Work Text:
Matahari siang hari itu bersinar cukup terik di balik jendela kamar kos Martin hingga memantulkan berkas cahaya cerah di atas lantai keramiknya yang bersih. Di atas kasur busanya yang dilapisi seprai abu-abu polos, Martin sedang berguling gelisah dengan posisi tengkurap. Kedua sikunya menumpu badan, sementara matanya menatap lekat-lekat layar HP yang menyala terang di depannya.
Layar itu menampilkan ruang obrolan WhatsApp dengan nama kontak Juhoon (calon pacar ❤️). Sudah hampir tiga bulan ini Martin menjelma menjadi pengagum rahasia cowok populer itu sejak mereka sering bertemu di rapat kepanitiaan kampus. Dan siang ini, entah mendapat keberanian dari mana, Martin memutuskan untuk nekat memulai obrolan lewat chat pribadi.
Jempol Martin gemetar saat mengetik pesan, menghapus, lalu mengetiknya lagi berulang kali sebelum akhirnya memantapkan hati untuk menekan tombol kirim.
Martin (me): hai Juhoon sorry tiba2 ngechat
Martin (me): sabtu besok ada acara gak?
Martin (me): kalo gak ada mau jalan gak sama gue?
Martin (me): eh tapi klo gabisa gapapa ko, hehe 😅😅 sans aja!
Begitu status pesan berubah jadi centang dua biru, Martin baru sadar apa yang dia lakuin. Otaknya yang tadi lagi nge-blank mendadak loading kenceng. Dia melempar HP-nya ke kasur seolah benda itu tiba-tiba berubah jadi bara api, terus menenggelamkan wajahnya ke bantal sambil mengerang panjang.
"Goblok banget lu Martinnn! napa tadi asal ngirim aja sih?" rutuknya frustrasi.
Jantungnya mulai maraton, dan perutnya mendadak terasa melilit. Dia mengintip layar HP-nya dengan satu mata, berharap pesannya bisa ditarik balik sebelum dibaca lebih lanjut.
"Duh, anjir, mampus... kalo abis ini dia cuma nge-read doang atau malah nolak gimana... beneran abis udah harga diri gue!"
TING!
Bunyi notifikasi khas WhatsApp memecah keheningan kamar. Martin refleks menyambar HP-nya secepat kilat. Begitu membaca balasan yang tertera di layar, matanya langsung melebar sempurna.
Juhoon (calon pacar ❤️): Hari sabtu ya?
Juhoon (calon pacar ❤️): Kebetulan aku kosong
Juhoon (calon pacar ❤️): Boleh kok, Martin
Juhoon (calon pacar ❤️): Ketemuan di GI mau gak?
Martin membaca pesan itu sampai tiga kali untuk memastikan dia tidak sedang berhalusinasi. Begitu sadar ini nyata, Martin langsung berguling di kasur dan berteriak heboh.
"ARGHHH!!! DEMI APA DIA MAUUU?!" teriak Martin histeris, menendang-nendang udara saking senangnya sampai gulingnya terjatuh ke lantai. Wajahnya memerah padam dengan senyum yang merekah lebar sampai ke telinga. Martin langsung menjawab pesan itu dengan buru-buru.
Martin (me): boleh ju, besok gue kabarin lagi ya :)
Martin (me): thanks udh mau nerima ajakan gue
Namun, rasa senang yang membuncah itu mendadak langsung berganti menjadi kepanikan tingkat dewa satu detik kemudian. Skenario hari Sabtu mendadak berputar di otaknya dan Martin tersadar kalau dia adalah cowok yang gak pernah ngerasain yang namanya kencan.
Pikirannya langsung tertuju pada satu-satunya manusia yang paling bisa diandalkan dalam situasi darurat ini, Seonghyeon, sahabat karibnya sejak maba. Sambil mengumpat pelan karena menyadari dirinya tidak punya persiapan apa pun, Martin langsung melompat dari kasur. Mengambil dengan cepat kunci motornya dan langsung menancapkan gas ke kosannya Seonghyeon.
Martin mengendarai motor maticnya dengan terburu-buru, membelah jalanan gang yang untungnya tidak terlalu ramai. Pikirannya benar-benar dipenuhi oleh bayangan hari sabtunya nanti bersama Juhoon. Jarak tiga gang antara kosannya dan kosan Seonghyeon terasa sangat jauh siang itu. Begitu sampai di depan gerbang kosan Seonghyeon yang bercat hitam, Martin bahkan tidak repot-repot memarkirkan motornya dengan rapi. Dia asal standar dua motornya di halaman, lalu melesat masuk, menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah gedebak-gedebuk yang sangat bising, menciptakan gema di sepanjang koridor sepi itu.
Sampai di depan kamar nomor 12, Martin langsung menggedor pintu kayu itu dengan heboh, seolah-olah ada satpol PP yang sedang mengejarnya.
DUG DUG DUG!
"Seonghyeon! buka pintunyaa!! Seonghyeon Hyeon Oyoonn!" seru Martin sambil terus menggedor pintu kayu itu sampai beberapa tetangga kosan sebelah sempat melongokkan kepala dengan pandangan terganggu.
Pintu akhirnya terbuka dengan sentakan kasar, menampilkan sosok Seonghyeon yang cuma memakai kaos oblong putih yang sudah melar di bagian leher dan celana pendek bola warna merah. Rambut hitamnya berantakan ke segala arah khas orang yang baru bangun tidur siang, dan wajahnya menekuk kesal.
"Berisik!!! lo kalo gak bawa makanan kesini mending pergi atau gue tendang lo dari sini sekarang juga, Martin!" gerutu Seonghyeon sambil mengucek matanya yang masih agak merah.
Martin tidak memedulikan ancaman itu. Dia langsung menerobos masuk ke dalam kamar Seonghyeon, mendudukkan dirinya di atas lantai keramik yang dingin dan bersandar pada sisi kasur. "Besok lu harus kosongin jadwal. Ikut gue ke mall."
Seonghyeon menutup pintu kamarnya kembali, lalu berjalan dengan langkah gontai menuju dispenser untuk mengambil air minum. "Ngapain ke mall? gak ah, dompet gue lagi sekarat, tanggal tua."
