Work Text:
Yu Jimin, 22 tahun, sedang berkuliah semester 7 dan terancam gagal bayar UKT untuk semester berikutnya karena dia baru saja didepak keluar dari rumah oleh ibunya. Argumen panas soal perselingkuhan sang ibu dengan beragam lelaki asing membuahkan hasil; satu tamparan di pipi kanan dan pemutusan hubungan ibu dan anak. Jimin ngga kaget, ibunya memang dari dulu rada sinting. Perempuan waras mana yang gonta-ganti suami 5 kali dalam 20 tahun dan semuanya berakhir karena ibunya SELINGKUH. Jimin jijik sekali.
Adik Jimin, Ningie (salah satu buah cinta ibunya yang bahkan tidak bisa dia identifikasi bapaknya siapa), menangis menahan kakinya.
“Kakak jangan pergi.” Begitu permohonannya yang menggugah hati.
Kalau saja dia tidak diusir pasti Jimin akan bertahan. Toh selama ini dia bertahan hanya demi sang adik.
Remaja perempuan yang baru menginjak kelas 1 SMA itu mengalihkan pandangan kepada ibunya. “Ibu jangan usir Kak Jimin ya? Please ya, Bu?”
Muka ibunya terlihat bengis, dadanya masih naik turun oleh amarah. Kata-kata Jimin masih terngiang-ngiang dan pedas di kuping ketika dia meneriakinya lonte murahan.
“Jangan meludah di sumur sendiri. Ngapain tinggal dan dihidupi lonte murahan kayak aku kan? Sekarang keluar!” Ibunya membuang pakaiannya ke luar dari pintu.
Jimin mendengus sebal. “Jelas jelas ini semua pemberian Pak Juyeon.” Dia berbisik rendah, menyebutkan nama suami kelima ibunya yang amat penyayang dan baik hati. Memang Pak Juyeon badannya boncel dan sudah terlalu tua dibanding ibunya yang masih muda dan menarik, tapi dia baik sekali kepada mereka. Yu Jimin bahkan tidak akan berkuliah kalau saja bukan Pak Juyeon yang memaksa membiayai. Tapi baru 1 bulan Pak Juyeon meninggal, ibunya sudah menghamburkan harta peninggalan pria itu untuk foya-foya dan berselingkuh.
“Ngga apa-apa Ningie, kakak bakal jemput kamu secepatnya. Baik-baik dulu di sini, ya?”
Jimin memeluk erat tubuh sang adik dan menepuk pelan punggungnya.
Tangisan Ningie menggema semakin keras ketika pelukan itu terurai. Jimin memungut barang-barangnya dan berjalan meninggalkan rumah.
::: ::: :::
Tidak ada waktu istirahat bagi Jimin.
Pagi dia part-time jadi cleaning service sebuah rukan (ruko-kantor), siang dia jadi kurir antar paket. Malamnya dia shift jaga sebuah minimarket 24 jam. Dari dulu Jimin udah bekerja untuk jajan sehari-hari, tapi tak pernah sekeras ini. Biasanya uang kuliah dan kosannya masih dibayari Pak Juyeon. Bahkan jatah jajannya juga ada, kalau saja tidak ditilap duluan oleh sang ibu.
Dia butuh penghasilan ekstra. Minggu ini semuanya berada dalam tenggat waktu; uang kuliahnya, uang kosannya, makan sehari-hari. Ningie sekarang juga jadinya ikut Jimin ngekos di pinggir kota. Memang jadi effort tambahan baginya ke sekolah, tapi Jimin merasa lebih tenang. Dia tidak sanggup membiarkan sang adik sendirian di rumah sementara ibunya memboyong laki-laki asing yang barangkali ngga punya nalar selain di selangkangannya.
Pukul 6 pagi, Jimin beranjak mencuci muka begitu melihat teman shift paginya datang. Matanya sembab bukan karena kurang tidur tapi habis menangis menghitung pemasukan yang tidak mencukupi kebutuhan mereka. Aeri memberikan senyum canggung, Jimin membalasnya lebih ceria.
