Actions

Work Header

Neither of us planned it

Summary:

Sebuah pertemuan di lapangan golf membuat keduanya melihat sisi lain yang selama ini tersembunyi. Senara menemukan bahwa di balik nama besar Keandra ada seseorang yang tidak sesederhana yang ia pikirkan.

Sementara Keandra mulai menyadari bahwa seseorang yang selama ini tidak pernah ia perhatikan justru menjadi satu-satunya orang yang mampu menarik perhatiannya.

Notes:

Keonho as Keandra Adiwangsa
Seonghyeon as Senara

Work Text:

"Yang bener aja kak?" Ujar Senara penuh kebingungan dengan permintaan kakak satu-satunya.

"Please, Ara. Bantu gue." Ujar Julian penuh memelas, "gue lupa kalo tanggal enam belas ada sidang. Kalo gue ambil job nya, yang ada gue jadi fosil kampus." Imbuhnya dengan penuh frustasi.

"Ya salah kamu sendiri kak, tanggal sidang enggak diinget. Kalo udah kaya gini mending cancel aja job nya." Senara menyamakan posisinya dengan Julian yang tengah bersimpuh tak berdaya, "kalo kakak minta aku gantiin jadi caddy, aku ga bisa. Aku ga tau yang kaya gitu." Tambahnya dengan rasa berat hati, sebetulnya dia juga kasihan dengan Julian.

Air muka Julian menjadi muram, pandangannya juga memburam. Air matanya lolos begitu mendengar penuturan sang adik. Julian menangis.

"Kalo bisa gue cancel, udah gue cancel dari kemarin Ara." Ujar Julian dengan isakan, "besok customer gue orang besar, kalo cancel mendadak yang ada gue jadi pengangguran."

Sungguh, Senara tidak enak hati dengan kakaknya yang tengah dihantam masalah ini. Namun Senara bisa apa, dunia golf adalah hal tabu baginya. Apalagi kehidupan Caddy, Senara tidak tau apapun mengenai itu. Even sang kakak adalah seorang Caddy.

"Tapi aku beneran ga tau apapun sama pekerjaan kamu kak. Kalo aku bikin masalah, bukannya malah kamu yang kena juga?" Celetuk Senara sembari mengusap punggung sang kakak.

"Enggak serumit itu, Ara. Serius. Gue ajarin sedikit pasti lo langsung paham, ditambah lo kan fast learner." Puppy eyes milik si rambut hitam itu menjadi jurus yang tak dapat Senara elak. Entah siapa yang adik di sini, tapi Julian sangat pandai dalam hal merengek.

Senara hanya bisa mengangguk, mengiyakan permintaan sang kakak. Semoga Dewi keberuntungan selalu bersamanya dalam mengikuti rencana kakaknya.


"Kak Juli... Ini emang bajunya kaya gini?" Senara menatap ragu pantulan tubuhnya di cermin.

Yang diajak bicara hanya diam, memandang tubuh molek yang tengah bersiap itu.

"Kak Juli?"

"Gue ga tau kalo body lo sebagus ini." Julian menatap adiknya penuh puja. "Keseringan pake hoodie sih." Imbuhnya.

"Kayaknya hoodie sama  jeans better than this outfit." Senara menatap horor kakaknya.

" Sotoy banget. Literally siapa aja yang ditanya juga bakal jawab lo jauh lebih cocok pakai baju itu daripada hoodie. Fix, yang agree lebih banyak daripada yang support program MBG. "

"Yang setuju orang mesum." Ujar Senara sekenanya.

Bagaimana kenyamanan mau menempel pada Senara jika baju yang dikenakan berupa kaos polo putih crop dengan rok putih setengah paha, dan jangan lupakan hiasan perut menyerupai kalung yang melingkar apik diperut ratanya. Orang yang tabu dengan dunia caddy jelas akan memanggilnya pelacur.

"Kak Julian... Aku ga bisa, aku ga nyaman." Ujar Senara penuh memelas.

"Bisa sayang, nanti bakal nyaman kok." Balas Julian penuh semangat, "udah sana berangkat, gue minta Kak Jemi buat jemput lo tadi."

"Aku pakai baju kaya gini di depan Kak Jemi? Nanti aku diketawain."

"Ya enggak, pake mantel punya gue lah."

Julian mendorong Senara untuk segera menyelesaikan masalah bajunya, tak lupa Julian juga menambahkan sedikit make up agar wajah pucat Senara tak terlihat sangat.

"Udah, Kak Jemi udah dateng. Inget kata gue, yang penting fokus ditugas lo aja biar gak bikin masalah."

Senara mengangguk samar. Kepalanya sekarang hanya berisi seruan seruan penuh rasa menyesal telah mengiyakan permintaan kakaknya.


Senara datang lebih awal dari jadwal bermain, dirinya diminta untuk menyiapkan segala peralatan dan melihat kondisi lapangan. Semuanya standar dan kriterianya sudah dia pelajari dari Julian.

Setelah berkutat menyelesaikan hal-hal untuk persiapan, dirinya duduk di pinggir lapangan untuk kembali membaca peraturan-peraturan dalam permainan golf. Untung saja tidak banyak istilah yang menyulitkannya.

Lima belas menit sudah dirinya duduk, namun belum muncul juga orang yang akan dia pandu bermain golf.

Kepalanya kembali memutar ingatan, takut jika ternyata dia harus menjemput customer dari depan. Namun suara tawa wanita paruh baya membuatnya menghela napas lega, dengan segera dirinya mendekati arah suara tersebut.

Jantung Senara seperti berhenti berdetak sesaat.

Bagaikan tersengat aliran listrik jutaan volt, tubuhnya menegang. Napasnya tercekat, sementara kedua matanya terpaku pada seseorang yang semoga saja tidak menjadi mimpi buruk dalam hidupnya.

Nyonya Adiwangsa. Istri pengusaha ternama dan perempuan yang dikenal sebagai pilar keluarga Adiwangsa.

"Oh, hi, pretty. Sorry we're late. Anak sulungku susah banget diajak family time. Diajak main golf aja banyak alasan." Wanita yang baru memasuki lapangan itu berkata santai.

Senara tersadar dari ketegangannya, dirinya tersenyum kepada wanita di hadapannya. Setidaknya seseorang itu masih berada di luar lapangan.

"Kamu baru di sini? Aku belum pernah lihat kamu dibawa sama Emma."

"Iya, Madam. Ini hari pertama saya di sini. But I think I'll be fine," jawab Senara dengan senyum manis.

"I love your energy. Who's your name?"

“Senara. But everyone calls me Ara.”

Sang wanita dihadapan Senara tertawa, "I love your energy, Ara."