"Udah gampang, ntar gue yang bayarin!" potong Martin cepet. "Tapi plis, lu harus bantuin gue cari baju yang bikin gue kelihatan kayak cowok idaman buat hari sabtu nanti. Sekalian lu jadi konsultan kencan gue. Gue mau jalan sama Juhoon, Seonghyeon! seorang Juhoon! lu tau sendiri kan dia orangnya se-high quality itu?!"
Seonghyeon meneguk air putihnya sampai habis, lalu menatap Martin datar. "Gak mau. Males. Mending gue push rank di kosan."
"Plis lah, Seonghyeon! gue tuh gapernah kencan apalagi pacaran, terakhir putus cuma sama ari-ari gue doang. Kalo gue gak latihan dulu, bisa-bisa pas hari-h gue cuma diem kayak patung pancoran di depan dia. Besok pokoknya lu harus dandan rapi juga! anggep besok itu kita lagi latihan pacaran, biar sabtu besok gue gak kagok di depan Juhoon."
Seonghyeon menaruh gelasnya ke atas meja belajar dengan pelan. Dia memandangi Martin yang sedang menatapnya dengan mata bulat penuh permohonan, jenis tatapan yang selalu Martin gunakan kalau sedang meminta bantuan mendesak sejak mereka maba dulu. Ada jeda keheningan yang cukup lama di antara mereka, cuma ditemani suara dengung kipas angin dinding di pojok kamar.
Seonghyeon akhirnya menghela napas panjang, bahunya merosot pasrah. "Iya, iya, bawel. Besok jam 10 lo udah harus depan pintu kamar kos gue ya. Tapi awas aja kalo lo belom mandi pas jemput gue, gue langsung chat Juhoon bilang lo aslinya jorok banget gapernah mandi 2 hari. Biar ilfeel sekalian dia!"
"Anjing fitnah taik! itu namanya lu mau sabotase kisah percintaan gue!" protes Martin, nadanya naik satu oktav karena panik.
"Iya, iya, besok jam sepuluh teng gue udah standby di depan pintu kamar kosan lu. Gak cuma mandi, ntar malem gue luluran ampe ke pori-pori sekalian."
Seonghyeon langsung ketawa cekikikan sampe pundaknya naik-turun, ngerasa puas banget pas ngeliat muka Martin yang panik gara-gara ancamannya tadi.
Keesokan harinya sekitar jam sepuluh kurang lima, Martin udah nangkring bareng motor matic-nya di depan kosan Seonghyeon. Sesuai janjinya, dia beneran datang on time. Gak cuma mandi bersih, dia juga udah rapi pake kaos polo warna navy andalannya di lemari. Biar makin totalitas, dia nyemprotin parfum indomaretnya banyak-banyak, sampe-sampe wanginya agak nyengat dan bikin nusuk ke hidung.
Martin menaiki anak tangga dengan langkah ringan, lalu mengetuk pintu kamar Seonghyeon dua kali. "Seonghyeon! Gue udah di luar nih, buruan!!"
Tidak butuh waktu lama sampai terdengar suara kunci pintu yang diputar dari dalam. Begitu pintu kayu itu terbuka menampilkan sosok yang keluar dari dalam kamar, kata-kata yang sudah disiapkan Martin di ujung lidahnya mendadak menguap begitu saja. Martin membeku di tempatnya berdiri, matanya melebar, dan mulutnya sedikit terbuka tanpa sadar.
Di depannya, berdiri seorang cowok yang biasanya cuma dia lihat memakai pakaian compang-camping khas anak kosan yang males cuci baju. Tapi hari ini, Seonghyeon berubah total! Cowok itu memakai knit cardigan abu-abu polosnya yang agak tipis plus syal hitam yang disampirkan di lehernya, memamerkan garis tulang selangkanya yang tercetak jelas serta kulitnya yang putih, ditambah knit itu dipadukan dengan celana jeans gelap yang pas dengan kakinya yang jenjang.
Yang paling membuat Martin terpana adalah tatanan rambut hitam Seonghyeon yang biasanya berantakan mirip sarang burung, tapi hari ini poni panjang Seonghyeon tertata rapi ke depan dengan gaya belah tengah yang mengekspos sedikit dahinya. Wangi maskulin yang elegan campuran antara aroma wood dan vanilla mendadak menguar kuat, menyergap indra penciuman Martin begitu angin koridor berembus di antara mereka.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun berteman, Martin mendadak menyadari satu fakta yang selama ini tertutup oleh kelakuan absurd sahabatnya itu, Seonghyeon itu... ganteng sekaligus cantik banget. Bukan cantik yang feminin, tapi perpaduan antara hidungnya yang mancung, rahang yang tegas dan struktur wajah yang begitu proporsional yang bikin siapa aja yang melihatnya pasti akan menoleh dua kali.
"Lu... lu ngapain dandan secantik ini Hyeon..?" tanya Martin canggung, suaranya agak tertahan di tenggorokan.
Seonghyeon yang sedang membetulkan jam tangan kulit hitam di pergelangan tangannya mendongak, lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Hah? lo bilang apa?"
Martin buru-buru meralat ucapannya, mukanya mendadak berasa anget kayak abis kesamber kompor gas. "M-maksud gue, rapi bener! tumben lu kagak pake kaos oblong buluk atau hoodie jamuran lu yang gak pernah dicuci seminggu itu?"
Seonghyeon ketawa renyah, bikin getaran aneh yang mendadak nyetrum ke dadanya Martin, efek yang belum pernah Martin rasain sebelumnya. Seonghyeon melangkah maju, terus nyentil jidat Martin pelan pake ujung jarinya.
"Loh, kan lo sendiri kemaren yang ngerengek di kosan gue sambil bilang 'plis dandan yang cakep, yang rapi, temenin gue latihan pacaran.' Lo pikun atau emang otak lo masih loading, Martinudin?"
"Nama gue Martin, gak usah ditambahin 'udin'!" seru Martin sambil membalikkan badannya cepat, berjalan mendahului Seonghyeon menuju tangga demi menyembunyikan semburat merah tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya. Sialan, batin Martin, efek panik gara-gara Juhoon ternyata bisa bikin dia salah tingkah bahkan pada visual sahabatnya sendiri.