“Duluan ya Ri.” Dia berpesan demikian.
Meski tubuhnya lelah, otaknya tetap terasa segar, matanya ngga bisa tidur. Tubuhnya begitu tegang. Dia mengendarai sepeda motornya menuju kosan. Kosannya bukan kosan kebanyakan yang khusus disewakan. Kebetulan saja ada seorang wanita dengan rumah besar memutuskan untuk menyewakan kamar di rumahnya biar tidak terlalu sepi. Nama ibu kosnya Minjeong. Dulu sempat ada 2 kakak tingkatnya yang juga menyewa kamar di rumah itu, tapi keduanya juga sudah lulus. Bisa dibilang kosan ini adalah hidden gem. Kamarnya nyaman, fasilitasnya lengkap, ibu kosnya baik, dan sewanya terbilang murah.
Jimin sebenarnya sudah dua minggu telat bayar, dia sudah menjelaskan kondisinya. Tapi Kak Minjeong (begitu dia memanggilnya) hanya mengibaskan tangan sambil bilang “ngga usah terlalu dipikirin.”
Jimin juga mengira Kak Minjeong bakal menarik extra-charge karena adiknya juga tinggal di rumah ini, tapi Kak Minjeong bilang ngga apa-apa. Jimin jadi tersentuh dan naksir sedikit kepada perempuan itu. Di matanya Kak Minjeong memang super keren. Perempuan yang baru saja menginjak usia 30 itu, saat ini adalah General Manager di sebuah perusahaan milik asing.
Rumah ini adalah milik sang ibu yang sayangnya sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Karena ngga mau kesepian, Kak Minjeong menyewakan kamarnya. Cuma disewakan kepada kenalan saja. Jimin adalah orang beruntung yang kenal dengan kakak tingkatnya; Jiwon (masih sepupu jauh Kak Minjeong).
Sehari-hari Jimin melihatnya pergi pagi dan pulang malam. Akhir pekan biasanya dia jalan-jalan keluar kota atau perawatan diri. Jimin iri, kapan ya dia bisa menikmati hidup seperti itu?
Dengan kunci serapnya, Jimin membuka pintu dan masuk ke rumah. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul setengah 7. Ningie pasti udah berangkat sekolah mengingat jaraknya yang agak jauh. Kak Minjeong harusnya masih di rumah, dia biasanya keluar bekerja pukul 10-an. Jimin melihat ke sekeliling ruangan tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pemilik rumah. Barangkali dia di kamar, pikir Jimin.
Rumah ini memiliki 5 kamar tidur. Dua di antaranya terletak di lantai bawah, satu dekat tangga miliknya Kak Minjeong, satu lagi di sebelahnya milik sang ibu yang dibiarkan kosong. Di lantai atas terdapat 3 kamar yang disewakan. Saat ini penghuninya cuma Jimin dan Ningie si.
Ketika mau melewati tangga, tiba-tiba Jimin mendengarkan suara-suara dari arah kamar Kak Minjeong. Awalnya dia tidak bisa mengidentifikasi suara apa, tapi ketika dia berhenti dan mendengarkan lebih seksama, dia menyadari itu adalah suara desahan dengan sesuatu—alat yang bergetar.
Jantungnya mendadak berdegup kencang. Tiga tahun ngekos di sini, belum pernah dia mendapati pengalaman ini. Cuaca pagi yang dingin ngga membantu sama sekali, Jiminsaurus di dalam celananya saat ini sedang mengeras meski ngga ada stimulan. Suara Kak Minjeong malah menambah tegang penisnya. Penasaran, dia berusaha mendekat ke kamar Kak Minjeong. Suaranya terdengar lebih jelas. Kamar Kak Minjeong ngga terkunci dengan rapat, makanya suaranya bocor sampai keluar.