"Glad to know that." Ujar Senara, "untuk bola dan alatnya sudah ada di sana, ingin langsung main di sana atau perlu saya bawa ke sini?" Imbuhnya.

"Kita duduk-duduk dulu aja, suami sama anak-anak masih di sana buat bujuk si sulung." Balas wanita itu dengan kekehan, "aku udah lelah bujuk dia dari tadi malem. Dia ga suka main golf kalo bareng keluarga, padahal jarang-jarang loh kita bisa family time sambil main golf."

Senara tersenyum menanggapi ujaran wanita di sampingnya, "jadi dia lebih suka main golf sendiri ya.."

"Apparently, yes." Wanita itu menggeleng pelan. "Kamu coba bujuk, deh. Who knows, mungkin dia mau kalau diajak kamu."

Senara mengulum senyum, lalu menggeleng kecil. "I'm just a caddy, Madam. Kalau sama keluarga sendiri aja dia susah diajak, rasanya saya nggak punya peluang.

Kalau saja orang yang diminta untuk dibujuk bukan Keandra Adiwangsa, mungkin Senara akan langsung mengiyakannya.

Masalahnya, orang itu adalah Keandra Adiwangsa, putra sulung keluarga konglomerat Adiwangsa sekaligus teman satu kelasnya di jurusan yang sama. Bagaimana mungkin Senara berani membujuknya? Mau ditaruh di mana wajahnya kalau sampai ketahuan?

Namun, mengingat Keandra tak pernah sekalipun menoleh ke arahnya, bahkan saat ia sedang presentasi di depan kelas, Senara memilih meyakinkan dirinya sendiri bahwa laki-laki itu sama sekali tidak mengetahui keberadaannya.

"Siapa tau dia mau kalau ada orang cantik yang bujuk dia?" Balas wanita itu dengan raut yang meyakinkan.

Tuhan, selera Keandra jelek sekali kalau sampai mau dengannya.

"Eh, mereka kayaknya udah kehabisan cara buat ngebujuk Kean. Sekarang giliran kamu, ya? I believe he'll listen to you," ujar wanita itu, terdengar jauh lebih panik daripada sebelumnya.

Dengan berat hati, Senara berlari kecil menghampiri laki-laki muda yang tengah berdebat dengan dua adik laki-lakinya dan sang ayahanda.

"Permisi."

Suaranya yang pelan berhasil mengalihkan perhatian keempat pasang mata yang berdiri di hadapannya.

Seketika Senara menyesal. Dia sadar akan pakaian yang dikenakannya. Di tengah deretan polo shirt dan rok hanya setengah paha yang serasi, penampilannya terasa begitu mencolok. Andai saja ia mengenakan pakaian olahraga yang lebih biasa, mungkin ia tidak akan secanggung ini.

"Madam sudah menunggu di sana. Beliau bilang ingin segera mulai bermain. Ayo, semuanya sudah siap," ucap Senara setenang mungkin, berharap terdengar meyakinkan.

"Dengar, Mama udah manggil. Ayo, cepat ke sana," ujar pria paruh baya itu sambil menatap ketiga putranya. Lalu ia menunjuk Keandra, putra sulungnya. "Leave him. He's being stubborn."

Ketiganya, dua adik dan ayahnya memilih meninggalkan si sulung.

Ralat. Ketiganya justru meninggalkan si sulung bersama mahasiswa penerima beasiswa yang merupakan teman satu kelasnya.

"Always the smart one." Celetuk Keandra kepada yang lebih kecil di hadapannya.

"Sorry?"

"Well... this is unexpected." Keandra menyeringai tipis. "Di kelas lo serius banget. Gue kira hidup lo cuma kampus sama perpustakaan. Ternyata bisa juga jadi caddy" Sorot matanya menelusuri penampilan Senara dari pucuk rambut hingga ujung kaki, tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.

"We're not in class. Jadi anggap aja kita nggak saling kenal. Kalau mau main, ikut. Kalau nggak, aku pergi."

Keandra mengulum senyum. "Don't be mad." Tatapannya tak lepas dari Senara. "I think I finally found a reason to enjoy golf."

Senara meremat tangannya, menatap was-was Keandra. image player Keandra sudah menjadi rahasia umum setiap orang di kampus, Senara semakin merapal semoga Keandra bukan mimpi buruknya.

"Kalau gitu, ayo ke lapangan," balas Senara.

"You lead the way," ujar Keandra santai. "Jalan dulu aja. Gue ngikut."

Senara pun melangkah lebih dulu. Namun, baru beberapa langkah, rasa tidak nyaman mulai merayapi tubuhnya. Meski tak menoleh, ia bisa merasakan tatapan Keandra yang seolah tak pernah lepas dari punggungnya. Entah hanya perasaannya atau memang laki-laki itu benar-benar sedang memperhatikannya, yang jelas hal itu membuat langkahnya mendadak terasa canggung.

'Kak Julian, kamu ga bilang kalo orang besar yang kamu maksud itu keluarga Adiwangsa.' ujarnya dalam hati penuh rasa penyesalan yang kesekian kalinya.

"What a pretty waist."

Suara berat Keandra terdengar jelas dari belakangnya.

Langkah Senara seketika terhenti. Bulu kuduknya meremang, sementara jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia tidak menyangka laki-laki itu akan melontarkan komentar seperti itu secara terang-terangan.

Menghela napas pelan, Senara akhirnya berbalik.

"Keandra, nggak sopan ngomentarin tubuh orang kayak gitu."

Keandra mengangkat sebelah alis, membalas tatapan Senara.

"Gue muji pinggang lo. Emangnya di mana letak nggak sopannya? Gue juga nggak ngehina, kan?"

"Iya, kamu emang nggak ngehina." Senara menarik napas sejenak. "Tapi tetap. Aja. Nggak. Sopan."

Keandra menahan tawa kecil, lalu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Oke, my bad."

Senara mendengus pelan, lalu kembali berjalan meninggalkan Keandra di belakangnya.


Entah sejak kapan, perhatian Keandra tak lagi tertuju pada permainan keluarganya. Matanya justru mengikuti Senara yang sibuk mendampingi mereka. Gerakannya tenang, cekatan, dan nyaris tanpa cela saat bergantian menyiapkan stik, membersihkannya setelah digunakan, lalu kembali berjalan mengikuti pemain berikutnya. Dirinya belum bermain satu pukulan pun, sedari tadi tubuhnya hanya didudukkan dan matanya sibuk menatap seseorang yang menarik perhatiannya di awal pertemuan.

Keandra tidak pernah membayangkan akan bertemu Senara dengan versi yang agak berbeda seperti ini.

"Kean! Kapan kamu main? Dari tadi cuma duduk, mending pulang aja kalau gitu." Wanita yang dipanggilnya mama itu mengalihkan fokusnya.