"Kita perginya naik motor lo kan?," tanya Seonghyeon dari belakang sambil mengikuti langkah Martin.
"Iya, naik motor gue kok," jawab Martin tanpa menoleh. Dia masih sibuk berusaha menetralisir detak jantungnya yang mendadak disko gak karuan sejak pintu kamar kos Seonghyeon terbuka tadi.
Begitu sampai di motornya, Martin langsung naik ke atas motor matic-nya dan menyalakan mesin. Tapi pas dia nengok ke belakang, Seonghyeon malah berdiri diam di samping motor sambil melipat tangan di dada, sama sekali gak ada niatan buat naik.
"Lah, kok gak naik? Buruan, ntar keburu siang, panas," kata Martin heran.
Seonghyeon mendengus geli, matanya ngelirik helm yang masih ngegantung di spion. "Lo gak ada niatan buat pakein gue helm gitu? Ntar pas ngedate sama Juhoon juga mau lu antepin begini? Gak ada peka-pekanya, gimana mau jadi cowok idaman Martinudin?"
Mendengar sindiran maut itu, Martin langsung gelagapan. Mukanya yang tadi udah mulai adem, sekarang auto mateng lagi.
"Eh? Oh... iya, sori-sori! Elah, lupa gue," sahut Martin panik. Dengan gerakan patah-patah kayak robot kehabisan oli, dia buru-buru ngambil helm di spion terus masangin ke kepala Seonghyeon. Pas lagi ngancingin tali helmnya, jarak muka mereka lumayan deket sampe Martin bisa nyium wangi shampoo Seonghyeon yang seger.
Tangannya sampe agak gemeteran, takut ujung jarinya gak sengaja ngejepit dagu temennya itu.
"Nah, gini dong. Minimal effortnya keliatan," puji Seonghyeon sambil tersenyum puas. Dia pun langsung naik dan nangkring di jok belakang. "Dah, pak supir, jalan! Jangan ngebut-ngebut, ntar rambut cetar gue lepek lagi."
"Supir supir, pala lu gue gedik!!" gerutu Martin ketus.
Tanpa babibu lagi, Martin langsung narik gas motor matic-nya. Motor mereka pun perlahan bergerak membelah jalanan, membawa dua cowok yang satu lagi sibuk nahan perasaan aneh dan yang satu lagi sibuk ngetawain ekspresi temennya di spion.
Perjalanan ke mall bener-bener diisi sama keheningan yang gak biasa di antara mereka berdua. Biasanya ada aja yang diributin, tapi kali ini mendadak pada mingkem.
Begitu sampai di mall, misi utama mereka langsung dimulai, nyari baju buat Martin ngedate besok. Seonghyeon yang sekarang resmi megang jabatan sebagai konsultan kencannya Martin langsung nyeret lengan Martin masuk ke salah satu store retail pakaian ternama di lantai satu.
Sampai di dalem, Martin langsung sok ide nyari baju sendiri. Dia keliling rak, milih-milih kemeja dengan tingkat kepedean setinggi langit. Tapi pas dia nunjukkin pilihannya ke Seonghyeon, mukanya itu langsung berubah drastis.
"Gimana? oke gak yang ini?" tanya Martin bangga sambil mamerin kemeja motif bunga-bunga mentereng warna neon.
Seonghyeon langsung masang muka nge-judge parah. "Lo mau ngedate ama apa mau ikut audisi lenong sih? sumpah, jelek banget selera fashion lo Tin!" cibir Seonghyeon capek sendiri liat pilihan Martin yang zonk semua, motifnya kalau gak mirip taplak meja ya mirip kemeja bapak-bapak mau ngeronda.
Seonghyeon akhirnya turun tangan. Dengan gerakan jeli bin profesional, dia mulai ngorek rak-rak baju, memilah-milah gantungan dengan cepat, lalu menyodorkan satu setel pakaian tepat ke dada Martin.
"Nih, cobain. Jangan protes, buruan cobain di fitting room!" perintah Seonghyeon mutlak.
Martin menghela napas pasrah, menerima tumpukan baju itu sambil memutar bola matanya jenaka. "Iya, iya, kanjeng gusti ratu. Bawel amat!" sahut Martin sambil melangkah santai memasuki fitting room.
Begitu tirai ditutup, Martin langsung menyandarkan kepalanya di dinding pembatas, memandangi pakaian di tangannya sambil tersenyum geli. Dia mulai melepas kaos navy-nya dan berganti pakaian sembari bergumam sendiri.
"Lagian si Seonghyeon kenapa sih anti banget sama kemeja bunga-bunga pilihan gue? Padahal kan vibes-nya kayak cowok-cowok mapan yang lagi liburan di Hawaii," bisik Martin, menahan tawa membayangkan wajah judgmental sahabatnya tadi.
Dia lalu meraih kaos putih untuk inner dan langsung memakainya sebelum menyusul kemeja flanel garis yang gelap sebagai outer. Martin memasukkan lengannya satu per satu, mulai dari kanan lalu kiri, sengaja membiarkan kemejanya terbuka tanpa dikancing.
"Awas aja lu ya Hyeon. Udah nolak semua pilihan gue dari ujung rak sampe ujung kasir, kalo setelan ini malah bikin gue keliatan kayak anak teknik semester akhir yang frustrasi nyusun skripsi, gue bakal pura-pura pingsan di lorong mall ini. Biar lu yang repot gotong badan gue sendirian ampe kosan. Liat aja."
Martin lalu memakai celana bahan hitam yang diberikan Seonghyeon sambil merapikan kerah bajunya tanpa melihat cermin. Namun, begitu Martin berbalik dan mendongak untuk melihat pantulan dirinya di cermin besar fitting room, semua kalimat ejekan yang sudah dia siapkan di ujung lidah mendadak lenyap tanpa sisa. Gila, pilihan Seonghyeon bener-bener bikin upgrade visual Martin sampe kelihatan kayak cowok-cowok aesthetic di pinterest.
Martin lalu keluar dari fitting room tersebut, dan baru aja mau pamer gaya ke Seonghyeon, kata-katanya langsung tertahan di tenggorokan.