Dengan jantung yang berdetak cepat, dia mengintip dari celah pintu tersebut. Perempuan tersebut terlihat menungging dengan sepotong vibrator tersumpal dalam memeknya. Bantalnya dia jadikan penahan desahan yang menghasilkan bunyi lenguhan lebih erotis lagi.
Jimin bakal bohong kalau dia bilang ngga pernah kepikiran Kak Minjeong dalam fantasi cabulnya. Tapi melihat langsung rasanya ngga ada apa-apa dibanding mimpi basahnya selama ini. Jimin selalu mengira Kak Minjeong, perempuan mungil, dengan senyum manis itu adalah perempuan yang patut dan selayaknya pandangan masyarakat. Perempuan pemalu yang bercinta di dalam selimut dengan lampu mati saking malunya. Tapi lihatlah pemandangannya saat ini, Kak Minjeong dengan wajah tertelungkup, pinggul yang bergetar selagi dipuaskan oleh penis karet merah jambu yang telah basah oleh cairannya sendiri.
Jimin tau ini salah. Jimin tau dia bisa saja tertangkap oleh Kak Minjeong. Tapi dia tak dapat mengalihkan pandangannya. Penisnya dalam celana berkedut-kedut.
“Jimin!” Tiba-tiba Kak Minjeong berteriak kaget.
Jimin juga kaget. Belum sempat dia merespon, Kak Minjeong memanggil. “Jangan kabur.”
Jimin mematung di depan pintu. Matanya turun ke lantai.
Ketika pintunya terbuka, Kak Minjeong keluar dengan sepotong bathrobe warna putih, talinya mengikat dengan longgar di sekitar pinggang. Pipi perempuan itu merah, rambut panjangnya yang berwarna kecokelatan terlihat berantakan dengan beberapa helai yang menempel di pipi. Matanya agak basah dan sayu.
Uh, uh, perempuan itu masih sange, dan Jimin bakal dilahap.
Dia tau itu. Tapi otaknya seperti enggan bekerja.
“Kamu mengintip saya?” suaranya terdengar serak. Napasnya masih memburu naik turun.
Jimin menelan ludah. Dia agak salut, orang normal bukannya malu dan ingin mengubur diri ya? Tapi Minjeong dengan otoritas penuh justru menginterogasinya. Jimin deg-degan, tubuhnya panas dingin.
“T-tadi aku ngga sengaja dengar suara kakak... T-terus aku ngga sengaja lihat.” Dia berucap lirih.
“Ngga sengaja? Kamu diam lima menit.”
Jimin tertangkap basah. “Kakak nyadar?”
“Aku nyadar, aku pikir kamu bakal langsung kabur. Tapi kamu malah diam.” Minjeong mencecarnya. Dia mengunci pandangan Jimin.
“M-maaf kak.”
Minjeong tak menjawab. Justru dia mengamati Jimin lebih lekat, tubuhnya bergerak maju, menghapus jarak di antara mereka. “Kamu suka ngga dengan yang kamu liat?” Suaranya lirih sekali berbisik di kuping Jimin.
Jimin tau dia mau menang jackpot lucky strike 777 dengan pertanyaan itu. Napasnya terasa memburu, dia memberanikan diri membalas tatapannya.
“Suka kak.” Dia menatap bibirnya sebelum kembali ke mata Kak Minjeong. “Kakak seksi.”
Sudut bibir Minjeong tertarik sedikit membentuk senyum tipis. Dia memegang leher Jimin dan mendorong kepalanya ke bawah, mempertemukan bibir mereka. Ciumannya begitu basah dan menuntut. Jimin pernah pacaran tapi pengalaman seksualnya ngga lebih dari masturbasi. Dengan canggung dia memeluk pinggang Kak Minjeong untuk mengimbangi gerakannya.