"Kalo kalian udah capek, ganti Kean yang main." Ujar kean santai

"Kita habis satu hole lagi terus istirahat di clubhouse. Kamu yakin mau ditinggal main sendirian?"

"Yea, why not?"

Ya itu poin pentingnya. Keandra bisa bebas dengan caddy baru itu.

"Ma! I'm tired, ayo istirahat sekarang." Rengek si bungsu.

"Papa mau istirahat sekarang?" tanya Mama kepada suaminya.

"Oh, boleh." Pria itu terkekeh pelan. "My old bones don't lie."

"Kalau gitu kita break dulu. Be a good boy, ya. Jangan bikin Ara repot."

"Ara?" Keandra mengernyitkan dahi.

Mama tersenyum kecil. "The caddy name."

Ke-empat anggota keluarganya meninggalkan lapangan, Keandra menatap kepergian mereka dengan lekat. Takut-takut jika ada yang kembali.

Tatapan Keandra kembali jatuh pada Senara setelah keluarganya menghilang menuju clubhouse.

Insan mungil itu tengah sibuk merapikan susunan stik di dalam golf bag, memastikan tak ada yang tertukar setelah kedua adiknya bergantian memakainya. Sesekali ia mengelap kepala stik yang masih dipenuhi sisa rumput.

Entah karena penasaran atau ingin membantu, Keandra menghampirinya.

"Kamu nggak ikut istirahat?" tanya Senara tanpa mengalihkan fokus dari pekerjaannya.

"Gue kan belum main?"

"Aku kira kamu emang ga mau main, cuma mau duduk." Balas Senara sekenanya.

Sial, mata Keandra tidak bisa luput dari pinggang yang diberi hiasan itu dari tadi.

"Lo habis ini mau istirahat emang?"

"Kalo kamu masih mau main, aku istirahatnya nanti."

"Lo pernah main golf?" Tanya Keandra tiba-tiba.

Senara yang diberi pertanyaan seperti itu mengernyit bingung, lalu menggeleng.

"Mau gue ajarin?" Tawar Keandra.

"Jangan ngelantur, kalau mau main tinggal main aja. Jangan ngide aneh-aneh."

"Gue serius, kalo lo mau main gue ajarin."

Senara sedikit bingung dengan tawaran Keandra. Di sisi lain dirinya ingin mencoba merealisasikan materi yang diajarkan Julian, namun di sisi lain juga dia ragu jika yang mengajarkannya adalah Keandra.

"Jangan lama-lama mikirnya."

"Beneran kamu mau ngajarin aku?"

Keandra tertawa melihat wajah lucu di hadapannya, "gue keliatan boong?"

"Tapi jangan ketawa, ya, kalau ternyata aku tetap nggak bisa," ujar Senara lirih.

Keandra mengangkat sebelah alis. "Emang ada yang baru latihan sehari langsung jago?”

Keduanya berjalan menuju driving range.

Keandra mengambil sebuah driver dari golf bag, lalu menyerahkannya kepada Senara.

"Coba berdiri dulu."

Senara menurut. Kedua tangannya menggenggam grip stik golf, meski gerakannya masih terlihat kaku.

"Posisi badan lo agak bungkuk dikit. Iya, segitu. Terus kaki kiri sedikit lebih maju."

Senara mencoba mengikuti arahannya. Namun, ekspresi wajahnya justru menunjukkan kebingungan.

Keandra mengembuskan napas pelan.

"Sebentar."

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah ke belakang Senara. Kedua lengannya terulur melewati sisi tubuh yang lebih mungil itu, membenarkan posisi tangan yang menggenggam stik golf.

Refleks, tubuh Senara menegang.

"Relax," gumam Keandra pelan di dekat telinganya. "Kalau badan lo kaku, ayunannya juga bakal kaku."

Jemari Keandra membetulkan posisi jari-jari Senara di grip, lalu menggerakkan kedua tangannya perlahan mengikuti lintasan ayunan.

"Ini namanya drive. Buat pukulan jarak jauh. Anggap aja kayak service di voli. Awalnya harus tenang, terus baru lepasin tenaga pas kena bola."

Senara sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.

Jarak mereka terlalu dekat.

Ia bahkan dapat merasakan embusan napas Keandra yang sesekali menyentuh telinganya.

"Pinggangnya jangan dikunci."

Keandra menyentuh pinggang Senara sekilas, menggesernya sedikit agar posturnya lebih seimbang.

Napas Senara kembali tercekat.

Di lain sisi, Keandra tak kuasa menahan jemarinya untuk tidak bertindak lebih jauh di pinggang yang tengah dijamahnya itu.

"Coba satu kali lagi lo mukul."

Senara mencoba mengayunkan tongkatnya seperti yang diajarkan Keandra tadi.

Gerakan yang diciptakan Senara membuat tubuh Keandra semakin bergesekan dengan Senara.

Baik Keandra maupun Senara merasakan sesuatu yang menyengat menjalar ke tubuh mereka.

Senara dapat merasakan jelas usapan jemari Keandra di perutnya, dan punggungnya yang bertubrukan langsung dengan dada bidang Keandra.

"Keandra... bisa agak mundur nggak?" ujar Senara lirih.

Keandra terdiam sesaat sebelum mengangguk. Dengan sedikit enggan, ia melepaskan jemarinya dari pinggang Senara lalu mundur beberapa langkah.

Namun, Senara tetap tak bergerak.

Kedua tangannya masih menggenggam stik golf, tetapi jemarinya gemetar pelan. Bahunya naik turun, seolah sedang berusaha mengatur napas.

"Senara?" panggil Keandra, kali ini lebih hati-hati. "Lo nggak apa-apa?"

Tak ada jawaban.

Keandra mengernyit, lalu kembali mendekat. Begitu berada di hadapan Senara, tubuhnya langsung menegang.

Insan kecil itu menunduk. Air mata yang ditahan akhirnya jatuh satu per satu membasahi pipinya.

"Eh..." Suara Keandra terkejut. "Lo kenapa nangis?"

Ia benar-benar tidak menyangka reaksinya akan seperti ini. Sedari tadi ia hanya mengikuti impulsnya untuk menggoda Senara, tanpa pernah berpikir bahwa bisa membuat yang lebih kecil itu menangis.

Senara mengangkat wajahnya perlahan. Matanya memerah.

"Keandra..." suaranya bergetar. "Aku... kelihatan murahan banget, ya?"

Keandra membeku.

"Apa karena baju ini... makanya aku kelihatan mau dipegang-pegang?"

"God..” gumam Keandra lirih, "oke. My bad." Ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Gue minta maaf kalau cara gue bercanda kelewatan."

Ia berhenti sejenak.