Di sebelahnya, Seonghyeon lagi iseng nyobain kacamata berbingkai bulat transparan yang dia ambil dari rak aksesoris dekat situ. Cowok itu lagi ngaca sambil memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, lalu tiba-tiba menoleh ke arah Martin sambil membetulkan letak kacamatanya pake ujung jari. Seonghyeon tersenyum lebar sampai matanya menyipit lucu.
"Gimana Tin? gue keliatan kayak kutu buku jenius gak pas pake ini?" tanya Seonghyeon polos, mukanya kelihatan imut banget dapet vibes cowok-cowok soft yang gemesin.
Jantung Martin serasa mau copot dari tempatnya. Perpaduan muka Seonghyeon sama kacamata itu bener-bener gak ngotak, langsung bikin pertahanan Martin roboh seketika. Dia buru-buru memalingkan muka, pura-pura batuk kecil buat nyembunyiin mukanya yang mendadak kerasa panas dan memerah sampai ke telinga.
"E-eh? apaan sih, jelek banget sumpah! kayak nobita iya lu mah," dusta Martin terbata-bata, padahal dalem hati udah teriak histeris karena jantungnya udah dag-dig-dug ser.
Seonghyeon yang bersandar di deket pintu fitting room langsung mendengus geli dan memanyunkan bibirnya, gak sadar kalau udah bikin anak orang jantungan ringan. Dia langsung ngelepas kacamatanya sambil senyum puas ngeliat setelan baju Martin.
"Nah, gini kan cakep. Gak ada lagi bau-bau jamet yang suka nongkrong di pertigaan," sahut Seonghyeon puas, merasa sukses menyelamatkan selera fashion sahabatnya.
Martin mendecak, tapi gak bisa menahan senyum lebar karena harus mengakui kalau selera Seonghyeon emang di atas rata-rata. Tanpa protes lagi, Martin langsung balik badan buat ganti baju ke pakaian semula, lalu keluar dari fitting room sambil menenteng pakaian barunya dengan bangga. Mereka berdua kemudian jalan beriringan menuju area kasir yang untungnya gak begitu antre.
Setelah Martin selesai membayar setelan pilihan Seonghyeon di kasir, perut mereka berdua kompak berbunyi kelaperan gara-gara muterin lantai satu.
"Oke, list selanjutnya makan siang romantis!"
Mereka berdua jalan keliling dari lantai ke lantai, nyari-nyari restoran yang suasananya dapet buat ngedate. Martin yang dasarnya buta soal tempat makan yang romantis cuma bisa ngikutin dari belakang kayak anak ayam kehilangan induk, sementara Seonghyeon dengan jeli ngeliatin setiap open space restoran yang mereka lewatin. Cowok itu sempat geleng-geleng kepala pas liat beberapa tempat yang terlalu berisik atau penuh anak-anak kecil larian.
Langkah Seonghyeon akhirnya berhenti di depan sebuah restoran Italia di lantai bawah mall. Suasananya kelihatan tenang dan gak terlalu ramai. Dengan senyum puas, Seonghyeon langsung melangkah masuk dan memilih meja, diikuti Martin yang mengekor di belakangnya.
Begitu mereka duduk berhadapan, kontras di antara keduanya langsung kelihatan jelas. Di hadapan mereka sudah tersedia air mineral yang memang sengaja disiapkan gratis oleh pihak restorannya. Saat Seonghyeon sibuk melihat-lihat menu dengan santai, Martin justru duduk kaku di seberangnya. Cowok itu mendadak sibuk setengah mati mencoba mengontrol rasa gugup aneh yang terus menggelayuti pikirannya, sebuah perasaan campur aduk yang entah kenapa makin menjadi-jadi sejak kejadian di toko baju tadi siang.
Setelah menimbang sejenak, Seonghyeon mengangkat tangannya dengan santai untuk memanggil pelayan yang berada tak jauh dari meja mereka.
"Mba, mau pesen," ujar Seonghyeon begitu pelayan tersebut mendekat sambil membawa catatan. "Pasta aglio olio-nya dua, ya. Sama garlic bread-nya satu."
Pelayan itu mengangguk cepat sambil mencatat pesanan, sementara Martin di seberangnya cuma bisa menghela napas pasrah. Dia gak berani protes sama sekali, sadar karena ini janjinya juga yang bakal bayarin semua pengeluaran hari ini sebagai imbalan karena udah maksa Seonghyeon nemenin dia ke mall dan mau jadi konsultan kencannya.
"Inget skenarionya, ya Tin. Di depan lo sekarang itu bukan gue, tapi Juhoon." kata Seonghyeon sambil naruh buku menu ke atas meja kaca. Dia benerin posisi duduknya jadi tegap, ngelipet kedua tangan di atas meja, terus ngelempar senyum manis, jenis senyum yang belum pernah Martin liat selama dua tahun mereka temenan.
"Halo, Martin. Makasih ya udah mau ngajakin dan luangin waktu buat jalan bareng aku hari ini. Kamu keliatan... ganteng banget hari ini," ucap Seonghyeon pake nada suara yang sengaja dilembut-lembutin, lengkap dengan tatapan mata yang dibikin agak sayu dan penuh damba, bener-bener kayak orang yang lagi kesemsem dan bucin parah.
Martin yang kebetulan baru banget neguk air putih langsung tersedak hebat.
"Uhuk! Uhuk! bentar, bentar! lu kesambet apaan, anjir?! Serem banget suara lu!"
"Hah? kan Juhoon kalo ngomong emang alus dan lembut kaya gitu. Gue udah akting totalitas malah lo katain!" protes Seonghyeon, langsung balik ke mode rewelnya sejenak sambil mendengus. "Ayo cepetan respon! keburu pelayannya dateng anterin pesenan kita."
Martin berdeham beberapa kali, nyoba fokus balik ke skrip awal. "Oh... iya, Juhoon. Sama-sama. Gue juga seneng kok bisa jalan sama lu hari ini." Martin nyoba senyum sealami mungkin, tapi dia ngerasa otot-otot mukanya kaku banget kayak semen yang baru kering.