Tubuhnya didorong hingga menelentang di atas kasur. Masih mengenakan bathrobe, Minjeong menaiki pangkuannya, mengurung kepalanya dan melanjutkan ciuman mereka. Rambutnya yang panjang terurai berantakan menutupi wajah, terasa menganggu karena kadang masuk ke mulut. Jimin berinisiatif untuk mengumpulkan seluruh rambutnya dan menggenggamnya di belakang kepala, mengekspos leher putih sang pemilik rumah.
Kak Minjeong tampak suka dengan inisiatif, dia menghadiahkan kecupan lagi. “Bagus Jimin.”
Perempuan itu menggoyangkan pinggulnya. Memeknya terasa hangat memeluk batang kontolnya yang sudah membengkak di dalam celana. Sesi make out mereka semakin panas, Jimin mulai lebih berani dan eksploratif. Rambut Minjeong dia taruh rapi ke sisi kanan kepalanya agar tidak menganggu ciuman panas mereka. Tangannya menyentuh dan menelusuri lekuk tubuh perempuan itu. Tubuhnya ternyata beneran kecil sekali. Dengan mudah pinggangnya tenggelam dalam persilangan tangan Jimin. Dia meraba dari pantat hingga dadanya. Jemarinya meremas lembut dan gemas tubuh itu.
“Kak Minjeong?”
“Hm?”
“Boleh gantian?”
“Gantian apa?”
Jimin tidak menjawab, dia mengunci pinggang perempuan itu dan mengganti posisinya hingga dia yang terkurung dalam pelukannya. Dia tak memberi kesempatan Minjeong memberi tau opininya lebih lanjut, Jimin kembali mencium perempuan itu.
Kontolnya terasa semakin berat. Wajah sayu Kak Minjeong dalam dekapannya dengan pipi yang merah dan bibir yang basah terasa seperti mimpi. Kalau ini beneran mimpi Jimin ngga mau bangun sama sekali.
Dia mengecup pipinya, turun hingga ke leher. Jimin dapat mencium bau lotion-nya yang terasa wangi dan mahal. Ngga kayak Jimin yang belum mandi seharian dan cuma berlindung dibalik guyuran parfum diskon di minimarketnya. Kebetulan parfum diskon minggu ini dari rak parfum pria yang berbau musky dan manis. Agaknya Minjeong suka karena dari tadi dia tak berhenti-henti mencium kerah bajunya (titik yang paling sering dia semprot).
Selagi mulut mereka sibuk bergumul, tangan Jimin menyelinap di balik bathrobe-nya, menjalar ke arah paha kemudian memaknya yang sudah terasa basah dan hangat. Jimin meraba dengan satu jari, menyentuh vertikal dari klitoris ke lubang vaginanya. Jarinya masuk tapi tidak dalam, cuma seruas jari.
Kak Minjeong melenguh tiap kali Jimin menguyel-uyel klitorisnya. Jadinya dia menguyel dengan lebih semangat. Dari satu jari jadi dua. Dari gerakan satu arah, jadi stimulasi eksperimental.
Jimin melepas sebentar acara make out mereka hanya untuk melihat wajah Kak Minjeong. Perempuan itu terlihat mabuk dengan mata tertutup, kakinya mengangkang seluas mungkin, memberi akses kepada Jimin untuk memuaskannya.
Gerakannya semakin cepat, jemarinya menekan lebih kuat, erangan Kak Minjeong juga sama frekuensinya, hingga di satu titik dia meledak dengan erangan tertahan dan kaki yang menggelupur.
“Jimin, mmh, Jimin.” Dia memeluk tubuhnya dengan wajah terbenam di pundaknya.
“Enak ya kak?” Jimin berbisik ke kupingnya.
“Enak, sayang.” Minjeong membalas dengan napas terbata.
Tubuhnya terasa begitu panas mendengar panggilan itu. Jimin melepas tali bathrobe Kak Minjeong dengan mudah. Tubuh perempuan itu terlihat begitu lemas. Jimin dengan mudah memutar dan menarik tubuhnya lepas dari potongan kain itu, kemudian Kak Minjeong polos untuk matanya yang lapar.