"Tapi sumpah, gue nggak ada niat ngerendahin lo." Keandra mengembuskan napas panjang. Tatapannya tak lepas dari Senara yang masih menunduk dengan bahu bergetar.

"Oke... enough."

Tanpa menunggu jawaban, ia mengambil stik golf dari tangan Senara dan menyandarkannya ke golf bag.

"Keandra..."

"Lo nggak usah maksa lanjutin."

Senara buru-buru mengusap pipinya, memaksa dirinya tersenyum. "Aku masih bisa kerja."

"Bisa?" Keandra mengangkat sebelah alis.

Ia menunjuk jemari Senara yang masih gemetar.

"Itu namanya bisa?"

Refleks, Senara menggenggam kedua tangannya sendiri. Baru kali ini ia sadar tubuhnya masih gemetar hebat.

"Aku cuma..."

Kalimatnya menggantung.

Pandangannya mulai kabur. Napasnya pun terasa semakin pendek.

Keandra mendecak pelan.

"Udah."

Laki-laki itu melepaskan topi golf yang dikenakan Senara, lalu memakaikannya kembali dengan lebih rapi sebelum menarik pelan pergelangan tangannya.

"Ayo."

"Mau ke mana?"

"Pinggir lapangan."

"Aku belum selesai kerja."

"Gue bilang, ayo."

Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini tak memberi ruang untuk dibantah.

Senara terlalu lelah untuk melawan. Dengan langkah gontai, ia mengikuti Keandra hingga tiba di bawah rindangnya pepohonan di tepi lapangan.

Keandra membuka cooler box kecil yang berada di buggy cart. Ia mengambil sebotol air mineral dingin, membukanya lebih dulu, lalu menyodorkannya kepada Senara.

"Minum."

Senara menerimanya dengan kedua tangan. Jemarinya masih sedikit gemetar saat menggenggam botol itu.

"Pelan-pelan."

Baru setelah melihat Senara meneguk beberapa kali, Keandra mengembuskan napas.

Yang lebih kecil menatap Keandra ragu, "Kean... Aku mau pulang. Mau ke kak Julian aja. Aku emang ga bisa gantiin kerjaan kak Julian." Ujar Senara lirih.

"Jadi lo bukan caddy?"

Senara menggeleng kecil, "aku gantiin kak Julian, soalnya dia ada sidang."

"Aku mau bersihin ini semua dulu, baru aku izin pulang." Celetuk Senara sembari hendak pergi dari sisi Keandra.

"Yakin bisa bersihinnya?"

"Aku usahain bisa."

"Udah, tinggalin. Gue minta Caddy lain aja. Lo gue anterin pulang."

Senara menggeleng ribut, "jangan. Aku takut kak Julian di pecat."

"Ga akan. Gue ga tega liat lo lemes gitu."

Keandra menggandeng Senara menuju ke parkiran mobilnya, untung saja dirinya berinisiatif membawa mobil sendiri.

Dipersilahkannya Senara di kursi depan.

"Rumah lo di mana?"

"Kita ke lajur kanan, nanti aku arahin."

Di perjalanan netra Keandra tak bisa lekat fokus dengan arahan yang Senara berikan. Netranya tak bisa lepas dari eksistensi raga elok di sampingnya.

"Kean, jalannya di depan. Jangan lihat aku terus." Ujar Senara mengingatkan.

Senara sendiri frustasi dengan tatapan Keandra yang sialnya membuat seluruh badannya merinding.

Keandra yang tengah menyetir lebih frustasi dibuatnya. Dengan sedikit rasa sabarnya, Keandra membanting setir meminggirkan mobilnya dari jalan.

"Loh? Kenapa?"

"Sorry, Senara. Habis ini lo laporin gue ke polisi aja ga apa-apa." Celetuk Keandra tiba-tiba.

Senara lantas bingung dengan ucapan Keandra. Namun aksi si dominan selanjutnya membuatnya paham apa maksudnya.

Keandra menarik tengkuk Senara, mendaratkan labiumnya ke arah labium merah muda yang menggoda pertahanannya itu. Disesapnya labium semanis persik itu hingga sang empunya melenguh tak bisa menolak.

Jemari Keandra merambat menjamah pinggang yang menjadi dambaannya sedari awal. Diusapnya penuh sensual pinggang hingga hiasa yang bertengger apik di pinggangnya.

Senara yang merasa sengatan kala pinggangnya dijamah itu melenguh, memberikan pintu masuk kepada lidah Keandra untuk melesak lebih dalam ke mulutnya.

"Eunghh."

Ciuman Keandra turun ke arah leher jenjang bersih itu, meninggalkan bekas merah yang akan mengundang seribu pertanyaan dari Julian, sang kakak.

Senara melenguh, mendesah, dirinya tak tau harus apa selain meremat lengan Keandra untuk menjauh. Tubuhnya tidak pernah merasakan ini semua. Hal tabu kedua baginya setelah golf adalah hal dewasa seperti ini.

Senara tidak tau lebih rincinya istilah 'bercinta'.

'ctak'

Bunyi hiasan perutnya diputus oleh Keandra.

"Anghh- itu punya kak Julian... Kean-hngh.."

"I'll buy you a new one."

Bibir Keandra berpindah ke perut rata sehalus kualitas Charmeuse Silk itu.

Senara tersentak kala merasakan jilatan pada perutnya, kupu-kupu dalam tubuhnya meledak tak terkendali. Erangannya juga semakin frustasi.

"Keanh!"

Kepala yang lebih kecil terasa pening kala merasakan lidah hangat itu mulai berlabuh di pusarnya. Sungguh, lidah Keandra bermain dengan baik. Senara benci itu.

Jemari Keandra tidak tinggal diam, dirabanya paha sekal mulus yang sedari tadi mengapit menahan gejolaknya.

Usapannya hingga menelusup ke dalam rok dan menyapa area sensitifnya.

Namun pergerakan jemarinya ditahan oleh Senara, "Kean, stop- janganhh.."

Keandra tersadar, mendadak dirinya berhenti dari kegiatannya, dijauhkannya wajah dan tangannya dari tubuh Senara.

Walaupun dibicarakan oleh banyak orang bahwa Keandra ini seorang player, penyuka one night stand. Keandra tidak akan melakukan hal yang lebih jika partnernya meminta berhenti.

Keandra menatap tubuh lemas tak berdaya Senara. Jika ditanya Keandra menginginkan Senara atau tidak, maka Keandra akan berteriak keras menjawab iya.

Namun dia juga tidak enak hati melihat Senara yang sudah lemas walau hanya dengan permainan ringan saja.

“Sorry, Senara. Pukul gue sekarang, please. Tampar gue yang kuat.”

Senara hanya bisa menggeleng, sembari membenahi cara duduknya yang berantakan. "Aku ga pernah ngelakuin ini semua, aku takut."