"Gak, gak, kaku banget! lo malah mirip kanebo kering yang baru keluar dari jemuran," kritik Seonghyeon. "Coba rileks. Anggap aja gue ini orang yang paling lo sayang dan paling lo pengen liat saat ini. Liat mata gue, jangan liat ke bawah terus."
Martin narik napas dalam-dalam, terus diembusin pelan. Oke, tatap matanya.
Dia mendongak dan mengunci pandangannya tepat pada sepasang mata bulat milik Seonghyeon. Mata itu hitam pekat, tapi entah kenapa, saat ini kelihatan berkilau indah diterpa lampu temaram restoran. Seonghyeon gak mutus kontak mata itu sama sekali. Alih-alih ngetawain akting Martin yang gagal, Seonghyeon malah natap dia lembut banget sambil tersenyum manis. Tatapan Seonghyeon penuh binar perhatian, seolah di tengah restoran yang lagi ramai ini, cuma Martin satu-satunya orang yang paling berharga di matanya.
Deg-deg-deg.
Jantung Martin mulai berulah lagi. Malah kali ini ketukannya makin gak ngotak, jauh lebih cepet dan lebih parah dari yang tadi. Rasanya kayak ada segerombolan kupu-kupu lagi pawai di ulu hatinya, bikin ada sensasi menggelitik aneh yang langsung nge-trigger rasa anget menjalar cepet ke seluruh badan, bahkan sampe bikin kupingnya merah merona.
"Lu... mending jangan senyum kayak gitu deh kalau di depan orang lain," ucap Martin tanpa sadar.
"??? Senyum gimana?" Seonghyeon berkedip, kelihatan bingung sama pertanyaan Martin yang mendadak random.
"Senyum yang... ah, lupain aja." Martin buru-buru memotong kalimatnya sendiri sebelum dia mempermalukan diri lebih jauh di depan sahabatnya. Bersamaan dengan itu, pelayan restoran dateng membawa pesanan mereka, dua piring pasta aglio olio dan satu porsi garlic bread yang aromanya menggugah selera.
"Yes pas banget, gue udah laper dari tadi pagi," ujar Seonghyeon, langsung ngambil garpu di samping piringnya.
Martin nyoba fokus sama makanan di depannya, ngegulung spageti aglio olio-nya dengan gerakan canggung yang kelihatan jelas banget. Tapi ya dasar Martin si ceroboh yang pikirannya lagi ambyar ke mana-mana, seuntai spageti yang licin meluncur bebas dari garpunya dan sukses mendarat cantik tepat di dagunya sebelum jatuh balik ke piring. Alhasil, sukses ninggalin noda minyak cabai kemerahan di sana. Tangannya langsung meraba-raba meja nyari wadah tisu.
Sebelum tangan Martin berhasil meraih selembar tisu, tangan Seonghyeon udah bergerak lebih cepet. Dengan selembar tisu putih di jarinya, Seonghyeon mencondongkan tubuhnya melewati batas meja yang memisahkan mereka. Ibu jarinya yang dilapisi tisu menekan lembut dagu Martin, mengusap sisa noda minyak di sana dengan gerakan yang pelan, hati-hati, dan lembut.
Pandangan mereka bertemu lagi dalam jarak yang cukup dekat di bawah lampu temaram restoran itu.
"Makan tuh pelan-pelan, Martin. Gimana nanti kalo hari sabtu lo makan belepotan kayak gini di depan Juhoon? Dia bisa ngira lo belum makan tiga hari," bisik Seonghyeon pelan. Tapi nadanya sama sekali gak kedengaran ngeledek atau bercanda. Malah kedengaran kayak bisikan penuh perhatian yang tulus dari lubuk hati.
Martin menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak berasa kering kerontang. Dia membeku di tempat duduknya, matanya terpaku pada bibir Seonghyeon yang berjarak lumayan dekat sama dia.
Bibir Seonghyeon ternyata tipe yang tipis di bagian atas, tapi agak plump alias berisi di bagian bawahnya. Warnanya yang pink segar alami dan gak kering sama sekali itu kelihatan pas banget di wajah tegasnya, bener-bener definisi bentuk bibir yang berbahaya buat kesehatan jantung Martin saat ini.
'Wait, kenapa gue malah merhatiin bibirnya si Seonghyeon?!' Martin menjerit panik dalam hati. Dia langsung memundurkan kepalanya dengan gerakan patah-patah begitu Seonghyeon selesai bersihin dagunya.
"T–thanks," cicit Martin, mendadak ngerasa pasta di mulutnya kehilangan rasa akibat seluruh sensor tubuhnya terfokus sepenuhnya pada detak jantungnya yang kian gak karuan di dalam dada.
"Hmm sama-sama. Oh iya, habis ini kita ke bioskop ya? kita tes seberapa tahan jantung lo kalo duduk berduaan di tempat gelap," kata Seonghyeon santai sambil kembali mengunyah pastanya, seolah-olah tindakan romantis yang baru saja dia lakukan sama sekali tidak berdampak apa-apa pada jantungnya Martin.
Sementara itu, Martin di seberangnya cuma bisa meratapi diri dalam hati sambil menatap piring pastanya dengan pandangan kosong. 'Juhoon... tolongin gue... kenapa bayangan muka imut lu di otak gue malah keganti sama mukanya si Seonghyeooonnn?!'
Begitu urusan makan siang selesai, Seonghyeon langsung narik tangan Martin buat naik ke lantai atas, tempat bioskop berada. Sepanjang jalan ngelewatin konter tiket sampai antrian popcorn, Martin cuma bisa pasrah ngintilin langkah Seonghyeon dari belakang tanpa tahu-menahu mereka sebenarnya mau nonton film apa. Pas dia nanya, Seonghyeon cuma masang senyum penuh rahasia sambil pamer dua tiket yang sengaja dibalik biar judulnya gak kelihatan. Martin gak ambil pusing, mikir palingan mereka bakal nonton film action atau rom-com standar buat simulasi kencan biasa.