Jimin membuang bathrobe itu ke lantai dan kembali menaruh Minjeong di kasur dengan penuh kecermatan. Dia langsung mencumbu kedua putingnya yang terlihat tegang.
“Lepas, Jimin.”
Kak Minjeong menginstruksikan pakaiannya untuk turut dilepas.
Buru-buru dia melepas dada perempuan itu, melepas bajunya, membuka gespernya dengan tergopoh-gopoh. Celana jeansnya dia tarik ke bawah dan diinjak dengan satu kaki agar keluar lebih mudah. Dia siap dengan bokser dan bra.
Minjeong menatapnya dengan senyum terhibur, matanya masih sayu, terlihat lemas oleh orgasme.
Jimin buru-buru ingin menyelam lagi ke dadanya.
“No, lepas semuanya.” Minjeong mendorong dadanya dengan kaki begitu Jimin ingin jatuh lagi dalam pelukannya.
Kontolnya malah berkedut-kedut. Tingkat sangenya meningkat 1000% disuruh-suruh pakai kaki.
Jimin melepas celana dalam dan branya. Sekarang dia telanjang total, kontolnya berkedut-kedut dengan cairan precum tumpah ruah.
Minjeong membalas dengan senyum sayu, masih kecapean dari orgasme pertamanya. Jimin kembali menenggelamkan diri ke dalam pelukannya, mencumbu dadanya, sementara tangannya mengeruk cairan orgasme Kak Minjeong kemudian melumurinya ke seluruh permukaan vagina. Jemarinya kembali menekan-nekan klitoris perempuan itu.
Begitu puas dengan area dada, Jimin langsung ke inti acara; makan besar di memek Kak Minjeong.
Dia tak ada pengalaman, hanya klip bokep yang dia bookmark di twitter menjadi panutan. Namun keyakinannya cuma satu, Kak Minjeong harus puas sampai ketagihan. Ini bisa saja jadi jalan pengubah hidupnya.
Awalnya dia cuma menekan bibirnya ke bibir memek Kak Minjeong, lalu perlahan menusukkan lidahnya ke dalam lubang senggama perempuan itu. Dia berusaha mengeruk cairan cintanya yang meski terasa payau tetapi membuat ketagihan. Dia mencumbu vaginanya seperti sedang berciuman dengan mulutnya.
Erangan-erangan mulai lolos dari mulut Kak Minjeong. Kakinya dia bukakan lebih luas. Jimin merengkuh pahanya, memantapkan posisinya dalam misi suci ini.
Lidahnya masih syahdu merodok ke dalam, hidungnya yang mancung bergeselan dengan klitoris sang empunya badan.
Desahan yang agak lengking dan sumbang keluar tak terbendungkan.
Dari balik bulu matanya, Jimin berusaha menangkap wajahnya. Kak Minjeong masih merem melek dengan tubuh yang makin blingsatan ingin lepas dari genggamannya. Jimin mengeratkan lagi pegangannya. Hidungnya tertancap semakin dalam, erangan lengking itu kembali lolos.
Dari situ tahu lah dia titik kelemahan Kak Minjeong.
Lidahnya yang telah puas mengeruk ke dalam, bergerak agak ke atas, menjilat dengan eksperimental. Kak Minjeong kembali blingsatan. Jimin mengokop biji kenikmatannya bagai minum es teh manis di tengah teriknya matahari Bekasi.
Bibirnya memijat klitorisnya sementara lidahnya mengusap ke atas, ke bawah, berputar, menekan. Kak Minjeong mulai tersengal, dia bernapas satu-satu macam ikan koi yang kolamnya dikuras.
“J-Jimin, enak sayang, lagi, kencengin lagi sayang mmph—“ dia menjambak rambut Jimin agar semakin dalam menekan selangkangannya.
Jimin dapat merasakan bagaimana klitoris Kak Minjeong berdenyut hidup di ujung lidahnya.
“Ah—ah!” Kak Minjeong orgasme kali kedua. Dia menjambak rambut Jimin.