Kepalanya hanya memandangi jendela, tidak berani menatap Keandra. Sialnya, bibirnya masih merasakan bekas lumatan-lumatan yang Keandra berikan, jauh dalam lubuh hati, Senara menyukainya. Tidak bohong, ciuman ternyata memabukkan.


"Gimana, Ara? Lancar kan?" Pertanyaan mendadak dari Julian kala baru saja masuk ke dalam rumah.

Senara yang tengah terduduk lemas di sofa ruang tamu, dengan pikirannya yang masih mengingat kejadian tiga jam lalu itu menoleh ke arah Julian dengan wajah memelas.

"Gimana? Kok lemes banget? Kenapa?" Julian mendadak panik melihat raut menyedihkan dari adiknya.

"Kak.."

Julian dengan cepat mendekati Senara dan mengusap bahu sempit itu, "kenapa? Tadi ada masalah?"

Senara mengangguk.

Julian memijat pelipisnya, untung dirinya lulus sidang sehingga tidak terlalu pening menghadapi masalah Senara.

"Kak Julian ga bilang kalo yang main keluarganya Keandra."

"Who's Keandra?" Julian mengernyitkan netranya.

"My classmate. Sulungnya Adiwangsa." Balas Senara lemas.

"Jadi apa masalahnya? Lo dikata-katain? Lo direndahin? Tell me." Julian menatap Senara lekat.

"No..." Senara menitikkan air matanya.

"Jadi apa? Jangan bikin panik dong sayang." Tangan Julian terulur untuk membawa Senara dalam dekapnya. "Ngomong aja, kakak ga bakal marah."

"He touch me, dan poin buruknya aku malah suka kak." Senara menangis kencang dalam dekapan Julian.

Julian mendadak terdiam, mencerna kata-kata yang baru dia dengar dari Senara selama mereka hidup bersama.

"Ara... Lo udah dua puluh tahun."

"Terus apa hubungannya kak?"

"Gue rasa lo ga seharusnya bingung sama yang kaya gini." Julian menahan tawanya kala melihat tanda cium keunguan di leher sang adik.

"Apalagi yang nyentuh lo sulungnya Adiwangsa, jelas lo bakal suka lah." Imbuh Julian menggoda adiknya.

"GOD... KAK JULIAN!" Senara memukul pundak Julian kesal.

Julian tertawa kencang dengan kekesalan adiknya. "Ya gimana Ara? Sampe mana dia nyentuhnya emang? Sampe puncaknya apa enggak?"

"Puncaknya? What?" Senara menggeleng tidak percaya dengan pertanyaan Julian.

Senara pikir Julian akan marah kepada Keandra karena menyentuh adiknya, dan akan membawa Senara ke psikolog agar tidak trauma dengan apa yang dilakukan Keandra.

Namun sepertinya perkiraan Senara meleset jauh.

"Kak. Adik. Kamu. Di. Sentuh. Sama. Orang. Loh." Senara menegaskan setiap kata kepada Julian.

"But you like it, right?"

"Whatever, mending aku tidur." Senara mendorong Julian hingga menubruk lengan sofa di belakangnya.

Yang didorong malah tertawa kencang tak terkendali.


Keandra memijat pelipisnya yang mendadak terasa lengar. Pikirannya masih mengingat bibir serta pinggang yang menggelisahi hasratnya.

"Ga usah sok pusing. Hidup lo gak susah." Cerca Amar melihat lagak pusing temannya itu.

"Zip your lips, Mar.”

"Cewe mana lagi yang mau lo deketin? Apa jangan-jangan degem lo ada yang hamil?" Amar menatap jengah Keandra yang tampak lesu ruai.

Keandra hanya diam, tak mengindahkan pertanyaan Amar. Pikirannya masih tenggelam menyelami imajinasi.

Sungguh, pinggang ramping itu sangat pas di genggamannya. Bibir merekah itu sangat sesuai dengan seleranya. Rintihan lemah itu sangat mengundang hasratnya.

Singkatnya, dia tenggelam dalam pesona Senara.

"Gue kepincut Senara." Ujar Keandra lesu.

"You must have got up on the wrong side of bed..” Amar termangu mendengar penuturan sahabatnya itu. “Yang bener!?" Imbuh Amar hingga tak sengaja hampir menyenggol sekaleng cola-nya.

"It has really pissed me out." Keandra meneguk kasar cola-nya.

"Lo gak lagi boong kan?" Amar menatap Keandra penuh tanya, "lo yakin lagi narget Senara si penerima beasiswa?" Imbuhnya.

"Gue gak lagi boong, gue juga gak lagi main-main buat narget Senara."

"Lo lagi pindah haluan ke sexy brain daripada sexy body?" Tanya Amar kala melihat keseriusan dalam raut Keandra.

"He's sexy in both."

"Well... Emang lo tau body-nya waktu telanjang?" Alis Amar terangkat. Setaunya Senara selalu memakai baju yang tertutup hingga lekuk tubuhnya tak terlihat, entah bagaimana temannya ini bisa tau kalau Senara has a sexy body.

"Pertanyaan lo bisa agak sopan, Amar Wijaya?"

"Gue nyamain omongan sama kelakuan lo. Gak mungkin lo gak ngelakuin hal sembrono sampe bisa tau body-nya di Senara."

"Kayaknya lo lebih tau gue dari pada gue sendiri." Keandra terkekeh.

Jelas dari ucapan Keandra mengandung makna bahwa manusia di hadapannya telah melakukan hal yang sembrono kepada Senara.

"Lo ngentod sama Senara?" Netra Amar melebar.

"Pengennya."

Amar melemparkan korek apinya ke arah kepala Keandra, "jangan ngerusak anak ambis."

Keandra mengaduh karena korek api lemparan Amar tepat kena pelipisnya. "Gue gak ada niatan ngerusak. Gue mau pacaran sama dia, sampe nikah juga boleh."

"Masuk kelas aja jarang, kok pede banget mau deketin anak ambis." Cerca Amar tepat mengenai alam bawah sadar Keandra, "harusnya lo rajin masuk kelas sebagai bentuk bare minimum buat deketin Senara."

Keandra terdiam, secara finansial dia cukup. Sangat cukup.  Skill  bisnis dia boleh diadu dengan ayahnya. Sangat mahir.

Tapi secara akademik, sepertinya otaknya tertinggal di semester tiga.

"At least kalo Senara sama gue dia gak bakal kelaperan dan gak bakal ngerasain masalah finansial."

"Dari seribu cerita hidup lo, so far ini yang paling menghibur." Amar tertawa tak terkendali hingga membuat lawannya mendengus.


"Kak Juli, aku nanti malem mau kumpul sama temen-temen sekelas di apartemennya Amar." Izin Senara kala akan berangkat ke kampus.

