby. This is our first time doing it raw.”
Selang beberapa saat, Mark kembali menyentuh dada bidang Junior, menatap lelaki itu lekat tepat di manik matanya. Tangannya menarik tengkuk Junior guna mengecup lembut pipi lelaki kesayangannya itu.
“Ju, please continue.”
“Bilang kalau mau stop ya,”
Rintihan erotis Mark kembali terdengar berbarengan dengan geraman Junior begitu miliknya ditelan sempurna dalam lubang ketat penuh kenikmatan itu.
Junior bergerak pelan membuat Mark rasanya ingin menangis. It feels so good.
“Ngh— so good!”
“Yeah?” Junior menatap Mark di bawahnya. “Suka aku isi penuh gini, ya, hm?”
“Ju!”
“Tell me, you like it?”
Mark dengan putus asa mengangkat pinggulnya, berusaha mempercepat tempo hujaman yang diberikan sang kekasih. “Suk–holy shit.. Junior, please..”
“Please what, sayang?”
Sebut Junior memiliki kesabaran di atas rata-rata. Dirinya sendiri sudah tidak sanggup tetap berada di tempo sepelan ini. Tapi, melihat Mark memohon dengan wajah penuh nafsunya itu sangat menggairahkan.
Sejak Mark pulang dengan kemeja berantakannya, Junior sudah menahan diri untuk tidak segera membawa kabur si cantik itu ke apartmentnya dan mengurungnya dalam kamar.
Siapa tahu lelah, pikirnya. Ternyata dia salah.
Tangan Mark dengan nakalnya meraba paha Junior saat mereka sedang menonton film, membuatnya menatap sang pujaan hati penuh rasa tidak percaya.
Mark menggodanya padahal besok masih hari kerja seperti ini? Sebuah keajaiban. Tapi, memangnya Junior sanggup untuk menolak?
Tentu tidak.
“Please fuck me harder.”
Saat ini lelaki berambut cokelat itu terlihat berantakan, dan Junior akan membuatnya semakin berantakan.
Ia menyatukan jemari mereka sebelum berbisik, “Your wish is my command, my love.“
Kedua kaki Mark sudah melingkar sempurna di pinggangnya. Hujaman yang ia berikan semakin cepat membuat si cantik melekungkan tubuhnya. Rintihan penuh arti seolah membuktikan seberapa hebat Junior memujanya.
“You’re so good,” Junior terengah. “You hear me, baby? You’re so good for me.”
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Mark. Hanya racauan tidak jelas serta napas menggebu yang dapat Junior dengar.
Ia melepas genggaman tangan mereka lalu bergerak menyentuh bibir Mark yang saat ini sudah sedikit membengkak. Dua jarinya menelusup masuk yang dengan hati Mark isap bagai permen gula.
“You’re driving me insane, Ji.”
Bibir Mark tertarik, senyum kecilnya membuat Junior semakin mempercepat tempo keluar-masuknya.
“Ngh— There!”
Sekarang, giliran ini Junior yang tersenyum. “Here?”
Tanpa diberitahu pun, Junior tahu. Dia mengenal Mark luar dalam. Ia paham betul harus memberi hujaman dari sudut mana agar kekasihnya itu merasakan kenikmatan tiada tara.
“Ji, i’m close.”
Saat ini tangan kanannya sudah melingkar pada pinggang ramping Mark, membawa lelaki itu pada dekapannya.
“Junior!”
Junior memejamkan matanya saat merasakan hangat cairan Mark pada perutnya dibarengi dengan lenguhan panjang serta teriakan namanya. Lelaki itu memberikan hentakan terakhirnya sebelum menggeram dan menenggelamkan seluruh miliknya pada lubang sempit Mark.
“I love you,” Ia mengecup leher sang kekasih penuh sayang. Menelusupkan wajahnya dan menghirup dalam aroma tubuh Mark. Bahkan di saat seperti ini, lelaki kesayangannya itu tercium sangat manis. Vanilla. His favorites of all time.
“I love you too.”
Tangannya mengusap sisi tubuh Mark selagi lelaki itu masih bergetar. Junior menunggu intensitas orgasme mereka berkurang sebelum menarik keluar.
“Baby,” Junior mengecup lembut pipi gembulnya. “How are you feeling?”
Kesadaran Mark baru kembali separuh, namun ia sudah menoleh, menatap Junior dengan mata sayunya. “I feel amazing! You feel amazing, Junior. Oh my god.”
“We should do this often,” Lanjutnya.
Junior terkekeh, membawa tangan Mark mendekat pada bibirnya sebelum ia berikan kecupan. “Nanti bersihinnya susah kalau keluar di dalem mulu.”
“Itu urusan belakangan and i don't really mind. Kan nanti kamu bantuin.”
Lagi-lagi Junior hanya tersenyum. Marknya ini memang luar biasa.
“Junior,”
“Hm?”
“About your keloid scar,”
Mark kali ini memiringkan tubuhnya, menatap Junior bersamaan dengan tangannya yang kembali menyentuh bekas lukanya.
“It is really beautiful, please don’t hide it anymore.”
Dadanya menghangat. Junior tidak pernah tahu Mark menyukai bekas lukanya yang tidak akan bisa hilang itu.
“Sure.”
“You are hot,” Mark mendongak, mencuri ciuman kecil dari bibirnya. “And your scar makes you look hotter.”
“Oh really?”
Tangan Mark bergerak naik, mengusap dada bidang Junior dan membuat pola sembarang di sekitar bekas lukanya.
“Yes, apa lagi kalau aku lagi..”
Junior menepuk pelan pinggul Mark.
“Shush. Jangan ngomong aneh-aneh nanti aku minta ronde tiga.”
Lelaki di dekapannya justru terkekeh lalu melepaskan diri dari pelukan Junior.
“Udah, capek. Besok lagi.”
“Mau lagi besok?”
“Cari deh alesan biar besok nggak kerja.”
Sekali lagi, memangnya Junior mampu menolak? Ya tentu tidak. Ia hanya bisa terkekeh, menatap Mark yang kembali terpejam. Helai rambut panjang menutupi sebagian wajah cantiknya.
Oh Junior loves him. Too much.