Tak bohong kulit kepalanya terasa agak panas, tapi entah kenapa kontolnya ngaceng makin keras.
Paha Kak Minjeong gemetaran, terasa cairan hangat kembali meleleh keluar. Jimin menurunkan intensitas ciumannya, membiarkan Kak Minjeong turun dari puncak kenikmatan dengan sendiri. Lidahnya menjiat-jilat pelan cairan yang keluar seperti anak anjing kehausan.
Ketika dia rasa sisa cairan Kak Minjeong sudah bersih dan hanya salivanya lah yang membasahi memek perempuan itu, Jimin kembali merangkak ke atas. Kedua tangannya mengurung kepala Kak Minjeong. Mata perempuan itu terlihat lebih berat, terkebil-kebil ingin kembali ke alam mimpi. Jimin mengecup pundaknya.
“Kakak belum capek kan? A-aku juga pengen keluar.”
Pertanyaan itu seperti tantangan bagi Minjeong. Meski matanya masih sayu tapi kesadarannya telah kembali utuh. Senyum malas dan menggoda terukir di sudut bibir.
“Masukin kakak sayang. Kamu bisakan puasin kakak sekali lagi?” Dia menelusupkan jemarinya ke rambut hitam Jimin. Panjangnya cuma setengkuk sehingga tidak terlalu menggangu pandangannya. Minjeong hanya menyelipkan rambut yang terurai ke pinggir telinga. Bibir Jimin terlihat merah dan basah. Basah dari hidung sampai dagu, kayak anak kucing yang makannya berantakan. Makannya beneran berantakan si. Sampai Minjeong ikut berantakan.
Jimin tak membalas, hanya mengecup perempuan lebih tua itu dengan gelojoh.
Kedua kaki Kak Minjeong perlahan dia posisikan agar menjepit pinggangnya saja. Kontolnya yang udah sekeras tongkat toya pramuka dia posisikan di depan bibir memek Kak Minjeong, kepalanya dia gesekkan ke klitoris perempuan itu.
Satu tangan Kak Minjeong masih memegang tengkuknya untuk mengatur ritme ciuman sementara tangan yang lain menggenggam kontolnya.
Jimin hampir kehilangan ketenangannya. Dia merintih pelan dalam ciuman mereka, lututnya hampir lumpuh dan ambruk ke dalam pelukan Kak Minjeong.
“Loh dipegang doang langsung kelojotan, hm?” Kak Minjeong tertawa kecil, bibirnya mengecup pelan dagunya.
“Aku masukin boleh ya kak?” Jimin memelas.
“Masukin sayang.” Kak Minjeong memberi izin.
Dengan mandat itu, Jimin berusaha mengarahkan kontolnya masuk. Beberapa kali percobaan kontolnya terus tergelincir, Kak Minjeong sampai ketawa. Jimin malu setengah mati, kelihatan banget bloonnya.
Kak Minjeong kembali menggenggam lembut kemudian mengarahkan kontolnya hingga kepalanya masuk ke dalam.
Kedua insan itu tak tahan untuk mengerang. Kedua tangan Kak Minjeong memeluk lehernya. Jimin menekan sedikit demi sedikit ke dalam. Memeknya terasa sempit, hangat, dan basah.
“Penuh banget Jimin,” Kak Minjeong tanpa sadar meracau. Jimin tak dapat melihatnya karena saat ini lehernya sedang dipeluk begitu erat seolah-olah hanya itulah yang tetap menahan Kak Minjeong masih di bumi ini.
Senti demi senti kontolnya tenggelam hingga akhirnya Jimin merasakan ada hambatan. Dia berusaha mendorong agak kuat tapi Kak Minjeong malah meringis kesakitan. Jimin langsung panik.
“Itu perawan kakak ya?” Dia bertanya hati-hati. Pinggulnya dia tahan untuk diam.
Masih agak meringis, Minjeong membalas. “Kakak ngga perawan sayang. Kamu mentok.”