"Mau ngapain?" Tanya Julian sembari mengaduk kopi panasnya.

"Kumpul sama temen kelas, makrab?"

Julian tertawa, "udah mau semester lima masih aja makrab lo.”

Senara mengedikkan bahunya, iya juga kenapa mereka masih mengadakan makrab di semester hamper tua ini.

“Hati-hati ya, kalau ada apa-apa hubungin kakak."

"Iya kakakku, aku berangkat ya."

Senara menghilang dari balik pintu, meninggalkan Julian dengan Jemi; sepupunya yang tengah menginap di rumah keduanya.

"Julian..."

Julian terkejut dengan tangan yang tiba-tiba melingkar apik di pinggangnya.

"Kak Jemi... udah bangun?" Julian mengusap lengan kekar yang lebih tua.

Jemi mengangguk, mengusakkan hidungnya ke perpotongan leher yang lebih tua. "Senara keluar?"

"Iya, baru aja keluar." Julian menahan mati-mati agar tidak melenguh kala lehernya semakin dijamah Amar.

"Aku kangen kamu, Julian."

Julian paham arahnya.


"Senara, lo nanti ikut mobilnya Ian ya." Ujar Amar kala membagi rombongan mobil, agar tidak terlalu banyak yang parkir di apartemennya.

"Iya, Amar."

"Mobilnya kurang gak, Mar?" Tanya Ian yang berada di samping Senara.

"Gak kurang kalo Keandra bawa mobil sendiri."

"Keandra ikut? Jadwal kencannya lagi senggang?" Ian terkekeh mengingat Keandra yang notabenenya sepupunya itu tidak pernah ikut acara seperti ini. Quality time sama keluarga saja malas-malasan apalagi Quality time sama teman-temannya.

"Lagi gak jelas sepupu lo."

Pembahasan mengenai sulung Adiwangsa membuat memori yang berusaha Senara hapus kembali terputar, ingatannya kala hampir bersenggama dengan Keandra membuatnya tak bisa berpikir jernih.

Amar menatap wajah terdiam Senara kala dirinya dan Ian membahas sulung Adiwangsa itu. Rautnya sama seperti Keandra kala pusing memikirkan si pintar.

'Beneran ada hubungan ini.'

"Eh tapi Senara, lo gak gerah kalo sampe nanti malem pake baju ini?" Ian menatap Senara yang diam-diam saja itu.

"Lah iya Sen, lagi panas banget lo ini." Imbuh Amar sembari menatap baju Senara yang lumayan membungkus lekuk tubuhnya itu.

"Udah biasa kok, tenang aja." Ujar Senara meyakinkan keduanya.

"Kalo nanti kepanasan pinjem baju Amar aja." Celetuk Ian yang tidak yakin.

"Iya, kalo misal lo mau ganti baju ngomong ke gue aja."

Senara mengangguk mengiyakan keduanya.


"Gue bisa mati muda cuma mikirin metopen." Woojin berteriak frustasi.

"Udahlah mending lo manggang daging aja sana." Celetuk Ian yang sama frustasinya menatap layar laptopnya.

Chiquita yang tengah memanggang daging menghela napas kasar, "gue baru nyadar kalo manggang daging lebih seru dibanding mikir metopen."

Senara terkekeh mendengar celetukan absurd dari teman-temannya itu.

"Senara, gue joki ke lo aja dah." Ujar A-na yang telah pasrah padahal baru langkah awal skripsinya.

"Sena, sorry. Tapi gue kesel liat lo santai-santai aja gak ngereog kaya kita." Ujar Woojin.

"Pelan-pelan aja mikirnya, jangan diambil pusing. Toh dikasih waktu satu bulan, bukan satu hari." Ujar Senara berusaha menenangkan temannya.

"Gue mending jadi ikan daripada jadi mahasiswa semester lima kalo gini." Keluh Juun yang tengah memandangi akuarium milik Amar.

"Buat kali ini gue approve kata-kata lo. Jadi ikan kayaknya lebih seru." Kenneth memandang sendu jurnal yang tengah dibacanya, otaknya sudah berusaha mencerna semuanya. Namun nihil, tak satupun yang masuk otaknya.

"Udah paling bener lo semua bantuin gue sama Senara manggang ini daging." Celetuk Chiquita yang mulai jenuh dengan keluhan para mahasiswa semester lima itu.

"Eh tapi Keandra mana? Katanya mau dateng?" Sebenarnya Ian tengah merubah topik agar tidak perlu memanggang daging.

"Lah iya, Mar. Mana anaknya?" Woojin menimpali ucapan Ian.

"Masih antri drive thru." Balas Amar sekenanya.

"Lama bene — EH CHIQ AWAS SAOSNYA KESENGGO — yah..." Ian memekik.

Semuanya terdiam melihat peristiwa mengenaskan di dekat panggangan daging.

"Senara..... sorry..."

Chiquita menatap sendu baju yang tengah dikenakan Senara. Mangkok yang berisi saos tak sengaja dirinya senggol hingga tumpah ruah ke baju si pintar.

"Parah lo Chiq." Ujar Amar menatap sang pelaku.

"Ga apa-apa, Chiq. Amar, aku boleh minjem baju ganti?" Nyatanya yang menjadi korban tidak seheboh yang melihat.

"Bentar gue ambilin, Sen." Amar melenggang gesit menuju kamarnya.

"Aku ambilin lap dulu buat bersihin lantai." Ujar Senara terlampau santai.

"Senara, marah dong. Masa gak ada emosi sama sekali sih." Ian menatap tidak terima kejadian di depannya yang cepat selesai tanpa ada cekcok itu.

"Lo jangan kompor asu." Chiquita menatap sengit Ian.

"Udah, jangan diperpanjang. Kan kumpul di sini mau seneng-seneng." Senara menengahi keduanya.

"Sen lemari gue isinya cuma kaos sama celana jersey. Gue gak punya baju panjang-panjang. Gak apa-apa?" Amar datang sembari membawa kaos abu beserta celana jersey hitam pendek.

"Gak apa-apa Amar, ini gantinya di mana? Kamar mandi masih dibuat mandi Juun."

"Kamar gue aja."

"Gak apa-apa?"

"Santai aja Sen, sekalian lemarinya lo banting-banting Amar juga gak masalah."

"Gue banting mulut lo yang ada." Amar menatap sengit A-na.

Senara tertawa, "aku izin masuk kamar kamu ya Amar."

"Iya sana."


Malam setelah berkumpul selalu punya suasana yang berbeda.

Keriuhan yang sejak sore memenuhi apartemen Amar perlahan menghilang. Suara tawa, obrolan, dan candaan teman-temannya kini hanya tersisa sebagai gema samar yang sesekali terdengar dari ruangan lain.