"Gue pilih film horor," ujar Seonghyeon pas mereka jalan masuk ke dalem teater bioskop yang udah mulai gelap dan dingin gara-gara hembusan AC. "Menurut psikologi, kalo nonton film horor bareng gebetan, rasa takut bisa micu adrenalin yang efeknya mirip kaya orang lagi jatuh cinta. Jadi ntar hari sabtu, lo ajak Juhoon nonton film horor aja."
"Teori sesat anjir, gak ada sangkut pautnya sama sekali. Teori modus iya." sahut Martin, meskipun dia tetep aja ngintilin langkah Seonghyeon menuju deretan kursi C di area tengah teater.
Suasana teater siang itu cukup sepi karena memang masih hari kerja dan jam tayangnya siang. Di baris kursi tempat mereka duduk, hanya ada mereka berdua. Martin duduk di kursinya dan buru-buru meletakkan satu ember besar popcorn rasa karamel di antara kursi mereka berdua.
Film dimulai. Lampu teater mulai padam sepenuhnya, menyisakan pencahayaan dari layar lebar di depan mereka yang mulai menampilkan logo rumah produksi film.
Martin awalnya mencoba fokus pada jalan cerita film tentang rumah berhantu peninggalan zaman kolonial itu. Tapi fokusnya buyar total setiap kali lengan knit cardigan Seonghyeon yang bergesekan dengan lengannya di atas armrest kursi bioskop. Kulit mereka yang sesekali bersentuhan rasanya seperti menghantarkan daya listrik tegangan rendah yang bikin bulu kuduk Martin meremang, bukan karena hantunya, tapi karena kehadiran cowok di sebelahnya.
"Mau popcorn?" tanya Seonghyeon setengah berbisik, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Martin agar suaranya tidak mengganggu penonton lain di baris depan. Embusan napasnya yang hangat mengenai leher Martin, membuat cowok itu tersentak kecil.
"B-boleh," jawab Martin kaku, matanya tetap lurus menatap layar.
Mereka berdua sama-sama mengulurkan tangan ke dalam ember popcorn pada saat yang bersamaan tanpa melihat. Dan tentu saja, sesuai hukum klise drama romantis yang biasa Martin tonton di televisi, tangan mereka bertabrakan di dalam ember berbahan karton itu.
Tangan kecil Seonghyeon yang hangat tidak sengaja menggenggam punggung tangan Martin yang agak dingin.
Martin tersentak kecil, berniat menarik tangannya kembali karena panik. Tapi di luar dugaan, Seonghyeon tidak langsung melepaskannya. Cowok itu justru membalikkan telapak tangannya di dalam ember berisi popcorn, menelusupkan jari-jarinya di antara jari-jari Martin, lalu menggenggamnya erat selama beberapa detik.
HUUUAAAA!
Di layar bioskop, sesosok hantu wanita mendadak muncul dengan suara jump scare yang menggelegar memenuhi seluruh studio. Beberapa penonton di baris depan refleks berteriak kaget.
Martin juga kaget, tapi bukan karena hantunya yang menyeramkan. Dia kaget setengah mati karena genggaman tangan Seonghyeon yang mendadak terasa begitu posesif, erat, dan... nyaman di jarinya.
Martin menoleh ke arah Seonghyeon memanfaatkan remangnya cahaya bioskop. Awalnya ia mengira Seonghyeon fokus pada layar, namun cowok itu perlahan ikut memutar kepalanya ke samping.
Mata mereka berdua langsung ketemu. Seonghyeon sama sekali gak kelihatan takut atau kaget sama adegan seram di film, dia malah balas menatap Martin lekat-lekat dengan binar mata dalam yang persis banget kayak pas dia lagi akting di restoran tadi.
"Takut?" tanya Seonghyeon lembut, suaranya tenggelam di antara musik latar film yang menegangkan. Dia mengusap pelan punggung tangan Martin dengan ibu jarinya, sebuah gerakan menenangkan yang justru membuat jantung Martin melakukan lompat tali di dalam dadanya tanpa henti.
"G-gak..." cicit Martin jujur, suaranya hampir habis karena tenggorokannya menyempit.
'Gue takut sama lu, Seonghyeeonnn! gue takut jantung gue copot dari tempatnya kalo lu gak lepasin tangan gue sekarang!!!!'
Seonghyeon tersenyum kecil, sebuah senyuman samar yang kelihatan manis banget di tengah remang-remangnya studio sebelum perlahan ngelepasin genggaman tangannya dari Martin. Dia balik nyandarin punggung ke kursi dan fokus lagi ke layar bioskop, seolah-olah gak ada hal besar yang baru aja terjadi di antara mereka.
Sementara Martin? Dia terpaksa ngehabisin sisa dua jam durasi film dengan pandangan kosong ke arah layar. Dia sama sekali gak tahu gimana plot cerita atau ending dari nasib si karakter utama gara-gara otaknya sibuk melakukan reboot massal atas apa yang baru aja terjadi sama hatinya.
Setelah seharian keliling mall buat simulasi kencan yang sukses mengobrak-abrik seluruh tatanan saraf dan logikanya, sore harinya sekitar jam lima Martin mengantar Seonghyeon pulang ke kosannya.
Sepanjang jalan, Martin cuma diam membisu, fokus membelah macetnya jalanan sore hari dengan pikiran yang super semrawut. Melihat sahabatnya yang mendadak linglung dan diam kayak patung, Seonghyeon mutusin buat gak langsung ngebiarin Martin pulang gitu aja.
Begitu mereka sampai di parkiran kosan, Seonghyeon langsung menarik kaos Martin.
"Lo turun dulu deh, mampir dulu ke kosan gue. Sumpah muka lo linglung banget, gue takut lo gak fokus di jalan terus malah kecelakaan."
Martin tidak menolak. Dia mengikuti langkah Seonghyeon menaiki tangga dengan langkah gontai, seperti seorang tawanan yang pasrah.
Sekarang mereka berdua udah duduk di lantai kamar kos Seonghyeon yang ukurannya cuma tiga kali empat meter. Mereka duduk nyender ke kasur dengan kipas angin dinding yang muter malas di atas kepala. Atmosfer di kamar itu mendadak terasa lebih berbeda dibandingkan hari sebelumnya, saat Martin masih asik heboh soal Juhoon.