Mentok. Tiba-tiba ada rasa bangga membuncah dalam dadanya. Dia tau ukuran kontolnya memang ngga kecil, tapi mendapati seseorang mengkonfirmasi bahwa kontolnya panjang dan besar menambah rasa percaya dirinya sedikit.
Never judge book by it’s cover!
Jimin mencium leher Kak Minjeong, berusaha memberi sinyal agar pelukannya diurai sebentar. Dia memposisikan dirinya setengah duduk. Kaki Kak Minjeong yang putih elok berseri menggantung di belakang pinggulnya. Kontolnya sudah tertancap 3/4, menyisakan sekitar 2 inchi yang belum masuk.
Jimin kembali coba mendorong. Ada daging lembut yang bersentuhan dengan kepala kontolnya. Minjeong meringis lebih keras.
“Udah dibilang mentok!” Minjeong memukul tangannya.
“Eh iya maaf kak.” Jimin meraba dadanya Kak Minjeong. Dia tahu perempuan itu memang bertubuh kecil, tapi tak menyangka bahwa akan sekecil ini dalam rengkuhannya. “Sakit ya kak?”
“S-sakit. Pelan pelan ya, jangan dimentokin dulu.” Kak Minjeong memelas.
Jimin mendayung pelan, menarik hingga kepala lalu mendorong sebelum menyentuh dasar vaginanya Kak Minjeong. Dia ulang berkali-kali hingga dia hapal sendiri kapan harus menghentikan pinggulnya dan kapan harus mendorong.
Jimin kembali jatuh dalam pelukannya, merengkuh tubuh itu sebelum mempercepat gerakannya.
Kaki Minjeong yang awalnya masih tersilang di belakang pinggulnya perlahan terbuka selebar mungkin demi mengakomodasi pergerakan kontolnya Jimin. Racauannya mulai kayak orang mabuk.
“Mmph enak, enak banget sayang.” Tangannya melingkar di leher Jimin. “Kontol kamu kok bisa gede banget sampe mentok, sampe ngga muat mmph.”
Ah, Jimin merasakan pelepasannya semakin diujung dengan pujian-pujian itu. Dia mempertahankan ritmenya.
Tapi lama-lama Jimin merasa agak pegal dengan posisi ini. Sudut sodokannya terbatas, energinya sudah mulai terkuras untuk melakukan tarik mundur yang presisi agar tidak menyakiti Kak Minjeong. Akhirnya dia kembali melepakan pelukannya. Dia menaruh sebuah bantal di bawah pinggul Kak Minjeong.
Jimin melipat lututnya dan melebarkan lagi kaki Kak Minjeong. Perempuan lebih tua itu terlihat antusias menunggu inovasi coba-cobanya.
Pro: posisi ini membuat Jimin dapat menyorongkan kontolnya dengan angle atas sehingga tidak langsung menabrak serviks Kak Minjeong.
Cons: posisi ini terlalu erotis, Jimin ingin muncrat begitu melihat bagaimana memek Kak Minjeong ketarik keluar dan terdorong ke dalam mengikuti alunan pinggulnya.
Pros lainnya: Kak Minjeong beneran blingsatan. Erangan dan racauannya terdengar semakin kencang. Karena tak dapat meraih Jimin, kedua tangannya meremas bantal yang mengalasi kepalanya.
“Kencengin Jimin, teken lagi sayang. Nghh, Kakak mau keluar lagi.”
Jimin mengikuti intruksinya. Menghayun lebih kencang, menekan lebih kuat. Perut Kak Minjeong tampak jendol sedikit setiap kali dia menekannya. Begitu erotis, terlalu erotis untuk kontol perjakanya.
“Mmph Jimin, kakak keluar, ahh—kakak keluar, sayang.” Kaki Kak Minjeong gemetar hebat. Orgasme ini jauh lebih kuat dari yang sebelumnya. Jimin tak tahan mendengus merasakan memeknya berdenyut dan meremas kuat kontolnya.