Satu per satu mereka sudah memilih beristirahat. Beberapa bahkan sudah pulang lebih dulu, meninggalkan apartemen yang mulai terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya.

Senara sebenarnya tidak berniat menginap.

Seharusnya tadi ia ikut Chiquita, Juun, dan A-na pulang.

Namun, entah bagaimana, ia akhirnya tetap berada di sana.

Dan sekarang, di tengah suasana malam yang sunyi ini, Senara mulai mempertanyakan keputusannya sendiri.

"Keandra.." Senara menyentuh lengan Keandra yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya.

"Kok kamu belum tidur?" Tutur Senara kala merasakan hidung Keandra mengusak perpotongan lehernya.

Senara gugup sekarang.

Sepertinya menerima ajakan Ian untuk menginap bersama adalah kesalahan bagi Senara.

Seharusnya dirinya ikut Chiquita, Juun, dan A-na yang pulang tadi.

"Keandra?"

Keandra tak menyahut ucapan Senara. Dirinya sibuk menghirup wangi tubuh Senara yang dirindunya walau sebenarnya dia hanya pernah menghirup wanginya sebentar.

"Jangan gini, nanti ada yang liat." Jemari lentik Senara berusaha melepas lengan Keandra dari pinggangnya.

Namun yang merengkuh semakin menguatkan rengkuhannya.

"Udah tidur semua."

Senara yang tengah merebus air untuk membuat secangkir teh itu semakin gelisah kala hidung Keandra mulai membelai tengkuknya.

"Lo pake bajunya Amar?"

"Iya.. baju aku kena saos tadi."

Entah mengapa Keandra merasa kesal mengetahui sang dambaan menggunakan baju dari sahabatnya.

Keandra serasa di tusuk dari belakang oleh Amar.

"Lepas dulu Kean, airnya udah mendidih."

Keandra menurut, melepas pelukannya.

Netra tajamnya tak lepas memandang si pintar yang tengah menuangkan air panas ke cangkir yang telah di isi teh itu.

"Kamu mau teh?"

Keandra menggeleng, dia membenci rasa sepat dari teh.

Melihat Senara yang telah selesai membuat teh, Keandra kembali melingkarkan lengannya ke pinggang yang lebih kecil.

"Kamu kenapa sih? Tadi aja kaya gak kenal sama aku." Senara menahan pipi Keandra yang hendak mendarat di pundaknya.

"Formalitas biar gak ada yang curiga."

"Emang kita ngapain sampe bisa bikin mereka curiga?"

"Hampir making love kan?"

Senara bersemu.

"Kan hampir? Belum sampe."

"Ya kalo mau sampe making love gue ayo-ayo aja." Keandra terkekeh tepat di telinga Senara.

"Gak sopan!" Senara mencubit lengan Keandra, yang dibalasi kekehan.

Keduanya diam sejenak. Keandra menikmati mendekap yang lebih kecil, yang lebih kecil menikmati teh hasil racikannya.

Genggaman pada cangkir teh Senara mengerat kala merasakan jemari hangat Keandra menelusup kaosnya.

Ralat, kaos Amar.

Keandra mengusap lembut pinggang indah bak biola tua yang dapat memikat siapapun kala memandangnya.

Pinggang ringkih itu sangat nyaman untuk dijamah oleh jemari milik yang lebih besar.

Senara menurunkan cangkirnya, genggamannya tidak kuat untuk mengangkat cangkir yang tidak seberapa beratnya itu.

"Kean... your fingers feel warm.." lirih Senara sembari menyentuh lengan kokoh Keandra.

Yang diajak bicara tak bergeming. Angin malam dari pintu teras lantai atas yang terbuka bagai menulikannya dan menawarkannya sejuta hasrat dari dalam samudera.

Usapan jemari Keandra merambat naik hingga menyentuh pucuk lemah yang lebih kecil.

Senara melenguh kala areolanya disentuh. "Eummh.."

Bibir merah merekah bagai peta yang dicarik itu mengalihkan fokus yang lebih besar.

Tangan kiri Keandra yang digunakan untuk menopang tubuh ringkih Senara diangkat untuk mempertemukan labium keduanya.

Keandra tersenyum di dalam ciumannya, ini semua yang diinginkannya. Kembali menjamah tubuh molek yang menghantuinya setiap malam.

"Eumh!" Senara hampir menjerit kala jemari Keandra dengan kasarnya meremas dadanya.

Rematan pada lengan Keandra semakin kuat kala Senara mulai merasa pasokan udaranya menipis. Mulutnya diserang habis-habisan oleh pencium handal yang tengah mendekapnya.

Keandra yang merasa bahwa dambaan hatinya itu mulai kehabisan napas dengan terpaksa melepaskan lumatannya.

Senara mengais napas asal, dirinya sampai tak mampu mengais napas normal saat ini juga.

"Akh.." Netra bulat bak kelincinya mendadak terpejam, tubuhnya meremang hebat kala merasakan kecupan-kecupan basah di tengkuknya.

Keandra mencium, menggigit kecil leher jenjang bak kumbu ditarik itu. Yang sudah pasti meninggalkan bekas.

"Kean... aku gak bisa berdiri lagi." Senara hampir terduduk di lantai jika saja lengan Keandra tak meraih pinggangnya.

Senara hampir menangis, dirinya tak bisa mengelak jika sentuhan Keandra sangat memabukkan.

Senara hampir di ambang gila saat ini juga.

"Calm down.. Gue gak bakal bikin lo sakit." Bisik Keandra yang sadar dengan isakan Senara.

"Eumhh." Senara yang tengah dikelabui hasrat itu melenguh, bisikan rendah Keandra menggetarkan seluruh kewarasannya.

Keandra tersenyum puas melihat Senara yang tunduk dengan hasratnya.

Dengan segera, tangannya menggendong Senara untuk meninggalkan dapur.

"Mau, heungg— kemana?" Tanya yang lebih kecil.

"Ke kamar."

"Kamar siapa?" Senara yang tengah dikerubungi hasrat itu masih sadar jika ini apartemen Amar. Lantas kamar yang ada pasti hanya kamar Amar.

"Kamar gue."

Tidak bohong, Keandra memiliki kamar di apartemen temannya ini yang sebelumnya ruang penyimpanan, namun karena Keandra sering menginap maka dirombak menjadi kamar.

Pintu bercat putih tepat di samping kamar Amar itu Keandra buka.

Di jatukannya perlahan tubuh yang tengah digendongnya itu di kasur yang masih rapi tak bergeser pun seprai-nya.

Keandra mengukung Senara, ditatapnya mata bulat yang mampu melemahkannya detik itu juga.

"You are heavenly." Keandra memuji dengan menatap memuja si cantik.