Seonghyeon sendiri udah ngelepas knit cardigan tipisnya, menyisakan singlet putih warna putih polos yang agak ketat. Potongan baju itu gak cuma pamer bahu tegapnya, tapi juga ngebentuk lekuk tubuhnya dengan jelas, nampilin pinggangnya yang kelihatan ramping banget. Penampilan Seonghyeon sore ini bener-bener kelihatan santai, tapi entah kenapa malah bikin dia sialnya kelihatan cakep banget di mata Martin.
"Mar, lo dari di mall tadi sampe di jalan banyakan diem terus. Lo beneran gapapa? atau masih kepikiran soal Juhoon besok?" tanya Seonghyeon memecah keheningan yang canggung di antara mereka. Dia menoleh, menatap Martin yang duduk di sebelahnya dengan pandangan khawatir yang tulus.
Martin cuma bisa menatap lantai kosan Seonghyeon yang berwarna putih, sambil jarinya iseng memainkan ujung karpet kecil di dekatnya. Pikiran di kepalanya bener-bener bising luar biasa, rasanya kayak saling tabrakan satu sama lain.
Anehnya, bayangan Juhoon dengan lesung pipitnya yang udah dia puja-puja selama tiga bulan ini mendadak blur total dari ingatannya. Sosok Juhoon kayak kehilangan warna begitu aja, dan posisinya langsung digantikan sepenuhnya oleh bayangan Seonghyeon, mulai dari tangan kecil Seonghyeon yang menggenggamnya di dalam ember popcorn, usapan tisu lembut di dagunya, sampe momen pas pintu kamar kos ini terbuka tadi pagi, nampilin sosok Seonghyeon yang begitu menawan sampai bikin dunia Martin seolah berhenti berputar sejenak.
"Seonghyeon," panggil Martin pelan, suaranya agak serak.
"Hmm? Kenapa?"
Martin ngehela napas berat, bingung gimana cara nyusun kata-kata yang pas di kepalanya yang lagi semrawut. "Soal hari sabtu... rencana gue mau jalan sama Juhoon, kayaknya... gak jadi."
Seonghyeon mengernyitkan dahinya bingung, menoleh menatap Martin penuh kebingungan. "Maksud lo? Kencan lo sama Juhoon batal? Dia ngechat lo tiba-tiba buat ngebatalin?"
"Gak batal dari sananya... tapi mau gue batalin sendiri sekarang," kata Martin lambat-lambat. Dia memutar seluruh tubuhnya, duduk bersila menghadap Seonghyeon sepenuhnya di atas lantai. Ditangkapnya sepasang mata bulat yang seharian ini sudah sukses merusak seluruh sistem kerja jantung dan logikanya sebagai seorang yang statusnya hanya sahabat.
"Kenapa dibatalin, Martin? Kan kita udah capek-capek cari baju bagus seharian, udah latihan makan romantis sama latihan nonton film juga di bioskop?"
Martin menarik napas panjang, memenuhi paru-parunya dengan udara kamar yang masih keciuman wangi parfum Seonghyeon. Persetan deh sama batasan persahabatan yang udah mereka bangun selama dua tahun ini. Kalau dia gak ngomong sekarang, rasanya dadanya bisa meledak gara-gara nahan sesak yang aneh ini.
"Gara-gara lu, sialan," ucap Martin dengan nada kesal yang dipaksakan, padahal matanya memancarkan rasa gugup yang luar biasa.
"Gara-gara gue? Lah, salah gue apa? Gue kan udah jadi mentor kencan yang paling berbakti dan totalitas buat lo hari ini?!" protes Seonghyeon, tidak terima dituduh menjadi penyebab kegagalan rencana kencan idaman Martin.
"Salah lu tuh..." Martin sengaja ngegantung kalimatnya bentar. Mukanya mendadak berasa panas banget sampai ke ujung kupingnya yang langsung merah. Dia sempat nutupin mukanya pake kedua telapak tangan yang agak gemeteran, ngambil waktu dua detik buat ngumpulin sisa nyalinya sebelum akhirnya dibuka lagi buat natap Seonghyeon pasrah, antara malu tapi juga serius banget.
"...salah lu tuh, kenapa hari ini lu harus dandan rapi dan kelihatan manis sekaligus cantik banget, hah?! kenapa lu bisa seimut itu pas pake kacamata deket fitting room tadi? kenapa lu juga harus ngelap dagu gue pas di restoran pake cara kayak gitu, dan kenapa lu harus ngajakin gue pegangan tangan di dalem bioskop? lu bikin gue gila hari ini tau gak Hyeon?!"
Seonghyeon langsung mematung sebentar, mulutnya agak terbuka karena kaget dapet rentetan protes yang bener-bener gak terduga itu.
"Gue gak tau ini efek samping dari simulasi kencan sesat yang gue saranin sendiri atau gimana," cecar Martin bertubi-tubi, gak ngasih celah sedikit pun untuk Seonghyeon buat nyela. Dia bener-bener numpahin semua kekesalannya gara-gara siksaan batin yang dia rasain seharian ini pas di mall.
"Tapi intinya, seharian ini jantung gue deg-degan parah kayak mau copot tuh bukan karena gue mikirin Juhoon buat hari sabtu besok. Jantung gue mau copot tuh gara-gara lu, Seonghyeon! gue... gue mendadak ngerasa tertarik sama lu sekarang. Gak tahu deh, kayaknya gue malah beneran naksir sama lu gara-gara hari ini. Sialan, pokoknya lu harus tanggung jawab!"
Suasana kamar kos nomor 12 langsung hening seketika setelah Martin menyelesaikan kalimat panjangnya. Cuma ada suara bising baling-baling kipas angin dinding yang muter monoton di pojok ruangan. Martin meremas ujung kaos navy-nya kuat-kuat sampai lecek. Matanya merem rapat sambil gigit bibir bawah, udah pasrah bersiap sama skenario terburuk entah Seonghyeon bakal ketawa ngakak karena mikir ini cuma bercandaan fiktif, atau dia bakal diusir dari kamar karena Seonghyeon ngerasa risih, atau bagian paling buruknya, Seonghyeon gak mau lagi temenan sama dia dan memutuskan semua kontaknya.