Bukannya berhenti, dia tetap melanjutkan pergerakannya. Pemandangan Kak Minjeong gemetar oleh orgasme terlalu berlebihan baginya. Ejakulasinya juga sudah diujung. Dia merodok liar mencari pelepasannya.
“AH, JIMIN! JIMIN BENTAR—AH!”
Kak Minjeong pipis. Cairannya tidak lagi meleleh tapi mengucur deres, merembes membasahi pahanya, kontol Jimin, dan kasur.
Pemandanga tersebut terasa sangat berlebihan baginya. Kak Minjeong yang gemeteran oleh orgasmenya dengan pipis yang mengucur deras. Seenak itu ya? Seenak itu ya dikontolin oleh Jimin?
Jimin ngga tahan, dia memeluk tubuh Kak Minjeong yang masih gemeteran, menekan sejauh yang dia bisa hingga kembali bertemu dengan dasar vaginanya, lalu melepaskan ejakulasinya.
“Kak, mphh, kakak enak banget, mph.” Air maninya memancut dengan deras kayak jet water di toilet mall-mall. Ngga pernah dia ejakulasi seenak dan sekuat ini seumur hidupnya. Hidungnya mendengus-dengus macam kerbau masuk kubangan.
Begitu euforianya menurun, Jimin mendapati dirinya lemas dalam pelukan Kak Minjeong. Dia mencabut pelan kontolnya agar keluar. Cairan putih meleleh keluar dari memek Kak Minjeong. Cairan spermanya. Uh, dia keluar di dalam.
Tunggu.
Dia keluar di dalam.
Jimin menatap horor Kak Minjeong yang kelelahan. “Kak, aku keluar di dalam.”
Kak Minjeong rupanya sudah pingsan.
Jimin mengguncang bahu Kak Minjeong beberapa kali tapi perempuan itu tampaknya beneran udah kolaps.
Ngga ada cara lain, kalau masuk artinya apa? Dikeluarin.
Jimin kembali membuka kedua paha Kak Minjeong, lelehan spermanya keluar lebih banyak. Kontol bodohnya itu malah ngaceng lagi. Jimin menelan ludah, dia menarik napas dan berusaha menenangkan diri. Meski kontolnya mengeras, Jimin harus tetap waras.
Dia menarik beberapa lembar tisu di meja rias Kak Minjeong lalu menyeka sisa lelehan spermanya. Jimin tau dia tadi muncratnya dalam banget, menyeka di luar doang ngga akan cukup. Perlahan, dia menelusupkan dua jemarinya ke dalam, sepasang jari tengah dan jari manis. Dengan logika sederhananya dia berusaha menarik sebisa mungkin sisa spermanya di dalam untuk keluar. Setiap memeknya basah, Jimin kembali menyekanya hingga tak ada lagi cairan putih yang dapat dia keruk.
Terakhir dia memeriksa ke dalam, menekan-nekan dan mengeruk dinding vagina Kak Minjeong. Setengah sadar, memeknya malah meremas jemarinya. Kak Minjeong orgasme ke sekian kalinya. Dia mengigau pelan.
Uh kontolnya berkedut-kedut ingin kembali tenggelam ke dalam memeknya.
Jimin merasa sudah melakukan yang terbaik. Sisanya dia pasrahkan kepada mekanisme biologi perempuan itu. Semoga ngga jadi apa-apa.
Jimin memposisikan Kak Minjeong agar tertidur dengan lebih nyaman. Dia mengambil selimut yang sempat jatuh ke bawah dan menghamparkannya ke atas tubuh Kak Minjeong, memastikan dari leher hingga kakinya tertutupi. Suhu AC yang sempat diatur sangat rendah jadi 16 derajat celcius, dia naikkan lagi ke suhu semula di angka 23.
Ketika mendapati Kak Minjeong sudah tertidur nyaman, Jimin langsung memakai kembali pakaiannya dan berbalik ke kamar.
::: ::: :::