Senara memerah sempurna, antara senang dan malu. Ah, Keandra ini bisa saja membuat Senara hanyut dalam pesonanya.

Jemari Senara menggenggam erat seprai kala kepala Keandra menelusup di perpotongan lehernya. Menyesap, mencium, menggigit kecil, meninggalkan bekas.

"Heunhgg..." Senara melayang kala bibir Keandra merambat turun hingga di sampai dipucuk dadanya. Keandra mengecupi dadanya dari balik kaos.

Jemari Keandra menelusup kaos yang dikenakan Senara, di singkapnya kain abu yang menutupi surga dunianya.

Puting merah muda yang sudah menegang, pinggang yang bergerak molek, kulit bersih nan halus yang terlihat sangat seduktif, semuanya terpampang nyata di hadapan Keandra.

Ah, Keandra gila malam ini.

Keandra mendekatkan labiumnya ke areola merah muda yang terlihat memanggilnya itu.

Nafas Senara memburu kala labium Keandra mengulum puncak dadanya.

"Kean..."

Keandra meremas gemas dada kiri Senara, yang berhadiah pekikan candu dari sang empu.

Pekikan, lenguhan, hingga napas memburu Senara bagai nada yang mengalun indah di telinganya.

Jika nada itu membutuhkan judul, maka Keandra akan memberinya judul 'heavenly'.

Mulut Keandra bermain gemas di pucuk dada Senara, memutar, menghisap, hingga menggigit gemas.

Kaos yang dikenakan Senara telah tergeletak sia-sia.

Senara sudah dibuat lemas hanya dengan Keandra di dadanya. Dasarnya lemah, dan tak pernah menjamah hal seperti ini.

Tangan Keandra turun menelusup celana yang digunakan Senara, menyentuh lubang senggama yang berkedut terasa memanggil meminta dijamah.

Senara memekik kala telunjuk Keandra dengan gamblangnya menelusup masuk ke lubang senggamanya.

"Akhh! Haru—eumhh!"

Senara memejam, mendongakkan kepalanya, meremat kuat sprai hingga tangannya memutih.

"Relaks, ini cuma jari." Keandra mengusap pipi Senara lembut.

"Engga—akh! Aku engga bisa..." Senara menitikkan air matanya.

Lucu sekali perawan yang satu ini di mata Keandra.

Sungguh, Senara tidak ada tandingannya dibanding semua orang yang pernah ditemui Keandra.

Senara mulai melenguh kala telunjuk Keandra mulai bermain dengan tempo teratur.

Melihat Senara yang mulai terbiasa, Keandra menambahkan saju hari tengah dan manisnya untuk menemani telunjuknya.

"Akh!" Senara terlonjak, merasakan lubangnya yang terisi penuh dengan tiga jari.

Keandra menikmati permainannya, setiap tempo yang dibuatnya membuat pekikan hingga desahan yang beragam dari Senara. Keandra sungguh candu dibuatnya.

"Huh..! Wh-what's that!? Ah—eummhh!" Senara mendesah hebat kala Keandra menemukan titik manisnya.

Senara hampir sampai pada putihnya jika saja Keandra tak menyudahi permainan jemarinya.

Keandra mengucup bibir Senara, "sorry, kalo mau keluar jangan cuma pake tangan gue."

Senara pening, matanya berkabut menahan hasratnya yang tertahan. Ucapan Keandra mendadak tak masuk ke otaknya. Hei .... Senara takut jika dirinya menjadi bodoh.

Mata Senara terpejam, jemarinya meremas kuat sprai, nafasnya memburu. Lubangnya berkedut hebat.

Dalam pejamannya, Senara merasakan tangannya dipindah untuk mengalung kepada tengkuk orang di atasnya.

Keandra menyiapkan posisinya. Pengalaman pertama Senara harus sempurna. He must be gentle.

"Kalo sakit cekam aja punggung gue." Bisik Keandra tepat di ceruk Senara.

Keandra memasukkan dengan pelan miliknya ke lubang yang bagai memanggilnya.

Senara terbelalak kala merasakan sesuatu memasuki tubuhnya. Rasanya sungguh asing, Senara tak sanggup.

"Kean—ahh! Keandra... It hurts.."

Keandra mengecup bibir Senara, "then grip me."

Senara mencekam kuat punggung Keandra, menyalurkan seluruh rasa sakitnya. Hingga lumatan tiba-tiba di labiumnya mampu menyamarkan sakitnya.

Milik Keandra masuk seutuhnya, perjuangannya sungguh luar biasa.

Keandra melepas lumatannya. "Masih sakit?"

Senara menggeleng.

Keandra mulai bergerak, memaju mundurkan miliknya ke lubang senggama Senara.

Adalah tidak mungkin jika Senara tidak mendesah hebat dibuatnya. Pengalaman pertama yang luar biasa menurut Senara.

"Hiks..! Akhh.." Senara menangis menahan nikmat yang tak terbendung.

"Pelannh— ajaAh.. Aku gak bakal lari— GOD... Slowly please...eumhh!"

Keandra mempercepat temponya, Senara semakin kelimpungan dibuatnya.

Sudah, melayang hingga di ambang gila keduanya. Entah siapa yang akan menyudahi ini semua, namun pada dasarnya tak satupun yang mau mengakhiri persenggamaan ini.

Hingga pada akhirnya, Senara yang menyerah dengan semuanya. Senara tak sanggup lagi, dirinya sudah tak sanggup lagi menerima afeksi dan perlakuan seduktif dari Keandra.

Alias Senara overstimulation dibuatnya. Entah sudah berapa kali mereka keluar, entah sudah berapa kali mereka mencapai putih masing-masing.

"You look stunning." Keandra menatap memuja Senara.

Senara bersemu. Bagaimana tidak, Keandra semakin tampan kala basah dengan keringat.

"Sorry, lo bisa pukul gue besok kalo lo gak terima sama semua tadi." Keandra mengusap rambut hitam Senara yang basah karena keringat itu.

Jujur saja, Keandra juga merasa bersalah melakukan ini semua.

"Emangnya aku keliatan nolak ya tadi?" Senara berujar bingung.

Bibir Keandra menyungging tipis. "Maksudnya lo suka sama semua tadi?"

Senara tersentak, pipinya tak bisa berbohong.

"How cute.." Keandra terkekeh.

Semoga Tuhan dan Dewa-Dewi cinta mendengar suara hati Keandra jika dirinya ingin sekali memiliki seseorang yang tengah direngkuhnya ini.


"Emangnya sopan ngentod di rumah orang sampe yang punya rumah gak bisa tidur semaleman?" Amar menatap sengit Keandra yang nampak berseri-seri.

Keandra terkekeh, "so far apartemen lo tempat paling enak buat ngentod."

"Brengsek."