Selama beberapa detik setelahnya, suasana bener-bener senyap. Gak ada suara tawa yang meledak dari mulut Seonghyeon sama sekali.
Malah Martin ngerasa ada tangan yang hangat dan udah familiar banget mendarat lembut di atas kepalanya. Tangan itu mengacak rambut Martin pelan banget, hati-hati, dan penuh kelembutan yang nyata.
Martin membuka matanya perlahan, natap lurus ke depan dengan pandangan ragu.
Di depannya, Seonghyeon gak lagi ketawa ngejek. Cowok itu justru lagi senyum manis banget sampe sepasang matanya menyipit membentuk garis melengkung yang lucu. Dan yang bikin Martin salah fokus, kedua pipi milik cowok itu sekarang udah dihiasi semburat merah muda yang jelas banget. Seonghyeon nge-blush parah, ngebuktiin kalau dia sebenernya gak sesantai penampilannya setelah denger pengakuan blak-blakan dari Martin tadi.
"Lama banget sih lo sadarnya, Martinudin," bisik Seonghyeon pelan, suaranya kedengaran lembut banget di telinga Martin.
Martin mengerjap beberapa kali, otaknya mendadak mengalami blank total.
Seonghyeon menurunkan tangannya dari atas kepala Martin. Terus dengan gerakan berani tanpa ragu, dia meraih jemari tangan Martin yang lagi meremas kaos, menelusupkan jari-jarinya di antara jari-jari Martin, dan menggenggamnya erat banget di atas lantai kamar kos. Kali ini di tempat yang terang, tanpa ada ember popcorn yang menghalangi.
"Lo pikir gue yang biasanya males mandi pagi dan hobi pakai kaos bolong ini, mau-maunya repot-repot dandan rapi dan pake outfit yang gapernah gue sentuh, pake parfum mahal yang gue pake cuman pas hari penting aja, dan nemenin lo keliling mall seharian cuma demi ngebantu lo pacaran sama orang lain?" Seonghyeon menaikkan sebelah alisnya, ada nada geli sekaligus gemas yang kentara di suaranya.
"Gue sengaja mau gagalin seluruh simulasi kencan hari ini biar otak lo yang agak lemot itu sadar, kalo cowok yang beneran sayang dan naksir sama lo tuh ada di sini... di sebelah lo dari dulu."
Martin membulatkan matanya dan natap wajah Seonghyeon yang jaraknya dekat banget. "Bentar.. ini gimana–"
"Iya, Martin. Gue udah naksir lo dari kita maba," potong Seonghyeon sambil terkekeh pelan, wajahnya ikut memerah lagi nahan malu yang sama.
"Gue agak kelabakan pas lo bilang bakal jalan sama Juhoon kemaren. Makanya, begitu lo minta latihan pacaran sama gue, gue pikir ini kesempatan terakhir buat bikin lo ngeliat gue bukan cuma sebatas temen doang."
Martin natap tangan mereka yang saling bertautan erat di lantai, terus natap balik muka Seonghyeon.
Lewat bias cahaya matahari sore yang menerobos masuk dari jendela kamar, siluet wajah Seonghyeon kelihatan begitu sempurna di mata Martin. Seonghyeon perlahan bergerak maju, memiringkan kepalanya sedikit, lalu mengecup sudut bibir Martin sebelum berpindah tepat di tengah ranumnya. Singkat, namun sukses bikin Martin meremang manis.
Keberanian Seonghyeon justru membakar akal sehat Martin. Dengan satu gerakan tegas, Martin menarik pinggang Seonghyeon hingga cowok itu bergeser lebih dekat dengannya. Martin langsung mengunci bibir Seonghyeon dengan ciuman yang menuntut. Kali ini, Martin melumatnya dengan ritme yang lambat namun begitu dalam, menyalurkan semua rasa lega dan cinta yang mendadak membuncah di dadanya.
Kesan raw dari ciuman pertama ini bener-bener gak bisa disembunyiin. Gerakan mereka masih kaku, tapi rasa gemas yang meledak-ledak bikin tautan itu makin intens. Tangan Seonghyeon bahkan langsung meremas kaos Martin erat-erat, seolah menyalurkan semua rasa frustrasi karena baru bisa menyentuh Martin kayak sekarang.
Tautan bibir mereka akhirnya terlepas secara perlahan. Napas keduanya masih agak memburu, meninggalkan sensasi hangat yang menjalar sampai ke ujung jari. Jarak wajah mereka masih sedekat itu, sampai Martin bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di manik mata Seonghyeon yang berkilau terkena cahaya sore.
Seonghyeon tersenyum kecil, ibu jarinya bergerak lembut mengusap sisa basah di sudut bibir Martin. "Jadi... kencan hari sabtu besok sama Juhoon fix lo batalin, kan?" tanyanya dengan suara terdengar posesif tapi manis banget.
Martin terkekeh pelan, rasa geli sekaligus bahagia yang membuncah bikin pipinya makin merona merah. Dia sengaja mencubit pelan hidung mancungnya Seonghyeon. "Iyaa, bawel. Lagian mana bisa gue fokus kencan sama orang lain kalau otak gue udah lu jajah gini?"
Mendengar jawaban itu, senyuman Seonghyeon makin melebar, kelihatan puas dan lega banget. Dia membawa tangan Martin yang saling bertautan erat ke depan dadanya, membiarkan Martin merasakan sendiri detak jantungnya yang berdegup sama kencangnya. "Bagus deh. Soalnya mulai hari ini, lo cuma boleh latihan ataupun kencan beneran sama gue doang. Gak boleh sama yang lain."
"Iyaa Seonghyeon. Posesif bener sih pacar baru gue ini," balas Martin sambil terkekeh pelan.
Di dalam kamar kos sederhana yang kini bermandikan cahaya keemasan matahari sore, Martin akhirnya menyadari satu hal yang mutlak, kalau simulasi pacaran bareng sahabat sendiri memang sangat ekstrem bagi kesehatan jantung. Tapi melihat bagaimana semuanya berakhir sore ini, Martin tahu dia gak akan pernah menyesalinya.
Goodbye Juhoon, hello masa depan baru yang jauh lebih manis bareng sahabat sendiri.
